Anda di halaman 1dari 15

NAMA : ADE DYAH W.

KELAS : VIII-D
NO.ABS : 01
KOMISI YUDISIAL (KY)
Sejarah
Sebagai pengawas eksternal yang menjalankan fungsi checks and balances, Komisi
Yudisial mendukung terwujudnya kekuasaan kehakiman yang mandiri demi tegaknya hukum
dan keadilan. Dengan demikian, para pencari keadilan tidak merasa kecewa terhadap praktik
penyelenggaraan peradilan.
Komisi Yudisial merupakan respon dari tuntutan reformasi yang bergulir tahun 1998.
Saat itu, salah satu dari enam agenda reformasi yang diusung adalah penegakan supremasi
hukum, penghormatan hak asasi manusia (HAM), serta pemberantasan korupsi, kolusi dan
nepotisme (KKN). Tuntutan tersebut merupakan wujud kekecewaan rakyat terhadap praktik
penyelenggaraan negara sebelumnya yang dihiasi berbagai penyimpangan, termasuk dalam
proses penyelenggaraan peradilan.
Sejarah Komisi Yudisial dimulai pada 9 November 2001, saat sidang tahunan Majelis
Permusyarawatan Rakyat RI mengesahkan amandemen ketiga UUD 1945. Dalam sidang
itulah Komisi Yudisial resmi menjadi salah satu lembaga negara yang diatur secara khusus
dalam konstitusi/dasar negara dalam Pasal 24B UUD 1945.
Kondisi peradilan menjadi salah satu fokus pembahasaan MPR RI, sehingga perlu
diterbitkan Ketetapan MPR RI Nomor X/MPR/1998 tentang Pokok-Pokok Reformasi
Pembangunan dalam Rangka Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan Nasional Sebagai
Haluan Negara. Mengutip TAP tersebut digambarkan kondisi hukum sebagai berikut:
Selama tiga puluh dua tahun pemerintah Orde Baru, pembangunan hukum khususnya
yang menyangkut peraturan perundang-undangan organik tentang pembatasan kekuasaan
Presiden belum memadai. Kondisi ini memberi peluang terjadinya praktik-praktik korupsi,
kolusi dan nepotisme serta memuncak pada penyimpangan berupa penafsiran yang hanya
sesuai dengan selera penguasa. Telah terjadi penyalahgunaan wewenang, pelecehan hukum,
pengabaian rasa keadilan, kurangnya perlindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat.
Pembinaan lembaga peradilan oleh eksekutif merupakan peluang bagi penguasa
melakukan intervensi ke dalam proses peradilan serta berkembangnya kolusi dan praktek-
praktek negatif pada proses peradilan. Penegakan hukum belum memberi rasa keadilan dan
kepastian hukum pada kasus-kasus yang menghadapkan pemerintah atau pihak yang kuat
dengan rakyat, sehingga menempatkan rakyat pada posisi yang lemah
Awal Berkiprah
Meski pengesahan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 pada 13 Agustus 2004,
namun kiprah Komisi Yudisial dimulai sejak terbentuknya organ organisasi pada 2 Agustus
2005. Ditandai dengan pengucapan sumpah ketujuh Anggota Komisi Yudisial periode 2005-
2010di hadapanPresiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Periode tersebut dipimpin Dr. M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum, dan Wakil Ketua
M.Thahir Saimima, S.H., M.Hum. Anggota yang lain adalah Prof. Dr. Mustafa Abdullah
(Koordinator Bidang Penilaian Prestasi Hakim dan Seleksi Hakim Agung),Zaenal Arifin,
S.H.(Koordinator Bidang Pelayanan Masyarakat), Soekotjo Soeparto, S.H., L.LM.
(Koordinator Bidang Hubungan Antar Lembaga), Prof. Dr. Chatamarrasjid Ais,S.H., M.H.
(Alm)(Koordinator Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), dan Irawady
Jonoes,S.H.(Koordinator Bidang Pengawasan Keluhuran Martabat dan Perilaku Hakim) yang
tidak dapat menuntaskanhingga masa jabatan berakhir.
