Anda di halaman 1dari 17

I.

TUJUAN
Mengamati pengaruh obat-obatan laksatif terhadap saluran pencernaan mencit.
Membedakan mekanisme kerja obat-obat laksatif.

II. DASAR TEORI

1. PENGGUNAAN UTAMA OBAT PENCAHAR
1.1 KONSTIPASI
Laksansia atau pencahar bekerja dengan cara menstimulasi gerakan peristaltik
dinding usus sehingga mempermudah buang air besar (defikasi) dan meredakan
sembelit. Tujuannya adalah untuk menjaga agar tinja (feces) tidak mengeras dan
defikasi menjadi normal. Makanan yang masuk ke dalam tubuh akan melalui
lambung, usus halus, dan akhirnya menuju usus besar/ kolon. Di dalam kolon inilah
terjadi penyerapan cairan dan pembentukan massa feses. Bila massa feses berada
terlalu lama dalam kolon, jumlah cairan yang diserap juga banyak, akibatnya
konsistensi feses menjadi keras dan kering sehingga dapat menyulitkan pada saat
pengeluaran feses. Konstipasi merupakan suatu kondisi di mana seseorang mengalami
kesulitan defekasi akibat tinja yang mengeras, otot polos usus yang lumpuh maupun
gangguan refleks defekasi (Arif & Sjamsudin, 1995) yang mengakibatkan frekuensi
maupun proses pengeluaran feses terganggu.
Frekuensi defekasi/ buang air besar (BAB) yang normal adalah 3 sampai 12
kali dalam seminggu. Namun, seseorang baru dapat dikatakan konstipasi jika ia
mengalami frekuensi BAB kurang dari 3 kali dalam seminggu, disertai konsistensi
feses yang keras, kesulitan mengeluarkan feses (akibat ukuran feses besar-besar
maupun akibat terjadinya gangguan refleks defekasi), serta mengalami sensasi rasa
tidak puas pada saat BAB (McQuaid, 2006). Orang yang frekuensi defekasi/ BAB-
nya kurang dari normal belum tentu menderita konstipasi jika ukuran maupun
konsistensi fesesnya masih normal.
Konstipasi juga dapat disertai rasa tidak nyaman pada bagian perut dan
hilangnya nafsu makan. Konstipasi sendiri sebenarnya bukanlah suatu penyakit, tetapi
lebih tepat disebut gejala yang dapat menandai adanya suatu penyakit atau masalah
dalam tubuh (Dipiro, et al, 2005), misalnya terjadi gangguan pada saluran pencernaan
(irritable bowel syndrome), gangguan metabolisme (diabetes), maupun gangguan
pada sistem endokrin (hipertiroidisme).
1.2 OBAT PENCAHAR
Sasaran terapi konstipasi yaitu: (1) massa feses, (2) refleks peristaltik dinding
kolon. Tujuan terapinya adalah menghilangkan gejala, artinya pasien tidak lagi
mengalami konstipasi atau proses defekasi/ BAB (meliputi frekuensi dan konsistensi
feses) kembali normal. Strategi terapi dapat menggunakan terapi farmakologis
maupun non-farmakologis. Terapi non-farmakologis digunakan untuk meningkatkan
frekuensi BAB pada pasien konstipasi, yaitu dengan menambah asupan serat
sebanyak 10-12 gram per hari dan meningkatkan volume cairan yang diminum, serta
meningkatkan aktivitas fisik/ olahraga. Sumber makanan yang kaya akan serat, antara
lain: sayuran, buah, dan gandum. Serat dapat menambah volume feses (karena
dalam saluran pencernaan manusia ia tidak dicerna), mengurangi penyerapan air dari
feses, dan membantu mempercepat feses melewati usus sehingga frekuensi defekasi/
BAB meningkat (Dipiro, et al, 2005).
Sedangkan terapi farmakologis dengan obat laksatif/ pencahar digunakan
untuk meningkatkan frekuensi BAB dan untuk mengurangi konsistensi feses yang
kering dan keras. Secara umum, mekanisme kerja obat pencahar meliputi
pengurangan absorpsi air dan elektrolit, meningkatkan osmolalitas dalam lumen, dan
meningkatkan tekanan hidrostatik dalam usus. Obat pencahar ini mengubah kolon,
yang normalnya merupakan organ tempat terjadinya penyerapan cairan menjadi organ
yang mensekresikan air dan elektrolit (Dipiro, et al, 2005). Obat pencahar sendiri
dapat dibedakan menjadi 3 golongan, yaitu: (1) pencahar yang melunakkan feses
dalam waktu 1-3 hari (pencahar bulk-forming, docusates, dan laktulosa); (2) pencahar
yang mampu menghasilkan feses yang lunak atau semicair dalam waktu 6-12 jam
(derivat difenilmetan dan derivat antrakuinon), serta (3) pencahar yang mampu
menghasilkan pengluaran feses yang cair dalam waktu 1-6 jam (saline cathartics,
minyak castor, larutan elektrolit polietilenglikol).
Pencahar yang melunakkan feses secara umum merupakan senyawa yang
tidak diabsorpsi dalam saluran pencernaan dan beraksi dengan meningkatkan volume
padatan feses dan melunakkan feses supaya lebih mudah dikeluarkan. Pencahar bulk-
forming meningkatkan volume feses dengan menarik air dan membentuk suatu
hidrogel sehingga terjadi peregangan dinding saluran cerna dan merangsang gerak
peristaltik. Penggunaan obat pencahar ini perlu memperhatikan asupan cairan
kedalam tubuh harus mencukupi, jika tidah bahaya terjadi dehidrasi.
