Anda di halaman 1dari 11

Kajian umum tentang pengetahuan

1. Pengertian pengetahuan
Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu
knowledge. Dalam Encyclopedia of phisolophy dijelaskan bahwa definisi pengetahuan
adalah kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). Sedangkan secara
terminologi akan ditemukan beberapa definisi tentang pengetahuan. Menurut Drs. Sidi
Gazalba, pengetahuan adalah semua milik atau isi fikiran. Dengan demikian
pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu (Bakhtiar, 2012).
Menurut Notoatmodjo (2011), pengetahuan adalah hasil tahu, dan ini terjadi
setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindaraan
terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indara penglihatan, pendengaran, penciuman,
rasa dan raba. sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan
telinga.Sedangkan menurut Mubarak (2012), pengetahuan adalah kesan di dalam
pikiran manusia sebagai hasil penggunaan pancaindranya. Pengetahuan sangat berbeda
dengan kepercayaan (beliefs), takhayul (superstiton),dan penerangan-penerangan yang
keliru (misinformation).Pengetahuan adalah segala apa yang diketahui berdasarkan
pengalaman yang didapatkan oleh setiap manusia.
2. Jenis Pengetahuan
Menurut Burhanuddin (Bakhtiar, 2012), mengemukakan bahwa pengetahuan yang
dimiliki manusia ada empat, yaitu:
a. Pengetahuan biasa
Pengetahuan biasa adalah pengetahuan adalam filsafat dikatakan dengan istilah
common sense, dan sering diartikan dengan good sense, karena seseorang memiliki
sesuatu dimana ia menerima secara baik. Cammon sense diperoleh dari pengalaman
sehari-hari, seperti air dapat dipakai untuk menyiram bunga, makanan dapat memuaskan
rasa lapar, dan sebagainya.
b. Pengetahuan ilmu
Pengetahuan ilmu adalah ilmu sebagai terjemahan dari science. Dalam
pengetian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengethuan alam,
yang sifatnya kuantitatif dan objektif. Ilmu dapat merupakan suatu metode berfikir
secara objektif (objektif thinking), tujuannya untuk menggambarkan dan member
makna terhadap dunia factual. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu, diperoleh
melalui observasi, eksperimen, dan klasifikasi.
c. Pengetahuan filsafat
Pengetahuan filsafat adalah pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang
bersifat kontemplatif dan spekulatif. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada
universalitas dan dalam kedalaman kajian tentang seseuatu.
d. Pengetahuan agama
Pengetahuan agama adalah pengetahuan yang hanya diperoleh dari tuhan lewat
para utusan-Nya. Pengetahuan agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para
pemeluk agama.
3. Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoadmodjo (2011), pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif
mempunyai enam tingkat, yaitu:
a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini dalah mengingat kembali (recall) terhadap
suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau ransangan yang telah
diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
b. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasi materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan
aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam
konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat menggunkan rumus statistic dalam
perhitungan-perhitungan hasil penelitian,dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus
pemecahan masalah (problem solving cycle) dalam pemecahan masalah kesehatan dari
kasus yang diberikan.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi atau suatu
objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam struktur organisasi tersebut,
dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari
penggunaan kata-kata kerja, misalnya menggambarkan, membedakan, memisahkan,
mengelompokkan, dan sebagainya.
e. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata
laian sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-
formulasi yang ada. Misalnya: dapat menyusun, merencanakan, meringkaskan,
menyesuaikan, dan sebagainya, terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah
ada.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakuan penilaian terhadap suatu
materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu criteria yang ditentukan
sendiri, atau menggunakan criteria-kriteria yang telah ada. Misalnya: dapat
membandingkan antara anak-anak yang cukup gizi dengan anak yang kekurangan gizi,
dapat menangkap wabah diare di suatu tempat, dan sebagainya.
4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Mubarak (2012), terdapat tujuh faktor yang mempengaruhi pengetahuan
seseorang, yaitu :
a. Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang kepada orang lain agar
dapat memahami sesuatu hal. Tidak dapat dipungkiri bahwa semakin tinggi pendidikan
seseorang, semakin mudah pula mereka menerima informasi, dan pada akhirnya
pengetahuan yang dimilikinya akan semakin banyak. Sebalikanya, jika seseorang
memiliki tingkat pendidikan yang rendah, maka akan menghambat perkembangan sikap
orang tersebut terhadap penerimaan informasi dan nilai-nilai
yang baru diperkenalkan.
b. Pekerjaan
Lingkungan pekerjaan dapat membuat seseorang memperoleh pengalaman dan
pengetahuan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
c. Umur
Dengan bertambahnya umur seseorang akan mengalami perubahan aspek fisik
dan psikologis (mental). Secara garis besar, pertumbuhan fisik terdiri atas empat
kategori perubahan yaitu perubahan ukuran, perubahan proporsi, hilangnya ciri-ciri
lama dan timbulnya ciri-ciri baru. Perubahan ini terjadi karna pematangan fungsi organ.