Kemudian secara bertahap, Komisi Yudisial melengkapi kebutuhan organisasi dengan
Membentuk Sekretariat Jenderal untuk memberikan dukungan teknis administratif yang
dipimpin Drs. Muzayyin Mahbub, M.Si. sebagai Sekretaris Jenderal.
Sebagai organisasi baru, pada awal masa menjalankan tugas dan wewenangnya,
Komisi Yudisial masih dengan kondisi yang memprihatinkan. Pada saat Komisi Yudisial
terbentuk, lembaga negara ini belum memiliki kantor untuk menjalankan aktivitasnya.
Awalnya, Komisi Yudisial menumpang sebuah ruangan milik Departemen Hukum dan HAM
dengan sarana dan prasarana seadanya. Setelah itu Komisi Yudisial pindah kantor dengan
menyewa dua lantai sebuah gedung di jalan Abdul Muis. Setelah melalui proses panjang,
akhirnya Komisi Yudisial baru menempati gedung sendiri di Jalan Kramat Raya Nomor 57
Jakarta Pusatsejak Agustus tahun 2009.
Dalam perjalanannya, lembaga yang diberi amanat untuk mengusulkan pengangkatan
hakim agung danmempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan
kehormatan,keluhuran martabat, serta perilaku hakim ini tak luput dari peristiwa yang
menyesakan dada.
Sebanyak 31 orang hakim agung mengajukan permohonan uji materiil (judicial
review) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Yang akhirnya,
melalui Putusan MahkamahKonstitusi Nomor: 005/PUU-IV/2006, beberapa kewenangan
dalam pengawasan hakim dan hakim MK tidak berlaku. Terkait hakim konstitusi, putusan
tersebut menjadi perdebatan panjang lantaran pemohon tidak pernah mengajukannya.
Sejak Mahkamah Konstitusi mempreteli wewenang Komisi Yudisial melalui
putusannya yang keluar pada tahun 2006, Komisi Yudisial dan sejumlah elemen bangsa yang
mendukung peradilan bersih, transparan, dan akuntabel melakukan berbagai upaya untuk
mengembalikan peranKomisi Yudisial. Salah satu upayanya adalah dengan merevisi Undang-
Undang Nomor 22 Tahun 2004. Sayangnya, hingga akhir periode pertama kepemimpinan
Anggota Komisi Yudisial tahun 2005-2010 upaya merevisi Undang-Undang Nomor 22 tahun
2004 tersebut belum berhasil.
Tujuan
1. Mendukung terwujudnya kekuasaan kehakiman yang mandiri untuk menegakkan
hukum dan keadilan.
2. Meningkatkan integritas, kapasitas, dan profesionalitas hakim sesuai dengan kode etik
dan pedoman perilaku hakim dalam menjalankan kewenangan dan tugasnya.
Tugas dan Wewenang
Wewenang
Sesuai Pasal 13 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-
Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial, Komisi Yudisial mempunyai
wewenang:
1. Mengusulkan pengangkatan hakim agung dan hakim ad hoc di Mahkamah Agung
kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan;
2. Menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim;
3. Menetapkan Kode Etik dan/atau Pedoman Perilaku Hakim (KEPPH) bersama-sama
dengan Mahkamah Agung;
4. Menjaga dan menegakkan pelaksanaan Kode Etik dan/atau Pedoman Perilaku Hakim
(KEPPH).
Tugas
1. Melakukan pendaftaran calon Hakim Agung;
2. Melakukan seleksi terhadap calon Hakim Agung;
3. Menetapkan calon Hakim Agung; dan
4. Mengajukan calon Hakim Agung ke DPR.
Menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim:
1. Dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat,
serta perilaku Hakim, Komisi Yudisial mempunyai tugas:
Melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap perilaku Hakim;
Menerima laporan dari masyarakat berkaitan dengan pelanggaran Kode
Etik dan/atau Pedoman Perilaku Hakim;
Melakukan verifikasi, klarifikasi, dan investigasi terhadap laporan dugaan
pelanggaran Kode Etik dan/atau Pedoman Perilaku Hakim secara tertutup;
Memutuskan benar tidaknya laporan dugaan pelanggaran Kode Etik
dan/atau Pedoman Perilaku Hakim; dan
Mengambil langkah hukum dan/atau langkah lain terhadap orang
perseorangan, kelompok orang, atau badan hukum yang merendahkan
kehormatan dan keluhuran martabat Hakim.