Derivat difenilmetan yang biasa digunakan adalah bisakodil dan
fenolptalein. Senyawa-senyawa ini merangsang sekresi cairan dan saraf pada mukosa
kolon yang mengakibatkan kontraksi kolon sehingga terjadi pergerakan usus
(peristaltik) dalam waktu 6-12 jam setelah diminum, atau 15-60 menit setelah
diberikan melalui rektal. Namun penggunaan fenolptalein sudah dilarang karena
bersifat karsinogen. Senyawa ini tidak direkomendasikan untuk digunakan tiap hari.
Jarak antara setiap kali penggunaan harus cukup lama, sekitar beberapa minggu,
untuk mengobati konstipasi ataupun untuk mempersiapkan pengosongan kolon jika
diperlukan untuk pembedahan.
Saline cathartics merupakan garam anorganik yang mengandung ion-ion
seperti Mg, S, P, dan sitrat, yang bekerja dengan mempertahankan air tetap dalam
saluran cerna sehingga terjadi peregangan pada dinding usus, yang kemudian
merangsang pergerakan usus (peristaltik). Selain itu, Mg juga merangsang sekresi
kolesistokinin, suatu hormon yang merangsang pergerakan usus besar dan sekresi
cairan. Senyawa ini dapat diminum ataupun diberikan secara rektal. Pencahar saline
ini juga dapat digunakan untuk mengosongkan kolon dengan cepat sebagai persiapan
sebelum pemeriksaan radiologi, endoskopi, dan pembedahan pada bagian perut
(Gangarosa & Seibertin, 2003).
Secara umum, penggunaan pencahar untuk mengatasi konstipasi sebaiknya
dihindari. Namun, jika konstipasi yang terjadi dapat menimbulkan keparahan kondisi
pasien, misalnya pada pasien wasir atau pasien yang baru menjalani pembedahan
perut, penggunaan obat pencahar sangat diperlukan.
Salah satu contoh obat pencahar yaitu Laxadine dan MgSO4. Laxadine
adalah obat pencahar yang bekerja dengan cara merangsang gerakan peristaltis usus
besar, menghambat reabsorbsi air dan melicinkan jalannya tinja. Laxadine dapat
membantu pengobatan susah buang air besar / konstipasi. Setiap 5 ml Laxadine sirup
emulsi mengandung : phenolphtalein 55 mg, paraffin liquidum 1200 mg, dan glycerin
378 mg. Indikasi Laxadine yaitu untuk kondisi konstipasi / susah buang air besar yang
memerlukan : 1). Perbaikan peristaltis usus, 2). Pelicin jalannya tinja, 3). Penambahan
volume tinja secara sistematis sehingga tinja mudah dikeluarkan. Laxadine diminum
sekali sehari pada malam hari menjelang tidur.
Laxadine kontra indikasi untuk penderita yang hipersensitif atau alergi
terhadap zat aktif dan komponen lain dalam Laxadine, Ileus obstruksi, nyeri perut
yang belum diketahui penyebabnya. Efek samping Laxadine yang dapat terjadi
diantaranya, reaksi alergi kulit rash dan pruritus / gatal-gatal, perasaan terbakar, kolik,
kehilangan cairan & elektrolit, diare, mual dan muntah.
Magnesium Sulfat merupakan salah satu jenis garam. Magnesium Sulfat
memiliki banyak jenis, dimana masing - masing jenis ini memiliki fungsi tertentu. Hal
ini tergantung pada hydrat yang dimiliki.
Garam Epsom adalah Salah satu jenis Magnesium Sulfat yang dianggap
potensial . Garam ini dikenal sebagai salah satu jenis garam yang sangat penting dan
dapat digunakan dalam industri-industri, seperti: dalam pewarnaan anilin, untuk
produksi pakaian dari bahan katun. Seiring dengan perkembangan industri terutama
dalam bidang farmakologi, aplikasi lain yang ditemukan dalam kegunaan garam
Epsom ini adalah sebagai obat pencahar (pengobatan konstipasi fungsional dan tidak
dapat mengatasi konstipasi yang disebabkan keadaan patologis usus sebelum
pemeriksaan radiologi, pemeriksaan rektum dan opersai usus dan untuk
menghilangkan racun pada penderita keracunan). Dalam proses pembuatannya,
Magnesium Sulfat dibuat dari bahan baku Magnesium Karbonat dan Asam Sulfat
(Asril dkk, 1986). Reaksinya sebagai berikut :
MgCO
3
+ H
2
SO
4
MgSO
4
+ CO
2
+ H
2
O
Secara umum pemakaian atau kegunaan dari Magnesium Sulfat Heptahydrate
yang dikenal dengan garan Epsom (MgSO
4
.7H
2
O) dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Dalam skala besar digunakan dalam industri tekstil yaitu sebagai bahan celupan
dengan warna anilin, pada pakaian dari bahan katun.
2. Digunakan sebagai koagulan dan bahan pengendap pada proses pengolahan air,
baik air minum maupun air buangan.
3. Digunakan sebagai bahan analgesik yaitu suatu obat yang dapat menghilangkan
rasa nyeri.
4. Dalam pertanian garam Epsom dapat digunakan sebagai pupuk. (Nurhaida, 1997).
5. Sebagai bahan purgatif yaitu dapat digunakan sebagai obat pencahar atau obat
pencuci perut.
Garam MgSO4 merupakan pencahar salin dengan mekanisme meningkatkan
volume cairan di lumen bowel, mempercepat transfer makanan ke usus halus, massa
yg sangat besar masuk kolon, distensi kemudian ekspulsi feses.

