Anda di halaman 1dari 15

1

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. S
Usia : 56 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Status : Menikah
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Jatiwaringin

II. RIWAYAT PSIKIATRI
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 18 September 2014
pukul 11.15 WIB di Poliklinik Psikiatri RSUP Persahabatan Jakarta Timur.
A. Keluhan Utama
Pasien datang ke Poliklinik Psikiatri RSUP Persahabatan untuk kontrol dan
karena sudah waktunya untuk kontrol.
B. Riwayat Gangguan Sekarang
Pasien datang dengan tujuan kontrol karena sudah waktunya kontrol
walaupun obat yang diberikan belum habis. Pasien mengatakan keluhannya sudah
berkurang. Keluhan awal pasien yaitu tidak bisa tidur. Pasien bahkan kuat tidak
tidur hingga pagi dan tidak menguap sekalipun. Keluhan tersebut dirasakan oleh
pasien setiap hari. Pasien juga mengeluhkan cemas dan gelisah. Keluhan-keluhan
tersebut juga disertai dengan keluhan jantung yang berdebar-debar dan keringat
dingin. Kadang pasien juga merasakan mual. Semua keluhan-keluhan ini sudah
dirasakan pasien sejak tahun 1990 dan selama ini pasien rutin berobat.
Kadang pasien masih merasakan gelisah, dan tidak bisa tidur bila tidak
minum obat. Keluhan pasien timbul kembali jika pasien sedang emosi atau
sedang ada masalah dengan lingkungannya.
Sekarang pasien mengeluhkan bahwa pasien capek fisik karena mengurus
cucunya dari anak ke duanya. Cucunya adalah laki-laki berusia 3 tahun. Selain itu
2

pasien sedang tidak memiliki pembantu karena pembantunya sedang pulang
kampung.
Pasien mengaku tidak pernah melihat penampakan atau bayangan, tidak
pernah mendengar suara-suara atau bisikan, tidak pernah mencium bau-bauan
yang tidak ada dan juga tidak pernah merasa ada yang meraba ataupun
menggerayangi tubuh pasien.
Saat ditanyakan apakah pasien pernah merasa tetangga pasien
membicarakan pasien, pasien mengaku tidak pernah. Pasien tidak pernah merasa
ada oknum atau pihak lain yang akan berniat jahat kepada pasien. Pasien juga
mengaku tidak pernah merasa tersindir oleh penyiar TV pada saat menonton TV.
Pasien mengaku tidak pernah merasa pikirannya diketahui oleh orang lain tanpa
pasien beritahu. Pasien merasa pikirannya tidak pernah disedot oleh sesuatu yang
kuat.
Saat bercermin, pasien tidak menganggap bahwa bayangan yang ada di
cermin bukanlah dirinya. Saat ditanya apakah pasien merasa asing dengan
lingkungannya, pasien menjawab tidak merasa asing.
Pasien tidak pernah merokok. Pasien tidak memiliki riwayat pemakaian
NAPZA dan tidak memiliki riwayat mengkonsumsi alcohol.
Pada anamnesis terlihat bahwa pengetahuan umum pasien baik. Pasien
dapat menjawab pertanyaan dengan tepat ketika ditanya siapakah presiden
terpilih, pasien menjawab Joko Widodo.
Penilaian daya konsentrasi pasien baik, pasien dapat menjawab tentang
perhitungan dan pengurangan dengan tepat. Pasien ditanya berapa hasil 100-7,
pasien menjawab 93, dan kemudian 93 7, pasien menjawab 86.
Orientasi waktu pasien baik, pasien dapat mengetahui waktu ketika
wawancara dilaksanakan, yaitu siang hari. Orientasi tempat pasien baik, pasien
mengetahui bahwa ia sedang berada di Poliklinik Psikiatri RSUP Persahabatan.
Orientasi orang baik, pasien mengetahui dan mengenali bahwa pemeriksa adalah
dokter. Orientasi situasi baik, pasien mengetahui bahwa ia sedang kontrol rutin
dengan dokter untuk mengobati penyakitnya.
3

