Anda di halaman 1dari 6

ASPEK PSIKOSOSIAL DARI PENUAAN

Aktivitas sosial
Orang tua yang sehat biasanya masih mempertahankan kegiatan sosialnya yang sedikit
berubah dari saat usia muda. Untuk kebanyakan orang, usia tua merupakan periode
pertumbuhan intelektual, emosional, dan psikologis yang berkelanjutan. Pada beberapa kasus,
bagaimana pun, penyakit fisik atau kematian sahabat maupun keluarga dapat menghalangi
interaksi sosial yang berlanjut. Selain itu, ketika mengalami perasaan terisolasi yang
meningkat, mereka dapat menjadi rentan depresi. Bukti baru menunjukkan bahwa
mempertahankan aktivitas sosial berharga bagi kesejahteraan fisik dan emosional.
Berhubungan dengan orang-orang yang lebih muda juga penting. Orang tua dapat
menyampaikan nilai-nilai budaya dan perawatan untuk generasi muda dan dengan ini
mempertahankan rasa bahwa dirinya masih bermanfaat yang berkontribusi pada penghargaan
diri.
Ageisme
Ageisme, sebuah istilah oleh Robert Butler, merujuk pada diskriminasi terhadap orang tua
dan adanya stereotip negatif tentang orangtua, yang dipeluk oleh para kaum muda. Para orang
tua dapat saling takut dan membenci diantara mereka dan melakukan diskriminasi terhadap
kaumnya sendiri. Dalam skema yang diceritakan Butler, orang-orang menghubungkan usia
tua dengan kesepian, kondisi kesehatan yang buruk, kepikunan, dan kelemahan yang umum.
Pengalaman orang tua, bagaiamanapun, belum tentu mendukung pemahaman ini. Sebagai
contoh, meskipun 50 persen dewasa muda memperkirakan orang yang berusia 65 tahun
keatas mengalami kondisi kesehatan yang buruk, 75 persen orang yang berusia antara 65 dan
75 tahun mengalami kondisi kesehatan yang baik. Dua pertiga orang yang berusia 75 tahun
keatas mengalami hal yang sama. Masalah kesehatan, ketika benar-benar ada pun, lebih
melibatkan kondisi yang kronis ketimbang yang akut. Lebih dari 4 dari 5 orang yang berusia
65 tahun keatas memiliki setidaknya satu kondisi kesehatan yang kronis.



Tabel 1. 10 besar kondisipenyakit pada usia lebih dari 65 tahun, dilihat dari usia dan ras.

Kondisi kesehatan yang baik, bagaimanapun, bukan satu-satunya penentu kualitas hidup yang
baik dari kehidupan usia tua. Survei yang dilakukan pada orang tua memperlihatkan bahwa
interaksi sosial setidaknya berharga. Pada kenyataannya, faktor-faktor yang mempengaruhi
penuaan yang baik kelihatannya multidimensional. Penuaan secara kokoh berarti
menganggap penuaan sebagai istilah dari keterlibatan akan hal-hal yang produktif, status
afektif, status fungsional, status kognitif. Keempat indikator ini saling berkolerasi minimal.
Kelompok orang tua yang kokoh ini melaporkan adanya kontak sosial yang lebih baik,
kondisi kesehatan dan visi yang baik, dan masalah hidup yang lebih sedikit pada tiga tahun
terakhir, daripada kelompok orang tua yang kurang kokoh. Sebuah linear, penurunan yang
terkait usia berkaitan dengan ketahanan, namun hal itu masih ditemukan pada usia tua.
George Vaillant mengikuti sebuah kelompok mahasiswa baru Harvard hingga mereka
beranjak tua dan menemukan hal-hal berikut mengenai kesehatan emosional pada usia 65
tahun: Akrab dengan saudara laki-laki dan perempuan semasa kuliah berhubungan dengan
kesejahteraan emosional; merasakan pengalaman hidup yang traumatik secara dini, seperti
meninggalnya orang tua atau perceraian, tidak berhubungan dengan adaptasi yang buruk pada
usia tua nantinya; menjadi depresi pada beberapa hal di usia antara 21 dan 50 memprediksi
adanya masalah emosional pada usia 65 tahun; memperlihatkan ciri kepribadian pragmatisme
dan dependen pada dewasa muda berhubungan dengan adanya rasa sejahtera pada usia 65
tahun.
Transferensi
Beberapa bentuk transferensi, yang diantaranya unik untuk kaum tua, ditemukan pada
kelompok dewasa lanjut. Pertama adalah transferensi orang tua yang diakui, dimana pasien
bereaksi pada terapis seperti seorang anak kepada orang tuanya. Transferensi saudara,
ungkapan pengalaman dari hubungan non-parental, juga lazim. Pada bentuk pemindahan ini,
pasien berjumpa dengan terapis untuk berbagi pengalaman dengan saudara, pasangan,
kerabat, dan perkumpulan. Pada awalnya, terapis dapat terkejut oleh kesanggupan orang tua
untuk mengabaikan umur mereka dalam membangun transferensi tersebut.