Obat golongan laksatif atau pencahar sering dipakai untuk mengurangi berat
badan dengan melancarkan BAB (buang air besar) diharapkan berat badan juga relatif
terkontrol. Banyak sediaan suplemen yang mengandung high-fiber yang
diindikasikan untuk melangsingkan tubuh dan dapat diperoleh secara bebas. Serat
tinggi tadi diharapkan mengembang di saluran cerna dan memicu gerakan peristaltik
usus sehingga akan memudahkan BAB. Walaupun mungkin berhasil, tetapi efeknya
umumnya tidak terlalu signifikan. Selain sejenis fiber ini, beberapa pencahar lain juga
sering dipakai sebagai pelangsing. Penggunaan pencahar sebagai pelangsing dalam
waktu lama tidak disarankan karena usus akan menjadi malas, akan bekerja jika ada
pemicunya, dan hal ini akan menjadikan semacam ketergantungan.
1.3 DAMPAK NEGATIF OBAT PENCAHAR
Sebagian besar obat pelangsing dapat menimbulkan dampak negatif seperti:
gangguan emosi, hiperaktivitas, sulit tidur, perut kembung dan perih, keletihan terus
menerus, depresi, ketagihan, mual, muntah, dan tubuh gemetar. Ada juga yang
menggangu kesuburan dan sikulasi menstruasi . Penggunaan obat pelangsing yang
bersifat pencahar atau laksatif dapat menyebabkan usus bereaksi lebih aktif menyerap
makanan, sehingga membuat makanan yang dikonsumsi cepat dibuang sebelum
diserap. Akibatnya bila konsumsi obat dihentikan maka tubuh akan semakin gemuk
karena usus jadi lebih efisien dalam menyerap makanan. Penggunaan laksatif yang
berlebihan mempunyai efek yang sama dengan mengabaikan keinginan BAB refleks
pada proses defekasi yang alami dihambat. Kebiasaan pengguna laksatif bahkan
memerlukan dosis yang lebih besar dan kuat, sejak mereka mengalami efek yang
semakin berkurang dengan penggunaan yang terus-menerus (toleransi obat).
2. Hewan Percobaan
Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988), yang dimaksud dengan hewan
percobaan (experimental animal) adalah setiap hewan yang digunakan dalam
penelitian-penelitian biologis maupun biomedis. Untuk memperoleh hasil yang sesuai
dengan tujuan penelitian dan daya reproduksi yang tinggi, hewan-hewan yang
digunakan harus memenuhi persyaratan dan standar dasar yang diperlukan sebagai
hewan percobaan.
Beberapa hewan percobaan dapat digunakan sebagai materi penelitian karena
mempunyai beberapa keuntungan, antara lain: 1) mempunyai siklus reproduksi yang
singkat, 2) selang generasi yang pendek, dan 3) mempunyai keturunan yang relatif
lebih banyak per kelahiran. Mencit (Mus musculus) merupakan salah satu hewan
percobaan yang dapat digunakan sebagai materi penelitian dengan sifat-sifat unggul
seperti tersebut di atas.
Arrington (1972) mengemukakan beberapa alasan penggunaan mencit sebagai
hewan percobaan dalam penelitian bidang peternakan, antara lain: biaya pengelolaan
tidak begitu mahal, daya reproduksi yang tinggi dan sifat genetik yang dapat dibuat
seragam dalam waktu yang relatif singkat, sifat anatomis dan karakter fisiologisnya
mirip mamalia lain seperti manusia.
Mencit banyak dipergunakan dalam berbagai bidang penelitian ilmiah. Secara
umum dapat dipergunakan sebagai pengganti dari subyek yang diinginkan, sebagai
model dalam penelitian biomedis, sebagai instrument untuk mengukur suatu besaran
kualitas atau kuantitas biologis (uji biologi), dan sebagai penghasil produk-produk
biologi.
Semua galur mencit laboratorium yang ada pada saat ini merupakan turunan
mencit liar yang telah melalui peternakan selektif (domestikasi). Mencit liar memiliki
karakteristik tertentu baik dari fenotif maupun genotifnya. Menurut Smith dan
Mangkoewidjojo (1988), mencit liar berwarna keabu-abuan dengan warna perut
sedikit lebih pucat dan mata berwarna hitam, sementara itu mencit laboratorium
mempunyai kisaran fenotif yang bervariasi, tetapi umum digunakan berwarna putih
(albino) dan mempunyai mata merah.

