Anda di halaman 1dari 24

1

ACARA 1
PENGAMATAN UNSUR-UNSUR CUACA SECARA MANUAL
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Cuaca adalah keadaan atmosfer pada waktu yang relatif pendek
dan pada tempat tertentu. Sedangkan iklim adalah perubahan nilai
unsur-unsur cuaca atau keadaan atmosfer dalam jangka panjang di
suatu tempat atau pada suatu wilayah tertentu. Sifat-sifat iklim dan
cuaca pada permukaan bumi berbeda-beda dari tempat ke tempat yang
lainnya.
Cuaca dan iklim mempunyai pengaruh yang sangat penting di
dalam sektor pertanian. Cuaca dan iklim tidak hanya mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan tanaman tetapi juga berpengaruh
terhadap kegiatan manusia dalam usaha pertanian, tempat tinggal,
makanan, kebudayaan dan lain-lain.
Dalam pertanian, setiap tanaman membutuhkan keadaan cuaca dan
iklim yang berbeda-beda untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan
optimal sehingga dapat memproduksi hasil yang maksimum. Cuaca
dan iklim merupakan faktor yang mempunyai pengaruh yang sangat
penting dalam pertanian. Sebab dalam proses pembentukkan hasil
pertanian sangat ditentukan oleh keadaan lingkungan disekitar
tanaman itu tumbuh.
Cuaca dan iklim sekarang ini sering terjadi penyimpangan atau
anomali sehingga menyebabkan sektor pertanian terganggu. Di
Indonesia, cuaca dan iklim belum dapat direkayasa sehingga kita perlu
mempelajari dan menganalisis unsur-unsur cuaca dan ilim supaya
dapat mengetahui dan memahami cuaca dan iklim yang terjadi
disekitar kita sehingga dapat memodifikasi iklim mikro untuk
meningkatan produksi usahtani di Indonesia. Untuk memudahkan kita
2


dalam mempelajari unsur-unsur cuaca, telah diciptakan alat-alat yang
berfungsi untuk mengukur unsur-unsur cuaca.
2. Tujuan Praktikum
Acara pengamatan unsur cuaca ini dilaksanakan dengan tujuan:
a. Mengetahui unsur cuaca menggunakan alat-alat manual
b. Mengetahu macam alat pengukur unsur cuaca dan cara
penggunaannya
B. Tinjauan Pustaka
1. Radiasi Surya
Pengamatan radiasi surya meliputi lama penyinaran. Lama
penyinaran adalah lamanya surya bersinar cerah sampai di permukaan
bumi dalam satu hari. Satuan lama penyinaran adalah jam/hari
(Sumani dan Komariah 2013).
Radiasi matahari merupakan unsur yang sangat penting dalam
bidang pertanian. Pertama, cahaya merupakan sumber energi bagi
tanaman hijau yang memalui proses fotosintesa diubah menjadi tenaga
kimia. Kedua, radiasi memegang peranan penting sebagai sumber
energi dalam proses evaporasi yang menentukan kebutuhan air
tanaman (Wisnubroto 2006).
Lama penyinaran surya adalah lamanya surya bersinar cerah
sampai ke permukaan bumi selama periode satu hari, diukur dalam
jam. Periode satu hari disini lebih tepat disebut panjang hari yakni
jangka waktu selama surya berada di atas horison. Halangan terhadap
pancaran cahaya surya terutama awan, kabut, aerosol atau benda-benda
pengotor atmosfer lainnya. Lama penyinaran ditulis dalam satuan jam
sampai nilai persepuluhan atau dalam persen terhadap panjang hari.
Lama penyinaran surya dapat diukur dengan berbagai macam alat yang
dapat merekam sinar yang mencapai di permukaan bumi sejak terbit
hingga terbenam; mampu merekam dengan tepat sampai nilai
persepuluh jam (6 menit). Terdapat empat macam/tipe alat perekam
sinar surya, yaitu : Tipe Campbell Stokes, Tipe Jordan, Tipe Marvin,
3


