Anda di halaman 1dari 19

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah
Anak-anak adalah generasi penerus bangsa. Di pundak merekalah
kelak kita menyerahkan peradaban yang telah kita bangun dan akan kita
tinggalkan. Kesadaran akan arti penting generasi penerus yang berkualitas
mengharuskan kita serius membekali anak agar dirinya menjadi manusia
seutuhnya dan menjadi generasi yang lebih baik dari pendahulunya. Setiap
anak dilahirkan bersamaan dengan potensi-potensi yang dimilikinya. Tak ada
satu pun yang luput dari Pengawasan dan Kepedulian-Nya. Merupakan tugas
orang tua dan guru untuk dapat menemukan potensi tersebut. Syaratnya
adalah penerimaan yang utuh terhadap keadaan anak.
Untuk menciptakan generasi yang berkualitas, pembekalan harus
dilakukan sejak dini, yakni dengan dilangsungkannya Pendidikan Anak Usia
Dini (PAUD), yaitu pendidikan yang ditujukan bagi anak sejak lahir hingga
usia 6 tahun. PAUD menjadi sangat penting mengingat potensi kecerdasan
dan dasar-dasar perilaku seseorang terbentuk pada rentang usia ini.
Sedemikian pentingnya masa ini sehingga di sebut the golden age (usia
emas).
Dalam bidang pendidikan seorang anak dari lahir memerlukan
pelayanan yang tepat dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan disertai
dengan pemahaman mengenai karakteristik anak sesuai pertumbuhan dan
perkembangannya akan sangat membantu dalam menyesuaikan proses belajar
bagi anak dengan usia, kebutuhan, dan kondisi masing-masing, baik secara
intelektual, emosional dan sosial.
Di Indonesia terutama, pada umumnya seorang anak mulai mengikuti
program pendidikan yang berkurikulum setelah menginjak usia 2 tahun atau
bahkan 4 tahun, yaitu dengan memasuki pendidikan prasekolah seperti
playgroup atau sejenisnya. Sementara itu, sebelumnya kebanyakan anak di
biarkan belajar tanpa kurikulum yang direncanakan. Kebanyakan orang tua
berpikir bahwa pada usia tersebut masih terlalu muda bagi anak untuk belajar.
2

Padahal, sebenarnya waktu yang sangat baik untuk memaksimalkan
kecerdasan anak dimulai pada tiga tahun pertama; semakin muda semakin
kuat pengaruhnya. Memulai pendidikan anak pada usia lima tahun boleh
dikatakan sudah terlambat.
Semantara itu, 50 persen kemampuan belajar seseorang ditentukan pada
empat tahun pertama, dan membentuk 30 persen yang lain sebelum mencapai
usia 8 tahun, adapun sisanya pada usia setelah itu (Gordon Dryden dan
Jeanette). Namun ironisnya di hampir setiap negara alokasi dana untuk
pendidikan empat tahun pertama kurang dari 10 persen anggaran nasionalnya,
padahal pada masa itu, 50 persen pertumbuhan otak sedang berlangsung.
Untuk itu pendidikan untuk usia dini dalam bentuk pemberian
rangsangan-rangsangan (stimulasi) dari lingkungan terdekat dan juga secara
formal sangat diperlukan untuk mengoptimalkan kemampuan anak.

2. Rumusan Masalah
1) Bagaimana hakikat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)?
2) Bagaimana karakteristik perkembangan anak usia 3-4 tahun?
3) Bagaimana pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD) usia
3-4 tahun?
4) Bagaimana penerapan pembelajaran pada PAUD yang berpusat pada
anak dan guru?











3

BAB II
PEMBAHASAN

1. Hakikat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu
proses perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi kehidupan
selanjutnya. Anak usia dini berada pada rentang usia 0-8 tahun. Pada masa ini
proses pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai aspek sedang
mengalami masa yang cepat dalam rentang perkembangan hidup manusia.
Proses pembelajaran sebagai bentuk perlakuan yang diberikan pada anak harus
memperhatikan karakteristik yang dimiliki setiap tahapan perkembangan anak.
Pendidikan bagi anak usia dini adalah pemberian upaya untuk
menstimulasi, membimbing, mengasuh, dan pemberian kegiatan pembelajaran
yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan anak. Pendidikan pada
anak usia dini meliputi seluruh upaya dan tindakan yang dilakukan oleh
pendidik dan orang tua dalam proses perawatan, pengasuhan, dan pendidikan
pada anak dengan menciptakan aura dan lingkungan dimana anak dapat
mengeksplorasi pengalaman yang memberikan kesempatan padanya untuk
mengetahui dan memahami pengalaman belajar yang diperolehnya dari
lingkungan, melalui cara mengamati, meniru, dan bereksperimen yang
berlangsung secara berulang-ulang dan melibatkan seluruh potensi dan
kecerdasan anak.
Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini haruslah didasarkan pada
berbagai landasan, yaitu landasan yuridis, landasan filosolfis, dan landasan
religious, serta teoritis maupun empiris, dengan penjelasan sebagi berikut:
1) Landasan Yuridis
Pendidikan Anak Usia Dini merupakan bagian dari pencapaian tujuan
pendidikan nasional, sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 2
tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu mencerdaskan
kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya
yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha
Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan,
4

kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri
serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Selanjutnya
berdasarkan UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional Bab I, Pasal 1 Butir 14 dinyatakan bahwa Pendidikan anak usia
dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak
lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian
rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam
memasuki pendidikan lebih lanjut. Sedangkan pasal 28 tentang
Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan anak usia dini diselenggarakan
sebelum jenjang pendidikan dasar dinyatakan bahwa (1) Pendidikan anak
usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal,
nonformal, dan/atau informal; (2) Pendidikan anak usia dini pada jalur
pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal
(RA), atau bentuk lain yang sederajat; (3) Pendidikan anak usia dini pada
jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman
Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat. (4) Pendidikan
anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan
keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan. (5)
Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Pemerintah.
2) Landasan Filosofis dan Religi
Pendidikan dasar anak usia dini pada dasarnya harus berdasarkan pada
nilai-nilai filosofis dan religi yang dipegang oleh lingkungan yang berada
di sekitar anak dan agama yang dianutnya. Pendidikan agama
menekankan pada pemahaman tentang agama serta bagaimana agama
diamalkan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Penanaman
nilai-nilai agama tersebut disesuaikan dengan tahapan perkembangan
anak serta keunikan yang dimiliki oleh setiap anak. Sebagai contoh,
Islam mengajarkan nilai-nilai keislaman dengan cara pembiasaan ibadah
contohnya sholat lima waktu, puasa, dan lain-lain. Oleh karena itu,
5

metode pembiasaan tersebut sangat dianjurkan dan dirasa efektif dalam
mengajarkan agama untuk anak usia dini.
3) Landasan Keilmuan dan Empiris
Pendidikan Anak Usia Dini pada dasarnya harus meliputi aspek keilmuan
yang menunjang kehidupan anak dan terkait dengan perkembangan anak.
Konsep keilmuan PAUD, bersifat isomorfis artinya kerangka keilmuan
PAUD dibangun dari interdisiplin ilmu yang merupakan gabungan dari
beberapa disiplin ilmu, diantaranya: psikologi, fisiologi, sosiologi, ilmu
pendidikan anak, antropologi, humaniora, kesehatan, dan gizi, serta
neurosains (ilmu tentang perkembangan otak manusia).
Selanjutnya berdasarkan aspek pedagogis, masa usia dini merupakan
masa peletak dasar atau pondasi awal bagi pertumbuhan dan
perkembangan selanjutnya. Artinya masa kanak-kanak yang bahagia
merupakan dasar bagi keberhasilan di masa datang dan sebaliknya.
Untuk itu, agar pertumbuhan dan perkembangan tercapai secara optimal,
maka dibutuhkan situasi dan kondisi yang kondusif pada saat
memberikan stimulasi dan upaya-upaya pendidikan yang sesuai dengan
kebutuhan anak yang berbeda satu dengan lainnya (individual
differences).
PAUD mendasari jenjang pendidikan selanjutnya. Perkembangan
secara optimal selama masa usia dini memiliki dampak terhadap
pengembangan kemampuan untuk berbuat dan belajar pada masa-masa
berikutnya. PAUD mengembangkan potensi anak secara komprehensif. Posisi
anak usia dini di satu pihak berada pada masa sangat penting dan potensi
untuk pengembangan masa depannya, akan tetapi di pihak lain, termasuk
masa rawan dan labil manakala anak kurang mendapatkan rangsangan yang
positif dan menyeluruh. Pemberian rangsangan melalui pendidikan untuk
anak usia dini perlu diberikan secara komprehensif, dalam makna anak tidak
hanya dicerdaskan otaknya, akan tetapi juga cerdas pada aspek-aspek lain
dalam kehidupannya, seperti: kehalusan budi dan rasa atau emosi, panca
indera termasuk fisiknya dan aspek sosial dalam berinteraksi dan berbahasa.
Rangsangan-rangsangan tersebut perlu disesuaikan dengan perkembangan
6