Uji daya ingat pasien baik. Daya ingat jangka panjang pasien baik, hal ini
terbukti dengan pasien dapat mengingat bahwa saat SD pasien bersekolah di
daerah Malang. Daya ingat jangka pendek pasien baik, hal ini terbukti dengan
pasien ingat saat datang tadi ke Poliklinik Psikiatri RSUP Persahabatan dengan
diantar. Daya ingat segera pasien baik, hal ini terbukti ketika pemeriksa meminta
pasien untuk menyebutkan kembali lima nama kota yang telah disebutkan, yaitu
Jakarta, Cirebon, Semarang, Jogja, Surabaya secara berurutan.
Daya abstrak pasien baik, pasien dapat menjawab pertanyaan mengenai apa
arti dari peribahasa air susu dibalas dengan air tuba yaitu kebaikan dibalas
dengan kejahatan.
Daya nilai pasien baik, terbukti dengan saat pasien diberikan suatu
permasalahan apabila pasien sedang berjalan-jalan di mall kemudian pasien
bertemu dengan anak kecil yang terpisah dari orang tuanya, maka pasien akan
membantu anak kecil dengan cara mengantar anak kecil tersebut ke pos satpam.
Pasien mengaku bahwa dikeluarganya juga ada yang pernah melakukan
konsultasi dengan psikiatri, yaitu bapak pasien. Bapak pasien datang
berkonsultasi dengan keluhan tidak bisa tidur.
Dari anamnesis didapatkan informasi bahwa pasien sepuluh bersaudara,
pasien merupakan anak keempat. Hubungan dengan kelurga cukup harmonis,
pasien masih berkontak dengan adik kakaknya.
Pasien sudah menikah dan memiliki 4 orang anak. Anak pertama dan anak
ke dua pasien adalah laki-laki, anak ke tiga dan ke empat pasien adalah
perempuan dan kembar. Anak pertama, anak ke dua dan anak ke tiga pasien
sudah menikah, dan anak ke tiga sedang hamil. Sekarang pasien tinggal di
Jatiwaringin dengan suami, anak ketiga dan anak ke empat pasien dirumah
miliknya sendiri. Pasien sering dititipkan cucu oleh anak ke dua pasien yang
diantarkan setiap jam 5 pagi, karena anak ke dua pasien sibuk bekerja.
Menurut pengakuan pasien, pasien berhasil menyelesaikan pendidikan SD,
SMP dan SMA. Prestasi pasien selama pasien bersekolah tergolong bagus. Pasien
tidak pernah tidak naik kelas. Dahulu pasien sempat bekerja sebagai notaris
namun berhenti semenjak melahirkan anak kembarnya. Saat masih bersekolah
4

pasien mengaku masih bisa bergaul dengan lingkungan, dan pasien memiliki
cukup banyak teman. Suami pasien dulu bekerja sebagai dosen dan sekarang
sudah pensiun.
Pasien mengisi waktunya dengan mengurus cucu dan mengurusi pekerjaan
rumah tangga. Pasien dapat bersosialisasi dengan tetangga secara baik. Pasien
rutin mengikuti pengajian yang dilaksanakan satu kali setiap minggu, rajin
mengikuti arisan tiap bulannya dengan ibu-ibu yang satu komplek dengannya.
Hubungan pasien dengan keluarga dan tetangga cukup harmonis, tidak ada cekcok
atau masalah dengan anggota keluarga dan lingkungan.
Saat ditanya 3 keinginan yang ingin dicapai oleh pasien, pasien menjawab
ia ingin keluarganya sehat, segala urusan anaknya lancar dan ingin anak
kembarnya dapat mengambil S2 seperti kakak-kakaknya.
C. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Riwayat Gangguan Psikiatri
Tidak terdapat riwayat gangguan psikiatri sebelumnya.
2. Riwayat Gangguan Medik
Pasien memiliki riwayat Hipertensi dan Diabetes Melitus tipe 2
3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif / Alkohol
Pasien memiliki tidak memiliki riwayat merokok, tidak ada riwayat
penggunan zat psikoaktif dan tidak mengonsumsi alkohol sebelumnya.
D. Riwayat Kehidupan Pribadi
1. Riwayat Prenatal
Menurut keterangan pasien yang diperoleh dari orang tuanya, pasien lahir
dalam persalinan normal dan tidak ada masalah dalam persalinannya.
2. Riwayat Masa Kanak- Kanak dan Remaja
Pasien mengatakan bahwa pasien dapat bersosialisasi dengan lingkungan
sekitar dan banyak memiliki teman. Saat ada keluhan pasien juga tidak
memiliki masalah dalam bersosialisasi.
3. Riwayat Pendidikan
Pasien menyelesaikan pendidikannya hingga mendapatkan jenjang SMA.
Selama pendidikan prestasi pasien bagus. Pasien tidak pernah tinggal kelas
selama menempuh pendidikan.
5

