Anda di halaman 1dari 14

PROSIDING HASIL KEGIATAN PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI TAHUN 2011

II.20
BUKU 2 : BIDANG MINERAL
INVENTARISASI MINERAL LOGAM DI KABUPATEN SITARO
PROVINSI SULAWESI UTARA
Oleh:
Dendi Surya K. , Bakrun , Ary K.
PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI
SARI
Wilayah Kabupaten Kepulauan Sitaro terdiri dari gabungan 3 pulau besar yaitiu Pulau Siau, Pulau
Tagulandang dan Pulau Biaro dan pulau pulau kecil di sekelilingnya. Secara tektonik wilayah ini merupa-
kan jalur Busur Vulkanik berarah dari ujung Sulawesi Utara hingga Kepulauan Mindanao di Philippines.
Secara geologi batuan penyusun utamanya adalah batuan vulkanik, umumnya berumur Kuarter dan
hanya di bagian selatan berumur Tersier. Batuan tersebut terdiri dari lava jenis scoria, breksi vulkanik
andesitan, breksi tufa dan endapan Pantai. Struktur geologi yang berkembang adalah struktur sesar geser
dan kekar berarah baratlaut tenggara, timur barat.
Indikasi adanya mineralisasi adalah ditemukannya butiran emas di wilayah utara (Pulau Siau) dalam
batuan vulkanik sebanyak enam butir berukuran sangat halus (VFC). butiran sinabar yang tersebar di 6
lokasi di Pulau Siau dan 3 lokasi di Pulau Biaro.
Dengan ditemukannya indikasi tersebut menunjukkan bahwa sebagian wilayah SITARO diduga kuat
pernah terjadi atau terbentuk mineralisasi hidrotermal dengan tipe mineralisasinya diperkirakan adalah
tipe mineralisasi hidrotermal bertemperatur rendah/dangkal atau atau epitermal. Perkiraan ini dikuatkan
dengan hasil analisis kimia dan analisis PIMA. Untuk mengetahui keberadaan mineralisasi di kawasan ini
secara lebih jelas maka perlu dilakukan studi secara lebih rinci.

PROSIDING HASIL KEGIATAN PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI TAHUN 2011


II.20
BUKU 2 : BIDANG MINERAL
PENDAHULUAN
Lokasi kegiatan inventarisasi mineral secara
administrasi pada wilayah Kabupaten Kepu-
lauan Sitaro yang secara geografis terletak
pada posisi antara 125 09 28 hingga 125
24 25 Bujur Timur, dan 2 04 13 hingga 2
52 47Lintang Utara (Gambar 1). Daerah inven-
tarisasi di wilayah Kabupaten Sitaro mencakup
tiga wilayah yang terdiri dari tiga pulau besar,
yaitu Pulau Siau, Pulau Tagulandang dan Pulau
Biaro. Penyelidikan dilakukan dengan mung-
gunakan jalur darat dan jalur lautKepulauan
Sitaro merupakan suatu kawasan kepulauan
yang terletak di sebelah utara Menado.
Secara geologi kawasan ini merupakan bagian
dari jalur magmatisma/gunungapi yang mem-
bentang dari Sulawesi Utara hingga Kepulauan
Mindanao di Pilipina Selatan. Beberapa dae-
rah di sebelah utara kawasan ini (kawasan
Binabase dan sekitarnya, Sangihe) merupakan
daerah mineralisasi hidrotermal yang menarik.
Dari data geologi regional menunjukkan bahwa
sekitar 75% kawasan Sitaro tediri atas batuan
vulkanik yang berpotensi tinggi untuk terjadinya
pembentukan mineralisasi. Bertolak dari hal
tersebut diatas maka diharapkan penyelidikan
yang dilakukan di kawasan ini akan diper-
oleh informasi penting dan menarik terutama
berkaitan dengan adanya indikasi mineral
logam.