anak, karena setiap individu memiliki kepekaan masing-masing dalam
perkembangannya.
Tujuan PAUD yang ingin dicapai adalah untuk mengembangkan
pengetahuan dan pemahaman orang tua dan guru serta pehik-pihak yang
terkait dengan pendidikan dan perkembangan anak usia dini. Secara khusus,
tujuan yang ingin dicapai adalah:
1) Untuk mengidentifikasi perkembangan fisologis anak usia dini dan
mengaplikasikan hasil identifikasi tersebut dalam pengembangan fisiologis
yang bersangkutan.
2) Untuk memahami perkembangan kreativitas anak usia dini dan usaha-
usaha yang terkait dengan pengembangannya.
3) Untuk memahami arti bermain bagi perkembangan anak usia dini.
4) Untuk memahami pendekatan pembelajaran dan aplikasinya bagi
pengembangan anak usia kanak-kanak.
5) Untuk membentuk anak yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan
berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki
kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta
mengarungi kehidupan dimasa dewasa.
6) Intervensi dini dengan memberikan rangsangan sehingga dapat
menumbuhkan potensi-potensi yang tersembunyi (hidden potency) yaitu
dimensi perkembangan anak (bahasa, intelektual, emosi, social, motorik,
konsep diri, minat dan bakat).
7) Melakukan deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya gangguan dalam
pertumbuhan dan perkembangan potensi-potensi yang dimiliki anak.
Beberapa fungsi pendidikan bagi anak usia dini yang harus
diperhatikan, dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Untuk mengembangkan seluruh kemampuan yang dimiliki anak sesuai
dengan tahapan perkembangannya. Contoh: menyiapkan media
pembelajaran yang banyak sesuai dengan kebutuhan dan minat anak.
2) Mengenalkan anak dengan dunia sekitar. Contoh: field trip ke Taman
Safari, selain dapat mengenal bermacam-macam hewan ciptaan Tuhan,
7

juga dapat mengenal berbagai macam tumbuhan, serta mengenal
perbedaan udara panas, dan dingin.
3) Mengembangkan sosialisasi anak. Contoh: bermain bersama teman,
melalui bermain maka anak dapat berinteraksi dan berkomunikasi
sehingga proses sosialisasi anak dapat berkembang.
4) Mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak. Contoh:
mengikuti peraturan atau tata cara upacara bendera, dapat menanamkan
peraturan dan mengenal arti penghormatan kepada pahlawan perjuangan
bangsa.
5) Memberikan kesempatan pada anak untuk menikmati masa bermainnya.
Contoh: bermain bebas sesuai dnegan minat dan keinginan anak.
6) Memberikan stimulus cultural pada anak.

2. Karakteristik Perkembangan Anak Usia 3-4 Tahun
Usia Play Group berkisar antara usia 2-4 tahun. Pendidikan ini akan
dibatasi pada anak play group besar yang berusia 3-4 tahun. Pada usia ini, anak
memiliki karakteristik perkembangan yang berbeda dengan orang dewasa. Usia
ini merupakan usia yang unik dan memiliki rasa ingin tahu yang besar. Masa
ini merupakan saat yang potensial untuk terus diberikan stimulasi, karena pada
masa ini tergolong pada masa golden age.
Pada saat memasuki usia 3 tahun, biasanya seorang anak akan semakin
mandiri dan mulai mendekatkan diri pada teman-teman sebayanya. Pada
tahapan usia ini anak mulai menyadari tentang apa yang dirasakan dan apa
yang telah mampu dilakukan dan yang belum mampu dilakukan (Sujiono
dalam Yuliani, 2009: 158). Selanjutnya di akhir usia 4 tahun, anak berada pada
tahapan bermain asosiatif, dimana terjadi interaksi dalam kelompok bermain
walaupun masih sering terjadi konflik menuju tahapan bermain kooperatif.
Anak dapat mendengarkan dan merespon terhadap anak lain dan sebagian
besar dari mereka mulai mampu bekerja sama dalam menyelesaikan tugas
kelompok.
Berhubungan dengan pengembangan program kelas berpusat pada
anak, Coughlin, dkk (2000: 26) menjelaskan ciri-ciri umum anak dalam
8