III. ALAT DAN BAHAN
A. Alat :
Toples
Neraca analitik
Pinset
Kertas saring
Suntikan oral
Stopwatch
Benang kasur
Scissors
Scalpel with handle
Tempat bedah
Jarum
Suntikan
B. Bahan :
2 ekor mencit
Obat laksatif MgSO
4
, Laxadine, Bisacodyl, Parafin Liquid
Aquadest
Kapas
Eter
NaCl

IV. PROSEDUR KERJA

Pemberian obat Laxadine
1. Disiapkan alat dan bahan yang diperlukan
2. Disiapkan 2 ekor mencit, mencit I sebagai control, mencit II untuk pengujian.
3. Masing-masing mencit ditimbang menggunakan neraca analitik, lalu dicatat
beratnya. Selain itu juga kertas saring yang digunakan sebagai alas untuk
didalam toples juga ditimbang, dan dicatat beratnya.
4. Setelah ditimbang, masing-masing mencit dimasukkan kedalam toples yang
sudah diberi alas kertas saring.
5. Mencit I diberikan suntikan aquadest secara oral.
6. Mencit II diberikan suntikan Laxadine secara oral.
7. Dilakukan pengamatan frekuensi defekasi, konsistensi feses, dan berat feses
setiap selang 15 menit selama 60 menit.
8. Frekuensi feses ditentukan berdasarkan berapa kali mencit tersebut mengalami
defekasi dalam tiap selang 15 menit.
9. Konsistensi feses dinyatakan dalam bentuk skor, sebagai berikut :
Symbol Konsistensi Skor
N Normal 0
LN Lembek Normal 1
L Lembek 2
LC Lembek Cair 3
C Cair 4

10. Berat feses dihitung berdasarkan selisih berat kertas saring awal dengan berat
kertas saring setelah 15 menit pengamatan. Berat fesesnya ditimbang setiap
selang 15 menit.
11. dicatat semua hasil pengamatan.

