Anda di halaman 1dari 9

PENGENAAN HUKUMAN KEBIRI BAGI PELAKU PEDOFILIA

DI INDONESIA BERKAITAN DENGAN UNDANG-UNDANG


NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK



Disusun Untuk Memenuhi Nilai Ujian Kompetensi Dasar I
Mata Kuliah Kapita Selekta Hukum Pidana


Oleh :
Marina Kurnianingsih
E0011188



Fakultas Hukum
Universitas Sebelas Maret
Surakarta
2014

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam lingkup perilaku seksual, konsep yang kita miliki tentang apa yang normal dan
apa yang tidak normal sangat dipengaruhi oleh faktor sosiokultural. Misalkan saja berbagai
perilaku seksual yang dianggap normal di Inis Beag seperti masturbasi, hubungan seks
premarital, dan seksoral-genital dikatakan normal pada masyarakat Amerika (Jeffrey S.
Nevid et al).
Perilaku seksual dapat dianggap abnormal jika hal tersebut bersifatself
defeating ,menyimpang dari norma sosial, menyakiti orang lain, menyebabkan stress
personal, atau memengaruhi kemampuan seseorang untuk berfungsi secara normal.
Gangguan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah gangguan pedhopilia seksual yang
mempunyai satu atau lebih kriteria abnormalitas. Dalam mengeksplorasi gangguan-gangguan
ini, kita menyentuh pertanyaan yang menggali batas antara normal dan abnormal.
Kejahatan seksual khususnya pedofilia yang saat ini banyak terjadi di Indonesia
sangat memprihatinkan. Anak-anak yang menjadi korban umumnya tidak berani melapor
kepada orang tuanya karena ancaman dari pelaku. Nampaknya hal ini menjadi celah yang
menguntungkan bagi pelaku pedofilia untuk berulang kali melakukan aksinya dan semakin
menambah banyak korban. Pada umumnya kejahatan seksual yang berupa pedofilia ini
adalah akibat dari mata rantai yang tidak pernah putus. Korban yang tidak berani melapor
terus memendam rasa dendam dan kekecewaan dalam dirinya terhadap pelaku. Ahkirnya dari
statusnya sebagai korban berubah menjadi pelaku dikemudian harinya.
Nasib anak-anak yang seperti inilah yang harus diperhatikan oleh setiap lapisan
masyarakat. Dukungan dari orang tua dan masyarakat untuk bangkit dan tidak mencibir para
korban merupakan hal yang sangat diperlukan dalam pemutusan mata rantai pedofilia. Para
pelaku yang telah merusak ribuan psikis anak Indonesia dirasa layak untuk mendapatkan
hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Makalah ini menekankan pengenaan hukuman
kebiri yang penulis rasa bahwa hukuman itui layak diterima. Selain sebagai sanksi yang dapat
menimbulkan efek jera juga dapat secara efektif memutus mata rantai jaringan pedofilia.





B. Rumusan Masalah
1. Apakah arti luas tentang pedofilia dan pelaku pedofilia?
2. Bagaimana pengenaan hukuman kebiri bagi pelaku pedofilia di Indonesia?
3. Bagaimana Perbandingan Hukuman Bagi Pelaku Pedofilia di Negara Lain Dan di Indonesia
terkait dengan kasus nyata?







