2. Selain tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Komisi Yudisial juga
mempunyai tugas mengupayakan peningkatan kapasitas dan kesejahteraan
Hakim.
3. Dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat,
serta perilaku hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a Komisi
Yudisial dapat meminta bantuan kepada aparat penegak hukum untuk
melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan dalam hal adanya dugaan
pelanggaran Kode Etik dan/atau Pedoman Perilaku Hakim oleh Hakim.
4. Aparat penegak hukum wajib menindaklanjuti permintaan Komisi YUdisial
sebagaimana dimaksud pada ayat (3).
5. Komisi Yudisial dapat memanggil saksi dengan paksa apabila tidak
memenuhi panggilan 3 (tiga) kali berturut-turut.
Anggota (2010-2015)
Keanggotaan komisi Yudisial terdiri atas mantan hakim, praktisi hukum,
akademisi hukum, dan anggota masyarakat. Anggota Komisi Yudisial adalah pejabat
Negara, terdiri dari 7 orang (termasuk Ketua dan Wakil Ketua yang merangkap
Anggota). Anggota Komisi Yudisial memegang jabatan selama masa 5 (lima) tahun
dan sesudahnya dapat dipilih kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan.
Paruh Kedua\
Anggota Komisi Yudisial Paruh kedua Periode 2010-2015 (Juli 2013 -
Desember 2015)
Dr. Suparman Marzuki, S.H., M.Si. (Ketua)
Dr. H. Abbas Said, S.H., M.H. (Wakil Ketua
)

Prof. Dr. H. Eman Suparman, S.H., M.H (Ketua Bidang Pengawasan Hakim dan
Investigasi)
H. Imam Anshori Saleh, S.H., M.Hum. (Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga
dan Layanan Informasi)
Dr. Taufiqurrohman Syahuri, S.H., M.H. (Ketua Bidang Rekrutmen Hakim)
Dr. Jaja Ahmad Jayus, S.H., M.Hum. (Ketua Bidang Sumber Daya Manusia,
Penelitian, Pengembangan dan Advokasi)
Dr. Ibrahim, S.H., M.H., LL.M. (Ketua Bidang Pencegahan dan Peningkatan
Kapasitas Hakim)
Paruh Pertama
Anggota Komisi Yudisial Paruh Pertama Periode 2010-2015 (Januari 2010 -
Juli 2013)
Prof. Dr. H. Eman Suparman, S.H., M.H (Ketua)
H. Imam Anshori Saleh, S.H., M.Hum. (Wakil Ketua)
Dr. Taufiqurrohman Syahuri, S.H., M.H. (Ketua Bidang Rekrutmen Hakim)
Dr. Suparman Marzuki, S.H., M.Si. (Ketua Bidang Pengawasan Hakim dan
Investigasi)
H. Abbas Said, S.H., M.H. (Ketua Bidang Pencegahan dan Pelayanan
Masyarakat)
Dr. Jaja Ahmad Jayus, S.H., M.Hum. (Ketua Bidang Sumber Daya Manusia,
Penelitian dan Pengembangan)
Dr. Ibrahim, S.H., M.H., LL.M. (Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga)

MAHKAMAH KONSTITUSI (MK)
Sejarah
Latar belakang
Lembaran awal sejarah praktik pengujian Undang-undang (judicial review) bermula
di Mahkamah Agung (MA) (Supreme Court) Amerika Serikat saat dipimpin John
Marshall dalam kasus Marbury lawan Madison tahun 1803. Kendati saat itu Konstitusi
Amerika Serikat tidak mengatur pemberian kewenangan untuk melakukan judicial
review kepada MA, tetapi dengan menafsirkan sumpah jabatan yang mengharuskan untuk
senantiasa menegakkan konstitusi, John Marshall menganggap MA berwenang untuk
menyatakan suatu Undang-undang bertentangan dengan konstitusi.