Pada aspek psikologis atau mental, taraf berpikir seseorang semakin matang dan
dewasa.
d. Minat
Minat sebagai suatu kecendrungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu.
Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan menekuni suatu hal, sehingga
seseorang memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam.
e. Pengalaman
Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernah dialami seseorang dalam
berinteraksi dengan lingkungan. Orang cenderung berusaha melupakan pengalaman
yang kurang baik. Sebaliknya, jika pengalaman tersebut menyenangkan, maka secara
psikologis mampu menimbulkan kesan yang sangat mendalam dan membekas dalam
emosi kejiwaan seseorang. Pengalaman baik ini akhirnya dapat membentuk sikap positif
dalam kehidupannya.
f. Kebudayaan Lingkungan Sekitar
Lingkungan sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap pribadi atau sikap
seseorang. Kebudayaan lingkungan tempat kita hidup dan dibesarkan mempunyai
pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita. Apabila dalam suatu wilayah
mempunyai sikap menjaga kebersihan lingkungan, maka sangat mungkin masyarakat
sekitarnya mempunyai sikap selalu menjaga kebersihan lingkungan.
g. Informasi
Kemudahan untuk memperoleh suatu informasi dapat mempercepat seseorang
mempunyai pengetahuan yang baru.
5. Sember Pengetahuan
Pengetahuan yang ada pada kita diperoleh dengan menggunakan berbagai alat
yang merupakan sumber pengetahuan tersebut. Dalam hal ini ada beberapa pendapat
tentang sumber pengetahuan antara lain :
a. Empirisme
Kata ini berasal dari kata yunani empeirikos, artinya pengalaman. Menurut aliran
ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Pengalaman yang
dimaksud adalah pengalaman duniawi.
b. Rasionalisma
Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan.
pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia memperoleh
pengetahuan melalui kegiatan menangkap objek.
c. Intuisi
Menurut Henry Bergson intuisi adalah hasil dari evolusi pemahaman yang
tertinggi. Kemampuan ini mirip dengan insting. Tetapi berbeda dengan kesadaran dan
kebebasannya. Pengembangan kemampuan ini (intuisi) memerlukan suatu usaha. Ia
juga mengatakan bahwa intuisi adalah suatu pengetahuan yang langsung, yang mutlak
dan bukan pengetahuan yang nisbi.
d. Wahyu
Wahyu adalah pengetahuan yang disampaikan oleh Allah kepada manusia lewat
perantaraan para nabi. Para nabi memperoleh pengetahuan dari Tuhan tanpa upaya,
tanpa bersusah payah, tanpa memerlukan waktu untuk memperolehnya. Pengetahuan
mereka terjadi atas kehendak Tuhan semesta. Tuhan mensucikan jiwa mereka dan
diterangkan-Nya pula jiwa mereka untuk memperoleh kebenaran
dengan jalan wahyu (Bakhtiar, 2012).
6. Cara Memperoleh Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2010) ada berbagai macam cara yang telah digunakan
untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah, dapat dikelompokkan
menjadi dua, yaitu :
a. Cara Tradisional
Cara kuno atau tradisional ini dipakai orang untuk memperoleh kebenaran pengetahuan,
sebelum ditemukannya metode Ilmiah yaitu:
1. Cara Coba Salah (Trial and error)
Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan berbagai kemungkinan
dalam memecahkan masalah, dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil , dicoba
kemungkinan yang lain. Metode ini telah digunakan orang dalam waktu yang cukup
lama untuk memecahkan barbagai masalah. Bahkan sampai sekarang metode ini masih
digunakan, terutama mereka yang belum atau tidak mengetahui suatu cara tertentu yang
tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
2. Cara Kebetulan
Penemuan kebenaran secara kebetulan terjadi karena tidak disengaja oleh orang
yang bersangkutan.
3. Cara Kekuasaan atau Otoritas
Pengetahuan diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan, baik tradisi,
otoritas pemerintah, otoritas pemimpin agama, maupun ahli ilmu pengetahuan.
