Anda di halaman 1dari 13

PORAN AKHIR

Pengkajian Ulang Terhadap Studi Kelayakan dan FEED Duri-Dumai-Medan PT PGN (Persero) PT Gada Energi 1



BERITA MIGAS







KUMPULAN BERITA TERKAIT
MINYAK DAN GAS BUMI DI
INDONESIA

PT Gada Energi @ 2014











PORAN AKHIR
Pengkajian Ulang Terhadap Studi Kelayakan dan FEED Duri-Dumai-Medan PT PGN (Persero) PT Gada Energi 2



BERITA MIGAS

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .................................................................................................................................................... 2
BAB 1. Rapat Koordinasi Pemantauan dan Evaluasi Perencanaan Energi di RIAU ............................... 3

















PORAN AKHIR
Pengkajian Ulang Terhadap Studi Kelayakan dan FEED Duri-Dumai-Medan PT PGN (Persero) PT Gada Energi 3



BERITA MIGAS

BAB 1. RAPAT KOORDINASI PEMANTAUAN DAN EVALUASI PERENCANAAN ENERGI DI RIAU
Jumat, 29 Agustus 2014
Pekanbaru, (29/8) Sekretariat Jenderal Dewan Energi Nasional melaksanakan Rapat Koordinasi Pemantauan
dan Evaluasi Perencanaan Energi dan Daerah Wilayah Sumatera yang berlangsung di Pekanbaru, 27 Agustus
2014, Rapat koordinasi yang dihadiri oleh Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Riau dan Dinas
Pertambangan dan Energi Kabupaten/Kota se Provinsi Riau, acara dibuka oleh Kepala Biro Fasilitasi Kebijakan
Energi dan Persidangan, Setjen Dewan Energi Nasional Farida Zed.
Dalam paparannya, disampaikan Fadrida Zed bahwa, Rapat Koordinasi dilakukan agar dapat membantu
Pemerintah Provinsi dalam mempersiapkan perencanaan energi daerah yang akan menjadi dasar dalam
penyusunan Rencana Umum Energi Daerah (RUED).
Berdasarkan hasil proyeksi kebutuhan energi untuk wilayah Sumatera yang dilakukan Setjen Dewan Energi
Nasional diketahui bahwa energi final pada tahun 2013 sampai dengan 2025 tumbuh rata-rata sebesar 6,4% per
tahun, pada tahun 2013 sebesar 32,4 MTOE dan naik menjadi 89,3 MTOE pada tahun 2025.
Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa, pada tahun 2013, kebutuhan energi nasional sebesar 117 juta TOE, dimana
sektor transportasi merupakan pengguna terbesar (38.1%) diikuti oleh sektor industri (31.1%), sektor rumah
tangga (11.2%), sektor komersial dan lainnya sebesar 8.2% dan penggunaan sebagai bahan baku untuk industri
(non energy) sebesar 11.4%.
Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Riau, dalam presentasinya yang disampaikan Yus Alhuda Ayus,
Fungsional Perekayasa Utama (IV/d), dalam kesempatan yang sama menjelaskan bahwa strategi dan arah
kebijakan pembangunan ESDM di Provinsi Riau bertujuan mengembangkan penyediaan kelistrikan dan
penyediaan air bersih. Dengan sasaran terwujudnya peningkatan jangkauan infrastruktur kelistrikan dan
tersedianya air tanah hingga ke daerah daerah terisolir dan terpencil . Dengan strategi memanfaatkan sumber
energi setempat, diprioritaskan sumber energi baru dan terbarukan dan mengembangkan sumber- sumber air
tanah sesuai dg kondisi wilayah.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa arah kebijakan pembangunan ESDM di Provinsi Riau yaitu; Penyediaan
pasokan, cakupan dan kualitas layanan Infrastruktur kelistrikan dan penyediaan air tanah bagi masyarakat hingga
ke daerah-daerah terisolir dan terpencil .
Sebagai mana diketahui bahwa Provinsi Riau sebagai penghasil energi yang menyumbang cukup besar secara
nasional karena sumber energi yang dimiliki seperti migas, batubara, pembangkit listrik tenaga air, dengan
pertumbuhan kebutuhan permintaan Energi Listrik di Provinsi Riau ratarata sebesar 14 % pertahun, namun
Ratio Elektrifikasi Provinsi Riau masih cukup rendah yaitu sebesar 61,95 % kondisi bulan Juni 2013.
Permasalahan umum kelistrikan Riau saat ini, beban puncak : 592,3 MW dengan daya terpasang saat ini : 315,1
MW, Provinsi Riau masih kekurangan kebutuhan listrik sebesar : 277,2 MW.
Kelistrikan Riau sangat tergantung pada Sistem Interkoneksi 150kV yang sangat rawan terhadap KRISIS
PEMBANGKIT seperti; tidak ada penambahan Pembangkit Baru untuk mengimbangi laju permintaan daya listrik
yang terus bertambah; Tidak terdapat pembangkit cadangan yang bisa dioperasikan disaat mesin dimatikan
untuk proses maintenance; Seringnya penurunan kemampuan Pembangkit PLTA Koto Panjang akibat
menurunnya debit air pada musim kemarau; Belum terjaminnya pasokan BATUBARA dan GAS untuk PLTU dan
PLTG; Sering terjadi permasalahan Drop Tegangan Transmisi
DEN/OSM

PORAN AKHIR
Pengkajian Ulang Terhadap Studi Kelayakan dan FEED Duri-Dumai-Medan PT PGN (Persero) PT Gada Energi 4



BERITA MIGAS

BAB 2. PGN PERCEPAT PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DAN PERLUAS PEMANFAATAN GAS
BUMI DI INDONESIA
Produksi minyak mentah Indonesia yang terus menurun dan harga minyak dunia yang semakin tinggi,
mendorong Pemerintah untuk meningkatkan pemanfaatan gas bumi di dalam negeri. Melalui kebijakan konversi
BBM ke gas, Pemerintah mendorong peningkatan pasokan gas domestik dan pengembangan infrastrukturnya
untuk memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat. Gas bumi adalah salah satu sumber energi utama
Indonesia yang efisien dan ramah lingkungan. Tren peningkatan kebutuhan gas bumi di dalam negeri
diperkirakan terus berlanjut hingga tahun-tahun mendatang.
Sebagai BUMN yang lebih dari 48 tahun membangun infrastruktur dan mendistribusikan gas bumi di Indonesia,
PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) terus berusaha memperluas pemanfaatan gas bumi ke seluruh
sektor seperti sektor transportasi, rumah tangga, industri, komersial dan sektor kelistrikan.

