Anda di halaman 1dari 27

Proposal Penataan Kawasan Kumuh di sekitar

boezem Morokrembangan, Surabaya

2009
Morokrembangan
Noto Tuladha Resik ingkang

Usulan Penataan Kawasan dengan Pendekatan Lokal oleh


Gabungan Mahasiswa Peduli Rakyat, Jakarta – Surabaya – Bali
Untuk
SAYEMBARA PRAKARSA MASYARAKAT MENUJU KOTA LESTARI
DIRJEN TATA RUANG PU
2009

Oleh:
Barefoot Architect ITS, Sby. (Ardha, Brima,
Meymey, Rista, Ridho, Dian)
Barefoot Architect Bali (Wina, Sari, Teta,
Putu)
Teman-teman Jakarta (Ariko, Bobby, Triaco)
2

Proposal Sayembara Dirjen Tata Ruang PU, 2009.

“Noto Tuladha Resik ingkang Morokembrangan”

Judul dalam bahasa Kearifan Lokal


Noto: Penataan Ruang, Bangunan, membuat
system, “order”.
Tuladha: Upaya mencari Contoh/ Model .
Resik: Bersih dalam arti semua sisi: Bersih=Lestari,
Bersih Hati, Tertata dengan baik, bersih organisasi,
Budaya bersih, Bersih dari polusi lingkungan / Bersih
Polusi Air Situ/Boezem.
Oleh
Tim Nyeker / Barefoot Architects ITS (Ardha, Brima, Ridho, Rista, Meymey, Dian), Nyeker Bali (Wina, Sari,
Putu, Teta) dan Kawan Kawan (Bobi, Ariko, Triaco)

LEGENDA NEGERI RESIK MOROKEMBRANGAN

KONON TERDAPAT SUATU


KERAJAAN DI SEKELILING DANAU
MOROKEMBRANGAN YG SANGAT
SUBUR SEJAHTERA DENGAN RAJA
Resik Morokembrangan YANG
SANGAT BIJAKSANA DAN DICINTAI
RAKYAT JELATA. RAJA MEMPUNYAI
PUTRI YANG MENJADI DASAR
PENASIHAT PELAKSANAN
KEPEMERINTAHAN RAJA YG
DILAKUKAN DASARI KEMANUSIAN,
KEADILAN DAN CINTA ALAM.
3

Kesejahteraan Rakyat menjadi keirian Raja ANGKARA SERAKAH yg ingin menguasai / memiliki semua di
dunia. Pasukan ANGKARA SERAKAH “menyerang” (mencaplok) negeri Sejahtera. DALAM PEPERANGAN
BUTA BUTA SERAKAH , PUTERI KEMUDIAN DI SEMBUNYIKAN KE DASAR DANAU . Kekuatan
KeraJAAN SERAKAH AMAT GANAS RAJA MORO terdesak dan ter TANGKAP dan dibakar. SEBELUM
AJAL, RAJA MENGELUARKAN KESAKTIAN terakhir “Keris Pasak Bumi AIR BAH” dimana SEMUA
MUSUH IKUT DILALAP AIR TETAPI DARI KESERAKAHAN YG SANGAT KOTOR mempOLUSI
DANAU MOROKEMBRANGAN MENJADI HITAM PEKAT DIMANA SEMUA KEHIDUPAN DIDALAM AIR
MATI.
RAJA Resik Morokembrangan MENINGGALKAN PESAN “HARAPAN MASA DEPAN” dan dititipkan
“BIBIT TATA RESIK” (StiMULUS) BAHWA
KESEJAHTERAAN KERAJAAN hanya
DAPAT DI PULIHKAN KEMBALI JIKA
“KEKOTORAN ANGKARA” ( POLUSI
DANAU) DIBERSIHKAN / DIKALAHKAN
KEMBALI OLEH RAKYAT JELATA.
Diramalkan jangka waktu kesaktian Bibit
Tata Resik hidup sebelum 100.000 x
bulan purnama (Masa kini) untuk dapat
nengeluarkan PUTERI DARI BELENGGU
DANAU POLUSI YANG TERJEBAK DI
DASAR DANAU dalam dua Pilihan : Semua akan kalah mati tenggelam dalam polusi Angkara
Serakah atau PUTERI DEWI DAPAT
diselamatkan KELUAR DARI DANAU yg dapat
MENSEJAHTERAKAN kembali RAKYAT JELATA
KERAJAAN MOROKEMBRANGAN untuk
selamanya (sustainable).
4

Proposal

I. Data Dasar
Nama Kegiatan Proposal Noto Tuladha Resik ingkang Morokrembangan:
(Menata sebagai Model / Ujicoba dalam upaya
pembersihan, perbaikan, pelestarian kawasan kumuh
terpolusi dalam kondisi pembangunan “keterlanjuran”
dan keterlantaran Morokembrangan)

Lokasi Kawasan Boezem Morokrembangan,


Surabaya Utara
Suatu lokasi boezem (situ) seluas ± 80 Ha
sebagai penyangga banjir yg jadi waduk tetapi
selama berpuluh tahun sudah juga di “serbu”
permukiman liar (dan juga yg malah sudah
mulai menjadi kota “matang” juga) meskipun
praktis 70-80% sekeliling situ ini adalah “tidak
legal”.
Situ/ Boezem/Waduk 80
H t
Lokasi Start

Sampah, Enceng Gondok liar


….bau…ikan sulit hidup (kecuali Lele)
= selokan raksasa?

Sepanjang sini juga banyak


permukim “tembelan”/ Squatters.

Hotel “Kolong Jembatan” : Tidur


miring? Jalan nunduk?
5

Jumlah Proposal Rp 200 juta (dimana sisa anggaran menjadi “Dana


Solidaritas Komunitas Bersama).

