Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN TETAP KIMIA ANALITIK INSTRUMEN

Kromatografi Lapis Tipis











KELOMPOK 2:
HAFIFA MARZA ( 061330400317 )
LIAN ELVANI ( 061330400320 )
MIRANDA ARISTY ( 061330400323 )
NINI NADILA ( 061330400326 )
OPTIMISMA SITUNGKIR ( 061330400330 )
SITI RAHMA YANTI ( 061330400333 )
VIRTA PUSPITA SARI ( 061330400336 )

KELAS : 3KB

Instruktur : ANERASARI M., B.Eng., M.Si.

JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SRIWIAYA
TAHUN AKADEMIK 2013/2014
KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)
I. TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat:
Melakukan analisa sampel (zat warna) secara kromatografi lapis tipis

II. ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN
a. Alat yang Digunakan
Pelat TLC
Chamber Chromatography
b. Bahan yang Digunakan
Pewarna Sintesis
Pewarna Kue
Tinta
Orange Pasta
Wantex
Larutan Methylen Blue
Ethanol

III. DASAR TEORI
KLT (kromatgrafi Lapis Tipis)/TLC (Thin Layer Chromatography) merupakan
salah satu cara untuk memisahkan dan menganalisa zat dalam jumlah yang kecil. Pada
TLC, adsorben tersebar secara merata dalam permukaan gelas dan membentuk suatu
lapisan tipis, terbentuk pita-pita yang tidak horizontal, maka sulit untuk mengumpulkan
komponen-komponen. Ujung dari pita kedua akan terbawa sebelum seluruh pita pertama
keluar dari kolom. Ada dua factor penyebab masalah ini yaitu permukaan atas dari
adsorben tidak rata serta kolom tidak benar-benar vertical.
Fenomena lain adalah terbentuknya lengkungan pada salah satu sisi pita. Hal ini
dapat terjadi bila ada ketidakteraturan pada permukaan adsorben atau terdapat
gelembung udara pada kolom.
Pada TLC, cuplikan yang akan dipisahkan atau dianalisa diteteskan pada pelat
dengan menggunakan kapiler. Pemisahan dapat terjadi dengan memasukkan pelat ke
dalam chamber (kamar) yang telah jenuh dengan pelarut. Pelarut akan naik secara
perlahan-lahan sepanjang pelat tersebut. Cuplikan akan terdistribusi antara fasa diam
(adsorben) dan fasa gerak (pelarut). Sebagai fase gerak umumnya zat yang kurang polar
dibandingkan dengan fasa diam sehingga komponen dalam cuplikan yang kurang polar
akan bergerak lebih cepat dari komponen cuplikan yang lebih polar. Bila larutan hamper
mencapai ujung pelat maka pelat dikeluarkan dari chamber dan dibiarkan hingga pelarut
yang menempel pada pelat menguap. Akan terlihat noda-noda pada pelat yang
menunjukan jumlah komponen yang ada dalam cuplikan. Perbandingan antar jarak
perjalanan komponen dengan jarak perjalanan pelarut disebut Rf. Rf dinyatakan dengan
bilangan dan dapat digambarkan seperti berikut ini.


distance travelled by distance travelled by
the solvent the various dyes


Nilai Rf untuk setiap warna dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Rf=




Sebagai contoh, jika komponen berwarna merah bergerak dari 1,7 cm dari garis
awal, sementara pelarut berjarak 5,0 cm sehingga nilai Rf untuk komponen berwarna
merah menjadi:
Rf =