4. Berdasarkan Pengalaman Pribadi
Cara ini diperoleh dengan mengulang kembali pengalaman yang diperoleh
dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu.
5. Cara Akal Sehat
Akal sehat atau common sense kadang-kadang dapat menemukan teori atau
kebenaran. Sebelum ilmu pendidikan ini berkembang, para orang tua zaman dahulu agar
anaknya mau menuruti nasihat orang tuanya, atau agar anak disiplin menggunakan cara
hukuman fisik bila anaknya berbuat salah, misalnya dijewer tellinganya atau dicubit.
Sampai sekarang metode ini masih berkembang menjadi teori atau kebenaran, bahwa
hukuman merupakan metode bagi pendidikan anak. Pemberian hadiah atau hukuman
merupakan masalah yang masih dianut oleh banyak orang untuk mendisiplinkan anak
dalam konteks pendidikan.
6. Kebenaran Melalui Wahyu
Ajaran dan dogma agama adalah suatu kebenaran yang diwahyukan dari Tuhan
melalui para Nabi. Kebenaran ini harus diterima dan diyakini oleh pengikut-pengikut
agama yang bersangkutan, terlepas dari apakah kebenaran tersebut rasional atau tidak.
Sebab kebenaran ini diterima oleh para Nabi adalah sebagai wahyu dan bukan karena
hasil usaha penalaran atau penyelidikan manusia.
7. Kebenaran Secara Intuitif
Kebenaran secara intuitif diperoleh manusia secara cepat sekali melalui proses
di luar kesadaran dan tanpa melalui proses penalaran atau berfikir. Kebenaran yang
diperoleh melalui intuitif sukar dipercaya karena kebenaran ini tidak menggunakan
cara-cara yang rasional dan yang sistematis. Kebenaran ini dipetoleh seseorang hanya
berdasarkan intuisi atau suara hati atau bisikan hati saja.
8. Melalui Jalan Pikiran
Sejarah dengan perkembangan kebudayaan umat manusia, cara berfikir manusia
pun ikut berkembang. Dari sini manusia telah mampu menggunakan penlarannya dalam
memperoleh pengetahuannya.
9. Induksi dan Deduksi
Induksi adalah proses penarikan kesimpulan yang dimulai dari pertanyaan-
pertanyaan khusus ke pertanyaan bersifat umum. Hal ini berarti dalam berfikir induksi
pembuatan kesimpulan tersebut berdasarkan pengalaman-pengalaman empiris yang
ditangkap oleh indra. Kemudian disimpulkan ke dalam suatu konsep yang
memungkinkan seseorang untuk memahami suatu gejala. Deduksi adalah pembuatan
kesimpulan dari pertanyaan-pertanyaan umum ke khusus.
b. Cara Modern
Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan lebih sistematis, logis,
dan ilmiah. Cara ini disebut dengan metode penelitian ilmiah atau lebih popular
disebut metodologi penelitian (research methodology). Yang mengembangkan metode
berfikir induktif dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap gejala alam atau
kemasyarakatan. Kemungkinan hasil pengamatan hasil pengamatan tersebut
dikumpulkan dan diklasifikasikan, dan akhirnya diambil kesimpulan umum.
7. Hakikat Pengetahuan
Menurut Bakhtiar (2012) ada dua teori untuk mengetahui hakikat pengetahuan, yaitu
a. Realisme
Teori ini mempunyai pandangan realistis terhadap alam. Pengetahuan menurut
realisme adalah gambaran atau kopi yang sebenarnya dari apa yang ada dalam alam
nyata (dari fakta atau hakikat). Pengatahuan atau gambaran yang ada dalam akal atau
kopi dari hasil yang ada diluar akal. Hal ini tidak ubahnya seperti gambaran yang
terdapat dalam foto. Dengan demikian, realism berpendapat bahwa pengetahuan adalah
benar adan tepat bila sesuai dengan kenyataan.
b. Idealisme
Ajaran idealisme menegaskan bahwa untuk mendapatkan pengetahuan yang
benar-benar sesuai dengan kenyataan adalah mustahil. Pengetahuan adalah proses-
proses mental atau proses psikologis yang bersifat subjektif. Subjektif dipandang
sebagai suatu yang mengetahui , yaitu dari orang yang membuat gambaran tersebut.
Karena itu, pengetahuan menurut teori ini tidak menggambarkan hakikat kebenaran.
Yang diberikan pengetahuan hanyalah gambaran menurut pendapat atau penglihatan
orang yang mengetahui (subjek).
8. Cara Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang
menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden
(Notoatmodjo, 2011)