Anda di halaman 1dari 10

IINVENTARISASI LOGISTIK KEPERAWATAN

Sri Mugianti
Poltekes Malang Prodi Keperawatan Blitar

Inventarisasi logistik merupakan kegiatan untuk memperoleh data atas seluruh


logistik yang dimiliki atau dikuasai atau diurus oleh organisasi, baik yang diperoleh dari
usaha pembuatan sendiri, pembelian, pertukaran, hadiah, maupun hibah, baik berkaitan
dengan jenis dan spesifikasinya, jumlah, sumber; waktu pengadaan, harga, tempat,dan
kondisi serta perubahan-perubahan yang terjadi guna mendukung proses pengendalian
dan pengawasan logistik serta mendukung efektivitas dan efisiensi dalam upaya
pencapaian tujuan organisasi (Dwiantara & Sumarto, 2005)
Pengelolaan barang inventaris rumah sakit adalah suatu tatanan yang harus tertib
administrasi yang bertujuan untuk penghematan keuangan, penghitungan kekayaan dan
mutu pengendalian rumah sakit yang meliputi: perencanaan dan penentuan kebutuhan,
penganggaran, pengadaan, penyimpanan dan penyaluran, penggunaan dan pemeliharaan
serta penghapusan (FKM-UI,2002)

Dari kedua pengertian tersebut diatas maka dapat disimpulkan inventarisasi logistik
rumah sakit adalah merupakan kegiatan untuk memperoleh data atas seluruh logistik
yang dimiliki oleh rumah sakit, yang harus tertib administrasi guna mendukung proses
pengendalian dan pengawasan logistik dalam upaya pencapaian tujuan.

Manfaat Inventarisasi
Menurut Sanderson (2000) inventarisasi memiliki beberapa manfaat sebagai
berikut:
a. Mencatat dan menghimpun data aset yang dikuasahi unit organisasi/
departemen.
b. Menyiapkan dan menyediakan bahan laporan pertanggungjawaban atas
penguasaan dan pengelolaan aset organisasi/ negara.
c. Menyiapkan dan menyediakan bahan acuan untuk pengawasan aset
organisasi atau negara.
d. Menyediakan informasi mengenai aset organisasi /negara yang dikuasahi
departemen sebagai bahan untuk perencanaan kebutuhan, pengadaan dan
pengelolaan perlengkapan departemen.
e. Menyediakan informasi tentang aset yang dikuasai departemen untuk
menunjang perencanaan dan pelaksanaan tugas departemen.

Dasar Hukum
Untuk institusi pemerintahan baik pemerintahan pusat, pemerintah daerah dan
militer, kegiatan iventarias telah diatur dalam satu kebijakan perundang-undangan
sebagai dasar hukum dalam pengelolaan kekayaan/inventaris negara, yaitu :
a. Undang-Undang No.1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.
b. Undang-undang No. 1 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara
tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor : 4355)
3
4

c. Peraturan Pemerintah No. 6 tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik


Negara atau Daerah.
d. Inpres No.3 tahun 1971, tentang inventarisasi barang-barang/ kekayaan milik
negara.

Organisasi Inventarisasi Barang Milik Negara


Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2006 organisasi yang
terkait dengan Pengelolaan Barang Milik Negara atau Daerah adalah sebagai berikut :
a. Pembina Umum : Presiden, yang secara fungsional dilakukan oleh menteri
keuangan yang selanjutnya dilimphkan kepada Direktur Jendral Moneter.
b. Pembina Barang Inventarisasi : Menteri
c. Penguasaan Barang Inventaris : Semua Eselon I, dan Kakanwil (Pembantu
penguasaan).
d. Unit Pengurusan Barang : Kantor atau satuan kerja.
e. Penanggungjawab Pengawas Barang : Kepala kantor( = Kuasa materi/
barang).
f. Bendahara Materiil/ barang : yaitu orang yang karena negara ditugasi
menerima, menyimpan dan mengeluarkan barang atas perintah Kuasa
Barang. Pada umumnya bendahara material adalah penguasa gudang.

