Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH KUDA RENGGONG

A. Pendahuluan
Kuda Renggong merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat yang
berasal dari Sumedang. Kata "renggong" di dalam kesenian ini merupakan metatesis
dari kata ronggeng yaitu kamonesan (bahasa Sunda untuk "ketrampilan") cara
berjalan kuda yang telah dilatih untuk menari mengikuti irama musik
terutama kendang, yang biasanya dipakai sebagai media tunggangan dalam arak-
arakan anak sunat.
Sejarah
Menurut tuturan beberapa seniman, Kuda Renggong muncul pertama kali
dari desa Cikurubuk, Kecamatan Buah Dua, Kabupaten Sumedang. Di dalam
perkembangannya Kuda Renggong mengalami perkembangan yang cukup baik,
sehingga tersebar ke berbagai desa di beberapa kecamatan di luar Kecamatan Buah
Dua. Dewasa ini, Kuda Renggong menyebar juga ke daerah lainnya di luar
Kabupaten Sumedang.
Bentuk kesenian
Sebagai seni pertunjukan rakyat yang berbentuk seni helaran (pawai,
karnaval), Kuda Renggong telah berkembang dilihat dari pilihan bentuk kudanya
yang tegap dan kuat, asesoris kuda dan perlengkapan musik pengiring, para penari,
dll., dan semakin hari semakin semarak dengan pelbagai kreasi para senimannya.
Hal ini tercatat dalam setiap festival Kuda Renggong yang diadakan setiap tahunnya.
Akhirnya Kuda Renggong menjadi seni pertunjukan khas Kabupaten Sumedang.
Kuda Renggong kini telah menjadi komoditi pariwisata yang dikenal secara nasional
dan internasional.
Dalam pertunjukannya, Kuda Renggong memiliki dua kategori bentuk
pertunjukan, antara lain meliputi pertunjukan Kuda Renggong di desadan pada
festival.




B. Pertunjukan di pemukiman
Pertunjukan Kuda Renggong dilaksanakan setelah anak sunat selesai
diupacarai dan diberi doa, lalu dengan berpakaian wayang tokohGatotkaca, dinaikan
ke atas kuda Renggong lalu diarak meninggalkan rumahnya berkeliling, mengelilingi
desa.
Musik pengiring dengan penuh semangat mengiringi sambung menyambung dengan
tembang-tembang yang dipilih, antara lain Kaleked,Mojang Geulis, Rayak-rayak, Ole-
ole Bandung, Kembang Beureum, Kembang Gadung, Jisamsu, dll. Sepanjang jalan
Kuda Renggong bergerak menari dikelilingi oleh sejumlah orang yang terdiri dari
anak-anak, juga remaja desa, bahkan orang-orang tua mengikuti irama musik yang
semakin lama semakin meriah. Panas dan terik matahari seakan-akan tak
menyurutkan mereka untuk terus bergerak menari dan bersorak sorai memeriahkan
anak sunat. Kadangkala diselingi dengan ekspose Kuda Renggong menari, semakin
terampil Kuda Renggong tersebut penonton semakin bersorak dan bertepuk tangan.
Seringkali juga para penonton yang akan kaul dipersilahkan ikut menari.
Setelah berkeliling desa, rombongan Kuda Renggong kembali ke rumah anak sunat,
biasanya dengan lagu Pileuleuyan (perpisahan). Lagu tersebut dapat dilantunkan
dalam bentuk instrumentalia atau dinyanyikan. Ketika anak sunat selesai diturunkan
dari Kuda Renggong, biasanya dilanjutkan dengan acara saweran (menaburkan
uang logam dan beras putih) yang menjadi acara yang ditunggu-tunggu, terutama
oleh anak-anak desa.