dan Tipe Foster. Dari 4 tipe tersebut hanya tipe Tipe Campbell Stokes
dan Tipe Jordan saja yang banyak dipakai di Indonesia
(Sutiknjo 2005).
2. Tekanan Udara
Tekanan udara adalah tekanan yang diberikan oleh udara, karena
geraknya tiap 1 cm
2
bidang mendatar dari permukaan bumi sampai
batas atmosfer. Satuannya : 1 atm = 76 cmHg = 760 mmHg. Semakin
tinggi tempat, tekanan udara akan berkurang, sebagai ketentuan dapat
dikemukakan bahwa setiap naik 300 m maka tekanan udara akan turun
1/30x. Tekanan udara mengalir dari tempat bertekanan tinggi ke
tempat bertekanan lebih rendah. Penyebarannya bisa secara vertikal
maupun horizontal (Sumani dan Komariah 2013).
Tekanan udara adalah berat massa udara pada suatu wilayah.
Tekanan udara menunjukkan tenaga yang bekerja untuk menggerakkan
massa udara dalam setiap satuan luas tertentu. Tekanan udara semakin
rendah jika semakin tinggi dari permukaan laut
(Mustar dan Mamat 2008).
Fungsi alat barometer ini untuk mengukur tekanan udara, alat ini
dipasang dalam ruangan yang mempunyai suhu yang sama (homogen)
dan harus terhindar dari sinar matahari langsung, umumnya letak
bejana barometer 1 meter di atas permukaan lanatai ruangan, dan
ditempatkan/digantung pada dinding tembok ruangan. Alat arometer
ini terdiri dari sebuah kaca yang ujung atasnya tertutup dan sebagian
berisi air raksa, tabung kaca dipasang dalam sebuah tabung lain dari
tembaga dengan mempergunakan sejenis kayu berpori atau gabus.
Ujung bawah terbuka dimasukkan kedalam bejana yang berisi air
raksa. Ruangan diatas kolom air raksa dalam tabung dapat dikatakan
hampa, perbedaan tinggi antara permukaan atas dan bawah dari zat cair
itu adalah tekanan. Jika tekanan udara bertambah, sebagian dari air
raksa dalam bejana akan masuk kedalam tabung, permukaan air raksa
4


dalam tabung naik dan didalam bejana turun, maka perbedaan tinggi
kedua permukaan menjadi lebih besar (Hendayana 2011)
3. Suhu
a. Suhu Udara
Suhu merupakan derajad panas atau dingin suatu benda
atau dapat dinyatakan sebagai energi kinetis rata-rata suatu benda.
Ada beberapa alat yang bisa digunakan untuk melakukan
pengamatan suhu udara, antara lain termohigrometer,
termohigrograf, termometer maksimum-minimum (Sumani 2013).
Secara fisis, suhu adalah tingkat gerakan molekul udara.
Semakin cepat gerakan molekul udara, semakin tinggi pula
suhunya. Tingkat panas suatu benda dapat pula dikatakan sebagai
suhu. Untuk mengukur suhu udara digunakan termometer. Skala
yang digunakan yaitu Celsius, Fahrenheit, dan Kelvin
(Mustar 2008)
b. Suhu Tanah
Suhu tanah merupakan derajad panas atau dingin pada
tanah baik pada permukaan tanah maupun pada berbagai macam
kedalaman tanah yang berbeda. Suhu tanah berkaitan dengan
pertumbuhan tanaman karena dapat mempengaruhi keadaan
perakaran dari tanaman (Sumani 2013).
Tentang suhu tanah pengaruhnya penting sekali pada
kondisi tanah itu sendiri dan pertumbuhan tanaman. Pengukuran
dari suhu tanah biasanya dilakukan pada kedalaman 5 cm, 10 cm,
20 cm, 50 cm, dan 100 cm. Faktor pengaruh suhu tanah yaitu
faktor luar dan faktor dalam. Yang dimaksud dengan faktor luar
yaitu radiasi matahari, awan, curah hujan, angin, kelembapan
udara. Faktor dalamnya yaitu faktor tanah, struktur tanda, kadar air
tanah, kandungan bahan organik, dan warna tanah. Makin tinggi
suhu maka semakin cepat pematangan pada tanaman
(Kartasapoetra 2005).
5


4. Kelembaban Udara
Dalam kilamtologi yang dimaksud kelembaban udara adalah
kelembaban nisbi udara (Relatif Humidity/RH). Dasar cara
pengukuran yang biasa digunakan adalah metode perubahan ukuran
benda higroskopis. Kelembaban relatif udara dapat diukur langsung
dengan alat hygrometer yang sensornya berupa benda hogroskopis.
Suhu udara dan kelembaban udara dapat dibaca langsung pada kertas
grafik yang dipasang pada alat tesebut (Sumani 2013).
Kelembaban udara adalah kandungan uap air dalam udara. Uap air
yang ada dalam udara berasal dari hasil penguapan air di permukaan
bumi, air tanah, atau air yang berasal dari penguapan air di permukaan
bumi, air tanah, atau air yang berasal dari penguapan tumbuh-
tumbuhan. Semakin tinggi suhu udara, semakin banyak uap air yang
dapat dikandungnya. Alat untuk mengukur kelembaban udara
dinamakan higrometer (Mustar 2008)
5. Curah Hujan
Curah hujan adalah jumlah air hujan yang jatuh dipermukaan tanah
selama periode ertentu yang diukur dalam satuan tinggi diatas
permukaan horizontal apabila tidak terjadi penghilangan oleh proses
evaporasi, pengaliran dan peresapan. Dinyatakan sebagai tebal lapisan
air yang jatuh diatas permukaan tanah rata seandainya tidak ada
infiltrasi dan evaporasi. Satuannya dalah mm. Curah hujan 1mm
berarti banyaknya hujan yang jatuh diatas sebidang tanah seluas 1m
2
=
1mm x 1m
2
= 0,01 dm x 100 dm
2
= 1 dm
3
= 1 liter. Hari hujan adalah
suatu hari dimana terkumpul curah hujan 0,5 mm atau lebih
(Sumani 2013).
Curah hujan dapat diukur dengan alat pengukur curah hujan
otomatis atau yang manual. Alat-alat pengukur tersebut harus
diletakkan pada daerah yang masih alamiah, sehingga curah hujan
yang terukur dapat mewakili wilayah yang luas. Salah satu tipe
pengukur hujan manual yang paling banyak dipakai adalah tipe
6


