Anda di halaman 1dari 17

Jelaskan Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Kastrasi Dan Hibridisasi

Perkawinan silang antara spesies dan dalam spesies memiliki beberapa perbedaan dalam
tingkat keragaman genetik nantinya. Jenis perkawinan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Sehingga dalam proses perkawinan dalam tanaman atau sering disebut dengan penyerbukan
diperlukan pengetahuan khusus mengenai meorfologi dan sifat-sifat pada bunga. Proses
penyerbukan ditandai dengan menempelnya serbuk sari ke kepala putik. Setiap jenis tanaman
memiliki cara-cara tersendiri dalam proses tersebut secara alami. Penyerbukan tanaman oleh
manusia baik untuk memperoleh varietas baru maupun untuk mendapatkan produk dari tanaman
tersebut harus memperhatikan proses penyerbukan tanaman secara alami itu sendiri.
Tomat adalah komoditas hortikultura yang penting, tetapi produksinya baik kuantitas dan
kualitas masih rendah. Bunga tanaman tomat berukuran kecil berdiameter sekitar 2 cm dan
berwarna kuning cerah. Kelopak bunga yang berjumlah 5 buah dan berwarna hijau terdapat pada
bagian baerah atau pangkal bunga. Bagian lain dari bunga tomat adalah mahkota bunga yaitu
bagian terindah dari bunga tomat. Mahkota bunga tomat berwarna kuning cerah, berjumlah
sekitar. 6 buah dan berukuran 1 cm. Bunga tomat merupakan bunga sempurna, karena benang
sari dan kepala putik terletak pada bunga yang sama. Bunganya memiliki 6 buah tepung sari
dengan kepala putik berwarna sama dengan mahkota bunga yakni kuning cerah. Bunga tomat
tumbuh dari batang (cabang) yang masih muda.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan penyilangan
Penyerbukan sering mengalami kegagalan bila dilakukan pada saat kondisi lingkungan
yang tidak mendukung atau dilakukan pada saat serbuk sari atau kepala putik dalam keadaan
belum matang oleh karena itu saat penyerbukan yang tepat merupakan faktor penting yang harus
diperhatikan agar penyerbukan berhasil dengan baik. Untuk melakukan penyerbukan harus
dipilih waktu yang tepat dan tidak boleh terlambat dimana pada saat itu putik maupun serbuk sari
dalam keadaan segar, sehat, telah matang, dan cuaca mendukung proses persarian dengan baik.
Waktu yang baik untuk penyerbukan adalah jam 05.00 pagi (sebelum bunga mekar, karena jika
bunga telah mekar ditakutkan sudah mengalami penyerbukan sendiri pada bunga yang dijadikan
induk jantan).
Selain itu hal penting yang harus diperhatikan adalah cara meletakkan serbuk sari dari
induk jantan ke atas kepala putik induk betina, dan menjaganya jangan sampai kepala putik
tersebut kejatuhan serbuk sari dari tanaman lain yang tidak dikehendaki maupun dari tanaman
yang sama. Oleh karena itu, setelah polinasi bunga ditutup/ dibungkus menggunakan plastik agar
tidak terserbuku bunga lain dan tidak rusak).
Faktor yang mempengaruhi hibridisasi
1) Internal
A. Pemilihan tetua
Ada lima kelompok sumber plasma nutfah yang dapat dijadikan tetua persilangan yaitu:
(a) varietas komersial, (b) galur-galur elit pemuliaan, (c) galur-galur pemuliaan dengan satu atau
beberapa sifat superior, (d) spesies introduksi tanaman dan (e) spesies liar. Peluang
menghasilkan varietas unggul yang dituju akan menjadi besar bila tetua yang digunakan
merupakan varietas-varietas komersial yang unggul yang sedang beredar, galur-galur murni tetua
hibrida, dan tetua-tetua varietas sintetik
B. Waktu bunga mekar
Dalam melakukan persilangan harus diperhatikan: (1) penyesuaian waktu berbunga.
Waktu tanam tetua jantan dan betina harus diperhatikan supaya saat anthesis dan reseptif
waktunya bersamaan, (2) waktu emaskulasi dan penyerbukan. Pada tetua betina waktu
emaskulasi harus diperhatikan, seperti pada bunga kacang tanah, padi harus pagi hari, bila
melalui waktu tersebut polen telah jatuh ke stigma. Juga waktu penyerbukan harus tepat ketika
stigma reseptif. Jika antara waktu antesis bunga jantan dan waktu reseptif bunga betina tidak
bersamaan, maka perlu dilakukan singkronisasi. Caranya dengan membedakan waktu
penanaman antara kedua tetua, sehingga nantinya kedua tetua akan siap dalam waktu yang
bersamaan. Untuk tujuan sinkronisasi ini diperlukan informasi tentang umur tanaman berbunga.