GEOLOGI UMUM
Secara tektonik, wilayah Kabupaten Sitaro mer-
upakan bagian dari Jalur Volkanik Minahasa
Sangihe yang membatasi Laut Sulawesi di
bagian timur (Darman dan Sidi, 2000). Aktivitas
volkanik di kepulauan ini umumnya berumur
Kuarter dan merupakan hasil dari penyusu-
pan Lempeng Laut Maluku di bawah Lempeng
Benua Eurasia (Zulkarnain, 2002). Batuan
gunung api pembentuk Sangihe Besar meru-
pakan batuan volkanik berkomposisi andesitik
hingga basaltik yang berumur Pliosen Awal
hingga Holosen (Samodra, 1994). Selain itu
dijumpai juga batuan terobosan berkomposisi
dioritik hingga andesitik.
Geologi umum daerah penyelidikan termasuk
ke dalam Peta Geologi Lembar Sangihe dan
Siau sekala 1 : 250.000 (Hanang Samodra, 1994).
Secara umum batuan penyusun Sangihe Besar
dari yang tertua hingga termuda yang terdapat
di daerah ini adalah sebagai berikut: Batuan
Gunungapi Biaro, Batuan Gunungapi Malingge,
Batuan Gunungapi Tamata, Batuan Gunungapi
Ruang dan Batuan Gunungapi Karangetang.
Kehadiran batuan terobosan berkomposisi
andesit dan diorit di pulau ini menunjuk-
kan adanya indikasi mineral logam di daerah
penyelidikan. Batuan terobosan yang dijumpai
di daerah ini terbentuk oleh sistem retakan
dan menyebabkan mineralisasi pada Plio-Plis-
tosen (Samodra, 1994).
Untuk sementara ini data indikasi pemineralan
yang ada masih terbatas pada wilayah tetangga
yai tu di Kabupaten Kepulauan Sangi he.
Beberapa data mineral logam yang telah dii-
dentifikasi oleh Samodra (1994) antara lain
emas, perak, besi, tembaga, timbal dan seng,
serta mineral sulfida (pirit dan kalkopirit).
Emas terdapat di daerah Lapango dan Bine-
base. Emas letakan didulang oleh penduduk
setempat di daerah Lapango dan Sowaeng.
PROSIDING HASIL KEGIATAN PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI TAHUN 2011
II.20
BUKU 2 : BIDANG MINERAL
Hematit dijumpai di Sowaeng, Gunung Bukide
dan Bukit Bahu (Pulau Siau). Sedangkan emas
primer terdapat di daerah Brahase Bawane,
Desa Lehupu, Kecamatan Tabukan Selatan.
HASIL PENYELIDIKAN
Geologi Daerah Penyelidikan
Hasil penyelidikan di lapangan telah meng-
hasilkan sejumlah titik pengamatan dan
pengambilan conto terpilih sebagai bahan
untuk dianalisis di laboratorium (Gambar 11).
Ada tiga blok terpisah yang telah dilakukan
penyelidikan yaitu:
Blok Utara (Pulau Siau)
Blok Tengah (Pulau Tagulandang)
Blok Selatan (Pulau Biaro)
Pengamatan di lapangan menunjukkan dae-
rah penyelidikan tersusun secara dominan dari
batuan vulkanik bersifat andesitik. Berdasar-
kan hasil peninjauan dilapangan menunjukkan
kondisi geologi daerah penyelidikan dapat dije-
laskan sebagai berikut :
Lava
Batuan jenis ini merupakan jenis batuan
ekstrusif yang umum atau banyak terdapat di
kawasan Sitaro (Pulau Siau, Pulau Tagulandang
dan Pulau Biaro), memiliki penyebaran cukup
luas di ketiga pulau tersebut. Secara megasko-
pis memiliki sifat sik sebagai berikut warna
abu-abu, terkadang kehitaman, memiliki ron-
gga bentuk vesikuler, struktur aliran, setempat
membentuk struktur bantal. Lava banyak
dijumpai di lokasi-lokasi di Pulau Siau), Pulau
Tagulandang); dan Pulau Biaro. Beberapa sing-
kapan lava yang dijumpai dapat dilihat pada
foto-foto berikut (Gambar 2, Gambar 3, dan
Gambar 4).