Adapun secara teoritis, keberadaan Mahkamah Konstitusi baru diintrodusir pertama
kali pada tahun 1919 oleh pakar hukum asal Austria, Hans Kelsen(1881-1973). Hans
Kelsel menyatakan bahwa pelaksanaan konstitusional tentang legislasi dapat secara efektif
dijamin hanya jika suatu organ selain badan legislatif diberikan tugas untuk menguji apakah
suatu produk hukum itu konstitusional atau tidak, dan tidak memberlakukannya jika menurut
organ ini tidak konstitusional. Untuk itu perlu diadakan organ khusus yang disebut
Mahkamah Konstitusi (constitutional court).
Masa Penyusunan UUD 1945
Bila ditelusuri dalam sejarah penyusunan UUD 1945, ide Hans Kelsen mengenai
pengujian Undang-undang juga sebangun dengan usulan yang pernah diungkapkan
oleh Muhammad Yamin dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (BPUPKI). Yamin mengusulkan bahwa seharusnya Balai Agung (atau Mahkamah
Agung) diberi wewenang untuk "membanding Undang-undang" yang maksudnya tidak lain
adalah kewenangan judicial review. Namun usulan Yamin ini disanggah
oleh Soepomo dengan alasan bahwa; pertama, konsep dasar yang dianut dalam UUDyang
telah disusun bukan konsep pemisah kekuasaan (separation of power) melainkan
konsep pembagian kekuasaan (distribution of power); kedua, tugas hakim adalah
menerapkan Undang-undang bukan menguji Undang-undang; dan ketiga, kewenangan hakim
untuk melakukan pengujian Undang-undang bertentangan dengan konsep supremasi Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR), sehingga ide akan pengujian Undang-undang
terhadap UUDyang diusulkan Yamin tersebut tidak diadopsi dalam UUD 1945.
Masa Reformasi 1998
Seiring dengan momentum perubahan UUD 1945 pada masa reformasi (1999-2004),
ide pembentukan Mahkamah Konstitusi (MK) di Indonesia makin menguat. Puncaknya
terjadi pada tahun 2001 ketika ide pembentukan MK diadopsi dalam perubahan UUD
1945 yang dilakukan oleh MPR, sebagaimana dirumuskan dalam ketentuan Pasal 24 ayat (2)
dan Pasal 24C UUD 1945 dalam Perubahan Ketiga.
Masa pembentukan dasar hukum
Selanjutnya untuk merinci dan menindaklanjuti amanat Konstitusi tersebut,
Pemerintah bersama DPR membahas Rancangan Undang-Undang tentang Mahkamah
Konstitusi. Setelah dilakukan pembahasan beberapa waktu lamanya, akhirnya RUU tersebut
disepakati bersama oleh pemerintah bersama DPR dan disahkan dalam Sidang Paripurna
DPR pada 13 Agustus 2003. Pada hari itu juga, UU tentang MK ini ditandatangani
oleh Presiden Megawati Soekarnoputri dan dimuat dalam Lembaran Negara pada hari yang
sama, kemudian diberi nomor UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi
(Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 98, Tambahan Lembaran NegaraNomor 4316). Ditilik
dari aspek waktu, Indonesia merupakan negara ke-78 yang membentuk MK dan sekaligus
sebagai negara pertama di dunia yang membentuk lembaga ini pada abad ke-21. Tanggal 13
Agustus 2003 inilah yang kemudian disepakati para hakim konstitusi menjadi hari lahir
MKRI.
Masa penetapan Hakim Konstitusi
Bertitik tolak dari UU Nomor 24 Tahun 2003, dengan mengacu pada prinsip
keseimbangan antar cabang kekuasaan negara, dilakukan rekrutmen hakim konstitusi yang
dilakukan oleh tiga lembaga negara, yaitu DPR, Presiden dan MA. Setalah melalui tahapan
seleksi sesuai mekanisme yang berlaku pada masing-masing lembaga tersebut, masing-
masing lembaga mengajukan tiga calon hakim konstitusi kepada Presiden untuk ditetapkan
sebagai hakim konstitusi.
DPR mengajukan Prof. DR. Jimly Asshiddiqie, S.H., Letjen. TNI (Purn.) H. Achmad
Roestandi, S.H. dan I Dewa Gede Palguna, S.H., M.H. Sedangkan Presiden mengajukan Prof.