2) External
Factor eksternal yang mempengaruhi hibridisasi adalah :
Pengetahuan tentang Organ Reproduksi dan Tipe Penyerbukan.
Untuk dapat melakukan penyerbukan silang secara buatan, hal yang paling mendasar dan
yang paling penting diketahui adalah organ reproduksi dan tipe penyerbukan. Dengan
mengetahui organ reproduksi, kita dapat menduga tipe penyerbukannya, apakah tanaman
tersebut menyerbuk silang atau menyerbuk sendiri. Tanaman menyerbuk silang dicirikan oleh
struktur bunga sebagai berikut :
a) Secara morfologi, bunganya mempunyai struktur tertentu
b) Waktu antesis dan reseptif berbeda
c) Inkompatibilitas atau ketidaksesuaian alat kelamin
d) Adanya bunga monoecious dan dioecious
Cuaca Saat Penyerbukan
Cuaca sangat besar peranannya dalam menentukan keberhasilan persilangan buatan.
Kondisi panas dengan suhu tinggi dan kelembaban udara terlalu rendah menyebabkan bunga
rontok. Demikian pula jika ada angin kencang dan hujan yang terlalu lebat.
Pelaksana
Pemulia yang melaksanakan hibridisasi harus dengan serius dan bersungguh-sungguh
dalam melakukan hibridisasi, karena jika pemulia ceroboh maka hibridisasi akan gagal.
Tanda keberhasilan hibridisasi
Adanya pembengkakan pada pangkal buah, kelopak bunga layu bakal buah tetap segar.
Keberhasilan suatu persilangan buatan dapat dilihat kira-kira satu minggu setelah dilakukan
penyerbukan . Jika pental mengering ,namun bakal buah tetap segar kemudian bakal buah
membesar atau memanjang kemungkinan telah terjadi pembuahan. Sebaliknya, jika bunga yang
gagal mengadakan fertilisasi biasanya gugur atau kepala putik nya terlihat layu dan bakal buah
rontok.
Keberhasilan penyerbukan buatan yang kemudian diikuti oleh pembuahan dipengaruhi
oleh beberapa faktor diantaranya adalah kompatibilitas tetua, ketepatan waktu reseptif betina
dan antesis jantan, kesuburantanaman serta faktor lingkungan. Kompatibilitas tetua terkait
dengan gen-gen yang terkandung pada tetua jantan dan betina. Waktu reseptif betina dan antesis
jantan dapat dilihat ciri morfologi bunga. Bunga yang terbaik adalah bunga yang akan mekar
pada hari tersebut. Sementara itu, faktor lingkungan yang berpengaruh pada keberhasilan
persilangan buatan adalah curah hujan, cahaya mahatari, kelembaban dan suhu. Curah hujan dan
suhu tinggi akan menyebabkan rendahnya keberhasilan persiangan buatan.

Jelaskan Syarat Syarat Bunga Yang Bisa Di Kastrasi
Tanaman sehat
Tanaman yang sehat adalah faktor yang sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan suatu
hibridisasi, jika tanaman terserang penyakit maka akan erdampak pada hasil yang kurang baik.
Tanaman yang sangat cocok untuk digunakan adalah tanaman yng bebas dari penyakit serta
kontaminasi hama.
Linkungan yang sesuai dan terkontrol dengan baik
Lingkungan yang kurang sesuai dan tidak terkontrol berdampak pada hasil yang kurang
baik, jika tanaman yang digunakan dalam hibridisasi adalah tanaman dataran tinggi maka
lingkungan yang cocok adalah dingin sehinggak apabila diletakkan pada daerah panas maka
tanaman tersebut akan mati/tidak cocok dan sebaliknya tanaman diletakkan pada lingkungan
terkntrol, maksudnya adalah tidak diletakkan pada lingkungan yang memiliki suhu cepat berubah
daerah pancaroba.
Manusia
Sebaiknya sebelum kita melakukan hibridisasi kita harus memiliki kemampuan dalam
proses hibridisasi setidaknya kita memiliki pengetahuan tentang hal tersebut. Selain itu seorang
brider harus memiliki seni dan kesabaran yang tinggi, sehingga apanila seorang brider tidak
memiliki seni maka tidak akan memiliki tingkat kekreatifan untuk menciptakan bentuk suatu
tanaman/hasil hibridisasi dan yang terakhir harus memiliki sifat yang sabar karena apabila tidak
memiliki kesabaran maka tidak akan memberikan hasil hibridisasi yang diinginkan.

Hibridisasi yang dilakukan pada tanaman menyerbuk sendiri agar berhasil sesuai dengan
yang diharapkan maka perlu dilakukan pemilihan tetua yang memiliki potensi genetik yang diinginkan.
Pemilihan tetua ini sangat tergaantung pada karakter tanaman yang akan digunakan, yaitu apakah
termasuk karakter kualitatif atau kuantitatif. Tujuan dari setiap program pemuliaan tanaman adalah
untuk menyatukan gamet jantan dan gamet betina yang diinginkan dari tetua yang terpilih (Nasir, 2001).
Karakter kualitatif menunjukkan fenotip yang berbeda akibat adanya genotip yang berbeda pula.
Sedangkan pemilihan tetua untuk karakter kuantitatif jauh lebih sulit karena perbedaan fenotip belum
tentu disebabkan oleh genotif yang berbeda. Karena faktor lingkungan juga mempengaruhi terhadap
penampilan dari fenotip yang ada.
Hibridisasi dilakukan pada siang hari, sekitar pukul 10.30. Dilakukan dengan cara
menaburkan benang sari varietas Danau tempe sebagai induk jantan ke kepala putik varietas situ
Situgonggo sebagai induk betina dengan menggoyang-goyangkan benang sari induk jantan. Tujuan dari
hibridisasi adalah menggabungkan dua sifat dari dua varietas tanaman ke dalam satu tubuh tanaman.
Oleh karena itu, sifat tanaman hasil persilangan (F1) merupakan gabungan sifat diantara kedua
tetuanya. Faktor lain yang harus diperhatikan dalam melakukan hibridisasi adalah lamanya daya hidup
(viabilitas) serbuk sari. Untuk tanaman serealia, viabilitas serbuk sari relatif sangat singkat biasanya
hanya bertahan dalam beberapa menit saja. Sedangkan untuk tanaman tahunan dan buah-buahan
serbuk sari masih bisa bertahan hidup normal meskipun telah disimpan selama beberapa bulan bahkan
beberapa tahun lamanya (Nasir, 2001).