C. Pertunjukan festival
Pertunjukan Kuda Renggong di Festival Kuda Renggong berbeda dengan
pertunjukan keliling yang biasa dilakukan di desa-desa. Pertunjukan Kuda Renggong
di festival Kuda Renggong, setiap tahunnya menunjukan peningkatan, baik jumlah
peserta dari berbagai desa, juga peningkatan media pertunjukannya, asesorisnya,
musiknya, dll. Sebagai catatan pengamatan, pertunjukan Kuda Renggong dalam
sebuah festival biasanya para peserta lengkap dengan rombongannya masing-
masing yang mewakili desa atau kecamatan se-Kabupaten Sumedang dikumpulkan
di area awal keberangkatan, biasanya di jalan raya depan kantor Bupati, kemudian
dilepas satu persatu mengelilingi rute jalan yang telah ditentukan panitia (Diparda
Sumedang). Sementara pengamat yang bertindak sebagai Juri disiapkan menilai
pada titik-titik jalan tertentu yang akan dilalui rombongan Kuda Renggong.
Dari beberapa pertunjukan yang ditampilkan nampak upaya kreasi masing-
masing rombongan, yang paling menonjol adalah adanya penambahan jumlah Kuda
Renggong (rata-rata dua bahkan empat), pakaian anak sunat tidak lagi hanya tokoh
Wayang Gatotkaca, tetapi dilengkapi dengan anak putri yang berpakaian seperti
putri Cinderella dalam dongeng-dongeng Barat. Penambahan asesoris Kuda,
dengan berbagai warna dan payet-payet yang meriah keemasan, payung-payung
kebesaran, tarian para pengiring yang ditata, musik pengiring yang berbeda-beda,
tidak lagi Kendang Penca, tetapi Bajidoran, Tanjidor, Dangdutan, dll. Demikian juga
dengan lagu-lagunya, selain yang biasa mereka bawakan di desanya masing-
masing, sering ditambahkan dengan lagu-lagu dangdutan yang sedang popular,
seperti Goyang Dombret, Pemuda Idaman, Mimpi Buruk, dll. Setelah berkeliling
kembali ke titik keberangkatan.

D. Perkembangan
Dari dua bentuk pertunjukan Kuda Renggong, jelas muncul musik pengiring
yang berbeda. Musik pengiring Kuda Renggong di desa-desa, biasanya cukup
sederhana, karena umumnya keterbatasan kemampuan untuk memiliki alat-alat
musik (waditra) yang baik. Umumnya terdiri
dari kendang, bedug, goong, terompet, genjring kemprang, ketuk, dan kecrek.
Ditambah dengan pembawa alat-alat suara (speakrer toa, ampli sederhana, mike
sederhana). Sementara musik pengiring Kuda Renggong di dalam festival, biasanya
berlomba lebih "canggih" dengan penambahan peralatan musik terompet Brass,
keyboard organ, simbal, drum, tamtam, dll. Juga di dalam alat-alat suaranya.

E. Makna
Makna yang secara simbolis berdasarkan beberapa keterangan yang berhasil
dihimpun, diantaranya
Makna spiritual: semangat yang dimunculkan adalah merupakan rangkaian upacara
inisiasi (pendewasaan) dari seorang anak laki-laki yang disunat. Kekuatan Kuda
Renggong yang tampil akan membekas di sanubari anak sunat, juga pemakaian
kostum tokoh wayang Gatotkaca yang dikenal sebagai figur pahlawan;
Makna interaksi antar mahluk Tuhan: kesadaan para pelatih Kuda Renggong dalam
memperlakukan kudanya, tidak semata-mata seperti layaknya pada binatang
peliharaan, tetapi memiliki kecenderungan memanjakan bahkan memposisikan kuda
sebagai mahluk Tuhan yang dimanjakan, baik dari pemilihan, makanannya,
perawatannya, pakaiannya, dan lain-lain;
Makna teatrikal: pada saat-saat tertentu di kala Kuda Renggong bergerak ke atas
seperti berdiri lalu di bawahnya juru latih bermain silat, kemudian menari dan bersilat
bersama. Nampak teatrikal karena posisi kuda yang lebih tampak berwibawa dan
mempesona. Atraksi ini merupakan sajian yang langka, karena tidak semua Kuda
Renggong, mampu melakukannya;
Makna universal: sejak zaman manusia mengenal binatang kuda, telah menjadi bagian
dalam hidup manusia di pelbagai bangsa di pelbagai tempat di dunia. Bahkan kuda
banyak dijadikan simbol-simbol, kekuatan dan kejantanan, kepahlawanan,
kewibawaan dan lain-lain.