4. Riwayat Pekerjaan
Pasien memiliki riwayat bekerja sebagai notaries, namun pasien berhenti
bekerja sejak melahirkan anak kembarnya.
5. Riwayat Pernikahan
Pasien sudah menikah dan memiliki 4 orang anak dari hasil pernikahannya.
Anak pertama, anak ke dua dan anak ke tiganya sudah menikah, sedangkan
anak ke empatnya belum menikah. Sekarang pasien tinggal bersama suami,
anak ke tiga dan anak ke empatnya.
6. Riwayat Agama
Pasien beragama islam. Dalam menjalankan sholat wajib 5 waktu pasien rajin
beribadat dan mengikuti pengajian satu kali dalam seminggu.
7. Aktivitas Sosial
Pasien bersosialisasi dengan baik terhadap lingkungannya. Pasien mengaku
tidak memiliki kesulitan bersosialisasi dengan tetangganya.
E. Hubungan dengan Keluarga
Pasien sekarang tinggal bersama suami, anak ke tiga dan anak ke empatnya
di rumah miliknya sendiri. Hubungan pasien dengan keluarga berjalan dengan
harmonis.
F. Riwayat Keluarga
Terdapat anggota keluarga pasien yaitu bapak pasien yang pernah
berkonsultasi dengan psikiater dengan keluhan tidak bisa tidur.
G. Riwayat Situasi Sosial Sekarang
Pasien merupakan perempuan berusia 56 tahun. Pasien sudah menikah.
Pasien tinggal bersama suami dan anak ke tiga dan anak ke empatnya di
Jatiwaringin di rumah miliknya sendiri. Hubungan pasien dengan keluarganya
terjalin cukup harmonis. Pasien sudah tidak bekerja, dan gaji suami pasien cukup
untuk kehidupannya sehari-hari. Biaya berobat pasien ditanggung asuransi.
H. Persepsi Pasien Terhadap Dirinya
Saat ini pasien memiliki keinginan agar anaknya dapat sehat, urusan
anaknya dapat lancer dan anak kembarnya dapat mengambil pendidikan S2
seperti kakak-kakaknya.

6

III. STATUS MENTAL
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Pasien merupakan seorang perempuan berusia 56 tahun, penampilan
pasien tampak sesuai dengan usianya, berpakaian rapi dan perawatan diri baik.
Kesadaran : compos mentis
Kontak psikis : dapat dilakukan pasien dan cukup wajar.
2. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Cara berjalan : baik
Aktifitas psikomotor : pasien kooperatif, tenang, kontak mata cukup,
tidak ada gerakan involunter, pasien tidak terlihat gelisah. Pasien dapat
menjawab pertanyaan dengan baik.
3. Pembicaraan
Kuantitas : baik, pasien dapat menjawab pertanyaan dokter
dengan baik dan mampu mengungkapkan isi hati dengan jelas.
Kualitas : bicara spontan, volume bicara cukup, artikulasi jelas,
pembicaraan dapat dimengerti.
4. Sikap Terhadap Pemeriksa
Pasien kooperatif
B. Keadaan Afektif
1. Mood : Biasa saja
2. Ekspresi (Afektif) : Eutim / Luas
3. Keserasian : Mood dan afektif sesuai
4. Empati : pemeriksa dapat meraba rasakan perasaan pasien
C. Fungsi Intelektual / Kognitif
1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum, dan kecerdasan
Taraf Pendidikan
Pasien menyelesaikan sekolah hingga jenjang SMA. Selama menempuh
pendidikan prestasi pasien bagus.