2.1. PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR GAS BUMI TERINTEGRASI JAWA TENGAH
Meski sempat tertunda selama 8 tahun, akhirnya pada 14 Maret 2014 Presiden Republik Indonesia, Susilo
Bambang Yudhoyono meresmikan groundbreaking pembangunanan infrastruktur gas bumi terintegrasi Jawa
Tengah. Acara tersebut turut dihadiri oleh Menteri ESDM, Jero Wacik dan Menteri Pekerjaan Umum, Joko
Kirmanto. Acara groundbreaking merupakan salah satu momentum percepatan pengembangan infrastruktur gas
di Indonesia yang ditandai dengan dimulainya pelaksanaan pembangunan pipa Transmisi Gas Bumi Kalija I
(Kepodang Tambak Lorok).
Pembangunan Kalija I merupakan tahap awal dari pembangunan ruas pipa transmisi gas bumi Bontang,
Kalimantan Timur Semarang, Jawa Tengah (atau yang dikenal sebagai Kalija), yang telah dilelangkan oleh
BPH Migas pada tahun 2006.
Berdasarkan Keputusan Kepala BPH Migas No. 042/Kpts/PL/BPH Migas/ Kom/VII/2006 tanggal 27 Juli 2006
ditetapkan PT Bakrie & Brothers Tbk., sebagai pemenang Lelang Hak Khusus Ruas Transmisi Gas Bumi
Bontang (Kalimantan Timur) Semarang (Jawa Tengah).
Namun selama hampir delapan tahun, proyek Kalija itu tidak berjalan karena pihak pemenang lelang tidak
melakukan pembangunan. Pada tahun 2013, sesuai arahan Menteri ESDM untuk mempercepat terealisasinya
pembangunan jaringan pipa dimaksud, maka PGN diminta untuk bekerjasama dengan PT Bakrie & Brothers Tbk.
Pada tahun 2014, dibentuklah PT Kalimantan Jawa Gas (PT KJG) yang merupakan perusahaan hasil kerja sama
PT PGN (Persero) Tbk dan PT Bakrie & Brothers Tbk. untuk melaksanakan pembangunan dan pengoperasian
pipa Kalija I. Selanjutnya, PT KJG juga akan melaksanakan pembangunan dan pengoperasian pipa Kalija II.
Menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi Pasal 8 untuk meningkatkan
penggunaan gas bumi di dalam negeri dan Inpres Nomor 14 Tahun 2011 tentang Percepatan Pelaksanaan
Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2011, pembangunan jaringan pipa gas bumi terintegrasi pun terus
dilakukan. Penyelesaian pembangunan infrastruktur Gas Bumi Terintegrasi Jawa Tengah tentunya sangat
dibutuhkan untuk mendukung upaya pemerintah dalam mensukseskan program konversi bahan bakar minyak ke
bahan bakar gas.
Ruas transmisi Kalija I merupakan ruas pipa yang digunakan untuk mengalirkan gas bumi sebesar 116 juta kaki
kubik per hari dari Lapangan Kepodang yang dioperasikan oleh Petronas Carigali Muriah Ltd. ke PLTGU Tambak
Lorok, dalam rangka mewujudkan penghematan penggunaan BBM pada sektor ketenagalistrikan dan
mengurangi beban subsidi BBM oleh PLN serta mendorong peningkatan pemanfaatan gas bumi di dalam negeri.
PORAN AKHIR
Pengkajian Ulang Terhadap Studi Kelayakan dan FEED Duri-Dumai-Medan PT PGN (Persero) PT Gada Energi 5