rentang usia 3-4 tahun, diantaranya: (1) anak-anak pada usia tersebut
menunjukkan perilaku yang bersemangat, menawan dan sekaligus tampak
kasar pada saat-saat tertentu; (2) anak mulai berusaha memahami dunia di
sekeliling mereka, walaupun mereka masih sulit untuk membedakan antara
khayalan dan kenyataan; (3) pada suatu situasi tertentu anak tampak sangat
menawan dan dapat bekerja sama dengan teman dan orang lain, tetapi pada
saat yang lain mereka menjadi anak yang pengatur dan penuntut; (4) anak
mampu mengembangkan kemampuan berbahasa dengan cepat, mereka
seringkali terlihat berbicara sendiri dengan suara keras ketika mereka
memecahkan masalah atau menyelesaikan suatu kegiatan; (5) secara fisik, anak
memiliki tenaga yang besar tetapi rentang konsentrasinya pendek sehingga
cenderung berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain.
Dalam Direktorat Anak Usia Dini (2004: 12) terdapat beberapa ciri
yang menjadi tonggak dalam perkembangan anak pra sekolah yaitu:
1) Melanjutkan pengendalian pada gerakan kasar dan halus
2) Peningkatan perkembangan bahasa
3) Menggunakan bahasa untuk memecahkan masalah
4) Menggunakan bahasa untuk memperkuat main dengan teman sebaya dan
orang dewasa
5) Munculnya hubungan sosial bekerja sama dengan anak lainnya
6) Mampu menggunakan berbagai jenis bahan main
7) Kemajuan dari main sensoring motor atau main proses ke kemampuan
untuk mewakili dunia nyata dalam balok, papan lukis, dan bermacam-
macam bahan main pembangunan lainnya.
Perkembangan ini perlu difasilitasi atau didukung oleh lingkungan yang
harus disediakan sebagai pendukung perkembangan tersebut, hal ini juga
terdapat dalam Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (2004: 12) mengenai
lingkungan yang perlu disediakan untuk anak pra sekolah, yaitu:
1) Harus menyediakan kesempatan main di dalam dan di luar ruangan
2) Harus menyediakan kesempatan kepada anak untuk mengadakan
hubungan dengan orang dewasa dan anak lainnya dalam lingkungan yang
kaya akan bahasa
9

3) Harus menyediakan pengalaman dengan musik, sajak, dongeng, dan main
peran untuk memperkuat perkembangan bahasa
4) Harus ada orang dewasa yang mencontohkan dan mendukung
perkembangan bahasa anak untuk memecahkan masalah
5) Harus menyediakan bermacam-macam bahan main
6) Harus ada orang dewasa yang memiliki pengetahuan tentang
perkembangan anak dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk
mendukung perkembangan anak melalui bermain.
Dari ungkapan tersebut perlu diketahui aspek-aspek perkembangan
yang terjadi pada anak agar perkembangan anak dapat berjalan dengan
sempurna. Aspek perkembangan dibagi menjadi lima bagian yang terdiri dari
perkembangan fisik atau motorik, perkembangan kognitif, perkembangan
sosial, perkembangan bahasa, dan perkembangan emosi.
1) Perkembangan fisik atau motorik
Perkembangan motorik adalah segala sesuatu yang berkaitan
dengan gerak yang dilakukan oleh tubuh. Dalam Zulkifli (2003: 25)
ada tiga unsur yang memegang peranan, yaitu otot, otak, dan saraf.
Gerakan-gerakan tubuh yang dimotori dengan kerjasama antara otot, otak,
dan saraf-saraf kita namakan motorik. Perkembangan fisik atau motorik ini
terdiri dari dua bagian yaitu motorik kasar dan motorik halus. Menurut
Audrey Curtis & Hurlock (Yusuf, 2002: 104) menyatakan bahwa
keterampilan motorik ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
a. Keterampilan atau gerakan kasar, seperti berjalan, berlari, melompat,
naik, dan turun tangga
b. Keterampilan motorik halus atau keterampilan manipulasi, seperti
menulis, menggambar, memotong, melempar, dan menangkapa bola,
serta memainkan benda-benda atau alat-alat mainan.
Perkembangan motorik kasar ini merupakan kemampuan anak
dalam menggunakan otot-otot kasar sedangkan perkembangan motorik
halus merupakan kemampuan anak dengan menggunakan otot-otot halus.
Perkembangan motorik ini akan berkembang sejalan dengan pengalaman
10

dan latihan-latihan yang anak lakukan. Solahuddin (2000: 45) menyatakan
kemampuan anak pada usia 4 tahun yaitu:
anak usia sekitar 4 tahun dapat menguasai semua jenis
gerakan-gerakan tangan kecil. Ia dapat memungut benda-benda
kecil (seperti kacang-kacangan), dapat memegang pensil, dan dapat
memasukkan benda ke lubang-lubang kecil. Ia juga memiliki
keterampilan memanjat atau menaiki benda secara lebih
sempurna.
Menurut Yusuf (2002: 164) perkembangan fisik anak ditandai
dengan perkembangan kemampuan atau ketrampilan motorik, baik yang
kasar maupun yang lembut. Kemampuan motorik tersebut dapat di
deskripsikan sebagai berikut :
Usia Kemampuan Motorik Kasar
Kemampuan Motorik
Halus/Lembut
3-4
tahun