F. Penutup
Dengan telah dibuatnya makalah tentang Seni Kudarenggong penyusun
mengharapkan agar kesenian tradisional dapat dilestarikan lebih dalam lagi, selain
itu kami harapkan para pelajar yang membacanya dapat lebih memaknai arti
kebudayaan dan kekayaan akan kesenian daerah yang diwariskan secara turun-
temurun selain itu kami harapkan pembaca dapat membuat makalah yang lebih baik
dari yang kami buat.
Demikianlah makalah ini kami buat, kami menyadari makalah ini masih
banyak kekurangan, maka kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca,
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, begitu pula kami sebagai
penyusun.


PATA GOLD AWARD pada tahun 1987
dan sampai sekarang sering menjuarai festival kuda renggong yang diadakan oleh
pemerintah daerah sumedang
Kuda renggng harisbaya yang di pimpin oleh bapak awan ini memang merupakan
kesenian yang cukup di segani di daerahnya dan sering tampil di TV serata panggilannya
sampai keluar jawa
Biasanya kesenian kudarenggong ini di panggil untuk mengisi acara resepsi KHITANAN
dengan Menambahkan Kesenian kuda renggong Acara Resepsi Khitanan yg anda adakan
akan lebih Meriah dan lebih marak
Kesenian kuda renggong merupakan kesenian asli sumedang . Kesenian ini
beralamat: Kampung bosok ,Desa Sukagalih no: 118,kode pos 45351 ,Kecamatan
sumedang selatan,Kabupaten Sumedang,Propinsi Jawa barat,Bila anda berminat untuk
memeriahkan acara resefsi khitanan anak saudara . HUBUNGI: Rusmiati No
telp:081320520454 ...........alamat Sumedang, Yaya Karmaya No Telp:
02136934161..............alamat tangerang


