Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

Nama Percobaan : E1. Kinetika Enzim: Pengaruh pH Terhadap Aktivitas Enzim


Hari / Tanggal Percobaan :
Kelompok :
Nama Mahasiswa :

I. Tujuan Percobaan
Memahami dan menjelaskan fungsi enzim amilase
Memahami pengaruh pH terhadap aktivitas enzim pada umumnya, dan enzim
amilase secara khusus
II. Dasar Teori
Beberapa reaksi kimia dalam tubuh makhluk hidup terjadi sangat cepat. Hal ini
terjadi karena adanya suatu zat yang membantu proses tersebut. Bila zat ini tidak ada,
maka proses-proses tersebut berjalan lambat atau bahkan tidak berlangsung sama sekali.
Zat tersebut dikenal dengan nama fermen atau enzim (Janice, 2003).
Di dalam tubuh makhluk hidup, berbagai enzim dibentuk dalam keadaan tidak
aktif dan diberi nama zimogen. Untuk mengaktifkannya harus dibantu oleh suatu
aktivator sehingga fungsional. sebagai contoh, pada sistem pencernaan, tripsinogen harus
diaktifkan terlebih dahulu oleh enterokinase (suatu aktivator yang dihasilkan oleh
dinding usus halus) manjadi tripsin yang kemudian dapat melakukan pemecahan protein
(Janice, 2003).
Enzim adalah protein yang pada hakekatnya mengkatalisis semua reaksi
biokimia. Enzim ini berubah menjadi sangat khas, seperti misalnya terhadap jenis reaksi
yang dikatalisisnya dan bahkan tempat pada substrat khusus dimana enzim itu dapat
berfungsi. Enzim memulai kegiatan dengan membentuk suatu kompleks dengan
substratnya. Kompleks enzima-substrat dapat digabung menjadi satu oleh tarikan van der
Waals dan tarikan elektrostatik oleh ikatan hidrogen, atau yang kurang umum oleh
pembentukan ikatan kovalen. Kompleks terbentuk pada sisi aktif dari enzim. Tempat ini
juga merupakan daerah enzim yang memacu reaksi yang khas. Sisi aktif itu harus
memiliki atom dan konfigurasi yang tepat, baik untuk mengikat maupun untuk
mengkatalisis (Pine, dkk., 1988).
Enzim adalah protein katalik. Suatu katalis adalah suatu agen kimiawi yang
mengubah laju reaksi tanpa harus dipergunakan oleh reaksi itu. Dengan tidak adanya
enzim, lalu lintas kimiawi melalui jalur-jalur metabolisme akan menjadi sangat macet.
Setiap reaksi kimiawi melibatkan pemutusan ikatan dan pembentukan ikatan. Misalnya,
hidrolisis sukrosa melibatkan pertama-tama pemutusan ikatan antara glukosa dan
fruktosa dan kemudian pembentukan ikatan baru dengan suatu atom hidrogen dan suatu
gugus hidroksil air (Campbell, 2000).
Enzim, seperti protein lain, mempunyai berat molekul yang berkisar dari kira-kira
12.000 sampai lebih dari 1 juta. Oleh karena itu, enzim berukuran amat besar
dibandingkan dengan substrat atau gugus fungsional targetnya. Beberapa enzim hanya
terdiri dari polipeptida dan tidak mengandung gugus kimiawi selain residu asam amino.
Akan tetapi enzim lain memerlukan tambahan komponen kimia bagi aktivitasnya
komponen ini disebut kofaktor. Kofaktor mungkin suatu molekul anorganik seperti ion
Fe2+, Mn2+ atau Zn2+ atau mungkin juga suatu molekul anorganik kompleks yang
disebut koenzim. Beberapa enzim membutuhkan baik koenzim maupun satu atau lebih
ion logam bagi aktivitasnya. Pada beberapa enzim, koenzim atau ion logam hanya terikat
secara lemah atau dalam waktu sementara pada protein, tetapi pada enzim lain senyawa
ini terikat kuat, atau terikat secara permanen yang dalam hal ini disebut gugus prostetik.
Enzim yang strukturnya sempurna dan aktif mengkatalisis, bersama-sama dengan
koenzim atau gugus logamnya disebut holoenzim. Koenzim dan ion logam bersifat stabil
sewaktu pemanasan, sedangkan bagian protein enzim akan terdenaturasi oleh pemanasan
(Lehninger, 1997).