BAB II
PEMBAHASAN

I. Definisi Pedhofilia
Penyimpangan seksual yang paling tragis adalah ketertarikan seksual terhadap anak-
anak (atau remaja yang masih sangat muda) yang disebut pedophilia (pedofilia)
1
. Sebagai
diagnosa medis, pedofilia didefinisikan sebagai gangguan kejiwaan pada orang dewasa atau
remaja yang telah mulai dewasa (pribadi dengan usia 16 atau lebih tua) biasanya ditandai
dengan suatu kepentingan seksual primer atau eksklusif pada anak prapuber (umumnya usia
13 tahun atau lebih muda, walaupun pubertas dapat bervariasi). Anak harus minimal lima
tahun lebih muda dalam kasus pedofilia remaja (16 atau lebih tua) baru dapat diklasifikasikan
sebagai pedofilia. Kata pedofilia berasal dari bahasa Yunani: paidophilia ()pais
(, "anak-anak") dan philia (, "cinta yang bersahabat" atau "persahabatan",meskipun
ini arti harfiah telah diubah terhadap daya tarik seksual pada zaman modern, berdasarkan
gelar "cinta anak" atau "kekasih anak," oleh pedofil yang menggunakan simbol dan kode
untuk mengidentifikasi preferensi mereka. Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD)
mendefinisikan pedofilia sebagai "gangguan kepribadian dewasa dan perilaku" di mana ada
pilihan seksual untuk anak-anak pada usia pubertas atau pada masa prapubertas awal. Istilah
ini memiliki berbagai definisi seperti yang ditemukan dalam psikiatri, psikologi, bahasa
setempat, dan penegakan hukum.
Menurut Diagnostik dan Statistik Manual Gangguan Jiwa (DSM), pedofilia adalah
parafilia di mana seseorang memiliki hubungan yang kuat dan berulang terhadap dorongan
seksual dan fantasi tentang anak-anak prapuber dan di mana perasaan mereka memiliki salah
satu peran atau yang menyebabkan penderitaan atau kesulitan interpersonal. Pada saat ini
rancangan DSM-5 mengusulkan untuk menambahkan hebefilia dengan kriteria diagnostik,
dan akibatnya untuk mengubah nama untuk gangguan pedohebefilik. Meskipun gangguan ini
(pedofilia) sebagian besar didokumentasikan pada pria, ada juga wanita yang menunjukkan
gangguan tersebut,dan peneliti berasumsi perkiraan yang ada lebih rendah dari jumlah
sebenarnya pada pedofil perempuan. Tidak ada obat untuk pedofilia yang telah
dikembangkan. Namun, terapi tertentu yang dapat mengurangi kejadian seseorang untuk
melakukan pelecehan seksual terhadap anak. Di Amerika Serikat, menurut Kansas v.
Hendricks, pelanggar seks yang didiagnosis dengan gangguan mental tertentu, terutama

1
http://id.wikipedia.org/wiki/Pedofilia

pedofilia, bisa dikenakan pada komitmen sipil yang tidak terbatas, di bawah undang-undang
berbagai negara bagian (umumnya disebut hukum SVP) dan Undang-Undang Perlindungan
dan Keselamatan Anak Adam Walsh pada tahun 2006.
Dalam penggunaan populer, pedofilia berarti kepentingan seksual pada anak-anak
atau tindakan pelecehan seksual terhadap anak, sering disebut "kelakuan pedofilia."
Misalnya, The American Heritage Stedman's Medical Dictionary menyatakan, "Pedofilia
adalah tindakan atau fantasi pada dari pihak orang dewasa yang terlibat dalam aktivitas
seksual dengan anak atau anak-anak." Aplikasi umum juga digunakan meluas ke minat
seksual dan pelecehan seksual terhadap anak-anak dibawah umur atau remaja pasca pubertas
dibawah umur. Para peneliti merekomendasikan bahwa tidak tepat menggunakan dihindari,
karena orang yang melakukan pelecehan seksual anak umumnya menunjukkan gangguan
tersebut, tetapi beberapa pelaku tidak memenuhi standar diagnosa klinis untuk pedofilia, dan
standar diagnosis klinis berkaitan dengan masa prapubertas
2
. Selain itu, tidak semua pedofil
benar-benar melakukan pelecehan tersebut.
Pedofilia pertama kali secara resmi diakui dan disebut pada akhir abad ke-19. Sebuah
jumlah yang signifikan di daerah penelitian telah terjadi sejak tahun 1980-an. Saat ini,
penyebab pasti dari pedofilia belum ditetapkan secara meyakinkan. Penelitian menunjukkan
bahwa pedofilia mungkin berkorelasi dengan beberapa kelainan neurologis yang berbeda, dan
sering bersamaan dengan adanya gangguan kepribadian lainnya dan patologi psikologis.
Dalam konteks psikologi forensik dan penegakan hukum, berbagai tipologi telah disarankan
untuk mengkategorikan pedofil menurut perilaku dan motivasinya. Pelaku pedofilia
umumnyatermasuk dalam klasifikasi penjahat menurut Lambroso masuk kedalam
Criminaloid yaitu pelaku kejahatan yang dipengaruhi atas kebiasaan yang terus menurus
3
.
II. Hukuman Kebiri Bagi Pelaku Pedofilia
Pasal pasal yang terkait kejahatan pedofilia di Indonesia :
1. Pasal 290
Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun:
a. Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang, padahal diketahuinya bahwa orang
itu pingsan atau tidak berdaya;

