Anda di halaman 1dari 7

A.

Latar Belakang
Sindrom menopause banyak dialami perempuan hampir di seluruh dunia, sekitar
70-80% perempuan Eropa, 60% di Amerika Serikat, 57% di Malaysia, 18% di Cina, dan
10% di Jepang dan Indonesia. Perbedaan jumlah tersebut dibedakan karena pola makan.
Perempuan Eropa dan Amerika mempunyai hormone estrogen yang lebih banyak
daripada wanita Asia, sehingga saat terjadi menopause estrogen menurun drastic,
sehingga menyebabkan tinginya sindrom menopause (Sri Kumalaningsih, 2008).
Menurut World Health Organization (WHO,1996), setiap tahunnya sekitar 25
juta wanita di seluruh dunia diperkirakan mengalami menopause. WHO memperkirakan
jumlah wanita usia 50 tahun ke atas diperkirakan akan meningkat dari 500 juta pada saat
ini menjadi lebih dari 1 milyar pada tahun 2030. Di Asia, masih menurut data WHO,
pada tahun 2025 jumlah wanita yang menopause akan melonjak dari 107 juta jiwa akan
menjadi 373 juta jiwa (Yuniwati, 2011).
Dalam data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2009 terdapat 5.320.000 wanita
Indonesia telah memasuki masa menopause per tahunnya, 68% menderita klimakterik
dan hanya 32% dari penderita yang menghiraukan gajala tersebut. Sedangkan data
Departemen Kesehatan (Depkes) perempuan Indonesia yang memasuki menopause saat
ini sebanyak 7,4 % dari populasi. Jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi 11 %
pada tahun 2005 dan akan naik lagi sebesar 14 % atau sekitar 30 juta orang pada tahun
2015. Dan menurut data dari BPS tahun 2010, usia harapan hidup perempuan Indonesia
adalah 71,74 tahun.(Anonim, 2012).
Jumlah dan proporsi penduduk perempuan yang berusia diatas 50 tahun dan
diperkirakan memasuki usia menopause dari tahun ke tahun juga mengalami
peningkatan yang sangat signifikan. Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2000 jumlah
perempuan berusia diatas 50 tahun baru mencapai 15,5 juta orang atau 7,6% dari total
penduduk, sedangkan tahun 2020 jumlahnya diperkirakan meningkat menjadi 30,0 juta
atau 11,5% dari total penduduk. (Anonim, 2012)
Menurut hasil penelitian Departemen Obsetri dan Ginekologi di Indonesia,
keluhan masalah kesehatan yang dihadapi oleh perempuan menopause terkait dengan
rendahnya kadar esetrogen atau di dalam sirkulasi darah, sehingga muncul keluhan
nyeri senggama (93,3%), keluhan pendarahan pasca senggama (84,44%), vagina kering
(93,33%), dan keputihan (75,55%), keluhan gatal pada vagina (88,88%), perasaan panas
pada vagina (84,44%), nyeri berkemih (77,777%), inkontenesia (68,88%).
(Anonim,2009)
Kurt Iwin yang mengatakan bahwa pendidikan formal yang diterima seseorang
akan mempengaruhi pengetahuan dan kemampuan seseorang untuk memahami, juga
mempengaruhi sikap dan tindakan seseorang dalam melaksanakan suatu kegiatan.
(Notoatmodjo, 2003)
Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra
manusia yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian
besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. (Notoatmodjo, 2003).
Banyak wanita yang tidak menyadari dirinya menopause karena tidak
mempunyai informasi yang cukup soal menopause. Akhirnya untuk menghilangkan
gangguan yang dirasakan, mereka mengobatinya secara simptomatis. Artinya mereka
minum obat pusing karena merasa pusing. Minum obat reumatik atau obat pegal karena
seluruh badan terasa pegal dan minum obat tidur karena sulit tidur. Padahal, segala
keluhan itu muncul karena tubuh sudah tidak memproduksi hormon estrogen lagi. Tidak
semua wanita tahu resiko dan cara sehat untuk menghadapi datangnya menopause
tersebut. Seandainya mereka tahu dan menyiapkan diri, masa menopause bukan lagi
sesuatu yang harus ditakuti (Ubaya, 2007).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahma Yuni Efendi (2013) yang dilakukan
di puskesmas guguak panjang bukit tinggi bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan
seseorang maka kemungkinan untuk memperbaiki kesehatan diri dan menerima
informasi tentang menopause secara umum akan lebih mudah, sebab faktor pengetahuan
merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya prilaku seseorang dalam
menghadapi dan menangani masalah.
