Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

FARMAKOLOGI MOLEKULAR
RESEPTOR ADRENERGIK (BETA 2-ADRENERGIK BLOKER)



Disusun Oleh:

1. Diyana Puspa Rini (G1F013014)
2. Kirana Ayu (G1F013064)



KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDRIMAN
FAKULTAS KEDOKTERAAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN FARMASI
2014





BAB I
PENDAHULUAN

Hipertensi merupakan faktor risiko kardiovaskular yang paling umum.
Prevalensinya terus meningkat, yang diderita lebih dari 25% dari populasi orang
dewasa di negara maju. Banyak penelitian sebelumnya telah menunjukkan hubungan
longitudinal antara hipertensi dan penyakit arteri koroner, infark miokard, stroke, gagal
jantung kongestif, dan penyakit pembuluh darah perifer. Penurunan tekanan darah
(BP) secara signifikan mengurangi morbiditas dan mortalitas kardiovaskular. Namun,
tingkat pengendalian hipertensi saat ini tidak sesuai dan sebagian besar penderita
hipertensi akan memerlukan dua atau lebih obat antihipertensi untuk mencapai tujuan
target tekanan darah. Situasi dengan hipertensi adalah kompleks, seperti hipertensi
diastolik pada yang muda / setengah baya muncul dari hubungan dengan obesitas dan
aktivitas saraf simpatis yang tinggi dan mengangkat cardiac output. Sebaliknya,
hipertensi sistolik terisolasi muncul pada orang tua melalui adanya penurunan
kepatuhan vaskular
Salah satu terapi yang digunakan dalam pengobatan hipertensi adalah obot
golongan beta-bloker. Beta-bloker telah terbukti efektif menurunkan tekanan darah dan
telah digunakan untuk pengobatan hipertensi selama lebih dari 40 tahun, efeknya pada
morbiditas dan mortalitas kardiovaskular pada pasien hipertensi masih kontroversial
dan penggunaannya dalam hipertensi tanpa komplikasi sedang diperdebatkan saat ini.
Beta-blocker efektif mengurangi tekanan darah di sistolik-diastolik hipertensi
dan hipertensi sistolik terisolasi. Mereka menurunkan tekanan darah arteri dengan
mengurangi cardiac output dan mengurangi denyut jantung. Ketika katekolamin
mengaktifkan reseptor beta-1 di jantung, denyut jantung dan kontraktilitas miokard
meningkat. Banyak bentuk hipertensi berhubungan dengan peningkatan volume darah
dan cardiac output. Oleh karena itu, mengurangi cardiac output dengan beta-blokade
dapat menjadi pengobatan yang efektif untuk hipertensi.






BAB II
PEMBAHASAN

A. Mekanisme kerja obat golongan adrenergik bloker
Mekanisme kerja beta-bloker untuk hipertensi tidak begitu jelas. Yang sekarang
diketahui adalah obat ini menyebabkan penuru
Kerja fisiologi utama atenolol adalah dengan secara kompetitif menghambat
stimulasi adrenergik dari reseptor beta-adrenergik dalam miokardium dan otot halus
vaskular. Pada dosis kecil, atenolol secara selektif menghambat reseptor jantung dan
reseptor lipolitik 1-adrenergik dan hanya sedikit efek pada reseptor 2-adrenergik
bronki dan otot halus vaskular. Pada dosis tinggi (>100 mg/hari), selektivitas atenolol
untuk reseptor 1-adrenergik biasanya hilang, dan akan secara kompetitif
menghambat reseptor 1- dan 2-adrenergik. Dengan menghambat reseptor 1-
adrenergik miokardium, atenolol menghasilkan aktivitas kronotropik dan inotropik yang
negatif. Dengan berkurangnya kontraktilitas miokardium dan denyut jantung, dan
dengan turunnya tekanan darah akan mengakibatkan berkurangnya konsumsi oksigen
oleh miokardium. Dan hal inilah yang membuat efektifnya atenolol pada angina
pektoris stabil yang kronis; walaupun begitu, atenolol dapat meningkatkan keperluan
oksigen dengan meningkatkan panjangnya serabut ventrikular kiri dan tekanan end-
diastolic, terutama pada pasien dengan gagal jantung.

B. Sifat-sifat atau efek umum obat golongan adrenergik bloker
C. Penggunaan obat-obat golongan adrenergic
Digunakan dalam penatalaksanaan hipertensi, angina pektoris, takiaritmia,
stenosis subaortik hipertrofi, sakit kepala migren (profilaksis), infark miokard
(pencegahan), glaukoma (betaksolol, levobunolol, metipranalol, dan timolol),
feokromositoma, tremor (hanya propanolol), dan hipertiroidisme (hanya menangani
gejalanya saja) (Judith, 2004).