4-6
tahun
1. Naik turun tangga
2. Meloncat dengan dua
kaki
3. Melempar bola


1. Meloncat
2. Mengendarai sepeda
anak
3. Menendanga bola
4. Bermain olahraga
1. Menggunakan krayon
2. Menggunakan benda
atau alat
3. Meniru bentuk (meniru
gerakan orang lain)

1. Menggunakan pensil
2. Menggambar
3. Memotong dengan
gunting
4. Menulis huruf cetak

2) Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget (Maulani, 2007: 14) bahwa tahapan
perkembangan kognitif terdiri dari empat tahap, yaitu sensori motor : (0-2
tahun) ; pra operasional: (2-7 tahun); operasional konkret: (7-14 tahun);
dan formal operasional: (14 tahun sampai dewasa). Melihat tahapan
11

perkembangan kognitif diatas, dapat disimpulkan bahwa anak usia dini
berada pada tahap pra operasional.
Menurut Piaget (Yusuf, 2002:165) periode pra operasinal yaitu
tahapan dimana anak belum mampu menguasai operasi mental secara
logis. Yang dimaksud dengan operasi adalah kegiatan-kegiatan yang
diselesaikan secara mental bukan fisik.
Perkembangan pra operasional memiliki karakteristik yaitu :
a. Egosentrisme, yaitu diferensiasi diri, lingkungan orang lain yang tidak
sempurna. Kecenderungan untuk mempersepsi, memahami, dan
menafsirkan sesuatu berdasarkan sudut pandang sendiri.
b. Kaku dalam berfikir, berfikir bersifat memusat yaitu kecenderungan
berfikir atas dasar satu dimensi, baik mengenai objek maupun
peristiwa, dan tidak menolak dimensi-dimensi lainnya.
c. Semilogical reasoning, anak menjelaskan sesuatu yang dialami dalam
kehidupan sehari-hari itu dianalogikan dengan tingkah laku manusia.
Pada usia ini, yang bersifat egosentris, anak sudah dapat bermain
bersama dan dapat bermain atau melakukan aktivitas yang dapat diterima
secara sosial. Solahuddin (2000: 46) mengungkapkan bahwa :
ia lazimnya sudah bisa bekerja dalam suatu aktivitas tertentu
dengan cara-cara yang lebih kooperatif. Ia bisa bermain dengan
cara-cara yang lebih dapat diterima secara sosial daripada
sebelumnya. Aktivitas-aktivitas bermain bersama sudah dapat
dilakukan secara lebih lama oleh anak seusia ini.

3) Perkembangan Bahasa
Perkembangan bahasa adalah perkembangan yang tidak kalah
pentingnya dalam kehidupan anak. Dengan kemampuan berbahasa anak
dapat mengungkapkan semua keinginannya. Hurlock (1978 : 176) ....
bahwa bahasa mencakup setip sarana komunikasi dengan mnyimbolkan
pikiran dan perasaan untuk menyampaikan makna kepada orang lain.
Bahasa memiliki berbagai fungsi yang sangat penting. Bahasa
mempunyai tiga fungsi yaitu alat untuk menyatakan ekspresi, alat untuk
12

mempengaruhi orang lain, alat untuk memberi nama. Menurut Wundt
(Zulkifli, 2003 : 35) menyatakan .... bahwa bahasa berfungsi sebagai alat
ekspresi sedangkan menurut John Dewey menyatakan bahwa bahasa
berfungsi sebagai alat penghubung sosial yang sangat dibutuhkan dalam
pergaulan, untuk merapatkan hubungan seseorang dengan orang lain.
Dari pernyatan di atas bahasa merupakan sarana penting dalam
kehidupan untuk menyatakan sesuatu yang diinginkan dan sebagai alat
komunikasi agar individu dapat melakukan hubungan sosial.
Perkembangan bahasa anak pada usia tiga sampai empat tahun di
antaranya anak sudah dapat menggunakan kalimat majemuk beserta anak
kalimatnya dan tingkat berpikir anak sudah lebih maju, anak banyak
menyatakan soal waktu dan sebab akibat melalui pertanyaan-pertanyaan
kapan, kemana, mengapa, dan bagaimana. Dengan kemampuan berfantasi
yang dimiliki oleh anak maka anak memiliki kemampuan untuk
mendengarkan cerita-cerita lebih lama dan menyenangi sajak bahwa anak
dapat mengingatnya.

4) Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial anak merupakan kemampuan anak untuk
berhubungan dan bersosialisasi dengan lingkungan atau orang lain.
Hurlock (1978 : 250) menyatakan ... bahwa perkembangan sosial berarti
perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial.
Perkembangan sosial ini perlu berkembang sesuai dengan usianya, ada
beberapa tanda perkembangan sosial pada usia dini menurut Yusuf (2002 :
171) ... adalah anak mampu mengetahui aturan-aturan, baik di lingkungan
keluarga maupun lingkungan bermain; anak mulai menyadari hak atau
kepentingan orang lain; anak mulai dapat bermain bersama anak-anak lain,
atau teman sebaya .
Pada usia ini anak sudah mulai bersosialisasi dengan lingkungan
luar selain orang tua atau keluarga. Anak perlu berhubungan dengan orang
lain terutama anak-anak lain yang sebaya dengan usia anak. Perkembangan
sosial ini perlu distimulasi oleh guru dan lingkungan keluarga. Dengan
13

stimulasi yang baik anak akan belajar bagaimana menyesuaikan diri
dengan lingkungan yang baru dan bagaimana anak bekerja sama dengan
anak lain.
Terdapat beberapa pola perilaku sosial dan perilaku tidak sosial
anak usia dini, hal ini diungkapkan dalam Hurlock (1980 : 118) yaitu :
bahwa pola perilaku sosial pada anak diantaranya meniru,
persaingan, kerjasama, simpati, empati, dukungan sosial, membagi,
dan perilaku akrab. Sedangkan pola perilaku tidak sosial di
antaranya negativisme, agresif, perilaku berkuasa, memikirkan diri
sendiri, mementingkan diri sendiri, merusak, pertentangan seks,
dan prasangka.
Perkembangan sosial ini menjadi hal yang penting untuk
perkembangan anak dalam menjalin hubungan dengan orang lain baik
sekarang maupun di masa yang akan datang. Hal ini berkaitan dengan
kodrat individu sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa adanya
kehadiran orang lain.

5) Perkembangan Emosi
Perkembangan emosi juga termasuk ke dalam perkembangan yang
penting untuk perkembangan anak. Menurut Sarwono (Yusuf, 2002 : 115)
... bahwa emosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang
disertai warna afektif baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada
tingkat yang luas (mendalam). Dari ungkapan tersebut dapat diartikan
bahwa emosi merupakan perasaan-perasaan tertentu yang dihadapi oleh
seseorang.
Emosi dapat berpengaruh terhadap perilaku seseorang, artinya
emosi dapat membuat seseorang menjadi semangat atau bahkan
melemahkan semangat. Selain itu emosi akan merubah fisik seseorang,
maksudnya pada saat emosi baik seseorang akan tersenyum begitupun
sebaliknya.
Menurut Yusuf (2002 : 116) terdapat beberapa hal mengenai
karakteristik anak yaitu ... berlangsung singkat dan berakhir tiba-tiba;
14

terlihat lebih hebat/kuat; bersifat sementara/ dangkal; lebih sering terjadi;
dapat diketahui dengan jelas dari tingkah lakunya.
Karakteristik emosi anak dengan karakteristik orang dewasa akan
berbeda, hal ini disebabkan oleh kemampuan seseorang dalam
mengendalikan emosi semakin besar usianya akan semakin membaik.
Emosi dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu emoi sensoris dan
emosi kejiwaan (psikis).
Pernyataan di atas diperkuat oleh ungkapan Yusuf (2002 : 117)
yang membagi emosi menjadi dua jenis yaitu :
bahwa emosi sensoris adalah emosi yang ditimbulkan oleh
rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti : rasa dingin, rasa
manis, sakit, lelah, kenyang, dan lapar. Sedangkan emosi psikis
yaitu emosi yang mempunyai alasan-alasan kejiwaan, di antaranya:
perasaan intelektual, perasaan sosial, perasaan susila, perasaan
keindahan (estetika), perasaan Ketuhanan.
Pada usia tiga sampai empat tahun anak mulai menyadari akan
dirinya dan orang lain yang berada di sekitarnya. Dengan keadaan
demikian anak akan mulai berhubungan dengan orang lain selain dirinya
sendiri. Anak akan menyadari bahwa orang lain tidak akan selalu
memenuhi apa yang dirinya butuhkan. Terdapat beberapa jenis emosi
yang muncul pada usia tiga sampai empat tahun ini. Dalam Yusuf (2002 :
167) ... bahwa jenis emosi pada anak yaitu takut; cemas; marah; cemburu;
kegembiraan, kesenangan, kenikmatan; kasih sayang; phobi; dan ingin
tahu.
Perkembangan emosi tidak berkembang begitu saja, tetapi perlu
rangsangan baik dari guru maupn dari orang dewasa. Rangsangan tersebut
diberikan untuk menumbuhkan emosi pada diri anak. Menurut Yusuf
(2002 : 169) bahwa bimbingan kepada anak perlu dilakukan agar anak
dapat mengembangkan hal-hal berikut:
a. Kemampuan untuk mengenal, menerima, dan berbicara tentang
perasaan-perasaannya.
b. Menyadari bahwa ada hubungan antara emosi dan tingkah laku sosial.
15