observatorium (obs) atau sering disebut ombrometer. Curah hujan dari
pengukuran alat ini dihitung dari volume air hujan dibagi dengan luas
mulut penakar. Alat tipe observatorium ini merupakan alat baku
dengan mulut penakar seluas 100 cm2 dan dipasang dengan ketinggian
mulut penakar 1,2 meter dari permukaan tanah
(Jumin dan Basri 2002).
Hujan adalah uap air di atmosfer yang mengembun menjadi butir-
butir air dan jatuh ke tanah.Satuan ukuran hujan adalah mm. Yang
dimaksud banyaknya hujan (curah hujan) adalah tinggi air hujan bila
tidak ada yang merembes ke dalam tanah. Sebagai patokannnya ialah
100 cc air hujan = 10 mm curah hujan. Alat pengukurnya
menggunakan ombrometer yang dibagi menjadi 2 tipe yaitu
observatorium (biasa) dan otomatis (Soekirno 2010)
6. Angin
Angin merupakan pergerakan udara pada arah horizontal atau
hampir horizontal. Sedangkan pergerakan udara arah vertical disebut
aliran udara. Komponen yang diukur adalah kecepatan angin dan arah
angin (Sumani 2013).
Angin adalah gerak udara yang sejajar dengan permukaan bumi.
Udara bergerak dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan
rendah. Angin diberi nama sesuai dengan arah mana angin datang,
misalnya angin laut adalah angin yang bertiup dari laut ke darat
(Hanum 2009).
Arah angin adalah arah datangnya angin itu bertiup dan dinyatakan
dengan sudut ompas atau sebutan penjuru angin. Sudut 0
o
atau 360
o

menunjukkan utara, 90
o
menunjukkan timur, 180
o
menunjukkan arah
selatan dan 270
o
menunjukkan arah barat. Pembagian arah angin
selanjutnya dengan sebutan arah timur laut, tenggara, barat daya dan
barat laut. Untuk menentukan arah angin diperlukan alat petunjuk
angin yang disebut wind vane. Posisi vane yang menunjukkan arah
7


angin dapat dilihat dengan mudah dan sekaligus dapat dicatat arah
angin pada waktu itu (Sumani 2013)
Apabila dipanaskan, udara memuai. Udara yang telah memuai
menjadi lebih ringan sehingga naik. Apabila hal ini terjadi, tekanan
udara turun kerena udaranya berkurang. Udara dingin disekitarnya
mengalir ke tempat yang bertekanan rendah tadi. Udara menyusut
menjadi lebih berat dan turun ke tanah. Diatas tanah udara menjadi
penas lagi dan naik kembali. Aliran naiknya udara panas dan turunnya
udara dingin ini dinamanakan konveksi (Suyono 2006).
7. Evaporasi
Evaporasi merupakan konversi air kedalam uap air. Proses ini
berjalan terus hampir tanpa berhenti disiang hari dan kerap kali
dimalam hari, perubahan dari keadaan cair menjadi gas ini
memerlukan energi berupa panas laten untuk evaporasi, proses tersebut
akan sangat aktif jika ada penyinaran matahari langsung, awan
merupakan penghalangan radiasi matahari dan penghambat proses
evaporasi. Jika uap air menguap ke atmosfer maka lapisan batas antara
permukaan tanah dan udara menjadi jenuh oleh uap air sehingga
proses penguapan berhenti,agar proses tersebut berjalan terus,lapisan
jenuh harus diganti dengan udara kering, pergantian itu hanya mungkin
jika ada angin, yang akan menggeser komponen uap air,kecepatan
angina memegang peranan penting dalam proses evaporasi.
(Wahyuningsih 2004).
8. Awan
Awan adalah kumpulan butir-butr air, kristal es atau gabungan
keduanya yang masih melekat pada inti-inti kondensasi, yang
melayang di atmosfer. Klasifikasi awan dibagi menjadi 4 famili yaitu
a. Famili awan tinggi (6-12 km) antara lain : Cirrus, cirro
cumulus, cirro stratus
b. Famili awan sedang (3-6 km dan 2-7km) antara lain : Alto
cumulus dan Alto stratus
8