Faktor faktor yang harus diperhatikan ketika melakukan hibridisasi pada tanaman menyerbuk
silang
1. Internal
Pemilihan Tetua.
Ada lima kelompok sumber plasma nutfah yang dapat dijadikan tetua persilangan yaitu: (a)
varietas komersial, (b) galur-galur elit pemuliaan, (c) galur-galur pemuliaan dengan satu atau
beberapa sifat superior, (d) spesies introduksi tanaman dan (e) spesies liar. Peluang
menghasilkan varietas unggul yang dituju akan menjadi besar bila tetua yang digunakan
merupakan varietas-varietas komersial yang unggul yang sedang beredar, galur-galur murni tetua
hibrida, dan tetua-tetua varietas sintetik.

Waktu Tanaman Berbunga.
Dalam melakukan persilangan harus diperhatikan: (1) penyesuaian waktu berbunga. Waktu
tanam tetua jantan dan betina harus diperhatikan supaya saat anthesis dan reseptif waktunya
bersamaan, (2) waktu emaskulasi dan penyerbukan. Pada tetua betina waktu emaskulasi harus
diperhatikan, seperti pada bunga kacang tanah, padi harus pagi hari, bila melalui waktu tersebut
polen telah jatuh ke stigma. Juga waktu penyerbukan harus tepat ketika stigma reseptif. Jika
antara waktu antesis bunga jantan dan waktu reseptif bunga betina tidak bersamaan, maka perlu
dilakukan singkronisasi. Caranya dengan membedakan waktu penanaman antara kedua tetua,
sehingga nantinya kedua tetua akan siap dalam waktu yang bersamaan. Untuk tujuan sinkronisasi
ini diperlukan informasi tentang umur tanaman berbunga.
(Syukur, 2009)

2. Eksternal
Pengetahuan tentang Organ Reproduksi dan Tipe Penyerbukan.
Untuk dapat melakukan penyerbukan silang secara buatan, hal yang paling mendasar dan yang
paling penting diketahui adalah organ reproduksi dan tipe penyerbukan. Dengan mengetahui
organ reproduksi, kita dapat menduga tipe penyerbukannya, apakah tanaman tersebut menyerbuk
silang atau menyerbuk sendiri. Tanaman menyerbuk silang dicirikan oleh struktur bunga sebagai
berikut :
a. secara morfologi, bunganya mempunyai struktur tertentu.
b. waktu antesis dan reseptif berbeda.
c. inkompatibilitas atau ketidaksesuaian alat kelamin.
d. adanya bunga monoecious dan dioecious.
Cuaca Saat Penyerbukan.
Cuaca sangat besar peranannya dalam menentukan keberhasilan persilangan buatan. Kondisi
panas dengan suhu tinggi dan kelembaban udara terlalu rendah menyebabkan bunga rontok.
Demikian pula jika ada angin kencang dan hujan yang terlalu lebat.
Pelaksanaan.
Pemulia yang melaksanakan hibridisasi harus dengan serius dan bersungguh-sungguh dalam
melakukan hibridisasi, karena jika pemulia ceroboh maka hibridisasi akan gagal.
(Syukur, 2009).

Tabel 1.1 Karakteristik Kelapa Dalam, Genjah dan Hibrida
Sumber: Menristek, 2005

Faktor yang Mempengaruhi Hibridisasi
Pemilihan tanaman (tetua)
Tanaman atau tetua yang dilakukan hibridisasi merupakan faktor yang sangat
mempengaruhi tingkat keberhasilan suatu hibridisasi. Jika tanaman yang terserang
penyakit maka akan berdampak pada hasil yang kurang baik. Tanaman yang sangat
cocok digunakan adalah tanaman yang bebas dari gangguan penyakit serta
kontaminasi hama serta sesuai dengan tingkat keunggulan lainnya dari breeder.
Pengetahuan tentang morfologi dan metode proses reproduksi tanaman
Waktu tanaman berbunga (waktu bunga mekar)
Keadaan cuaca pada saat penyerbukan
Lingkungan yang kurang sesuai dan tidak terkontrol berdampak pada hasil yang
kurang baik, jika tanaman yang digunakan dalam hibridisasi adalah tanaman dataran
tinggi maka lingkungan yang cocok adalah dingin sehingga apabila diletakkan di daerah
panas maka tanaman tersebut akan mati/tidak cocok dan sebaliknya. Selain itu, pada
saat persiapan jantan maupun tetua betina harus melihat serta melakukan penyerbukan
keadaan waktu yang cocok antara pagi atau sore hari.
Pelaksana
Sebaiknya sebelum melakukan hibridisasi maka harus memiliki kemampuan proses
hibridisasi setidaknya memiliki pengetahuan tenatang hal tersebut. Selain itu seorang
breeder harus memiliki seni dan kesabaran yang tinggi, sehingga apabila seorang
breeder tidak memiliki seni maka tidak akan memiliki kekreatifan untuk menciptakan
bentuk baru suatu tanaman/hasil hibridisasi. Dan yang terakhir harus memiliki sifat
sabar, karena karena apabila tidak memiliki kesabarna maka tidak akan memberikan
hasil hibridisasi yang diinginkan. Hibridisasi adalah suatu proses penyilangan untuk
menghasilkan varietas baru.
Persilangan dilakukan dengan cara menyilangkan tetua terpilih sebagai tetua
jantan atau betina, secara acak maupun resiprok, dan persilangan dilakukan
interspesifik maupun persilangan intergenerik (Lukianisa,2011).