BERITA MIGAS

Pembangunan ruas pipa transmisi Gas Bumi Kepodang - Tambak Lorok dengan panjang pipa 207 km dengan
diameter pipa 14 Inchi dan kapasitas desain pipa 150 MMSCFD, ditargetkan selesai pada kuartal III tahun
2015. Sementara pipa transmisi gas bumi Kalija tahap kedua memiliki panjang 1.200 kilometer dengan pipa 36
inchi yang menghubungkan sumber gas di Kalimantan Timur ke Jawa.
Rencana pembangunan pipa terintegrasi J awa Tengah tersebut sejatinya sudah terbesit ada sejak lama,
namun tak kunjung terealisasi. Pasalnya pada tahun 2006 BPH Migas lebih memilih skema
pengembangan infrastruktur melalui lelang.
Dengan dilanjutkannya pembangunan pipa Kalija 1 ini diharapkan bisa mengalirkan Gas Bumi, Pembangkit
Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) terutama untuk wilayah PLTGU Tambak Lorok dimana tahun 2015 PLTGU
tersebut memenuhi kebutuhan listrik Jawa Bali Madura sebanyak 1.300 megawatt, ujar Kepala Dinas Energi
dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Pemprov Jawa Tengah, Teguh Dwi Paryono. Ditambahkannya, produksi gas
dari pipa Kepodang - Tambaklorok juga disiapkan untuk memenuhi kebutuhan compressed natural gas (CNG)
pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) berkapasitas 1 MW di Karimunjawa.
Sementara, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Jero Wacik mengatakan apabila pipa gas Kalija
beroperasi dan digunakan oleh PT PLN (Persero) maka akan ada penghematan Rp 2 triliun per tahunnya dan
membantu rakyat kecil yang menggunakan listrik 450 watt - 900 watt.
Sebagai bagian yang terintegrasi dari pipa transmisi Kalija, juga sedang dikembangkan jaringan pipa distribusi
gas bumi oleh PGN yang pelaksanaannya dilakukan dalam tiga koridor secara bertahap. Koridor pertama meliputi
wilayah Semarang, Kendal dan Demak. Koridor kedua akan menjangkau wilayah Ungaran serta koridor ketiga
meliputi wilayah Solo Raya, Pekalongan, Pati dan wilayah lainnya
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Jero Wacik pun meminta kepada PGN untuk terus melanjutkan
pembangunan jaringan pipa distribusi di berbagai wilayah di Jawa Tengah. Ketersediaan energi murah seperti
gas bumi akan mendorong masuknya investasi dan investor ke berbagai sektor industri. Hal itu tentunya akan
sangat positif bagi penciptaan lapangan kerja di Jawa Tengah, kata Jero Wacik.
Jero menegaskan, pembangunan infrastruktur gas terintegrasi di Jawa Tengah perlu dipercepat mengingat
wilayah ini belum mendapat aliran gas secara maksimal. Dengan adanya infrastruktur dan pasokan gas bumi
sektor industri dan ekonomi Jawa Tengah akan tumbuh lebih cepat dengan tingkat daya saing yang semakin
meningkat.
Langkah PGN yang serius dalam mengembangkan jaringan pipa gas akan berdampak besar terhadap
percepatan pemanfaatan gas bumi domestik untuk masyarakat Jawa Tengah pada khususnya dan seluruh
masyarakat Indonesia pada umumnya. Secara historis, pada tahun 1857 - 1994 PGN pernah membangun dan
mengoperasikan jaringan pipa distribusi gas bumi di wilayah Semarang dengan bahan dasar gas dan batubara.
Dengan adanya program pembangunan jaringan distribusi gas di Semarang merupakan revitalisasi jaringan lama
yang telah dioperasikan PGN sejak tahun 1980- an. PGN melakukan investasi untuk merevitalisasi jaringan
distribusi tersebut dan membangun jaringan distribusi gas yang komprehensif di wilayah Semarang dan
sekitarnya.
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menyambut baik kesiapan PGN untuk membangun jaringan gas di
Jawa Tengah. Ganjar mengakui bahwa Jawa Tengah membutuhkan infrastruktur energi dan infrastruktur lainnya
seperti jalan. Karena itulah tahun 2014 ini kami canangkan sebagai tahun infrastruktur bagi Jawa Tengah. PGN
menjadi penting bagi Jawa Tengah, katanya.
Wilayah Jawa Tengah memiliki beberapa kawasan industri yang membutuhkan dukungan pengembangan
infrastruktur energi, yang tersebar di beberapa wilayah seperti Semarang, Demak, Kendal, Kudus, Pati, Ungaran,
PORAN AKHIR
Pengkajian Ulang Terhadap Studi Kelayakan dan FEED Duri-Dumai-Medan PT PGN (Persero) PT Gada Energi 6



BERITA MIGAS

Solo Raya. Gas bumi merupakan pilihan energi (bahan bakar maupun bahan baku) yang kompetitif dan ramah
lingkungan. Proyek infrastruktur gas bumi terintegrasi Jawa Tengah akan memberikan multiplier effect bagi
peningkatan perekonomian masyarakat Jawa Tengah sekaligus merupakan upaya percepatan konversi BBM ke
gas bumi.
Infrastruktur gas di Jawa Tengah sangat mendesak untuk dibangun. Berdasarkan data dari Pertambangan dan
Energi Jawa Tengah menyebutkan potensi penghematan konsumsi energi sektor industri mencapai Rp 900
milyar per tahun di Jawa Tengah.
Sebagaimana diketahui selama ini Indonesia sangat bergantung pada impor BBM. Impor BBM yang besarnya
mencapai US$ 3,6 milyar per tahun atau lebih dari Rp 360 triliun telah menguras devisa negara. Tingginya Dinas
impor BBM itu membuat neraca perdagangan Indonesia menjadi defisit. Selain itu ketergantungan pada BBM,
membuat subsidi BBM membengkak dari tahun ke tahun. Tahun 2013 lalu misalnya, pemerintah harus
menganggarkan lebih dari Rp 200 triliun untuk subsidi BBM itu.
Tak hanya infrastruktur gas bumi, yang juga penting adalah adanya pasokan gas bumi ke Jawa Tengah yang
akan masuk melalui pipapipa. Ganjar menambahkan bahwa pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan
memberikan dukungan sepenuhnya kepada PGN untuk mewujudkan pembangunan infrastruktur gas di wilayah
Jawa Tengah. Bersama-sama PGN, pemerintah Jawa Tengah akan membuat roadmap infrastruktur gas di Jawa
Tengah guna mendukung penyediaan energi di Jawa Tengah, katanya.
2.2. PGN SAYANG IBU UNTUK SATU JUTA PELANGGAN
Memiliki target dan ambisi yang cukup besar yaitu mencapai 1 juta pelanggan, PGN mencanangkan Program
PGN Sayang Ibu, yaitu program pemasangan satu juta sambungan gas rumah tangga di seluruh Indonesia.
Program tersebut dimulai tahun ini dan berkelanjutan pada tahun-tahun berikutnya.
Direktur Utama PGN, Hendi Prio Santoso mengatakan bahwa Program PGN Sayang Ibu diluncurkan untuk
mempercepat penyaluran gas bumi ke rumah tangga. Untuk memperkuat ketahanan energi nasional,
pemanfaatan gas bumi merupakan solusi yang paling tepat. Sebagai energi baik, gas bumi sangat aman, murah
dan ramah lingkungan, sangat cocok untuk energi keluarga Indonesia, katanya.
Selama puluhan tahun PGN beroperasi, belum pernah ada laporan mengenai kecelakaan yang terjadi pada
pelanggan rumah tangga. Dari sisi harga, gas bumi PGN lebih terjangkau. Sebagai perbandingan, sebuah rumah
tangga yang menggunakan satu tabung elpiji 12 kilogram dengan harga sekitar Rp 100.000, bila menggunakan
gas bumi PGN hanya membayar kurang lebih Rp 40.000. Dengan penghematan tersebut, maka industri rumahan
juga akan sangat tertolong dan berkembang. Selain itu gas bumi juga produk nasional dari dalam perut bumi
Indonesia. Ini berbeda denga elpiji yang sebagian besar masih diimpor.
Tekad yang besar ini menjadi fokus utama PGN dalam percepatan konversi BBM ke gas bumi. Sumber daya
alam gas bumi yang melimpah di Indonesia seharusnya dapat digunakan untuk kepentingan dalam negeri.
Produksi minyak mentah yang terus menerus mengalami penurunan membuat cadangan minyak mentah di
Indonesia sudah tidak banyak lagi, angka impor BBM terus mengalami pembengkakan.
Saat ini PGN memiliki pipa lebih dari 6.000 kilometer yang terbentang di Pulau Sumatera dan Jawa. Komitmen
PGN untuk menjadikan DKI Jakarta sebagai role model Kota Gas di Indonesia dalam percepatan konversi BBM
ke gas bumi dibuktikan melalui kesiapan PGN dalam mengembangkan infrastruktur. Peningkatan infrastruktur
gas sangat diperlukan untuk pemerataan penggunaan gas bumi di Indonesia sehingga mengurangi beban negara
akibat impor BBM.
Rumah tangga merupakan pelanggan terbesar PGN yaitu sekitar 100 ribu pelanggan rumah tangga. Dalam
rangka program pemasangan satu juta unit sambungan gas rumah tangga, tahun ini PGN mengidentifikasi
penambahan sekitar 10 ribu sambungan baru di wilayah Jabodetabek.
PORAN AKHIR
Pengkajian Ulang Terhadap Studi Kelayakan dan FEED Duri-Dumai-Medan PT PGN (Persero) PT Gada Energi 7