D. Macam-macam obat golongan adrenergik
B-BETA
Produsen : Ferron
Komposisi : Bisoprolol fumarate
Kontraindikasi : Shock kardiogenik, penyakit jantung, blok AV derajat II atau
III, sinus bradikardi.
Efek samping: Pusing, vertigo, sakit kepala, parestesia, hipoestesia,
ansietas, mulut kering,bradikardia, palpitasi, aritmia lain, ekstremitas terasa
dingin, klaudikasio, hipotensi, nyeri dada, gagal jantung, insomnia, depresi,
nyeri perut, mual, muntah, diare, konstipasi, nyeri otot, kram otot, tremor,
ruam kulit, akne, eksim, iritasi kulit, gatal, berkeringat, alopesia, angiodema,
dermatitis eksfoliatif, gangguan visual, tinitus, nyeri telinga, gout, asma,
bronkospasme, batuk, faringitis, rinitis, sinusitis, impotensi, kolik ginjal,
purpura, lelah, lemah, pengingkatan berat badan.
BETA-ONE
Produsen : Hexpharm Jaya
Komposisi :Bisoprolol fumarate
Kontraindikasi : Shock kardiogenik, gagal jantung, blok AV derajat II dan III,
sinus bradikardia.
Efek samping : Jarang, kram perut, diare, pusing, sakit kepala, nausea,
disfungsi ereksi, bradikardia, hipotensi, baal, parestesi, ekstremitas dingin,
radang tenggorokan, dan sesak nafas atau mengi.
BETABLOK
Produsen : Hexpharm Jaya
Komposisi : Atenolol
Kontraindikasi: Sinus bradikardia, blok jantung derajat II dan III, shock
kardiogenik, gagal jantung.
Efek samping: Bradikardia, ekstremitas terasa dingin, pusing, rasa lelah,
letargi, mengantuk, vertigo, depresi, ruam kulit, dan mata kering.
BLOREC
Produsen : Fahrenheit
Komposisi : Carvedilol
Kontraindikasi : Asma bronkial atau kondisi bronkospasme yang meliputi
hipotensi berat, bradikardi sinus berat, blok AV derajat II dan III, pasien
dengan dekompensasi kordis NYHA kelas IV yang membutuhkan bantuan
inotropik intravena; PPOK; gangguan fungsi hati yang sudah memberikan
manifestasi klinis; shock kardiogenik dan hipovolemik.
Efek samping : Pusing, sakit kepala, kelelahan, bradikardi, hipertensi
postural, sindrom seperti terbakar, penurunan produksi air mata.
FAPRESOR
Produsen : Fahrenheit
Komposisi : Metoprolol tartrate
Kontraindikasi: Pasien infark miokard dengan kecepatan denyut jantung
<45x per menit; blok jantung derajat II dan III; interval PR 0,24 detik; TD
sistolik 100 mmHg; gagal jantung sedang sampai dengan berat.
Efek samping: Dispnea; mual dan nyeri perut, depresi mental reversibel
yang berkembang secara progresif menjadi katatonia; intensifikasi blok AV;
agranulositosis, nyeri tenggorokan, dan gangguan pernapasan.
FANORMIN
Produsen : Fahrenheit
Komposisi : Atenolol
Kontraindikasi: Blok AV derajat II dan III, gagal jantung berat, asma
bronkial, shock kardiogenik, sinus bradikardi.
Efek samping: Bradikardia, ekstremitas dingin, hipotensi postural, sakit
kepala, vertigo, lelah, lemah, sedasi, dan depresi.
LOPROLOL
Produsen : Ikapharmindo
Komposisi : Metoprolol tartrate
Kontraindikasi: Sinus bradikardi, shock kardiogenik dan gagal jantung,
riwayat bronkospasme atau asma, frekuensi denyut jantung < 45 denyut
per menit, blok jantung derajat II dan III, tekanan darah sistolik < 100 mmHg
atau gagal jantung sedang sampai dengan berat
Efek samping: rasa lelah, sakit kepala, kejang otot, depresi,
bingung,insomnia, halusinasi, bradikardia, artimia, edema, mual, muntah,
nyeri abdoman, diare atau konstipasi, gatal atau kemerahan,
bronkospasme, gangguan konduksi.
LOTENAC
Produsen : Gracia Pharmindo
Komposisi : Atenolol
Kontraindikasi: Asma bronkial, shock kardiogenik, gagal jantung, bradikardi
sinus.
Efek samping: Bradikardia, ekstremitas dingin, hipotensi postural, sakit
kepala, vertigo, lelah, lemas, mengantuk, depresi, mual, muntah, diare, dan
bronkospasme.


