Anda di halaman 1dari 11

DIAGNOSA FISIK

Dr. Bambang SN, Sp.PD


DIFINISI
Suatu tata cara sistimatis tentang
wawancara dan pemeriksaan fisik
terhadap seorang pasien yang
dilaksanakan oleh seorang dokter yang
kompeten untuk mendapatkan informasi
sebanyak mungkin tentang penyakitnya
sehingga ditegakkan diagnosa penyakit
dengan setepat-tepatnya.
Perlu keterampilan dan kesabaran dokter agar
wawancara dapat berjalan secara terpimpin dan
pemeriksaan fisik secara terarah sehingga
pekerjaannya berjalan secara efisien dan akurat.
Perlu hubungan yang harmonis antara dokter
dan pasien agar informasi yang disampaikan
lengkap dan penuh kejujuran.
Lebih 90% penyakit dapat ditegakkan
diagnosanya melalui diagnosa fisik yang
sempurna.
Kompetensi Ketrampilan Pengalaman

Pasien

Kesan Pertama

Diagnosa Fisik

Anamnesa terpimpin Pemeriksaan Fisik Terarah

Gejala/tanda Utama
Komplikasi
Penyakit lain

Diagnosa Sementara Diagnosa Pasti

Pemeriksaan Penunjang
(PK / PA / Radiologi)

Tata Laksana
ALUR KERJA / ALUR PIKIR DIAGNOSA FISIK
Penyakit lain
Diagnosa Diferensial
SISTIMATIKA
1. Anamnesa
Identitas
Riwayat penyakit sekarang:
Keluhan utama
Kronologis penyakit
Riwayat penyakit dahulu (yang berhubungan langsung/tidak langsung)
Riwayat penyakit keluarga /sosial ekonomi /gizi
2. Pemeriksaan Fisik
Kesan umum
Tanda vital
Status Generalis
Status Lokalis
3. Pemeriksaan Penunjang (Patologi klinik, Patologi Anatomi, Radiologi)
4. Diagnosa Sementara / Pasti
5. Diagnosa Diferensial
6. Diagnosa penyakit lain
7. Terapi (penyakit utama dan tambahan)
Simtomatis
Suportif
Kausal
Medikamentosa
Operatif (kecil, sedang, besar)
8. Tindak lanjut (monitoring), metoda S-O-A-P






ANAMNESA
I. Identitas Meliputi:
1. Nama
2. Kelamin
3. Umur
4. Suku
5. Agama
6. Pekerjaan
7. Alamat
8. Status Perkawinan

II. Riwayat Penyakit Sekarang
1. Keluhan Utama (Sebab ia mencari
pertolongan)
2. Riwayat /Kronologis penyakit
(urutan waktu dari mulai akhir
masa sehat hingga mencari
pertolongan dokter)
3. Riwayat penyakit lain

III. Riwayat Penyakit Dahulu
1. Penyakit yang pernah diderita,
kecelakaan dan operasi terutama
yang berhubungan dengan
keluhan penyakit sekarang.
IV. Riwayat Penyakit Keluarga
(kemungkinan adanya penyakit-
penyakit keturunan / Familier)