c. Famili awan rendah (0-3 km) antara lain : Stratus, nimbo
stratus, strato cumulus
d. Famili awan tumbuh vertical (0,5-6 km) antara lain : Cumulus,
Cumulo nimbus, Nimbo stratus (Sumani 2013).
C. Metodologi Praktikum
1. Waktu dan Tempat
Praktikum Agroklimatologi acara pengamatan unsur-unsur cuaca dan
alatnya ini dilaksanakan pada tanggal 6 Oktober 2013 pukul 11.00-
12.00 WIB. Bertempat di Stasium Klimatologi, Desa Sukosari,
Kecamatan Jumantono, Karanganyar.
2. Alat
a. Sunshine Recorder
b. Barometer
c. Termometer maximum dan minium type six
d. Termometer tanah bengkok
e. Termohigrograf
f. Ombometer
g. Ombograf
h. Wind vane
i. Anemometer
j. Evaporimeter
3. Cara Kerja
a. Radiasi Surya
1. Memasang kertas pias pada tempat yang telah disediakan.
Kertas pias akan terbakar jika ada sinar matahari yang jatuh ke
bola, bola kaca disini berfungsi memfokuskan sinar yang jatuh
di atasnya sehingga dapat membakar kertas pias yang berada di
bawahnya.
2. Menghitung presentase kertas pias yang terbakar.
3. Menggambar kertas pias yang telah digunakan.
4. Menentukan lam penyinaran matahari dalam satu hari tersebut.
9


b. Tekanan Udara
1. Membaca angka yang berada pada barometer, yang dibaca
adalah angka yang berada di baris kedua dari pinggir, yang
paling dalam (berwarna merah).
2. Melakukan pengamatan tiap 20 menit sekali dan merekap
untuk satu hari tersebut.
c. Suhu
1. Pengamatan suhu udara dengan termometer maksimum-
minimum :
a. Untuk mengetahui suhu terendah dalam suatu periode
tertentu (term. Min) dapat diketahui dengan membaca
angka pada skala yang bertepatan dengan ujung kanan
petunjuk.
b. Untuk mengetahui suhu tertinggi dalam suatu periode
tertentu (term. Max) dapat diketahui dengan membaca
angka pada skala yang bertepatan dengan air raksa.
2. Untuk mengetahui suhu tanah (term. Tanah bengkok) dapat
dilakukan dengan mengamati angka pada skala yang bertepatan
dengan air raksa pada setiap kelembaban tanah.
d. Kelembaban Udara
Membaca skala pada termohigrograf. Skala bagian atas untuk suhu
udara dan skala bagian bawah untuk kelembaban udara.
e. Curah Hujan
Cara pengamatan ombometer:
Air hujan yang tertangkap oleh alat ombometer mengalir masuk ke
penampung. Pengamatan hujan dilakukan setiap hari (24 jam
sekali) dengan cara membuka kran yang ada pada ombometer dan
menampung air hujan pada gelas ukur, selanjutnya dilihat atau
dibaca berapa tinggi air hujan itu.


10


f. Angin
1. Melihat dan mencatat arah panah yang menunjuk ke salah satu
arah mata angin
2. Membaca angka yang tertera pada anemometer. Kecepatan
angin dalam suatu periode waktu dpat dihitung dengan melihat
selisih angka yang dilihat pada awal dan akhir periode tersebut.
g. Evaporasi
Membaca skala yang tertera alat tersebut
h. Awan
1. Mengamati awan berserta ciri-cirinya kemudian memberikan
nama sesuai dengan famili awan tersebut dan ketinggiannya.
2. Menggambar bentuk awan yang ada setiap 1 jam sekali.
D. Hasil Pengamatan dan Pembahasan
1. Hasil Pengamatan
a. Radiasi Surya

Gambar 1.1 Sunshine Recorder tipe Campbell Stokes
1) Bagian-bagian Utama
a) Kertas Pias : Mengetahui lamanya penyinaran
b) Bola kaca : memfokuskan sinar yang jatuh di atasnya
sehingga dapat membakar kertas yang berada di
bawahnya.
2) Prinsip Kerja
a) Memasang kertas pias pada tempat yang telah disediakan
(kertas pias akan terbakar jika ada sinar matahari yang
jatuh ke bola kaca, fungsi bola kaca adalah memfokuskan
11


sinar yang jatuh di atasnya sehingga dapat membakar
kertas yang berada di bawahnya)
b) Menghitung presentasi kertas pias yang terbakar
c) Menggambar kertas pias yang telah digunakan
d) Menentukan lama penyinaran matahari dalam satu hari
pengamatan. Adapun satuan pengukuran sunshine recorder
tipe campbell stokes adalah jam/ hari
b. Tekanan Udara

