Anda di halaman 1dari 13

HYPOCALSEMIA

AGUS SUSANTO
D16209002
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
0
HYPOCALSEMIA
Pendahuluan
Calsium merupakan mineral yang sangat dibutuhkan dalam fisiologi tubuh ternak
baik pembekuan darah, fungsi rangka, gerak dan syaraf. Konsentrasi calsium dalam darah
rendah disebut hypocalsemia. Keadaan hypocalcaemia disebut juga paresis puerpuralis,
milk fever, calving paralysis, parturient paralysis, parturient apoplexy. Nama tersebut
didasarkan pada gejala yang ditimbulkan dari hypocalsemia, seperti paresis puerpuralis
karena terjadi kelumpuhan pasca melahirkan atau milk fever karena demam saat menyusui.
Biasanya hypocalcemia menyerang sapi pada masa akhir kebuntingan atau pada
masa laktasi. Kasus ini sering dialami sapi yang sudah melahirkan yang ketiga kalinya
sampai yang ketujuh. Tetapi di beberapa daerah ternyata penyakit ini ditemui juga pada
sapisapi dara yang produksi tinggi dan terjadi ditengahtengah masa laktasi.
!ardjopranjoto "#$$%& mengatakan bah'a biasanya kasus ini terjadi pada sapi perah
setelah beranak empat kali atau lebih tua, jarang terjadi pada induk yang lebih muda atau
sebelum beranak yang ketiga. (ubronto ")**#& mengatakan bah'a beberapa kejadian
disertai syndrom paresis yang terjadi dalam beberapa minggu atau beberapa bulan sesudah
melahirkan
!ypocalsemia merupakan penyakit yang strategis, yang bera'al dari tidak
terpenuhinya kebutuhan calsium. Banyak peternak rakyat, khususnya peternak sapi yang
mengalami kerugian dari kasus ini, karena ternak jadi roboh dan tidak produktif lagi.
+ntuk lebih memahami hypocalsemia, maka akan dibahas pada makalah ini yang
bersumber dari beberapa literatur. ,embahasan dari mengenal sifat calsium, pengaturan
calsium dalam darah, interaksi dengan mineral lainnya, gejala hypocalsemia dan
pengobatannya.
Calsu!
Calsium merupakan makromineral yang dibutuhkan oleh manusia dan he'an. Ciri
ciri calsium adalah ber'arna putih keperakan, bersifat basa dan di alam tidak ditemukan
dalam bentuk bebas ",iliang, )**-&. .alam tabel periodik calsium masuk dalam golongan
1
) "alkali tanah&, periode / sehingga jika dalam bentuk ion termasuk golongan kation.
Tubuh mengandung calsium mencapai #)0 dari berat tubuh dengan penyebaran $$0
terdapat pada tulang dan gigi dan #0 tersebar luas dalam jaringan lunak. 1umlah kation
calsium dalam tubuh terbanyak apabila dibandingkan dengan kation lainnya. Calsium
merupakan salah satu makromineral yang dibutuhkan oleh ternak tetapi tidak bisa
disintesis oleh ternak, maka sumbernya hanya dari pakan.
2ungsi calsium adalah sebagai bahan pembentukan tulang dan gigi, berperan dalam
pertumbuhan dan perkembangan, mempertahankan permeabilitas dinding sel, berperan
dalam pembekuan darah dan menjadi mineral yang dibutuhkan dalam proses kontraksi otot
dan rangsangan saraf. 3pabila terjadi gangguan,seperti rendahnya Calsium dalam tubuh
akan memberikan gangguan pada fungsifungsi tersebut.
Analsa Calsu!