Keunikan Inventaris Rumah Sakit


Pendekatan inventaris rumah sakit berbeda dengan perusahaan manufaktur dan
retail. Pada perusahaan manufaktur sering memiliki perbedaan tingkatan inventaris,
semua barang yang ada hingga produk tersebut terjual. Berbagai tingkatan tersebut
meliputi bahan mentah, pekerjaan yang sedang berproses dan barang yang sudah
terselesaikan. Sedangkan pada retail memiliki satu jenis barang inventaris yang tersedia
untuk dijual (Sanderson, 2000).
Inventarisasi di rumah sakit bersifat unik dan tidak konsisten karena adanya 2
macam jenis inventaris yaitu inventaris resmi dan inventaris tidak resmi melalui
lembaga-lembaga di dalamnya. Inventaris resmi adalah jenis invetaris yang dijaga di
bagian gudang pusat, bagian makanan, bagian farmasi dan koperasi. Inventaris ini
dikeluarkan atau didistribusikan pada unit pemakai. Inventaris yang tidak resmi adalah
barang stok yang dijaga oleh bagian laboratorium, unit perawatan dll, yang tersedia
untuk siap digunakan namun tidak diawasi dan dikontrol oleh bagian inventaris formal
manapun dan barang itu dibeli langsung untuk digunakan oleh departemen tertentu.
Seluruhnya dibelanjakan dalam pengeluaran atau diterima.
Seluruh pengeluaran terjadi secara bersamaan saat pengeluaran atau penerimaan,
terjadi karena 1) Rumah Sakit tidak memandang bahwa inventaris tersebut tidak
dipandang sebagai aset, namun sebagai tanggungan. 2) Rumah sakit dibayar kembali
dengan biaya dasar oleh karenanya merupakan uatu kepentingan yang terbaik bagi
rumah sakit untuk membelanjakan sebanyak mungkin, sesegera mungkin memastikan
pelunasan biaya dan menjaga cash flow yang baik (Sanderson, 2000, Sabarguna 2005).

Klasifikasi, Nomor Kode Barang Dan Nomor Inventarisasi Barang


Untuk mempermudah pencatatan logistik, sekaligus mempermudah pengenalan
maupun pengklasifikasian logistik yang dimiliki organisasi harus dikelompokkan atau
digolongkan menurut jenisnya. Pada dasarnya penggolongan atas barang-barang dalam
organisasi tergantung pada jenis usaha dan kegiatan operasional organisasi tersebut.
5

Dengan demikian, setiap organisasi memiliki kebebasan melakukan pengelompokan


atas barang-barang yang dimilikinya, tetapi tetap berpedoman pada orientasi guna
mempermudah dalam pengenalan, pengewasan dan keselamatan dan keanmanan
logistik.
Sasaran inventarisasi adalah semua barang milik organisasi atau negara yang
dibeli, di dapat, dihasilkan baik secara sebagian maupun keseluruhan melalui APBN/D
atau diperoleh di luar APBN/D sesuai peraturan perundangan yang berlaku (Hendrato,
2005) dan Dwiantara & Sumarto (2005).
Pada dasarnya barang-barang logistik yang dilakukan inventarisasi terdiri dari 2
jenis yaitu :
a. Barang Habis Pakai / BHP : adalah barang berwujud, yang biasanya
habis dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali pemakaian, atau umur
ekonomisnya dalam kondisi pemakaian normal kurang dari satu tahun.
(bahan makanan, bahan farmasi, suku cadang dan listrik, BBM dll)
b. Barang tetap (barang-barang yang umur pakai/ teknisnya lebih dari satu
tahun meliputi : 1) Barang tidak bergerak (tanah, bangunan), 2) Barang
bergerak (Kendaraan, peralatan besar, peralatan laboratorium) dan 3)
Barang persediaan (barang yang ada di dalam gudang dan tempat
penyimpanan lainya)

Sedangkan menurut Sabarguna (2005) logistik rumah sakit dibagi dalam 3


klasifikasi dalam tabel berikut.
Tabel 2.1 Klasifikasi Logistik Utama Rumah Sakit
No. Jenis Logistik Uraian
1. Farmasi Rumah Sakit Obat-obatan, alat-alat kesehatan dan bahan non
medis yang terkait langsung seperti kertas EKG,
film rongent dll.
2. Logistik Non Medis Alat tulis kantor (ATK), alat listrik dll.
3. Dapur Makanan basah dan kering.