Durasi Proyek 12 bulan (Tahap I: “Community Entry” dan


Perencanaan Bersama Masyarakat Awal) .
Jenis { Project / /{
{ Capacity building

Tujuan:

Memberi kesempatan untuk menunjukan bahwa ada “Jalan Lain” (Another Path) dalam
“program menata kawasan Kumuh tampa pengusuran “.
Memutarkan ekonomi ril lokal, pengadaan lapangan kerja , pengentasan kemiskinan ,
pembersihan polusi alam, dan pembukaan kemacetan transportasi dan kesiapan mitigasi “global
warming” secara sekaligus, dalam mempersiapkan program 100 hari kabinet SBY khusus
masalah Kemiskinan, Kesejahteraan Masyarakat dan Pembangunan Infrastruktur SDA dalam
kesiapan Pemanasan Global (Global Warming) .
Upaya pengadaan suatu pendekatan “diluar kotak” yg sementara ini membelenggu solusi
innovatif yg tidak memberi pilihan lain dari pada bertumpu kepada kekuatan pasar komersial
atau “subsidi salah target” yg memaksakan pilihan “penggusuran”. Upaya untuk mendapatkan
“SYSTEM” dan pembangunan institusi (instititutional building) wadah yg dapat berperan
menggalang energy masyarakat dalam menata kota / membangun “komunitas” yg hidup / aktiv
parttisipatif dengan hati, yg mungkin dapat mencapai hasil yg setara (atau malah bisa jauh
lebih baik/ resik/cantik) dari pada pembangunan “turnkey real estate yg bertumpu kepada
budaya mobil dan komersialism uang .

Diharapkan awal ilmu ilmu dapat menunjang


upaya budaya kebersamaan (goyong royong)
untuk mempersiapakan masa depan yg rentan
(Global Warming) dan memberikan contoh
pendekatakan kawasan kota model “Eco City
berwawasan Budaya Lokal untuk Keuntungan
6

Semua”.
Mengupayakan mengkawinkan realita sistem “proyek negara” (supply driven) dan system
“capacity building” (social kapital) yg bertumpu kepada “Needs Driven”) dalam membangun
SISTEM dan INSTITUSI yg dapat melakukan Pembangunan Holistik dalam membangun PRO
POOR, PRO ENVIRONMENT, PRO JOB, PRO GROWTH.

Manfaat proposal bagi warga dan lingkungan

Pilihan antara menata warga yg di anggap illegal tetapi sebenarnya suatu kebablasan
pengelolaan kota yg terbatas dari kecepatan pertumbuhan desakan urbanisasi yang hanya
mengandalkan sistem legalitas buatan “struktur formal” yg kewalahan menata , dan sayangnya
sering menjadi alasan “pengusuran terselubung” demi kepentingan interes ekonomi komersial
angkara murka.
Inti proposal adalah memberi Pilihan Membangun Kota untuk Semua (termasuk “warga miskin
illegal keterlanjuran” dan lingkungan alamnya) dengan pemampu2 yg dapat memutarkan
“ekonomi kerakyatan” sebagai kunci strategi pengerak semua kegiatan berbasis masyarakat yg
tinggal dilokasi. Mempersiapkan secara incremental Pendekatan alternative program “Gerakan
Jogo Boezem” sebagai suatu pendekatan “curative dan preventive” Community Based Bersih
Boezem (Situ/Danau) Morokembrangan dan eco region catchment air hulu hilirnya . Tidak bisa
tidak ,tampa gerakan masyarakat , Bersih Boezem tidak akan mampu dilakukan hanya oleh
“proyek infrastruktur phisik pemerintah ” (vs pelaksanaan pola “proyek2 kontraktor” yg menutupi
kesempatan energy sumber daya ekonomi local berputar).
Membangun pilihan bibir boezem dan boezem sebagai sarana ekonomi dan budaya
pedestrianisasi , becak dan sepeda sebagai ruang publik Waterfront Kerakyatan (vs pilihan
membangun kota untuk Industry Mobil) dalam upaya awal membangun contoh Eco City ala
Indonesia.
Proposal ini berupaya menunjukan bahwa ada alternative yg lain yg lebih mempunyai dampak
holistic dan penguliran energy pembangunan tidak saja phisik, tetapi pula pengadaan lapangan
kerja, memperbaiki masalah polusi , perputaran ekonomi real, dan pembentukan
system/institusi pembangunan dalam pola pikir pembangunan bertumpu kepada pendekatan
“Natural Capital”.
7

Rencana dan Strategi :