+ntuk mengetahui konsentrasi calsium maka perlu dilakukan pengujian terhadap
calsium di dalam darah. .arah dapat diambil le'at vena jugularis. .arah yang diambil
diperiksa terhadap kadar Calsium darah. Calsium dalam serum dapat diukur dengan
metoda sangat sederhana sampai metoda yang mutakhir 4etode pengujian sederhana
dapat digunakan metode titrimetri, yakni menggunakan titrasi permanganometri "metoda
Clark5Collib&. ,ada prinsipnya calsium yang akan diukur konsentrasinya direaksikan
dengan amonium oxsalat sehingga terbentuk calsiumoxalat, senya'a yang terbentuk ini di
titrasi dengan kalium permanganat "Kmn6
/
&. 7olume permanganat yang terpakai dalam
titrasi menunjukan konsetrasi calsium "!arjadi,#$-8&.
,erkembangan analisis unsur, termasuk calsium menggunakan insrumen analisis
yakni 3tomic 3bsorption (pektrofotometer "33(& atau yang biasa disebut
(pektrofotometer (erapan 3tom "((3&. 3nalisa menggunakan 3tomic 3bsorption
spectrofotometer berbasis analisa instrumentasi spektrofotometer, hanya sampel yang
dibaca terlebih dahulu dilakukan proses atomisasi, sehingga sampel atau standar yang
dibaca adalah unsurunsur yang dalam kondisi netral. .engan pancaran gelombang elektro
magnet, maka elektron akan teraktivasi. (etiap unsur sangat spesifik menangkap energi
gelombang elektromagnetik, sifat inilah yang dijadikan prinsip dalam analisa suatu unsur
dalam atomic absorption spektrofotometer "Khopkhar, #$-%&.
2
,engujian kadar Calsium dalam darah yang praktis di lapangan adalah metode
!erdt "#$-#& dimana peralatan yang dibutuhkan yaitu tabung rekasi #) ml dengan kalibrasi
),9,%,: dan #* ml, karutan ;.T3 #,$0, alat suntik tuberkulin dan 'ater bath. Cara
pemeriksaannya yaitu ke dalam semua tabung reaksi dimasukkan ;.T3 sebanyak *.# ml.
.arah sebanyak 9% ml diambil dari vena jugularis dengan cepat dan dimasukkan ke dalam
% tabung sampai pada batas kalibrasi. (etelah ditutup dikocok kuatkuat dimasukkan ke
dalam 'ater bath dengan suhu ##%
*
2 "/8.#
*
C& dan diamati selama #% dan )* menit.
(etelah 'aktu tersebut rak diangkat dan jumlah tabung yang darahnya menggumpal
dihitung.
Pen"a#u$an Calsu!
Ketersediaan Calsium dalam tubuh dipengaruhi oleh system hormone, penyerapan
dalam usus, vitamin .. !ormon parathormon yang dihasilkan oleh kelenjar hormone
parathyroid mampu menarik Calsium dalam simpanan yaitu di tulang dan gigi ke dalam
darah, sehingga kadar Calsium darah meningkat. !ormon calcitonin memberikan pengaruh
menurunkan kadar calsium dalam darah, kondisi ini dilakukan ketika Ca dalam darah
tinggi, sehingga calsium bisa disimpan dalam gigi atau tulang. ,enyerapan calsium dalam
usus banyak terjadi di daerah proksimal usus karena calsium optimal diserap dalam
kondisi asam. .iare dapat menyebabkan gangguan penyerapan calsium. ;fektivitas
penyerapan calsium dipengaruhi pula oleh ketersediaan vitamin ., kekurangan vitamin .
menyebabkan tidak efisiennya penyerapan calsium. <injal berfungsi untuk pencucian
darah, sekaligus membuang =at=at yang tidak berguna. <angguan ginjal yang
menyebabkan pembuangan calsium berlebihan merupakan faktor penyebab randahnya
calsium dalam tubuh.
Kekurangan calsium bisa disebabkan oleh beberapa faktor antara lain> rendahnya
intake, gangguan sistem pencernaan, gangguan sistem hormonal, defisiensi vitamin . dan
sebagainya. 4enghadapi kasus hypocalsemia harus dianalisis secara komprehensif karena
bisa disebabkan tidak hanya faktor in take tetapi oleh faktorfaktor lainnya. Kalsium darah
berlebih akan menimbulkan gejala kejang?tonus pada otot, yang disebut juga calsium rigor
sedangkan penurunan calsium darah menyebabkan kejang yang bersifat spasmodik.