Berdasarkan pemeriksaan secara mikrosko-
pis dari conto STR-30R menunjukkan batuan
disusun oleh mineral yang terdiri dari plagiok-
las (50%), piroksen (10%), gelas (33%), mineral
lempung (5%) dan mineral opak (2%). Interpre-
tasi secara mikroskopis dari batuan tersebut
adalah scoria.
Sedangkan dari hasil pemeriksaan pada conto
STR-38 R menunjukkan batuan tersusun dari
mineral yang terdiri dari plagioklas, piroksen,
gelas, mineral lempung dan opak. Berdasar-
kan komposisi mineral dan terksturnya,
maka diperkirakan batuannya adalah andesit
piroksen.
Adapun dari hasil pemeriksaan dari conto STR-
33R menunjukkan batuan disusun oleh mineral
yang terdiri dari plagioklas, piroksen, gelas,
mineral lempung dan mineral opak. Interpre-
tasi secara mikroskopis dari batuan tersebut
adalah scoria.
Breksi vulkanik
Batuan jenis breksi vulkanik merupakan jenis
batuan ekstrussif yang umum atau banyak
terdapat di kawasan Sitaro (Pulau Siau, Pulau
Tagulandang dan Pulau Biaro), memiliki penye-
baran yang cukup luas di ketiga pulau tersebut.
Secara megaskopis lava yang terdapat di
PROSIDING HASIL KEGIATAN PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI TAHUN 2011
II.20
BUKU 2 : BIDANG MINERAL
kawasan ini memiliki sifat sik sebagai berikut
warna abu-abu, terkadang kehitaman, memi-
liki rongga bentuk vesikuler, terdapat struktur
aliran menunjukkan saat pelelehan, setempat
memiliki struktur bantal.
Breksi vulkanik
Breksi vulkanik merupakan jenis batuan yang
cukup banyak dijumpai di berbagai tempat
baik di Pulau Siau, Pulau Tagulandang maupun
Pulau Biaro. Di Pulau Siau dijumpai di lokasi
STR.11/05 SP; STR.11/019 SP; dan STR.11/021
SP. Secara megaskopis memiliki sifat fisik
warna abu-abu, keras, tersusun dari komponen
batuan dengan bentuk menyudut, komponen
terdiri batuan bersifat andesitik-basaltik, uku-
ran dari beberapa sentimeter hingga mencapai
diatas 30 cm, semen terdiri atas lava.
Sementara breksi yang terdapat di Pulau Tagu-
landang maupun Pulau Biaro diperkirakan
memiliki kesamaan sifat tidak jauh berbeda
dengan yang terdapat di Siau (lokasi STR.11/042
SP s.d. STR.11/045 SP); memiliki sifat fisik
warna abu-abu, keras, komponen andesit dan
semen batuan bersifat silika.
Sebaran breksi di Pulau Tagulandang dan Pulau
Biaro tidak begitu luas. Secara jelas dapat dili-
hat pada Gambar 9 dan Gambar 10.
Breksi vulkanik andesitik
Jenis batuan breksi ini agak cukup sulit
dibedakan dengan jenis breksi sebelumnya.
Namun di beberapa tempat dapat dibedakan
dari sifat siknya seperti warnanya yang agak
sedikit coklat dan sudah agak lapuk. Breksi
vulkanik andesitik ini cukup banyak dijumpai
beberapa lokasi di Pulau Siau, diantaranya di
lokasi STR.11/08; STR.11/012; STR.11/026;
STR.11/028. Secara megaskopis memiliki sifat
fisik warna abu-abu kecoklatan, keras, ter-
susun dari komponen batuan dengan bentuk
menyudut, komponen terdiri batuan bersifat
andesitik, ukuran komponen dari beberapa
sentimeter hingga sekitar 30 cm, semen terdiri
dari lava dan tufa.
Breksi tufa
Breksi tufa merupakan jenis breksi lainnya yang
dibedakan dengan breksi sebelumnya karena
komponen pembentuknya yang berbeda. Breksi
tufa memiliki komponen pembentuk yang dom-
inannya adalah tufa.