H. Ahmad Syarifuddin Natabaya, S.H., LL.M., Prof. H. Abdul Mukthie Fadjar, S.H., M.S.
dan DR. Harjono, S.H., MCL.Sementara MA mengajukan Prof. DR. H. Mohammad Laica
Marzuki, S.H., Soedarsono, S.H. dan Maruarar Siahaan, S.H.
Pada 15 Agustus 2003, pengangkatan hakim konstitusi untuk pertama kalinya dalam
sejarah ketatanegaraan Indonesia ditetapkan dengan Keputusan Presiden Nomor 147/M
Tahun2003 yang dilanjutkan dengan pengucapan sumpah jabatan para hakim konstitusi
di Istana Negara, pada 16 Agustus 2003. Setelah mengucapkan sumpah, para hakim
konstitusi langsung bekerja menunaikan tugas konstitusionalnya sebagaimana tercantum
dalam UUD 1945.
Masa pemantapan kelembagaan
Dalam melaksanakan tugas konstitusionalnya, para hakim konstitusi membutuhkan
dukungan administrasi aparatur pemerintah, baik yang bersifat administrasi umum maupun
administrasi yustisial. Terkait dengan hal itu, untuk pertama kalinya dukungan administrasi
umum dilaksanakan oleh Sekretaris Jenderal MPR. Oleh sebab itu, dengan persetujuan
Sekretaris Jenderal MPR, sejumlah pegawai memberikan dukungan terhadap pelaksanaan
tugas konstitusional para hakim konstitusi. Sebagai salah satu wujudnya adalah Kepala Biro
Majelis MPR, Janedjri M. Gaffar, ditetapkan sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Sekretris Jenderal
MK sejak tanggal 16 Agustus 2003 hingga 31 Desember 2003. Kemudian pada 2
Januari 2004, Presiden Megawati Soekarnoputri menetapkan Anak Agung Oka Mahendra,
S.H. sebagai Sekretaris Jenderal MK definitif. Dalam perkembangganya, Oka
Mahendramengundurkan diri karena sakit, dan pada 19 Agustus 2004 terpilih Janedjri M.
Gaffar sebagai Sekretaris Jenderal MK yang baru menggantikan Oka Mahendra.
Sejalan dengan itu, ditetapkan pula Kepaniteraan MK yang mengemban tugas
membantu kelancaran tugas dan wewenang MK di bidang administrasi yustisial. Panitera
bertanggungjawab dalam menangani hal-hal seperti pendaftaran permohonan dari para
pemohon, pemeriksaan kelengkapan permohonan, pencatatan permohonan yang sudah
lengkap dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi, hingga mempersiapkan dan membantu
pelaksanaan persidangan MK. Bertindak sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Panitera
mendampingi Plt. Sekjen MK adalah Marcel Buchari, S.H. yang di kemudian hari secara
definitif digantikan oleh Drs. H, Ahmad Fadlil Sumadi, S.H., M.Hum.
Lintasan perjalan MK selanjutnya adalah pelimpahan perkara dari MA ke MK,
pada 15 Oktober 2003, yang menandai mulai beroperasinya kegiatan MK sebagai salah satu
cabang kekuasaan kehakiman menurut ketentuan UUD 1945. Mulai beroperasinya kegiatan
MK juga menandari berakhirnya kewenangan MA dalam melaksanakan kewenangan MK
sebagaimana diamanatkan oleh Pasal III Aturan Peralihan UUD 1945.
Setelah bekerja penuh selama lima tahun, halim konstitusi periode pertama (2003-
2008) telah memutus 205 perkara dari keseluruhan 207 perkara yang masuk. Perkara-perkara
tersebut meliputi 152 perkara Pengujian Undang-undang (PUU), 10 perkara Sengketa
Kewenangan Lembaga Negara (SKLN) dan 45 perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum
(PHPU). Periode pertama hakim konstitusi berakhir pada 16 Agustus 2008. Dalam perjalanan
sebelum akhir periode tersebut tiga hakim konstitusi berhenti karena telah memasuki usia
pensiun (berdasarkan Pasal 23 ayat (1) huruf c UU MK, usia pensiun hakim konstitusi adalah
67 tahun), yakni Letjen. TNI (Purn.) H. Achmad Roestandi, S.H.yang kemudian diganti oleh
Prof. DR. Mohammad Mahfud MD., S.H., Prof. DR. H. Mohammad Laica Marzuki, S.H.
yang posisinya diganti oleh DR. H. Mohammad Alim, S.H., M.Hum. dan Soedarsono, S.H.
yang kedudukannya diganti oleh DR. H. Muhammad Arsyad Sanusi, S.H., M.Hum. Tiga
nama yang baru menggantikan tersebut sekaligus meneruskan jabatannya sebagai hakim
konstitusi untuk periode kedua (2008-2013).