V. Keluhan Sistemik:
Kepala
Mata
Telinga
Hidung
Mulut
Tenggorok
Leher
Jantung
Paru
Lambung dan Usus
Alat Kelamin
Riwayat Haid
Saraf / Otot
Kejiwaan
PEMERIKSAAN FISIK
1. Kesan umum :
a. Tanda yang menonjol
b. Derajat sakit (ringan, sedang, berat)
a. Tanda Vital
a. Kesadaran (komposmentis, apatis, letargi, somnolen, sopor /stupor, koma)
b. Tekanan darah (hipertensi, normotensi, hipotensi, tekanan nadi)
Pengukuran biasanya dilakukan pada lengan kanan (pasien berbaring /duduk
dalam suasana santai dan tenang. Manset dilingkarkan dengan rapat pada lengan
atas tanpa menyebabkan nyeri, manset dipompa sampai lebih kurang 20 mmHg
diatas tekanan sistolik dugaan sambil melakukan palpasi arterier radialis.
Stetoskop diletakkan pada fosa antekubiti di atas arteri brakialis dan bunyi nadi
Korofkoff terdengar pada waktu tekanan dalam manset dengan perlahan-lahan
diturunkan (kecepatan 2-3 mm / denyut nadi) Yang disebut tekanan sistolik adalah
bunyi pertama yang didengar (korofkoff 1), yang disebut tekanan diastolik adalah
saat bunyi hilang (korofkoff 5).
c. Nadi:
Frekuensi (takikardi, bradikardi)
Irama (sinus aritmia, ekstra sistol, fibrilasi atrium, AV Block)
Isi (pulsus parvus, pulsus magnus, pulsus durus, pulsus moles, pulsus seler, pulsus
tardus)
Kualitas, tergantung dari tekanan nadi.
Tegangan, tergantung kondisi arteri radialis dan tekanan darah radialis.
d. Nafas (takipne, bradipne, kusmaull, cheyne stokes)
e. Suhu (hipertermi, normal, hipotermi)
PEMERIKSAAN FISIK
3. Pemeriksaan Per Organ
a. Kulit (anemi, ikterus, hiperpigmentasi, hipopigmentasi, sianosis, angioma,
naevi, spidernaevi, strie, udem, turgor, keringat, skleroderma, emfisema
subkutis, dll)
b. Kepala (makrosefali, mikrosefali, asemitri otot muka)
c. Rambut (pertumbuhan, alopesia, rontok, dll)
d. Mata (Eksoftalmus, ptosis, lagoftalmus, xantelasma, udem palpebra,
perdarahan konjungtiva, dll)
e. Telinga
f. Hidung (nafas cuping hidung, deviasi septum, rinore)
g. Mulut / Lidah / Gigi / Tonsil ( sianosis, atrofi papil lidah, pendarahan gusi)
h. Leher (kaku kuduk, JVP, posisi trakea, kelenjar gondok)
Pemeriksaan JVP:
dilakukan pada vena jugularis eksterna kanan karena mempunyai hubungan
langsung dengan vena kava superior. Pada gagal jantung kanan, bendungan
diventrikel kanan diteruskan ke atrium kanan dan vena kava superior
sehingga tekanan vena jugularis meninggi.
Titik acuan adalah bidang horisontal melalui tempat sambungan iga ke-2
dengan sternum, titik nol adalah tempat dimana tekanan sama dengan nol
yaitu setinggi tengah-tengah atrium kanan, jarak titik acuan dengan titik nol
pada orang dewasa adalah 5 cm (R), jarak ini konstan.

PEMERIKSAAN FISIK
i. Jantung:
Inspeksi: bentuk dada, iktus kordis.
Palpasi: iktus kordis, thrill.
Perkusi: batas-batas jantung.
Auskultas: bunyi jantung I, II, bunyi jantung tambahan,
bising sistolik /diastolik, pericardial friction rub.
j. Paru:
Inspeksi: bentuk dada, gerakan, simetri /asimetri.
Palpasi: gerakan dada, fremitus, friction rub, limfa
denopati.
Perkusi: sonor normal
Redup infiltrat
Pekak Efusi pleura, tumor,fibrosis luas
Hipersonor emfisema paru /pneumotorak
Auskultasi: vesikuler, bronkeal, amforik, ronkhi kering,
ronkhi basah.
PEMERIKSAAN FISIK
k. Abdomen
Dibagi 9 regio (epigastrium, hipokondrium ka/ki, umbilikus, lumbal ka/ki,
hipogastrium / suprapubik, iliaka ka/ki)
Titik Mc Burney, yaitu titik pada kuadran kanan bawah pada sepertiga lateral
garis yang menghubungkan SIAS dan umbilikus. Dianggap sabagai lokasi
apendiks yanmg akan terasa nyeri bila terjadi apendisitis.
Garis Schuffner yaitu garis yang menghubungkan titik pada arkes kosta kiri
dengan umbilikus diteruskan sampae SIAS kanan. Garis ini digunakan untuk
menyatakan pembesaran limfa (SI SVIII).
Inspeksi (simetris, bentuk,. Ukuran, kondisi dinding operut, kelainan kulit,
venextasi, strie, kaput meduse, pergerakan dinding perut.
Palpasi untuk menentukan ada tidaknya kelainan dalam rongga abdomin.
Dilakukan secara sistimatis dan sedapat mungkin seluruh dinding. Palpasi
dilakukan dalam 2 tahap yaitu palpasi permukaan dan palpasi dalam. Dapat
dilakukan dengan satu tangan atau dengan dua tangan. Tentukan
pembesaran hepar, lien, ginjal, adanya tumor atau daerah-daerah nyeri.
Perkusi dengan tujuan untuk:
Konfirmasi pembesaran organ intra abdomen.
Menentukan ada tidaknya nyeri ketok.
Diagnosis adanya cairan atau masa padat
Auskultasi untuk mendengarkan, suara perstaltik dan bising pembuluh darah

PEMERIKSAAN FISIK
l. Ekstremitas
perlu diperhatikan adanya deformitas,
parese /paralise, udem, sianosis,
clubbing finger, spoon nail, anemis,
eritema palmaris, pulsasi : arteria
femoralis, arteria poplitea, arteria
dorsalis pedis.

Anda mungkin juga menyukai