Anda di halaman 1dari 6

Laporan Praktikum Kimia Organik

Percobaan 3
Pemisahan Senyawa Organik : Ekstraksi dan Isolasi
Kafein dari Daun teh serta Uji Alkaloid

Putu Eka Satya Yudha
11213011

Tanggal Praktikum : 3 Oktober 2014
Tanggal Pengumpulan : 10 Oktober 2014

Nama Asisten :
Eddi Yusmansyah (20514035)
Fakhri Abdul Muiz (10511070)




LABORATORIUM KIMIA ORGANIK
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2014
Pemisahan Senyawa Organik : Ekstraksi dan Isolasi Kafein dari Daun teh serta Uji
Alkaloid

I. Tujuan
1. Melakukan isolasi kafein dari daun teh dengan cara ekstraksi.
2. Menentukan titik leleh kafein hasil ekstraksi.
3. Menentukan nilai R
f
dari kafein hasil ekstraksi dengan cara uji Kromatografi Lapis
Tipis.
II. Teori Dasar
1. Ekstraksi
Ekstraksi adalah metode pemisahan yang melibatkan proses pemindahan satu atau
lebih senyawa dari dari satu fasa ke fasa lain dan didasarkan pada prinsip kelarutan.
Kelarutan senyawa dalam suatu pelarut dinyatakan sebagai jumlah gram zat terlarut
dalam 100 mL pelarut dalam suhu 25
0
C. Senyawa akan larut dalam suatu pelarut jika
kekuatan atraktif diantara kedua molekul adalah saling menyukai. Dalam sistem ini,
satu atau lebih senyawa berpartisi diantara kedua pelarut, sebagian kecil akan larut di
salah satu pelarut, sedangkan yang lainnya akan larut di pelarut satunya.
Ekstraksi terdiri dari beberap jenis, yaitu:
1. Ekstraksi cair-cair adalah pemisaha yang melibatkan dua zat cair yang tidak
saling bercampur. . Dalam sistem ini, satu atau lebih senyawa berpartisi diantara
kedua pelarut, sebagian kecil akan larut di salah satu pelarut, sedangkan yang
lainnya akan larut di pelarut satunya. Keberhasilan pemisahan sangat
bergantung pada perbedaan kelarutan senyawa tersebut dalam kedua pelarut.
2. Ekstraksi asam-basa adalah ekstraksi yang dilakukan tidak hanya berdasarkan
kelarutan dari suatu senyawa organik, melainkan juga berdasarkan sifat
keasaman atau kebasaan dari senyawa organik tersebut.pada eksttraksi ini,
senyawa organik asam atau basa akan direaksikan dengan basa atau asamnya
sehingga membentuk garam yang tidak larut dalam pelarut organik, tapi larut
baik dalam air.
3. Ekstraksi padat-cair adalah suatu jenis ekstraksi, dimana zat yang akan
diekstraksi berada dalam fasa padat. Efisiensi dari ekstraksi padat cair ini
ditentukan oleh banyaknya kontak yang terjadi antara zat padat dengan pelarut
dan ukuran dari zat padat yang mengandung senyawa organik.

2. Kromatografi Lapis Tipis
Kromatografi adalah suatu metode yang digunakan oleh ilmuwan untuk
memisahkan senyawa organik dan senyawa anorganik agar dapat dianalisis dan
dipelajari. Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah teknik kromatografi yang
menggunakan suatu material adsorben pada plat kaca, plastic, atau aluminium tipis.
Metode ini merupakan metode yang sederhana yang dapat digunakan untuk menguji
kemurnian suatu senyawa organik.

III. Data Pengamatan
Titik leleh kafein :
Tabel 3.1 Data jarak noda dan larutan pada pelat
Eluen Jarak noda Jarak larutan
Etil asetat-metanol (3:1) 2.9 cm 3.5 cm
Kloroform-metanol (9:1) 3.1 cm 3.5 cm

Tabel 3.2 Data perubahan warna setelah diberi pereaksi
Senyawa Pereaksi Meyer Pereaksi Dragendorff
Kafein Jingga Bening (ada gumpalan
kuning)