Untuk mempermudah dalam pengenalan, pencatatan barang, dan pengendalian


barang, tiap jenis barang harus memiliki nomor kode barang. Nomor kode barang
diperoleh dari proses pengklasifikasian dan penomoran klasifikasi barang tersebut.
Kegiatan tersebut dimulai dari penggolongan barang berdasarkan jenisnya yang
kemudian diberi nomor jenis barang. Setelah itu masing-masing jenis barang, dibagi
atas kelompok-kelompok barang yang tercakup di dalamnya. Kemudian, masing-
masing kelompok barang tersebut harus pula diberi nomor (Nomor kelompok barang).
Berikut ini contoh penomoran barang menurut jenis (nomor jenis) dan kelompok barang
(nomor kelompok) yang diambil dari penomoran barang di rumah sakit.
Khusus untuk barang-barang tahan lama, untuk mempermudah dalam
pemantauan dan pengawasan/ pengendalian logistik penting diberi Nomor invebtaris
barang. Sehubungan dengan hal tersebut, pedoman pokok dalam pemberian nomor
inventaris barang harus sampai pada penomoran barang yang bersifat spesifik,
maksudnya penomoran barang tersebut harus sampai menunjuk pada satu buah barang
tertentu. Dengan demikian dalam pemberian nomor inventaris barang mulai dari
pegelompokan barang sampai pemberian nomor urut barang
6

Adapun cara pemberian dan penulisan nomor inventaris barang tersebut adalah
dengan urutan sebagai berikut: nomor jenis barang,nomor kelompok barang, nomor urut
barang/ kode unit kerja/ kode institusi/ tahun inventarisasi.
Tabel 2.2 Pegelompokan barang dan penomorannya.

Nomor Jenis Barang Nomor Kelompok Barang


Jenis Kelompok
Barang
01 Barang Perawatan 01 Kain
02 Sprei
03 Selimut
04 Sarung bantal/ guling
…. …
02 Alat Rumah Tangga 01 Alat makan
02 Alat minum
03 Alat dapur
04 Alat kebersihan
… …..
03 Alat Tulis dan Kantor 01 Buku pendaftaran
02 Kuitansi
03 Nota pembayaran
04 Buku/ formulir
… ….
04 Perabot Kantor 01 Meja
02 Kursi
03 Lemari
04 Lemari arsip
… ….
05 Barang Bahan Cucian 01 Bahan cair
02 Bahan bubuk
03 Bahan batangan
… …
06 Barang Pemeliharaan 01 Kuas
suku cadang dan Listrik 02 Kertas gosok
03 Pipa
04 Keni
… …

Teknik Inventarisasi Barang dengan Kartu Barang

Tehnik inventarisasi barang dengan kartu barang adalah cara pencatatan barang
dengan menggunakan kartu barang. Sedangkan kartu barang adalah suatu lembaran atau
formulir yang berisi informasi suatu barang dan secara fisik dibuat dari kertas yang
relatif tebal. Kartu barang sendiri dapat dibedakan atas kartu barang untuk barang habis
pakai dan kartu barang untuk baranf tahan lama. Teknik inventarisasi barangpun
berbeda anatara teknik inventarisasi untuk barang habis pakai dengan barang tahan
lama. Informasi-informasi logistik yang berada di dalamnya pun berbeda antara kartu
barang untuk barang habis pakai maupun barang tahan lama.
7

Tehnik inventarisasi logistik dengan kartu barang ini tidak sebatas untuk bagian
bagian penggudangan ataupun bagian distribusi logistik, tetapi penting dilakukan oleh
setiap unit kerja dalan organisasi untuk melakukan pengawasan dan pengendalian
logistik, baik berkaitan dengan keberadaan, perubahan dan mutasi barang (masuk
keluarnya logistik) dan sisa logistik yang ada, serta untuk mengetahui kondisi barang
(baik, rusak ringan, rusak berat), maupun informasi yang lain (sumber barang, cara
pengadaan barang, waktu pengadaan, harga, waktu pengecekan barang dan hasilnya,
biaya operasional suatu peralatan yang telah dikeluarkan dan cara penyingkiran barang).