c. Kemampuan untuk menyalurkan keinginannya tanpa mengganggu
perasaan orang lain.
d. Kemampuan untuk peka terhadap perasaan orang lain dan kebutuhan
orang lain.

3. Metode Pembelajaran Anak Usia Dini
Metode pendidikan anak usia dini dibentuk dengan melibatkan unsur
belajar dengan unsur lain yang disukai anak misalnya unsur bergerak, bermain,
dan bernyanyi. Metode yang biasa digunakan di antaranya sebagai berikut.
1) Permainan Bongkar Pasang
Kreatifitas alami anak harus dikembangkan sesuai dengan
tahapannya. Tugas pendidik adalah membantu mengembangkannya. Salah
satu bentuk permainan yang bagus untuk kreatifitas dan disukai anak adalah
permainan bongkar pasang. Dalam permainan ini, awalnya disusun dalam
suatu bentuk kemudian dibongkar. Anak ditugaskan untuk membentuknya
kembali dalam bentuk tersebut atau bentuk lain sesuai kreatifitas mereka.
Dari permainan ini, daya pikir anak akan terlatih karena adanya tantangan
untuk menyusun bongkaran ke dalam berbagai bentuk.
2) Kerja Tim
Setiap anak harus bisa bersosialisasi dan bekerja sama dengan
orang lain pada masa pertumbuhannya dan terutama sebagai bekal saat
dewasa nanti. Pembelajaran dalam bentuk kerja tim merupakan bentuk
latihan anak bekerja sama dengan teman-temannya untuk melakukan
sesuatu yang menyenangkan, seperti menata bangku secara bersama-sama.
Pembelajaran ini dapat memberikan mereka pengetahuan bahwa siapapun
tidak dapat hidup sendirian.
3) Mengisi Momentum Tertentu
Banyak hari-hari besar seperti hari besar keagamaan maupun hari
besar nasional yang dapat digunakan sebagai pembelajaran bagi anak. Anak
dapat dilibatkan dalam kegiatan perayaan hari-hari besar sesuai kemampuan
mereka. Tujuannya agar mereka mengenal dan menghayatinya. Dengan
perayaan hari besar keagamaan mereka akan mengenal identitas agama
16

mereka. Dengan perayaan hari besar nasional dalam diri mereka akan
tumbuh rasa nasionalisme.
4) Wisata Studi
Pembelajaran anak juga dapat dituangkan dalam wisata studi.
Pembelajaran semacam ini mempunyai beberapa fungsi. Dengan adanya
wisata studi keluar anak akan mendapatkan suasana baru yang
menyenangkan. Suasana seperti ini dapat merangsang kesegaran berpikir
anak. Selain itu wisata studi seperti ke museum, kantor media massa, atau
dinas pemadam kebakaran dapat menambah wawasan mereka. Sehingga
mereka mempunyai gambaran tentang cita-cita mereka di masa depan.
5) Bercerita
Penanaman nilai pada anak sangat efektif melalui cerita atau
dongeng. Nilai yang dapat ditanamkan di antaranya kejujuran, keberanian,
ketulusan, sabar, ulet. Agar nilai mudah ditanamkan, sebaiknya di akhir
cerita pendidik menyimpulkan hikmah singkat yang berkaitan dengan nilai-
nilai tersebut.