Upaya strategy dan cara yg dapat mencoba keluar dari pola pendekatan “physik dan satu solusi” yg
ditentukan “proyek” ke pendekatan “Partisipatif Keterpaduan Multi Solusi” (holistic) yang bertumpu
kepada kekuatan sosial dan alam (“Sosial & Natural Capital”) dalam penunjangan program SBY 100 hari
berfokus kepada mengsejahterakan “rakyat jelata”.
Kesulitan “kondisi keterlanjuran” menjadi pentingnya suatu “kompromi transisi” yg tidak harus langsung
loncat ke peraturan standar2 ideal.
1. Diperlukan Strategy dua sisi: ‘Carrot and Stick” dalam mempertemukan penataan dalam
“proses kompromi” kearah saling menguntungkan aneka pihak melawan budaya “anarchy”.
Dicanangkan adanya suatu “Payung prinsip Game Play umum” berazas logistik, berkeadilan,
partisipatif, dan proportional…dan keterpaduan sumber daya sektoral untuk mempertemukan
kompromi penataan untuk keluar dari belenggu “lingkaran setan”.
2. Belajar dari kearifan lokal yg bertumpu kepada “budaya gotong royong” sebagai energy utama
yg datang “dari dalam “ (khusus warga dan masyarakat existing yg kebanyakan sudah tinggal
dilokasi “keterlajuran terlantar padat tampa penataan” secara bertahun tahun).
3. Pengalangan Mahasiswa sebagai sumber daya “Fasilitator Masyarakat “ yg tidak dapat
ditandingi dalam character , idealism , dan keceriaan untuk bisa melakukan pendekatan dan
pendampingan kepada masyarakat secara jangka panjang . Semua pendekatan dilakukan
dalam membangun trust dan test dalam pengalangan warga secara kelompok bersama aneka
pendorongan2 program stimulus yg dicanangkan secara strategik.
4. Dorongan awal adalah perjuangan suatu penataan wilayah “pedestrianisasi “/ hutan kota dan
kawasan “ekonomi kerakyatan” melawan usulan penataan kota berbasis mobil . Upaya ini
mengalang energy warga setempat menduduki ruang publik bagi rakyat dan mencari
terobosan “ruang publik” dalam kesempitan untuk penguatan kesejahteraan rakyat secara
komunal (gotong royong, kebersamaan) dgn tujuan achir yg
diamanatkan pula kepada pemerintah.
Pendekatan lebih rinci dapat dilihat dalam suatu deretan Skenario
yg ditulis dalam Ramalan “Legenda Negeri Resik Morokembrangan
di masa kini rentan Bencana Jagat Raya “ (Lampiran A).
8

Rencana Anggaran (Stimulus):


(1) Perhitungan 6 man-month akumulasi dalam 12 bulan x Rp 1 juta/ bulan x 10 mahasiswa “Nyeker” =
50 juta.
(2) Perhitungan dana “penggalangan pelatihan learning by doing” 5 kader pemuda part time = 5 x Rp 500
ribu/bln x 6 bulan akumulasi dalam 12 bulan = Rp15 juta.
(3) Pembelian satu (1) Mesin pembuat Paving Batu Press = Rp 15 juta)
(4) Stimulus awal bahan mentah dasar (Semen dan Pasir ) untuk mengawali produksi warga dan
pembentukan “Bengkel dan Laskar Konstruksi Komunitas” =Rp 55 juta.
(5) Kordinasi Institusi /Dozen Tamu part time dua (2) Pembimbing: Rp 55 juta dan anggaran Administrasi
= Rp10 juta.
Total Rp200 juta.

Sumber Daya dan Dana lainnya adalah dari partisipasi masyarakat dan Stake Holder lainnya.

Aktor Pelaksana Program: 10 mahasiswa ITS dan 5 anak binaan muda local dan 2
Pembimbing/Dosen Tamu. Penunjang penunjang aneka Stake Holders.

Produk Akhir yang


diharapkan Produk disini bukan di tujukan dalam bentuk phisik belaka tetapi lebih
suatu pembentukan system (System Building), aneka kesepakatan dan
pembangunan kekuatan kebersamaan dalam awal kelanjutan penataan
kawasan yg berputar makin lama makin lebih besar. Produk achir adalah
INFINITY dalam MIMPI aspirasi masyarakat berbudaya.
9

Perkiraan Indikator Keberhasilan / Produk:


1. Memulai penggabungan minimal satu (1) RW dalam pemahaman sadar
Bersih Boezem dalam suatu pernyataan bersama.
2. Memulai pengalangan satu (1 ) RT dan khusus warga “squatters”
(senasib) pinggir Boezem belakang patok Boezem” (Garis Sepandan
Boezem) untuk ikut melakukan proses penataan resik awal pinggir
Boezem.
3. Pemulaian minimal dua ( 2 ) exercise penataan partisipasi masyarakat
dalam menggalang penataan bibir boezem dgn mendesain awal
gerakan Pedestrianisasi (pejalan kaki) dan transport pedal sepeda dan
becak (vs melawan budaya transport mobil) sebagai gerakan persiapan
Bangun Eco City untuk Semua” masa depan.
4. Memulai pemasukan produk awal gambaran “mimpi besar” dalam
menata kawasan tampa penggusuran: “KAWASAN PARAWISATA
AIR MILIK SEKAMPUNG “?
5. Penggabungan kerja sama antara 10 Mahasiswa, 5 Kader Pemuda,
P2KP/ PNPM (jika masih berada disana).
6. Adanya 1 awal PROYEK EXPERIMENTAL AKSI FORKIM (Forum
Permukiman bagi Warga MBR National).
7. Pembentukan FORKIM SUB (Forkim Surabaya).
8. Awal dialog kerja sama antardept dalam pendekatan HOLISTIK.
9. Pengalangan dana “Community Development Funds” dimana tergabung
Dana Pembangunan Flexible (Community Capacity Building ) yang
semoga dapat dicampur dgn dana “proyek” pemerintah. Diharapkan
dapat terggalang minimal US $50.000 untuk penguliran pembangunan
: Satu (1) contoh “BALE LANGIT MASYARAKAT” (Community Center)
sebagai Fasilitas pengerak energy masyarakat setempat .
10. Pemulaian DANA MICRO SAVING KOMUNITAS MBR untuk satu (1)
RT, khusus untuk penataan Rumah masa depan yg aman (Secure
Tenure).
10

Keberlanjutan proposal
paska pelaksanaan (tahap Dgn focus penguatan “sosial capital”/ komunitas, pemahaman
pemeliharaan) kersamaan, dan penguatan penunjang lainnya (spt . sarana
Bengkel & Laskar Konstruksi Komunitas, Pusat Bale Rakyat),
warga bisa lebih melakukan “beyond pemeliharaan” menuju
pembangunan berkelanjutan.
Dgn upaya kegiatan ini menjadi Laboratory Teknik Pemberdayaan
Masyarakat dan Teknology Tepat Guna Kampus, dapat terbentuk
“jejaring sumber daya” dan terjadi synergy belajar sambil melakukan.
Dalam pola pandang baru: Mengambil alih “wilayah public” pasif
yg dikelola Pemerintah menjadi “Wilayah Publik Aktif” untuk
kepentingan rakyat setempat secara sopan, berbudaya resik,
menghormati lingkungan dan menjadi warga negara kota
keseluruhan .