3
Kandun"an Calsu! dala! %a$ah
Calsium di dalam darah dapat berbentuk sebagai calsium yang terikat protein, ion
calsium dan kalsium kompleks "fosfat, bikarbonat dan sitrat&. .alam keadaan normal
kadar Ca dalam darah adalah $#) mgram persen. ,ada keadaan subklinis kadar Ca dalam
darah %: mgram persen dan pada kejadian hypocalsemia kadar ion Ca dalam darah 9%
mgram persen. <irindra "#$--& mengatakan bah'a jumlah Calsium yang terdapat dalam
darah dan cairan ekstra sel hanya kirakira - gram, sedangkan untuk keperluan laktasi
dalam satu hari dibutuhkan 9 x jumlah itu. 1adi kekurangan Calsium jelas merupakan
predisposisi kejadian hypocalcaemia.
In#e$a&s Calsu! den"an Mne$al Lann'a
Kasus hypocalcaemia sering diikuti dengan hypofosfatemia, hypermagnesemia
atau hipomagnesemia dan hiperglicemia. ,enurunan kadar Calsium dan posfor ini adalah
sebagai akibat dari pemakaian mineral terutama Calsium dan posfor secara besarbesaran
untuk sintesa air susu dalam ambing dalam bentuk kolostrum secara tibatiba menjelang
kelahiran. !ypocalcaemia akan diikuti oleh perubahan kadar fosfor dan gula dalam darah.
Kadar fosfor plasma yang rendah diakibatkan oleh penurunan penyerapan fosfor anorganik
dari usus. 4ungkin pula disebabkan oleh meningkatnya sekresi parathormon, hingga
ekskresi fosfor meningkat. ,ada sapi yang baru melahirkan terbukti kadar hormon tersebut
meningkat, sebanding dengan penurunan kadar fosfat di dalam darahnya. Kenaikan
parathormon akan diikuti oleh kenaikan pembongkaran Calsium dalam tulang, yang dalam
hal ini dapat dilihat dari ada tidaknya kenaikan hidroksi prolin di dalam kemih. !idroksi
prolin merupakan hasil pemecahan kalogen.
Kadar magnesium dalam serum darah mempengaruhi gejala yang timbul pada sapi
perah. 1ika kadar magnesium dalam serum normal atau lebih tinggi maka gejala tetani dan
eksitasi akibat hipocalcaemia akan diikuti oleh relaksasi, otot lemah, depresi dan koma.
1ika kadar magnesium rendah dalam serum maka akan terlihat kekejangan selama
beberapa 'aktu. Berkurangnya kadar magnesium dalam plasma darah disebabkan oleh
beberapa faktor antara lain karena pembebasan magnesium bersama air susu yang
besarnya *.# g dan berkurangnya penyerapan magnesium le'at dinding usus. <angguan
terhadap metabolisme karbohidrat juga dapat menyebabkan berkurangnya kadar
4
magnesium dalam plasma darah. Bila kadar magnesium dalam serum he'an yang
menderita hypocacaemia tidak menurun atau lebih tinggi maka gejala eksitasi dan tetani
akan segera diikuti oleh relaksasi. 6tototot kelihatan melemah, depresi dan pada akhirnya
koma. ,erbandingan Ca>4g bisa berubah dari 8># menjadi )># dan dalam perbandingan
ini efek narkase magnesium nyata dapat dilihat.

