Anda di halaman 1dari 40

1

REFERAT
PENGGUNAAN ASI DAN RAWAT GABUNG


PEMBIMBING :
dr. Moch Farid Gazali, Sp.OG
PENYUSUN :
Zainal Abidin (030.08.)
Derin Anugrah Pratama (030.09.063)

KEPANITERAAN KLINIK OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
PERIODE AGUSTUS OKTOBER 2014
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARAWANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA



2

LEMBAR PENGESAHAN


Referat dengan judul
PENGGUNAAN ASI DAN RAWAT GABUNG
Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing, dr. Moch Farid Gazali , Sp.OG
sebagai syarat untuk menyelesaikan kepaniteraan klinik Ilmu Penyakit Kebidanan dan
Kandungan
di RSUD Karawang periode Agustus - Oktober 2014






Jakarta, Oktober 2014


(dr. Moch Farid Gazali, Sp.OG)






3

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan segala nikmat
sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas referat yang berjudul PENGGUNAAN AIR
SUSU IBU DAN RAWAT GABUNG ini. Adapun penulisan referat ini dibuat dengan
tujuan untuk memenuhi salah satu tugas kepaniteraan Ilmu Kebidanan dan Kandungan di
Rumah Sakit Umum Daerah Karawang periode Agustus s/d Oktober 2014.
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr. Moch Farid
Gazali, SpOG selaku pembimbing yang telah membantu dan memberikan bimbingan dalam
penyusunan referat ini. Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada semua pihak yang
turut serta membantu penyusunan referat ini yang tidak mungkin diselesaikan tepat waktu
jika tidak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak.
Demikian kata pengantar ini penulis buat. Untuk segala kekurangan dalam referat ini,
penulis memohon maaf dan juga mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif
bagi perbaikan referat ini. Terima kasih.


Jakarta, Oktober 2014


(Penulis)




4

DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan .................................................................................................. 2
Kata Pengantar .................................................................................................. 3
Daftar Isi .................................................................................................. 4
Bab I : Pendahuluan .................................................................................................. 5
Bab II : Penggunaan Air Susu Ibu .......................................................................... 7
Bab III : Rawat Gabung ...................................................................................... 28
Bab IV : Kesimpulan .................................................................................................. 33
Daftar Pustaka .................................................................................................. 35














5

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah gizi terjadi di setiap siklus kehidupan, dimulai sejak dalam kandungan (janin),
bayi, anak, dewasa dan usia lanjut. Periode dua tahun pertama kehidupan merupakan masa
kritis, karena pada masa ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat.
Gangguan kekurangan gizi tingkat buruk yang terjadi pada periode ini bersifat permanen,
tidak dipulihkan walaupun kebutuhan gizi selanjutnya terpenuhi.
1

Untuk mendapatkan gizi yang baik pada bayi yang baru lahir maka ibu harus sesegera
mungkin menyusui bayinya karena ASI memberikan peranan penting dalam menjaga
kesehatan dan mempertahankan kelangsungan hidup bayi. Oleh karena itu, bayi yang
berumur kurang dari enam bulan dianjurkan hanya diberi ASI tanpa makanan pendamping.
Makanan pendamping hanya diberikan pada bayi yang berumur enam bulan ke atas.
1,2

Berdasarkan data Susenas tahun 2004-2008 cakupan pemberian ASI ekslusif di
Indonesia berfluktuasi dan cenderung mengalami penurunan. Cakupan pemberian ASI
eksklusif pada bayi 0-6 bulan turun dari 62,2% (2007) menjadi 56,2% tahun 2008,
sedangkan pada bayi sampai 6 bulan turun dari 28,6% (2007) menjadi 24,3% (2008). Data
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 1997-2007 memperlihatkan terjadinya penurunan
prevalensi ASI eksklusif dari 40,2% pada tahun 1997 menjadi 39,5% dan 32% pada tahun
2003 dan 2007.
3

Program peningkatan penggunaan ASI menjadi prioritas karena dampaknya yang luas
terhadap status gizi dan kesehatan balita, upaya peningkatan kualitas hidup manusia harus
dimulai sejak dini yaitu sejak masih dalam kandungan hingga usia balita. Dengan demikian
kesehatan anak sangat tergantung pada kesehatan ibu terutama masa kehamilan, persalinan
dan masa menyusui.
1

Program ASI Eksklusif merupakan program promosi pemberian ASI saja pada bayi
tanpa memberikan makanan atau minuman lain. Tahun 1990, pemerintah mencanangkan
Gerakan Nasional Peningkatan Pemberian ASI (PPASI) yang salah satu tujuannya adalah
untuk membudayakan perilaku menyusui secara eksklusif kepada bayi dari lahir sampai usia
4 bulan. Tahun 2004, sesuai dengan anjuran WHO, pemberian ASI eksklusif ditingkatkan
menjadi 6 bulan sebagaimana dinyatakan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia no.450/MENKES/SK/VI/2004
1,3

6

Hal lain yang tidak kalah penting selain pemberian ASI pada bayi yang baru lahir
adalah rawat gabung. Tingginya angka kematian bayi di Indonesia dapat diminimalisir salah
satunya dengan melaksanakan rawat gabung (rooming in). UNICEF menyatakan, terdapat
30.000 kematian bayi di Indonesia dan 10 juta kematian anak balita di dunia setiap tahunnya.
UNICEF menyebutkan bukti ilmiah terbaru, yang juga dikeluarkan oleh Journal Paediatrics
ini, bahwa bayi yang diberikan susu formula memiliki kemungkinan untuk meninggal dunia
pada bulan pertama kelahirannya. Dan peluang itu 25 kali lebih tinggi dibandingkan bayi
yang disusui oleh ibunya secara eksklusif. Tingginya angka kematian bayi di Indonesia
maupun di dunia sebenarnya dapat diminimalisir dengan salah satunya melakukan Rawat
Gabung. Rawat gabung (rooming in) adalah satu cara perawatan di mana ibu dan bayi yang
baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan dalam sebuah ruangan, kamar atau
tempat bersama-sama selama 24 jam penuh dalam seharinya.
4,5






















7

BAB II
PENGGUNAAN AIR SUSU IBU


A. Anatomi dan Fisiologi Laktasi

Secara anatomi setiap kelenjar mammae yang matang atau payudara terdiri dari
15 sampai 25 lobus. Lobus-lobus tersebut tersusun secara radial dan satu sama lain
dipisahkan oleh jaringan lemak yang jumlahnya bervariasi. Masing-masing lobus
terdiri dari beberapa lobulus, yag selanjutnya terdiri dari sejumlah besar alveoli.
Masing-masing alveolus mempuyai duktus kecil yang saling bergabung membentuk
satu duktus yang lebih besar untuk tiap lobus. Duktusduktus laktiferus tersebut
membuka secara terpisah pada papila mammae, dengan orifisium yang kecil tetapi
jelas. Epitel sekretorik alveolus mensintesi berbagai konsituen susu.

Kolostrum
Setelah pelahiran, payudara mulai menyekresi kolostrum, suatu cairan yang
berwarna kuning lemon tua. Cairan ini biasanya keluar dari papila mammae pada hari
kedua pasca-partum. Dibandingkan dengan air susu biasa, kolostrum mengandung
lebih banyak mineral dan asam amino. Kolostrum juga mengandung lebih banyak
proteinm sebaian besarnya adalah globulin, namun sedikit gula dan lemak.

Sekeresi berlanjut selama kira-kira 5 hari, dengan berubah secara perlahan
menjadi air susu matang selama 4 minggu berikutnya . kolostrum mengandung
antibodi dan IgA yang dikandungnya memberikan perlindungan pada neonatus
terhadap patogen enterik. Faktor pertahanan tubuh lainnya yang ditemukan di
kolostrum dan susu mencakup komplemen, makrofag, limfosit, laktoferin,
laktoperoksidase, dan lisozim.

ASI
ASI merupakan suspensi lemak dan protein dalam larutan karbohidrat-mineral.
Ibu menyusui dapat dengan mudah menghasilkan 600ml susu pe hari, dan berat badan
ibu saat hamil tidak mempengaruhi kuantitas atau kualitasnya. ASI bersifat isotonik
terhadap plasma dan setengah dari nilai tekanan osmotik ditimbulkan oleh laktosa.
8

Asam amino esensial diambil dari darah dan asam amino non esensial sebagian
berasal dari darah atau disintesis dikelenjar mammae. Sebagian besar protein susu
bersifat unik dan mencakupan a-laktalbumin, b-laktoalbumin, dan kasein. Asam
lemak disintesis d alveoli dari glukosa dan disekresikan melalui proses seperti
apokrin. Semua vitamin kecuali vitamin K ditemukan pada ASI namun dalam jumlah
berbeda. Kandunan vitamin D rendah (22 IU/mL).
Dadih (whey) adalah serum dan telah menunjukan kandungan IL-6 yang besar.
Ini sangat dihubungkan dengan produksi IgA lokal oleh payudara. Prolaktin tampak
disekresikan secara aktif dalam ASI. Faktor pertmbuhan epidermis telah
diidentifikasikan pada ASI dan karena tidak dihancurkan oleh enzim proteolitik
lambung, maka komponen ini dapat diabsorbsi untuk mendukung ertumbuhan dan
pematangan mukosa usus neonatus.