Tanda Keberhasilan Hibridisasi
Perkembangan biji dapat dilihat 2-7 hari setelah penyerbukan. Jika petal mengering,
namun bakal buah tetap segar kemudian bakal buah membesar atau memanjang
kemungkinan telah terjadi pembuahan. Bunga yang gagal mengadakan fertilisasi
biasanya gugur atau kepala putiknya terlihat layu dan bakal buah rontok (Suhardiman,
1994).

4. Arti emaskulasi dan kastrasi serta kapan waktu yang tepat untuk melakukan emaskulasi dan
kastrasi.
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan hibridisasi
Faktor-faktor yang mempengaruhi kenerhasilan hibridisasi ada 2 macam yaitu pengaruh internal
dan eksternal.
I. Internal
1. Pemilihan Tetua
Ada lima kelompok sumber plasma nutfah yang dapat dijadikan tetua persilangan yaitu: (a)
varietas komersial, (b) galur-galur elit pemuliaan, (c) galur-galur pemuliaan dengan satu atau
beberapa sifat superior, (d) spesies introduksi tanaman dan (e) spesies liar. Peluang
menghasilkan varietas unggul yang dituju akan menjadi besar bila tetua yang digunakan
merupakan varietas-varietas komersial yang unggul yang sedang beredar, galur-galur murni tetua
hibrida, dan tetua-tetua varietas sintetik.
2. Waktu Tanaman Berbunga
Dalam melakukan persilangan harus diperhatikan: (1) penyesuaian waktu berbunga. Waktu
tanam tetua jantan dan betina harus diperhatikan supaya saat anthesis dan reseptif waktunya
bersamaan, (2) waktu emaskulasi dan penyerbukan. Pada tetua betina waktu emaskulasi harus
diperhatikan, seperti pada bunga kacang tanah, padi harus pagi hari, bila melalui waktu tersebut
polen telah jatuh ke stigma. Juga waktu penyerbukan harus tepat ketika stigma reseptif. Jika
antara waktu antesis bunga jantan dan waktu reseptif bunga betina tidak bersamaan, maka perlu
dilakukan singkronisasi. Caranya dengan membedakan waktu penanaman antara kedua tetua,
sehingga nantinya kedua tetua akan siap dalam waktu yang bersamaan. Untuk tujuan sinkronisasi
ini diperlukan informasi tentang umur tanaman berbunga.
II. Eksternal
1. Pengetahuan tentang Organ Reproduksi dan Tipe Penyerbukan
Untuk dapat melakukan penyerbukan silang secara buatan, hal yang paling mendasar dan yang
paling penting diketahui adalah organ reproduksi dan tipe penyerbukan. Dengan mengetahui
organ reproduksi, kita dapat menduga tipe penyerbukannya, apakah tanaman tersebut menyerbuk
silang atau menyerbuk sendiri. Tanaman menyerbuk silang dicirikan oleh struktur bunga sebagai
berikut :
a. secara morfologi, bunganya mempunyai struktur tertentu
b. waktu antesis dan reseptif berbeda
c. inkompatibilitas atau ketidaksesuaian alat kelamin
d. adanya bunga monoecious dan dioecious
2. Cuaca Saat Penyerbukan
Cuaca sangat besar peranannya dalam menentukan keberhasilan persilangan buatan. Kondisi
panas dengan suhu tinggi dan kelembaban udara terlalu rendah menyebabkan bunga rontok.
Demikian pula jika ada angin kencang dan hujan yang terlalu lebat.
3. Pelaksana
Pemulia yang melaksanakan hibridisasi harus dengan serius dan bersungguh-sungguh dalam
melakukan hibridisasi, karena jika pemulia ceroboh maka hibridisasi akan gagal.
6. Tanda-tanda keberhasilan dan kegagalan fertilisasi
Keberhasilan
Perkembangan biji dapat dilihat 2-7 hari setelah penyerbukan. Jika petal mengering, namun
bakal buah tetap segar kemudian bakal buah membesar atau memanjang kemungkinan telah
terjadi pembuahan. Adanya pembengkakan pada pangkal buah, kelopak bunga layu bakal buah
tetap segar. Keberhasilan suatu persilangan buatan dapat dilihat kira-kira satu minggu setelah
dilakukan penyerbukan. Jika pental mengering ,namun bakal buah tetap segar kemudian bakal
buah membesar atau memanjang kemungkinan telah terjadi pembuahan.
Kegagalan
Bunga yang gagal mengadakan fertilisasi biasanya gugur atau kepala putiknya terlihat layu dan
bakal buah rontok.