Pemberian MgSO4 dan aquadest
1. Disiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2. Dimasukan mencit kedalam toples yang sudah berisi kapas yang diberi eter,
tunggu hingga mencit mati.
3. Mencit dikeluarkan dari toples, kaki mencit diikat dengan menggunakan
benang kasur, dikatkan pada jarum yang ada pada tempat bedah.
4. Mencit dibedah dengan menggunakan scissors.
5. Diambil 3 buah benang kasur, dikatkan pada usus mencit sehingga menjadi
ada dua bagian.
6. Disuntikan bagian usus mencit pertama dengan aquadest
7. Disuntikan bagian usus kedua mencit menggunakan MgSO
4
20%
8. Setelah itu usus mencit ditetesi dengan NaCl
9. Diamati dan tunggu hingga terjadi perubahan pada usus mencit

V. HASIL PENGAMATAN

(1) Hasil Pengamatan Kelompok 3
Perhitungan Dosis
Tertera dalam etiket 3-6 sendok teh (5 ml), diambil 6 sendok teh = 30 ml
Konfersikan pada berat mencit 20 gram = 30 ml x 0,0026 = 0,078 ml untuk mencit
dengan berat 20 gram. Kemudian diencekan sampai tiga kalinya.

Dosis Mencit (Kontrol)
ml Dosis =



=



= 0,312 ml = 0,31 ml

Dosis Mencit (Diberi obat Laxadine)
ml Dosis =



=



= 0,349 ml = 0,35 ml














Jenis
Perlakuan
Berat
Mencit
(gram)
Dosis
(ml)
Berat
Kertas /
M
0

(gram)
Berat Feses Mencit + M
0
Atau M
1
(gram)
Konsistensi Feses
Mencit
15 30 45 60 15 30 45 60
Kontrol
26,7 0,31 1,4334 1,4334 1,4334 1,7642 1,7696 - - N N
Diberi
obat
Laxadine
29,9 0,35 1,9604 1,9604 2,2733 2,5180 2,5313 - N L L
Keterangan :
N : Normal
LN : Lembek Normal
L : Lembek
LC : Lembek Cair
C : Cair
Sehingga didapatkan berat feses bersih :
Untuk Mencit (Kontrol)
15 = M
1
- M
0
= 1,4334 gram 1,4334 gram = 0 gram
30 = M
1
- M
0
= 1,4334 gram 1,4334 gram = 0 gram
45 = M
1
- M
0
= 1,7642 gram 1,4334 gram = 0,3308 gram
60 = M
1
- M
0
= 1,7696 gram 1,4334 gram = 0, 3362 gram
Untuk Mencit (Diber obat Laxadine)
15 = M
1
- M
0
= 1,9604 gram 1,9604 gram = 0 gram
30 = M
1
- M
0
= 2,2733 gram 1,9604 gram = 0,3129 gram
45 = M
1
- M
0
= 2,5180 gram 1,9604 gram = 0,5576 gram
60 = M
1
- M
0
= 2,5313 gram 1,9604 gram = 0,5709 gram
Maka didapatkan kurva Feses Mencit Kontrol dan Feses Mencit yang diberi
obat Laxadine.


(2) Hasil Pengamatan Kelompok 4

Hasil pengamatan yang diperoleh setelah praktikum kerja obat laksatif, yaitu
usus mencit yang disuntik MgSO
4
dan disuntik aquades sebagai kontrol, dengan
ditetesi NaCl, dimana didapatkan hasil sebagai berikut.

Perlakuan Keterangan
Usus mencit disuntik MgSO
4
Setelah ditetesi NaCl, usus mencit berubah
menjadi mengembang, karena usus yang berisi
MgSO
4
yang dapat menyerap NaCl. MgSO
4

sendiri termasuk ke dalam golongan laksan
osmotik.
Usus mencit disuntik aquadest
(sebagai kontrol)
Setelah ditetesi NaCl, usus mencit tetap dalam
keadaan semula, setelah disuntikan aquades.


