Anda di halaman 1dari 13

PRINSIP DAN CARA MEMPRODUKSI COAL BED METHANE

Cindy Dwilarasati (03111002008)


Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya, Jl Palembang-Prabumulih
Km.32 (OI) , Inderalaya , 30662
E-mail: cindydwilarasati@yahoo.co.id


ABSTRAK

Coal Bed Methane sekarang merupakan salah satu alternatif energi yang dapat dimanfaatkan, meskipun di
Indonesia pemanfaatannya belum optimal. Sebenarnya coal bed methane adalah kandungan gas metan pada batubara
yang selama ini dikenal sangat berbahaya bagi pekerja terutama untuk pekerja underground. Selain itu, gas metan ini
juga sangat berbahaya jika release ke udara. Mengingat potensi coal bed methane di Indonesia yang cukup besar yaitu
sekitar 453.3 TCF tersebar di 11 cekungan (Advanced Resources International.inc) maka dapat dimanfaatkan secara
optimal sebagai energi alternatif ditengah krisis sumber energi saat ini. Selain itu, melalui pemanfaatan coal bed
methane ini, akan mengurangi resiko bahaya yang ditimbulkan oleh gas metan batubara. Pada proses pemanfaatan
coal bed methane ini ada prinsip-prinsip yang harus yang diketahui. Kandungan metan tersimpan pada mikropores dan
cleat yang terdapat pada batubara. Gas metan dapat ada karena adanya tekanan akibat kandungan air yang
mengakibatkan gas metan tersebut tidak dapat bermigrasi ke tempat lain dan pada batubara itu sendiri. Prinsip-
prinsip inilah yang harus diketahui agar kita dapat menentukan metode produksinya. Metode produksi CBM yang
berkembang sejauh ini yaitu melalui drilling yaitu melakukan pemboran menuju coal seam dan kemudian melakukan
hydraulic fracturing. Pada produksi CBM ini, tahap awal akan lebih banyak menghasilkan air yang disebut dengan air
teproduksi. Air terproduksi ini lama kelamaan akan menurun kuantitasnya seiring produksi CBM yang meningkat
hingga mencapai nilai optimal sampai akhirnya akan menurun kembali.

Kata kunci : Coal Bed Methane, CBM, prinsip produksi, hydraulic fracturing

ABSTRACT

Coal Bed Methane is now one of the alternative energy can be used , although not optimal utilization in
Indonesia . Actually, coal bed methane is methane gas content of the coal that has been known to be very dangerous for
workers , especially for underground workers . In addition , methane is also very dangerous if released into the air .
Given the potential for coal bed methane in Indonesia is quite large at around 453.3 trillion cubic feet in 11 basins (
Advanced Resources International.Inc ) , it can be optimally used as an alternative energy source amid the current
energy crisis . In addition , through the use of coal bed methane , will reduce the risk of hazards posed by coal methane
gas . In the process of coal bed methane utilization of the existing principles that should be known . The content of
methane stored in mikropores and contained in the coal cleats . Methane gas can exist because of the pressure from the
water content of the resulting methane gas can not migrate to another place and the coal itself. These principles must
be known so that we can determine the method of production . CBM production methods evolved so far that drilling is
to drill through to the coal seam and then perform hydraulic fracturing . In the CBM production , the initial phase will
produce more water called the water teproduksi . The produced water will decrease over time as the quantity of CBM
production increased until it reaches the optimal value will decrease until eventually return .