Sekilas Tentang Kuda Renggong
Posted on 11 Januari 2012
Sumber gambar :
voiceofbandung.com
Liburan sekolah yang baru saja usai banyak dimanfaatkan oleh banyak
orang tua untuk mengadakan sunatan / khitanan anak mereka dengan
alasan sedang libur sekolah. Klinik khitan dan tukang sunat yang
mempunyai banyak sebutan seperti bengkong, paraji sunat, mantri
sunat dll mendapat order yang cukup tinggi disaat liburan seperti ini.
Ditempat asal akang yaitu Sumedang, salah satu pihak yang mendapat
banyak order disaat seperti ini adalah grup kesenian Kuda
Renggong yaitu salah satu kesenian tradisional yang berasal dari
Sumedang sendiri.
Kuda renggong mulai dikenal pada masa pemerintahan Pangeran Arya
Surya Atmadja (1882-1919) menjadi bupati Sumedang.
Kata renggong dalam bahasa sunda berarti gerakan tari berirama dengan
ayunan langkah kaki yang diikuti oleh gerakan kepala dan leher yang
tetap. Kata ini juga merupakan metatesis dari Ronggeng yang berarti
pertunjukkan tari yang dilakukan oleh perempuan di halaman rumah saat
bulan bersinar.
Tokoh penting dalam permulaan kesenian kuda renggong ini bernama
Sipan bin Midin yang lahir pada tahun 1870 di dusun Cikurubuk,
kecamatan Buah Dua, kabupaten Sumedang. Sejak kecil Sipan suka
mengamati tingkah laku kuda dan membedakan langkah kaki kuda
menjadi 4 macam,yaitu :
A. Adean adalah gerak lari kuda melintang seperti gerak lari kepinggir
seperti ayam yang sedang berahi.
B. Torolong adalah gerak lari kuda dengan langkah kaki pendek-pendek
dan cepat.
C. Derap / jogrog adalah langkah kaki kuda biasa yang artinya tidak lari
namun gerakannya cepat.
D. Congklang adalah gerak lari cepat seperti gerakan kuda pacu dimana
kaki kanan dan kiri kuda bergerak serempak kearah depan.
Sipan melatih kuda dengan cara kendali kuda dipegang oleh dua orang di
kiri kanan, seorang mencambuk dari belakang sehingga kuda meronta
namun tertahan tali kendali. Latihan tersebut biasanya berlangsung
selama 3 bulan dengan iringan musik. Dengan demikian kuda menjadi
terbiasa setiap mendengar pengiring ia akan bergerak-gerak menari. Kuda
hasil pelatihan Sipan menjadi terkenal dan banyak dicari orang yang
kemudian dikenal dengan sebutan kuda renggong.
Kesenian kuda renggong akhirnya menjadi kesenian rakyat yang tumbuh
dan berkembang di Kabupaten Sumedang. Saat ini hampir di setiap
kecamatan mempunyai perkumpulan permainan kuda renggong. Selain
digunakan pada acara khitanan kuda renggong juga sering dipakai untuk
menyambut para pejabat yang turun ke daerah, juga digunakan pada
perayaan hari jadi Kabupaten dan setiap hari Kemerdekaan. Dengan
banyaknya perkumpulan kuda renggong maka sering diadakan festival
untuk memilih mana kuda renggong terbaik atau perkumpulan terbaik.
Semakin sering kuda renggong memenangi suatu festival maka otomatis
harga jualnya akan melambung tinggi.
Jalannya pertunjukkan permainan kuda renggong terdiri atas beberapa
adegan perkelahian antara manusia (pesilat) dengan kuda, antara lain :
1. Kuda berdiri diatas kedua kaki belakang, kaki depan kedua-duanya
bergerak seperti posisi akan mencakar diiringi lagu kidung.
2. Anak pesilat diinjak perutnya oleh kuda.
3. Anak pesilat dengan posisi terlentang diinjak kepala bagian jidatnya
oleh kedua kaki depan kuda.
4. Leher anak pesilat ada diantara kedua kaki depan kuda dalam posisi
terlentang kemudian berguling-guling.
5. Anak pesilat bermain silat diatas punggung kuda, juga berdiri diatas
kedua kaki belakang kemudian kuda berputar-putar.
Atraksi ini akan berlangsung sekitar satu jam kemudian anak sunat /
khitan dinaikkan keatas kuda untuk kemudian diarak keliling kampung
lengkap dengan pengiring yang memainkan musik juga pengiring yang
bertugas menari-nari didepan kuda selama arak-arakan berlangsung.
Selama arak-arakan inilah kuda memamerkan keahliannya menari sambil
berjalan dengan mengikuti iringan musik. Musik pengiring kuda renggong
didominasi oleh suara terompet diselingi suara juru sinden. Alat pengiring
lainnya mirip dengan perangkat gamelan hanya lebih sedikit jumlahnya.
Pada awalnya lagu-lagu yang diperdengarkan seperti Kembang Gading,
Kembang Beureum, Manuk Dadali, Adem Ayem, Daun Puspa,
Solempang Koneng yang berirama cepat mirip musik dangdut tetapi
seiring waktu lagu-lagu tersebut mulai ditinggalkan dan beralih dengan
lagu-lagu populer yang biasa kita dengar ditelevisi saat ini. Hanya lagu
Kembang Gadung dan Kembang Beureum yang masih selalu dipakai
karena lagu tersebut dianggap sebagai kidung persembahan untuk para
leluhur.
Pertunjukkan kuda renggong ini biasanya dilakukan sehari sebelum
khitanan dilaksanakan. Anak yang saat di sunat dirayakan dengan
pertunjukkan kuda renggong ini biasanya mempunyai kenangan dan
kebanggan tersendiri diantara anak lainnya. Kenangan yang bisa terbawa
hingga dewasa dan tidak bisa dilupakan. Akang sendiri saat disunat tidak
dirayakan dengan pertunjukkan kuda renggong mungkin karena orang tua
sedang tidak mempunyai uang untuk mengundangnya. Akang adalah anak
ketiga dari lima bersaudara yang semuanya laki-laki, dari kelima anak
yang mengadakan pertunjukan kuda renggong saat dikhitan adalah anak
pertama, kedua dan terakhir sehingga walaupun saat dikhitan akang tidak
naik kuda renggong tetapi bisa nebeng saat kakak dan adik disunat.
Sumber pustaka : Permainan rakyat jawa barat, oleh:
Drs.Sunatra S.H. MS, Drs Endang Hermawan, Asep Wahyu, FS.
BA