Fisiologi
Payudara wanita yang tidak hamil terutama terdiri dari jaringan lemak dan sistem
duktus rudimenter. Ukuran payudara ditentukan oleh banyaknya jaringan lemak, yang
tidak ada kaitannya dengan kemampuan menghasilkan susu. Dibawah pengaruh
hormon yang terdapat selama kehamilan, kelenjar mamaria membentuk struktur dan
fungsi kelenjar internal yang penting untuk menghasilkan susu. Payudara yang dapat
meghasilkan susu terdiri dari jaringan duktus yang secara progresif mengecil yang
bercabang dari puting payudara dan berakhir dilobulus-lobulus. Setiap lobulus terdiri
dari sekelompok alveolus berlapis epitel dan mirip kantong yang membentuk kelenjar
penghasil susu. Susu disintesis oleh sel epitel, lalu diseresikan ke dalam lumen
alveolus kemudian mengalir kepermukaan puting payudara.
Selama kehamilan, kosentrasi estrogen yang tinggi menyebabkan perkembangan
duktus yang ekstensif sementara kadar progesteron yang tinggi merangsang
pembentukan lobulus aveolus. Peningkatan prolaktin (hormon hipofisis anterior yang
dirangsang oleh peningkatan estrogen) dan HCG (hormon plasenta) juga ikut berperan
dalam perkembangan kelenjar mamaria dengan menginduksi pembentukan enzim-
enzim yang diperlukan untuk menghasilkan susu.
Sebagian besar perubahan payudara berlangsung selama separuh pertama masa
kehamilan sehingga pada pertengahan kehamilan kelenjar mamaria sudah mampu
menghasilkan air sus secara penuh. Namun sekresi susu tidak terjadi sampai
persalinan selesai. Kosentrasi estrogen dan progesteron yang tinggi selama separuh
9

terakhir masa kehamilan mencegah laktasi dengan menghambat efek stimulatorik
prolaktin pada seksresi susu. Prolaktin adalah stimulan utama bagi sekresi susu.
Dengan demikian walaupun steroid plasenta yang kadarnya tinggi memicu
perkembangan perangkat penghasil susu di payudara, steroid itu juga menghambat
kelenjar trsebur bekerja sampai bayi lahir dan memerlukan susu. Penurunan
mendadak estrogen dan progesteron yang terjadi sering dengan keluarnya plasenta
dan persalinan memicu laktasi.
Setelah persalinan laktasi dipertahankan oleh dua hormon penting :
1. Prolaktin : utuk peningkatan sekresi susu
2. Oksitosin : yang menyebabkan penyemprotan susu (letdown)
Kedua hormon ini dirangsang oleh refleks neruroendokrin yang dipicu oleh
rangsangan mengisap pada puting payudara. Susu tidak dapat secara langsung diisap
dari lumen alveolus oleh bayi. Susu harus secara aktif diperas keluar alveolus melalui
duktus lalu ke puting payudara oleh kontraksi sel mioepitel khusus yang mengelilingi
setiap alveolu. Pengisapan puting oleh bayi merangsang ujung-ujung saraf sensorik
di puting menimbulak potensial aksi yang kemudian menjalar keatas ke korda spinalis
lalu ke hipotalamus. Setelah diaktifkan, hipotalamus memicu pengeluaran oksitosin
dari hipofisis posterior. Oksitosin pada gilirannya merangsang kontraksi sel mioepitel
di payudara sehingga terjai penyemprotan susu. Penyemprotan susu ini terus berlanjut
selama bayi terus menyusui. Walaupun alveolus meungkin terisi penuh oleh susu,
susu tidak dapat dikeluarkan tanpa oksitosin.
Pengisapan puting tidak saja memicu pengeluaran oksitosin tetapi juga
merangsanga sekresi prolaktin. Pengeluaran prolaktin oleh hipofisis anterior dikontrol
oleh dua sekresi hipotalamus : prolactin-inhibiting hormon (PIH) dan prolactin-
releasing hormon (PRH). Sepanjang kehidupan wanita, PIH memiliki pengaruh yang
lebih dominan sehingga dalam keadaan normal prolaktin tidak disekresikan.


B. Tinjauan Umum Tentang ASI
1. Pengertian
ASI merupakan makanan pertama, utama dan terbaik bagi bayi yang bersifat alamiah.
ASI mengandung berbagai zat gizi yang dibutuhkan dalam proses pertumbuhan dan
10

perkembangan bayi. Definisi WHO menyebutkan bahwa ASI ekslusif yaitu bayi hanya diberi
ASI saja, tanpa cairan atau makanan padat apapun kecuali vitamin, mineral atau obat dalam
bentuk tetes atau sirup sampai usia 6 bulan.
2,6

Sebelum tahun 2001, World Health Organization (WHO) merekomendasikan untuk
memberikan ASI eksklusif selama 4-6 bulan. Namun pada tahun 2001, setelah melakukan
telaah artikel penelitian secara sistematik dan berkonsultasi dengan para pakar, WHO
merevisi rekomendasi ASI eksklusif tersebut dari 4-6 bulan menjadi 6 bulan (180 hari),
kemudian dilanjutkan selama 2 tahun dengan panambahan makanan pendamping yang tepat
waktu, aman, benar dan memadai.
6

Pemberian ASI secara dini dan ekslusif sekurang-kurangnya 4-6 bulan akan membantu
mencegah berbagai penyakit anak, termasuk gangguan lambung dan saluran nafas, terutama
asma pada anak-anak. Hal ini disebabkan adanya antibody penting yang ada dalam kolostrum
ASI (dalam jumlah yang lebih sedikit), akan melindungi bayi baru lahir dan mencegah
timbulnya alergi. Untuk alasan tersebut, semua bayi baru lahir harus mendapatkan
kolostrum.
6

Selain itu inisiasi menyusu dini dan ASI ekslusif selama 6 bulan pertama dapat
mencegah kematian bayi dan infant yang lebih besar dengan mereduksi risiko penyakit
infeksi, hal ini karena:
1,4

a. Adanya kolostrum yang merupakan susu pertama yang mengandung sejumlah besar
faktor protektif yang memberikan proteksi aktif dan pasif terhadap berbagai jenis
pathogen.
b. ASI esklusif dapat mengeliminasi mikroorganisme pathogen yang terkontaminasi
melalui air, makanan atau cairan lainnya. Juga dapat mencegah kerusakan barier
imunologi dari kontaminasi atau zat-zat penyebab alergi pada susu formula atau
makanan.


2. Komposisi ASI
Air susu ibu (ASI) selalu mengalami perubahan selama beberapa periode tertentu.
Perubahan ini sejalan dengan kebutuhan bayi:
a. Kolostrum
Kolostrum terbentuk selama periode terakhir kehamilan dan minggu pertama setelah
bayi lahir. Ia merupakan ASI yang keluar dari hari pertama sampai hari ke-4 yang
kaya zat anti infeksi dan berprotein tinggi. Kandungan proteinnya 3 kali lebih banyak
11

dari ASI mature. Cairan emas ini encer dan seringkali berwarna kuning atau dapat
pula jernih yang mengandung sel hidup yang menyerupai sel darah putih yang dapat
membunuh kuman penyakit. Kolostrum merupakan pencahar yang ideal untuk
membersihkan mekonium dari usus bayi yang baru lahir. Volumenya bervariasi antara
2 dan 10 ml per feeding per hari selama 3 hari pertama, tergantung dari paritas ibu.
b. ASI peralihan/transisi
Merupakan ASI yang dibuat setelah kolostrum dan sebelum ASI Mature (Kadang
antara hari ke 4 dan 10 setelah melahirkan). Kadar protein makin merendah,
sedangkan kadar karbohidrat dan lemak makin tinggi. Volumenya juga akan makin
meningkat
c. ASI mature
ASI matang merupakan ASI yang keluar pada sekitar hari ke-14 dan seterusnya,
komposisi relative konstan. Pada ibu yang sehat dengan produksi ASI cukup, ASI
merupakan makanan satu-satunya yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai
umur enam bulan, Tidak menggumpal jika dipanaskan.

Tabel 1. Komposisi kolostrum dan ASI (setiap 100 ml)

No. Zat-zat Gizi Satuan Kolostrum ASI
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Energi
Protein
Kasein
Laktosa
Lemak
Vitamin A
Vitamin B1
Vitamin B2
Vitamin B12
Kalsium
Zat besi
Fosfor
Kkal
G
Mg
G
G
Ug
Ug
Ug
Ug
Mg
Mg
Mg
58.0
2.3
140.0 mg
5.3
2.9
151.0
1.9
30.0
0.05
39.0
70.0
14.0
70
0.9
187.0
7.3
4.2
75.0
14.0
40.0
0.1
35.0
100.0
15.0

3. Kandungan nutrisi dalam ASI
12

ASI mengandung komponen makro dan mikro nutrisi. Yang termasuk makronutrien
adalah karbohidrat, protein dan lemak sedangkan mikronutrien adalah vitamin dan mineral
1,4

a. Karbohidrat
Laktosa adalah karbohidrat utama dalam ASI dan berfungsi sebagai salah satu
sumber energi untuk otak. Kadar laktosa yang terdapat dalam ASI hampir dua kali. rasio
jumlah laktosa dalam ASI dan PASI adalah 7 : 4 sehingga ASI terasa lebih manis
dibandingkan dengan PASI, Hal ini menyebabkan bayi yang sudah mengenal ASI dengan
baik cenderung tidak mau minum PASI. Karnitin mempunyai peran membantu proses
pembentukan energi yang diperlukan untuk mempertahankan metabolisme tubuh.
Konsentrasi karnitin bayi yang mendapat ASI lebih tinggi dibandingkan bayi yang
mendapat susu formula.
Hidrat arang dalam ASI merupakan nutrisi yang penting untuk pertumbuhan sel
syaraf otak dan pemberi energi untuk kerja sel-sel syaraf. Selain itu karbohidrat
memudahkan penyerapan kalsium mempertahankan faktor bifidus di dalam usus (faktor
yang menghambat pertumbuhan bakteri yang berbahaya dan menjadikan tempat yang baik
bagi bakteri yang menguntungkan) dan mempercepat pengeluaran kolostrum sebagai
antibodi bayi
b. Protein
Protein dalam ASI lebih rendah dibandingkan dengan PASI. Namun demikian
protein ASI sangat cocok karena unsur protein di dalamnya hampir seluruhnya terserap
oleh sistem pencernaan bayi yaitu protein unsur whey. Perbandingan protein unsur whey
dan casein dalam ASI adalah 65 : 35, sedangkan dalam PASI 20 : 80. Artinya protein
pada PASI hanya sepertiganya protein ASI yang dapat diserap oleh sistem pencernaan
bayi dan harus membuang dua kali lebih banyak protein yang sukar diabsorpsi. Hal ini
yang memungkinkan bayi akan sering menderita diare dan defekasi dengan feces
berbentuk biji cabe yang menunjukkan adanya makanan yang sukar diserap bila bayi
diberikan PASI.
c. Lemak
Kadar lemak dalam ASI pada mulanya rendah kemudian meningkat jumlahnya.
Lemak dalam ASI berubah kadarnya setiap kali diisap oleh bayi dan hal ini terjadi secara
otomatis. Komposisi lemak pada lima menit pertama isapan akan berbeda dengan hari
kedua dan akan terus berubah menurut perkembangan bayi dan kebutuhan energi yang
diperlukan.
13