Hu(un"an H')*+alse!a den"an Kada$ Gula %a$ah
,enurunan kandungan calsium dalam darah dapat menghambat produksi insulin
sehingga pada kasus ini biasanya selalu diikuti kenaikan kadar glukosa darah "<irindra
#$--&. (ubronto ")**#& mengatakan bah'a kenaikan moderat kadar glukosa dalam darah
"hiperglisemia& dijumpai pada sapi yang baru melahirkan dan he'an tidak memperlihatkan
gejala klinis. ,ada sapi yang menderita paresis berat kadar glukosanya dapat mencapai
#8* mg?dl. !al ini disebabkan oleh terhambatnya sekresi insulin oleh karena turunnnya
kadar Calsium darah.
,eningkatan kadar glukosa dalam darah dapat disebabkan oleh meningkatnya
produksi hormon glukagon yang dihasilkan oleh sel 3 dari pankreas dan berfungsi untuk
menaikkan kadar glukosa darah serta meningkatkan pembongkaran glikogen hati.
<lukagon juga mampu merangsang en=im adenil siklase di dalam hati, hingga proses
glikogenolisis ditingkatkan dan menghambat sintesa glikogen dari +.,glukosa "+.,,
uridin difosfat&. Kadangkadang dalm milk fever juga terjadi penurunan kadar potassium.
,enurunan kadar ion K tersebut sebanding dengan lamanya sapi tidak dapat berdiri.
4akin lama berbaring makin besar penurunan ion K. (api yang terlalu lama berbaring
oleh rusaknya selsel otot akan diikuti kenaikan kadar (<6T. ,ada kasus milk fever
kadangkadang kenaikan en=ima tersebut mencapai #*0. Kemungkinan faktor genetis
yang berhubungan dengan produksi susu yang tinggi merupakan penyebab lain dari
penyakit paresis puerpuralis. ,ada sapi perah yang pernah menderita penyakit ini dapat
menurunkan anak yang juga mempunyai bakat menderita paresis puerpuralis.
Pa$ess )ue$)u$als
,aresis puerpuralis biasanya terjadi #-)/ jam post partus. !ypocalsemia ini juga
dapat terjadi pada induk sapi yang mengalami kelahiran yang sukar "dystokia& karena
kurangnya kekuatan untuk mengeluarkan fetus.
5
!ardjopranjoto "#$$%& mengatakan bah'a ada beberapa teori, mengapa sapi perah
yang baru melahirkan dan produksi susu tinggi sering terjadi hipocalcaemia sehingga
mendorong terjadinya kasus paresis puerpuralis.
a. !ormon parathyroid yang kadarnya mengalami penurunan dalam darah
"defisiensi&, karena stres kelahiran dapat mengganggu keseimbangan mineral dalam
darah khususnya Calsium disusul adanya hipokalcaemia dan selanjutnya timbul
kasus paresis puerpuralis. Berkurangnya aktivitas parathormon pada saat kelahiran
disebabkan oleh defisiensi vitamin ..
b. (tres melahirkan menyebabkan hormon tirokalsitonin yang mengatur glukosa usus
dalam menyerap mineral Calsium dari pakan menurun dan mempengaruhi kadar
Calsium dalam darah. Bila hormon tirokalsitonin menurun dapat diikuti
menurunnya kadar Calsium dalam darah. !ormon tirokalsitonin atau kalsitonin
dihasilkan oleh sel ultimobranchial C dari kelenjar tiroid.
c. @aktu proses kelahiran, Calsium dibutuhkan terlalu banyak oleh air susu,
khususnya dalam kolostrum. Kebutuhan ini dapat dicukupi dari ransum pakan
ternak, dari tulang dalam tubuh induk atau dari darah. Aendahnya penyerapan
Calsium dalam ransum pakan atau absorbsi Calsium dalam saluran pencernaan,
dapat disebabkan adanya gangguan pada dinding usus. ,enurunan nafsu makan
pada induk yang sedang bunting mengakibatkan masuknya bahan pakan menurun,
menyebabkan penyediaan Calsium dalam alat pencernaan yang rendah diikuti oleh
penyerapan Calsium juga rendah. .aya menyerap dinding usus terhadap Calsium
dapat menurun pada induk sapi yang sudah tua. ,ada sapi yang masih muda -*0
Calsium dalam usus dapat diserap, makin tua umurnya makin menurun daya serap
usus terhadap Calsium, karena p! usus yang tinggi dan kadar lemak yang tinggi
dalam makanan dapat menghambat penyerapan Calsium. ,ada sapi yang sudah
tua, penyerapan Calsium hanya mencapai #%0 dari Calsium yang ada dalam pakan.