a. Teknik Inventarisasi untuk barang Habis Pakai


Inventarisasi terhadap barang habis pakai dengan menggunakan system kartu
barang lebih ditujukan pada upaya pemantauan persediaan barang, pengunaan
barang, dan upaya menjaga kontinuitas kerja setiap unit kerja dalam suatu
organisasi.
Adapun ketentuan inventarisasi barang habis pakai adalah sebagai berikut:
1) Setiap satu jenis barang dibuatkan satu kartu barang
2) Kartu barang disimpam dalam kotak atau file khusus, dan diurutkan
secara alfabetis sesuai dengan nama barang.
3) Setiap ada perubahan jumlah logistik, baik karena adanya pemasukan
barang maupun pengeluaran barang harus secepatnya dicatat
4) Setiap kartu barang harus dapat menunjukkan persediaan barang pada
saat itu.
5) Untuk unit pemakai barang, setiap ada pemasukan barang harus disertai
bukti penerimaan barang yang berupa bon pengeluaran barang atau surat
penyerahan barang atau bon gudang ( Surat permintaan barang barang
dari user kepada bagian gudang, juga sebagai surat penyerahan barang
oleh bagian gudang kepada user) dari unit logistik/ gudang, dan harus
dicatat tanggal penerimaan, rencana penggunaan, jumlah barang yang
masuk, dan jumlah sisa barang. Sementara untuk setiap terjadi
pengeluaran barang harus dicatat tanggal pengeluaran, jumlah barang
yang dikeluarkan dan penggunaan barang, serta jumlah sisa barang.
6) Untuk unit penggudangan dan atau distribusi, setiap ada pemasukan
barang harus disertai bukti pemasukan barang yang dapat berupa
kuitansi, nota, surat pengantar barang, tanda terima, ataupun berita acara
penyerahan/ serah terima barang.Disamping itu perlu dicatat tanggal
masuk barang, sumber, jumlah dan total persediaan barang.Sementara
untuk pengeluaran barang, harus juga disertai bukti pengeluaran barang
yang dapat berupa surat penyerahan barang atau bon gudang dan harus
dicatat tanggal pengeluaran barang, unit pemakai barang, jumlah barang
yang dikeluarkan dan jumlah sisa barang setelah terjadi pengeluaran
barang.
7) Setiap bukti pemasukan barang maupun bukti pengeluaran barang harus
diberi nomor kode bukti yang diurutkan berdasarkan urutan kronologis
transaksi maupun pengeluaran barang guna mempermudah untuk
pengecekan barang. Nomor kode bukti tersebut harus ditulis secara jelas
dan dapat dituliskan pada bagian atas kanan formulir bukti pemasukan
dan pengeluran barang tersebut.
8

8) Bukti-bukti pemasukan barang disimpan dalam satu tempat atau map


khusus yang berisi bukti-ti penerimaan logistik.
9) Bukti-bukti pengeluaran barang harus disimpan dalam tempat atau map
khusus yang berisi bukti-bukti pengeluaran barang.

b. Teknik inventarisasi untuk barang tahan lama


Inventarisasi barang untuk barang tahan lama dengan menggunakan sistem kartu
barang ditujukan untuk kepentingan pemantauan atas keamanan dan
keselamatan barang, biaya operasional barang, dan kondisi barang (Dwiantara &
Sumarto, 2005).