Kontrol
Diberi obat Laksadin 0
0.2
0.4
0.6
15'
30'
45'
60' Waktu (Menit)
B
e
r
a
t

F
e
s
e
s

(
g
r
a
m
)

15' 30' 45' 60'
Kontrol 0 0 0.3308 0.3362
Diberi obat Laksadin 0 0.3129 0.5576 0.5709
Kurva Feses Mencit
VI. PEMBAHASAN
Sembelit atau obstipasi ialah suatu gejala proses defekasi yang bermasalah.
Sembelit dapat disebabkan oleh berbagai hal diantaranya dapat disebabkan karna
tidak teraturnya defekasi maupun pola makan yang kurang baik. Obat pencahar atau
laksansia adalah zat-zat yang dapat menstimulasi gerakan peristaltik usus sebagai
refleks dari rangsangan langsung terhadap dinding usus dan dengan demikian
menyebabkan atau mempermudah buang air besar (defekasi) dan meredakan sembelit.
Obat-obat pencahar dapat menstimulasi proses defekasi dengan menjaga agar supaya
feses tidak mengeras, menghindari mengedan terutama lansia dan pasien jantung atau
hernia. Tujuan penggunaan obat ini untuk memulihkan proses defekasi normal dan
menghindari terjadinya ketergantungan pada obat pencahar.
Dalam praktikum ini, dilakukan percobaan pengaruh penggunaan obat laksatif
pada mencit dengan obat Emulsi Laxadine. Laxadine merupakan salah satu produk
dari Galenium Pharmasia Lab yang termasuk kedalam golongan obat bebas.
Kandungan obat ini terdiri dari Fenolftalein 55 mg, Parafin cair 1200 mg, Gliserin
378 mg, dan Jeli 9,4 mg/5ml. Indikasinya mengatasi buang air besar, persiapan
menjelang tindakan radiologis dan operasi. Namun harus diperhatikann dalam
pemakaian lama dapat menyebabkan penurunan berat badan , kelemahan otot,
kehilangan cairan dan elektrolit tubuh, tidak dianjurkan untuk anak dibawah 6 tahun,
wanita hamil dan menyusui. Untuk dosis dewasa 1-2 sendok makan sehari 1x pada
malam menjelang tidur, dan anak-anak ialah setengah dari dosis dewasa. Diminum
pada malam hari saat menjelang tidur, karena diharapkan besok pagi pasien dapat
buang air besar dengan lancar, karena kerja dari obat Emulsi Laxadine ini 6-8 jam.
Obat-obat laksatif memiliki berbagai macam mekanisme kerja yang berbeda,
ada yang bekerja menarik air sehingga volume feses meningkat dan tekanan
meningkat, ada yang melapisi feses dengan minyak sehingga licin dan mudah
dikeluarkan bahkan ada yang bekerja meningkatkan gerakan peristaltik usus.
Campuran kandungan jenis jenis bahan yaang terdapat dalam Emulsi Laxadine ini
dapat memberikan keefektifan dalam mekanisme kerjanya sebagai obat laksatif.
Fenolftalein merupakan golongan dari laksansia kontak, zat yang merangsang secara
langsung dinding usus dengan akibat peningkatan gerak peristaltik dan peningkatan
isi usus dengan cepat. Resorpsi fenolftalein didalam usus kecil, zat ini dilarutkan oleh
kegiatan garam garam dan empedu. Mulai bekerja 4-8 jam setelah pemberian.
Sebagian zat diserap dan masuk kedalam sirkulasi untuk kemudian diekskresi dalam
empedu. Dikarenakan siklus enterohepatis kerjanya bisa bertahan sampai 2-3 hari.
Namun efek samping yang ditimbulkan dapat bersifat serius berupa kolik, kolaps,
lupus erythhematodes dan reaksi kepekaan pada kulit, juga pigmentasi yang dapat
bertahan selama beberapa waktu setelah pengobatan dihentikan. Kolik umumnya
digambarkan sebagai nyeri atau kram abdomen prosimal yang ditandai dengan
menangis keras dan menarik tungkai ke atas abdomen. Sedangkan kolaps adalah
Sedangkan untuk gliserin, zat ini termasuk kedalam kelompok laksansia
osmotik, dimana berkhasiat mencahar berdasarkan lambat absorpsinya oleh usus,
sehingga menarik air dari luar usus melalui dinding usus dengan proses osmotik.
Yang menyebabkan tinja menjadi lebih lunak dan volumenya diperbesar yang
merupakan suatu rangsangan mekanis atas dinding usus.
Dan komponen terakhir ialah parafin liquid, zat ini termasuk dalam kelompok
zat-zat pelicin atau emollientia. Parafin liquid terdiri atas campuran cairan senyawa
hidrokarbon jenuh yang diperoleh dari minyak bumi. Zat ini tidak dicerna dalam
saluran lambung-usus dan hanya bekerja sebagai zat pelicin bagi isi usus dan tinja.
Fungsinya untuk melunakkan tinja disebabkan kurangnya reabsorpsi air dan tinja
parafin cair tidak dicerna didalam usus dan hanya sedikit diabsorpsi, terutama setelah
pembedahan rektal atau pada penyakit wasir. Penggunaannya dapat menimbulkan
iritasi sekitar dubur. Yang diabsorpsi ditemukan pada limfa nodus, mesentrik, hati dan
limfa. Kebiasaan menggunakan parafin cair akan mengganggu reabsorpsi zat larut
lemak, misalnya absorpsi karoten menurun 50%, juga absorpsi vitamin A dan vitamin
D akan menurun, absorpsi vitamin K menurun dengan akibat hipoprotrombinemia
dan juga dilaporkan terjadinya pneumonia lipid. Obat ini menyebabkan pruritus ani,
menyulitkan penyembuhan pasca bedah daerah anorektal dan menyebabkan
pendarahan. Sehingga untuk penggunaan kronik jenis obat ini tidak aman. Zat ini
digunakan sebagai emulsi yang kadang-kadang dikombinasikan dengan fenolftalein.
Sedangkan MgSO
4
(dapat disebut sebagai garam Inggeris, garam Epsom)
dalam praktikum kelompok lain. Didapatkan usus mencit yang telah disuntikan
MgSO
4
, kemudian ditetesi NaCl dapat diserap dengan baik, karena MgSO
4
tergolong
dalam laksan osmotik. Mekanisme kerjanya didalam usus berdasarkan penarikan air
(osmosis) dari bahan makanan karena dari dosis oral tidak diserap. Akibatnya
adalah pembesaran volume usus dan meningkatnya peristaltik di usus halus dan usus
besar, disamping melunakkan tinja. Resorpsinya antara 15-30% dari dosis diserap
oleh usus yang dapat mengakibatkan kadar magnesium darah terlampaui tinggi,
khususnya bila fungsi ginjal kurang baik. Mula kerjanya setelah 1-3 jam.