d. ,ersediaan Calsium dalam tulang yang dapat dimobilisasi, bervariasi menurut umur
sapi. ,ada anak sapi, 8)*0 kebutuhan normal akan Calsium dapat disediakan
oleh tulang, sedang pada sapi yang telah tua kemampuan tulang dalam
menyediakan Calsium hanya )%0.
e. 7itamin . berperan dalam menimbulkan kasus paresis puerpuralis. <angguan
terhadap produksi pro vitamin . dalam tubuh dapat mengurangi tersedianya
vitamin . dan dapat mendorong terjadinya penyakit ini, karena vitamin .
6
mengatur keseimbangan Calsium dan posfor dalam tubuh dan proses deposisi atau
mobilisasi Calsium dari tulang yang masih muda. 7itamin . yang aktif di dalam
metabolisme Calsium dan fosfor adalah vitamin .
9
")%!ydroxycholecalciferol&.
f. !ormon estrogen dan steroid yang lain baik yang dihasilkan oleh plasenta maupun
kelenjar adrenal bagian korteks dapat menurunkan penyerapan Calsium dari usus
atau mobilisasi Calsium dari tulang muda. ,ada sapi bunting aktifitas estrogen
plasma meningkat sampai satu bulan sebelum melahirkan. ,eningkatan
berlangsung dengan cepat satu minggu sebelum melahirkan untuk kemudian
menurun tajam )/ jam sebelum melahirkan.
Ge,ala H')*+alse!a
,ada a'al hypocalsemia he'an mulamula terlihat gelisah, ketakutan dan nafsu
makan menghilang. Kemudian terlihat gangguan pengeluaran air kemih dan tinja.
Kadangkadang terlihat tremor dan hipersensitivitas urat daging di kaki belakang dan
kepala "<irindra #$--&. !ardjopranjoto "#$$%& mengatakan gejala pertama yang terlihat
pada penderita adalah induk sapi mengalami sempoyongan 'aktu berjalan atau berdiri dan
tidak adanya koordinasi gerakan dan jatuh. Biasanya he'an itu selalu berusaha untuk
berdiri.
Bila pada stadium ini induk sapi dapat diadakan pengobatan gejala paresis tidak
akan muncul. Bila pengobatan belum dilakukan gejala berikutnya adalah induk sapi
penderita berbaring dengan pada sebelah sisinya atau pada tulang dada "sternal
recumbency) dan diikuti dengan mengistirahatkan kepalanya dijulurkan ke arah atas kedua
kaki depan atau kepala diletakkan disebelah sisi dari tubuh diatas bahu?scapula "kurva (&
namun ada juga yang tidak disertai kurva (. 4atanya mejadi membelalak dan pupilnya
berdilatasi, kelihatan anoreksi, moncongnya kering dan suram, he'an tidak peka terhadap
sakit dan suara, suhu rektal umumnya sub normal 'alaupun terkadang masih dalam batas
normal, rumen dan usus mengalami atoni, anggota badan dingin, denyut jantung
meningkat, defekasi terhambat dan anus relaksasi.
Bila pengobatan ditunda beberapa jam kemudian induk berubah menjadi tidak
sadarkan diri dan kalau tidak ada pertolongan he'an bertambah depresi urat daging
melemah dan berbaring dengan posisi lateral "tahap komstose&. !e'an tidak dapat bangun
lagi dan akibat gangguan berbaring terus terjadi timpani. .enyut jantung meningkat
7
"sampai lebih dari #)* kali&, pupil mata berdilatasi, kepekaan terhadap cahaya menghilang
dan akhirnya beberapa jam terjadi kematian.