2
Wikipedia. (February 24, 2009). "Human Sexual Behavior ." This data retrieved from
http://en.wikipedia.org/wiki/Human_sexual_behavior http://www.minddisorders.com/Py-Z/Sexual-sadism.html
3
Santoso, Topo, S.H,M.H, Kriminologi ,2001,PT Raja Gravindo Persada,Jakarta

b. Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang padahal diketahuinya atau
sepatutnya harus diduganya, bahwa umumya belum lima belas tahun atau kalau umumya
tidak jelas, yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin;
c. Barang siapa membujuk seseorang yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya
bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umumya tidak jelas yang bersangkutan
atau kutan belum waktunya untuk dikawin, untuk melakukan atau membiarkan dilakukan
perbuatan cabul, atau bersetubuh di luar perkawinan dengan orang lain.
2. Pasal 292
Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sesama kelamin,
yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya belum dewasa, diancam dengan pidana
penjara paling lama lima tahun.
4

3. Pasal 81
a. Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa
anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling
banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam
puluh juta rupiah).
b. Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang
dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak
melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.
4. Pasal 82
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan,
memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk
melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara
paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak
Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh
juta rupiah).
5

Banyak di negara maju yang telah menjatuhkan sanksi kebiri bagi para pelaku
pedofilia. Karena mereka sangat peduli akan anak bangsa yang kelak akan melanjutkan
kejayaan negara mereka. Kejahatan seksual yang amat tragis ini dianggap sangat mengerikan
sehingga perlu adanya sanksi yang tegas agar tidak menimbulkan korban yang semakin
banyak dan pelaku yang terus bertambah setiap waktu. Dengan hukuman kebiri pada pelaku

4
http://hukumpidana.bphn.go.id/babbuku/bab-xiv-kejahatan-terhadap-kesusilaan/
5
http://www.law.yale.edu/rcw/rcw/jurisdictions/asse/indonesia/Indon_Child_Prot.htm

diharapkan dapat menjadi efek jera dan sekaligus memberikan stigma takut akan hukuman
kepada masyarakat luas agar tidak melakukan tindakan jahat tersebut.
Kebiri (juga disebut pengebirian atau kastrasi) adalah tindakan bedah atau kimia yang
bertujuan untuk menghilangkan fungsi testis pada jantan atau fungsi ovarium pada betina.
Pengebirian dapat dilakukan baik pada hewan ataupun manusia
6
. Kebiri yang digunakan
dalam pemidaan pelaku pedofilia adalah kebiri kimiawi dengan cara penyuntikan zat yang
akan membuat libido seorang laki-laki berangsur menghilang sehingga tidak memiliki hasrat
untuk melakukan aktifitas seksual lagi.
Contoh negara yang telah melaksanakan hukuman kebiri bagi pelaku pedhofilia
adalah Negara bagian California merupakan yang negara bagian AS pertama yang
memberlakukan hukuman kebiri secara kimiawi bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak.
Hukuman kebiri di California diterapkan sejak tahun 1996. Sedangkan di negara bagian
Florida, hukuman kebiri diberlakukan sejak tahun 1997. Negara bagian lainnya ialah Georgia,
Iowa, Louisiana, Montana, Oregon, Texas dan Wisconsin.Di beberapa negara bagian
tersebut, hukuman kebiri kimiawi bisa dilakukan tergantung pada keputusan pengadilan,
untuk tindak pidana pertama. Namun untuk tindak pidana kedua, hukuman kebiri
diberlakukan secara paksa kepada pelaku kejahatan seksual. Negara yang lain adalah
Polandia,Moldova,Estonia,Israel,Argentina,Australia,Korea Selatan
7
.
III. Perbandingan Hukuman Bagi Pelaku Pedofilia di Negara Lain Dan di
Indonesia
Contoh Kasus
TEMPO.CO, Jakarta - Setelah kasus kekerasan pada anak di Jakarta International
School (JIS) terungkap, kini muncul pelaku pedofilia baru. Dia adalah Andri Sobari alias
Emon, 26 tahun. Emon yang sejak usia 7 tahun sudah menonton video porno berhasil
memperdaya lebih dari 80 anak di Sukabumi. Hukuman bagi pelaku pedofilia di Indonesia
dinilai belum mampu berefek jera. Hukuman di Indonesia kalah dibanding penerapan di
negara lain. Banyak negara sudah menerapkan hukuman kebiri bagi pelaku sodomi pada anak
atau pelaku pedofilia. Bahkan, beberapa negara juga menerapkan pengebirian untuk kasus
pemerkosaan.