Laporan Hibridisasi!!!
08 Jun
SAAT HIBRIDISASI DI JATIKERTO


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemuliaan tanaman adalah kegiatan mengubah susunan genetik individu maupun
populasitanaman untuk suatu tujuan.Pemuliaan tanaman kadang-kadang disamakan dengan
penangkaran tanaman, kegiatan memelihara tanaman untuk memperbanyak dan menjaga
kemurnian; pada kenyataannya, kegiatan penangkaran adalah sebagian dari pemuliaan.Selain
melakukan penangkaran, pemuliaan berusaha memperbaiki mutu genetik sehingga diperoleh
tanaman yang lebih bermanfaat.
Pengetahuan mengenai perilaku biologi tanaman dan pengalaman dalam budidaya tanaman
merupakan hal yang paling menentukan keberhasilan usaha pemuliaan, sehingga buku-buku teks
seringkali menyebut pemuliaan tanaman sebagai seni dan ilmu memperbaiki keturunan tanaman
demi kemaslahatan manusia. Tujuan dalam program pemuliaan tanaman didasarkan pada strategi
jangka panjang untuk mengantisipasi berbagai perubahan arah konsumen atau keadaan
lingkungan. Persilangan merupakan cara yang paling populer untuk meningkatkan variabilitas
genetik, bahkan sampai sekarang karena murah, efektif, dan relatif mudah dilakukan. Berbagai
galur hasil rekayasa genetika pun biasanya masih memerlukan beberapa kali persilangan untuk
memperbaiki penampilan sifat-sifat barunya.Pada dasarnya, persilangan adalah manipulasi
komposisi gen dalam populasi. Keberhasilan persilangan memerlukan prasyarat pemahaman
akan proses reproduksi tanaman yang bersangkutan (biologi bunga).
1.2 Tujuan
Dengan demikian, bahwa hibridisasi yang dilakukan pada komoditas pacar air, jagung, dan
kacang panjang bertujuan untuk memperoleh kombinasi genetik yang diingkan melalui
persilangan dua tetua, menambah keragaman genetic, mendapatkan varietas baru (produksi
tinggi, rasa, estetika), memperbaiki ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit,
serta untuk mengetahui karakter-karakter pada kacang panjang yang diinginkan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Hibridisasi
Hybridization is the process of interbreeding between individuals of different species
(interspecific hybridization) or genetically divergent individuals from the same species
(intraspecific hybridization). Offspring produced by hybridization may be fertile, partially fertile,
or sterile. (Anderson, 1949)
Hibridisasi adalah proses kawin antar individu dari spesies yang berbeda (persilangan
interspesifik) atau individu genetik berbeda dari spesies yang sama (hibridisasi intraspesifik).
Offspring dihasilkan dengan hibridisasi mungkin subur, sebagian subur, atau steril.
Hybridisation is the process of combining different varieties or species of organisms to create a
hybrid. ( Grant,1971 )
Hibridisasi adalah proses penggabungan varietas yang berbeda atau spesies organisme untuk
menciptakan hibrida.
Hibridisasi ialah perkawinan antara berbagai spesies, suku, ras, atau varietas tunggal yang
bertujuan memperoleh organism yang diinginkan. (Tjitrosoepomo, 2000)
Hibridisasi adalah mengawinkan dua jenis hewan atau tumbuhan yang berbeda varietas dan
memiliki sifat-sifat unggul. (Pitojo,.2006)
2.2 Tahapan Hibridisasi
1. Pilih bunga yang sudah siap (anthesis).
2. Tutup putik dengan kertas minyak (atau plastik) : dilakukan agar kita bisa memastikan
bahwa putik ini benar-benar belum diserbuki oleh pollen yang tidak diinginkan. Pastikan
kertas menutup putik dengan rapat. Dan berhati-hatilah agar jangan sampai serbuk sari
bunga beterbangan jadi lakukan proses ini dengan perlahan-lahan.
3. Lalu lakukan kastrasi : buang seluruh benang sari dengan cara mengguntingnya. Dan
kurangi goncangan agar serbuk sari tidak masuk ke putik. Jika perlu kita boleh
menggunduli bunga dengan memotong mahkota bunganya untuk mempermudah
penyerbukan. Setelah kastrasi dilakukan tangan kita akan banyak sekali mengandung
serbuk sari jadi alangkah baiknya kita mencuci tangan terlebih dahulu untuk mengurangi
kontaminasi pada saat penyerbukan.
4. Setelah kastrasi selesai buka penutup putik. Ambillah serbuk sari dari bunga tanaman lain
(tanaman asal serbuk sari kita katakan sebagai tetua jantan) dan oleskan serbuk sari
tersebut hingga putik terlihat penuh dengan serbuk sari.
5. Tutuplah putik kembali untuk menjaga agar putik tidak lagi diserbuki oleh bunga lain.
6. Persilangan selesai. Amati bunga yang disilangkan selama 7 hari. Jika dasar bunga
(receptaculum) masih terlihat segar 7 hari setelah persilangan. Maka persilangan bisa
dikatakan berhasil. (Pitojo,.2006)
2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hibridisasi
2.3.1 Internal
1. 1. Pemilihan Tetua
Ada lima kelompok sumber plasma nutfah yang dapat dijadikan tetua persilangan yaitu: (a)
varietas komersial, (b) galur-galur elit pemuliaan, (c) galur-galur pemuliaan dengan satu atau
beberapa sifat superior, (d) spesies introduksi tanaman dan (e) spesies liar. Peluang
menghasilkan varietas unggul yang dituju akan menjadi besar bila tetua yang digunakan
merupakan varietas-varietas komersial yang unggul yang sedang beredar, galur-galur murni tetua
hibrida, dan tetua-tetua varietas sintetik.
1. 2. Waktu Tanaman Berbunga
Dalam melakukan persilangan harus diperhatikan: (1) penyesuaian waktu berbunga. Waktu
tanam tetua jantan dan betina harus diperhatikan supaya saat anthesis dan reseptif waktunya
bersamaan, (2) waktu emaskulasi dan penyerbukan.Pada tetua betina waktu emaskulasi harus
diperhatikan, seperti pada bunga kacang tanah, padi harus pagi hari, bila melalui waktu tersebut
polen telah jatuh ke stigma.Juga waktu penyerbukan harus tepat ketika stigma reseptif.Jika antara
waktu antesis bunga jantan dan waktu reseptif bunga betina tidak bersamaan, maka perlu
dilakukan singkronisasi. Caranya dengan membedakan waktu penanaman antara kedua tetua,
sehingga nantinya kedua tetua akan siap dalam waktu yang bersamaan. Untuk tujuan sinkronisasi
ini diperlukan informasi tentang umur tanaman berbunga. (Syukur, 2009)
2.3.2 Eksternal
1. 1. Pengetahuan tentang Organ Reproduksi dan Tipe Penyerbukan
Untuk dapat melakukan penyerbukan silang secara buatan, hal yang paling mendasar dan yang
paling penting diketahui adalah organ reproduksi dan tipe penyerbukan.Dengan mengetahui
organ reproduksi, kita dapat menduga tipe penyerbukannya, apakah tanaman tersebut menyerbuk
silang atau menyerbuk sendiri. Tanaman menyerbuk silang dicirikan oleh struktur bunga sebagai
berikut :
1. secara morfologi, bunganya mempunyai struktur tertentu
2. waktu antesis dan reseptif berbeda
3. inkompatibilitas atau ketidaksesuaian alat kelamin
4. adanya bunga monoecious dan dioecious
5. Cuaca Saat Penyerbukan
Cuaca sangat besar peranannya dalam menentukan keberhasilan persilangan buatan.Kondisi
panas dengan suhu tinggi dan kelembaban udara terlalu rendah menyebabkan bunga
rontok.Demikian pula jika ada angin kencang dan hujan yang terlalu lebat.
1. Pelaksana
Pemulia yang melaksanakan hibridisasi harus dengan serius dan bersungguh-sungguh dalam
melakukan hibridisasi, karena jika pemulia ceroboh maka hibridisasi akan gagal. (Syukur, 2009)