(ubronto ")**#& mengatakan bah'a gambaran klinis milk fever yang dapat diamati
tergantung pada tingkat dan kecepatan penurunan kadar Calsium di dalam darah. .ikenal
9 stadia hypocalsemia yaitu stadium prodromal, berbaring "rekumbent& dan stadium koma.
#. (tadium # "stadium prodromal&. ,enderita jadi gelisah dengan ekspresi
muka yang tampak beringas. Nafsu makan dan pengeluaran kemih serta tinta
terhenti. 4eskipun ada usaha untuk berak akan tetapi usaha tersebut tidak berhasil.
(api mudah mengalami rangsangan dari luar dan bersifat hipersensitif. 6tot kepala
maupun kaki tampak gemetar. @aktu berdiri penderita tampak kaku, tonus otot
alatalat gerak meningkat dan bila bergerak terlihat inkoordinasi. ,enderita
melangkah dengan berat, hingga terlihat hatihati dan bila dipaksa akan jatuh, bila
jatuh usaha bangun dilakukan dengan susah payah dan mungkin tidak akan
berhasil.
). (tadium ) "stadium berbaring?recumbent&. (api sudah tidak mampu berdiri,
berbaring pada sternum dengan kepala mengarah ke belakang hingga dari belakang
seperti huruf (. Karena dehidrasi kulit tampak kering, nampak lesu, pupil mata
normal atau membesar dan tanggapan terhadap rangsangan sinar jadi lambat atau
hilang sama sekali. Tanggapan terhadap rangsangan rasa sakit juga berkurang, otot
jadi kendor, spincter ani mengalami relaksasi, sedang reflek anal jadi hilang dengan
rektum yang berisi tinja kering atau setengah kering. ,ada stadium ini penderita
masih mau makan dan proses ruminasi meskipun berkurang intensitasnya masih
dapat terlihat. ,ada tingkat selanjutnya proses ruminasi hilang dan nafsu makan
pun hilang dan penderita makin bertambah lesu.
9. (tadium 9 "stadium koma&. ,enderita tampak sangat lemah, tidak mampu
bangun dan berbaring pada salah satu sisinya "lateral recumbency&. Kelemahan
otototot rumen akan segera diikuti dengan kembung rumen. <angguan sirkulasi
sangat mencolok, denyut jantung jadi lemah "#)* x?menit&, dan suhu tubuh turun
di ba'ah normal. ,upil melebar dan refleks terhadap sinar telah hilang. (tadium
koma kebanyakan diakhiri dengan kematian, meskipun pengobatan konvensional
telah dilakukan.
8
Pen'a&# 'an" T!(ul A&(a# H')*+alse!a
Beberapa penyakit komplikasi dapat timbul mengikuti kejadian hypocalcaemia,
karena kondisi penderita yang terus berbaring diantaranya >
#. .ekubites, kulit lecetlecet. Buka ini disebabkan karena infeksi yang berasal dari
lantai, dapat menyebabkan dekubites.
). ,erut menjadi gembung atau timpani, karena lantai yang selalu dingin mendorong
terjadinya penimbunan gas dalam perut pada penderita yang selalu berbaring.
9. ,neumonia. Kerena terjadi regurgitasi pada 'aktu memamah biak disertai adanya
paralisa dari laring dan faring. (e'aktu menelan makanan, sebagian makanan
masuk ke dalam paruparu dan dapat diikuti oleh pneumonia pada penderita.