KUDARENGGONG HARISBAYA
Paguyuban kesenian kudarenggong harisbaya merupakan kesenian yang mempunyai
banyak ide dan inovasi
Dalam bebera bulan ini kesenian ini terus menggali agar menjadikan kesenian yang
paling bergengsi di antara kesenian kesenian kudarenggong lainnya
Seiring dengan kemajuan jaman dan terus bertambahnya kelompok seni Kuda Renggong
atau Kuda Silat yang jumlahnya di Kabupaten Sumedang sudah mencapai lebih dari 160
grup atau kelompok, ibarat jamur di musim hujan, jumlah komunitas penyenang maupun
pendukung salah satu kelompok atau grup seni Kuda Renggong terus bertambah

Biasanya kelompok pendukung atau komunitas seni Kuda Renggong maupun Kuda Silat
akan menggunakan nama kelompok atau grup seni Kuda Renggong ataupun Kuda Silat
favorit mereka. Keberadaan mereka membuat kelompok atau grup sangat terbantu
karena keberadaan komunitas membuat pemilik grup atau kelompok Kuda Renggong
tidak terlalu sulit untuk men cari yang mau
menanggap mereka

Untuk mencapai pendukung yang banyak kesenian ini harus selalu menjadi yang terbaik
dalam
Dalam berbagai aspek terutama inovasi di bidang demontrasi
Dan dibidang instrument dan peralatan peralatan nya
Sekarang ini kesenian kudarenggong Harisbaya yang di ketuai oleh bapak Awan Irawan
telah menambahkan alat alat baru untuk mendukung kesenian ini supaya lebih meriah
dan ramai
Dan tidak mengecewakan pelanggan nya .
Alat alat yang baru ini adalah sebuah sound system mini yang di dorong atau di naikan
di sebuah mobil pik up yang posisinya di belakang para penabuh instrument
Alat ini di beri power dari generator listrik mini , jadi suara musik nya pun lebih nyaring
dan menggema .
Dengan menambah kan sound system mini yg di beri power generator kecil ini alat alat
musik bisa dipareasikan dengan menambah gitar listrik dan keybort .
Suaranya pun semakin asik didengar dan bisa dipareasikan antara musik Dangdut ,
musik bajidoran, dan musik khas kudarenggong.