BERITA MIGAS

Tentunya, diperlukan dukungan dari berbagai pihak mulai dari masyarakat, pemerintah daerah hingga pemerintah
pusat, baik itu dalam hal kemudahan perijinan maupun kepastian alokasi gas bumi. Dukungan dari berbagai
pihak tersebut menjadi katalis utama bagi percepatan pemerataan penggunaan gas bumi bagi masyarakat, kata
Hendi.
Pada tanggal 20 Februari 2014, Gubernur DKI Jakarta melakukan pertemuan dengan Direksi PGN yang dihadiri
oleh Direktur Utama, Hendi Prio Santoso, Direktur Pengusahaan, Jobi Triananda Hasjim, Direktur Teknologi dan
Pengembangan, Djoko Saputro. Dalam pertemuan tersebut PGN kembali mempertegas komitmennya dalam
pengembangan gas kota di DKI baik bagi sektor transportasi maupun sektor rumah tangga sesuai dengan arah
pengembangan kota Pemprov DKI.
Setiap harinya, PGN mengalirkan gas ke wilayah DKI Jakarta sebanyak 95 juta kaki kubik atau setara 2,7 juta
liter BBM per hari. Ini juga berarti selama ini PGN turut membantu mengurangi kemacetan lalu lintas, karena
kalau diangkut dengan truk tangki berkapasitas 10.000 liter, maka membutuhkan 270 truk tangki yang akan
menambah padat jalanan di Jakarta. Sementara potensi penambahan jaringan gas baru di Jakarta mencapai
hingga 44.500 sambungan yang dapat dikerjakan pada tahun ini dan tahun selanjutnya.
Dengan target 1 juta pelanggan, PGN gencar melakukan penyambungan pipa gas bumi baru di seluruh wilayah
DKI Jakarta, salah satunya di Perumnas Klender. Meski biaya awal pemasangan yang relatif mahal, namun
berbagai manfaat mulai dirasakan oleh warga Perumnas Klender.
Dulu enggak yakin waktu ditawarin gas rumah tangga sama PGN. Belum ngerti banget tapi alhamdulillah
sekarang lancar. Memudahkan para ibu-ibu di dapur,kata Bu Marjoyo warga Perumnas Klender. Menurutnya
banyak manfaat berkat pemasangan pipa gas rumah tangga PGN. Selain rasa aman gas rumah tangga juga
ramah lingkungan. Ia bisa menghemat belanja rumah tangga dengan hanya merogoh kocek Rp 30 ribu Rp 40
ribu untuk biaya langganan per bulan. Itu jauh lebih hemat ketimbang mesti mengeluarkan sekitar Rp 100 ribu
untuk tabung gas elpiji 12 kilogram. Satu lagi bisa pakai duluan dan bayar di belakang kata dia.
Rumah tangga di Wilayah di DKI Jakarta lainnya yang sudah teraliri gas bumi PGN antara lain berada di
Menteng, Tanah Abang, Pulogadung, Pancoran - Kalibata, dan wilayah DKI lainnya. Tak hanya menyalurkan gas
bumi untuk wilayah Jakarta, PGN juga memperluas jaringan pipa gas bumi baru di wilayah lainnya di Indonesia,
seperti di Perumahan Kurnia Djaya Alam Kota, Batam, Kepulauan Riau. Sekitar 150 unit rumah memasang
jaringan gas baru dari PGN.
Selain Perumahan Kurnia Djaya Alam, dua perumahan lain di Kota Batam telah menggunakan gas PGN yaitu
Perumahan Bida Asri dan Puri. Ke depan, PGN siap untuk bersamasama dengan masyarakat dan swasta
lainnya mengembangkan jaringan dan meningkatkan pemanfaatan gas bumi.
Pengembangan jaringan pipa gas baru di Indonesia terus dilakukan oleh PGN, termasuk diantaranya di
Perumnas II Karawaci, Kelurahan Kelapa Dua, Karawaci, Tangerang. Saat ini di kawasan Tangerang sudah ada
sekitar 5.520 rumah tangga dan komersial yang menikmati gas bumi dari PGN, dan direncanakan terus
bertambah. Dengan menggunakan pipa sepanjang 75,8 Km diharapkan dapat memenuhi kebutuhan gas bagi
pelanggan dan meningkatkan pelayanan dan pengembangan jaringan distribusi gas sebagai bentuk dukungan
PGN dalam program transformasi energi BBM ke Gas Bumi.
Dengan potensi gas Indonesia yang lebih besar dari minyak mentah, sudah seharusnya gas bumi diproyeksikan
sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM). Langkah itu penting demi menjaga ketahanan energi nasional
sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap minyak yang hingga kini masih diimpor. Gas rumah tangga
merupakan produk lokal yang 100 persen didapat dari bumi Indonesia.
PORAN AKHIR
Pengkajian Ulang Terhadap Studi Kelayakan dan FEED Duri-Dumai-Medan PT PGN (Persero) PT Gada Energi 8