VII. KESIMPULAN
Dari hasil praktikum kelompok 3 didapatkan hasil sebagai berikut :
Perlakuan
Berat Feses & Konsistensi Feses Mencit
15 30 45 60
Kontrol 0 gram
-
0 gram
-
0,3308 gram
Konsistensi
feses Normal
0, 3362 gram
Konsistensi
feses Normal
Diberi Laxadine 0 gram
-
0,3129 gram
Konsistensi
feses Normal
0,5576 gram
Konsistensi
feses Lembek
0,5709 gram
Konsistensi
feses Lembek

Dilihat dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa pemberian obat laxadine
terhadap mencit dapat menghasilkan kerja obat yang efektif dibandingkan dengan
mencit kontrol yang diberikan suntikan oral aquadest. Sedangkan untuk hasil
praktikum kelompok 4 pada usus mencit yang telah disuntikan dengan MgSO
4
terjadi
perubahan selama ditetesi NaCl menjadi lebih mengembang. Dan untuk usus mencit
yang disuntikan aquadest tidak mengalami perubahan baik setelah ditetesi NaCl .





VIII. DAFTAR PUSTAKA

Tjay, Than Hoan,dkk. 2007. Obat-Obat Penting edisi VI, Jakarta: Elex Media
Komputindo.
Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran-Univesitas
Indonesia. 2007. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Wong, Donna L, dkk. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Volume 1.
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31605/4/Chapter%20II.pdf
diakses pada 20 September 2014 pukul 20.00 WIB
eprints.undip.ac.id/7905/1/1165-ki-fpet-05.pdf
diakses pada 21 September pukul 13.00 WIB
www.pom.go.id/public/publikasi/kompendia/.../saluran%20cerna.pdf
diakses pada 20 September 2014 pukul 20.15 WIB
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18302/4/Chapter%20II.pdf
diakses pada 23 September 2014 pukul 17.00













IX. LAMPIRAN
Obat yang dipakai dalam praktikum :

Usus mencit yang disuntikan MgSO
4
dan Aquadest :