TUJUAN KESENIAN KUDA RENGGONG
PHOTO KUDARENGGONG HARISBAYA SUMEDANG

Sebagai seni pertunjukan rakyat yang berbentuk seni helaran (Pawai ,karnaval), Kuda
Renggong telah berkembang dilihat dari pilihan bentuk kudanya yang tegap dan kuat,
asesoris kuda dan perlengkapan musik pengiring, para penari, dll., dan semakin hari
semakin semarak dengan pelbagai kreasi para senimannya. Hal ini tercatat dalam setiap
festival Kuda Renggong yang diadakan setiap tahunnya. Akhirnya Kuda Renggong
menjadi seni pertunjukan khas Kabupaten Sumedang. Kuda Renggong kini telah menjadi
komoditipariwisata yang dikenal secara nasional dan internasional.Dalam
pertunjukannya, Kuda Renggong memiliki dua kategori bentuk pertunjukan, antara lain
meliputi pertunjukan Kuda Renggong di desa dan pada festival
Pertunjukan di pemukiman
Pertunjukan Kuda Renggong dilaksanakan setelah anak sunat selesai diupacarai dan
diberi doa, lalu dengan berpakaian wayang tokoh Gatotkaca, dinaikan ke atas kuda
Renggong lalu diarak meninggalkan rumahnya berkeliling, mengelilingi desa.
Musik pengiring dengan penuh semangat mengiringi sambung
menyambung dengan tembang-tembang yang dipilih, antara lain Rayak-rayak, Kembang
Beureum, Kembang Gadung, dll. Sepanjang jalan Kuda Renggong bergerak menari
dikelilingi oleh sejumlah orang yang terdiri dari anak-anak, juga remaja desa, bahkan
orang-orang tua mengikuti irama musik yang semakin lama semakin meriah. Pan
as dan terik matahari seakan-akan tak menyurutkan mereka untuk terus
bergerak menari dan bersorak sorai memeriahkan anak sunat. Kadangkala diselingi
dengan ekspose Kuda Renggong menari, semakin terampil Kuda Renggong tersebut
penonton semakin bersorak dan bertepuk tangan. Seringkali juga para penonton yang
akan kaul dipersilahkan ikut menari.
Setelah berkeliling desa, rombongan Kuda Renggong kembali ke rumah anak sunat, bias
anya dengan lagu Pileuleuyan (perpisahan). Lagu tersebut dapat
dilantunkan dalam bentuk instrumentalia atau dinyanyikan. Ketika anak sunat selesai
diturunkan dari Kuda Renggong, biasanya dilanjutkan dengan acara demontrasi kuda
renggong serta saweran (menaburkan uang logam dan beras putih) yang menjadi acara
yang ditunggu-tunggu, terutama oleh anak-anak desa..


Kuda Renggong (Kesenian Tradisional Masyarakat Sunda)
Asal Usul
Kuda renggong adalah suatu kesenian khas masyarakat Sunda (Jawa Barat) yang
menampilkan 1-4 ekor kuda yang dapat menari mengikuti irama musik. Di atas kuda-
kuda tersebut biasanya duduk seorang anak yang baru saja dikhitan atau seorang tokoh
masyarakat. Kata renggong adalah metatesis dari ronggeng yang artinya gerakan tari
berirama dengan ayunan (langkah kaki) yang diikuti oleh gerakan kepala dan leher.

Kesenian kuda renggong atau yang dahulu biasa disebut kuda igel karena bisa ngigel
(menari) ini konon tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat Desa Cikurubuk,
Kecamatan Buah Dua, Kabupaten Sumedang. Waktu itu (sekitar tahun 1880-an) ada
seorang anak laki-laki bernama Sipan yang mempunyai kebiasaan mengamati tingkah
laku kuda-kuda miliknya yang bernama si Cengek dan si Dengkek. Dari pengamatannya
itu, ia menyimpulkan bahwa kuda juga dapat dilatih untuk mengikuti gerakan-gerakan
yang diinginkan oleh manusia.

Selanjutnya, ia pun mulai melatih si Cengek dan si Dengkek untuk melakukan gerakan-
gerakan seperti: lari melintang (adean), gerak lari ke pinggir seperti ayam yang sedang
birahi (beger), gerak langkah pendek namun cepat (torolong), melangkah cepat (derep
atau jogrog), gerakan kaki seperti setengah berlari (anjing minggat), dan gerak kaki
depan cepat dan serempak (congklang) seperti gerakan yang biasa dilakukan oleh kuda
pacu. Cara yang digunakan untuk melatih kuda agar mau melakukan gerakan-gerakan
tersebut adalah dengan memegang tali kendali kuda dan mencambuknya dari belakang
agar mengikuti irama musik yang diperdengarkan. Latihan dilakukan selama tiga bulan
berturut-turut hingga kuda menjadi terbiasa dan setiap mendengar musik pengiring ia
akan menari dengan sendirinya.