Jenis lemak yang ada dalam ASI mengandung lemak rantai panjang yang
dibutuhkan oleh sel jaringan otak dan sangat mudah dicerna karena mengandung enzim
Lipase. Lemak dalam bentuk Omega 3, Omega 6 dan DHA yang sangat diperlukan untuk
pertumbuhan sel-sel jaringan otak.
Susu formula tidak mengandung enzim, karena enzim akan mudah rusak bila
dipanaskan. Dengan tidak adanya enzim, bayi akan sulit menyerap lemak PASI sehingga
menyebabkan bayi lebih mudah terkena diare. Jumlah asam linoleat dalam ASI sangat
tinggi dan perbandinganya dengan PASI yaitu 6 : 1. Asam linoleat adalah jenis asam
lemak yang tidak dapat dibuat oleh tubuh yang berfungsi untuk memacu perkembangan
sel syaraf otak bayi
d. Mineral
ASI mengandung mineral yang lengkap walaupun kadarnya relatif rendah, tetapi
bisa mencukupi kebutuhan bayi sampai berumur 6 bulan. Zat besi dan kalsium dalam ASI
merupakan mineral yang sangat stabil dan mudah diserap dan jumlahnya tidak dipengaruhi
oleh diet ibu. Dalam PASI kandungan mineral jumlahnya tinggi tetapi sebagian besar tidak
dapat diserap, hal ini akan memperberat kerja usus bayi serta mengganggu keseimbangan
dalam usus dan meningkatkan pertumbuhan bakteri yang merugikan sehingga
mengakibatkan kontraksi usus bayi tidak normal. Bayi akan kembung, gelisah karena
obstipasi atau gangguan metabolisme.
e. Vitamin
ASI mengandung vitamin yang lengkap yang dapat mencukupi kebutuhan bayi
sampai 6 bulan kecuali vitamin K, karena bayi baru lahir ususnya belum mampu
membentuk vitamin K. Kandungan vitamin yang ada dalam ASI antara lain vitamin A,
vitamin B dan vitamin C.
4. Volume ASI
Pada bulan-bulan terakhir kehamilan sering ada sekresi kolostrum pada payudara ibu
hamil. Setelah persalinan apabila bayi mulai mengisap payudara, maka produksi ASI
bertambah secara cepat. Dalam kondisi normal, ASI diproduksi sebanyak 10- 100 cc pada
hari-hari pertama. Produksi ASI menjadi konstan setelah hari ke 10 sampai ke 14. Bayi yang
sehat selanjutnya mengkonsumsi sebanyak 700-800 cc ASI per hari. Namun kadang-kadang
ada yang mengkonsumsi kurang dari 600 cc atau bahkan hampir 1 liter per hari dan tetap
menunjukkan tingkat pertumbuhan yang sama. Keadaan kurang gizi pada ibu pada tingkat
yang berat, baik pada waktu hamil maupun menyusui dapat mempengaruhi volume ASI.
14

Produksi ASI menjadi lebih sedikit yaitu hanya berkisar antara 500-700 cc pada 6 bulan
pertama usia bayi, 400-600 cc pada bulan kedua dan 300-500 cc pada tahun kedua usia anak.
6

5. Manfaat ASI
a. Manfaat ASI bagi bayi
Banyak manfaat pemberian ASI khususnya ASI ekslusif yang dapat dirasakan yaitu (1)
ASI sebagai nutrisi. (2) ASI meningkatkan daya tahan tubuh (3) menurunkan risiko
mortalitas, risiko penyakit akut dan kronis, (4) Meningkatkan kecerdasan, (5) Menyusui
meningkatkan jalinan kasih sayang (6) Sebagai makanan tunggal untuk memenuhi semua
kebutuhan pertumbuhan bayi sampai usia selama enam bulan. (7) Mengandung asam lemak
yang diperlukan untuk untuk pertumbuhan otak sehingga bayi yang diberi ASI Ekslusif lebih
pandai. (8) Mengurangi resiko terkena penyakit kencing manis, kanker pada anak dan
mengurangi kemungkinan menderita penyakit jantung. (9) Menunjang perkembangan
motorik.
7,8,9

b. Manfaat ASI bagi ibu
Manfaat ASI bagi ibu antara lain (1) Pemberian ASI memberikan 98% metode
kontrasepsi yang efisien selama 6 bulan pertama sesudah kelahiran bila diberikan hanya ASI
saja (ekslusif) dan belum terjadi menstruasi kembali, (2) menurunkan risiko kanker payudara
dan ovarium, (3) membantu ibu menurunkan berat badan setelah melahirkan (4) menurunkan
risiko DM Tipe 2 (5) Pemberian ASI sangat ekonomis, (6) mengurangi terjadinya perdarahan
bila langsung menyusui setelah melahirkan (7) mengurangi beban kerja ibu karena ASI
tersedia dimana saja dan kapan saja (8) meningkatkan hubungan batin antara ibu dan bayi.
c. Manfaat ASI bagi keluarga
Adapun manfaat ASI bagi keluarga (1) Tidak perlu uang untuk membeli susu formula,
kayu bakar atau minyak untuk merebus air, susu atau peralatan (2) Bayi sehat berarti keluarga
mengeluarkan biaya lebih sedikit (hemat) dalam perawatan kesehatan dan berkurangnya
kekhawatiran bayi akan sakit, (3) Penjarangan kelahiran karena efek kontrasepsi dari ASI
ekslusif, (4) Menghemat waktu keluarga bila bayi lebih sehat (5) Pemberian ASI pada bayi
(meneteki) berarti hemat tenaga bagi keluarga sebab ASI selalu siap tersedia.
10,11,12


6. Faktor penyebab berkurangnya ASI
a. Faktor Menyusui
Hal-hal yang dapat mengurangi produksi ASI adalah tidak melakukan inisiasi,
menjadwal pemberian ASI, bayi diberi minum dari botol atau dot sebelum ASI keluar,
kesalahan pada posisi dan perlekatan bayi pada saat menyusui .
15

b. Faktor Psikologi Ibu
Persiapan psikologi ibu sangat menentukan keberhasilan menyusui. Ibu yang
tidak mempunyai keyakinan mampu memproduksi ASI umunya produksi ASI akan
berkurang. Stress, khawatir, ketidak bahagiaan ibu pada periode menyusui sangat
berperan dalam mensukseskan pemberian ASI ekslusif. Peran keluarga dalam
meningkatkan percaya diri ibu sangat besar.
c. Faktor Bayi
Ada beberapa faktor kendala yang bersumber pada bayi misalnya bayi sakit,
prematur, dan bayi dengan kelainan bawaan sehingga ibu tidak memberikan ASI-nya
menyebabkan produksi ASI akan berkurang .
c. Faktor Fisik Ibu
Ibu sakit, lelah, menggunakan pil kontrasepsi atau alat kontrasepsi lain yang
mengandung hormon, ibu menyusui yang hamil lagi, peminum alkohol, perokok atau
ibu dengan kelainan anatomis payudara dapat mengurangi produksi ASI.
5,6

7. Faktor yang mempengaruhi ibu tidak memberikan ASI eksklusif
1. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil stimulasi informasi yang diperhatikan, dipahami dan
diingatnya. Informasi dapat berasal dari berbagai bentuk termasuk pendidikan formal maupun
non formal, percakapan harian, membaca, mendengar radio, menonton televisi dan dari
pengalaman hidup lainnya
2,4,12

Hambatan utama tercapainya ASI ekslusif yang benar adalah karena kurang sampainya
pengetahuan yang benar tentang ASI ekslusif pada para ibu. Seorang ibu harus mempunyai
pengetahuan yang baik dalam menyusui. Kehilangan pengetahuan tentang menyusui berarti
kehilangan besar akan kepercayaan diri seorang ibu untuk dapat memberikan perawatan
terbaik untuk bayinya dan bayi akan kehilangan sumber makanan yang vital dan cara
perawatan yang optimal. Pengetahuan yang kurang mengenai ASI ekslusif terlihat dari
pemanfaatan susu formula secara dini di perkotaan dan pemberian atau nasi sebagai
tambahan ASI di pedesaan.
2,4,13


2. Lingkungan
Menurut Perinasia (2003) lingkungan menjadi faktor penentu kesiapan ibu untuk
menyusui bayinya. Setiap orang selalu terpapar dan tersentuh oleh kebiasaan di
lingkungannya serta mendapat pengaruh dari masyarakat, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Pada kebanyakan wanita di perkotaan, sudah terbiasa menggunakan susu formula
16

dengan pertimbangan lebih modern dan praktis. Menurut penelitian Valdes dan Schooley
(1996) wanita yang berada dalam lingkungan modern di perkotaan lebih sering melihat ibu-
ibu menggunakan susu formula sedangkan di pedesaan masih banyak dijumpai ibu yang
memberikan ASI tetapi cara pemberian tidak tepat. jadi pemberian ASI secara Ekslusif di
pengaruhi oleh lingkungan.
2,4,13

3. Pengalaman
Pengalaman wanita semenjak kecil akan mempengaruhi sikap dan penampilan wanita
dalam kaitannya dengan menyusui di kemudian hari. Seorang wanita yang dalam keluarga
atau lingkungan mempunyai kebiasaan atau sering melihat wanita yang menyusui bayinya
secara teratur maka akan mempunyai pandangan yang positif tentang menyusui sesuai
dengan pengalaman sehari-hari. Tidak mengherankan bila wanita dewasa dalam lingkungan
ini hanya memiliki sedikit bahkan tidak memiliki sama sekali informasi, pengalaman cara
menyusui dan keyakinan akan kemampuan menyusui. Sehingga pengalaman tersebut
mendorong wanita tersebut untuk menyusui dikemudian harinya dan sebaliknya.
15,17