Kata kunci : Coal Bed Methane, CBM, production principal, hydraulic fracturing


I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Batubara memiliki kemampuan menyimpan gas dalam jumlah yang banyak, karena
permukaannya mempunyai kemampuan mengadsorpsi gas. Meskipun batubara berupa benda
padat dan terlihat seperti batu yang keras, tapi di dalamnya banyak sekali terdapat pori-pori
yang berukuran lebih kecil dari skala mikron, sehingga batubara ibarat sebuah spon. Kondisi
inilah yang menyebabkan permukaan batubara menjadi sedemikian luas sehingga mampu
menyerap gas dalam jumlah yang besar. Jika tekanan gas semakin tinggi, maka kemampuan
batubara untuk mengadsorpsi gas juga semakin besar.
Gas yang terperangkap pada batubara sebagian besar terdiri dari gas metana,
sehingga secara umum gas ini disebut dengan Coal Bed Methane atau disingkat CBM.
Dalam klasifikasi energi, CBM termasuk unconventional energy
Coal Bed Methane (CBM) adalah gas bumi dengan komponen dominan metana yang
terbentuk secara alamiah dalam proses pembentukan batubara (coalification) dalam kondisi
terperangkap dan terserap dalam batubara. CBM sama seperti gas alam konvensional yang
kita kenal saat ini, namun perbedaannya adalah CBM berasosiasi dengan batubara sebagai
source rock dan reservoir rock-nya. Sedangkan gas alam yang kita kenal saat ini, walaupun
sebagian ada yang bersumber dari batubara, diproduksikan dari reservoir pasir, gamping
maupun rekahan batuan beku.
CBM telah dikenal lama oleh para pekerja tambang batubara terutama pada
penambangan bawah tanah (underground) sebagai gas tambang. Gas tambang ini sering kali
mencelakai pekerja tambang. Gas tambang / CBM ini dianggap sebagai penyebab ledakan
dan longsor di dalam tambang batubara.
Untuk itu, untuk meminimalisir akibat yang ditimbulkannya, gas methane ini mulai
dimanfaatkan sebagai sumber energi. Saat ini gas tambang ini dapat dimanfaatkan dan
diambil sebagai energi gas. Sehingga gas tambang ini tidak mencelakai para pekerja
tambang. Selain itu gas tambang metana yang keluar merusak atmosfer dapat dicegah.

1.2 Maksud dan Tujuan
Paper ini dibuat dengan maksud untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Coal Bed
Methane pada Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya.
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui bagaimana prinsip dan cara
melakukan produksi coal bed methane sebagai salah satu alternatif energi di Indonesia.
1.3 Batasan Masalah
Pembatasan masalah pada paper ini hanya pada prinsip-prinsip dan metode produksi
coal bed methane secara umum yang tengah berkembang terutama di Indonesia, bukan
membahas metode tertentu yang spesifik.

II. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang dilakukan oleh penulis yaitu dengan menggunakan metode
studi pustaka, yaitu dengan mengacu kepada literatur- literatur yang dapat diambil
informasinya yang berkaitan dengan paper ini, serta informasi melalui internet.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Indonesia merupakan salah satu Negara yang berpotensi untuk pengembangan CBM.
Perkiraan cadangan CBM Indonesia sekitar 453.3 TCF tersebar di 11 cekungan (Advanced
Resources International.inc). Saat ini ada beberapa perusahaan yang sedang melakukan
studi secara komprehensif untuk menghitung dan menganalisa potensi CBM di Sumatera
Utara, Sumatera Tengah, Ombilin, Barito, Tarakan Utara, Kutai, dan Berau.
3.1 Pembentukan Gas Metana Batubara
Gas metana batubara terbentuk dengan beberapa tahapan. Selama tahap awal
pembentukan batubara, metana biogenic terbentuk dari by-product respirasi bakteri. Bakteri
aerobic terlebih dahulu memetabolis oksigen yang tersisa pada sisa-sisa tanaman dan
sedimen sekitar. Namun, dalam lingkungan air tawar, produksi gas metana mulai terbentuk
setelah oksigen habis (Rice dan Claypool, 1981). Spesies bakteri anaerobic kemudian
mengurangi karbondioksida dan menghasilkan gas metana melalui pernapasan anerobic
(Rice dan Claypool, 1981). Ketika batubara mencapai temperature sekitar 1220 F, dan
setelah beberapa lama, gas metana biogenic terbentuk. Pada waktu yang hampir bersamaan,
sekitar dua pertiga kelembabannya dikeluarkan dan batubara telah mencapai tingkatan sub-
bituminous (Rightmire, 1984).
Setelah batubara telah melebihi temperature 1220 F berdasarkan gradient
geothermal, proses termogenik mulai membentuk tambahan gas berupa karbondioksida,
nitrogen, metana, dan air. Pada tahap ini, sejumlah hidrokarbon atau zat volatile meningkat
dan mencapai coal rank bituminous (Rightmire, 1984). Kemudian setelah temperature lebih
dari 2100 F, produksi gas karbondioksida juga meningkat dengan sedikit penambahan gas
metana. Produksi termogenik tidak melebihi produksi karbondioksida pada tingkatan
batubara volatile tinggi hingga mencapai temperature 250 F. Pembentukan maksimum gas
metana pada batubara bituminous terjadi pada temperature 300 F (Rightmire, 1984).
3.2 Karakter Batubara Untuk Produksi CBM
Tidak semua batubara dapat diproduksi kandungan gas metannya. Ada jenis batubara
tertentu yang memberikan produksi gas methan yang optimal. Adapun karakter batubara
yang baik untuk produksi coal bed methane adalah sebagai berikut :
1. Kandungan gas metan tinggi yaitu sekitar 15 m
3
30 m
3
per ton
2. Permeabilitas batubara yang baik yaitu sekitar 30 mD -30 mD.
3. Coal seam dangkal yaitu lapisan batubara < kedalaman 1000 m. Tekanan pada
kedalaman yang berlebih terkadang sangat tinggi dan telah mengalami penguapan. Hal
ini disebabkan tekanan tinggi menyebabkan adanya struktur cleat yang menyebabkan
penurunan permeabilitas.
4. Ranking batubara. Kebanyakan proyek CBM memproduksi gas dari batubara
bituminus, tetapi hal ini dapat mungkin terjadi di Antrasit. Semakin bertambah
kuantitasnya dari gambut hingga medium volatile bituminous rank, lalu berkurang
hingga antrasit. Jadi, dari low rank coal pun sudah punya CBM (umumnya kualitas
batubara di Indonesia kita adalah low rank). Tentu saja kuantitas gas akan semakin
banyak jika lapisan batubaranya semakin tebal.
3.3 Prinsip Produksi CBM
Pemanfaatan Coal Bed Methane untuk sumber energi akan melalui tahapan produksi
gas CBM. Terdapat tiga tahapan proses dalam produksi gas metana dari reservoir CBM.
Pertama adalah desorpsi metana dari micropore coal. Terjadinya desorpsi dimungkinkan
dengan penurunan tekanan reservoir melalui proses dewatering. Kedua, ketika tekanan
reservoir turun hingga mencapai tekanan desorpsi, metana akan berdifusi dalam matriks
hingga methane mencapai rekahan. Kemudian, setelah mencapai rekahan, methane akan
mengalir mengikuti hukum Darcy hingga mencapai lubang sumur. Proses produksi gas
metana ditunjukkan di Gambar 1.


Gambar 1. Mekanisme Produksi Metana

Seiring dengan menurunnya tekanan reservoir, produksi gas akan meningkat hingga
mencapai puncaknya hingga mencapai kestabilan. Setelah itu, produksi gas akan menurun.
Produksi gas diawal produksi disertai dengan produksi air yang besar hingga akhirnya
produksi air menurun drastis ketika produksi gas mencapai maksimum. Skema produksi
reservoir CBM dapat dilihat di Gambar 2.


Gambar 2. Skema Produksi Reservoir CBM
Pada umumnya produksi reservoir CBM dilakukan dengan menggunakan constraint
laju produksi air. Selain dipengaruhi oleh laju produksi air tersebut, waktu yang dibutuhkan
untuk mencapai produksi gas maksimum dipengaruhi oleh berbagai variabel antara lain luas
area, ketebalan, permeabilitas fracture, porositas matriks dan fracture, volume Langmuir,
serta tekanan reservoir. Berbagai variable tersebut nantinya akan disensitivity untuk melihat
pengaruhnya terhadap tercapainya t peak.
Cekungan yang mengandung CBM memiliki sifat yang sangat berbeda dengan
cekungan pasir (sand reservoir), dengan karakteristik sebagai berikut :
Metana tersimpan dalam matriks (pori-pori batubara) melalui proses adsorpsi. Metana
terkandung dalam bentuk mendekati cairan, membasahi sisi dalam pori-pori batubara.
Porositas matriks umumnya mengacu pada ukuran cleat (retakan sepanjang batubara),
dan bukan porositas batubara tersebut. Porositas ini umumnya sangat rendah jika
dibandingkan cekungan tradisional (kurang dari 3%).
Gas seringkali terperangkap (namun tidak selalu) dalam batubara, tersegel di dalam
batubara dengan kejenuhan air 100%. Cekungan ini harus dikeluarkan airnya sebelum
gas metana dapat terdesorpsi dari batubara.