4.Penerapan Pembelajaran Berpusat pada Anak dan Guru
Metode pembelajaran yang dapat diterapkan dapat berpusat pada anak
dan berpusat pada guru. Metode pembelajaran dengan pemusatan pada anak,
memberikan kesempatan dan kebebasan pada anak untuk mengemukakan
pemikirannya, dan mengidentifikasikan kegiatannya. Segala sesuatu yang
muncul dari diri anak dikembangkan menjadi sebuah kurikulum. Aspek
terpenting dari metode yang berdasar permainan adalah kebebasan anak dalam
bermain.
Sedangkan pembelajaran yang berpusat pada guru atau dikenal dengan
istilah, pengajaran langsung, di mana pendidik memberikan petunjuk atau
instruksi langsung tentang apa yang harus dilakukan oleh anak dan guru
mengevaluasi kegiatan anak berdasarkan tindakan yang muncul dari dalam diri
anak.


17

Indikator
Pembelajaran Berpusat
pada Anak
Pembelajaran Berpusat
pada Guru
Bahan, ruang,
dan waktu
Dapat digunakan secara bebas Berdasarkan petunjuk guru
Peran guru Mengikuti minat dan keinginan
anak, pengalaman langsung,
berpusat pada anak
Langsung, inisiasi,
mengevaluasi, menekan dan
berdasarkan penampilan anak
Kerangka
kerja
pengajaran
Berorientasi pada kegiatan:
menguji, menggali, dan
mempunyai tantangan.
Memiliki tahapan
berdasarkan tujuan akhir yang
akan dicapai
Motivasi Keinginan belajar intrinsik Eksternal, berdasarkan
penghargaan
Konsep
belajar
Pengalaman langsung
menggunakan pengetahuan
dalam bermain untuk
memahami situasi yang nyata.
Drill atau pengulangan untuk
menguasai keterampilan
Individual vs
focus
kelompok
Individual, berdasarkan
kebutuhan anak
Kebutuhan kelompok sebagai
satu kesatuan, kemampuan
untuk berkelompok
Metodologi Kebebasan sepenuhnya bagi
guru untuk menggunakan
intuisi, perasaan, dan penilaian
Berdasarkan model / contoh
yang dilihat.
Secara khusus proses pembelajaran pada anak usia dini haruslah
didasarkan pada prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini, berikut ini : (1)
Proses kegiatan belajar anak usia dini harus dilaksanakan berdasarkan prinsip
belajar melalui bermain; (2) Proses kegiatan belajar anak usia dini
dilaksanakan dalam lingkungan yang kondusif dan inovatif baik di dalam
ruangan ataupun di luar ruangan; (3) Proses kegiatan belajar anak usia dini
dilaksanakan dengan pendekatan tematik dan terpadu; (4) Proses kegiatan
belajara anak usia dini harus diarahkan pada pengembangan potensi kecerdasan
secara menyeluruh dan terpadu.

18

BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Hakikat pendidikan bagi anak usia dini adalah pemberian upaya untuk
menstimulasi, membimbing, mengasuh, dan pemberian kegiatan
pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan anak.
Karakteristik perkembangan anak usia 3-4 tahun ditandai dengan adanya
perkembangan fisik atau motorik, perkembangan kognitif, perkembangan
sosial, perkembangan bahasa, dan perkembangan emosi. Metode yang biasa
digunakan di antaranya: permainan bongkar pasang, kerja tim, mengisi
momentum tertentu, wisata studi, dan bercerita. Metode pembelajaran dengan
menggunakan pembelajaran berpusat pada anak memberikan kesempatan dan
kebebasan pada anak untuk mengemukakan pemikirannya, dan
mengidentifikasikan kegiatannya. Sedangkan pembelajaran yang berpusat
pada guru, pendidik memberikan petunjuk atau instruksi langsung tentang
apa yang harus dilakukan oleh anak dan guru mengevaluasi kegiatan anak
berdasarkan tindakan yang muncul dari dalam diri anak.

2. Saran
Pendidikan anak usia dini khususnya usia 3-4 tahun sebaiknya
mendapatkan perhatian khusus agar pelaksanaannya diprioritaskan, baik
secara formal maupun nonformal mengingat usia dini merupakan usia yang
sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian seorang
anak. Sebaiknya dalam pelaksanaan pendidikan anak usia dini (PAUD)
diterapkan metode dan model pembelajaran yang sesuai dengan
perkembangan anak.





19

DAFTAR PUSTAKA

Morrison, George S. 2012. Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Jakarta : PT.Indeks.
Nurani Sujiono, Yuliani. 2009. KonsepDasarPendidikanAnakUsiaDini. Jakarta
Barat: Indeks.
Rahman, Ulfiani. 2012. Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini. Makassar:
UIN Alauddin Press.