Gambar 1.2 Barometer
1) Bagian-bagian Utama
a) Barometer : Mengukur tekanan udara
2) Prinsip Kerja
a) Membaca angka yang berada pada barometer, yang dibaca
adalah angka yang berada pada di baris kedua dari pinggir,
yang paling dalam (berwarna merah). Tekanan 760 mm Hg
disebut tekanan normal (standar tekanan atmosfer) yang
setara dengan 1013,3 mb. Jadi, 1 mm Hg setara dengan 4/3
mb.
b) Untuk pengukuran tekanan udara per hari dapat dilakukan
dengan mencatat angka tiap 20 menit dan menghitung
rerata data yang didapat selama sehari tersebut






12


c. Suhu
Suhu Tanah

Gambar 1.3.1 Thermometer Tanah Bengkok
1) Bagian-bagian Utama
suhu di kedalaman tanah, yaitu :
a) Kedalaman 0 cm
b) Kedalaman 2 cm
c) Kedalaman 5 cm
d) Kedalaman 10 cm
e) Kedalaman 20 cm
f) Kedalaman 50 cm
g) Kedalaman 100 cm
2) Prinsip Kerja : Termometer di pasang di dalam tanah dalam
keadaan melengkung bila ada perubahan suhu tanah akan
terlihat pada skala angka thermometer.
Suhu Udara

Gambar 1.3.2 Psychrometer Standar
1) Bagian-bagian Utama
a) Termometer maksimum dan minimun tipe six
b) Termometer maksimum dan minimum
13


2) Prinsip Kerja : Bila ada perbedaan suhu udara maka
termometer max dan min tipe six akan dapat mendeteksinya
dengan menunjukkan gejala perubahan pada skala angka.
d. Kelembaban Udara

Gambar 1.4 Termohigrograf
1) Bagian-bagian Utama
a) Mengukur suhu udara
b) Mengukur kelembaban udara
2) Prinsip Kerja : Peningkatan kelembaban dan suhu udara akan
menggerakkan semacam pelampung di dalam alat ini yang
kemudian akan menekan dari gerak pena yang akan
menggoreskan pada skala yang menggambarkan seberapa besar
kelembaban dan suhu udara yang terjadi.
e. Curah Hujan

Gambar 1.5.1 Ombrograf
1) Bagian-bagian Utama
a) Penadah
b) Jam Pencatat
c) Kertas Pencatat
d) Tabung gelas
e) Pelampung
14


2) Prinsip Kerja : Terdapat corong yag diameternya disesuaikan
dengan besar titik hujan maximum. Titik hujan masuk ke
corong tersebut dan ditampung dalam bejana. Untuk mengukur
besarnya curah hujan maka diukur dengan gelas ukur. Mula
mula kita membuka kran dan mengeluarkan air yang ada
didalam bejana kemudian ditampung dalam gelas ukur lalu kita
ukur besarnya curah hujan tersebut.

Gambar 1.5.2 Ombrometer
1) Bagian-bagian Utama
a) Corong penampung air hujan
b) Gelas ukur (satuan mm)
2) Prinsip Kerja : Curah hujan yang jatuh pada corong mengalir
ke tabung penampung sehingga permukaan air naik dan
mendorong pelampung dimana sumbunya bertepatan dengan
sumbu pena. Tangkai pena bertinta akan ikut naik dan
memberi berkas garis pada kertas berskala, bergeraknya kertas
searah dengan putaran jarum jam.
f. Angin

Gambar 1.6.1 Wind Vane


15


1) Bagian-bagian Utama
a) Tiang
b) Lempeng penunjuk arah datang angin
2) Prinsip Kerja : Wind Vane bekerja dengan cara angin tersebut
mengenai alat penangkalnya kemudian ada penujuk yang
menunjuk ke arah angin yang terjadi pada saat itu.

Gambar 1.6.2 Anemometer
1) Bagian-bagian Utama
a) Mangkok penangkap
2) Prinsip Kerja : Anemometer mempunyai prinsip kerja dengan
cara adanya angin yang berhembus dibaca dengan alat yang
ada di anemometer.
g. Evapotranspirasi

Gambar 1.7 Panci evaporimeter
1) Bagian-bagian Utama
a) Panci evaporimeter
b) Still well cylinder
2) Prinsip Kerja : Pada bejana yang menampung air hujan
terdapat alat pancing yang berfungsi untuk mengukur besarnya
pengurangan air terhadap penguapan. Kita menghitung
pengurangannya dengan cara membandingka selisihnya.