7

Pengetahuan Umum
Baik, karena pasien dapat mejawab dengan tepat ketika ditanya tentang
siapa presiden terpilih RI 2014.
2. Daya Konsentrasi
Baik, pasien dapat mengikuti wawancara dengan baik dari awal hingga selesai.
Pasien dapat menjawab dengan benar pertanyaan 100-7 = 93 dan 93-7 = 86.
3. Orientasi
Waktu : Baik, pasien mengetahui waktu saat berobat siang hari
Tempat : Baik, pasien mengetahui dia sedang berada di Poliklinik
Psikiatri RSUP Persahabat
Orang : Baik, pasien mengetahui pemeriksa adalah dokter
Situasi : Baik, pasien mengetahui bahwa dia sedang melakukan kontrol
4. Daya Ingat
Daya ingat jangka panjang
Baik, pasien masih dapat mengingat didaerah mana SD pasien bersekolah.
Daya ingat jangka pendek
Baik, pasien dapat ingat tadi pasien berangkat berobat ke RSUP
Persahabatan dengan diantar.
Daya ingat segera
Baik, pasien dapat menyebutkan kembali lima nama kota yang telah
disebutkan oleh pemeriksa.
Akibat hendaya daya ingat pasien
Tidak terdapat hendaya daya ingat pada pasien ini.
5. Pikiran Abstrak
Baik, pasien dapat mengartikan peribahasa yang diberikan oleh pemeriksa
yaitu air susu dibalas dengan air tuba.
6. Hobi
Pasien hobi berenang bersama anak-anaknya setiap sebulan sekali.


8

7. Kemampuan Menolong Diri Sendiri
Baik, pasien mampu mengurus dirinya sendiri seperti makan dan mandi
sendiri.
D. Gangguan Persepsi
1. Halusinasi dan Ilusi
Halusinasi : pada pasien tidak terdapat halusinasi
Ilusi : pada pasien tidak terdapat ilusi
2. Depersonalisasi dan Derealisasi
Depersonalisasi : tidak terdapat depersonalisasi pada pasien
Derealisasi : tidak terdapat derealisasi pada pasien
E. Proses Pikir
1. Arus Pikir
Produktivitas : baik, pasien berbicara spontan dan menjawab dengan
baik bila diberikan pertanyaan oleh pemeriksa
Kontinuitas : baik
Hendaya : tidak terdapat hendaya berbahasa pada pasien

2. Isi Pikiran
Preokupasi : tidak terdapat preokupasi
Gangguan pikiran : tidak terdapat gangguan pikiran

F. Pengendalian Impuls
Baik, pasien dapat mengendalikan dirinya sendiri serta melakukan
wawancaranya dengan baik.
G. Daya Nilai
1. Norma Sosial
Kurang, pasien dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dengan baik.
2. Uji Daya Nilai
Baik, karena ketika pasien diberikan suatu permasalahan bila saat di mall dan
kemudian bertemu dengan anak yang terpisah dari orang tuanya, maka yang
dilakukan oleh pasien adalah membawa anak tersebut ke pos satpam.
9