.4 Tanda Keberhasilan Hibridisasi
Adanya pembengkakan pada pangkal buah, kelopak bunga layu bakal buah tetap
segar.Keberhasilan suatu persilangan buatan dapat dilihat kira-kira satu minggu setelah
dilakukan penyerbukan . Jika pental mengering ,namun bakal buah tetap segar kemudian bakal
buah membesar atau memanjang kemungkinan telah terjadi pembuahan. Sebaliknya, jika bunga
yang gagal mengadakan fertilisasi biasanya gugur atau kepala putik nya terlihat layu dan bakal
buah rontok.
Keberhasilan penyerbukan buatan yang kemudian diikuti oleh pembuahan dipengaruhi oleh
beberapa faktor diantaranya adalah kompatibilitas tetua, ketepatan waktu reseptif betina dan
antesis jantan, kesuburantanaman serta faktor lingkungan. Kompatibilitas tetua terkait dengan
gen-gen yang terkandung pada tetua jantan dan betina.Waktu reseptif betina dan antesis jantan
dapat dilihat ciri morfologi bunga. Bunga yang terbaik adalah bunga yang akanmekar pada hari
tersebut. Sementara itu, faktor lingkungan yang berpengaruh pada keberhasilan persilangan
buatan adalah curah hujan, cahaya mahatari, kelembaban dan suhu. Curah hujan dan suhu tinggi
akan menyebabkan rendahnya keberhasilan persiangan buatan. (Syukur, 2009)

b. Kastrasi
Kastrasi adalah pengambilan kotak sari (bunga jantan) dengan sengajaagar tidak
terjadi persilangan sendiri. Kastrasi dilakukan pada saat bunga jantan mulai muncul tetapi belum
pecah. Kotak sari yang belum pecah biasanya telah menyembul di dua sisi bunga betina dan
berwarna putih, sedangkan kotak sari yang sudah pecah berwarna krem coklat
kehitaman.Munculnya bunga jantan padatan dan bunga berkisar antara 6-12 hari. Kastrasi
dilakukan setiap hari sesuai dengan kemunculan bunga jantan tersebut. Ada beberapa cara untuk
melakukankastrasi, yaitu: (1) menggunakan pompa pengisap, (2) dengan perlakuan alkohol,dan
(3) secara manual dengan pinset. Kastrasi sebaiknya dilakukan pada pagi hari setelah persilangan
pada saat bunga jantan mulai muncul tetapi belum pecah, biasanya 1-2 kali
setelah persilangan.Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kerusakan mekanis tandan bunga.
(Soemedi, 1982).
c. Emaskulasi
Merupakan Langkah kedua setelah pemilihan tetua. Emaskulasi adalah
pembuangan alat kelamin jantan pada tetua yang ditujukan sebagai tetua betina. Emaskulasi
dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu; secara mekanis, fisika, dan kimia. Emaskulasi
dengan cara mekanis, yaitu dengan mengambil serbuk sari menggunakan alat penjepit, pinset
ataupun jarum. Pengambilan kotak sari dilakukan sebelum kotak sari terbuka dan serbuksari
luruh. Gunting digunakan untuk memotong ujung palea dan lemma agar mudah diambil kepala
sarinya. Penyungkupan dan pelabelan dilakukan setelah emaskulasi selesai dilakukan dengan
tujuan agar terhindar dari penyerbukan yang tidak diinginkan dan untuk menghindari kesalahan (
Nasir, 2001 ).