Untuk memproduksi CBM, lubang sumur yang diperkuat dengan pipa baja digali
melalui lapisan batubara/coal seam (200-1500 meter di bawah permukaan). Dengan
berkurangnya tekanan di dalam lapisan batubara, akibat adanya lubang di permukaan atau
masuknya sejumlah kecil air pada coalbed, baik gas maupun air mengalir ke permukaan
melalui pipa. Gas yang keluar dari sumur ini kemudian dikirim ke stasiun kompresor
menuju jalur pipa gas alam. Air yang ikut keluar bersama gas ini dapat diinjeksikan kembali
ke formasi yang terisolasi, dimasukkan ke aliran air dalam pipa, atau digunakan untuk
irigasi. Air yang keluar umumnya mengandung natrium bikarbonat dan klorida.
Laju produksi sumur CBM sangat rendah, umumnya berkisar antara 300 ribu cubic
feet per hari (sekitar 0,1 m3/detik), dan umumnya memerlukan biaya tinggi. Profil produksi
sumur CBM umumnya memiliki karakteristik laju alir gas negative decline, karena
produksi CBM terjadi setelah air dipompakan dan gas mulai terdesorpsi dan mengalir.
Sumur CBM yang kering terlihat tidak berbeda dengan sumur pada umumnya, kecuali laju
alir gas yang lebih rendah dan senantiasa menurun.
Proses desorpsi metana mengikuti kurva isoterm Langmuir (kandungan gas vs.
Tekanan reservoir). Kurva isoterm ini dapat dideskripsikan secara analitik dengan volume
gas maksimum (pada tekanan tak terhingga), dan tekanan saat separuh dari gas yang ada
keluar dari batubara. Parameter tersebut (disebut volume Langmuir dan tekanan Langmuir)
merupakan sifat batubara, dan sangat bervariasi. Batubara di Alabama jika dibandingkan
batubara di Colorado dapat memiliki parameter Langmuir yang sangat berbeda, walaupun
memiliki sifat-sifat lainnya yang serupa.