16


h. Awan

Gambar 1.8 Awan
2. Pembahasan
1. Radiasi Surya
Matahari adalah sumber energi bagi peristiwa-peristiwa
yang terjadi dalam atmosfer yang dianggap penting bagi sumber
kehidupan. Energi matahari merupakan penyebab pokok dari
perubahan-perubahan dan pergerakan-pergerakan dalam atmosfer
sehingga dapat dianggap sebagai pengendali iklim dan cuaca yang
besar.Jumlah radiasi matahari yang diterima oleh bumi berbeda-
beda. hal ini disebabkan oleh :
a. Jarak dari matahari
b. Intensitas radiasi matahari
c. Lamanya penyinaran matahari
d. Atmosfer
Pada Pratikum kali ini diperkenalkan alat ukur penyinaran
menggunakan sunshine recorder tipe cambell stokes, alat ini
digunakan untuk mengukur lama penyinaran. Prinsip kerja dari
sunshine recorder ini adalah penangkapan sinar matahari oleh bola
Kristal kemudian sinar tersebut diteruskan pada kertas pias, dan
sinar terusan ini akan membakar kertas pias tersebut.
Pengaruh panjang hari sering disebut duration atau lamanya
penyinaran matahari. Panjang siang hari di sekitar equator hampir
selalu sama. Tetapi pada tempat-tempat yang jauh dari equator
panjang siang hari tidak sama. Dan ini dikarenakan gerak
matahari dari 23
0
LS, bolak-balik. Lama penyinaran yang
diterima suatu daerah dipengaruhi oleh letak daerah tersebut, letak
17


yang dimaksud adalah daerah tropis dan subtropis. Pada daerah
tropis akan mendapatkan lama penyinaran selama 12 jam dan
pada daerah subtropik akan mendapat lama penyinaran lebih
banyak, yakni selam 14 jam. Perbedaan lama penyinaran ini
nantinya akan berpengaruh pada jenis tumbuhan yang tumbuh
kemudian disebut dengan tanaman hari pendek, intermediet dan
panjang. Dalam perkembangan tumbuhan lama penyinaran
dikaitkan dengan fotoperiodisme (lama penyinaran yang diterima
tumbuhan untuk masuk pada fase pembungaan). Fotoperiodisme
juga akan menentukan tanaman yang bisa tumbuh pada daerah
tropis maupun pada daerah subtropis.
2. Tekanan Udara
Tekanan udara adalah berat udara pada permukaan bumi
sampai batas atmosfer, pada daerah seluas 1 cm2, temperatur 0
0
C,
pada ketinggian 0 m (di atas permukaan air laut) dan pada garis
lintang 45
0
C. Makin tinggi tempat dari permukaan air laut
(altitude) maka tekanan udara makin menurun. Hal ini disebabkan
karena gradien tekanan udara vertikal (gradient vertikal). Gradien
vertikal ini tidak selalu tetap, sebab kerapatan udara dipengaruhi
oleh faktor suhu kadar uap air di udara dan grafitasi.
Satuan ukuran tekanan udara adalah atmosfir. Tekanan
udara merupakan tekanan yang terjadi akibat adanya massa udara
yang diukur di permukaan bumi hingga batas atmosfer tiap 1 cm
2
.
Tekanan udara merupakan komponen iklim yang tidak
berpengaruh langsung terhadap aktivitas kehidupan makhluk
hidup. Akan tetapi dengan adanya perbedaan tekanan udara dapat
mengakibatkan perubahan disekitar lingkungan tanaman tumbuh.
Faktor iklim diukur dengan barometer dengan satuan milibar.
Untuk keperluan pencatatan data meteorologist, satuan tekanan
udara yang dipakai adalah bar.
1 Bar = 1000 milibar = 10
6
dyne/cm
2
18


760 mm hg (76 cm hg) = 1,013 bar = 1013 milibar (mb)
Tekanan 760 mm Hg disebut tekanan normal.
Tinggi angka yang ditunjukkan oleh barometer selain
ditentukan oleh tekanan udara pada saat itu, juga dipengaruhi oleh
faktor-faktor seperti :
a. Latitude (lintang bumi)
b. Suhu
c. Altitude (tinggi tempat, elevasi)
3. Suhu
Untuk mengukur panas udara siang dan malam biasanya
menggunakan Thermometer maksimum dan minimum, sekaligus
dapat mengetahui berapa temperature tertinggi dan terendah
dalam sehari semalam. Perkembangan tumbuhan pada aktifitas
perakaran dipengaruhi oleh suhu tanah dan udara. Pada Suhu
tanah banyak dipengaruhi oleh faktor luar, misalnya sinar
matahari dan aktivitas mikroorganisme dalam tanah dan reaksi
kimia termolekuler. Pengukuran suhu tanah dilakuakan dengan
menancapkan termometer ke dalam tanah dengan kedalaman
yang bervariasi. Yaitu 0cm, 2cm, 5cm, dan 10cm dari permukaan
tanah. Makin dalam tanah maka akan semakin turun suhunya.
Suhu dikatakan sebagai derajat panas atau dingin yang
diukur berdasarkan skala tertentu dengan menggunakan
termometer. Satuan suhu yang biasa digunakan adalah derajat
celcius (
0
C). Suhu maksimum adalah suhu tinggi tertentu,
dimana suatu tanaman masih dapat tumbuh. Sedangkan suhu
minimum adalah suhu terendah di mana tanaman masih dapat
hidup. Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu di permukaan
bumi ialah :
a) Jumlah radiasi yang diterima
b) Pengaruh daratan atau lautan
c) Pengaruh ketinggian tempat
19