BERITA MIGAS

2.3. FSRU PGN ALIRKAN GAS KE LAMPUNG DAN JAWA BARAT
Sebagai bentuk aksi nyata dalam percepatan program pengembangan jaringan gas bumi baru di Indonesia serta
dalam rangka mewujudkan program satu juta pelanggan, Perusahaan Gas Negara (PGN) telah meresmikan
nama Floating Storage Receiving Terminal (FSRU) yang sudah selesai dibangun di Galangan Kapal Hyundai
Heavy Industries, Ulsan, Korea Selatan, pada Senin, 7/4/2014 bernama PGN FSRU Lampung yang memiliki
kapasitas 2 juta ton per tahun. FSRU merupakan tempat penyimpanan sementara LNG sekaligus regasifikasi
LNG yang berada di atas sebuah kapal terapung.
PGN FSRU Lampung akan berlayar dari Ulsan, Korea menuju Lampung pada Senin, 14/4/2014. Ia diperkirakan
sampai di Lampung pada pertengahan Mei 2014. Hadir dalam peresmian antara lain Kepala Badan Pengatur
Kegiatan Hilir Migas (BPH Migas) Andi Noorsaman Sommeng, Direktur Gas BPH Migas, Umi Asngadah, Direktur
Utama PGN, Hendi Prio Santoso, Direktur PGN LNG, Nisi Setyobudi, Kepala Bidang II A Deputi Industri Strategis
& Manufaktur Kementerian BUMN, Zuryati Simbolon dan para pajabat Hyunday Heavy Industries.
Selesainya pembangunan FSRU PGN Lampung ini akan mendorong percepatan konversi bahan bakar minyak
(BBM) di Lampung dan Jawa Barat. Lampung boleh dikatakan sedang mengalami krisis energi dan pasokan gas
dari FSRU ini bisa menjadi obat-nya, kata Direktur Utama PGN, Hendi Prio Santoso.
Keberadaan FSRU Lampung juga akan meningkatkan kehandalan pasokan gas milik PGN. Dengan adanya
FSRU, sumber gas PGN yang disalurkan kepada konsumen tidak hanya bersumber dari lapangan gas di
Sumatera Jawa tetapi dapat mengandalkan sumber pasokan gas dari Kilang LNG yang berada di Indonesia
Timur atau pasokan LNG dari sumber lainnya. Sehingga produk LNG dari kilang dalam negeri dapat
dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik secara menyeluruh.
PGN FSRU Lampung merupakan bagian dari infrastruktur gas bumi terintegrasi di Lampung yang dibangun oleh
PGN. Bagian lainnya adalah pipa distribusi sepanjang 100 kilometer dengan diameter 12 inci - 16 inci. Hingga
akhir Maret 2014, pembangunan jaringan pipa itu sudah mencapai 90 kilometer.
Gas dari FSRU Lampung nantinya akan memasok kebutuhan gas bagi pembangkit listrik, industri, usaha kecil
dan rumah tangga di Lampung dan Sumatera Selatan. Selain itu juga akan memasok kebutuhan gas bumi di
Jawa Barat, Banten dan Jakarta.
Penyaluran gas bumi ke sektor kelistrikan, industri, rumah tangga, komersial dan transportasi di Lampung
merupakan upaya percepatan konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG). Optimalisasi
pemanfaatan gas bumi berpotensi menghemat biaya bahan bakar yang mencapai sekitar Rp 900 miliar per
tahun. Penghematan biaya bahan bakar bakal lebih besar seiring dengan peningkatan pemakaian gas bumi di
Lampung.
Kepala BPH Migas, Andi Sommeng menyambut baik selesainya pembangunan FSRU Lampung dan mendukung
upaya PGN dalam meningkatkan pasokan gas bagi masyarakat dan industri. PGN telah menunjukkan
keseriusan dan komitmennya untuk meningkatkan pasokan gas bumi bagi masyarakat dan industri dengan
membangun FSRU ini, kata Andi Sommeng seusai peresmian PGN FSRU Lampung di Ulsan, Korea Selatan.
Namun, selesainya pembangunan FSRU Lampung ini kata Andi Sommeng juga harus diikuti dengan pipanisasi
distribusi gas di Lampung. Di Lampung kan akan ada pembangunan pipa untuk distribusi gas. Mekanismenya
kan kita akan terapkan bagaimana proyeknya bisa berjalan baik. Kan kalau proyek FSRU ini sudah jadi tidak
boleh ada waktu delayed. Sudah jadi kan FSRU nya maka gas harus dialirkan. Nah ini perlu pembangunan pipa
distribusi, kata Andi Sommeng.
PGN saat ini sudah membangun pipanisasi distribusi gas di Lampung. Berkaitan dengan hal tersebut BPH Migas
akan melakukan terobosan dengan cara percepatan yaitu tanpa tender. Masalah tender itu kan masalah
PORAN AKHIR
Pengkajian Ulang Terhadap Studi Kelayakan dan FEED Duri-Dumai-Medan PT PGN (Persero) PT Gada Energi 9



BERITA MIGAS

ketentuan PP (Peraturan Pemerintah). Kan bisa saja dilakukan diskresi, percepatan dari Pemerintah. Gas dari
FSRU nanti harus segera dialirkan dengan pipa distribusi, kata Andi.