Gambar 3. Kurva Langmuir

Karena produksi gas dilakukan pada cekungan batubara, maka perubahan tekanan
diduga dapat menyebabkan perubahan terhadap porositas dan permeabilitas batubara. Hal ini
dikenal juga sebagai matrix shrinkage/swelling (pengerutan/pemekaran matriks). Saat gas
terdesorpsi, tekanan gas di dalam pori berkurang, menyebabkan batubara mengkerut dan
mencegah aliran gas keluar batubara. Dengan mengkerutnya pori, maka seluruh matriks
akan mengkerut, yang akan memperbesar ruang untuk gas keluar melalui cleat, dan
meningkatkan laju alir gas.
Pada prinsipnya, sejumlah banyak cbm tersimpan dalam coal matrix secara
adsorption, yang arti mudahnya adalah 'gas menempel di dalam pori-pori coal matrix' (ada
juga sih cbm sebagai free gas atau gas yang tidak menempel pada coal matrix). Cara
terkandungnya cbm ini berbeda dengan cara tersimpannya conventional gas. conventional
gas tersimpan secara compressed (sebenarnya sama saja dengan free gas). Jadi, lapisan
batubara pada target eksplorasi cbm selain berperan sebagai reservoir, juga berperan sebagai
source rock (tidak ada migrasi seperti pada conventional gas).
CBM dapat keluar (desorption) dari coal matrix melalui cleat (bidang rekahan
dengan merendahkan pressure (air) pada target lapisan. Hubungan antara kuantitas cbm
yang tersimpan dalam coal matrix terhadap pressure dinamakan Kurva Langmuir Isotherm
(proses tersebut berada pada suhu yang konstan terhadap perubahan pressure). Tekanan
tersebut direndahkan dengan cara memompa air (dewatering). Jadi, sejumlah banyak air juga
akan diproduksikan dan ini menyebabkan kalau mengeksploitasi CBM akan berhadapan
dengan environmental challenge, karena banyaknya air yang diproduksi.
3.4 Produksi Coal Bed Methane (CBM)
Produksi CBM merupakan produksi yang mempertimbangkan beberapa faktor mulai
dari pengembangan permeabilitas rekahan dari cekungan ke cekungan, migrasi gas, maturasi
batubara, distribusi batubara, geologi struktur, pilihan penyempurnaan CBM, dan produksi
pengaturan air. Hal tersebut dimulai dengan pengembangan cleat (rekahan). Batubara
mengandung porositas tapi sangat sedikit akan permeabilitas. Sehingga dibutuhkan
permeabilitas sekunder seperti rekahan untuk memproduksi gas dari batubara tersebut.
Rekahan tersebut mengizinkan air, gas alam, dan fluida lainnya untuk migrasi dari porositas
matriks ke sumur produksi. Cleat adalah istilah untuk jaringan rekahan alami yang terbentuk
pada coal seam sebagai bagian dari pematangan batubara. Bentuk cleat sebagai hasil dari
dehidrasi batubara, tekanan lokal dan regional, dan overburden. Cleat menjadi pengontrol
permeabilitas batubara, kemudian di dalam eksploitasi berperan untuk memposisikan sumur
dan jaraknya satu sama lain.
Pada coal seam, gas terabsorpsi pada laminasi mikroskopis dan mikropori pada
maseral batubara. Gas alam akan migrasi melewati rekahan dan kekar-kekar yang
berhubungan. Kemudian terdapat faktor lain yang berpengaruh terhadap produksi CBM
yaitu pengembangan hidrokarbon dan fluida lainnya. Selama pematangan batubara mulai
dari gambut sampai antrasit, mereka mentransformasi fluida pada sumur. Low rank peat dan
lignit memiliki porositas tinggi, kandungan air tinggi, suhu biogenik rendah, dan sedikit
fluida lainnya. Sedangkan batubara tipe bituminous, airnya telah hilang, porositas menurun,
formasi biogenik metana menurun karena suhu naik di atas suhu rata-rata bagi bakteri. Pada
waktu yang sama, panas merusak senyawa organik kompleks untuk mengeluarkan metana
dan gas dengan fraksi yang lebih berat (etana dan yang lebih tinggi). Inorganik gas dapat
dihasilkan dari termal batubara yang hancur. Selama proses pematangan sampai antrasit,
metana yang rendah dihasilkan dan sedikit akan porositas dan sisa air pada matriks.
Teknologi CBM telah mengalami banyak perkembangan dalam 2 dekade terakhir,
akan tetapi apapun yang telah didapatkan dan dipelajari pada masa eksplorasi, karakteristik
dan management reservoir dalam konteks sumber cadangan tetap harus menjadi
pertimbangan utama. Lapangan CBM memiliki karakter yang berbeda-beda dan begitu pula
pengelolaannya. Teknik pemboran konvensional untuk gas alam umumnya bisa
diaplikasikan untuk hampir semua CBM. Sebelum pada tahap komersial, CBM dapat
diproduksikan dimana pengetesan sumur dapat dilakukan pada 4 atau 5 sumur pertama.


Gambar 4. Pemboran horizontal

Pemboran CBM umumnya hampir sama dengan pemboran untuk minyak dan gas.
Bahkan dalam beberapa daerah , peralatan pemboran yang dipakai hampir sama dengan
pemboran untuk sumur air. Selain itu, dibeberapa tempat pemboran berarah (directional
drilling) dan pemboran horizontal diterapkan untuk mengoktimalkan produksi dan juga
tergantung daerah atau lapangan CBM-nya.
Pemboran horizontal sekarang ini sedang dirintis untuk pemboran CBM. Pemboran
horizontal ini dilakukan dengan cara mengebor beberapa ratus kaki secara vertikal kemudian
dibelokkan secara horizontal sampai kurang lebih 4000 ft.
Hydraulic fracturing atau lebih dikenal sebagai Fracturing adalah suatu teknik untuk
meningkatkan luas area permukaan dari batubara. Sistem fluida dan additive yang bisa
digunakan pada sumur-sumur konvensional tidak cocok digunakan untuk sumur-sumur
CBM. Hal ini dikarenakan lapisan batubara mempunyai katakteritik yang unik dan oleh
karenanya dibutuhkan material yang spesial. Secara umum banyak cara untuk
mengembangkan CBM. Teknologi produksi termasuk pengeboran konvensional, pemboran
sebelum penambangan dan pemboran horizontal seperti yang dijelaskan sebelumnya.
Beberapa keberhasilan dalam mengembangkan CBM telah dicapai ketika suatu pemboran
dikoordinasikan dengan pertambangan batubara. Di mana sumur-sumur dibor sampai
lapisan batubara (coal bed) atau sedikit di atasnya dimana mungkin gas akan terproduksi
pada saat pemboran berlangsung. Batubara kemudian ditambang dan kemungkianan lapisan
atasnya akan runtuh yang membuat lubang besar dinamakan gob yang mungkin akan
berhubungan dengan lapisan batubara di atas lapisan utamanya. Gas yang terakumulasi di
gob kemudian dipompa melalui sumur-sumur yang ada.


