Anda di halaman 1dari 4

PENCUCIAN BATUBARA

Beberapa perusahaan memasarkan batubaranya berupa raw coal, tetapi


banyak perusahaan memasarkan batubaranya setelah dibersihkan untuk
menaikkan kualitasnya. Pembersihan batubara ini dimaksudkan untuk mengurangi
mineral-mineral pengotor yang terkandung dalam batubara sehingga dapat
meningkatkan kualitas dari batubara tersebut.
Dalam proses pembersihan batubara, salah satu faktor terpentingnya
adalah efisiensi pusat pencucian batubara. Batubara yang baik bisa saja hilang
apabila efisiensi tempat pencucian batubara rendah dan ada juga batubara hilang
bersama material yang dibuang.
Untuk meyakinkan bahwa pusat pencucian batubara bekerja secara efisien,
diperlukan pengecekan yang dikerjakan oleh orang yang ahli dalam pengambilan
sampel dan analisis di laboratorium.
Sebelum batubara itu diangkut dan dimanfaatkan, kadang-kadang perlu
dicuci atau dibersihkan terlebih dahulu untuk menikkan nilai plusnya, umumnya
menurunkan persentase kandungan ash. Caranya ialah batubara yang baru datang
dari tambang atau run of mine (ROM) dipilih ukuran tertentu dan dibersihkan
untuk menghilang material yang tidak dapat dibajar, terutama ash. Pekerjaan ini
disebut coal preparation atau coal benefication.
Proses pencucian batubara adalah memisahkan fraksi batubara yang
mengandung ash tinggi (density-nya tinggi) daari fraksi batubara yang
mengandung ash rendah (density-nya relatif kecil).
Penghilangan sebagian sulfur (belerang) dan zat mineral misalnya, dapat
memperkecil emisi sulfur dioksida dan partikulat ke udara selama berlangsungnya
pembakaran batubara. Selain itu, preparasi batubara ini juga akan menjadikan
sifat-sifat fisika dan sifat-sifat kimia dari batubara lebih homogen. Untuk
keperluan tersebut, tidak jauh dari tambang dibangun pusat pencucian batubara.
Contoh skema pencucian batubara dapat dilihat pada Gambar 1.

Sumber : Muchjidin, Pengendalian Mutu Dalam Industri Batubara
GAMBAR 1
SKEMA SUATU COAL PREPARATION
DEKAT TAMBANG BATUBARA
Batubara yang masih kasar atau ROM diangkut ke tempat penumpukan
menggunakan dumptruck atau bak berjalan, tergantung seberapa jauh letak
penumpukan dari tambang. Sebelum dibersihkan, batubara kasar tersebut digerus
dulu menjadi fraksi-fraksi dengan ukuran butir tertentu. Batubara ukuran 0,5 mm
sampai 30 mm biasanya dibersihkan dengan cara dense medium separation,
ukuran yang lebih kecil dari 0,5 mm dibersihkan dengan cara froth floatation dan
cyclone.
Berbagai cara pembersihan batubara berdasarkan pada kenyataan bahwa
pengotor mempunyai density atau berat jenis yang berbeda dengan density
batubara. Batubara yang mengandung sedikit sekali pengotor mempunyai density
1,2 relatif terhadap air. Serpih, batu pasir, dan lempung masing-masing
mempunyai density yang berkisar antara 2,0 sampai 2,6, sedangkan pirit
mempunyai density 4,9.
Jig washing merupakan cara paling tua, murah, dan masih banyak dipakai
walaupun proses yang berkembang kemudian seperti dense medium separation,
lebih efisien. Cara jig washing dapat dipakai unntuk membersihkan batubara
dengan rentang ukuran yang luas. Bagian pencucian terdiri dari suatu palung (bak)
dipenuhi air, dimana batubara bergerak sepanjang saringan. Getaran air mengocok
batubara dan membiarkannya mengendap membentuk lapisan-lapisan sesuai
dengan relative density-nya. Fraksi yang paling berat, yakni pengotor yang tidak
diinginkan, terpisah di dasar bak dan kemudian disingkirkan. Batubara di lapisan
bagian atas dilewatkan ke sebuah bendungan dan dipisahkan dari airnya pada
sebuah saringan pengocok.
Dense medium dibuat menggunakan suspensi magnetite dalam air,
proporsinya diatur menurut kperluan jumlah relative density yang diinginkan.
Cara ini digunakan untuk memisahkan bongkahan batubara dari pengotornya
dengan mengumpankan ROM ke dalam bath yang berisi media pekat dengan
density yang sama seperti density batubara yang diinginkan. Partikel batubara
akan mengambang (float) dan kotoran yang akan dibuang akan tenggelam (sink),
kemudian kedua fraksi ini dipisahkan secara mekanis.
Proses froth floatation untuk memisahkan fraksi batubara yang halus
(lebih kecil dari 0,5 mm) dari mineral, berdasarkan pada adanya perbedaan sifat
kimia permukaan antara partikel batubara itu dengan mineral. Partikel
disuspensikan dalam air, ditambah reagens yang akan melapisi partikel batubara,
sehingga menjadi anti air. Dengan melewatkan gelembung udara melalui bubur
tersebut, maka partikel batubara akan melekat pada gelembung yang naik dan
membentuk buih mengambang pada permukaan, sehingga dapat dipisahkan dari
partikel mineral yang masih ada dalam air. Buih yang mengandunng batubara
bersih kemudian dihilangkan airnya.
Batubara yang telah dibersihkan dari dense medium dan froth floatation,
kemudian disatukan di dalam stockpile batubara hasil pencucian yang kandungan
ash-nya seperti yang telah ditargetkan semula. Batubara ini siap untuk diangkut ke
pelabuhan muat. Batuan yang terpisah yang disebut reject diangkut secara
terpisah dari batubara hasil pencucian. Batubara hasil pencucian umumnya disebut
washed coal, meskipun ada yang menyebutnya sebagai clean coal. Variasi
persentase ash-ya tidak berfluktuasi tinggi sehingga cara pengambilan sampelnya
juga akan lebih teliti. Standar ASTM memberikan persyaratan pengambilan 15
increment per 1000 ton batubara yang diambil sampelnya, sedangkan untuk raw
coal persyaratan ini adalah 35 increment per 1000 ton.
Sebelum pusat pencucian batubara itu dibangun, diadakan dulu percobaan
di laboratorium untuk menentukan sifat-sifat pencucian dari batubara yang akan
dibersihkan. Pengujian itu disebut float and sink test. Setelah pusat pencucian
batubara dibangun, mulai dilakukan percobaan-percobaan terhadap kinerja
pencucian. Batubara hasil percobaan pencucian diuji di laboratorium apakah
batubara hasil pencucian telah memenuhi target atau masih perlu diperbaiki.
Misalnya batubara yang kandunganash-nya 15% dibersihkan sampai mencapai
target 11%. Kemudian dihitung jumlah batubara yang diperoleh kembali
(recovery, yield), dan jumlah yang harus dibuang (reject). Perlu diingat, apabila
kandungan ash turun, persentase parameter lainya akan naik, seperti total sulfur
dan calorific value.
Sebelum batubara bersih hasil dense medium dan cyclone ini ditumpuk,
terlebih dahulu dikerjakan pengujian untuk menentukan kualitasnya. Demikian
pula halnya denga reject.


DAFTAR PUSTAKA
Muchjidin. 2005. Pengendalian Mutu Dalama Indutri Batubara. Institut
Teknologi Bandung. Bandung

Prodjosoemarto, Partanto. 2000. Ensiklopedia Pertambangan Edisi 3. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral. Bandung