Nilai Tambah: Proposal Pelestarian Budaya dan Seni Kearifan


juga harus mengangkat Lokal (spt khusus perwayangan, perbatikan,
kekhasan prakarsa lestari popular art) yang dapat di expresikan
yang ada di wilayah tersebut dalam pengadaan ruang publik yg
yang dapat menjadi nilai semuanya dikaitkan dalam keterpaduan
tambah. Income generating/ Ekonomi Kerakyatan dan
Pelestarian Lingkungan tidak dapat saling dipisahkan.
Penataan pinggir Boezem sebagai kawasan “WaterFront Pedestrianisasi
Popular” (People’s Walks) menjadi tempat tumbuhnya kegiatan “ekonomi
kerayakatan yg mencintai lingkungan”. Diadakan ruang public manusia,
sepeda city, perahu rakyat, dan ruang ruang bazaar, pasar rakyat, alun alun,
ruang main anak anak menyatakan kejayaan manusia dari penjajahan
terselubung budaya mobil.Menjadi suatu statement politik kemanusiaan
beragam (aneka ragam hayati) dalam era globalisasi melawan pembangunan
kota berdasarkan “budaya mobil”.
Nilai tambah lebih luas adalah PERUBAHAN POLA PIKIR DALAM
11

MENATA KOTA untuk Rakyat Popular Warga Negara TAMPA


PENGGUSURAN . Melihat penanganan “PROYEK” tidak sekedar PHISIK
tetapi membangun BUDAYA PERDULI, Bersih, dan BUDAYA Gotong
ROyong, budaya kebersamaan yg saling untung (bukan satu untung diatas
kebuntungan pihak lain).

Proposal harus Ini nya adalah Pilihan menata untuk Urban Renewal Komersial dimana yg
mencakup dan “informal dan liar” tergusur, atau melakukan “pemutihan bersyarat penataan
mengakomodir kegiatan berbasis komunitas” kepada ribuan warga existing yg telah tinggal dilokasi
prakarsa masyarakat local secara terlantar tampa penataan. Pilihan politis memikirkan rakyat dan
ekonomi informal atau diberikan kepada kepentingan “pengembang” untuk
pembangunan ekonomi komersial formal.
Proposal “bibit sakti” ini adalah “Stimulus2” khusus untuk menggalang
pemberdayaan kekuatan swadaya secara komunitas, pemampu, pemberian
hak (Secure Tenure campuran Hak Individu dan Kolektif) secara berjenjang
diupayakan warga mampu membangun kawasan ulang (Rebuilding Program
secara incremental).
Proposal ini adalah Tahap awal suatu persiapan uji coba membangun
Fasilitas Publik “Bale Langit Masyarakat” (Sarana Publik diatas tanah publik)
sebagai kesiapan sarana mitigasi bencana maupun upaya menyiapkan
alternative / perbaikan “Program Rusunawa/i salah target” dgn suatu usulan
perumahan urban vertical “Kampung Susun”/”lahan susun” yg berbasis infill
swadaya masyarakat dalam realita penataan kondisi kampung2 padat dan
solusi penataan benang kusut.
Proposal ini mencoba mengawinkan “PASAR EKONOMI” dan “KAPITAL
SOCIAL dan ALAM” dalam kesatuan dan innovasi pembagian saham dalam
membangun bersama (Co Development) dgn tujuan memampukan
feasibilitas financial dan memaksimalkan benefit perputaran ekonomi
kerakyatan dalam upaya sekaligus peningkatan lapangan kerja sector
informal.
12
13

LAMPIRAN A:
Skenario Pendekatan
“Legenda Negeri Resik Morokrembangan di masa kini rentan Bencana Jagat Raya “.

Pada bulan purnama ke 10.000 kemudian , di ABAD 20, konon muncul WALIKOTA SOERABAYA yg
bijaksana yang dalam suratan ternyata dihitung adalah titisan Raja Morokrembangan . Konon
diramalkan bahwa Walikota akan memberikan amanah titisan dua benda sakti titisan Raja Morokrembangan
kepada masyarakat yg masih terbelenggu dalam kemiskinan dan kesusahan .
Kedua Benda tersebut adalah “Payung Tata Resik Sakti” sebagai penuntun, payung,pengarah “Game Play
dan Guideline Penataan bersama rakyat” dan “Bibit2 Tata Resik Sakti” dalam aneka sendjata sakti/ alat
kail / pemampu warga untuk menyelamatkan Putri
Resik Morokembrangan dapat keluar dari belenggu
polusi situ Morokembrangan .

Payung Sakti Morokembrangan (Pedoman Menata/


Rule of the Game):
Penuntun arah perang hati melawan keserakahan.