Enzim menyusun sebagian besar dari protein total dalam sel. Suatu sel dapat
memuat 3.000 jenis molekul enzim dan sejumlah besar molekul dari tiap jenis. Enzim
dapat mempercepat reaksi kimia, sedangkan protein lain tak dapat. Oleh karena itu,
enzim adalah katalis. Selain mampu meningkatkan reaksi, enzim memiliki dua sifat lain
sebagai katalis sejati. Pertama, enzim tak berubah oleh reaksi yang dikatalisnya. Kedua
(dan yang penting), walaupun dapat mempercepat reaksi, enzim tidak mengubah
kedudukan normal dari kesetimbangan kimia. Dengan kata lain, enzim dapat membantu
mempercepat pembentukan produk, tetapi akhirnya jumlah produk tetap sama dengan
produk yang diperoleh tanpa enzim (Lehninger, 1997).
Untuk aktifitas biologis, beberapa enzim memerlukan gugusgugus prostetik atau
kofaktor. Kofaktor ini merupakan bagian nonprotein dari enzim itu. Suatu kofaktor dapat
berupa ion logam sederhana, ion tembaga misalnya merupakan kofaktor bagi enzim
asam askorbat oksidase. Enzim lain mengandung molekul organik nonprotein sebagai
kofaktor. Gugus prostetik organik seringkali dirujuk sebagai suatu koenzim (Fessenden
& Fessenden, 1994).
Suatu enzim bekerja secara khas terhadap suatu substrat tertentu. Kekhasan inilah
ciri suatu enzim. Ini sangat berbeda dengan katalis lain (bukan enzim) yang dapat
bekerja terhadap berbagai macam reaksi. Enzim urase hanya bekerja terhadap urea
sebagai substratnya namun enziim tersebut mempunyai kekhasan tertentu. Misalnya
enzim esterase dapat menghidrolisis beberapa ester asam lemak, tetapi tidak dapat
menghidrolisis substral lain yang bukan ester. Kekhasan enzim terhadap suatu reaksi
disebut kekhasan reaksi (Poedjiadi, 1994).
Seperti halnya reaksi-reaksi katalis pada umumnya, maka sebelum terjadi suatu
hasil reaksi terlebih dahulu akan terbentuk suatu kompleks antara katalisator dan substrat
yaitu kompleks enzim-substrat. Pembentukan kompleks enzim-substrat ini terjadi karena
enzim pada permukaannya mempunyai suatu bagian yang reaktif sehingga dapat
mengikat substrat. Setelah terbentuk kompleks enzim-substrat maka ikatan-ikatan di
dalam substrat cenderung untuk pecah menjadi beberapa bentuk hasil reaksi dimana
enzim dilepaskan kembali untuk selanjutnya menangkap substrat yang baru dan
mengulangi reaksi seperti semula(Ristiati, 2000).
Untuk dapat bekerja terhadap suatu zat atau substrat harus ada hubungannya atau
kontak antara enzim dengan substratnya suatu enzim mempunyai ukuran lebih besar
daripada substratnya. Oleh karena itu tidak seluruh bagian enzim dapat berhubungan
dengan substrat. Hubungan antara substrat dengan enzim hanya terjadi pada bagian
tertentu saja. Tempat atau bagian enzim yang mengadakan hubungan atau kontak dengan
substrat dinamai bagian aktif (active site). Hubungan hanya mungkin terjadi apabila
bagian aktif mempunyai ruang yang tepat dapat menampung substrat. Hubungan atau
kontak antara enzim dengan substrat menyebabkan terjadinya kompleks enzimsubstrat,
kompleks ini merupakan kompleks yang aktif, yang bersifat sementara dan akan terurai
lagi apabila reaksi yang diinginkan telah terjadi (Poedjiadi, 1994).
Enzim dapat ditemukan baik pada hewan maupun pada tumbuhan. Salah satu
enzim yang terdapat pada tumbuhan adalah amylase. Nama lain dari amylase adalah
Diastase. Enzim tersebut dapat menghidrolisis amilum menjadi gula. Amylase dihasilkan
oleh daun atau biji yang sedang berkecambah. Aktivitas amylase dipengaruhi oleh
bahan-bahan organic, pH, suhu, cahaya, dan konsentrasi. pH optimum dari amylase
menurut Hopkins, Cole, dan Green (Miller, 1938) adalah 4,5-4,7 (Tim Pengajar, 2012).