d) Pengaruh angin
e) Penutup tanah
f) Tipe tanah
4. Kelembaban Udara
Kelembaban tanah merupakan keadaan keseimbangan
kandungan air dengan suhu di dalam tanah yang dipengaruhi
oleh lingkungan sekitarnya. Penentu utamanya adalah kandungan
air dan suhu. Kelembaban udara yaitu banyaknya kadar uap air
yang ada di udara. Keadaan kelembaban di atas permukaan bumi
berbeda-beda. Pada umumnya kelembaban yang tertinggi di
daerah khatulistiwa sedangkan yang terendah pada lintang 40
0
C.
Daerah rendah ini disebut horse latitude, curah hujannya kecil.
Besarnya kelembaban suatu daerah merupakan faktor yang dapat
menstimulasi curah hujan.
Di dalam atmosfer selalu ada uap air yang jumlahnya tidak
tetap. Uap air adalah suatu gas yang tak dapat dilihat, yang
merupakan salah satu bagian dari atmosfer. Dalam klimatologi,
yang dimaksud dengan kelembaban udara adalah kelembaban
nisbi udara (Relatif Humidity/RH) yaitu perbandingan antara
banyaknya uap air saat itu dan uap air maksimum yang dapat
dikandung oleh hawa saat itu (temperature itu) pula.
Kelembaban udara berbanding terbalik dengan suhu udara.
Semakin tinggi suhu udara, maka kelembaban udaranya semakin
kecil. Hal ini dikarenakan dengan tingginya suhu udara akan
terjadi presipitasi (pengembunan) molekul air yang dikandung
udara sehingga muatan air dalam udara menurun.
Untuk mengukur kelembaban udara dengan menggunakan
alat Higrometer atau Termohigrogaf yang sensornya berupa
benda higroskopis. Besar kelembaban suatu daerah merupakan
factor yang dapat menstimulasi curah hujan. Di Indonesia,
kelembaban tertinggi dicapai pada musim penghujan dan
20


terendah pada musim kemarau. Adapun hal khusus terjadi pada
daerah pantai. Pantai-pantai di Indonesia pada umumnya bersuhu
tinggi akan tetapi mempunyai kelembaban yang tinggi pula. Hal
demikian terjadi karena banyaknya evaporasi air laut yang besar.
5. Angin
Angin merupakan gerakan atau perpindahan dari suatu
massa udara dari satu tempat ke tempat lain secara horisontal.
Yang dimaksud dengan massa udara yaitu udara dalam ukuran
yang sangat besar yang mempunyai sifat fisik (temperatur dan
kelembaban) yang seragam dalam arah yang horisontal.
Gerakan dari angin biasanya berasal dari daerah yang
bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah. Angin juga
mempunyai arah dan kecepatan. Arah angin biasa dinyatakan
dengan dari mana arah angin itu datang. Arah angin diamati
dengan alat wind vane.
Sedangkan kecepatan angin diukur dengan anemometer. Di
stasiun-stasiun Klimatologi, pengamatan kecepatan angin
biasanya dipasang pada ketinggian 2 m. Nilai dari kecepatan
angin diperoleh dengan menghitung selisih antara skala awal dan
skala akhir yang ada pada anemometer. Angin akan bertiup pada
suatu wilayah ke wilayah lain dengan membawa uap air yang
dikandungnya. Pada wilayah-wilayah dimana angin bertiup
berasal dari daerah gersang atau panas maka angin tersebut
kurang mengandung uap air sehingga angin tersebut bersifat
hangat. Akibatnya, wilayah atau daerah yang dilewati akan
dipengaruhi oleh angin yang bersuhu tinggi dari tempat yang
dilewati. Sebaliknya angin yang berasal dari daerah perairan
banyak mengandung uap air sehingga akan mempengaruhi
kandungan uap air pada daerah yang dilewatinya.


21


6. Evapotranspirasi
Evaporasi adalah proses perubahan air dari bentuk cair
menjadi gas (uap air) dan perpindahannya dari suatu permukaan
benda ke atmosfer. Pada pengamatan tersebut alat yang
digunakan untuk mengukur evapotranspirasi adalah evaporimeter
yang menggunakan bejana penguapan berupa panci yang berisi
air bersih dan berwarna metalik (silver) yang bertujuan untuk
mengurangi pengaruh radiasi. Nilai evaporasi merupakan nilai
dari selisih tinggi permukaan dari dua kali pengukuran setelah
nilai curah hujan.
Proses evapotranspirasi sangat penting dalam siklus
hidrologi dan CWR (Crop Water Requirement = banyaknya air
yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh).
Faktor-faktor yang mempengaruhi evapotranspirasi :
a. Suhu udara
b. Angin
c. Tekanan uap air di atmosfer
d. Kualitas air.
e. Sifat dan bentuk permukaan.
7. Awan
Awan adalah kumpulan butir-butir air, kristal es atau
gabungan antara keduanya yang masih melekat pada inti-inti
kondensasi antara 2-40 mikron. Awan dapat dibagi menjadi :
a. Awan tinggi, yaitu yang terdapat pada ketinggian 7 km dari
permukaan laut, terdiri dari : cirrus, cirrostratus,
cirrocumulus.
b. Awan pertengahan, ada pada ketinggian 2 km ke atas dari
permukaan laut tetapi kurang dari 7 km, terdiri dari alto
stratus, alto cumulus.
22