4. Dukungan keluarga
Lingkungan keluarga merupakan lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap
keberhasilan ibu menyusui bayinya secara esklusif. Keluarga (suami, orang tua, mertua, ipar
dan sebagainya) perlu diinformasikan bahwa seorang ibu perlu dukungan dan bantuan
keluarga agar ibu berhasil menyusui secara ekslusif. Bagian keluarga yang mempunyai
pengaruh yang paling besar terhadap keberhasilan dan kegagalanmenyusui adalah suami.
Masih banyak suami yang berpendapat salah, yang menganggap menyusui adalah urusan ibu
dan bayinya. Peranan suami akan turut menentukan kelancaran refleks pengeluaran ASI (let
down reflek) yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi atau perasaan ibu.
1,5,6,17











17

















Gambar 1. Model determinan perilaku menyusui
15,17


WHO dalam communitybased strategies for breastfeeding promotion and support in
developing countries pada tahun 2003 telah membuat justifikasi dan framework mengenai
faktor faktor yang mempengaruhi pemberian ASI dapat dilihat pada gambar 1 di atas.
C. Perilaku inisiasi menyusu dini (IMD) dan Pemberian ASI Ekslusif
Perilaku atau keterampilan adalah hasil dari latihan yang berulang, yang dapat disebut
perubahan yang meningkat atau progresif oleh orang yang mempelajari ketrampilan tersebut
sebagai hasil dari aktivitas tertentu. Perilaku atau keterampilan dapat terwujud melalui hasil
dari pengalaman, pengetahuan dan sikapnya.
Terdapat tiga faktor utama yang dapat mempengaruhi perilaku individu atau
masyarakat, yaitu: 1) faktor dasar (predisposing factors) yang meliputi: (a) pengetahuan
individu; (b) sikap; (c) kepercayaan; (d) tradisi; (e) unsur-unsur yang terdapat dalam diri
individu dan masyarakat dan; (f) faktor demografi; 2) faktor pendukung (enabling factors)
yang meliputi: sumberdaya dan potensi masyarakat seperti lingkungan fisik dan sarana yang
tersedia dan; 3) faktor pendorong (reinforcing factors) yang meliputi sikap dan perilaku
orang lain seperti teman, orang tua, dan petugas kesehatan. Begitu pula dengan perilaku
pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini dan pemberian ASI Eksklusif baik oleh ibu maupun
Maternal choices
Infant feeding behaviours
Opportunities to
act on these
choice
1. Familial, medical and cultural, attitudes
and norms
2. Demographics and economic condition
3. Commercial pressures
4. National and polices and norms
Infant feeding information and physical social
support during pregnancy, childbirth and
postpartum
Proximate
Determinant
Intermediate
Determinants
Underlying
Determinant
s

18

petugas kesehatan terutama bidan, semuanya sangat dipengaruhi oleh faktor faktor tersebut
diatas. Faktor yang berpengaruh terhadap pelaksanaan IMD dan pemberian ASI Eksklusif
terutama faktor sikap, motivasi, maupun pengetahuan, baik sikap, motivasi, dan pengetahuan
ibu, maupun petugas kesehatan khususnya bidan.
2,18

1. Pengertian IMD
Inisiasi menyusu dini dalam 30 menit pertama kelahiran merupakan salah satu dari 10
langkah menuju keberhasilan menyusui yang berdasarkan Inisiatif Rumah Sakit Sayang Bayi
(Baby Friendly Hospital Initiative: BFHI) tahun 1992. Di dalam langkah keempat tertulis
bantu ibu mulai menyusui dalam 30 menit setelah bayi lahir dengan memfokuskan pada
kemampuan alami yang ajaib bagaimana bayi memulai menyusu dengan cara bayi
merangkak di dada ibunya yang disebut breast crawl dan penjelasannya yaitu Setiap bayi,
saat diletakkan di perut ibunya segera setelah lahir mempunyai kemampuan untuk
menemukan payudara ibunya dan mengambil minum pertamanya dengan kemampuannya
sendiri.
18,19

Tahun 2006 BFHI merevisi penjelasan langkah ke-4 ini menjadi Letakkan bayi dalam
posisi tengkurap di dada ibunya, kontak kulit-ke-kulit dengan ibu segera setelah lahir paling
sedikit selama 1 jam dan dorong ibu mengenali tanda-tanda bayi siap menyusu, dan bila perlu
tawarkan bantuan. Dalam hal ini yang ditekankan adalah pentingnya kontak kulit ke kulit
dan kesiapan bayi.
18,19

2. Manfaat IMD
a. Manfaat Inisiasi Menyusu Dini (IMD) untuk Bayi
1). Menurunkan angka kematian bayi karena hypothermia
2) Dada ibu menghangatkan bayi dengan suhu yang tepat.
3) Bayi mendapatkan kolostrum yang kaya akan antibodi, penting untuk pertumbuhan
usus dan ketahanan bayi terhadap infeksi
4) Bayi dapat menjilat kulit ibu dan menelan bakteri yang aman, berkoloni di usus bayi
dan menyaingi bakteri pathogen
5) Menyebabkan kadar glukosa darah bayi yang lebih baik pada beberapa jam setelah
persalinan
6) Pengeluaran mekonium lebih dini, sehingga menurunkan intensitas ikterus normal
pada bayi baru lahir
b. Manfaat Inisiasi Menyusu Dini (IMD) untuk Ibu
1) Ibu dan bayi menjadi lebih tenang.
2) Jalinan kasih sayang ibu dan bayi lebih baik sebab bayi siaga dalam 1-2 jam pertama.
19

3) Sentuhan, jilatan, usapan pada putting susu ibu akan merangsang pengeluaran hormon
oxyitosin.
4) Membantu kontraksi uterus, mengurangi risiko perdarahan dan mempercepat
pelepasan plasenta
Dua studi terbaru yang melibatkan hampir 34.000 bayi yang baru lahir menunjukkan
bahwa risiko kematian meningkat dengan peningkatan penundaan inisiasi menyusu. Di
Ghana, neonatus 2,5 kali lebih mungkin meninggal saat inisiasi menyusu dimulai setelah 24
jam dibanding menyusui yang dimulai dalam satu jam pertama setelah lahir. Di Nepal,
neonatus 1,4 kali lebih mungkin untuk meninggal jika pemberian ASI dimulai setelah 24 jam
pertama. Para penulis memperkirakan bahwa sekitar seperlima dari semua kematian bayi
(22% di Ghana dan 19% di Nepal) dapat dihindari jika ASI mulai diberikan dalam satu jam
pertama kehidupan semua bayi yang baru lahir. Manfaat inisiasi menyusu dini khususnya
bagi bayi prematur dan berat lahir rendah. IMD dan ASI ekslusif selama 6 bulan merupakan
kontribusi utama dalam menurunkan mortalitas bayi dan anak-anak. Pentingnya IMD
merupakan salah satu rekomendasi WHO.
20,21,23,25

Berbagai studi juga telah melaporkan bahwa IMD terbukti meningkatkan keberhasilan
ASI eksklusif. Bayi yang menyusu dalam 30 menit setelah lahir kemungkinan besar akan
menyusu dalam jangka waktu yang lama. Hasil penelitian menemukan bahwa Ibu yang
memberikan immediate breastfeeding 2 sampai 8 kali lebih besar kemungkinannya untuk
memberikan ASI secara eksklusif sampai 4 bulan dibandingkan dengan ibu yang tidak
immediate breastfeeding. kegagalan pelaksanaan ASI eksklusif telah dimulai sejak 3 hari
pertama kelahiran yaitu pada saat makanan/minuman pralakteal diberikan. Studi kualitatif
lainnya melaporkan faktor predisposisi kegagalan ASI eksklusif adalah karena faktor
predisposisi yaitu pengetahuan dan pengalaman ibu yang kurang dan faktor pemungkin
penting yang menyebabkan terjadinya kegagalan adalah karena ibu tidak difasilitasi
melakukan IMD.
17,20

D. Manajemen Laktasi
1. Pengertian
Manajemen laktasi adalah tata laksana yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan
menyusui. Dalam pelaksanaanya terutama dimulai pada masa kehamilan, segera setelah
persalinan dan pada masa menyusui selanjutnya.
2. Periode dalam manajemen laktasi
a. Pada masa kehamilan (antenatal)
20

Hal-hal yang perlu dilakukan pada masa kehamilan :
1) Memberikan komunikasi, informasi dan edukasi tentang keunggulan ASI, manfaat
menyusui bagi ibu dan bayi, serta dampak negative pemberian susu formula.
2) Ibu memeriksakan kesehatan tubuh pada saat kehamilan, kondisi puting payudara
dan memantau kenaikan berat badan saat hamil.
3) Ibu melakukan perawatan payudara sejak kehamilan berumur 6 bulan hingga ibu
siap untuk menyusui, ini bermaksut agar ibu mampu memproduksi dan
memberikan ASI yang mencukupi kebutuhan bayi.
4) Ibu senantiasa mencari informasi tentang gisi dan makanan tambahan sejak
kehamilan trimester ke-2. Makanan tambahan saat hamil sebanyak 1 1/3 kali dari
makanan yang dikonsumsi sebelum hamil.
b. Pada masa segera setelah melahirkan
Hal yang dilakukan segera setelah melahirkan :
1). Dalam waktu 30 menit setelah melahirkan, ibu dibantu dan dimotivasi agar mulai
kontak dengan bayi (skin to skin contact) dan mulai meyusui bayi. Karena pada
saat ini bayi dalam keadaan paling peka terhadap rangsangan, selanjutnya bayi
akan mencari payudara ibu secara alamiah
1) Ibu nifas diberi kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 IU) dalam waktu 2 minggu
setelah melahirkan
2) Bayi harus disusui dengan cara yang benar, baik posisi maupun cara perlekatan
bayi pada payudara ibu.
c. Masa menyusui (Postnatal)
Hal yang harus diperhatikan dalam manajemen laktasi setelah melahirkan :
1) Bayi hanya diberi ASI saja (Secara ekslusif) selama 6 bulan pertama usia bayi
2) Meyusui tanpa dijadwal atau setiap bayi meminta (on demand)
3) Bila bayi terpaksa dipisah dari ibukarena indikasi medik, bayi arus tetap mendapat
ASI dengan cara memerah ASI untuk mempertahankan produksi ASI tetap lancar
4) Mempertahankan kecukupan gizi dalam makanan ibu menyusui sehari-hari. Ibu
menyusui harus makan 1 kali lebih banyak dari biasanya dan minum minimal 10
gelas air per hari
5) Cukup istirahat, menjaga ketenangan pikiran dan menghindarkan kelelahan fisik
yang berlebihan agar produksi ASI tidak terhambat
6) Mengatasi bila ada masalah menyusui (payudara bengkak, bayi tidak mau
menyusu, puting lecet, dll).
19,21