= 0,34
Bila kondisi pengerjaan sama, maka niali Rf untuk kompoen tertentu adalah sama.
Nilai Rf dapat digunakan untuk mengidentifikasi komponen.
Istilah kromatografi berasal dari bahasa Latin chroma berarti warna dan graphien
berarti menulis.Kromatografi pertama kali diperkenalkan oleh Michael Tswest (1903)
seorang ahli botani dari Rusia. Michael Tswest dalam percobaannya ia berhasil
memisahkan klorofil dan pigmen-pigmen warna lain dalam ekstrak tumbuhan dengan
menggunakan serbuk kalsium karbonat (CaCO3) yang diisikan ke dalam kaca dan
petroleum eter sebagai pelarut. Proses pemisahan itu diawali dengan menempatkan
larutan cuplikan pada permukaan atas kalsium karbonat (CaCO3), kemudian dialirkan
pelarut petroleum eter. Hasilnya berupa pita-pita berwarna yang terlihat sepanjang kolom
sebagai hasil pemisahan komponen-komponen dalam ekstrak tumbuhan. Dalam teknik
kromatografi, sampel yang merupakan campuran dari berbagai macam komponen
ditempatkan dalam situasi dinamis dalam sistem yang terdiri dari fase diam dan fase
gerak. Semua pemisahan pada kromatografi tergantung pada gerakan relatif dari masing-
masing komponen diantara kedua fase tersebut. Senyawa atau komponen yang tertahan
lebih lemah oleh fase diam akan bergerak lebih cepat daripada komponen yang satu
.
.
.
M

