Anda di halaman 1dari 3

SKRINING FITOKIMIA

Skrining fitokimia merupakan tahap pendahuluan dalam penelitian fitokimia. Secara


umum, dapat dikatakan bahwa metode skrining fitokimia sebagian besar merupakan reaksi
pengujian warna dengan suatu pereaksi warna. Salah satu hal penting yang berperan dalam
prosedur skrining fitokimia adalah pemilihan pelarut untuk ekstraksi. Sering muncul kesulitan
jika pemilihan pelarut hanya didasarkan pada ketentuan derajat kehalusan suatu senyawa yang
diteliti secara umum. Hal tersebut disebabkan karena hadirnya senyawa-senyawa dari golongan
lain dalam tanaman tersebut yang akan berpengaruh terhadap proses kelarutan senyawa yang
diinginkan. Setiap tanaman tentunya memiliki komposisi kandungan yang berbeda-beda
sehingga kelarutan suatu senyawa juga tidak bisa ditentukan secara pasti. Kesulitan lain pada
proses skrining fitokimia adalah adanya false-positive result. False-negatif result juga harus
diwaspadai apakah benar-benar senyawa yang diteliti tidak ada dalam sampel atau hasil yang
negatif itu disebabkan karena prosedur skrining yang digunakan tidak sesuai atau tidak tepat
(Kristanti dkk., 2008).
SKRINING FITOKIMIA
Skrining fitokimia merupakan langkah awal yang dapat membantu untuk memberikan
gambaran tentang golongan senyawa yang terkandung dalam tanaman yang sedang diteliti serta
ada atau tidaknya senyawa kimia tertentu dalam tumbuhan tersebut yang dapat dikaitkan dengan
aktivitas biologinya. Secara umum dapat dikatakan bahwa metodenya sebagian besar merupakan
reaksi pengujian warna dengan suatu pereaksi warna. Uji skrining fitokimia senyawa golongan
alkaloid dilakukan dengan menggunakan metode Culvenor dan Fitzgerald (Kristanti dkk., 2008).
Penambahan beberapa pereaksi warna pada masing-masing larutan uji seperti pereaksi
Meyer, pereaksi Dragendorff dan pereaksi Wagner akan ditandai dengan terbentuknya endapan
putih (Mayer) dan timbulnya endapan berwarna coklat kemerahan (Dragendorff dan Wagner)
pada hasil yang positif alkaloid. Kesulitan dalam skrining fitokimia adalah adanya reaksi positif
palsu (false-positive resulte), dimana komposisi campuran senyawa yang terkandung dalam
tanaman dapat memberikan hasil positif meskipun senyawa yang diuji tidak terdapat dalam
tanaman tersebut (Kristanti dkk, 2008).
SKRINING FITOKIMIA
Metode skrining fitokimia merupakan reaksi pengujian warna dengan suatu pereaksi
warna. Skrining fitokimia merupakan langkah awal yang dapat membantu untuk memberikan
gambaran tentang golongan senyawa yang terkandung dalam tanaman yang sedang diteliti.
Metode yang digunakan pada skrining fitokimia harus memenuhi beberapa kriteria yaitu
sederhana, cepat, hanya membutuhkan peralatan sederhana, dan memiliki batas limit deteksi
yang cukup lebar (dapat mendeteksi keberadaan senyawa meski dalam konsentrasi yang cukup
kecil) (Markham, 1988). Kesulitan pada proses skrining fitokimia adalah adanya false-positive
result dan false-negative result.. Jadi komposisi campuran senyawa yang terkandung dalam
tanaman dapat memberikan hasil positif meskipun senyawa yang diuji tidak terdapat dalam
tanaman tersebut atau pun memberikan hasil negative, walupun senyawa yang diteliti sebenarnya
terdapat didalam sampel (Markham, 1988). Pelarut yang digunakan pada metode ini adalah eter
P, asam asetat anhidrat, asam sulfat pekat, HCL 2N, asam encer, pereaksi dragendroff dan
pereaksi mayer