6
Patrick Barbier, The World of the Castrati: the History of an Extraordinary Operatic Phenomenon Souvenir,
1996
7
http://news.detik.com/read/2014/05/15/143524/2583289/10/ini-9-negara-yang-menerapkan-
sanksi-kebiri-untuk-pelaku-kejahatan-seks?nd771104bcj


Kebiri zaman sekarang bebeda dengan zaman purba. Dulu kebiri dilakukan dengan
memotong seluruh alat kelamin pria. Sekarang, kebiri dilakukan dengan tindakan bedah atau
kimia. Kebiri bedah dilakukan dengan cara memotong kelenjar testis pria. Sedangkan kebiri
kimia dilakukan dengan memasukkan obat-obatan penurun hasrat seksual pria.
Pengalaman Korea Selatan bisa menjadi contoh membuat jera pelaku pedofila. Pada tahun
2011 pengadilan negara itu menghukum pelaku pedofilia penjara 15 tahun penjara. Pelaku
terbukti melakukan tindakan seksual terhadap anak di bawah umur. Hukuman tambahan yang
diberikan pengadilan adalah vonis kebiri kimia. Beberapa negara di Eropa juga menerapkan
hukuman kebiri. Polandia sejak tahun 2009 sudah menerapkan hukuman penjara dan
pengebirian kimia bagi pelaku pedofilia. Orang asing yang melakukan pedofilia di Moldova
akan diganjar kebiri kimia sejak tahun 2012. Rusia pun sejak tahun 2010 menghukum para
pedofilia dengan kebiri kimia dan penjara.
Negara tetangga kita, Malaysia, sudah sejak tahun 2013 mulai mempertimbangkan
penerapan kebiri kimia bagi para pelaku pedofilia. Menurut pihak berwenang di Malaysia,
mereka ingin mengikuti pemerintah Korea Selatan yang memberikan hukuman keras untuk
melindungi anak-anak.Bagaimana dengan Indonesia? Belum adanya hukuman yang berat
membuat warga negara asing yang menjadi pelaku di Indonesia hanya diganjar hukuman di
bawah 15 tahun. Seperti Tonny William, pedofilia asal Australia yang ditangkap di Bali
karena memperkosa dua anak di sana, hanya dihukum 13 tahun. Kasus lainnya adalah Mario
Monara hanya dipenjara 9 bulan. Tidak heran Federal Bureau Investigation menyatakan
angka kasus pedofilia di Indonesia tertinggi di Asia
8
.
Tanggapan atas kasus tersebut penulis setuju dengan Komisi Perlindungan Anak
Indonesia yang telah mengusulkan pada pemerintah Indonesia untuk menjatuhkan hukuman
kebiri bagi pelaku kejahatan seksual. Layaknya negara lain yang telah menjalankan sistem
ini, Indonesia seharusnya juga ikut berbenah agar tunas-tunas penerus bangsa dapat
terlindung daroi aksi keji ini. Tindakan kebiri ini dianggap tidak melanggar Hak Asasi
Manusia daripada hukuman mati. Selain tetap menghargai hak hidup seseorang namun juga
sebagai pembelajaran serta efek jera bagi pelaku.



8
http://www.tempo.co/read/news/2014/05/06/063575805/Di-Negara-Lain-Pelaku-Pedofil-Dikebiri


BAB III
PENUTUP

I. Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Pedofilia
http://news.detik.com/read/2014/05/15/143524/2583289/10/ini-9-negara-yang-menerapkan-
sanksi-kebiri-untuk-pelaku-kejahatan-seks?nd771104bcj
http://www.tempo.co/read/news/2014/05/06/063575805/Di-Negara-Lain-Pelaku-Pedofil-
Dikebiri
http://www.dw.de/darimana-hasrat-seksual-pedofil-berasal/a-17651137
Wikipedia. (February 24, 2009). "Human Sexual Behavior ." This data retrieved from
http://en.wikipedia.org/wiki/Human_sexual_behavior http://www.minddisorders.com/Py-
Z/Sexual-sadism.html
Patrick Barbier, The World of the Castrati: the History of an Extraordinary Operatic
Phenomenon Souvenir, 1996, ISBN 0-285-63309-0
Susan Elliott, Cutting Too Close for Comfort: Paul's Letter to the Galatians in Its Anatolian
Cultic Context Reviews in Review of Biblical Literature
http://hukumpidana.bphn.go.id/babbuku/bab-xiv-kejahatan-terhadap-kesusilaan/