Melihat keberhasilan Sipan dalam melatih kuda-kudanya ngarenggong membuat
Pangeran Aria Surya Atmadja yang waktu itu menjabat sebagai Bupati Sumedang
menjadi tertarik dan memerintahkannya untuk melatih kuda-kudanya yang didatangkan
langsung dari Pulau Sumbawa. Dan, dari melatih kuda-kuda milik Pangeran Aria Surya
Atmadja inilah akhirnya Sipan dikenal sebagai pencipta kesenian kuda renggong.

Dalam perkembangan selanjutnya, kesenian kuda renggong bukan hanya menyebar ke
daerah-daerah lain di Kabupaten Sumedang, melainkan juga ke kabupaten-kabupaten
lain di Jawa Barat, seperti Kabupaten Bandung dan Purwakarta. Selain menyebar ke
beberapa daerah, kesenian ini juga mengalami perkembangan, baik dalam kualitas
permainannya maupun waditra dan lagu-lagu yang dimainkan. Di Kabupaten Sumedang
kualitas permainan kuda renggong diukur menurut standar Persatuan Kuda Sumedang
(PKS) yang dibagi menjadi tiga kelas, yaitu: (1) kuda kualitas baik dan pernah menjadi
juara dalam festival kuda renggong tingkat kabupaten; (2) kualitas kuda tingkat
pertengahan (kualitas pasaran/pasaran mentas); dan (3) kuda renggong yang masih
dalam tahap belajar (kuda baru).

Pemain
Para pemain kuda renggong umumnya adalah laki-laki dewasa yang tergabung dalam
sebuah kelompok yang terdiri atas: seorang pemimpin kelompok (pelatuk), beberapa
orang pemain waditra, dan satu atau dua orang pemain silat. Para pemain ini adalah
orang-orang yang mempunyai keterampilan khusus, baik dalam menari maupun
memainkan waditra. Keterampilan khusus itu perlu dimiliki oleh setiap pemain karena
dalam sebuah pertunjukan kuda renggong yang bersifat kolektif diperlukan suatu tim
yang solid agar semua gerak tari yang dimainkan dapat selaras dengan musik yang
dimainkan oleh para pemain waditra.

Tempat dan Peralatan Permainan
Kesenian kuda renggong ini umumnya ditampilkan pada acara: khitanan, menyambut
tamu agung, pelantikan kepala desa, perayaan hari kemerdekaan dan lain sebagainya.
Biasanya dilakukan pada siang hari dan berkeliling kampung. Durasi sebuah pementasan
kuda renggong biasanya memakan waktu cukup lama, bergantung dari luas atau
tidaknya kampung yang akan dikelilingi.

Peralatan yang digunakan dalam permainan kuda renggong adalah: (1) satu sampai
empat ekor kuda yang sudah terlatih beserta perlengkapannya yang terdiri dari: sela
(tempat atau alat untuk duduk penunggang kuda), seser (pembalut kepala kuda),
sanggawedi (pijakan kaki bagi penunggang), apis buntut (tali penahan sela yang
dihubungkan dengan pangkal ekor kuda), eles (tali kemudi kuda), kadali (besi yang
dipasang pada mulut kuda untuk mengikatkan tali kendali), ebeg (hiasan sela), sebrak
(lapisan di bawah sela agar punggung kuda tidak luka/lecet), dan andong (sabuk yang
diikatkan ke bagian perut kuda sebagai penguat sela agar tidak mudah lepas dari
punggung kuda); (2) seperangkat waditra yang terdiri dari: dua buah kendang besar
(kendang indung dan kendang anak), sebuah terompet, dua ancak ketuk (bonang),
sebuah bajidor, dua buah gong (besar dan kecil), satu set kecrek, genjring, dan terbang
atau dulang; dan (3) busana pemain kuda renggong yang dapat dibagi menjadi dua
bagian, yaitu busana juru pengrawit (wiyaga) dan busana pemain silat (pengatik). Busana
juru pengrawit terdiri dari: baju seragam biru lengan panjang dan berstrip putih, celana
panjang, tutup kepala iket loher, dan sandal. Sedangkan busana pemain silat terdiri dari:
celana pangsi berwarna hitam, tutup kepala iket loher, dan ikat pinggang kain berwarna
merah.