PEMBAHASAN KAKAK KELAS
Pada praktikum ini dilakukan skrining fitokimia terhadap ekstrak daun seledri hasil
maserasi dengan uji flavonoid, uji saponin, dan uji alkaloid. Untuk uji flavonoid dilakukan
dengan metode KLT. Uji ini dimulai dengan melarutkan ekstrak kental dengan metanol. Fase
diam berupa plat KLT Aluminium Silika Gel GF254 yang dipotong dengan ukuran 5 cm x 7 cm
dan fase gerak berupa n-heksana : etil asetat (5:1 v/v) sebanyak 10 mL. Fase gerak disiapkan
dengan memipet sebanyak 8,3 mL n-heksana dan 1,67 etil asetat kemudian dimasukkan ke dalam
beaker glass lalu diaduk hingga larut. Fase gerak selanjutkan dimasukkan ke dalam chamber dan
dilakukan penjenuhan chamber dengan menggunakan fase gerak. Ekstrak yang sudah dilarutkan
dengan metanol kemudian ditotolkan sebanyak 2 L pada plat KLT yang sudah dipotong.
Setelah penotolan, plat dimasukkan ke dalam chamber yang sudah dijenuhkan dan dilakukan
pengelusian sampai tanda batas atas plat KLT. Proses elusi berlangsung selama 6 menit 13 detik.
Setelah proses elusi, plat kemudian diangkat dan diangin-anginkan.
Selanjutnya dilakukan pengamatan dibawah sinar UV 366. Hasil yang diperoleh yakni
larutan yang berflouresensi kuning intesif. Hal ini sesuai dengan pustaka dimana setelah diamati
pada sinar UV 366, larutan berflouresensi kuning intensif, menunjukkan adanya flavonoid
(Depkes RI, 1989). Kemudian plat diuapkan dengan NH3 dan diamati kembali dibawah sinar
UV 366. Diperoleh spot berwarna kuning dengan harga Rf 0,64.
Selanjutnya dilakukan uji untuk saponin. 10 mL larutan uji dimasukkan ke dalam
tabung reaksi kemudian dikocok selama 10 detik. Saponin diberi nama demikian karena sifatnya
menyerupai sabun (bahasa Latin Sapo berarti Sabun). Saponin adalah senyawa aktif
permukaan yang kuat dan menimbulkan busa, jika dikocok dengan air (Robinson, 1995). Pada
uji saponin kali ini tidak terbentuk busa setinggi 1-10 cm yang stabil selama 10 menit sehingga
tidak menunjukkan hasil positif adanya saponin. Untuk uji alkaloid dimulai dengan
menguapakan sebanyak 2 ml larutan ekstrak uji dan residu yang diperoleh dilarutkan dengan 5
ml HCl 2 N dimana HCl 2 N berfungsi sebagai larutan blanko. Larutan kemudian dibagi dalam 3
tabung reaksi. Tabung pertama larutan uji ditambahkan dengan dengan 3 tetes asam encer,
dihasilkan larutan bening dengan warna yang tidak berubah. Pada tabung kedua larutan uji
ditambahkan dengan 3 tetes pereaksi dragendroff, dihasilkan larutan berwarna kuning dan tidak
terbentuk endapan. Untuk uji alkaloid dengan penambahan pereaksi dragendroff, hasil positif
adanya alkaloid seharusnya ditunjukkan dengan terbentuknya endapan coklat yang berubah
menjadi kuning, namun pada praktikum kali ini tidak diperoleh adanya pembentukan endapan
sehingga dapat dikatakan hasil uji alkaloid pada praktikum kali ini negatif. Pada tabung ketiga
larutan uji ditambahkan dengan 3 tetes perekasi mayer, dihasilkan larutan bening dan tidak
terbentuk endapan.
Dari ketiga uji dalam skrining fitokimia yang dilakukan, hasil positif hanya terjadi pada
uji flavonoid sehingga dapat dikatakan bahwa ekstrak daun seledri hasil maserasi hanya positif
mengandung flavonoid.