Faktor faktor yang mempengaruhi kerja enzim (Poedjiaji, 1994):
Konsentrasi Enzim
Seperti pada katalis lain, kecepatan suatu reaksi yang menggunakan enzim tergantung
pada konsentrasi enzim tersebut. Pada suatu konsentrasi substrat tertentu, kecepatan
reaksi bertambah dengan bertambahnya konsentrasi enzim.
Konsentrasi Substrat
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa dengan konsentrasi enzim yang tetap, maka
pertambahan konsentrasi substrat akan menaikkan kecepatan reaksi. Akan tetapi pada
batas konsentrasi tertentu, tidak terjadi kenaikan kecepatan reaksi walaupun konsentrasi
substrat diperbesar. Keadaan ini telah diterangkan oleh MichaelisMenten dengan
hipotesis mereka tentang terjadinya kompleks enzim substrat.
Suhu
Pada suhu rendah reaksi kimia berlangsung lambat, sedangkan pada suhu yang lebih
tinggi reaksi berlangsung lebih cepat. Disamping itu, karena enzim adalah suatu protein,
maka kenaikan suhu dapat menyebabkan terjadinya proses denaturasi. Apabila terjadi
proses denaturasi, maka bagian aktif enzim akan terganggu dan dengan demikian
konsentrasi efektif enzim menjadi berkurang dan kecepatan reaksinya pun akan
menurun. Kenaikan suhu sebelum terjadinya proses denaturasi dapat menaikkan
kecepatan reaksi.
Pengaruh pH
Enzim dapat berbentuk ion positif, ion negatif atau ion bermuatan ganda (zwitter ion).
Dengan demikian perubahan pH lingkungan akan berpengaruh terhadap efektivitas
bagian aktif enzim dalam membentuk kompleks enzim substrat. Disamping pengaruh
terhadap struktur ion pada enzim, pH rendah atau pH tinggi dapat pula menyebabkan
terjadinya proses denaturasi dan ini akan mengakibatkan menurunnya aktivitas enzim.

(Poedjiaji, 1994)