Di periode kedua ini, enam hakim konstitusi lainnya terpilih Prof. H. Abdul Mukthie
Fadjar, S.H., M.S. (untuk yang kedua kali), Prof. DR. Achmad Sodiki, S.H. dan Prof. DR.
Maria Farida Indrati, S.H. yang diajukan Presiden. Kemudian Prof. DR. Jimly Asshiddiqie,
S.H. (untuk yang kedua kali) dan Muhammad Akil Mochtar, S.H., M.H. yang diajukan DPR.
Sementara MA mengajukan kembali Maruarar Siahaan, S.H. yang sebelumnya telah menjadi
hakim konstitusi periode pertama. Dengan demikian di periode kedua MK terdapat tiga nama
lama dan enam nama baru. Akan tetapi dalam perkembangannya, Prof. DR. Jimly
Asshiddiqie, S.H. mengundurkan diri sebagai hakim konstitusi yang berlaku efektif mulai
tanggal 1 November 2008 dan digantikan oleh DR. Harjono, S.H., MCL. yang mengucapkan
sumpah pada tanggal 24 Mare 2009, sedangkan Prof. H. Abdul Mukthie Fadjar, S.H., M.S.
dan Maruarar Siahaan, S.H. mulai 1 Januari 2010 memasuki usia pensiun dan digantikan oleh
DR. Hamdan Zoelva, S.H., M.H. dan Drs. H. Ahmad Fadlil Sumadi, S.H., M.Hum. yang
mengucapkan sumpah pada tanggal 7 Januari 2010. Formasi sembilan hakim konstitusi inilah
yang sekarang menjalankan tugas-tugas konstitusional Mahkamah Konstitusi.
Setelah sembilan Hakim Konstitusi mengucapkan sumpah di Istana Negara pada 16
Agustus 2003, belum ada aparatur yang ditugaskan memberikan pelayanan dan dukungan
terhadap pelaksanaan tugas para Hakim Konstitusi. Demikian pula belum ada kantor sebagai
tempat bekerja para Hakim Konstitusi. Pada saat itu, alamat surat menyurat menggunakan
nomor telepon seluler Prof. DR. Jimly Asshiddiqie, S.H.

Masa pemenuhan sarana dan prasarana
Keterbatasan sarana dan kurangnya dukungan teknis bagi pelaksanaan tugas-tugas
Hakim Konstitusi merupakan persoalan yang menjadi prioritas untuk diselesaikan dengan
segera. Setelah melalui pembahasan di kalangan Hakim Konstitusi, akhirnya diputuskan dua
hal.
Pertama, meminta bantuan tenaga dari Sekretariat Jenderal MPR untuk memberikan
dukungan administrasi umum dan MA untuk tenaga administrasi justisial. Kedua, menyewa
ruangan di Hotel Santika yang terletak di Jalan KS. Tubun, Slipi, Jakarta Barat, untuk
dijadikan kantor sementara. Tidak lama kemudian, MK berpindah kantor dengan menyewa
ruangan di gedung Plaza Centris di Jalan HR. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan,
tepatnya di lantai 4 dan lantai 12A. Namun, ruangan yang tersedia bagi MK di Plaza Centris
masih jauh dari memadai. Karena keterbatasan ruang tersebut, para pegawai MK berkantor di
lahan parkir kendaraan yang disulap menjadi ruang kantor modern. Seiring dengan itu, Ketua
MK mengangkat Janedjri M. Gaffar sebagai Plt. Sekjen pada tanggal 4 September 2003 dan
pada 1 Oktober 2003 menangkan Marcel Buchari, S.H. sebagai Plt. Panitera.