Pada transferensi anak kandung, yang cukup lazim pada kelompok usia pertengahan dan
lanjut, terapis berperan sebagai anak pasien, cucu, atau ipar atau anak tiri. Tema yang
diungkapkan pada bentuk ini ganda dan sering berpusat pada perlawanan terhadap rasa
ketergantungan, aktivitas dan dominasi versus kepasifan dan rasa tunduk, dan usaha untuk
mengolah lagi aspek hubungan yang tidak menyenangkan dengan anak sebelum berakhirnya
waktu. Akhirnya, transferensi seksual pada orang tua sering dan intensif, dan para terapi perlu
menerima mereka dan menatur respon kontratrasnferensi-nya.
Kontratransferensi
Orang tua berurusan dengan penyakit dan tanda-tanda penuaan, kehilangan pasangan hidup
dan para kerabat, dan kewaspadaan yang menetap akan keterbatasan waktu dan dekatnya
kematian. Ini merupakan problema yang memilukan yang baru saja menjadi fokus para
terapis muda yang memilih untuk tidak mengungkit hal tersebut dengan mereka secara
intensif sehari-hari
Sumber kedua dari respon kontratransferensi berpusat pada seksualitas. Adanya kehidupan
seksual yang jelas, masturbasi, dan hubungan seksual dapat membingungkan jika terapis
tidak memiliki pengalaman yang cukup untuk bekerja dengan individu yang memiliki usia
yang sama dengan orang tua atau pun kakek-nenek mereka. Ini merupakan contoh
pengalaman yang ditunjukkan pada penelitian kasus seorang terapis wanita berusia 31 tahun
yang merawat pria berusia 62 tahun.
Pada awal proses perawatan, perasaan seksual Mr. E mencuat, penampilannya yang rapi
dan gugup seperti remaja menyebabkan terapis tidak nyaman. Masalah si terapis adalah
bagaimana menyampaikan rasa hormat dan membangun suatu hubungan terapeutik dengan
pasien yang menganggap tiap sesi pertemuan sebagai kencan, khususnya, pasien tersebut
sudah cukup tua untuk menjadi kakeknya. Awalnya terkejut dengan ungkapannya yang
terbuka tentang minat seksualnya dengan si terapis wanita, dengan bantuan pengawas, dia
dapat mengakui bahwa dia dan pasiennya memiliki konflik yang sama untuk diselesaikan,
meskipun perbedaan 30 tahun diantara mereka. Ia berharap pasien dapat menjadi dewasa,
tanpa adanya masalah yang bergulat diantara mereka. Ia juga mengakui kegagalan untuk
membantu pasiennya memahami hubungan antara masa lalu pasien itu dan seksualitas yang
masih hidup dapat sangat merugikan pasien dan reaksi kontratransferensi-nya terhadap
pasien berdasarkan sikapnya yang bermasalah terhadap seksualitas dari orangtua maupun
kedua kakek-neneknya.
Sosioekonomi
Ekonomi usia tua merupakan kepentingan mereka sendiri dan juga banyak orang pada
umumnya. Tiga puluh tahun lalu memperlihatkan penurunan dramatis dalam proporsi dari
populasi usia lanjut di AS yang miskin, terutama karena tersedianya Medicare, Keamanan
Sosial, dan pensiun swasta. Pada tahun 1959, 35.2 persen orang dengan usia diatas 65 tahun
hidup di bawah garis kesejahteraan, namun pada tahun 2012, grafik ini turun menjadi 9.1
persen. Populasi diatas 65 tahun sebanyak 12 persen, namun hanya 9 persen yang hidup pada
taraf sosioekonomi yang lemah. Wanita lebih cenderung jatuh miskin daripada pria. Sumber
pendapatan bervariasi pada individu usia 65 tahun atau lebih tua. Meskipun secara
keseluruhan aspek ekonomi adekuat, banyak orang tua sangat terpaku terhadap kekhawatiran
keuangan bahwa kenikmatan hidup mereka akan berkurang. Mendapatkan perawatan medis
yang pantas dapat menjadi sulit ketika biaya pribadi tidak tersedia atau tidak mencukupi.
Medicare menyediakan asuransi rumah sakit maupun medis untuk mereka yang berusia diatas
65 tahun. Sekitar 150 juta tagihan medis dimasukkan kedalam program Medicare per
tahunnya, namun hanya 40 persen layanan untuk pasien usia tua dijamin oleh Medicare.