Di daerah penyelidikan breksi tufa memiliki
sebaran terbatas hanya dijumpai di wilayah
selatan Pulau Siau, yaitu di lokasi STR.11/013
s.d. STR.11/0115 dan STR.11/023.
Secara megaskopis breksi tufa memiliki sifat
sik warna coklat, tidak keras, tersusun dari
komponen batuan batuan tufa andesitik, ukuran
dari beberapa sentimeter hingga mencapai > 30
cm, semen terdiri atas tufa.
Gambaran umum berkaitan dengan sebaran
breksi tufa secara lebih jelas dapat dilihat pada
peta geologi Gambar 9.
Salah satu contoh breksi tufa yang dijumpai di
wilayah selatan Pulau Siau dapat dilihat pada
Gambar 5.
PROSIDING HASIL KEGIATAN PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI TAHUN 2011
II.20
BUKU 2 : BIDANG MINERAL
Batuan tufa
Batuan tufa adalah salah satu jenis batuan
dijumpai di wilayah Pulau Siau. Batuan tufa
dijumpai di wilayah selatan, berbatasan atau
menumpang diatas breksi tufa (STR.11/013).
Secara megaskopis menunjukkan sifat fisik
warna coklat, higroskopis, berbutir kasar -
halus. Salah satu ciri spesifik adalah adanya
pola perlapisan meskipun bentuk perlapisan-
nya belum begitu sempurna, namun arah
perlapisannya dapat diketahui. Dari hasil pen-
gukuran menunjukkan bahwa lapisan batuan
tufa memiliki arah yang hampir datar yaitu N
225E/15 (Gambar 6).
Endapan Pantai
Endapan pantai merupakan endapan termuda
dijumpai di sekitar pantai, disusun oleh material
lepas hasil rombakan dari batuan sebelumnya
seperti endapan kerikil, kerakal dari batuan
vulkanik. Endapan pantai umumnya berkem-
bang baik pada wilayah relatif datar (Gambar 7).
Struktur Geologi
Struktur geologi yang dijumpai di daerah penye-
lidikan adalah berupa struktur sesar dan kekar.
Struktur sesar dijumpai di wilayah utara ada-
lah berupa sesar normal. Sesar normal terjadi
karena adanya pengaruh gaya berat yang tidak
seimbang. Sedangkan sesar geser terjadi akibat
adanya geseran dapat dilihat dari pola topogra
maupun melihat kondisi di lapangan secara
langsung. Indikasi yang menunjukkan adanya
sesar geser, kelurusannya dapat diketahui dari
kenampakan topogra maupun melihat kondisi
langsung jelas secara di lapangan (Gambar 7).
Sedangkan untuk struktur kekar secara jelas
dijumpai di wilayah Biaro (Gambar 8).
Dari kenampakan kelurusan secara topogra
diketahui bahwa arah umum kelurusan seperti
di Pulau Biaro adalah sekitar N 90 ~ 110 E.
Adapun penyebaran satuan batuan dan struktur
di daerah penyelidikan dapat dilihat pada Gam-
bar 8, Gambar 9 dan Gambar 10.
Potensi Endapan Bahan Galian di Kabu-
paten Siau
Indikasi Mineralisasi
Wilayah Kabupaten Sitaro secara geografis
terletak diantara ujung utara Pulau Sulawesi
dengan Kepulauan Sangihe. Secara tektonik
wilayah ini terletak pada jalur busur tektonik
aktif yang mengarah hampir utara selatan.
Hasil studi geologi yang telah dilakukan oleh
para pengamat terdahulu dan peninjauan di
lapangan langsung menunjukkan bahwa bat-
uan di kawasan ini secara umum adalah batuan
vulkanik muda berumur Resen, kecuali batuan
yang terdapat di wilayah selatan (Pulau Biaro)
menunjukan umur lebih tua berumur Tersier
(Miosen).