Faktor faktor yang perlu diperhatikan dalam melakukan penyerbukan silang buatan
adalah sebagai berikut:
1. Internal
a. Pemilihan Tetua
Ada lima kelompok sumber plasma nutfah yang dapat dijadikan tetua persilangan yaitu: (a)
varietas komersial, (b) galur-galur elit pemuliaan, (c) galur-galur pemuliaan dengan satu atau
beberapa sifat superior, (d) spesies introduksi tanaman dan (e) spesies liar. Peluang
menghasilkan varietas unggul yang dituju akan menjadi besar bila tetua yang digunakan
merupakan varietas-varietas komersial yang unggul yang sedang beredar, galur-galur murni tetua
hibrida, dan tetua-tetua varietas sintetik.
b. Waktu Tanaman Berbunga
Dalam melakukan persilangan harus diperhatikan: (1) penyesuaian waktu berbunga. Waktu
tanam tetua jantan dan betina harus diperhatikan supaya saat anthesis dan reseptif waktunya
bersamaan, (2) waktu emaskulasi dan penyerbukan. Pada tetua betina waktu emaskulasi harus
diperhatikan, seperti pada bunga kacang tanah, padi harus pagi hari, bila melalui waktu tersebut
polen telah jatuh ke stigma. Juga waktu penyerbukan harus tepat ketika stigma reseptif. Jika
antara waktu antesis bunga jantan dan waktu reseptif bunga betina tidak bersamaan, maka perlu
dilakukan singkronisasi. Caranya dengan membedakan waktu penanaman antara kedua tetua,
sehingga nantinya kedua tetua akan siap dalam waktu yang bersamaan. Untuk tujuan sinkronisasi
ini diperlukan informasi tentang umur tanaman berbunga.
(Syukur, 2009)
2. Eksternal
a. Pengetahuan tentang Organ Reproduksi dan Tipe Penyerbukan
Untuk dapat melakukan penyerbukan silang secara buatan, hal yang paling mendasar dan yang
paling penting diketahui adalah organ reproduksi dan tipe penyerbukan. Dengan mengetahui
organ reproduksi, kita dapat menduga tipe penyerbukannya, apakah tanaman tersebut menyerbuk
silang atau menyerbuk sendiri. Tanaman menyerbuk silang dicirikan oleh struktur bunga sebagai
berikut :
- secara morfologi, bunganya mempunyai struktur tertentu.
- waktu antesis dan reseptif berbeda.
- inkompatibilitas atau ketidaksesuaian alat kelamin.
- adanya bunga monoecious dan dioecious.
b. Cuaca Saat Penyerbukan
Cuaca sangat besar peranannya dalam menentukan keberhasilan persilangan buatan. Kondisi
panas dengan suhu tinggi dan kelembaban udara terlalu rendah menyebabkan bunga rontok.
Demikian pula jika ada angin kencang dan hujan yang terlalu lebat.
c. Pelaksana
Pemulia yang melaksanakan hibridisasi harus dengan serius dan bersungguh-sungguh dalam
melakukan hibridisasi, karena jika pemulia ceroboh maka hibridisasi akan gagal.
(Syukur, 2009)
Di samping itu ada faktor faktor lain yang juga perlu di perhatikan yaitu:
a. Gangguan mekanis terhadap penyerbukan sendiri.
b. Perbedaan periode matang sebuk sari dan kepala putik.
c. Sterilitas dan inkompatibilitas
d. Adanya bunga monocious dan diocious
Faktor faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan dalam hibridisasi atau
persilangan tanaman menyerbuk silang adalah :
a. Cuaca saat penyerbukan
Kondisi panas dengan suhu tinggi dan kelembaban udara terlalu rendah menyebabkan bunga
rontok. Sehingga dala hal ini akan mengakibatkan persilangan yang kita lakukan menjadi gagal.
b. Pemulia
Keseriusan dan kesungguhan seorang pemulia dalam melaksanakan persilangan ini sangat
menentukan keberhasilan persilangan. Karna dalam melakukan persilangan ini harus berhati hati
dan tidak teledor. Di samping itu adalah pengetahuan pemuliaa tentang tanaman yang akan di
silangkan
c. Hujan
Curah hujan yang tinggi pada saat sedang melakukan proses persilangan akan mengganggu dan
menggaggalkan persilangan yang telah di lakukan. Karna hujan tadi akan mengguggurkan bunga
yang telah di serbuki sekalipun ada kantong.
d. Angin
Angin mempunyai pengaruh penting dalam persilangan. Angin dapat menerbangkan serbuk sari
kemana kemana. Sehingga dalam hal ini jika tanaman yang kita silangkan tidak di lindungi dan
di tutup dengan baik makan memungkinkan akan terjadinya suatu penyerbukan yang tidak di
kehendaki.
e. Pemilihan tetua jantan dan betina
Pemilihan tetua jantan dan betina sangatlah penting dalam proses persilangan ini. Apabila dalam
pemilihan tetua jantan dan tetua betina tidak tepat maka persilanganpun tidak berjalan dengan
maksimal dan memungkin kan persilangan tersebut menjadi gagal. Sebagai contoh pada tanaman
jagung yang steril.