Meskipun sudah memiliki kantor, keterbatasan saran masih menjadi persoalan bagi MK.
Selama berkantor di Hotel Santika dan Plaza Centris, MK harus meminjam Gedung
Nusantara IV (Pusaka Loka) Kompleks MPR/DPR, salah satu ruang di Mabes Polri dan salah
satu ruang di Kantor RRI sebagai ruang sidang karena belum memiliki ruang sidang yang
representatif. Hal ini tentu saja menjadi hambatan bagi mobilitas kerja para Hakim Konstitusi
sekaligus ironi bagi lembaga negara sekaliber MK yang mengawal konstitusi sebagai hukum
tertinggi di negeri ini. Karena itu, ketika merumuskan Cerak Biru "Membangun Mahkamah
Konstitusi sebagai Institusi Peradilan Konstitusi yang Modern dan Terpercaya", gagasan
pembangunan gedung MK mendapat penekanan tersendiri.
Setelah menempati gedung di Jalan Medan Merdeka Barat No. 7 Jakarta Pusat milik
Kementerian Negara Komunikasi dan Informasi (Kominfo) pada tahun 2004, barulah MK
bisa menggelar persidangan di kantor sendiri. Meski demikian, ruangan dan fasilitas yang
tersedia di gedung tersebut masih belum memadai, terutama ketika MK harus menangani
perkara yang menumpuk dan membutuhkan peralatan-peralatan canggih sebagaimana terjadi
pada Pemilu 2004. Ketika melakukan pemeriksaan perkara perselisihan hasil pemilihan
umum Legislatif 2004, ruang persidangan yang ada di gdung MK tidak mencukupi sehingga
MK meminjam ruang di gedung RRI yang terletak tidak jauh dari kantor MK. Begitu juha
ketika haru menggelar persidangan jarak jauh, MK harus meminjam ruang dan fasilitas
teleconference.
Tugas dan Wewenang
Tugas dan Wewenang Mahkamah Konstusi menurut UUD 1945 adalah :
Tugas
1. Berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang keputusannya bersifat
final untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus
sengketa kewewenangan lembaga Negara yang kewewenangannya diberikan oleh
UUD1945, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang
hasil Pemilihan Umum.
2. Wajib memberi keputusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan
pelanggaran oleh Presiden atau Wakil Presiden menurut UUD 1945.
Wewenang
1. Menguji undang-undang terhadap UUD 19451.
2. Memutus sengketa kewenangan antar lembaga negara 2. yang kewenangannya
diberikan oleh UUD 1945.
3. Memutus pembubaran partai politik.
4. Memutus perselisihan tentang hasil pemilu.
Tujuan
1. Mempelajari Pengelolaan SI pada lingkungan Enterprise
2. Memahami Pengendalian SI suatu Enterprise
3. Memahami Audit SI suatu Enterprise
Anggota
Periode 2008 2013
1. Mohammad Mahfud MD (Ketua)
2. Harjono (2009-), menggantikan Jimly Asshiddiqie (2008-2009)
3. Maria Farida Indrati
4. Ahmad Fadlil Sumadi (2009-), menggantikan Maruarar Siahaan (2008-2009)
5. Hamdan Zoelva (2009-), menggantikan Abdul Mukthie Fajar (2008-2009)
6. Muhammad Alim
7. Achmad Sodiki
8. Anwar Usman (2011-), menggantikan Muhammad Arsyad Sanusi (2008-2011)
9. Muhammad Akil Mochtar
Periode 2013 2015
1. Hamdan Zoelva (Ketua)
2. Arief Hidayat (2013-) (Wakil Ketua)
3. Harjono (2009-)
4. Maria Farida Indrati (2008-2013)
5. Muhammad Alim (2008-)
6. Ahmad Fadlil Sumadi (2009-)
7. Patrialis Akbar (2013-)
8. Anwar Usman (2011-)
9. Muhammad Akil Mochtar (Mantan Ketua)














MAHKAMAH AGUNG (MA)
Sejarah
Sejarah berdirinya Mahkamah Agung RI tidak dapat dilepaskan dari masa penjajahan
atau sejarah penjajahan di bumi Indonesia ini. Hal mana terbukti dengan adanya kurun-
kurun waktu, dimana bumi Indonesia sebagian waktunya dijajah oleh Belanda dan
sebagian lagi oleh Pemerintah Inggris dan terakhir oleh Pemerintah Jepang. Oleh
karenanya perkembangan peradilan di Indonesia pun tidak luput dari pengaruh kurun
waktu tersebut.