Payung Tata Resik Morokembrangan” menjadi


suatu penuntun/ pedoman KEPADA WARGA YG TINGGAL DI SEKITAR DANAU
MOROKEMBRANGAN. Penuntun, arah, pedoman ,Persyaratan dan batasan2 warga , dan MIMPI untuk
menyelamatkan Puteri dan menata diri menjadi Negri Morokembrangan untuk kembali makmur
14

“ Payung Tata Resik Sakti” dapat dibuat dalam bentuk SK Walikota kota Soerabaya :

Dalam mandat untuk memikirkan keseluruhan nasib penduduk kota Soerabaya dari bahaya Banjir
(Global Warming dan pencegahan air bah) yg diwarning kan dalam pesan Raya Moro . Diwejangkan
untuk penyelamatan hanya bisa dilakukan oleh tenaga dalam Warga sendiri . Penuntun lanjut
berwejang: Bahwa semua warga yang berada dipinggir Boezem harus bebas minimal 15 x 5
jengkal (dibuat sedikit ukuran flexibel) dari bibir boezem (Penuntun ini kemudian disebut “PATOK
BOEZEM”, dalam bahasa Tata Ruang : Garis Sepandan Boezem).
Didalam itu tidak boleh dibangun rumah , dan harus bebas darat untuk rakyat dan sarana transport dapat
berlalu. Bangunan “di langit” wilayah ini diperbolehkan tetapi hanya boleh untuk kepentingan rakyat dan
menjadi benteng perlawanan bencana jagat raya dalam persyaratan harus lebih tinggi minimal dari 2 tinggi
manusia .
Kesejahteraan hanya bisa dgn membersihkan Morokembrangan dari polusi. Dgn demikian dituntun tidak
ada lagi WC maupun sampah yg dibuang ke danau.
Seluruh Zona sekitar Boezem juga akan ditata karena ruwet, macet, dan legalitas kepemilihan akan di
periksa lagi. Jalan akan diperlebar 7 x 3 jengkal and tergantung warga untuk menyelesaikan masalah
kesimpitan dgn aszas keadilan, kebersamaan. Jalan keluar adalah menghuni di awan awan berlapis yg
tetap memberikan sinar matahari masuk ke tanah.
Dengan menata bersama, berupaya dalam prinsip prinsip jalur hati , adil , dan kemanusiaan bergotong
royong, maka terciptalah secara nyata mimpi kesejahteraan.
15

“Bibit Nata Resik”


Senjata pemberdayaan masyarakat yg berkembang dan bertambah makin besar / tumbuh ampuh
sesuai pertumbuhan hati nurani dan semangat kegiatan masyarakat sendiri.
Awal tahap Proposal, Bibit Nata Resik (Stimulus) berbentuk dalam 3 senjata pemampu:
1) Fasilitator Pendampingan Teknis Mahasiswa ,
2) Alat membangun dan bahan mentah membangun.
3) Perahu “Jogo Bersih Boezem” (Perahu sebagai alat membersihkan Boezem secara Recycling, Reuse,
Reduce dan Biologis / Pertanian atas air Encek Gondok).

Kesaktian Senjata “Bibit Nata Resik” akan berkembang setara dgn kekuatan,
semangat hati dan aksi nyata warga Morokembrangan. Makin besar kesiapan,
mental, upaya dan aksi, makin tumbuh pula “Bibit Pemampu Warga” mencapai
Mimpi.
16

Tahap 1 Tahap 2 Tahap 3


Proposal Sayembara
Kota Lestari berada di
tahap ini

Mahasiswa Mahasiswa melanjut “kenal warga”


ITS sudah
melakukan Dengan STIMULUS (Bibit Resik-MICRO ACTION Persiapan melanjut dgn perencanaan Suatu perjuangan untuk mendapat BaleLangit
survey dan FUNDS sekitar Rp50 juta) mengajak melakuan partisipatif bersayarat dgn STIMULUS dgn syarat menata diri yang lebih luas kearah
mulai “Kenal rembuk “Apa yang mau dikerjakan di bibir membangun yg lebih besar/ significant Tahap 3 dalam menata Redevelopment yang
warga” dan Boezem”? berupa Sarana Bangunan Publik (BALE lebih luas dan pemahaman nata ruang 3 dimensi
melanju dgn LANGIT MAS)yg multi guna dan innovatif dalam menata masalah lingkungan
membuat ide. Proses membahas aneka issue, pemahaman berwawasan “EKONOMI (Community Based Bersih Boezem Program),
peraturan (Patok Boezem GSB Boezem, dll). Dan KERAKYATAN KOLEKTIF”. transportasi (Pelebaran jalan Biopore with
melihat ke masa depan (Mimpi) dibahas antar People), penataan perumahan vertikal
warga kecil. Proses ini sekaligus menjadi (KAMPUNG SUSUN) yang secara ekonomis/
persiapan suatu KOMITMENT financial lebih terjangkai bagi warga miskin
Melanjut dgn upaya desain rencana “bibir boezem” BERSYARAT bahwa warga rela existing (Redevelopment Kampung Kumuh
sepanjang sekitar 25 m . menata diri dalam menyatukan TAMPA PENGUSURAN).
pembangunan Macro (Payung Nata
Dilanjut dgn upaya “gotong royong” warga dan Tulada Resik Morokembrangan) dan
embrio “Laskar Konstruksi Kampung” membangun komitment penataan bersyarat Tahap 3.
ide awal bibir boezem tsb.
Pelaksanaan pembangunan kerja sama
Kemungkinan2 yg dapat dibangun adalah sarana antara Warga dan Pemerintah.
“multi guna” yg diatur bersama dalam jadwal
bersama para ibu ibu, pemuda, dll. Mungkin dalam
lapangan lapangan badminton, dan tempat macing
gantung, atau mulai pengelolaan sampah kubur
dan recycling?

Kaitan proses “Belajar sambil Melakukan” dpat


melihat mimpi dan harapan dan persiapan2
kedepan (Tahap 2 dan Tahap 3).
17

Pelaksanaan Proposal ini:

Tahap 1: Persiapan Organisasi Masyarakat dalam


Perang Damai melawan Angkara Murka.
(Kegiatan Proposal ini).

REMBUK BERSAMA MENCARI SOLUSI:


Tahap Community Entry , penyebar dan pemahaman “Payung Noto
Tuladha Resik” oleh para Fasilitator/ Mahasiswa Arsitektur Nyeker
(Mahasiswa Barefoot Arsitek) dalam upaya “Mencari SOLUSI”
menata resik.