c. Awan rendah, ada pada ketinggian kurang dari 2 km dari
permukaan laut, terdiri dari : strato cumulus, stratus. nimbo
stratus.
d. Awan yang berkembang vertikal, pada ketinggian 1-20 km
dari permukaan laut, terdiri dari : cumulus, cumulo nimbus.
Berdasarkan hasil pengamatan rata-rata awan yang ada
adalah stratocumulus (awan rendah), yang berpotensi besar
terjadinya hujan. Keadaan radiasi dengan adanya penutup awan
sangat berbeda-beda dengan keadaan langit yang cerah. Radiasi
yang dipancarkan bumi akan mencapai awan dan oleh awan akan
diabsorbsi serta selanjutnya dipantulkan lagi ke bumi, sehingga
mengakibatkan temperatur awan dan bumi menjadi lebar. Akibat
dari sifat awan yang dapat mengabsorbsi dan meradiasikan
semua gelombang maka pengaruh penutup awan dapat
menghalangi pendinginan bumi pada malam hari, terutama pada
musim kemarau.
E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum acara 1 tentang pengamatan unsur-unsur
cuaca secara manual, dapat disimpulkan bahwa :
a. Unsur-unsur iklim terdiri dari radiasi surya, tekanan udara,
kelembaban tanah dan udara, angin, curah hujan, suhu,
evapotranspirasi dan awan.
b. Setiap unsur iklim saling mempengaruhi dengan unsur lain.
Perpaduan antara proses-proses tersebut dengan unsur-unsur iklim
dan faktor pengendali iklim menghantarkan kita pada kenyataan
bahwa kondisi cuaca dan iklim bervariasi dalam hal jumlah,
intensitas dan distribusinya
c. Besarnya tekanan udara dipengaruhi oleh suhu. Hubungan suhu
dan tekanan berbanding lurus.
23


d. Suhu dipengaruhi oleh radiasi surya, kondisi awan, curah hujan,
suhu udara, angin dan kelembaban udara. Suhu tanah berbanding
lurus dengan intensitas radiasi, suhu udara, angin dan kelembaban
udara
e. Kelembaban dipengaruhi oleh intensitas radiasi surya dan suhu.
f. Besarnya evapotranspirasi dipengaruhi oleh intensitas radiasi
matahari, suhu, tekanan, angin, dan kelembaban.
g. Awan mempengaruhi intensitas cahaya matahari karena dengan
adanya awan menghalangi pancaran sinar ke bumi. Awan
mempengaruhi presipitasi, pengendali neraca panas sekaligus
sebagai pengendali suhu udara.
2. Saran
Adapun saran untuk praktikum acara 1 tentang pengamatan unsur-
unsur cuaca secara manual, yaitu:
a. Sebaiknya alat-alat yang digunakan pada praktikum pengamatan
unsur-unsur cuaca secara manual yang sudah rusak segera diganti
atau diperbaiki supaya dapat menunjang proses pembelajaran
secara optimal.
b. Sebaiknya mahasiswa juga perlu menggunakan alat-alat tersebut,
tidak hanya dijelaskan saja supaya para mahasiswa lebih
mengetahui cara kerja dari alat-alat tersebut.


24


DAFTAR PUSTAKA
Hendayana, D 2011. Mengenal Nama dan Fungsi Alatalat Pemantau
Cuaca dan Iklim. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Hanum 2009. Penuntun Praktikum Agroklimatologi. Program Studi
Agronomi. Medan: Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
Jumin dan Basri 2002. Agroekologi Suatu Pendekatan Fisiologi. Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada.
Kartasapoetra, ddk 2005. Teknologi Konservasi Tanah. Jakarta: Rineka
jaya.
Mustard dan Mamat 2008. Get Success UN Geografi. Jakarta : PT Grafindo
Media Pratama
Soekirno 2010. Ilmu Iklim dan Pengairan. Bandung: Bina Cipta.
Sumani dan Komariah 2013. Petunjuk Praktikum Agroklimatologi.
Surakarta: Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.
Sutiknjo, Tutut D 2005. Petunjuk Praktikum Klimatologi. Kediri: Fakultas
Pertanian Universitas Kediri.
Suyono 2006. Faktor-faktor Penentu Keberhasilan Usaha Tani.
Yogyakarta: UGM Press.
Wahyuningsih 2004. Geografi. Jakarta: Pabelan.
Wisnubroto, Soekardi 2006. Meteorologi Pertanian Indonesia. Jakarta:
Mitra Gama Widya.