IV. Pengolahan Data
a. Rf noda pada eluen etil asetat-metanol




b. Rf noda pada eluen kloroform-metanol




V. Pembahasan
a. Ekstraksi kafein dari teh
Dalam ekstraksi, daun teh dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer dan
ditambahkan air mendidih dan natrium karbonat. Fungsi penambahan natrium
karbunat ini adalah agar kandungan tannin dalam daun teh dapat dihilangkan
dengan cara mengubah tannin tersebut menjadi garam yang larut dalam air tapi
tidak larut dalam diklorometana. Kemudian tambahkan diklorometana dan mulai
melakukan ekstraksi. Kelarutan kafein dalam diklorometana lebih tinggi (140
mg/mL) daripada dalam air (22 mg/mL). Hal ini dilakukan dalam suhu kamar
karena jika dilakukan dalam suhu tinggi, kelarutan kafein dalam diklorometana
dan air sama-sama tinggi. Jadi, sebelum ditambahkan diklorometana, campuran
teh dengan air mendidih harus didinginkan terlebih dahulu. Setelah penambahan
diklorometana, kocok perlahan-lahan campuran tersebut agar tidak terjadi emulsi.
Selama masa pengocokan, sesekali bukalah keran corong pisah agar CO
2
hasil
reaksi tannin dengan natrium karbonat dapat keluar. Setelah itu, lakukan distilasi
pada bagian diklorometana agar didapatkan kafein murninya. Karena titik didih
kafein lebih tinggi daripada diklorometana, maka yang diambil adalah yang
berada pada bagian labu distilasi. Setelah itu, keringkan dengan cara dipanaskan.
b. Uji kromatografi lapis tipis
Kafein merupakan senyawa alkaloid yang bersifat non-polar. Dalam uji
kromatografi lapis tipis, digunakan plat aluminium, eluen I yaitu etil asetat-
methanol (3:1) dan eluen II yaitu kloroform-methanol (9:1). Dalam hal ini, nilai
R
f
pada eluen I dan eluen II berbeda karena adanya beda kepolaran dari kedua
eluen tersebut. Eluen I lebih polar daripada eluen II. Maka, kelarutan kafein lebih
tinggi terdapat pada eluen II karena kafein bersifat nonn-polar.
c. Uji alkaloid
Dalam uji alkaloid, digunakan reagen meyer dan dragendorff. Kedua reagen
ini merupakan senyawa yang mengandung logam berat. Dalam meyer terdapat
logam berat bismut (Bi) yang mana bila bereaksi dengan alkaloid akan
menimbulkan gumpalan atau endapan berwarna kuning. Sedangkan pada reagen
dragendorff mengandung timbal (Pb) yang mana bila bereaksi dengan senyawa
alkaloid akan menghasilkan endapan berwarna merah bata. Dari uji alkaloid,
didapat bahwa dalam meyer, kafein membentuk endapan dan dalam dragendorff,
kafein menjadi keruh dan berwarna jingga. Jadi, menurut uji alkaloid dengan
reagen meyer dan dragendorff, maka kafein yang kami dapatkan merupakan
senyawa alkaloid.
d. Dalam uji titik leleh yang kami lakukan, kami mendapat bahwa titik leleh kafein
yang kami dapatkan adalah 224
0
C. Sementara dalam literatur, titik leleh kafein
adalah 238
0
C. Hal ini karena kafein yang kami dapatkan mengandung zat
pengotor dalam proses distilasi.

VI. Kesimpulan
Jadi, sesuai dengan hasil dari yang kami dapat dalam uji alkaloid dengan pereaksi
meyer dan dragendorff, maka dapat disimpulkan bahwa kafein merupakan senyawa
alkaloid karena menghasilkan warna jingga pada uji dragendorff dan endapan kuning
pada uji meyer. Kafein merupakan senyawa non-polar karena nilai R
f
dari kafein lebih
besar pada eluen kloroform-metanol karena kloroform-metanol lebih non-polar
daripada eluen etil asetat-metanol.
VII. Lampiran

Sumber : http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927475















VIII. Daftar Pustaka
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927475
Mayo, D.W., Pike, R.M., Forbes, D.C. 2011. Microscale Organic Laboratory: with Multistep
and Multiscale Synthesis, 5
th
ed. John Wiley & Sons. New York. Halaman: 97-99 ;
229-236
Williamson.1999. Macroscale and Microscale Organic Experiments, 3
rd
ed. Boston. Halaman
131-137.