Becetlecet yang terjadi di kulit sebagai akibat adanya infeksi yang berasal dari
lantai karena he'an lama berbaring "dekubitus& dan terjadinya pneumonia karena makanan
menumpuk di dalam rumen sebgai akibat tidak adanya tonus dalam dalam rumen dan
gerakan peristaltik usus peristaltik. Kejadian pneumonia ini juga sebagai akibat sapi
terlalu lama berbaring di lantai sehingga banyak terjadi penimbunan gas, jika kondisi
berlangsung lama akan menyebabkan paralisa laring dan faring sehingga sapi akan
mengalami kesusahan pada 'aktu regurgitasi pada 'aktu memamahbiak akibatnya
sebagian makanan akan masuk ke dalam paruparu.
Pen"*(a#an H')*+alse!a
,engobatan yang dapat diberikan adalah> Calci T3.
C
%* "9.#* g Caglukonas, /.)$
g Ca boroglukonas, #.9) g Ca!ydroxie, 8.% g 4gCl8!
)
6, *.8 g ) aminoethyl dyhidrogen
phospatase, *.# g methyl /hydrogen =inx& dosis #%* cc (C, !ematophan
C
"Tiap ml
mengandung natrium kakodilat 9* mg, besi "DDD& ammonium sitrat )* mg, metionin #* mg,
histidin % mg, triptopan ).% md dan vitamin B
#)
#* mcg& )* cc D4 dan Novaldon
C
"4ethamphiron )%* mg, ,yramidon %* mg, lidocaine #% mg& )% cc Dntra muskuler.
9
,encegahan terhadap kejadian milk fever sangat dipengaruhi oleh jumlah Calsium
yang dapat diserap dan bukan pada unsur fosfor atau imbangan Ca>,. ,emberian Calsium
hendaknya sekedar untuk memelihara fungsi faali ").% g?#** lb&. Eang ideal jumlah Ca
dalam pakan sehari adalah )* gram saja. Banyak sapi yang mengalami milk fever oleh
pemberian Calsium yang tinggi, tidak terganggu oleh pembatasan pemberian unsur
tersebut. .i daerah yang cukup kandungan Calsiumnya dalam pakan seharihari
pemberian mineral blok yang mengandung Calsiumfosfat tidak dianjurkan untuk sapi
yang bunting sarat. (etelah melahirkan pemberian garam Calsium harus ditingkatkan.
,emberian vitamin .
)
)*9* juta D+?hari 9- hari pre partus mampu menurunkan kejadian
milk fever. 7itamin .
9
sebanyak #* juta D+ yang disuntikkan intravena sekali saja )- hari
sebelum malahirkan dapt pula menurunkan kejadian milk fever tanpa diikuti deposisi
Calsium dialatalat tubuh.
Kes!)ulan
#. Calsium merupakan mineral yang penting karena dibutuhkan dalam pembentukan tulang
dan gigi, fungsi otot, syaraf dan pertumbuhan.
). 4ineral calsium memiliki interaksi dengan mineral pospor dan magnesium di dalam
tubuh dan mempengaruhi produksi insulin.
9. Kandungan calsium yang rendah "hypocalsemia& dapat menimbulkan kelemahan syaraf
"paresis&, dan ternak akan roboh.
9. Kejadian hypocalsemia sering ditemukan pada sapi yang baru melahirkan atau sedang
menyusui terutama pada produksi susu yang tinggi.
/. ,ertolongan hypocalsemia harus dilakukan secepatnya karena pengobatan yang
terlambat ternak akan semakin lemah dan mati.
10
%A-TAR PUSTAKA
<irindra, 3. #$--. Biokimia Patologi Hewan. ,3+D,B. Bogor.
!arjadi. #$-8. Ilmu Kimia Analitik Dasar..1akarta> <ramedia.
11
!arjopranjoto, (. #$$%. Ilmu Kemajiran Pada Ternak. (urabaya> 3irlangga +niversity
,ress. (urabaya.
Khopkhar. #$-%. Konsep Dasar Kimia Analitik. 1akarta> +D ,ress.
,iliang. )**-. utrisi !ineral. Bogor> D,B ,ress.
(ubronto. )**#. Ilmu Penyakit Ternak II. <adjah 4ada +niversity ,ress. Eogyakarta.

12