Ada solusi logis ruang tetapi perlu adanya beberapa kompromi dan
pola pikir “tata ruang baru” yg bisa pro poor , pro job, pro growth, dan
pro environment yg menyongsong : a) pembangunan masa depan Eco City dan b) Standar Bangunan yg
Incremental (dalam arti di legowo dalam waktu) untuk dapat mencapai MIMPI RAMALAN achir.
Khusus disini adalah TATA RUANG INNOVATIF: 1) Melihat beda “jalan Inspeksi”, 2) Membangun ruang
publik sebagai sarana Ekonomi Kerakyatan , 3) Membangun kawasan local komunitas berpola transportasi
PEDESTRIAN, Sepeda, Becak berbasis energy renewable dan Kebun Kota/ Urban Farming (vs Kota
berbasis MOBIL ), 3) Ruang Public di atas tanah publik, 4) Memaksimalkan kepemilikan secara “Kolektip”
dalam bentuk saham.

Mencari solusi bersama Kami kan sudah


tinggal disini
MAHASISWA NYEKER ..PEDULI: “Pak/ Bu, kita hanya lebih dari 10
tahun?
“Mahasiswa” . Hanya bisa bantu ikut mikirin. … Brangkali bisa juga kasi usul2 dan
bisa Bantu ke kantor Pemerintah ? Kita semua perlu berjuang bersama

sama, Pak/ Bu...Gimana kita cari Solusi biar kita bisa hidup Kami baru
datang
tetapi berdasarkan prinsip : “kemarin”, ..

“Aduh sudah padat sekali, kita Kita yg terkena pindah dari


memang harus mikir semua Gimana ya kita bibir Boesem , sementara
warga Soerabaya kalao banjir, tinggal di Kios, sampe kita bisa
buktikan bahwa kita bangun rumah sewa dgn P.
rela dan serious mau Haji. Nanti kita masih bisa
menata diri supaya kerja sambil nabung, Bu.
Surabaya tidak banjir
dan kita juga tidak
digusur SATPOL PP?
18

MIMPI “Kawasan Pariwisata Air Milik Sekampung”?

Air Boezem bersih untuk adanya kehidupan air sebagai pula pendapatan tambahan kami.
Mimpi kedepan adalah suatu panggilan energy yg dapat membuat roda
Perubahan berputar ke arah penataan resik Morokembrangan.

Mimpi bisa Memberi semangat.

Mimpi bisa Mengisi Energi

Mimpi bisa mendorong Masyarakat berupaya, berusaha, berjuang.

Dengan wejangan Raja (Walikota) yg bijaksana dalam memberi arah, batasan, dan kemampuan
membuat Masyarakat lebih percaya melakukan upaya.

Proses menciptakan Mimpi adalah juga proses Pendidikan Lingkungan bersih Boezem, belajar
bersama untuk meng-organisasi diri menjadi kekuatan kebersamaan yg dinyatakan “wejangan
Legenda Raja Moro: Hanya dari kebersamaan kalaian bisa menolong Dewi Resik
Morokembrangan and Hanya dari kebersamaan kalian bisa keluar dari belenggu kemiskinan.
Kebersamaan mencari solusi adalah senjata terampuh rakyat Morokembrangan.
19

Menunjang MIMPI menjadi kenyataan :


Strategi Penataan yg ingin dicoba adalah dengan “mimpi” dan perjalanan mimpi adalah suatu “Kegiatan
Ekonomi Real”.
Ekonomi Real ini perlu di bantu oleh “STIMULUS” penguliran aktivitas membangun berwawan
sekaligus pengentasan kemiskinan, pengadaan lapangan kerja, dan penguatan ekonomi informal (sebagai
penangkis global krisis ekonomi). Disini upayakan lobby kepada PU untuk dapat
1) Menchannelkan resources ke PU an untuk memaksimalkan pengadaan lapangan kerja,
2) Konsep (dan
peraturan innovatif)
dalam pengadaan
Tanah/ Ruang bagi
kepentingan
pembangunan
Insfrastruktur (yg
menjadi penghambat
terbesar progress
program infrastructur)
bahwa setiap jengkal
ruang yg disisihkan
warga (apa “legal” atau
“tidak legal karena
keterlantaran/ kelalaian
penjagaan Pemerintah
masa lalu) dapat di
barter dgn ruang lain
atau sumber daya ke
PU an lain (Disebut
kesaktian
kebijaksanaan negri
“Morokembrangan” :
“Pengaturan
Kibjaksanaan Ruang
Rakyat ditukar Ruang
Publik dgn Adil”) .
Belajar dari innovasi
Rakyat dapat menjual
LISTRIK masuk grid
PLN milik negara dalam
permasalahan Krisis
Energy.
20

Mengawali menata bersama “ Dari yang Kecil ke yang


Besar” dalam perjalanan menuju mimpi.

Dengan STIMULUS (“Bibit Nata Resik”) diadakan penataan


ruang “Cilik” disatu wilayah Bawah “Bale Langit Masyarakat”
dalam upaya menunjukan “Jalan Inspeksi yang berguna bagi
Rakyat” dan awal kelanjutan masa depan menuju perwujutan
MIMPI:

KAWASAN PARAWISATA AIR MILIK SEKAMPUNG = Dasar


ECO CITY bagi SEMUA.