METOPROLOL TARTRATE FAHRENHEIT
Produsen : Fahrenheit
Komposisi : Metoprolol tartrate
Kontaindikasi: Pasien dengan kecepatan denyut jantung < 45x per menit;
blok jantung derajat II dan III; blok jantung derajat I yang signifikan (interval
PR 0,24 detik); TD sistolik < 100 mmHg; gagal jantung sedang sampai
dengan berat.
Efek samping: Vertigo, gangguan tidur, halusinasi, sakit kepala, pusing,
gangguan daya penglihatan, kebingungan, penurunan dibido, dispnea
karena gangguan pada paru, mual dan nyeri perut, ruam dan perburukan
psoriasis, diabetes.
V-BLOC
Produsen : Kalbe Farma
Komposisi : Carvedilol
Kontraindikasi: Gagal jantung dekompensasi yang memerlukan penunjang
inotropik IV, asma bronkial, PPOK dengan komponen bronkospastik,
gangguan fungsi hati, blok AV derajat II dan III, bradikardi berat, shock,
sindroma sick sinus, hipotensi berat (TD sistolik < 85 mmHg), hamil, laktasi,
anak < 18 tahun, hipersensitif terhadap V-bloc.
Efek samping: Edema, pusing, brikardia, hipotensi, mual, diare, penglihatan
kabur.
(Medidata, 2013)

E. Sifat unik obat golongan adrenergic
F. Efek Samping Penggunaan obat
Efek ke jantung: bradikardi (3%); hipotensi; (AV) blok atrioventrikular derajat
kedua atau tiga; dan mempercepat parahnya gagal jantung, yang biasanya terjadi
pada pasien yang sudah mempunyai disfungsi ventrikular kiri. Sick sinus syndrome
telah dilaporkan; dinginnya kaki tangan (0-12%), postural hipotensi (2-4%, dikaitkan
dengan syncope); dan sakit kaki (0-3%). Efek ke SSP: pusing, letih, depresi. Lesu,
mengantuk, mimpi yang tidak biasa, dan vertigo terjadi pada 3% pasien. Sakit kepala
dan halusinasi juga telah dilaporkan. Efek samping lain yang terlihat pada penggunaan
penyekat beta dapat juga terjadi pada penggunaan atenolol seperti gangguan
penglihatan, disorientasi, gangguan memori jangka pendek, emosi yang labil, psikosis,
dan katatonia. Efek ke saluran pencernaan: diare dan mual (2-4%), dan mulut kering
juga telah dilaporkan. Efek endokrin: penggunaan penyekat -adrenergik pada pasien
hipertensi meningkatkan resiko ( 28%) tipe 2 diabetes mellitus. Penyekat -adrenergik
dapat menutupi tanda-tanda dan gejala hipoglikemi (seperti palpitasi, tahikardi, tremor)
dan memperkuat efek hipoglikemi yang disebabkan oleh insulin. Efek samping yang
lain: Ruam, eksaserbasi psoriasis, sindroma lupus, mata kering, gangguan
penglihatan, alopesia yang reversibel, penyakit Peyronie, antinuclear antibodies (ANA),
impoten, meningkatnya konsentrasi enzim liver dan bilirubin, purpura, Raynauld's
phenomena, dan trombositopenia juga telah dilaporkan. Reaksi alergi: demam, sakit
kerongkongan, spasme laring, dan respiratory distress (Anonim, 2012).

G. Interaksi Obat
Interaksi farmakokinetik garam aluminuim, kolestiramin, dan kolestipol dapat
mrngurangi absorbsi -bloker. Fenitoin, rifampin, fenobarbital, dan merokok
menginduksi enzim-enzim biotransformasi di hepar sehingga mempercepat
metabolisme -bloker yang eliminasinya melalui hati, misalnya propanolol. Simetidin
dapat meningkatkan bioavailabitilas -bloker yang mengalami metabolisme lintas
pertama di hati melalui hambatan enzim metabolism di hati. Sebaliknya, -bloker dapat
menganggu klirens lidokain melalui pengurangan aliran darah hepar (Gunawan, 2011)
Interaksi farmakodinamik, -bloker dan antagonis kalsium tertentu, misalnya
verapamil atau diltiazim mempunyai efek aditif dalam menghambat konduksi jantung.
Efek antihipertensi -bloker dan obat anti hipertensi lainnya juga aditif. Tetapi, efek
antihipertensi -bloker dapat dikurangi oleh indometasin dan obat-obat anti inflamasi
nonsteroid lainnya (Gunawan, 2011)
Interaksi obat atenolol:
Reserpin: meningkatkan insiden hipotensi dan bradikardi, karena aktivitas
reserpin melenyapkan katekolamin. Obat hipotensif lain (misalnya antagonis
kalsium, hidralazin, metildopa): efek hipotensi aditif; dosis harus disesuaikan
bila diberikan bersamaan dengan atenolol.
Klonidin: karena penyekat -adrenergik dapat menyebabkan eksaserbasi
rebound hypertension yang mungkin terjadi bila terapi klonidin dihentikan,
atenolol harus diberhentikan beberapa hari sebelum terapi klonidin bila terapi
klonidin harus diberhentikan pada pasien yang menerima atenolol dan klonidin
bersamaan. Atenolol IV harus digunakan dengan hati-hati pada pasien yang
baru mendapatkan obat lain yang juga mempunyai efek inotropik negatif
terhadap miokardium.
Penggunaan atenolol bersamaan dengan verapamil dapat mengakibatkan
reaksi efek samping yang serius, terutama pada pasien-pasien dengan
kardiomiopati yang parah, gagal jantung, atau yang baru menderita infark
miokard.
NSAID: pengunaan inhibitor siklooksigenase (misalnya indometasin) dapat
menurunkan efek hipotensif dari penyekat -adrenergik .
(AHFS Drug Information ,2008)