3. Penilaian Realita
Baik, pada pasien tidak didapatkan adanya halusinasi ataupun waham.
H. Persepsi Pasien Terhadap Diri dan Kehidupannya
Berdasarkan penilaian pemeriksa terhadap pasien yaitu pasien perempuan
berusia 56 tahun, sudah sekitar dua puluh empat tahun yang lalu pasien
mengalami gangguan kejiwaan. Selama dua puluh empat tahun ini pasien rutin
kontrol dan meminum obat. Saat ini pasien sudah jarang merasakan adanya
keluhan gelisah, cemas, jantung berdebar dan keringat dingin. Pasien dapat tidur
dengan nyenyak namun bila tidak meminum obat pasien kembali tidak bisa tidur.
Keluhan pada pasien muncul kembali apabila pasien sedang emosi atau
sedang mengalami cekcok atau masalah dengan keluarga atau lingkungannya.
Pasien tidak mengalami adanya halusinasi atau waham, dan juga tidak ada
masalah dalam bersosialisasi. Pasien tahu dirinya sakit dan memiliki keinginan
untuk sembuh, hal ini dibuktikan dengan pasien rajin kontrol dan meminum obat.
I. Tilikan/Insight
Tilikan derajat 4, dimana pasien sadar bahwa ia sedang sakit, namun pasien
tidak tahu penyebabnya tetapi pasien ingin sembuh dari penyakitnya.
J. Taraf Dapat Dipercaya
Pemeriksa memperoleh kesan secara menyeluruh bahwa jawaban pasien
dapat dipercaya karena pasien konsisten dalam menjawab pertanyaan yang
diberikan oleh pemeriksa.
IV. PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Generalis
1. Keadaan Umum : Baik
2. Kesadaran : Compos Mentis
3. Tanda Vital
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Nadi : 96 x/menit
Pernapasan : 20 x/menit
Suhu : tidak dilakukan pemeriksaan
4. Bentuk badan : kesan dalam batas normal
10

5. Sistem kardiovaskuler : kesan dalam batas normal
6. Sistem musculoskeletal : kesan dalam batas normal
7. Sistem gastrointestinal : kesan dalam batas normal
8. Sistem urogenital : kesan dalam batas normal
9. Gangguan khusus : tidak ada
B. Status Neurologis
1. Saraf cranial : kesan dalam batas normal
2. Saraf motorik : kesan dalam batas normal
3. Sensibilitas : kesan dalam batas normal
4. Susunan saraf vegetative : kesan dalam batas normal
5. Fungsi luhur : kesan dalam batas normal
6. Gangguan khusus : tidak ada
V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
Pasien perempuan berumur 56 tahun datang untuk berkonsultasi
Pasien tidak memiliki masalah pada kesadaran, daya ingat, fungsi kognitif dan
orientasi pasien baik
Pasien memiliki tidak memiliki kebiasaan merokok, tidak memiliki riwayat
penggunaan zat psikoaktif (NAPZA), dan tidak ada riwayat mengkonsumsi
alcohol
Pasien tidak pernah melihat bayangan, mendengar bisikan, mencium bau-bauan
ataupun merasa ada yang meraba bagian tubuhnya. Ketika pasien bercermin,
pasien tidak pernah merasakan ada hal yang aneh atau merasa dirinya aneh,
pasien tidak merasa bayangan yang ada dicermin bukanlah dirinya yang
seharusnya. Pasien tidak merasa orang-orang pernah membicarakannya. Pasien
tidak merasa penyiar diseluruh stasiun TV menyindir dirinya dan pasien tidak
merasa dirinya dapat berkontak dengan orang yang berada di TV. Pasien juga
tidak merasa bahwa semua orang dapat membaca pikirannya. Pasien tidak
merasa pikirannya disedot oleh suatu kekuatan hingga pasien bingung dan
pasien tidak merasa adanya oknum/pihak yang akan berniat jahat kepada pasien.
Selain itu, pasien juga tidak merasakan adanya suatu kekuatan yang dapat
mengendalikan pasien.
Saat wawancara berlangsung, kontak mata pasien dengan pemeriksa cukup.
11