PORAN AKHIR
Pengkajian Ulang Terhadap Studi Kelayakan dan FEED Duri-Dumai-Medan PT PGN (Persero) PT Gada Energi 10



BERITA MIGAS

BAB 3. OLEH-OLEH GASTECH CONFERENCE & EXHIBITION 2014 DI NEGERI GINSENG KOREA

GASTECH adalah salah satu event yang mempertemukan para pelaku industri gas baik komersial maupun teknik
dari seluruh dunia untuk berkomunikasi, melihat peluang, bertukar ide dan menunjukan teknologi terbaru dan
pengembangannya terhadap rantai bisnis gas. Event GASTECH ke-27 dengan agenda Conference dan
Exhibition diselenggarakan pada 24 hingga 27 Maret 2014 di Seoul, Korea Selatan dengan mengambil tema
Where The Commercial and Technical Gas World Meet. Namun secara khusus pada tahun ini penyelenggaraan
GASTECH menjadikan LNG sebagai fokus utama.
Pada Gastech 2014 di Korea ini, PGN berpartisipasi dalam kegiatan exhibition/pameran serta mengirimkan
delegasi untuk mengikuti conference yang tujuannya untuk lebih mengenalkan PGN di kancah internasional,
serta mampu memposisikan bisnis PGN dalam perkembangan teknologi pemanfaatan gas bumi di dunia yang
saat ini berkembang dengan pesat. Secara khusus, PGN diharapkan dapat melihat peluang-peluang untuk
melakukan kerja sama dengan pihak lain dalam bidang teknologi, penyediaan gas, ataupun inovasi di sepanjang
rantai bisnis gas bumi.
3.1. GASTECH EXHIBITION 2014
Gastech Exhhibition 2014 diikuti oleh lebih dari 500 exhibitors internasional dengan topik utama meliputi
Liquefaction, LNG as a shipping fuel, Natural Gas Vehicles (NGV), Offshore and Subsea Technology, LNG and
Gas Carrier Ship building, Pipeline Infrastructure, Power Generation, HSSE and Gas Monetisation NGL/GTL.
Sesuai konsepnya, Gastech Exhibition ini menjadi tempat berinteraksi yang efektif antar pelaku bisnis gas di
dunia mulai dari hulu sampai hilir. Hal yang menjadi fokus utama dalam kegiatan Gastech kali ini adalah
berkembangnya bisnis LNG, baik yang skala besar, medium ataupun kecil. Berbagai teknologi terbaru
pemanfaatan LNG dibawa dan dikenalkan oleh para pelaku bisnis gas sehingga terbuka lebar kemungkinan
terjalinnya kerja sama yang efektif di masa depan.
Sebagian besar pengunjung exhibition stand PGN adalah mereka yang mencoba mendalami bisnis yang PGN
lakukan untuk kemudian menjajaki kemungkinan kerjasama. Diantara yang seperti ini adalah para vendor atau
total solution system provider yang menawarkan konsep kerjasama mulai dari persiapan hingga operasional.
Selain itu, pengunjung lain adalah mereka yang mau bekerja sama dalam hal menyediakan supply gas dalam
bentuk LNG, diantara yang seperti ini adalah spot market LNG agent, LNG liquefaction company atau natural gas
company. Mereka melihat perkembangan bisnis gas di Indonesia sangat menarik dengan masih besarnya
kebutuhan akan gas seiring dengan semakin meningkatnya harga bahan bakar minyak.
Dalam kegiatan exhibition, terbuka sekali kemungkinan untuk menjalin kerja sama dalam hal pengadaan LNG
baik dari spot market ataupun LNG provider company. Hal ini menunjukan positioning yang jelas dari PGN dimata
para pelaku bisnis gas di dunia. PGN sebagai perusahaan penyedia gas untuk memenuhi kebutuhan gas dalam
negeri, tentunya perlu melirik ketersediaan gas dari luar (dalam hal ini LNG) dikarenakan menurunnya profil
pasokan gas dalam negeri. Kenyataan bahwa PGN membangun salah satu Floating Receiving Terminal terbesar
di dunia (Volume 170.000 m3) menunjukan bahwa PGN siap memasuki bisnis LNG sebagai alternatif pasokan
gas konvensional dari lapangan gas domestik.
Dari hasil Exhhibition tersebut PGN membuka peluang kerjasama dengan beberapa calon mitra internasional.
Selain calon mitra, beberapa Perusahaan yang sudah bermitra dengan PGN menyempatkan diri untuk
berkunjung seperti PTT Thailand, Korean Registrar, GDF Suez, Hoegh LNG, Total, Pertamina, Donggi Senoro
LNG dan masih banyak lagi. Bahkan beberapa jajaran eksekutif dari Perusahaan tersebut juga menyempatkan
berkunjung, yaitu Direktur Gas Pertamina, CCO Hoegh LNG, Director of Business Development Middle East BP,
SVP Strategy, Markets & LNG Total.
PORAN AKHIR
Pengkajian Ulang Terhadap Studi Kelayakan dan FEED Duri-Dumai-Medan PT PGN (Persero) PT Gada Energi 11