Fokus adalah menata ruang wilayah “Pedestrianiasi Situ Water


Front” yg disebut Mahasiswa : “Lengkung S Venetia ala
Soeroboyo”.
21

STIMULUS “PRAU LASKAR JOGO RESIK BOEZEM”:


Embryo Penunjang
Program RESIK BOEZEM Rakyat.
Program dimana Rakyat existing (khusus ex Pemulung dan kemungkinan
“Squatters tepi Boezem) diberikan “ruang” untuk melanjut kepahlawanan
PEMULUNG untuk bumi dalam mendaur ulangkan “sampah”. Stimulus pemampu
suatu sistem diupayakan menjadi “Laskar Jogo Resik Boezem”
Prau Laskar Jogo Resik Boezem:
Persyaratan STIULUS , dimana dapat di
minta 5 kk mendapat Prau untuk
menjadi PT Kolompok Laskar Resik
Boezem . khusus untuk Ex Pemulung
dgn jatah 1 m3 Rp X / M3 saring dan
kering selama 3 hari tidak hujan dan
membagi hasil sewa prau Rp 15 ribu/
m3. Jatah dilakukan selama 1 bulan ,
kemudian di perpanjang 3 bulan dan
menjadi 6 bulan , dgn hak sampai 3
tahun. Mendapat hak teritorial masing
masimg dgm [atplam darat sampai
patokan Pulau Encek Gondok
FLOATING FARMING (sebagai
pembersih biologis Situ/ Boezem). Prau
dibuat khusus dapat mengeruk dasar
Situ dan mengangkut lumpur. Prau juga
dapat menjadi “Restaurant Apung”
wisatawan menikmati kemudian sayur
hidroponik dan budidaya aneka ikan
boesem (aqua culture farming).
Pulau bawah jembatan menjadi pusat
“ECO ISLAND” dimana adanya Demplot
Laboratorium Kampus ITS dalam aneka
research lapangan teknology tepat guna
bersih Boezem , menjadi pusat
pembelajaran bersama rakyat sekitar
catchment water system
Morokembrangan.
22
Program Induk Resik Jogo Boezem Terpadu :
Program Currative & Preventif Masyarakat: 1) Menata, 2) Pembersihan Polusi Boesem dan water catchment
sekelilingnya , 3) peningkatan Ekonomi Kerakyatan yang tidak dapat terpisahkan.

Boezem
Morokrembangan

Contoh Community Center BALE LANGIT


MAS : Contoh Station Bersih Boezem RT:
MCK Biogas / Station Daur Ulang/
Kompos, Penampung Air Hujan, Toko
Industry Ekonomi Kerakayatan .

Encek Gondok FLOATING FARMING:


Cottage Industry EKonomi Kerakyatan
& Pembersih Polusi Air Biologi

Lokasi Bibir Boezem : Daerah


Proposal permukiman kumuh
ini liar
ECE

ECO ISLAND : Laboratorium Mahasiswa:


Bengkel Teknologi Tepat Guna, Pengringan
Lumpur Boezem/Sanitari Landfill sementara.
Demoplot Organic Farming dari Kompos.
Percontohan Perumahan Swadaya Innovative
sebagai Perumahan Transisi (Sementara).

Kondisi Existing: Boezem Terpolusi: Sampah,


Sewerage, Endapan Lumpur.
23

Tahap 2 (Skenario/Ramalam masa depan jangka menengah) :


Mimpi Bale Langit Masyarakat.
“Bale Langit” adalah sarana komunitas sepanjang Boezem di zona Barat yg dibangun secara inkremental
sebagai sarana Pelayanan Publik.
Bale Langit Mas berfungsi sbg CONTOH pola hidup masa depan:

Menjadi awal experiment PENATAAN INNOVATIF Ruang Public diatas Lahan Publik dan
embryo pelaksanaan membangun “ECO CITIES” masa depan Indonesia.

Menjadi sarana solusi penataan sementara dalam realita kampung kesempitan.

Menjadi semangat mimpi pemampu upaya mencari solusi kebersamaan.

Menjadi sarana kesiapan MITIGASI masa depan menyongsong bahaya Pemanasan Global (banjir
dan kenaikan air laut) .

Menjadi ikon: “Parawisata AIR milik SEkampung” berwawasan BUDAYA.


Bale Langit Mas (Masyarakat) adalah Innovasi PENATAAN RUANG pemampu pengadaan 24
sarana
pelayanan dan fasilitas PUBLIC diatas TANAH PUBLIK
Lantai Atas:
dalam menata KAMPUNG KUMUH MISKIN PADAT.
Kamar Mandi Publik: Income Generating.
..Biogas. Air dari penampung atap.

Dapur Umum Bersama: Income


Generating : Air Penampung, energy
BIOGAS, COMpost dibawah langsung ke
KEBUN KOTA (Urban Farming).

Ruang Serba Guna: Ngaji, TV BERSAMA


(Pendidikan) : Energy SINAR MATAHARI
(SOLAR) , Bisa satu jadi Klinik, menjadi
Sekolah Pelatihan Vocational, Bisa
Bengkel Masyarakat, Industri Bersama
hasil ENCEK GONDOK, Kantor Lurah,
Kantor LSM Bersama, Kantor Koperasi,
Mushola, Pusat Para Ibu ibu, Pusat para
PATOK BIBIR Pemuda, Pusat Radio Komunitas , dst.
BOEZEM BOEZEM
Sementara bisa menjadi penampung
rumah sewa sementara menunggu
pembangunan “KAMPUNG SUSUN milik
BERSAMA”.

Lantai Bawah:
Jalur InSPEKSI Boesem, sekaligus jalur
JALAN JALAN PEDESTRIAN .

ECO STATION: Penumpul Station Daur


Ulang.

Bengkel Sepeda / Becak sebagai bagian


dari tempat parkir sepeda,

Toko milik BERSAMA: “K – MART


RAKYAT” menjual khusus hasil sayur
ORGANIC kebun kota dan Hydroponic
dan hasil produk ENCENG GONDOK.