Rahma Yuni Efendi (2013) menambahkan bahwa keluhan yang dirasakan
seseorang dipengaruhi bagaimana cara ibu itu dalam mengetahui apa saja keluhan yang
akan dirasakan selama menopause agar dapat dicegah sedini mungkin agar ibu itu tidak
merasakan keluhan yang berat, dan ibu itu juga dapat menganggap bahwa keluhan yang
dirasakan merupakan keluhan yang wajar terjadi pada setiap wanita di usia lanjut. Hal
ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Notoatmodjo tahun 2003 bahwa
secara operasional pendidikan kesehatan merupakan semua kejadian yang memberikan
dan atau meningkatkan pengaruh sikap dan praktek masyarakat dalam memelihara dan
meningkatkan kesehatan mereka sendiri.
Sedangkan menurut L.W. Green (Notoatmodjo:2002) bahwa salah satu faktor
predisposisi yang mempengaruhi perilaku kesehatan adalah aspek pengetahuan, dimana
pengetahuan baik akan menghasilkan pelaksanaan yang baik pula. Dengan pendidikan
maka seseorang akan cenderung mendapatkan informasi baik dari orang lain maupun
media massa yang akan memajukan tingkat pengetahuan pribadi. Otomatis seseorang
yang memiliki pengetahuan yang tinggi akan mudah menerima dan memahami apa
yang terjadi pada daur kehidupannya sehingga dapat mengatasi masalah keluhan
menopause.
Setiap individu memiliki kualitas hidup yang berbeda tergantung dari masing-
masing individu dalam menyikapi permasalahan yang terjadi dalam dirinya. Jika
menghadapi dengan positif maka akan baik pula kualitas hidupnya, tetapi lain halnya
jika menghadapi dengan negatif maka akan buruk pula kualitas hidupnya. Kreitler &
Ben (2004) dalam Nofitri (2009) kualitas hidup diartikan sebagai persepsi individu
mengenai keberfungsian mereka di dalam bidang kehidupan. Lebih spesifiknya adalah
penilaian individu terhadap posisi mereka di dalam kehidupan, dalam konteks budaya
dan system nilai dimana mereka hidup dalam kaitannya dengan tujuan individu,
harapan, standar serta apa yang menjadi perhatian individu (Nofitri, 2009).
Moons, dkk (2004) dan Baxter (1998) dalam (Nofitri, 2009) mengatakan bahwa
tingkat pendidikan adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kualitas hidup
subjektif. Penelitian yang dilakukan oleh Wahl, dkk (2004) dalam (Nofitri, 2009)
menemukan bahwa kualitas hidup akan meningkat seiring dengan lebih tingginya
tingkat pendidikan yang didapatkan oleh individu. Penelitian yang dilakukan oleh
Noghani, dkk (2007) dalam (Nofitri, 2009) menemukan adanya pengaruh positif dari
pendidikan terhadap kualitas hidup subjektif namun tidak banyak.
Berdasarkan penjelasan diatas bahwa kualitas hidup adalah pandangan yang
berasal dari diri individu dan pendidikan yang merupakan proses memperoleh
pengetahuan dapat mempengaruhi kualitas hidup, maka penulis tertarik ingin
melakukan penelitian tentang Hubungan tingkat pengetahuan tentang menopause
dengan kualitas hidup wanita menopause di puskesmas Bambaea Kabupaten Bombana.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah pada penelitian ini
yaitu Bagaimanakah hubungan pengetahuan tentang menopause dengan kualitas hidup
wanita menopause di puskesmas Bambaea Kabupaten Bombana.
C. Tujuan penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan pengetahuan tentang menopause dengan dengan kualitas
hidup wanita menopause di Puskesmas Bambaea Kabupaten Bombana.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui tingkat pengetahuan wanita menopause di Puskesmas Bambaea
Kabupaten Bombana.
b. Mengetahui kualitas hidup wanita menopause di Puskesmas Bambaea
Kabupaten Bombana.
c. Menganalisis hubungan pengetahuan tentang menopause dengan dengan
kualitas hidup wanita menopause di Puskesmas Bambaea Kabupaten
Bombana.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan
tentang hubungan pengetahuan tentang menopause dengan kualitas hidup wanita
menopause.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat kepada berbagai
pihak. Adapun manfaat yang dapat diberikan adalah sebagai berikut :
a. Untuk wanita menopause, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan bacaan
untuk lebih mengetahui tentang menopause supaya masa menopause dapat
dilalui dengan baik sehingga kualitas hidupnya menjadi lebih baik pula.
b. Untuk Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo, dapat menambah
referensi dan pengetahuan tentang menopause dengan kualitas hidup.
c. Untuk puskesmas Bambaea Kabupaten Bombana, dapat menjadi bahan
masukan untuk lebih meningkatkan pelayanan kesehatan pada wanita
menopause di wilayah kerja puskesmas tersebut.
d. Untuk peneliti selanjutnya, dapat dijadikan sebagai referensi dengan tema
penelitian yang terkait.