21

3. Tehnik menyusui yang benar
Teknik menyusui yang benar, dapat kita amati melalui beberapa respon dari bayi, jika
ibu menyusui dengan teknik yang tidak benar mengakibatkan puting susu menjadi
lecet. Untuk mengetahui bayi telah menyusu dengan teknik yang benar, dapat dilihat
antara lain (1) tubuh bagian depan menmpel pada tubuh ibu, (2) dagu bayi menempel
pada payudara (3) dada bayi menempel pada dada ibu (4) mulut bayi terbuka lebar
dengan bibir bawah yang terbuka (5) sebagian besar areola tidak tampak, (6) bayi
menghisap dengan dalam dan perlahan (7) bayi tampak tenang dan puas pada akhir
menyusu, (8) terkadang terdengar suara bayi menelan (9) puting susu tidak terasa sakit
atau lecet.
19,21

Gambar 2. Posisi menyusui yang benar
Kontra indikasi mendapat ASI
a. Kondisi Bayi
Pada beberapa kelainan metabolik / genetik, tubuh tidak mempunyai enzim tertentu untuk
mencerna salah satu komponen dalam susu, baik susu manusia maupun hewan sehingga bayi
tidak boleh menyusu. Bayi tersebut memerlukan formula khusus yang disesuaikan dengan
kebutuhannya dan memerlukan penanganan komprehensif antara dokter anak, ahli penyakit
22

endokrin, metabolik, dan gizi. Di banyak negara maju, uji penapisan untuk jenis kelainan
metabolik dilakukan segera setelah bayi lahir .
24,25,26

1. Galaktosemia: penyakit ini disebabkan tidak adanya enzim galactose l -phosphate
uridyltransferase yang diperlukan untuk mencerna galaktosa, hasil penguraian laktosa.
Bentuk klasik bisa berakibat fatal, sedangkan bentuk ringan menyebabkan gagal tumbuh
dan membesarnya organ hati dan limpa (hepato-splenomegali). ASI mengandung laktosa
tinggi sehingga bayi harus disapih, diberi susu tanpa laktosa, selanjutnya penderita harus
diet makanan tanpa galaktosa sepanjang hidupnya.
2. Maple syrup urine disease, pada penyakit ini tubuh tidak dapat mencerna jenis protein
leusin, isoleusin dan valine. Bayi tidak boleh mendapat ASI atau susu bayi biasa, dan
memerlukan formula khusus tanpa leusin, isoleusin dan valine.
3. Fenilketonuria, memerlukan formula tanpa fenilalanin. Dengan diagnosis dini, disamping
pemberian susu khusus dianjurkan untuk diberikan berselang-seling dengan ASI karena
kadar fenilalanin ASI rendah dan agar manfaat lainnya tetap diperoleh asalkan disertai
pemantauan ketat kadar fenilalanin dalam darah.
22,23,24

Pemberian susu formula pada bayi kurang bulan (BKB)
Bayi kurang bulan memerlukan kalori, lemak dan protein lebih banyak dari bayi cukup bulan
agar dapat menyamai pertumbuhannya dalam kandungan. ASI bayi prematur mengandung
kalori, protein dan lemak lebih tinggi dari ASI bayi matur, tetapi masalahnya adalah ASI
prematur berubah menjadi ASI matur setelah 3 -4 minggu. Jadi untuk BKB kurang dari 34
minggu setelah 3 minggu kebutuhan tidak terpenuhi lagi.
Volume lambung BKB kecil dan motilitas saluran cerna lambat sehingga asupan ASI tidak
optimal. Untuk merangsang produksi ASI, diperlukan isapan yang baik dan pengosongan
payudara. Refleks mengisap bayi prematur kurang / belum ada, akibatnya produksi ASI
sangat tergantung pada kesanggupan ibu memerah.
Beberapa penelitian klasik antara lain oleh Lucas dan Schanler telah membuktikan manfaat
ASI pada bayi prematur, akan mengurangi hari rawat, menurunkan insidensi enterokolitis
nekrotikans (EKN) dan menurunkan kejadian sepsis lanjut, hal hal yang sangat bermakna
23

untuk perawatan BKB kecil di Indonesia. Sehingga perlu diusahakan memberi kolostrum
(perah) terutama pada perawatan bayi di hari hari pertama.
Untuk mengatasi masalah nutrisi selanjutnya, setelah ASI prematur berubah menjadi ASI
matur dianjurkan penambahan penguat ASI (HMF atau human milk fortifier, saat ini belum
tersedia secara meluas di Indonesia). Penguat ASI adalah suatu produk komersial berisi
karbohidrat, protein dan mineral yang sangat dibutuhkan bayi kurang bulan. HMF yang
proteinnya berasal dari susu sapi, biasanya dicampurkan dalam air susu ibu bayi sendiri .
Bila tidak tersedia penguat ASI, pemberian susu prematur dapat dibenarkan terutama untuk
bayi prematur yang lahir dengan usia kehamilan kurang dari 32 minggu atau berat lahir
kurang dari 1500 gram. Apabila terdapat alergi terhadap susu sapi sebaiknya susu formula
yang diberikan adalah susu formula yang telah dihidrolisis sempurna. Schanler menemukan
pemberian HMF pada ASI donor kurang bermanfaat mungkin karena prosedur pemanasan
yang harus dilalui. Selanjutnya, bila bayi sudah stabil, susu prematur dapat diberikan dengan
Alat Bantu Laktasi (Lact Aid / Suplementer) untuk melatih bayi belajar mengisap.
24,25,26

Pemberian susu formula pada bayi cukup bulan (BCB)
Masih banyak ibu yang memberi tambahan susu formula pada bayinya yang cukup bulan dan
sehat karena merasa ASInya belum keluar atau kurang. Salah satu penyebab adalah
kurangnya informasi bahwa memberi susu formula terutama pada hari hari pertama kelahiran
mungkin mengganggu produksi ASI, bonding, dan dapat menghambat suksesnya menyusui
dikemudian hari. Bayi yang diberi formula akan kenyang dan cenderung malas untuk
menyusu sehingga pengosongan payudara menjadi tidak baik. Akibatnya payudara menjadi
bengkak sehingga ibu kesakitan, dan akhirnya produksi ASI memang betul menjadi kurang.
Belum lagi akibat pemberian susu formula, masalah medis lain yang mungkin timbul adalah
perubahan flora usus, terpapar antigen dan kemungkinan meningkatnya sensitivitas bayi
terhadap susu formula (alergi) dan bayi kurang mendapat perlindungan kekebalan dari
kolostrum yang keluar justru di hari hari pertama kelahiran
Bagi ibu yang melahirkan di fasilitas kesehatan, peraturan rumah bersalin / rumah sakit serta
sikap dan dukungan petugas kesehatan sangat mempengaruhi keberhasilan mereka menyusui
di kemudian hari. Apabila secara rutin diberikan informasi dan motivasi kepada ibu hamil,
diberi kesempatan untuk inisiasi menyusu dini, kemudian didukung dan dibantu
24

mempraktekkan teknik menyusui yang benar selama ibu dirawat, kemungkinan ibu akan
berhasil menyusui eksklusif sehingga tambahan pengganti ASI tidak diperlukan .
26,27,28

Pertimbangan memberi tambahan susu formula pada BCB disamping ASI:
a) Bayi yang berisiko hipoglikemia dengan gula darah yang tidak meningkat meskipun
telah disusui dengan baik tanpa jadwal atau diberi tambahan ASI perah. Risiko hipoglikemi
dapat terjadi pada bayi kecil untuk masa kehamilan, pasca stress iskemik intrapartum, dan
bayi dari ibu dengan diabetes mellitus terutama yang tidak terkontrol. Tata laksana yang
dianjurkan adalah:
segera setelah lahir bayi disusui tanpa jadwal, dan jaga kontak kulit dengan ibu agar
tidak hipotermi (untuk mengatasi hipotermi bayi memerlukan banyak energi)
gula darah plasma hanya diukur bila ada risiko atau ada gejala hipoglikemia dan
sebaiknya diukur sebelum minum / umur bayi 4-6 jam.
dibenarkan memberi suplemen ASI perah atau susu formula bila gula darah < 2.6
mmol (40 mg/dl) dan diulang 1 jam setelah minum ASI. mencukupi, penambahan
susu formula dikurangi dan akhirnya dihentikan.
bila gula darah tetap tidak meningkat ikuti tata laksana penanganan hipoglikemi
sesuai panduan rumah sakit.
b) Bayi yang secara klinis menunjukkan gejala dehidrasi (turgor/ tonus kurang, frekuensi urin
< 4x setelah hari ke-2, buang air besar lambat keluar atau masih berupa mekonium setelah
umur bayi > 5 hari).
c) Berat bayi turun 8 10% terutama bila laktogenesis pada ibu lambat.
d) Hiperbilirubinemia pada hari-hari pertama, bila diduga produksi ASI belum banyak atau
bayi belum bisa menyusu efektif.
27,28,29

Kuning karena ASI (breastmilk jaundice), bila bilirubin melebihi 20 25 mg/dL pada bayi
sehat. Anjuran untuk membantu diagnosis dengan menghentikan ASI 1-2 hari sambil
sementara diberi susu formula. Bila bilirubin terbukti menurun, ASI dimulai kembali.
25

e) Lain-lain: bayi terpisah dari ibu, bayi dengan kelainan kongenital yang sukar menyusu
langsung (sumbing, kelainan genetik). Dapat kita simpulkan, bahwa pada kasus-kasus di atas
suplemen susu formula hanya diberikan sampai masalah teratasi sambil bayi terus disusui.
Setelah itu ibu dan bayinya harus dibantu dan didukung agar bayi tetap mendapat ASI
eksklusif.
Catatan:
1. Pengganti ASI diberikan memakai sendok, cangkir ataupun selang orogastrik.
Sementara itu ibu dianjurkan sering-sering menyusui dan memerah payudara (4-5x
sehari).
2. Pemeriksaan kadar gula darah jam-jam pertama kelahiran tidak diperlukan pada bayi
cukup bulan sehat.
30,31