H. Presentase obat yang di metabolisme versus ekskresi melalui ginjal
I. Waktu paruh obat golongan
N
O.
NAMA
OBAT
WAKTU
PARUH
FARMAKOKINETIK KERJA OBAT
1 Atenolol 2,2-2,9
jam
Absorpsi
Absorpsi relatif buruk tetapi
sangat diperkuat oleh makanan,
terutama lemak.
Distribusi
Memasuki CSS dalam
konsentrasi yang sangat rendah
(kurang dari 1% kadar plasma).
Metabolisme dan Ekskresi
Mengalami daur ulang
enterohepatik. Eliminasinya
terjadi dalam feses.
Menghambat kerja
enzim yang
diperlukan untuk
sintesis asam
nukleat, ATP pada
protozoa.
2 Bisoprolol 9-12 jam Absorpsi
Diabrsopsi dengan baik setelah
pemberian oral. Sebagian (20%)
terhindar dari metabolisme.
Distribusi
Tidak tampak memasuki CSS.
Menghambat
stimulasi reseptor
adrenergik

(miokard)
dengan efek
samping yang lebih
Sisa distribusi tidak diketahui.
Metabolisme dan Eksresi
50% diekskresi dalam bentuk
yang tidak berubah dalam urin;
sisanya sebagian metabolit
inaktif. 2% dieleminasi dalam
feses.

sedikit pada daerah
reseptor


(pulmoner,
vaskuler, uterus).
3 Asebutolol 3-4 jam Absorpsi
Diabsorpsi dengan baik setelah
pemberian oral.
Distribusi
Penetrasi SSP minimal.
Menembus plasenta dan masuk
ke ASI dalam jumlah kecil.
Metabolisme dan Ekskresi
Sebagian besar dimetabolisme
menjadi diasetolol, yang juga
merupakan bloker beta.
Menghambat
stimulasi reseptor
adrenergik


(miokard).
Biasanya tidak
mempengaruhi
daerah reseptor

(pulmoner,
vaskuler, uterus).
4 Propanolol 3,4-6 jam Absorpsi
Diabsorpsi dengan baik setelah
pemberian oral. Absorpsi
terhadap kapsul lepas lambat
bersifat lambat.
Distribusi
Didistribusi secara luas.
Menembus sawar darah otak
dan plasenta. Memasuki ASI.
Metabolisme dan Ekskresi
Hampir selurusnya
dimetabolisme oleh hati.

Menghambat
stimulasi tempat
reseptor

(miokard) dan

(pulmoner,
vaskuler, uterus).
(Judith, 2004)




J. Teratogenetis
Atenolol dapat menembus plasenta, yang dapat membahayakan fetus bila
diberikan ke ibu hamil. Tidak ada studi penggunaan atenolol pada trimester pertama
kehamilan dan kemungkinan bahaya ke fetus tidak diketahui. Terapi atenolol yang
dimulai pada trimester kedua kehamilan telah dikaitkan dengan bayi dengan berat badan
kecil untuk umurnya. Atenolol telah digunakan secara efektif dibawah pengawasan
ketat untuk hipertensi pada trimester ketiga pada sejumlah terbatas ibu hamil dan
ditoleransi dengan baik, dan ternyata tidak ada efek yang tidak diinginkan pada
fetusnya. Walau begitu, penggunaan atenolol dalam jangka waktu yang lebih panjang
dalam penanganan hipertensi yang yang ringan sampai sedang pada ibu hamil telah
dikaitkan dengan retardasi pertumbuhan dalam uterus. Bayi yang dilahirkan oleh ibu
yang menggunakan atenolol saat parturisi/melahirkan mungkin berisiko untuk terjadi
hipoglikemi dan bradikardi. Bila atenolol diberikan selama kehamilan atau bila pasien
hamil selama menerima obat, pasien harus diberitahu tentang bahaya ke fetusnya.
(Anonim, 2012)


















http://www.informasiobat.com/atenolol
Gunawan dan Sulistia. 2011. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: UI Press.