Buku Induk Barang Inventaris, Buku Golongan barang Inventaris dan Daftar
Inventaris Ruangan

Salah satu upaya untuk melakukan pengawasan/ pengendalian logistik,


khususnya untuk barang-barang tahan lama melalui kegiatan inventarisasi barang
dengan melakukan pembuatan buku induk inventarisasi barang. Buku golongan barang
inventaris dan daftar inventaris ruangan. Dengan adanya beberapa buku tersebut, setiap
saat dapat dilakukan pengecekan terhadap setiap barang yang ada.
Buku induk barang inventaris merupakan buku yang dipakai untuk mencatat
semua barang inventaris tak habis pakai menurut tanggal penerimaannya. Informasi
yang harus ada dalam buku induk barang inventaris adalah nomor urut, tanggal
pembukuan, kode barang, nama barang, spesifikasi barang (merek, tipe dsbnya),
jumlah, nama satuan, tahun pembuatan, asal barang, tanggal penyerahan, keadaan
barang, harga dan keterangan lain. Pencatatan ke dalam buku induk barang inventaris
dilakukan setelah proses pengadaan logistik dilakukan, atau secara khusus apabila
pengadaan logistik dengan cara pembelian, berarti pencatatan dilakukan setelah proses
pembelian selesai ataupun setelah terjadi penerimaan barang.
Dengan demikian, kegiatan pencatatan ini merupakan kelanjutan dari proses
pengadaan logistik. Dalam kegiatan pencatatan barang inventaris ini harus disertakan
bukti-bukti pengadaan logistik yang dapat berupa kuitansi, nota, faktur atau surat
pengantar barang, tanda terima ataupun berita acara serah terima barang. Kolom-kolom
buku induk barang inventaris sebagai berikut:

No Tgl Kode Nama Spesifi Nama Jmlh Tahun Asal Tgl Kadaan Harga Ket
Urut Pembu Barang Barang kasi Satuan Pembelian Barang Penyera barang
kuan barang han

Buku golongan barang Inventaris adalah buku pembantu tempat mencatat


barang inventari menurut golongan barang yang telah ditentukan. Data buku golongan
barang inventaris diambil dari buku induk barang inventaris. Tiap golongan barang
dicatat dalam satu buku tersendiri. Informasi yang harua tercantum dalam buku
golongan barang inventaris, selain golongan barang inventaris dan kode jenis barang
(bisa dengan angka atau huruf atau kombinasi angka dan huruf), adalah nomor urut ,
nomor urut buku induk, kode barang, nama barang, spesifikasi barang, jumlah, nama
9

satuan, tahun pembuatan, keadaan barang, harga, lokasi dan keterangan. Kemudian
untuk melakukan pemntauan dan pengendalian terhadap masing-masing barang yang
tercantum dalam daftar buku golongan barang inventaris ini dapat dilakukan dengan
tehnik inventarisasi barang dengan kartu barang sebagaimana telah dibahas diatas,
khususnya tehnik inventaris dapat dilihat pada contoh berikut:

Penghapusan Logistik

Penghapusan logistik merupakan kegiatan pembebasan barang dari pertanggung


jawaban yang berlaku dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Secara lebih
operasional, penghapusan logistik merupakan pengakhiran fungsi logistik dengan
pertimbangan- pertimbangan dan argumentasi- argumentasi tertentu yang dapat
dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, dalam kegiatan penghapusan logistik harus
mempertimbangkan alasan-alasan normative tertentu (Dwiantara & Sumarto,2005).

Kriteria untuk Penghapusan Logistik


a. Logistik yang akan dihapus sudah sangat tua dan rusak
Logistik tersebut perlu dihapuskan dengan beberapa alasan: apabila logistik tersebut
digunakan terus dapat membehayakan keselamatan pemakai logistik tersebut,
kualitas maupun kuantitas output yang dihasilkan sudah tidak dapat mencapai
tingkat optimal, apalagi dibandingkan biaya operasional yang relatif tinggi.Apabila
logistik ini dioperasionalkan terus, akan menimbulkan inefektivitas dan inefisiensi
organisasi.
b. Logistik yang sudah ketingalan zaman
Logistik yang sudah ketinggalan zaman perlu dihapuskan dengan pertimbangan,
logistik ini dipandang memerlukan dan menghabiskan biaya yang relatif tinggi, baik
yang berkaitan dengan bahan, tenaga, waktu, maupun output, baik ditinjau dari sisi
kuantitas maupun kualitas apabila dibandingkan dengan menggunakan logistik yang
relatif baru
c. Logistik berlebihan
Logistik yang berlebihan perlu dihapuskan dengan beberapa alasan:
1) suatu organisasi tidak mungkin menggunakan seluruh logistiknya dalam
waktu yang bersamaan dan yang sekiranya memang logistik tersebut tidak perlu
digunakan secara bersamaan
2) Logistik yang sifatnya berlebihan tersebut tidak dihapuskan tentunya
membutuhkan biaya perawatan, maupun gaji untuk personel yang merawat
barang.
3) Logistik tersebut membutuhkan tempat penyimpanan, sehingga bila logistik
tersebut tidak dihapuskan akan boros tempat
4) Apabila logistik tersebut akan digunakan dimasa yang akan akan dating,
mungkin sudah merupakan logistik yang ketinggalan zaman (Out of date)