Indikasi untuk tidak menyusui
b. Kondisi pada bayi
Kondisi kesehatan ibu merupakan kontraindikasi untuk menyusui, namun dengan beberapa
pertimbangan .
a) Ibu HIV positif
Virus HIV juga ditularkan melalui ASI.
Rekomendasi dari WHO (November 2009) untuk ibu HIV positif
Tidak menyusui sama sekali bila pengadaan susu formula dapat diterima, mungkin
dilaksanakan, terbeli, berkesinambungan dan aman (AFASS acceptable, feasible,
affordable, sustainable dan safe).
Bila ibu dan bayi dapat diberikan obat-obat ARV (Anti Retroviral) dianjurkan
menyusui eksklusif sampai bayi berumur 6 bulan dan dilanjutkan menyusui sampai
umur bayi 1 tahun bersama dengan tambahan makanan pendamping ASI yang aman.
26

Bila ibu dan bayi tidak mendapat ARV, rekomendasi WHO tahun 1996 berlaku yaitu
ASI eksklusif yang harus diperah dan dihangatkan sampai usia bayi 6 bulan
dilanjutkan dengan susu formula dan makanan pendamping ASI yang aman.
b) Ibu penderita HTLV (Human T-lymphotropic Virus) tipe 1 dan 2 Virus ini juga menular
melalui ASI. Virus tersebut dihubungkan dengan beberapa keganasan dan gangguan
neurologis setelah bayi dewasa. Bila ibu terbukti positif, dan syarat AFASS dipenuhi, tidak
dianjurkan memberi ASI.
c) Ibu penderita CMV (citomegalovirus) yang melahirkan bayi prematur juga tidak dapat
memberikan ASInya.
32

Indikasi untuk sementara tidak menyusui
Pada ibu perlu dijelaskan bahwa penghentian menyusui hanya sementara dan ibu dapat
melanjutkan menyusui bayinya kembali sesuai dengan perkembangan kesehatannya. Selain
itu, petugas kesehatan harus dapat memberi informasi cara mempertahankan produksi ASI
dan bila perlu rujuklah pada konsultan atau klinik laktasi.
1. Ibu sakit berat sehingga tidak bisa merawat bayinya misalnya psikosis, sepsis, atau
eklamsi
2. Virus herpes simplex type 1 (HSV-1): kontak langsung mulut bayi dengan luka di
dada ibu harus dihindari sampai pengobatannya tuntas
3. Pengobatan ibu: psikoterapi jenis penenang, anti epilepsi
opioid dan kombinasinya mungkin memberi efek samping seperti mengantuk atau
depresi pernafasan sehingga lebih baik dihindari bila ada alternatif yang lebih aman
kemoterapi sitotoksik mensyaratkan seorang ibu untuk berhenti menyusui selama
terapi
bila ibu memerlukan pemeriksaan dengan zat radioaktif maka pemberian ASI pada
bayi dihentikan selama 5 kali masa paruh zat tersebut. Selama ibu tidak memberikan
ASI, ASI tetap diperah dan dibuang untuk mempertahankan produksi ASInya.
32

3. Pertimbangan memberi susu formula pada beberapa kondisi kesehatan ibu yang lain:
27

1. Ibu yang merokok, peminum alkohol, pengguna ekstasi, amfetamin dan kokain dapat
dipertimbangkan untuk diberi susu formula, kecuali ibu menghentikan kebiasaannya
selama menyusui.
2. Beberapa situasi lain dimana dibenarkan untuk memberi susu formula :
Laktogenesis memang terganggu, misalnya karena ada sisa plasenta (hormon
prolaktin terhambat), sindrom Sheehan (perdarahan pasca melahirkan hebat dengan
komplikasi nekrosis hipothalamus)
Insufisiensi kelenjar mammae primer: dicurigai bila payudara tidak membesar tiap
menstruasi / ketika hamil dan produksi ASI memang minimal.
Pasca operasi payudara yang merusak kelenjar atau saluran ASI
Rasa sakit yang hebat ketika menyusui yang tidak teratasi oleh intervensi seperti
perbaikan pelekatan, kompres hangat maupun obat.
32,33












28

BAB III
RAWAT GABUNG
A.Definisi Rawat Gabung
Sistem rawat bayi yang disatukan dengan ibu sehingga ibu dapat melakukan semua
perawatan dasar bagi bayinya. Bayi bisa tinggal bersama ibunya dalam satu kamar sepanjang
siang maupun malam hari sampai keduanya keluar dari rumah sakit atau bayi dapat
dipindahkan ke bangsal neonatus atau ruang observasi pada saat-saat tertentu. Seperti pada
malam hari atau pada jam-jam kunjungan besok.
33

Suatu sistem perawatan di mana bayi serta ibu dirawat dalam satu unit. Dalam
pelaksanaannya bayi harus selalu berada di samping ibu sejak segera setelah dilahirkan
sampai pulang.
32,33

B. Manfaat Rawat Gabung
Kontak dini antara ibu dan bayi yang telah dibina sejak dari kamar bersalin seharusnya tetap
dipertahankan dengan merawat bayi bersama ibunya (rawat gabung). Keuntungan rawat
gabung:
Aspek Psikologis
Dengan rawat gabung antara ibu dan bayi akan terjalin proses lekat (bonding). Hal ini
sangat mempengaruhinperkembangan psikologis bayi selanjutnya. Kehangatan tubuh
ibu merupakan stimulasi mental yang mutlak diperlukan oleh bayi. Rasa aman,
terlindung, dan percaya pada orang lain merupakan dasar terbentuknya rasa percaya
diri pada bayi. Ibu akan merasa bangga karena dapat memberikan yang terbaik bagi
bayinya.
Aspek Fisik
Dengan rawat gabung, ibu dengan mudah menyusui kapan saja bayi
menginginkannya. Dengan demikian ASI juga akan cepat keluar.
Aspek Fisiologis
Dengan rawat gabung, bayi dapat disusui dengan frekuensi yang lebih sering dan
menimbulkan refleks prolaktin yang memacu proses produksi ASI dan refleks
oksitosin yang membantu pengeluaran ASI dan mempercepat involusi rahim.
Pemberian ASI eksklusif dapat juga dipergunakan sebagai metode keluarga
29

berencana (metode amenorea laktasi) asal memenuhi syarat yaitu usia bayi belum
berusia 6 bulan, ibu belum haid lagi dan bayi masih diberikan ASI secara eksklusif.
Aspek Edukatif
Dengan rawat gabung ibu, terutama yang primipara, akan mempunyai pengalaman
menyusui dan merawat bayinya. Juga memberi kesempatan bagi perawat untuk tugas
penyuluhan, antara lain posisi dan perlekatan bayi untuk menyusui dan tanda-tanda
bahaya pada bayi. Ibu juga segera dapat mengenali perubahan fisik atau perilaku bayi
dan menanyakan pada petugas hal-hal yang dianggap tidak wajar. Sarana ini dapat
dipakai sebagai sarana pendidikan bagi keluarga.
Aspek Medis
Dengan rawat gabung, ibu merawat bayinya sendiri. Bayi juga tidak terpapar dengan
banyak petugas sehingga infeksi nosokomialdapat dicegah. Di samping itu,
kolostrum yang banyak mengandung berbagai zat proteksi akan cepat keluar dan
memberikan daya tahan bagi bayi.
Aspek Ekonomi
Dengan rawat gabung, pemberian ASI dapat dilakukan sedini mungkin sehingga
anggaran pengeluaran untuk membeli susu formula dan peralatan untuk membuatnya
dapat dihemat. Ruang bayi tidak perlu ada dan ruang dapat digunakan untuk hal lain.
Aspek Medis
Secara medis, pelaksanaan rawat gabung dapat menurunkan terjadinya infeksi
nosokomial pada bayi, serta menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu
maupun bayinya.
Dengan melakukan rawat gabung secara langsung, ibu-ibu muda (primipara) akan
mendapatkan pendidikan tentang berbagai cara merawat bayi dan memberikan ASI yang
benar.
32,33,34

C. Kerugian rawat gabung
Ibu kurang istirahat dan dapat terganggu oleh bayinya sendiri/bayi lain yang menangis.
Bisa terjadi salah pemberian makanan oleh karena pengaruh rekan-rekannya.
Ibu-ibu yang sakit atau yang kurang tau tentang hygiene/kebersihan.
Bayi bisa mendapat infeksi dari pengunjung.
Pada pelaksanaannya kadang-kadang ada hambatan-hambatan teknis serta hambatan
fasilitas.

30

D. Tujuan Rawat Gabung
Tujuan dari rawat gabung adalah agar ibu dapat menyusui bayinya sedini mungkin dan
setiap saat atau kapan saja saat di butuhkan.Ibu dapat melihat dan memahami cara perawatan
bayi yang benar seperti yang dilakukan oleh petugas. Ibu mempunyai pengalaman dan
keterampilan dalam merawat bayinya. Selain dari pada tujuan dari rooming in diatas adalah
sebagai berikut menurut.
32,33

Bantuan emosional
Setelah menunggu selama sembilan bulan dan setelah lelah dalam proses persalinan si
ibu akan sangat senang dan bahagia bila dekat dengan bayinya. Si ibu dapat membelai-
belai bayi, mendengar tangisnya serta memperhatikannya disaat buah hatinya tidur.
Hubungan ibu dan bayi ini sangat penting ditumbuhkan pada saat-saat awal dan bayi
akan memperoleh kehangatan tubuh ibu, suara ibu, kelembutan dan kasih sayangnya.
Penggunaan ASI
Dari segala sudut pertimbangan maka ASI adalah makanan terbaik bagi bayi dan
produksi ASI akan makin cepat dan makin banyak bila menyusui dilakukan sesegera dan
sesering mungkin. Pada hari-hari pertama yang keluar adalah kolostrum yang jumlahnya
sedikit. Tetapi hal itu tak perlu dikhawatirkan karena kebutuhan bayi masih sedikit.
Pencegahan infeksi
Pada perawatan bayi yang terpisah maka kejadian infeksi silang akan sulit dicegah.
Dengan melakukan rawat gabung maka infeksi silang dapat dihindari. Kolostrum yang
mengandung antibodi dalam jumlah tinggi, akan melapisi seluruh permukaan mukosa
dari saluran pencernaan bayi dan diserap oleh bayi sehingga bayi akan mempunyai
kekebalan yang tinggi. Kekebalan ini akan mencegah infeksi terutama terhadap diare.
Pendidikan kesehatan
Pada saat melaksanakan rawat gabung dapat dimanfaatkan untuk memberikan
pendidikan kesehatan kepada ibu, terutama primipara. Bagaimana teknik
menyusui,memandikan bayi, merawat tali pusat, perawatan payudara dan nasihat makan
yang baik, merupakan bahan-bahan yang diperlukan si ibu. Keinginan ibu untuk bangun
dari tempat tidur, menggendong bayi dan merawat diri akan Mempercepat
mobilisasi,sehingga si ibu akan lebih cepat pulih dari persalinan.