Hindia Belanda
Pada tahun 1807 Mr. Herman Willem Deandels diangkat menjadi Gubernur Jenderal
oleh Lodewijk Napoleon untuk mempertahankan jajahan-jajahan Belanda di Indonesia
terhadap serangan-serangan pihak Inggris. Deandels banyak sekali mengadakan perubahan-
perubahan di lapangan peradilan terhadap apa yang diciptakan oleh VOC, diantaranya pada
tahun 1798 telah mengubah Raad van Justitie menjadi Hooge Raad. Kemudian tahun 1804
Betaafse Republiek telah menetapkan suatu Piagam atau Regeringsreglement buat daerah-
daerah jajahan di Asia. Dalam Pasal 86 Piagam tersebut, yang merupakan perubahan-
perubahan nyata dari zaman pemerintahan Daendels terhadap peradilan di Indonesia,
ditentukan sebagai berikut :
Susunan pengadilan untuk bangsa Bumiputera akan tetap tinggal menurut hukum
serta adat mereka. Pemerintah Hindia Belanda akan menjaga dengan alat-alat yang
seharusnya, supaya dalam daerah-daerah yang langsung ada dibawah kekuasaan
Pemerintahan Hindia Belanda sedapat-dapatnya dibersihkan segala kecurangan-
kecurangan, yang masuk dengan tidak diketahui, yang bertentangan dengan tidak diketahui,
yang bertentangan degan hukum serta adat anak negeri, lagi pula supaya diusahakan agar
terdapat keadilan dengan jalan yang cepat dan baik, dengan menambah jumlah pengadilan-
pengadilan negeri ataupun dengan mangadakan pengadilan-pengadilan pembantu, begitu
pula mengadakan pembersihan dan pengenyahan segala pengaruh-pengaruh buruk dari
kekuasaan politik apapun juga.
Piagam tersebut tidak pernah berlaku, oleh karena Betaafse Republiek segera diganti
oleh Pemerintah Kerajaan, akan tetapi ketentuan di dalam Piagam tidak sedikit
memengaruhi Deandels di dalam menjalankan tugasnya.

Tujuan
Mahkamah Agung melakukan pengawasan tertinggi terhadap jalannya peradilan di
semua lingkungan peradilan dengan tujuan agar peradilan yang dilakukan Pengadilan-
pengadilan diselenggarakan dengan seksama dan wajar dengan berpedoman pada azas
peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan, tanpa mengurangi kebebasan Hakim
dalam memeriksa dan memutuskan perkara (Pasal 4 dan Pasal 10 Undang-undang
Ketentuan Pokok Kekuasaan Nomor 14 Tahun 1970).
Tugas dan Wewenang
1. Kewenangan mengadili pada tingkat kasasi .
2. Kewenangan menguji secara materil peraturan perundang-undangan di bawah
UU, dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh UU.
3. Mengajukan 3 orang anggota Hakim Konstitusi.
4. Memberikan pertimbangan dalam hal Presiden
5. Memberikan grasi dan rehabilitasi.
6. Mengawasi dan memimpin jalannya perelihan pemerintahan pada seluruh
tingkat Pengadilan.
Anggota
Ketua MA RI :
Dr. H. MUHAMMA HATTA ALI, SH., MH
Wakil ketua MA RI Bidang Yudisial :
Dr. H. MOHAMMA SALEH, SH., MH
Wakil ketu MA RI Bidang non Yudisial :
Drs. H. ANDI SYAMSU ALAM, SH., MH
Ketua kamar peradilan militer MA RI :
Dr. H. M. IMRON ANWARI, SH, SPN. MH
Ketua kamar perdata MA RI :
DJAFNI DJAMAL, SH
Ketua kamar urusan lingkungan peradilan tata usaha Negara MA RI :
Dr. IMAM SOEBECHI, SH., MH