Gambar 5. Bidang Rekahan di Bidang Batubara



Gambar 6. Skema produksi gas dan air
pada tipe sumur CBM (USGS, 2000)






Gambar 7. Tipe Pengembangan CBM

Faktor lainnya adalah metode penyempurnaan CBM. Sumur CBM dikomplitkan
dengan beberapa jalan tergantung pada tipe batubara dan fluidanya. Setiap tipe batubara
(sub-bituminous, bituminous, antrasit) menawarkan cara produksinya masing-masing sesuai
dengan rekahan alami dan kompetensi dari coal seam. Contohnya saja, sub-bituminous lebih
lembut dan memiliki kompetensi coal seam yang rendah dibandingkan dengan bituminous,
sehingga secara tipe coal seam-nya produksi dilakukan dengan cara konvensional yaitu
sumur vertikal. Sedangkan batubara dengan peringkat tinggi memiliki kompetnsi yang
tinggi, sehingga dapat dilakukan dengan open pit. Namun untuk teknik yang banyak
digunakan dengan horizontal drain-hole.



Gambar 8. CBM Drilling Example (COAL: Ancient Gift Serving Modern Man; American Coal
Foundation, 2002).


IV. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan materi di atas adalah
sebagai berikut :
1. Potensi Coal Bed Methane di Indonesia cukup besar yaitu sekitar 453.3 TCF tersebar di
11 cekungan, dan dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif untuk memenuhi
kebutuhan energi nasional.
2. Pemanfaatan coal bed methane ini tidak hanya menguntungkan dari segi energi
alternatif, tapi dapat mengurangi resiko bahaya zat metan bagi pekerja dan lingkungan.
3. Pada prinsipnya, coal bed methane terkandung pada batubara yaitu dalam micropores
dan cleats batubara. Gas metan ini tercebak didalam batubara karena adanya tekanan air
yang membuat gas metan tidak dapat keluar dan bermigrasi.
4. Produksi coal bed methane dilakukan dengan cara pemboran (drilling) menuju coal
seam yang akan diambil gas metannya. Karena lapisan batubara mempunyai porositas
dan permeabilitas yang rendah, maka perlu dilakukan hydraulic fracturing pada coal
seam untuk mempermudah gas metan keluar.
5. Pada awal produksi, akan lebih banyak didapatkan air yang disebut sebagai air
terproduksi. Hal ini dilakukan untuk mengeluarkan air agar tekanannya menjadi rendah
sehingga jika air sudah keluar, maka kemudian gas metan dapat diproduksi ke
permukaan.
DAFTAR PUSTAKA

[1] Yuliana, Neni ; Sukarno ; Pudjo & Yasutra, Mega (2009). Kelakuan Reservoir CBM Sebelum
Mencapai Puncak Produksi. JTM, 16(4), 249-260.
[2] Coal Bed Methane (2013)
( http://triranipujiastuti.blogspot.com/2013/02/coal-bed-methane.html), diakses 6 Mei 2014
[3] Menggali Potensi Coal Bed Methane (CBM) Sebagai Sumber Energi Masa Depan (2012)
(http://oilgas-training.blogspot.com/2012/09/coal-bed-methane-cbm.html), diakses 6 Mei
2014
[4] Apa itu CBM (Coal Bed Methane) ? (2013)
(http://suarageologi.blogspot.com/2013/12/apa-itu-cbm-coal-bed-methane.html), diakses 6
Mei 2014
[5] CBM (Coal Bed Methane), Sumber Energi Masa Depan (2011)
(http://zulfikariseorengineer.blogspot.com/2011/04/cbm-coal-bed-methane-sumber-energi-
masa.html), diakses 6 Mei 2014
[6] Ertekin, T (2006). Engineering of Coalbed Methane Reservoir. ITB Presentation, Bandung.