Pertunjukan Kuda Renggong
Pertunjukan kuda renggong diawali dengan kata-kata sambutan yang dilakukan oleh
panitia hajat. Setelah itu, barulah anak yang telah dikhitan atau tokoh masyarakat yang
akan diarak dipersilahkan untuk menaiki kuda renggong. Selanjutnya, alat pengiring
ditabuh dengan membawakan lagu Kembang Gadung dan Kembang Beureum yang
berirama dinamis sebagai tanda dimulainya pertunjukan.

Setelah anak yang akan diarak siap, maka sang pemimpin (pelatuk) akan mulai
memberikan aba-aba agar pemain silat (pengatik) dan sang kuda mulai melakukan
gerakan-gerakan tarian secara serempak dan bersamaan. Tarian yang biasa dimainkan
oleh pesilat bersama kuda renggong tersebut adalah tarian perkelahian yang terjadi
diantara mereka, yang diantaranya adalah: gerakan kuda berdiri di atas kedua kaki
belakangnya. Sementara kaki depan bergerak seperti mencakar pesilat, gerakan-
gerakan yang seolah-olah menginjak perut pesilat, gerakan menginjak kepala pesilat
menggunakan kaki depan, dan gerakan-gerakan pesilat saat beraksi di sekitar punggung
kuda. Sebagai catatan, gerakan-gerakan yang dilakukan oleh sang kuda tidak begitu
tinggi karena di atas punggungnya terdapat anak yang dikhitan atau pejabat yang
menungganginya.

Sedangkan, lagu-lagu yang dimainkan oleh para wiyaga untuk mengiringi tarian biasanya
diambil dari kesenian Jaipong, Ketuk Tilu, dan Joged seperti: Paris Wado, Rayak-rayak,
Botol Kecap, Keringan, Kidung, Titipatipa, Gondang, Kasreng, Gurudugan, Mapay Roko,
Kembang gadung, Kangsring, Buah Kawung, Gondang, Tenggong Petit, Sesenggehan,
Badudud, Tunggul Kawing, Samping Butut, Sireum Beureum, Manuk Dadali, Adem
Ayem, Daun Puspa, Solempang Koneng, Reumis Janari, Daun Pulus, dan lagu Selingan
(Siyur, Tepang Sono, Awet Rajet, Serat Salira, Madu dan Racun, Pria Idaman, Goyang
Dombret, Warudoyong dan lain sebagainya).

Pertunjukan kuda renggong ini dilakukan sambil mengelilingi kampung atau desa, hingga
akhirnya kembali lagi ke tempat semula. Setelah itu, diadakan acara saweran yang
didahului oleh pembacaan doa yang dipimpin oleh juru sawer (ahli nyawer) dengan
menggunakan sesajen yang berupa: nasi tumpeng (congot), panggang daging,
panggang ayam (bakakak), sebuah tempurung kelapa yang berisi beras satu liter, irisan
kunyit, dan kembang gula. Dan, setelah acara saweran yang dilakukan dengan
menaburkan uang logam dan beras putih, maka pertunjukan pun berakhir.

Nilai Budaya
Seni sebagai ekspresi jiwa manusia sudah barang tentu mengandung nilai estetika,
termasuk kesenian tradisional kuda renggong yang ditumbuh-kembangkan oleh
masyarakat Cikurubuk, Kabupaten Sumedang. Namun demikian, jika dicermati secara
mendalam kuda renggong tidak hanya mengandung nilai estetika semata, tetapi ada
nilai-nilai lain yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan
sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain adalah kerja sama,
kekompakan, ketertiban, dam ketekunan. Nilai kerjasama terlihat dari adanya
kebersamaan dalam melestarikan warisan budaya para pendahulunya. Nilai kekompakan
dan ketertiban tercermin dalam suatu pementasan yang dapat berjalan secara lancar.
Nilai kerja keras dan ketekunan tercermin dari penguasaan gerakan-gerakan tarian. (ali
gufron)