Pasien berhasil menyelesaikan pendidikan sampai SMA. Selama menempuh
bangku pendidikan, pasien memiliki prestasi yang baik.
Pasien tidak mengalami kesulitan dalam bersosialisasi sebelum dan sesudah
adanya penyakit pada pasien.
Keadaan umum pasien baik, kesadaran compos mentis
Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD 130/80 mmHg, nadi 96 x/menit dan
pernapasan 20 x/menit.
Pasien merupakan perempuan berusia 56 tahun. Pasien sudah menikah dan
memiliki 4 orang anak. Pasien tinggal bersama suami dan anak ke tiga dan anak
ke empatnya di Jatiwaringin. Hubungan pasien dengan keluarga terjalin cukup
harmonis..
Pasien sudah tidak bekerja dan hanya berdiam diri dirumah mengurusi
pekerjaan rumah tangga dan mengurusi cucunya. Sebelumnya pasien bekerja
sebagai notaris. Uang pensiuanan suami pasien dan uang dari anak-anaknya
cukup untuk membiayai keperluan sehari-hari. Biaya berobat pasien ditanggung
oleh asuransi kesehatan.
Pasien beragama islam dan cukup taat dalam menjalankan Ibadah. Pasien juga
memiliki kebiasaan mengikuti pengajian.
Kegiatan pasien sehari-hari adalah dirumah, mengurusi pekerjaan rumah dan
mengurusi cucunya.
Pasien mampu bersosialisasi dengan baik dengan lingkungan sekitar.
Pada pasien ini didapatkan gejala minimal, berfungsi baik, dan tidak lebih dari
masalah harian yang biasa.
VI. FORMULASI DIAGNOSIS
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan yang telah dilakukan kepada
pasien, terdapat sekelompok gejala atau perilaku yang secara klinis ditemukan
bermakna sehingga meninmbulkan penderitaan (distress) dan terganggunya fungsi
(disfungsi). Berdasarkan hal tersebut maka pasien dikatakan menderita gangguan
jiwa.
A. Diagnosis Aksis I
Pada pasien tidak ditemukan riwayat trauma kepala atau penyakit yang dapat
mengakibatkan disfungsi otak. Penilaian tersebut berdasarkan tingkat
12

kesadaran, daya ingat, fungsi kognitif, dan orientasi pasien yang masih baik
sehingga pasien ini bukan penderita Gangguan Mental Organik (F.0).
Pada pasien tidak ditemukan riwayat penggunaan obat psikoaktif (NAPZA)
secara berturut-turut dalam jumlah besar dan riwayat konsumsi alcohol
sehingga pasien ini bukan penderita Gangguan Mental dan Perilaku
Akibat Zat Psikoaktif dan Alkohol (F.1).
Pada pasien ini tidak ditemukan adanya gangguan dalam menilai realita
sehingga pasien ini dikatakan bukan penderita gangguan psikotik (F.2).
Pada pasien ini tidak ditemukan adanya gangguan mood (depresi) yang
ditandai efek menurun, hilangnya minat dan kegembiraan yang berlebihan, dan
penurunan jumlah dan kecepatan aktivitas fisik dan mental, maka pasien ini
tidak menderita gejala depresi. Pada pasien ini tidak ditemukan afek yang
meningkat, aktivitas motorik dan mental yang berlebihan, dan senang yang
berlebihan, maka pasien ini tidak menderita gejala mania. Karena pada
pasien ini tidak terdapat gejala depresi ataupun mania, maka pasien ini bukan
penderita gangguan suasana perasaan (mood/afektif) (F3).
Pada pasien ini ditemukan adanya kecemasan, keteganan motorik seperti
gelisah, dan overaktivitas otonom yang ditandai dengan jantung yang
berdebar-debar, keringat dingin dan sulit tidur, maka pasien ini menderita
gangguan anxietas menyeluruh (F41.1).

