Anda di halaman 1dari 3

Analisis Dampak

Industri kelapa sawit merupakan industri yang sarat dengan residu hasil
pengolahan. Limbah yang dihasilkan dari industri pengolahan kelapa sawit dapat
berupa limbah cair dan limbah padat. Limbah cair yang dihasilkan berupa Palm Oil
Mill Effluent (POME) air buangan kondensat (8-12%) dan air hasil pengolahan (13-
23%). Limbah cair yang dihasilkan oleh industri kelapa sawit memiliki dampak
terhadap lingkungan, sosial, dan budaya. Berikut penjelasan mengenai dampak-
dampak yang disebabkan oleh industri kelapa sawit :
A. Dampak lingkungan
Menurut Djajadiningrat dan Femiola (2004) dari 1 ton tandan buah segar
(TBS) kelapa sawit dapat dihasilkan 600-700 kg limbah cair. Bahkan saat ini
limbah cair hasil pengolahan kelapa sawit di Indonesia mencapai 28,7 juta ton
limbah / tahun. Limbah cair dari proses pengolahan kelapa sawit dapat
mencemari perairan karena kandungan zat organiknya tinggi dan tingkat
keasaman yang rendah, sehingga perlu penanganan sebelum dibuang ke
badan sungai (Azwir, 2006). Limbah cair PKS umumnya bersuhu tinggi,
berwarna kecoklatan, mengandung padatan terlarut dan tersuspensi berupa koloid
dan residu minyak dengan kandungan biological oxygen demand (BOD) yang
tinggi. Bila larutan tersebut langsung dibuang ke perairan sangat berpotensi
mencemari lingkungan, sehingga harus dioleh terlebih dahulu sebelum dibuang.
Limbah cair dari proses industri kelapa sawit yang memiliki kebutuhan oksigen
kimia (COD), amoniak, nitrat, padatan tersuspensi (TSS), lemak/minyak
dengan konsentrasi tinggi dan belum memenuhi standar baku mutu kualitas
air yang ditentukan oleh pemerintah akan menimbulkan masalah karena
mengandung racun yang berbahaya dan lama-kelamaan dapat berpotensi
mencemari lingkungan sekitar jika langsung dibuang ke perairan. Bila limbah
ini dibuang ke sungai, maka sebagian akan mengendap dan terurai secara
perlahan. Proses ini akan banyak mengkonsumsi oksigen terlarut, serta
mengeluarkan bau yang tajam, akibat adanya dekomposisi bahan organik secara
anaerobik oleh bakteri, sehingga dapat merusak daerah pembiakan ikan,
mematikan biota air di sepanjang alirannya. Limbah ini akan mengapung seperti
halnya minyak, sehingga masuknya oksigen akan terhalang (aerasi), yang
selanjutnya akan dapat mempengaruhi kehidupan biota di dalam air, terutama
yang sangat membutuhkan oksigen. Akibatnya terjadilah perubahan kondisi dari
suasana aerob menjadi anaerob di dalam perairan tersebut. Limbah cair pabrik
minyak kelapa sawit bersifat asam dengan pH berkisar 3,5 5. Hal ini berarti,
limbah cair pabrik minyak kelapa sawit mengandung ion hidrogen yang tinggi
dan apabila tidak dilakukan pengolahan lebih lanjut atau langsung dibuang, akan
dapat menyebabkan korosi pada pipa atau saluran pembuangan tersebut.
B. Dampak Sosial
Selain dampak-dampaik yang sudah dijelaskan tadi, limbah cair kelapa
sawit juga dapat menyebabkan timbulnya bau yang tidak sedap serta dapat
meningkatkan populasi nyamuk. Bau yang tidak sedap ini dapat merugikan
masyarakat karena bau yang ditimbuilkan oleh limbah cair kelapa sawit dapat
menyebabkan pernapasan menjadi terganggu. Adanya bau yang tidak sedap dari
limbah cair kelapa sawit yang tidak diolah dapat menyebabkan timbulnya protes
dari masyarakat sekitar pabrik kelapa sawit.
C. Dampak Ekonomi
Adanya limbah cair kelapa sawit dapat menyebabkan terjadinya
pencemaran air di daerah sekitar pabrik. Pencemaran ini menyebabkan
masyarakat sekitar pabrik sulit untuk mendapatkan air bersih untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, masyarakat harus membeli air bersih
yang harganya cukup mahal dan sulit untuk didapatkan di sekitar tempat tinggal
mereka.
Dapus :
Azwir. 2006. Analisa Pencemaran Air Sungai Tapung Kiri oleh Limbah Industri
Kelapa Sawit PT. Peputra Masterindo di Kabupaten Kampar, Program Magister
Ilmu Lingkungan Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro. Semarang.
Djajadiningrat, Surna T dan Famiola, Melia. 2004. Kawasan Industri Berwawasan
Lingkungan. Bandung; Penerbit Rekayasa Sains.