d. Logistik yang hilang


Secara administrasi, logistik yang hilang harus disingkirkan. Hal ini penting
dilakukan, selain sebagai satu bentuk pertanggungjawaban pemakai, pengambilan
keputusan dan tindakan sebagai konsekuensi atas hilangnya logistik tersebut, juga
untuk pengambilan keputusan maupun tindakan manajemen logistik berikutnya.
10

Cara -Cara Penghapusan Logistik


a. Dijual atau dilelang
Dengan cara ini berarti organisasi akan memperoleh sejumlah kontraprestasi berupa
uang hasil penjualan logistik.
b. Ditukar dengan logistik lain yang dibutuhkan oleh institusi
Dengan cara ini organisasi akan menukarkan logistik yang dimiliki dengan logistik
yang dibutuhkan oleh organisasi. Dengan cara ini harus mempertimbangkan dan
mengacu pada prinsip-prinsip pengadaan logistik dengan cara menukarkan, antara
lain logistik yang ditukarkan harus benar-benar sudah tidak dibutuhkan institusi,
nilai logistik yang dipertukarkan harus sepada dan saling menguntungkan kedua
belah pihak.
c. Dipindahkan
Penghapusan dengan cara dipindahkna adalah secara fisik logistik yang sudah tidak
dibutuhkan dimutasikan ke unit kerja lain ataupun kantor/ institusi cabang. Dengan
demikian , pemusnhan logistik ini sifatnya masih dalam ruang lingkup organisasi
internal
d. Dihibahkan
Penghapusan logistik dengan cara dihibahkan berarti organisasi memberikan secara
Cuma-Cuma kepada pihah/ organisasi lain yang membutuhkan logistik yang
dihapuskan.
e. Pemanfaatan kembali
Penghapusan dengan cara pemanfaatan kembali berarti barang yang dihapus
kemudian diubah menjadi barang lain yang memiliki fungsi dan kegunaan berbeda
dari fungsi dan kegunaan barang semula.
f. Dimusnahkan
Penghapusan logistik dengan cara dimusnahkan adalah logistik benar-benar
dihilangkan, dan hal ini dilakukan apabila cara penghapusan logistik yang lain
sudah tidak mungkin untuk diimplementasikan.

Daftar Pustaka

Aditama (2002) Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Edisi kedua, Penerbit


Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta.
Bowersox Donald J (2006) Manajemen Logistik Integrasi Sistem-sistem Manajemen
Distribusi Fisik dan Manajemen Material, alih bahasa Hasyim Ali, Bumi
Aksara, Jakarta.
DepKes RI (2001),Standar Peralatan Keperawatan dan Kebidanan di Sarana
Kesehatan, Cetakan ke I , Direktorat Pelayanan Keperawatan Direktorat Jendral
Pelayanan Medik Depkes RI, Jakarta.
Dwiantara Lukas dan Sumarto Hadi Rumsari (2005), Manajemen Logistik Pedoman
Praktis Bagi Sekretaris dan Staf Administrasi, Grasindo, Jakarta.
Hendrato Rusdianrasih (2005). Pelaksanaan Inventaris Barang Milik/Kekayaan Negara.
Didownload dari www.uns.ac.id tanggal 15 april 2007
http://owlyevitch.blogsome.com/2006/12715/trackback. Didownload tanggal 19 April
2007
11