dengan lainnya disebabakan oleh perbedaan dalam adsorbsi, partisi, kelarputan atau
penguapan diantara kedua fase.
Kromatografi lapis tipis mirip dengan kromatogafi lapis tipis (KLT). Bedanya
lapis tipis (KLT) digantikan lembaran kaca atau plastik yang dilapisi dengan lapisan tipis
adsorben seperti alumina, silika gel, selulosa atau materi lainnya. Kromatografi lapis tipis
bersifat boleh ulang (reprodusibel) dari pada kromatografi lapis tipis (KLT).
Adsorben yang digunakan pada kromatogrfai lapis tipis biasanya terdiri dari
silika gel atau alumina dapat langsung atau dicampur dengan bahan perekat misalnya
kalsium sulfat untuk disalutkan pada pelat. Pada pemisahannya, fase bergerak akan
membawa komponen campuran sepanjang fase diam pada pelat sehingga terbentuk
kromatogram. Pemisahan yang terjadi berdasarkan adsorbsi dan partisi. Teknik kerja
KLT prinsipnya hampir sama dengan komatografi lapis tipis (KLT).
Penentuan harga Rf pada KLT sama dengan pada kromatografi lapis tipis (KLT).
Harga Rf dapatdigunakan untuk identifikasi kualitatif. Untuk tujuan penentuan kadar,
bercak komponen dapat dikerok lalu dilarutkan dalam pelarut yang sesuai untuk
dianalisa dengan metode lain yang tepat. Aplikasi KLT sangat luas, termasuk dalam
bidang organik dan anorganik. Kebanyakan senyawa yang dapat dipisahkan bersifat
hidrofob seperti lipida dan hidrokarbon dimana sukar bila dikerjakan dengan
kromatografi lapis tipis (KLT). KLT juga penting untuk pemeriksaan identitas dan
kemurnian senyawa obat, kosmetika, tinta, formulasi pewarna dan bahan makanan.
Kromatografi dapat digolongkan berdasarkan pada jenis fase-fase yang
digunakan.Kromatografi juga dapat digolongkan atas prinsipnya, misalnya kromatografi
partisi (Partition chromatography) dan kromatografi serapan (Adsorption
chromatography).Sedangkan menurut teknik kerja yang digunakan, misalnya
kromatografi kolom, kromatografi lapis tipis (KLT), kromatografi lapis tipis (KLT) dan
kromatografi gas.
Dalam proses kromatografi selalu terdapat kecenderungan yaitu:
a. Kecenderungan molekul-molekul komponen untuk melarut dalam cairan
b. Kecenderungan molekul-molekul komponen untuk melekat pada permukaan padatan
halus (adsorpsi penyerapan)
c. Kecenderungan komponen-komponen untuk bereaksi secara kimia (penukar ion)
d. Kecenderungan molekul-molekul terekslusi pada pori-pori fase diam.
Faktor reterdasi (Rf ), merupakan parameter kharakteristik kromatografi lapis tipis (KLT)
dan kromatografi lapis tipis. Harga Rf merupakan ukuran kecepatan migrasi suatu
komponen pada kromatogram dan pada kondisi tetap merupakan besaran kharakteristik
dan reproduksibel. Rf didefenisiskan sebagai perbandingan jarak yang ditempuh
komponen terhadap jarak yang ditempuh pelarut (fase bergerak).
Hubungan ini berlaku jika Kd dan penampang lintang tidak tetap sepanjang lintasan zat
terlarut.
Pemilihan pelarut tergantung dari campuran sampel yang diteliti. Pelarut yang cocok
untuk pemisahan merupakan campuran dua pelarut, sehingga nilai Rf senyawa-senyawa
dalam campuran sampel tersebar di sepanjang lapis tipis (KLT). Nilai pH pelarut juga
harus diperhatikan, karena banyak pelarut yang mengandung asam asetat atau ammonia
yang menghasilkan lingkungan yang sangat asam atau sangat basa.
Keuntungan pemisahan dengan metode kromatografi dibandingkan pemisahan metode
lainnya yaitu:
a. Dapat digunakan pada sampel atau konstituen yang sangat kecil (semi mikro dan
mikro)
b. Cukup selektif terutama untuk senyawa-senyawa organic multi komponen
c. Proses pemisahan dalat dilakukan dalam waktu yang relative singkat
d. Seringkali murah dan sederhana, karena umumnya tidak memerlukan alat yang mahal
dan rumit.
Untuk tujuan identifikasi, noda-noda sering dikarakterisasikan berdasarkan nilai
Rfnya. Nilai Rf adalah rasio jarak yang dipindahkan oleh suatu zat terlarut terhadap jarak
yang dipindahkan oleh garis depan pelarut selama waktu yang sama. Nilai Rf yang
identik untuk suatu senyawa yang diketahui dan yang tidak diketahui dengan
menggunakan beberapa system pelarut berbeda memberikan bukti yang kuat bah bahwa
nilai untuk kedua senyawa tersebut adalah identic, terutama jika senyawa tersebut
dijalankan secara berdampingan di sepanjang pita lapis tipis (KLT) yang sama.
Beberapa kelebihan dari KLT yaitu sebagai berikut :
1. Waktu pemisahan lebih cepat
2. Sensitif, artinya meskipun jumlah cuplikan sedikit masih dapat dideteksi.
3. Daya resolusinya tinggi, sehingga pemisahan lebih sempurna.
Pemilihan sistem pelarut dan komposisi lapisan tipis ditentukan oleh prinsip
kromatografi yang akan digunakan. Untuk meneteskan sampel yang akan dipisahkan
digunakan suatu penyuntik berukuran mikro. Sampel harus nonpolar dan mudah
menguap. Kolom-kolom dalam pelat dapat diciptakan dengan mengorek lapisan vertikal
searah gerakan pelarut. Resolusi KLT jauh lebih tinggi daripada kromatografi lapis tipis
(KLT) karena laju difusi yang luar biasa kecilnya pada lapisan pengadsorbsi. Semua
teknik yang dipakai krometografi lapis tipis (KLT) juga dapat digunakan untuk
kromatografi lapis tipis.
Nilai Rf dipengaruhi oleh ketebalan lapisan, sebagian besar prosedur pemisahan
untuk analisis kualitatif menggunkan ketebalan lapisan 250 m dan untuk anlisis
preparatif digunakan ketebalan sampai 5 mm. Kadang-kadang digunakan kalsium sulfat
sebagai adsorben untuk mengikat lapisan pada lempeng. Silika gel adalah bahan yang
paling banayak digunakan untuk pemisahan sejumlah besar senyawa. Hal yang harus
diperhatikan adalah atmosfer ruang pemisahan harus jenuh dengan pelarut, karena
menentukan besar kecilnya nilai Rf. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan
wadah sekecil mungkin dan menghubungkan dinding dengan lapis tipis (KLT) yang
terendam dalam pelarut.
Teknik pemisahan dalam kromatografi ada dua macam, yaitu :
1. Descending-chromatografy adalah yang berdasarkan cairan pengelusi yang
dibiarkan bergerak menuruni lapis tipis (KLT) akibat gaya gravitasi.
2. Ascending-chromatografy yaitu pemisahan yang berdasarkan cairan pengelusi
bergerak ke atas dengan gaya kapiler.