BERITA MIGAS

Kegiatan Gastech kali ini juga banyak sekali mempertemukan PGN dengan para vendor penyedia barang dalam
bisnis penyaluran gas. Selain para vendor penyaluran konvensional seperti valve, isulating joint, anti surge, dan
lain sebagainya, ada juga termasuk para vendor untuk teknologi LNG seperti iso tank, cold isulation system, smal
liquefaction exchanger, hingga ke penyedia Floating Storage Ragasification Unit (FSRU) skala besar. Hal ini
sangat menarik, karena selain membuka kemungkinan kerjasama, juga dapat membuka wawasan mengenai
update teknologi penyaluran gas, khususnya LNG.
Kehadiran PGN di acara exhibition bertaraf internasional menjadi sangat penting sebagai jalan untuk membuka
peluang-peluang kerja sama maupun memperolah update teknologi terkait industri penyaluran gas. PGN yang
bisnis utamanya adalah transportasi dan distribusi gas memiliki kesempatan yang luas untuk mensosialisasikan
perusahaan dan rencana-rencana bisnis ke depan baik dari pemanfaatan LNG, pengembangan teknologi small
scale LNG, pemanfaatan unconventional gas dalam bentuk CBM dan Shale gas, hingga ke pembangunan
stasiunstasiun CNG. Sosialisasi rencana pengembangan bisnis PGN tersebut menjadi penting sehingga
diharapkan mampu mendapatkan mitra kerja yang sesuai dan mampu meningkatkan kapabilitas PGN dalam
merealisasikan rencana-rencananya.
3.2. LNG SANG PRIMADONA PADA GASTECH CONFERENCE 2014
Partisipasi PGN pada Gastech Conference 2014 dengan mengirimkan delegasinya sebagai peserta. Kegiatan
conference dibagi dalam aspek technical dan commercial. Untuk aspek teknikal, tema yang diusung adalah
Bagaimana membuat LNG menjadi lebih feasible, reliable dan ekonomis dari sisi technical. Sedangkan untuk
aspek komersial adalah Mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi khususnya unconventional gas (LNG, Shale
gas, dll) dalam perannya sebagai energy security buffer dengan cara yang dapat diterima sosial dan lingkungan.
Dilihat dari kedua aspek tersebut, secara umum keunggulan gas khususnya LNG dibandingkan dengan bahan
bakar lain yaitu relatif bersih dan ramah lingkungan, tetapi keunggulan tersebut juga harus ditunjang dengan
harga yang kompetitif dibandingkan dengan bahan bakar lainnya. Mengacu pada analisa pasar global saat ini
khususnya di negara-negara importir energi, secara overall ditinjau dari aspek capex & opex, fuel cost, health
impact dan carbon cost (untuk negara-negara yang telah meratifikasi aturan tersebut) harga LNG jika
dibandingkan dengan harga batubara relatif lebih murah. Tetapi selalu saja ada ruang untuk melakukan
improvement agar harga LNG lebih kompetitif lagi.
Untuk menunjang hal tersebut selama berlangsungnya GASTECH 2014, para pihak yang terlibat dalam industri
gas khususnya LNG berusaha memaparkan ide maupun hasil implementasi dari sisi komersial maupun teknikal.
Berikut disampaikan cuplikan informasi dari hasil conference:
3.2.1. Perkembangan LNG di Asia
a. Past
Unconventional gas (LNG, Shale gas, dll) dipandang hanya mempunyai pasar yang spesifik. Secara bisnis,
LNG pada dasarnya adalah bisnis transportasi karena tidak ada nilai tambah pada produk LNG itu sendiri
sehingga bisnis ini berkembang hanya karena adanya keterbatasan baik komersial maupun operasional
pada penyaluran gas dari pipa.
Di sisi lain, seperti yang kita ketahui bersama untuk LNG membutuhkan biaya operasional yang tinggi pada
proses pengangkutannya. Tentu saja hal ini menciptakan dua aspirasi yang bertentangan dari pembeli yang
menginginkan harga yang terjangkau dan stabil serta penjual yang menginginkan harga yang
menguntungkan dan fleksibel. Oleh karena itulah maka market LNG menjadi sangat spesifik.
Salah satu negara yang berpengaruh dalam peta energi di Asia karena letak geografisnya yang dekat yaitu
Australia hanya terlibat dalam kurang dari 10% perdagangan LNG.
b. Now
PORAN AKHIR
Pengkajian Ulang Terhadap Studi Kelayakan dan FEED Duri-Dumai-Medan PT PGN (Persero) PT Gada Energi 12