Pada situasi normal, rawat gabung ibu-bayi dapat mengurangi morbiditas dan
mortalitas neonatus; tujuannya agar ibu-bayi meningkatkan hubungan batinnya sejak
31

kelahiran; ibu selalu dapat merawat bayinya dan memberikan ASI on call/on demand;
dapat mengurangi terjadinya abses mama dan kemungkinan karsinoma mama; petugas
kesehatan dapat langsung memberikan petunjuk tentang berbagai masalah kala nifas
sehingga dapat dilalui dengan aman dan bersih.

E. Kontra indikasi rawat gabung
Pada keadaan tertentu maka rawat gabung tidak di anjurkan, misalnya pada :
32,33,35

1. Keadaan Ibu
a. Fungsi kardiorespiratorik yang tidak baik.
Pasien penyakit jantung kelas II dianjurkan untuk sementara tidak menyusui sampai
keadaan jantung cukup baik.
Bagi pasien jantung klasifikasi III tidak di benarkan menyusui. Penilaian akan hal ini
harus dengan hati-hati.
b. Eklampsia dan preeklampsia berat.
Keadaan ibu biasanya tidak baik dan pengaruh obat- obatan untuk mengatasi
penyakit,biasanya menyebabkan kesadaran menurun, sehingga ibu belum sadar betul.
Tidak di perbolehkan ASI dipompa dan diberikan pada bayi.
c. Penyakit infeksi akut dan aktif.
Bahaya penularan pada bayi yang di kawatirkan. Tuberkulosis paru yang aktif dan
terbuka merupakan kontra indikasi mutlak. Pada sepsis pada ibu biasanya buruk dan
tidak akan mampu menyusui. Banyak perdebatan mengenai penyakit infeksi apakah
dibenarkan menyusui atau tidak.
d. Karsinoma payudara
Pasien dengan karsinoma payudara harus dicegah jangan sampai ASInya keluar karena
mempersulit penilaian penyakitnya. Apabila menyusui ditakutkan adanya sel-sel
karsinoma yang terminum si bayi.
e. Psikosis.
Tidak dapat dikontrol keadaan jiwa si ibu bila menderita psikosis. Meskipun pada
dasarnya ibu sayang pada bayinya, tetapi selalu ada kemungkinan penderita psikosis
membuat cedera pada bayi.




32

2. Keadaan Bayi
a. Bayi kejang
Kejang-kejang pada bayi akibat cedera persalinan atau infeksi tidak memungkinkan
untuk menyusui. Ada bahaya aspirasi, bila kejang timbul saat bayi menyusui. Kesadaran
bayi yang menurun tidak memungkinkan bayi untuk menyusui.
b. Bayi yang sakit berat
Bayi dengan penyakit jantung atau paru-paru atau penyakit lain yang memerlukan
perawatan intensif tentu tidak memungkinkan untuk menyusu dan dirawat gabung.
c. Bayi yang memerlukan observasi atau terapi khusus
Selama observasi rawat gabung tidak dilaksanakan. Setelah keadaan membaik tentu
dapat dirawat gabung. Ini yang disebut rawat gabung tidak langsung.
d. Berat badan lahir sangat rendah
Refleks mengisap dan refleks lain belum baik sehingga tidak mungkin menyusu dan
dirawat gabung.
e. Cacat bawaan
Diperlukan persiapan mental si ibu untuk menerima keadaan bahwa bayinya cacat. Cacat
bawaan yang mengancam jiwa si bayi merupakan kontra indikasi mutlak.
f. Kelainan metabolik dimana bayi tidak dapat menerima ASI
32,34



F. Pelaksanaan Rawat Gabung
Sebagai pedoman penatalaksanaan rawat gabung telah disusun tata kerja sebagai berikut.
Di poliklinik Kebidanan
Memberikan penyuluhan mengenai kebaikan ASI dan rawat gabung
Memberikan penyuluhan mengenai perawatan payudara, makanan ibu hamil, nifas,
perawatan bayi, dan lain-lain
Mendemonstrasikan pemutaran film, slide mengenai cara-cara merawat payudara,
memandikan bayi, merawat tali-pusat, Keluarga Berencana dan sebagainya
Mengadakan ceramah, tanya jawab dan motivasi Keluarga Berencana
Menyelenggarakan senam hamil dan nifas
Membantu ibu-ibu yang mempunyai masalah-masalah dalam hal kesehatan ibu dan
anak sesuai dengan kemampuan.
33

Di kamar bersalin
Bayi yang memenuhi syarat perawatan bergabung dilakukan perawatan bayi baru lahir seperti
biasa. Adapun kriteria yang diambil sebagai syarat untuk dapat dirawat bersama ibunya ialah:
Usia kehamilan >34 minggu dan berat lahir >1800 gram, berarti refleks menelan dan
menghisapnya sudah baik
Nilai Apgar lebih dari 7
Tidak ada kelainan kongenital yang memerlukan perawatan khusus
Tidak ada trauma lahir atau morbiditas lain yang berat
Bayi yang lahir dengan seksio sesarea yang menggunakan pembiusan umum, rawat
gabung dilakukan setelah ibu dan bayi sadar, misalnya 4-6 jam setelah operasi selesai.
Apabila pembiusan secara spinal, bayi dapat segera disusui. Apabila ibu mendapatkan
infus, bayi tetap disusui.
Ibu dalam keadaan sehat
Di ruang perawatan
Bayi diletakkan di dalam tempat tidur bayi yang ditempatkan di samping tempat tidur ibu.
Pada waktu berkunjung bayi dan tempat tidurnya dipindahkan ke ruangan lain
Perawat harus memperhatikan keadaan umum bayi dan dapat dikenali keadaan-keadaaan
yang tidak normal serta kemudian melaporkan kepada dokter jaga
Bayi boleh menyusu sewaktu ia menginginkan, bayi tidak boleh diberi susu dari botol. Bila
ASI masih kurang, boleh menambahkan air putih atau susu formula dengan sendok
Ibu harus dibantu untuk dapat menyusui bayinya dengan baik, juga untuk merawat
payudaranya
Bila ibu dan bayi boleh pulang, sekali lagi diberi penerangan tentang cara-cara merawat bayi
dan pemberian ASI serta perawatan payudara dan makanan ibu menyusui. Kepada ibu
diberikan leaflet mengenai hal tersebut dan dipesan untuk memeriksakan bayinya 2 minggu
kemudian.
Di ruang follow-up
Pemeriksaan di ruangan follow up meliputi pemeriksaan bayi dan keadaan ASI. Aktivitas-
aktivitas di ruangan follow up:
Menimbang berat bayi
Anamnesis mengenai makanan bayi yang diberikan dan keluhan yang timbul
34

Mengecek keadaan ASI
Memberikan nasihat mengenai makanan bayi, cara menyusukan bayi
Pemeriksaan bayi oleh dokter Anak; pemberian imunisasi menurut instruksi dokter.
32,33,34

Tenaga kesehatan harus melihat dan memeriksa bayi dalam rawatgabung setiap hari untuk
mengetahui apakah bayi tersebut tetap dalam keadaan baik, atau perlu mendapat pengobatan
tertentu, atau perlu dipindahkan ke tempat perawatan bayi yang intensif.
1. Pemantauan keadaan bayi selama bayi dirawat
Bidan/perawat yang bekerja di bangsal bayi harus mengetahui ciri-ciri bayi yang normal,
supaya ia dapat mengenal segera perubahan tingkah-lakunya dan kemajuan/kemunduran
kesehatannya, dan membuat catatan serta laporan kepada dokter. Hal ini sangat membantu
dokter yang bekerja di tempat perawatan bayi untuk melakukan tindakan dan pemeriksaan
yang perlu guna menolong bayi tersebut. Pengamatan ditujukan terhadap:
a. Keadaan umum
Bayi yang sehat tampak kemerah-merahan, aktif, tonus otot baik, menangis kuat, minum
baik, suhu tubuh 36
o
C 37
o
C. hal-hal yang menyimpang dari keadaan ini dianggap tidak
normal.
b.Suhu tubuh paling kurang diukur satu kali sehari
c. Menimbang berat badan sebaiknya dilakukan setiap hari
d.Tinja yang berbentuk mekonium berwarna hijau tua yang telah berada di saluran
pencernaan sejak janin berumur 16 minggu, akan mulai keluar dalam waktu 24 jam,
pengeluaran ini akan berlangsung sampai hari ke 2-3.
e. Air kencing
Bila kandung kencing belum kosong pada waktu lahir, air kencing akan keluar dalam waktu
24 jam.
f. Perubahan warna kulit
g. Perubahan pernafasan
Pada setiap gangguan pernapasan harus dilakukan foto paru.
h.Hal-hal lain: bila bayi muntah, perlu dicatat jumlah, warna, konsistensi yang dikeluarkan,
cara muntah, apakah ada hubungannya dengan pemberian minum, gangguan di saluran
pencernaan.