Kromatografi juga bisa digunakan untuk memisahkan substansi campuran menjadi
komponen-komponennya .Dalam kromatografi lapis tipis, fase diam adalah lapisan tipis jel
silika atau alumina pada sebuah lempengan gelas, logam atau plastik















Gambar 4.Skema alat TLC
Bagian-bagian TLC
Pelat : berupa kaca yang dilapisi fase diam seperti CaCO3
Chamber : tempat memasukkan pelarut( fase gerak) dan pelat (fase diam)
Fase diam : zat padat inert yang melapisi pelat
Fase gerak : zat cair (pelarut organik) seperti etanol yg membawa cuplikan
Prinsip Kerja TLC




Perhitungan dalam TLC
Nilai Rf untuk setiap warna dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Rf =




Faktor-faktor yang mempengaruhi harga Rf pada TLC
Struktur kimia darei senyawa yang dipisahkan
Sifat dari penyerap dan derajat aktifasinya
Tebal dan kerataan dari lapisan penyerap
Kemurnian pelarut (fase gerak)
Jumlah cuplikan yang digunakan
Suhu
kesetimbangan


IV. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Pelat yang telat selesai dilapisi silica telah disiapkan
2. Telah ditotolkan cuplikan dengan menggunakan pipa kapiler pada permukaan pelat
3. Pelat telah dimasukkan ke dalam chamber yang berisi pelarut. Dalam hal ini
digunakan larutan ethanol yang bersifat agak polar. Totolan pada pelat tidak boleh
terkena/terendam pelarut.
4. Pelarut telah naik secara perlahan-lahan disepanjang pelat sehingga sampai diujung
yang lain dari pelat. Batas perjalanan pelarut telah ditandai.
5. Pelat telah dikeringkan dan telah dibandingkan harga Rf dari noda yang terbentuk.

V. GAMBAR ALAT (TERLAMPIR)

VI. DATA PENGAMATAN
Praktikum minggu Ke-1
Sampel Warna Noda Jarak Komponen
(cm)
Jarak Pelarut (cm)
Pewarna Sintesis Merah 0.9669




12.1
Pewarna Kue Coklat 0.9090
Hijau 0.9338
Coklat 0.9752

Tinta
Ungu 0.9173
Kuning 0.9413
Orange Pasta Orange 0.9338
Wantex Hijau 0.9008
Kuning 0.9856
Coklat 0.9752
Methylen Blue Biru 0.0248
Praktikum minggu Ke-2
No. Sampel Warna
Noda
Jarak Komponen
(cm)
Jarak Pelarut
(cm)
1 Kunyit Kuning 9,7 10,3
2 Lip tint Merah 10,1 10,3
3 Extra joss Kuning 1 3,1 10,3
Kuning 2 8,3 10,3
4 Nutri sari Ungu 7,4 10,3
Kuning 9,6 10,3


VII. PERHITUNGAN
Rf =




Praktikum Minggu Ke-1

Pewarna Sintesis =


= 0.9669

Berdasarkan perhitungan di atas didapat data, sebagai berikut:
Sampel Warna Noda Jarak Komponen
(cm)
Keterangan
Pewarna Sintesis Merah 0.9669 Polar

Pewarna Kue
Coklat 0.9090
Semi polar Hijau 0.9338
Coklat 0.9752

Tinta
Ungu 0.9173
Semi polar Kuning 0.9413
Orange Pasta Orange 0.9338 Semi polar

Wantex
Hijau 0.9008
Polar Kuning 0.9856
Coklat 0.9752
Methylen Blue Biru 0.0248 Non Polar

Praktikum Minggu Ke-2

- Kunyit
Rf =



=


= 0,94
Berdasarkan perhitungan diatas diperoleh nilai Rf sebagai berikut :
No. Sampel Warna Noda Rf
1 Kunyit Kuning 0,94
2 Lip tint Merah 0,98
3 Extra joss Kuning 1 0,30
Kuning 2 0,80
4 Nutri sari Ungu 0,71
Kuning 0,93