BERITA MIGAS

Para pelaku LNG meningkat dua kali lipat seiring makin globalnya market dan pesatnya teknologi shipping.
Seiring menurunnya produksi minyak dunia, LNG dipandang sebagai alternatif menarik sebagai solusi
meningkatkan tingkat keamanan energi apalagi untuk negara-negara pengimpor energi. Teknologi LNG
berkembang pesat dengan diadopsinya teknologi-teknologi FLNG. Saat ini unconventional gas kira-kira 10%
dari penyaluran gas secara global dan permintaan LNG saat ini kurang lebih 12 mTPA/ tahun dari pasokan
LNG baru.
Australia seperti yang telah disinggung sebelumnya, saat ini adalah rumah bagi 70% konstruksi baru di
bidang LNG dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.
c. Future
Perkiraan permintaan LNG di kurun waktu 2025-2030 kira-kira dua kali lipat dari tahun 2010 dan hal tersebut
dipicu oleh kenaikan permintaan dari Asia khususnya Jepang dan Korea yang saat ini telah menjadi negara
pengimpor LNG terbesar di dunia serta salah satu produsen terbesar kapal pengangkut LNG. Diperkirakan
permintaan energi di Asia pada tahun 2030 kira-kira meningkat 80%, dan di Asia diperkirakan akan dibangun
lebih banyak LNG hub station.
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa teknologi FLNG akan semakin berkembang termasuk
didalamnya teknologi perkapalan dan shipping. Sehingga diperkirakan harga LNG akan semakin kompetitif
dibandingkan dengan bahan bakar lain.
3.2.2. Antisipasi Pelaku Bisnis Gas Global terhadap Perkembangan LNG
Ada beberapa strategi saat ini yang telah dijalankan oleh beberapa perusahaan baik secara komersial
maupun teknik. Salah satu contohnya strategi yang dijalankan KOGAS, yaitu:
Pendekatan portfolio.
Improvement pada efisiensi pasar.
Peningkatan kerjasama antar sesama buyers.
Strategi lainnya secara umum yang berhasil dirangkum untuk mendapatkan value LNG yang feasible,
reliable dan ekonomis adalah :
a. Improvement jalur shipping Shipping memegang peranan penting dalam menentukan harga jual LNG,
semakin efisien pemilihan jalur maka harga LNG akan makin kompetitif. Para pelaku bisnis LNG di
dunia mencoba mengoptimalkan berbagai alternatif jalur shipping dari mulai Panama Canal, Laut Arctic,
via terusan Suez atau jalur shipping lain.
b. Improvement pada mesin kapal dengan mengkonversi mesin single fuel menjadi duel fuel untuk
mengoptimasi biaya pengangkutan maupun mensosialisasikan LNG sebagai fuel kapal.
c. Pengembangan dan inovasi pada tangki LNG. Tangki LNG merupakan item yang memerlukan dana
investasi yang cukup besar dalam pembangunan terminal LNG. Kajian dan studi sedang dilakukan
untuk mencari optimasi pembangunan tangki yang aman dan relatif lebih ekonomis. Alternatif
optimalisasi dari sisi material, supporting frame, bentuk tangki dan sizing. Hal lain yang menjadi catatan
adalah kajian untuk mengurangi boil off rate yaitu dengan pemilihan material baik dari sisi thickness,
komposisi peletakan insulator maupun kemampuan insulasinya.
d. Kajian terhadap teknologi bunkering LNG Saat ini telah dicoba beberapa alternatif untuk menyimpan
LNG dalam jumlah yang cukup besar. Alternatif yang ada meliputi bunkering LNG di onshore dan
offshore.
PORAN AKHIR
Pengkajian Ulang Terhadap Studi Kelayakan dan FEED Duri-Dumai-Medan PT PGN (Persero) PT Gada Energi 13



BERITA MIGAS

e. Pengembangan teknologi LNG sehingga dapat digunakan untuk bahan bakar kapal kontainer. LNG
dijadikan alternatif bahan bakar kapal kontainer, hanya yang menjadi tantangan adalah penempatan
tangki LNG sehingga tidak terlalu banyak menimbulkan hilangnya ruangan untuk kontainer dan sisi
safety dari penggunaan LNG.
f. Pengembangan regulasi LNG sehingga dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk semua jenis
kendaraan. Pemerintah USA sedang membuat regulasi terkait penggunaan LNG sebagai alternatif
bahan bakar di semua jenis kendaraan. Kajian tersebut lebih dititik beratkan terhadap sisi safety LNG
tersebut untuk diaplikasikan di kendaraan dan hazard area yang ditimbulkan.
g. Pengembangan teknologi hub station untuk small scale LNG. Asia sebagai terletak antara Samudera
Pasifik dan Atlantik menempati lokasi yang strategis karena dilewati oleh jalur perlintasan kapal FLNG.
Oleh karena itu Asia menjadi lokasi yang menarik untuk hub station. Banyak lokasi di dunia sebagai
contoh terminal Zeebrugge di Belgia sebagai penghubung ke sistem pemipaan Eropa atau di
transportasikan melalui moda transportasi lain.
h. Berkembangnya teknologi perbaikan pada fasilitas LNG. GDF mempresentasikan kemampuan
perusahaannya untuk memperbaiki peralatan safety valve di salah satu tangkinya dalam kondisi on-line
dan dalam temperatur cryogenic tanpa mengabaikan safety pada fasilitasnya.
3.2.3. Hal-hal yang Dapat Vita Pelajari
a. Langkah PGN untuk memilih moda transportasi LNG merupakan langkah tepat, mengingat permintaan
yang meningkat dan lokasi permintaan jauh dari sumber gas.
b. PGN harus melakukan propaganda secara intens ke seluruh pihak, bahwa telah memiliki FSRU yang
diklaim merupakan FSRU terbesar di dunia dan hal ini merupakan point penting untuk PGN sebagai
new entrant yang harus diperhitungkan, mengingat posisi asia dalam pasar LNG sangat penting.
c. Dengan pengoperasian LNG, PGN juga dihadapkan pada kondisi hati-hati untuk aspek komersial,
karena harga yang tidak kompetitif dibandingkan moda jaringan pipa sehingga harus betul-betul tepat
sasaran, tepat penyaluran, dan tepat perhitungan.
d. Pemilihan alternatif jalur shipping sangat penting untuk mengoptimalkan shipping cost. Banyak hal yang
berperan dari mulai regulasi daerah yang dilewati, rintangan alam yang dihadapi (kecepatan angin,
temperatur ekstrim, etc), kondisi sosial, jarak tempuh.
e. Hub station menjadi alternatif menarik investasi mengingat Indonesia menjadi salah satu jalur wajib
yang dilewati kapal-kapal FLNG, kapal kontainer berbahan bakar LNG. Kombinasi dan pilihan tepat
untuk menggunakan moda yang sesuai menjadi hal yang penting. Hub station dapat digabung dengan
sistem perpipaan, FLNG dan moda lain.
f. Perubahan besar terhadap demand LNG di dunia, dimana Asia memegang peranan penting. Peluang
ini menjadi menarik untuk dimanfaatkan oleh PGN.