Contoh formulir berita acara penghapusan barang

BERITA ACARA PENGHAPUSAN BARANG

Pada hari ini Selasa tanggal dua puluh tiga bulan April tahun 2007
Kami yang bertanda tangan dibawah ini :
1. Muhidin sebagai ketua
2. Vivi sebagai Skretaris
3. Sri.M sebagai anggota
4. Netha sebagai anggota
5. Suratun sebagai anggota

Bertindak selaku Panitia Penghapusan barang yang dibentuk dengan surat


Keputusan Direktur No.12 tanggal 20 April 2007 telah mengadakan
pemeriksaan barang-barang sebagaimana terlampir pada tanggal 21 April 2007.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, barang-barang tersebut dalam keadaan rusak
berat/ ketinggalan zaman/ berlebihan/ hilang. Selanjutnya, kami memutuskan
barang-barang tersebut dihapuskan denga cara dijual/ dilelang/ dihibahkan/
dipindahkan/ ditukarkan/ dimusnahkan.
Demikian berita acara ini dibuat dalam rangkap tiga untuk dapat dipergunakan
seperlunya
Dibuat di: Jakarta
Tanggal : 22 April 2007
Panitia Penghapusan barang (tanda tangan)
1. Ketua : Muhidin .............................
2. Sekretaris : Vivi Yosafianti P ………………….
3. Anggota : Sri.Mugianti …………………..
Netha Damayanti ..…………………
Suratun …………………..
Mengetahui:

Yana Zahara, SKp, M.Kes


LAMPIRAN BERITA ACARA PENGHAPUSAN BARANG

No. Nama Barang Kode Spesifikasi Barang Keterangan


Uru
t
12

Tanggl 22 April 2007


Panitia Penghapusan Barang
Sekretaris, Ketua,

……………. . .…………..

Perlu dicatat bahwa apabila penghapusan logistik dilakukan dengan cara dujial
maka berita acara penghapusan logistik harus jelas ditulis kepada siapa logistik
tersebut dijual dan berapa nilai hasil penjualan. Disamping itu Berita Acara
Penghapusan Logistik tersebut harus dilampiri Baerita Acara Serah Terima
Barang. Apabila penghapusan logistik tersebut dilakukan dengan cara
ditukarkan, dalam berita acara penghapusan logistik juga harus jelas secara
tertulis logistik tersebut ditukar dengan logistik apa, dengan siapa dan berapa
nilai logistik tersebut. Barita Acara tersebut juga harus dilampiri dengan berita
acara serah terima barang. Bagitu juga dengan cara apapun harus ditulis dengan
jelas sperti tersebut diatas.

4. Proses Kegiatan dan Administrasi Penghapusan Logistik

Untuk melakukan kegiatan penghapusan atau penyingkiran logistik ada


beberapa hal yang harus dilakukan:
a. Penelitian kelayakan penghapusan logistik tertentu yang hendak
dihapuskan. Kegiatan ini dilakukan oleh unit kerja atau Pemilik logistik yang
akan dihapuskan bersama dengan penanggungjawab pengelola logistik.
b. Membuat beberapa alternatif cara penghapusan logistik yang hendak
ditempuh, yang kemudian menentukan saru cara penghapusan logistik yang
paling menguntungkan, baik dengan pertimbangan finansial maupun non
finansial.
a. Meminta persetujuan dari pimpinan tertinggi, khususnya sebagai
penanggungjawab dalam pengelolaan logistik
b. Implementasi penghapusan logistik sesuai dengan cara penghapusan
logistik yang ditentukan. Panitia penghapusan logistik membuat Berita Acara
Penghapusan Logistik.
c. Unit Kerja Pemilik logistik tersebut melakukan inventarisasi logistik
berkaitan dengan kegiatan penghapusan logistik, dan bila menggunakan
model kartu barang, unit kerja harus mengisi formulir kartu barang,
khususnya pada kolom penghapusan barang sesuai dengan cara penghapusan
logistik yang dilakukan.

Anda mungkin juga menyukai