Hasil pengamatan secara megaskopis menun-
jukkan hampir seluruhnya batuan yang dijumpai
dalam keadaan fresh atau tidak mengalami
alterasi dan mineralisasi. Di wilayah bagian
utara adanya indikasi mineralisasi di lokasi
STR.11.008 dijumpai berupa float, kemung-
kinan batuan termineralisasi telah tertutupi
PROSIDING HASIL KEGIATAN PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI TAHUN 2011
II.20
BUKU 2 : BIDANG MINERAL
hampir seluruhnya oleh batuan vulkanik muda
dan hanya sedikit atau terbatas sekali dijumpai.
Jadi diperkirakan pada bagian atas sedikit ters-
ingkap dalam bentuk jendela mineralisasi atau
window.
Indikasi yang menunjukkan adanya tanda min-
eralisasi ditemukan di dua daerah di Pulau Siau
dijumpai di STR.11/09 dan STR.11/028. Indikasi
dijumpai dalam batuan float terubah berupa
argilik terpiritkan. Sedangkan indikasi miner-
alisasi dijumpai di Pulau Biaro dijumpai baik
dalam bentuk oat di STR.046 maupun dalam
bentuk singkapan di lokasi STR.11/047 (Gambar
9).
Sedangkan di wilayah selatan yaitu di Pulau
Biaro ada kemungkinan lebih besar bahwa min-
eralisasi di wilayah ini berkembang dan terkuak
lebih baik dibandingkan dengan di wilayah lain-
nya. Secara stratigra wilayah ini disusun oleh
batuan tua (Miosen). Dugaan ini diperkuat den-
gan dijumpai adanya singkapan batuan terubah
dan termineralisasi di lokasi STR.11/047 dan
STR.11/047. Indikasi mineralisasi di wilayah
ini ditunjukkan dengan dijumpainya singkapan
batuan vulkanik yang telah mengalami ubahan
(argilik) yang lokasinya tidak jauh dari pantai
(Gambar 10).
Berdasarkan pengamatan di lapangan di
wilayah selatan (Pulau Biaro) kemungkinan
besar mineralisasi lebih berkembang diband-
ingkan dengan di wilayah lainnya. Secara
stratigra wilayah ini disusun oleh batuan tua
(Miosen). Dugaan ini diperkuat dengan dijumpai
adanya singkapan batuan terubah dan termin-
eralisasi di lokasi STR.11/046 dan STR.11/047,
terjadi pada batuan vulkanik yang terargilikkan
yang letaknya tidak jauh dari pantai.
Geokimia Unsur Logam
Berdasarkan hasil analisis conto sedimen sun-
gai aktif, geokimia sebaran unsur adalah :
Geokimia sebaran unsur Au dengan kand-
ungan tinggi terdapat di bagian utara yaitu di
Pulau Siau (STR 11/005 sebesar 113 ppb dan
STR11/031 sebesar 237 ppb). Sementara di
Pulau Tagulandang kandungan yang tinggi ada
di bagian timur. Sedangkan di bagian selatan
kandungan emas kecil.
Sebaran geokimia unsur Ag dengan kandungan
tinggi terdapat di bagian tengah dan selatan
Pulau Siau, di sebagian besar Pulau Tagulan-
dang dan di bagian selatan Pulau Biaro. Kisaran
Ag antara 3-4 ppm.
Geokimia sebaran unsur Cu nilai tertinggi ter-
dapat di bagian utara (Pulau Siau) dan di bagian
tengah dengan kisaran antara 111-117 ppm
Cu. Sedangkan di sebelah tengah dan selatan
kandungan Cu rendah 24-56.7 ppm.
Geokimia sebaran unsur Pb dengan nilai tinggi
terdapat di selatan Pulau Siau, bagian utara
Pulau Tagulandang dan bagian selatan Pulau
Biaro dengan kisaran antara 42-44 ppm.