35

2. Pemantauan keadaan bayi sehari-hari
a. Mata bayi harus selalu diperiksa untuk melihat tanda-tanda infeksi
b. Mulut diperiksa untuk kemungkinan infeksi dengan kandida (oral trush).
c. Kulit, terutama di lipatan-lipatan (paha, leher, belakang telinga, ketiak), harus selalu bersih
dan kering.
d. Tali-pusat pada umumnya akan puput pada waktu bayi berumur 6-7 hari. Bila tali-pusat
belum puput (lepas) maka setiap sesudah mandi tali-pusat harus dibersihkan dan dikeringkan.
e. Kain popok harus segera diganti setiap kali basah karena air kencing atau tinja. Pantat bayi
dibersihkan dengan air steril atau air bersih dan kemudian dikeringkan.
f. Sebelum tali pusat lepas, sebaiknya bayi diseka saja dengan air steril atau air matang,
bubuhkan obat antiseptik yang dapat membunuh kuman gram negatif/positif bila
memungkinkan.
32,33,35























36

BAB IV
KESIMPULAN

Untuk mendapatkan gizi yang baik pada bayi yang baru lahir maka ibu harus sesegera
mungkin menyusui bayinya karena ASI memberikan peranan penting dalam menjaga
kesehatan dan mempertahankan kelangsungan hidup bayi.
Program peningkatan penggunaan ASI menjadi prioritas karena dampaknya yang luas
terhadap status gizi dan kesehatan balita. Program ASI Eksklusif merupakan program
promosi pemberian ASI saja pada bayi tanpa memberikan makanan atau minuman lain.
Tahun 2004, sesuai dengan anjuran WHO, pemberian ASI eksklusif ditingkatkan menjadi 6
bulan sebagaimana dinyatakan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
no.450/MENKES/SK/VI/2004.
Hal lain yang tidak kalah penting selain pemberian ASI pada bayi yang baru lahir adalah
rawat gabung. Tingginya angka kematian bayi di Indonesia dapat diminimalisir salah satunya
dengan melaksanakan rawat gabung (rooming in). Rawat gabung (rooming in) adalah satu
cara perawatan di mana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan
ditempatkan dalam sebuah ruangan, kamar atau tempat bersama-sama selama 24 jam penuh
dalam seharinya.
Manfaat ASI bagi bayi antara lain meningkatkan daya tahan tubuh, menurunkan risiko
mortalitas, risiko penyakit akut dan kronis.
Inisiasi menyusu dini dalam 30 menit pertama kelahiran merupakan salah satu dari 10
langkah menuju keberhasilan menyusui. Studi terbaru yang melibatkan hampir 34.000 bayi
yang baru lahir menunjukkan bahwa risiko kematian meningkat dengan peningkatan
penundaan inisiasi menyusu. Di Ghana, neonatus 2,5 kali lebih mungkin meninggal saat
inisiasi menyusu dimulai setelah 24 jam dibanding menyusui yang dimulai dalam satu jam
pertama setelah lahir.
IMD dan ASI ekslusif selama 6 bulan merupakan kontribusi utama dalam menurunkan
mortalitas bayi dan anak-anak. Pentingnya IMD merupakan salah satu rekomendasi WHO.
Hal lain yang tidak kalah penting selain pemberian ASI pada bayi yang baru lahir adalah
rawat gabung. Tingginya angka kematian bayi di Indonesia dapat diminimalisir salah satunya
dengan melaksanakan rawat gabung (rooming in).
Dengan melakukan rawat gabung secara langsung, ibu-ibu muda (primipara) akan
mendapatkan pendidikan tentang berbagai cara merawat bayi dan memberikan ASI yang
benar.
37

Pada keadaan tertentu maka rawat gabung tidak di anjurkan, misalnya pada keadaan Ibu
dengan fungsi kardiorespiratorik yang tidak baik, Eklampsia dan preeklampsia berat,
Penyakit infeksi akut dan aktif, karsinoma payudara, psikosis. Pada keadaan bayi kejang, bayi
yang sakit berat, bayi yang memerlukan observasi atau terapi khusus, berat badan lahir sangat
rendah, cacat bawaan, Kelainan metabolik dimana bayi tidak dapat menerima ASI.





























38

DAFTAR PUSTAKA


1. Depkes. Manajemen Laktasi. Buku Panduan Bagi Bidan dan Petugas Kesehatan di
Puskesmas. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. 2005; 123-35
2. Aprilia, Y. Analisis Sosialisasi Program Inisiasi Menyusu Dini Dan Asi Eksklusif
Kepada Bidan Di Kabupaten Klaten. Tesis Universitas Diponegoro Semarang 2009
3. Dahlan, S. Statistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan ed.3. Jakarta : Salemba Medika.
2009; 86-94
4. Sri Susanti, Fransiska. Buku indonesia Menyusui 2009 (cited Nov 08). Available at:
http://www.idai.or.id/asi/artikel
5. Notoatmodjo S. Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Jakarta; Rineka Cipta. 2008;88-
95
6. Depkes, 2005. Manajemen Laktasi. Buku Panduan Bagi Bidan dan Petugas
Kesehatan di Puskesmas. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.
7. Apurba et al. Infant and Young Child-feeding Practices in Bankura District, West
Bengal, India. J Health Popul Nutr. 2010 June; 28(3): 294299
8. Bergstrom, A., Okong, P., & Ransjo-Arvidson, A. Immediate maternal thermal
response to skin-to-skin care of newborn. Acta Paediatr, 96(5), 655-658, 2007
9. Bhutta ZA, Ahmed T, Black RE, Cousens S, Dewey K, Giugliani E, et al. What
works? Interventions for maternal and child undernutrition and survival. Lancet.
2008;371:41740
10. Dadhich JP, Agarwal RK. Mainstreaming early and exclusive breastfeeding for
improving child survival. Indian Pediatr. 2009;46:117
11. Dinesh K. Et al. Influence of Infant Feeding Practices on Nutritional Status of Under
Five Children. Indian Journal of Pediatrcs, Vol 73-May, 2006
12. Dyson L, McCormick F, and Renfrew MJ. Interventions for promoting the initiation
of breastfeeding (Review). The Cochrane Library 2007, Issue 4
13. Edmond KM, Zandoh C, Quigley MA, Amenga-Etego S, Owusu-Agyei S, Kirkwood
BR. Delayed breastfeeding initiation increases risk of neonatal mortality. Pediatrics.
2006;117:380-6.
14. Kirkwood BR, Amenga-Etegos S, Owusu-Agyei S, Hurt LS. Effect of early infant
feeding practices on infection-specific neonatal mortality: an investigation of the
39

causal links with observational data from rural Ghana. Am J Clin Nutr. 2007; 86:1126
31
15. Ertem IO, Votto N and Leventhal JM. The timing and predictors of early termination
of breastfeeding. Pediatrics 2001: 107; 543-548. Available at
http://www.pediatrics.org/cgi/content/full/107/3/543
16. Februhartanty J, Strategic Roles of Fathers in Optimizing breastfeeding Practices;
Study in an Urban Setting Of Jakarta, UI, Jakarta, 2008
17. Fikawati, S. dan Syafiq, A. Kajian Implementasi Dan Kebijakan Air Susu Ibu
Eksklusif Dan Inisiasi Menyusu Dini Di Indonesia. Makara, kesehatan, vol. 14, no. 1,
juni 2010: 17-24
18. Praktik pemberian ASI eksklusif, penyebab-penyebab keberhasilan dan kegagalannya.
Jurnal Kesmas Nasional 2009; 4(3):120-131
19. Hubungan Antara Menyusui Segera (Immediate Breastfeeding) dan Pemberian ASI
eksklusif Sampai Dengan Empat Bulan. J Kedokteran Trisakti. Mei-Agustus 2008,
Vol.22 No.2
20. Giugliani ERJ. Common problems during lactation and their management. J Pediatr
(Rio J) 2004; 80 (5 Suppl): S147-S154
21. Kori B. Flower, et al. Understanding Breastfeeding Initiation and Continuation in
Rural Communities: A Combined Qualitative/Quantitative Approach. Matern Child
Health J. 2008 May ; 12(3): 402414
22. Lucas, A. & Cole, T.J. Breast milk and neonatal necrotising enterocolitis. The Lancet.
Dec 2009;336 (8730): 1519-1523 (1990).
23. Luke, et al. Breast-Feeding Patterns, Time to Initiation, and Mortality Risk among
Newborns in Southern Nepal. J. Nutr 2008. 138: 599603.
24. Muchina EN and PM Waithaka. Relationship betwen breastfeeding practices and
nutritional status of children aged 0-24 months in Nairobi, Kenya. Ajfand Online 2010
Vol. 10 No.4: 89-97.
25. Mullany, L.C. et al. Breast-feeding patterns, time to initiation, and mortality risk
among newborns in Southern Nepal. J Nutr 2008. 138: 599-603.
26. Mushaphi et al. Infant-feeding practices of mothers and the nutritional status of
infants in the Vhembe District of Limpopo Province. S Afr J Clin Nutr 2008;21(2):36-
41
40

27. Owor M, Tumwine JK and JK Kaukauna. Socio-economic risk factors for severe
protein energy malnutrition among children in Mulago Hospital Kampala.
E.Afr.Me.J.2000;Vol.77(9): 471-474
28. Prasad, Bindeshwar, and Anthony M de L Costello. Impact and Sustainability of a
Baby Friendly Health Education Intervention at a District Hospital in Bihar, India.
British Medical Journal 2005; 310:621-623
29. UNICEf, 2007. Breast Crawl ; Initiation of Breastfeeding by Breast Crawl, Breast
Crawl.org
30. World Health Organization. Community-Based strategies for Breastfeeding
Promotion and Support in Developing Countries. 2003
31. Yang Q, Wen SW, Dubois L, Chen Y, Walker MC, Krewski D. Determinants of
breast-feeding and weaning in Alberta, Canada. J Obstet Gynaecol Can. 2005
Nov;26(11):975-81
32. Suradi R. Penggunaan Air Susu Ibu dan Rawat Gabung ; Ilmu Kebidanan. Edisi ke-4.
Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2009 : Hal: 375-388
33. Farrer, Helen. Perawatan Maternitas edisi 3. Jakarta : EGC; 2008;76-82.
34. Manuaba, I.B.G, dkk. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC
Prawirohardjo, Sarwono. 2007.
35. Manuaba, Ida Ayu. 2002. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana. Jakarta; EGC;2008; 185-94