Pengaruh Inhibitor
Hambatan yang dilakukan oleh inhibitor dapat berupa hambatan tidak reversibel.
Hambatan tidak reversibel pada umumnya disebabkan oleh terjadinya proses destruksi
atau modifikasi sebuah gugus fungsi atau lebih yang terdapat pada molekul enzim.
Hambatan reversibel dapat berupa hambatan bersaing atau hambatan tidak bersaing.
Untuk semua spesies yang digunakan dalam penelitian, pH optimum untuk aktivitas
amilase terjadi pada daerah dengan pH asam rendah (nilai pH berkisar antara 5,5 dan
6,5), walaupun aktivitas amilase total juga kemungkinan dapat terjadi pada nilai pH
dengan interval yang lebih luas (5,5 7,0), yaitu sesuai dengan data dari literatur yaitu
dimana pH untuk amilase signifikan berada antara 4,5 dan 8,0 (Ciornea, 2008).
Pati tersusun dari unit-unit glukosa yang bergabung terutama lewat ikatan 1,4 -
glikosidik, meskipun rantainya dapat mempunyai sejumlah cabang yang melewati ikatan
1,6 -glikosidik. Hidrolisis parsial dari pati menghasilkan maltosa, dan hidrolisis
sempurna hanya menghasilkan D-glukosa. Pati dapat dipisahkan dengan berbagai teknik
menjadi dua fraksi, yaitu amilosa dan amilopeptida. Amilosa adalah polimer linear dari
Dglukosa, sekitar 50 sampai 300 unit-unit glukosa yang dihubungkan antara satu
dengan yang lainnya melalui ikatan 1,4glikosida. Dalam larutan rantai amilosa
berbentuk heliks menyerupai kumparan, karena adanya ikatan dengan konfigurasi s pada
setiap unit glukosa. Kumparan berbentuk tabung ini memungkinkan terbentuknya
senyawa kompleks dengan molekul lain, terutama molekul-molekul kecil yang dapat
masuk ke dalam kumparannya. Warna biru tua yang ditimbulkan pada penambahan
yodium pada pati adalah contoh pembentukan kompleks tersebut (Tim Dosen Kimia,
2007).
III. Alat & Bahan
Spektrofotometer
Kuvet
Stopwatch
Penangas air terkontol
Tabung reaksi
Pipet volume
Mikropipet
Rak tabung reaksi
Vortex
Larutan ekstrak kasar enzim amilase
Larutan pati 2,0% (w/v)
Larutan penyangga 0,04M pH 4 ; 5 ; 6,5 ; 8 dan 10
Larutan iodine
Larutan HCl 0,1N









IV. Cara Kerja




















V. Data Hasil Pengamatan

VI. Pembahasan


VII. Kesimpulan

VIII. Daftar Pustaka
Campbell, Neil A dkk. 2000. Biologi.Erlangga. Jakarta
Ciornea, E., Vasile, G., Cojocaru, D., 2008,On The Influence Of The Temperature And
pH Of The Incubation Medium On The Activity Of Total Amylase In Some
Spontaneous And Cultivated poaceae, (online)
Fessenden, R. J. dan Fessenden, J. S., 1994, Kimia Organik, Erlangga, Jakarta.
Janice, D.L. 2003. Biologi Tesis. Erlangga. Jakarta.
Lehninger, A.L., 1997, Dasar-dasar Biokimia Jilid 1, Erlangga, Jakarta.
Siapkan 3 tabung bersih lalu
1 tabung diberi tanda R
dan dua lainnya diberi tanda
AE
10 masukkan
dalam penangas
air suhu 25
o
C
Tambahkan 500l larutan
enzim pada tabung AE
dan 500l air suling pada
tabung R
Inkubasi pada
penangas air
suhu 25
o
C
selama 10
Tambahkan 5ml larutan
pati 1% dalam pH 6,5
kedalam 3 tabung yang
sudah ditandai tersebut
Pipet 500l masing-masing
campuran ke dalam tabung reaksi
yang berisi larutan kerja iodine
dan vortex
Amati intensitas warna biru
larutan dengan
spetrofotometer pada 620nm
Tepat 10
tambahkan 5ml
HCL 0,1N,
kemudian vortex
Pine, S.H., Hendrickson, J.B., Cram, D.J., dan Hammond, G.S., 1988, Kimia Organik II,
Penerbit ITB, Bandung.
Poedjiadi, A., 1994, Dasar-dasar Biokimia, UI-Press, Jakarta.
Restiati, Ni Putu. 2000. Pengantar Mikrobiologi Umum. Departemen Pendidikan
Nasional. Jakarta
Tim Dosen Kimia, 2007, Kimia Dasar II, Universitas Hasanuddin, Makassar.
Tim Pengajar. 2012. Penuntun Praktikum Biologi Umum. Jurusan Biologi FMIPA UNM.
Makassar.