Lainnya dibayar oleh asuransi swasta, negeri, atau biaya personal. Beberapa layanan seperti
perawatan psikiatrik rawat jalan, layanan oleh perawat yang kompeten, rehabilitasi fisik, dan
pemeriksaan fisik preventif dijamin secara minimal atau tidak sama sekali.
Disamping Medicare, program Keamanan Sosial menjamin kepada pasien yang berusia 65
tahun keatas (diatas 67 tahun pada 2007), dan menjamin kepada pasien berusia 62 tahun
keatas (pada angka yang lebih sedikit). Untuk kualifikasi jaminan, pekerja harus memiliki
riwayat bekerja yang cukup untuk diasuransi. Pekerja memiliki pengalaman bekerja 10 tahun
untuk mendapatkan asuransi. Jaminan juga berlaku pada para janda, dan anak yang masih
bergantung, namun penerima jaminannya meninggal. Jaminan tetap dibayar untuk mereka
yang masih bekerja hingga sudah pensiun.
Pensiun
Pada banyak orang tua, pensiun merupakan waktu bebasnya tanggung jawab akan komitmen
pekerjaan terdahulu. Orang lain beranggapan pensiun merupakan waktu stres, khususnya
ketika pensiun mengakibatkan masalah ekonomi atau kehilangan penghargaan diri. Idealnya,
pekerjaan setelah usia 65 tahun sebaiknya menjadi pilihan. Dengan undang-undang
Diskriminasi Usia pada Akta Kepegawaian (Employment Act) pada tahun 1967 dan
amandemen-nya, pensiun paksa pada usia 70 tahun telah dihapuskan pada sektor swasta, dan
tidak legal pada aspek federal.
Kebanyakan pada mereka yang berhenti secara sukarela masuk kembali ke dunia kerja
selama 2 tahun, demi beberapa alasan, termasuk reaksi negatif untuk diberhentikan, merasa
tidak produktif, kesulitan ekonomi, dan kesulitan. Jumlah waktu yang dihabiskan pada
pensiun telah meningkat. Saat ini, jumlah tahun yang dihabiskan ketika pensiun hampir setara
dengan waktu yang dihabiskan untuk bekerja.
Aktivitas Seksual
Frekuensi orgasme, baik dari koitus maupun masturbasi, menurun sejalan usia pada pria
maupun wanita. Faktor-faktor terpenting dalam menentukan tingkat aktivitas seksual seiring
usia adalah kesehatan dan ketahanan hidup pasangan, kesehatan sendiri, dan tingkat aktivitas
seksual yang lalu. Meskipun penurunan beberapa derajat akan minat dan fungsi seksual tidak
dapat dihindari seiring waktu, faktor sosial dan budaya kelihatannya lebih penting dalam
perubahan seksual yang diamati daripada perubahan psikologis. Meskipun aktivitas seksual
yang memuaskan mungkin terjadi pada orang tua yang sehat, kebanyaan tidak dapat
mengaktualisasi potensi ini. Anggapan menyebutkan bahwa orang lanjut usia secara esensial
adalah aseksual.
Perawatan Jangka Panjang
Banyak orang tua yang lemah membutuhkan perawatan institusional. Meski hanya 5 persen
diinapkan di rumah perawatan, kira-kira 35 persen orang tua membutuhkan fasilitas
perawatan jangka panjang beberapa kali selama hidupnya. Penghuni rumah perawatan
terutama merupakan kaum janda, dan sekitar 85 persen adalah berusia diatas 85 tahun.
Biaya rumah perawatan tidak dijamin oleh Medicare; berkisar antara $20.000 hingga $1 juta
per tahun. Sekitar 20.000 rumah perawatan tersedia di AS, tidak cukup memenuhi kebutuhan.
Para orang tua ini yang tidak memerlukan perawatan yang kompeten dapat diatur pada tipe
fasilitas kesehatan yang terkait, seperti kunjungan hanya pada siang hari, namun kebutuhan
untuk perawatan jauh melebihi ketersediaan tempat.
Diluar itu, perawatan untuk usia tua disediakan oleh anak-anak mereka (terutama anak
perempuan), istri mereka, dan wanita lainnya. Lebih dari 50 persen dari wanita yang memberi
perawatan ini juga bekerja di luar rumah. Pada umumnya, para wanita lebih sering berhenti
sebagai pembantu karena ekspektasi budaya dan sosial. Menurut American Association of
Retired Persons, anak perempuan dengan pekerjaan menghabisan rata-rata 12 jam seminggu
untuk menyediakan perawatan dan saat ini menghabiskan sekitar $150 per bulan untuk
transportasi, biaya telepon, makanan khusus, dan obat-obatan untuk orang tua.