Jalan MALIOBORO MORO. Penyewaan


Kios tertahap berputar koperasi prioritas
kepada warga termiskin .

Pelabuh Prau Jogo Boesem: Pengumpul


Encek Gondok.
25

Tahap 3: Ramalan Masa Depan Jangka


Panjang = “Kampung Susun” (KS) untuk
melakukan Redevelopment Kampung tanpa
Penggusuran:
Pemadatan Kampung melalui Vertikalisasi Kampung melalui innovasi
“KAMPUNG SUSUN “ menjadiAlternatif PENATAAN KAMPUNG KUMUH oleh
masyarakat .

KS adalah cara pembuka penataan pelebaran jalan yg diupayakan tampa


pengusuran (digusur paksa dalam pilihan yg disepakati masyarakat bersama
didalam koridor “Payung Nata Resik Sakti Morokrembangan”.

KS adalah menciptakan Lahan Susun, Site and Service Susun dimana dapat
membuka ruang untuk menjadi sarana Barter Lahan oleh PU yang membutuhkan
tanah untuk pembangunan infrastruktur demi kepentingan rakyat yang lebih luas.
KS adalah alternatif: RUSUNAWA/I Turnkey dimana pembangun pengisi adalah
Rakyat Jelata sendiri secara inkremental sesuai pola bangun yg sudah dilakukan
ber abad abad lamanya oleh 80% masyarakat dalam pengadaan “Perumahan
Rakyat” (People Housing). KS adalah membangun Perumahan yg tidak lepas dgn
sarana Ekonomi Kerakyatan seperti juga dlm kehidupan Kampung.

Memerlukan penghentian masalah ketidak


terpaduan sektor antar department (Masalah eGo
Sektoral).

Menyadari bahwa secara real sumber daya


Pemerintah tidak akan mampu melayani
kecepatan urbanisasi perkotaan.

Memerlukan STIMULUS yang dapat


memobilisakian sumber daya masyarakat dalam
membangun secara aktip (bukan pasif dari bukan
melalui pendekatan Sinterklas).
Rethinking Pertanahan, Infrastruktur, “RUsunawa/I” (yang selama ini
bermasalah)? 26
Pembebasan Tanah adalah hambatan utama tidak terjangkaunya hasil program pembangunan
Infrastruktur maupun perumahan.

Lokasi Tanah yg salah menjadi hasil kemubasiran investasi Perumahan Rakyat “yg SALAH
SASARAN dan Perumahan yg TIDAK TERHUNI”.

Mayoritas 80% perumahan dibangun oleh Rakyat sendiri bukan oleh “Turnkery Development
Kontraktor/ Pengembang” yang hanya mampu membangun 20% dari total pembangunan rumah
national.

Apa beda di KONSEP “KAMPUNG SUSUN”?


“Perumahan bagi warga miskin “ tidak bisa dilepas dgn masalah income , ekonomi social
penghuni.

Konsep Rusunawa/I by People.

Konsep Pengadaan “ Tanah Susun” diisi perumahan swadaya dibangun secara inkremental
growth dalam “Shell Unit” dgn “Inti WC/Dapur/Wet Core Module ” dalam Konsep “ Site and
Service Susun” mengunakan pola IKEA SELF INSTALL.

Pembangunan Terpimpin/ terfasilitasi oleh Mahasiswa Sipil/ Arsitektur “creative” mahasiswa/


Arsitek Muda = Barefoot Architects...:

Kepemilikan campur Pribadi , Kollektif Berjenjang dgn aneka variasi hak (Kolektip – Sewa)
berpola Saham Rakyat – Publik-Private. “Kepemilikan” sebagai pemicu energy. Membentuk
keperdulian kebersamaan (Housing Cooperation).

Pengadaan Sarana Ekonomi Kerakyatan Raung Susun strategis (pola Bangkok) dgn pengadaan
“Jembatan Kaki Lima” sbg ruang Economic Informal diatas lahan Publik menjadi kehidupan
Kampong atas Kampung.

Konsep Pertanahan/ Ruang Consolidasi dalam pemahaman aneka sistem hak informal menjadikan
“Aneka system Secure Tenure” . Mencapur hak tanah/ruang dgn aneka “KTP berjenjang”
(asset demand /pemampu), Hak “Land Trust Jenjang” > Hak Kollectif > Strata Title Bersyarat
(untuk bisa masuk Ekonomi Pasar dan memutarkan investasi asset/ sbg surat berharga ).
Another form of HP, HGB berunsur waktu bersyarat. Land Reform bersyarat.

Pendekatan Urban Acupuncture , KIP PLUS, Redevelopment, Resettlement, Kampung Susun /


Co Development / Pemadataan permukiman secara vertical diharapkan dapat menjadi “
aneka solusi pilihan” yg dibutuhkan dalam pelaksanaan penataan kawasan kumuh
tampa pengusuran dalam membangun “ ECO CITY (pola Indonesia) untuk Semua
Masyarakat “, khusus warga negara majoritas miskin di kota kota besar di Indonesia.
27

PENUTUP : Apa bisa Eco City untuk Semua


Warga?

Ini bukan masalah Menang atau Kalah suatu Sayembara,


tetapi “Menang Kalah” suatu kesempatan suatu “Perjuangan
yang panjang” untuk membangun KOTA EKOLOGIS (Eco City)
UNTUK SEMUA TANPA PENGGUSURAN dalam penyiapan
mitigasi Global Warming dimasa datang.

KITA BANGUN KOTA UNTUK


SIAPA?
Copyright

Tim Nyeker/ Barefoot Arsitek Surabaya /Bali / Jakarta /Yogya / Forkimnas

(Ariko, Bobby, Brima, Ardha, Ridho, Sari, Wina, Rista, Meymey, Putu, Teta, Dian ).