VIII. ANALISA PERCOBAAN
Praktikum Minggu Ke-1
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan yakni TLC (Thin Layer
Chromatography) digunakan yakni pewarna sintesis, pewarna kue, tinta, orange pasta,
wantex, dan larutan methylen blue. Dengan mnggunakan ethnol sebagai solvent. Fase
gerak pada KLT adalah ethanol dan fase diamnya ialah pelat silica. Proses terbawanya
sampel oleh pelarut terjadi sekitar kurang lebih 1 jam. Dalam proses pemisahannya akan
ada jarak tempuh pelarut membawa solvent.
Sampel akan tertahan apabila sifat dari sampel memiliki kemiripan dengan fase
diamnya misalnya dalam percobaan ini methylen blue merupakan contoh non polar yang
tertahan pada fase diam. Apabila sampel bersifat polar, pelarut akan membawa sampel
hingga titik akhir dari jarak pelarut tanpa meninggalkan noda seperti pewarna sintesis
dan wantex. Sedangkkan apabila sampel bersifat semi polar akan terdapat noda warna
yang tertingga misalnya pewarna kue, tinta, dan orange pasta. Berdasarkan data,
diketahui jarak tempuh pelarut ialah 12,1 cm, dan untuk jarak tempuh sampel dapat
dilihat pada data, sehingga dari data yang diperoleh dapat ditentukan nilai Rf atau factor
reterdasi. Harga Rf merupakan parameter untuk mengukur kecepatan migrasi suatu
komponen pada kromatogram.

Praktikum Minggu Ke-2
Praktikum ini ialah kromatografi Lapis Tipis (KLT), KLT merupakan contoh dari
kromatografi adsorpsi. Fase gerak pada KLT ini ialah etanol, dan fase diamnya ialah
pelat silica. Etanol akan bergerak membawa sampel ( zat warna ). Proses pemisahan ini
membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu 1 jam. Dalam proses pemisahannya akan
terjadi jarak tempuh pelarut dalam membawa sampel. Praktikum KLT-2 ini
menggunakan sampel kunyit, lip tint, extra joss, dan nutri sari. Pada pemisahan ini juga
terdapat sampel yang pada saat pemisahan noda, terdiri lebih dari 1 warna. Hal ini
membuktikan bahwa KLT bersifat sensitive, yang artinya dapat memisahkan komponen
warna yang berbeda dalam 1 sampel.
Untuk proses pemisahannya, sampel yang bersifat polar tidak meninggalkan
bekas/noda, sehingga pada titik kapilaritas tertinggi pelarut, noda sampel polar baru
dapat dilihat. Sedangkan untuk sampel yang bersifat semi-polar akan meninggalkan jejak
noda sampai ke titik akhir kapilaritas pelarutnya, dan untuk sampel yang bersifat non-
polar tidak akan terjadi pemisahan atau tertahan. Berdasarkan data, diketahui jarak
tempuh pelarut ialah 10,3 cm, dan untuk jarak tempuh sampel dapat dilihat pada data,
sehingga dari data yang diperoleh dapat ditentukan nilai Rf atau factor reterdasi. Harga
Rf merupakan parameter untuk mengukur kecepatan migrasi suatu komponen pada
kromatogram.


IX. KESIMPULAN
1. Kromatografi lapis tipis dapat digunakan untuk menganalisa/menentukan komponen
zat warna dalam suatu cuplikan berdasarkan tingkat kepolaran cuplikan itu sendiri
2. Semakin besar jarak komponen maka Rf didapat semakin besar yang menunjukkan
bahwa tingkat kepolaran zat tersebut semakin besar
3. Sifat sampel yang dianalisis berdasarkan praktikum yang telah dilakukan:
1. Polar: pewarna sintesis dan wantex
2. Semi polar: pewarna kue, tinta, orange pasta
3. Non polar: methylen blue
4. KLT dapat memisahkan komponen warna yang terkandung dalam berbagai sampel,
karena sifat sensitifnya maka dapat menguraikan warna bermacam-macam dari 1
sampel
5. Pada pecobaan TLC ini fase geraknya adalah ethanol dan fase diamnya adalah silica
6. Jarak pelarut pada percobaan pertama 12.1 dan percobaan kedua 10.3


X. DAFTAR PUSTAKA
Dr. Ir. Rusdianasari, M. Si. 2014. Jobsheet Kimia Analitik Instrumen. Teknik Kimia.
Politeknik Negeri Sriwijaya. Palembang.
http://www.aderana.blogspot.com/2012/06/Kimia-analitik-instrument-kromatografi.html
http://www.google.com/TLC-thinlayerchromatography.html



GAMBAR ALAT












Gambar 1. Sampel Warna yang digunakan Gambar 2. Etanol












Gambar 3.Chamber gambar 4. Alat sinar UV