Adapun di bidang pertanian, tanaman hasil persilangan diantaranya : padi Bogowonto, Mahakam, Peta
Baru (PB),dan Cisadane.
Kelebihan Hibridisasi
1.Banyaknya varietas yang unggul menjadikan varietas buruk hampir tidak ada atau punah sehingga
tidak ada keseimbangan alam sehingga perlunya memelihara varietas buruk dan varietas unggul secara
seimbang.
2.Menimbulkan keragaman genetik
3.Menciptakan populasi baru yang mana pada sebagian dari individu-individu anggotanya dapat
dipadukan ciri-ciri sifat-sifat keturunan yang baik.
4.Keanekaragaman spesies di Indonesia meningkat

Kelemahan Hibridisasi

1.Secara tidak langsung banyaknya proses hibridisasi membuat varietas asli (alam) terancam punah
sehingga perlunya pembudidayaan varietas asli secara seimbang agar sifat asli tanaman tidak hilang.
2.Sukar untuk mendapatkan suatu hibrida antar spesies dan antar genera. Hibridasi somatic dapat
mengatasi hal tersebut.
3.Sitoplasma pada perkawinan hanya berasal dari tetua betina saja.
4.Butuh tenaga, biaya dan waktu yang banyak
5.Sulit dilakukan karena perlu keterampilan khusus.

Kelebihan Hibridisasi
1. Banyaknya varietas yang unggul menjadikan varietas buruk hampir tidak ada atau punah
sehingga tidak ada keseimbangan alam sehingga perlunya memelihara varietas buruk dan
varietas unggul secara seimbang.
2. Menimbulkan keragaman genetik
3. Menciptakan populasi baru yang mana pada sebagian dari individu-individu anggotanya
dapat dipadukan ciri-ciri sifat-sifat keturunan yang baik.
4. Keanekaragaman spesies meningkat

Kelemahan Hibridisasi
1. Secara tidak langsung banyaknya proses hibridisasi membuat varietas asli (alam)
terancam punah sehingga perlunya pembudidayaan varietas asli secara seimbang agar
sifat asli tanaman tidak hilang.
2. Sukar untuk mendapatkan suatu hibrida antar spesies dan antar genera. Hibridasi somatik
dapat mengatasi hal tersebut.

Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan hibridisasi.
Faktor Internal
Pemilihan Tetua
Ada lima kelompok sumber plasma nutfah yang dapat dijadikan tetua persilangan yaitu:
(a) varietas komersial, (b) galur-galur elit pemuliaan, (c) galur-galur pemuliaan dengan satu atau
beberapa sifat superior, (d) spesies introduksi tanaman dan (e) spesies liar. Peluang
menghasilkan varietas unggul yang dituju akan menjadi besar bila tetua yang digunakan
merupakan varietas-varietas komersial yang unggul yang sedang beredar, galur-galur murni tetua
hibrida, dan tetua-tetua varietas sintetik.
Waktu Tanaman Berbunga
Dalam melakukan persilangan harus diperhatikan: (1) penyesuaian waktu berbunga.
Waktu tanam tetua jantan dan betina harus diperhatikan supaya saat anthesis dan reseptif
waktunya bersamaan, (2) waktu emaskulasi dan penyerbukan. Pada tetua betina waktu
emaskulasi harus diperhatikan, seperti pada bunga kacang tanah, padi harus pagi hari, bila
melalui waktu tersebut polen telah jatuh ke stigma. Juga waktu penyerbukan harus tepat ketika
stigma reseptif. Jika antara waktu antesis bunga jantan dan waktu reseptif bunga betina tidak
bersamaan, maka perlu dilakukan singkronisasi. Caranya dengan membedakan waktu
penanaman antara kedua tetua, sehingga nantinya kedua tetua akan siap dalam waktu yang
bersamaan. Untuk tujuan sinkronisasi ini diperlukan informasi tentang umur tanaman
berbunga.(Syukur, 2009)

Faktor Eksternal
Pengetahuan tentang Organ Reproduksi dan Tipe Penyerbukan
Untuk dapat melakukan penyerbukan silang secara buatan, hal yang paling mendasar dan
yang paling penting diketahui adalah organ reproduksi dan tipe penyerbukan. Dengan
mengetahui organ reproduksi, kita dapat menduga tipe penyerbukannya, apakah tanaman
tersebut menyerbuk silang atau menyerbuk sendiri.
o Tanaman menyerbuk silang dicirikan oleh struktur bunga sebagai berikut :
a. secara morfologi, bunganya mempunyai struktur tertentu
b. waktu antesis dan reseptif berbeda
c. inkompatibilitas atau ketidaksesuaian alat kelamin
d. adanya bunga monoecious dan dioecious
o Tanaman menyerbuk sendiri dicirikan oleh struktur bunga sebagai berikut :
a. Waktu antesis dan reseptif sama
b.Adanya bunga hermaprodit
c. Bunga sempurna
Cuaca Saat Penyerbukan
Cuaca sangat besar peranannya dalam menentukan keberhasilan persilangan buatan.
Kondisi panas dengan suhu tinggi dan kelembaban udara terlalu rendah menyebabkan bunga
rontok. Demikian pula jika ada angin kencang dan hujan yang terlalu lebat.
Pelaksana
Pemulia yang melaksanakan hibridisasi harus dengan serius dan bersungguh-sungguh
dalam melakukan hibridisasi, karena jika pemulia ceroboh maka hibridisasi akan gagal. (Syukur,
2009).