Sedangkan Geokimia sebaran unsur Zn nilai
yang tinggi terdapat di tengah barat dari Pulau
Siau, bagian timur Pulau Tagulandang dan
bagian selatan Pulau Biaro. Kisaran kandungan
Zn antara 205 239 ppm
Selain hasil analisis kimia, beberapa jenis ana-
PROSIDING HASIL KEGIATAN PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI TAHUN 2011
II.20
BUKU 2 : BIDANG MINERAL
lisis lainnya juga memperlihatkan hal menarik
perlu diketahui:
Dari hasil analisis mineralogi butir terdapat
9 lokasi mengandung mineral sinabar terdapat
di lokasi Pulau Siau sebanyak enam lokasi yaitu
di (STR11/011/P, STR11/008/P, STR11/012/P,
STR11/015/P, STR11/020/P, STR11/024/P)
dan Pulau Biaro sebanyak tiga lokasi yaitu di
(STR11/046/P, STR11/047/P, STR11/049/P).
Sedangkan di Pulau Tagulandang tidak dijumpai
adanya sinabar.
Hasil analisis PIMA terhadap beberapa conto
batuan menunjukkan alterasi dijumpai di Siau
selatan (pada STR-13) berupa halloysite dan
monmorilonit, kemudian di Pulau Siau bagian
utara (pada STR-16) berupa jarosit, monmo-
rilonit dan halloysite, di Pulau Siau bagian
tengah (pada STR-25) halloysite, dan di Pualu
Tagulandang bagian utara (pada STR-45)
berupa kaolinit dan halloysite. Sedangkan di
wilayah selatan (Pulau Biaro) alterasinya ada-
lah berupa monmorilonit (argillik). Diduga
kuat di Pulau Siau dan Pulau Biaro pada lokasi
tertentu pernah terjadi dan terbentuk miner-
alisasi hidrotermal. Ini ditunjukkan dengan
dijumpainya indikasi sinabar. Diperkirakan tipe
mineralisasinya hidrotermal bertemperatur
rendah/dangkal atau Shallow Environment.
Berdasarkan data-data yang diperoleh hal yang
cukup menarik dari mineralisasi adalah terda-
patnya indikasi di wilayah selatan yaitu di Pulau
Biaro dimana sinabar ditemukan pada batuan
terubah. Hal yang mendukung adalah kondisi
litologi dan strukturnya dimana di wilayah
ini batuannya adalah batuan vulkanik beru-
mur Miosen. Selain itu faktor struktur turut
berperan penting dalam pembentukan miner-
alisasi di wilayah ini.
KESIMPULAN DAN SARAN
Secara tektonik daerah Kepulauan Sitaro dipen-
garuhi oleh zona tektonik yang memiliki arah
hampir utara-selatan.
Secara geologi berdasarkan hasil penyelidikan
di lapangan, geologi daerah penyelidikan ter-
diri dari lava, breksi volkanik, breksi volkanik
andesitik, breksi tufa, tufa, dan endapan pantai.
Indikasi mineralisasi dijumpai dari ditemukan-
nya singkapan dan apungan batuan terubah
(argilik terpiritkan) di Pulau Biaro dan Pulau
Siau. Indikasi lian yang menunjang adalah
dijumpainya dan emas serta sinabar dari
konsentrat dulang di beberapa lokasi. Tipe
mineralisasinya diperkirakan tipe hidrotermal
temperatur rendah/dangkal atau atau epiter-
mal
Berdasarkan hasil analisis geokimia unsur
menunjukkan sebaran Au kandungan tinggi ter-
dapat di bagian utara (Pulau Siau) di STR 11/005
(113 ppb) dan STR11/031 (237 ppb).
Sebaran Ag, kandungan tinggi terdapat di
bagian tengah dan selatan Pulau Siau dengan
kisaran antara 3-4 ppm.
Sebaran Cu terdapat di bagian utara (Pulau
Siau), di bagian tengah kisaran antara 111-117
ppm Cu. Di bagian tengah dan selatan kandun-
gan 24-56,7 ppm Cu.
Sebaran unsur Pb terdapat di bagian selatan
PROSIDING HASIL KEGIATAN PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI TAHUN 2011
II.20
BUKU 2 : BIDANG MINERAL
Pulau Siau, bagian utara Pulau Tagulandang
dan bagian selatan Pulau Biaro kisaran 42-44
ppm Pb.
Sebaran unsur Zn terdapat di tengah barat dari
Pulau Siau, bagian timur Pulau Tagulandang
dan bagian selatan Pulau Biaro.