B. Diagnosis Aksis II
Tumbuh kembang pasien normal dan sesuai dengan usia dejak masa kanak-
kanak hingga dewasa. Pasien dapat berinteraksi dengan orang lain sebagaimana
orang normal lain sehingga pada pasien ini tidak ada gangguan kepribadian.
Pasien menyelesaikan pendidikannya sampai jenjang S1. Selama pendidikan,
pasien dapat mengikuti kegiatan dengan baik, prestasi pasien cukup baik, dan
fungsi kognitif baik sehingga pasien tidak memiliki gangguan retardasi
mental. Oleh karena tidak ditemukan gangguan kepribadian dan gangguan
retardasi mental pada pasien ini, maka pada aksis II tidak ada diagnosis.
C. Diagnosis Aksis III
Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 130/80 mmHg, nadi
96 x/menit dan pernapasan 20 x/menit. Pada pasien terdapat riwayat hipertensi
13

dan diabetes melitus tipe 2. Maka pada aksis III pada pasien ini terdapat
riwayat Hipertensi dan DM Tipe 2.
D. Diagnosis aksis IV
Pasien seorang perempuan berumur 56 tahun. Pasien sudah menikah dan
memiliki 4 anak. Pasien tinggal bersama suami, anak ke tiga dan anak ke
empatnya di rumah milik dirinya sendiri di Jatiwaringin. Anak pertama dan anak
ke dua pasien sudah menikah dan tinggal terpisah dengan pasien. Pasien anak ke 4
dari 10 bersaudara. Hubungan pasien dengan keluarga harmonis. Pasien sudah
tidak bekerja dan semua kebutuhan pasien terpenuhi dengan uang pensiunan dan
uang dari anak-anak pasien. Pasien tidak memiliki kesulitan dalam bersosialisasi
dengan lingkungan sekitar. Maka pada aksis IV tidak ada diagnosis.
E. Diagnosis Aksis V
Pada pasien ini didapatkan gejala minimal, berfungsi baik, cukup puas, tidak
lebih dari masalah harian yang biasa. Maka pada aksis V didapatkan GAF
Scale 90-81.

VII. EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis I : Gangguan Anxietas Menyeluruh (F41.1)
Aksis II : Tidak ada diagnosis
Aksis III : Hipertensi dan DM tipe 2
Aksis IV : Tidak ada diagnosis
Aksis V : GAF Scale 90-81
VIII. DAFTAR PROBLEM
1. Organobiologik : diduga adanya peran genetik dari keluarga (bapak)
2. Psikologis : tidak terdapat masalah
3. Sosioekonomi : tidak terdapat masalah
IX. PROGNOSIS
A. Prognosis ke arah baik :
Pasien memiliki keluarga yang mendukung kesembuhan pasien
Pasien memiliki keinginan untuk sembuh
Pasien rajin kontrol dan rajin meminum obat dengan teratur
14

Pasien termasuk orang yang taat dalam beribadat

B. Prognosis ke arah buruk :
Pasien sudah lama menderita sakitnya
Pasien sering capek akibat mengasuh cucunya

C. Kesimpulan :
Berdasarkan data-data diatas, dapat disimpulkan prognosis pasien adalah :
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia
X. TERAPI
A. Psikofarmaka
Haloperidol 2 x 1,5 mg
Chlorpromazine 2 x 100 mg
Trihexiphenidil 2 x 2 mg
Alprazolam 2 x 1 mg
Diazepam 2 x 5 mg
Fluoxetin 1 x 20 mg

B. Psikoterapi
Pada pasien
o Edukasi agar pasien rutin kontrol dan minum obat secara teratur
o Menyarankan pasien untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan
YME agar pasien lebih banyak mendapatkan ketenangan
o Menyarankan pasien untuk banyak bergaul
o Menyarankan pasien untuk mencari hiburan
o Bila ada masalah, ceritakan ke orang dekat (keluarga atau suami)
o Minta ditemani atau didampingi oleh keluarga atau suami pasien
bila pasien merasa gelisah

15

DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim, Rusdi. Dr. Sp.KJ. Buku Ajar Psikiatri. FK UI. Jakarta. 2003
2. Maslim, Rusdi. Dr. Sp.KJ. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. Cetakan pertama.
PT. Nuh Jaya. Jakarta. 2001.
3. Maslim, Rusdi. Dr. Sp.KJ. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Edisi Ketiga. PT.
Nuh Jaya. Jakarta. 2007.