Dari hasil kegiatan ini disarankan untuk
dilakukan kegiatan penyelidikan lanjutan di
wilayah hulu aliran sungai di lokasi STR.11/008
dan STR.11/028 Pulau Siau dan di sekitar
STR.11/046 dan STR.11/047 Pulau Biaro untuk
memastikan adanya daerah termineralisasi
dengan melakukan penyelidikan geologi dan
geokimia secara lebih rinci.
DAFTAR PUSTAKA
Bahar, I., dkk, 1999. Peta Geologi Regional
Lembar Sangihe dan Siau, Sulawesi. P3G.
Bandung.
PT. Meares Soputan Mining, 1999. Penyelidikan
Eksplorasi Emas Daerah Minahasa dan Sangir
Talaud, Provinsi Sulawesi Utara.
PT. Kristalin Eka Lestari, 2006, Eksplorasi
Emas di Kecamatan Manganitu Selatan, Kabu-
paten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi
Utara.
----------------------------, 2004,.Laporan
Identifikasi Potensi Energi dan Sumberdaya
Mineral Pulau-pulau kecil Sangir Talaud
Sulawesi Utara, Pusat Penelitian dan Pengem-
bangan Geologi Kelautan, Bandung
Tim Konservasi, 2007, Evaluasi Sumberdaya
dan Cadangan Bahan Galian Untuk Pertam-
bangan Skala Kecil, Di Kabupaten Sangihe,
Provinsi Sulawesi Utara, Pusat Sumber Daya
Geolog, Bandung
Samodra, Hanang, 1994. Peta Geologi Regional
Lembar Sangihe dan Siau, Sulawesi. P3G.
Bandung.
BUKU 2 : BIDANG MINERAL
PROSIDING HASIL KEGIATAN PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI TAHUN 2011
II.20
Gambar 1. Peta Lokasi Daerah Kabupaten Kepulauan Sitaro
Gambar 2. Singkapan lava yang terdapat di lokasi STR.11/030 SP (kaki Gunung Karangetang) Pulau
Siau
BUKU 2: BIDANG MINERAL
PROSIDING HASIL KEGIATAN PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI TAHUN 2011
II.20
Gambar 3. Singkapan lava menyerupai bantal di lokasi STR.11/038.SP (Tagulandang Barat)
Gambar 4. Singkapan lava terdapat di Biaro Selatan. Tampak sebagian bentuk retakan akibat pend-
inginan secara tiba-tiba
Gambar 5. Breksi tufa dijumpai di lokasi STR.11/013. Tampak terlihat breksi tufa (coklat) berada di
bagian bawah lapisan batuan tufa
BUKU 2 : BIDANG MINERAL
PROSIDING HASIL KEGIATAN PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI TAHUN 2011
II.20
Gambar 6. Pola perlapisan batuan tufa di bagian atas, menumpang diatas breksi (lokasi STR.11/013)
Gambar 7. Endapan pantai yang terdapat di wilayah tengah (Pulau Tagulandang bagian utara
Struktur Geologi
Foto 7. Sesar geser dijumpai di wilayah selatan Pulau Biaro. Tampak secara jelas bentuk faset
segitiga
BUKU 2: BIDANG MINERAL
PROSIDING HASIL KEGIATAN PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI TAHUN 2011
II.20
Foto 8. Struktur kekar pada batuan lava di wilayah selatan Pulau Biaro
Gambar 9. Float batuan terargilikan di lokasi STR.11/008. Lokasi Pulau Siau
Gambar 10. Singkapan batuan terubah berupa argilik dengan pirit tersebar dijumpai di lokasi
STR.11/047, Pulau Biaro
BUKU 2 : BIDANG MINERAL
PROSIDING HASIL KEGIATAN PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI TAHUN 2011
II.20
Gambar 11. Peta Lokasi Pemercontoan
BUKU 2: BIDANG MINERAL
PROSIDING HASIL KEGIATAN PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI TAHUN 2011
II.20
Gambar 12. Peta Geologi dan Mineralisasi