Anda di halaman 1dari 3

Konsistensi tanah adalah salah satu sifat fisika tanah yang menggambarkan ketahanan

tanah pada saat memperoleh gaya atau tekanan dari luar. Penetapan konsistensi tanah dapat
dilakukan dalam tiga kondisi, yaitu: basah, lembab, dan kering. Dengan menggunakan alat
ukur By feel konsistensi tanah yang didapat yaitu berupa lekat, agak lekat, tidak lekat, lemah,
gembur, sangat gembur, lepas, dan agak keras. pada keadaan kering konsistensi agak keras
karena ketika ditekan kuat dengan ibu jari dan jari telunjuk tanahnya hancur. Tanah yang
lekat, agak lekat, dan tidak lekat dikategorikan pada konsistensi basah. Tanah genbur, agak
gembur dan lepas dikategorikan pada konsistensi lembab
Menurut (Darmawijaya, 1997), Konsistensi tanah juga mempunyai hubungan dengan
tekstur tanah. Tanah pasir biasanya tak lekat, tak liat dan lepas. Sebaliknya tanah lempung-
berat ber-konsistensi sangat liat, sangat teguh, dan keras. Konsistensi tanah dipengaruhi
beberapa faktor yaitu tekstur tanah, sifat dan jumlah koloid organik maupun anorganik,
struktur tanah (porositas) berat isi dan kadar air tanah. Apabila tekstur tanah didominasi pasir
maka konsistensi tanah rendah (tidak plastis, tidak lekat, dan lunak) dan bila dominan
lempung maka konsitensi tanah tinggi(plastis, lekat, dan keras). Kadar bahan organik yang
tinggi mengakibatkan tanah gembur dan plastis.
Kadar air tanah adalah jumlah air yang bila dipanaskan dengan oven yang bersuhu
105
0
C hingga diperoleh berat tanah kering yang tetap. Jumlah air yang diperoleh tanah
sebagian bergantung pada kemampuan tanah yang menyerap air cepat dan meneruskan air
yang diterima dipermukaan tanah ke bawah. Adapun manfaat mengetahui kadar air tanah
yaitu untuk mengetahui proses pelapukan mineral dan bahan organik tanah yaitu reaksi yang
mempersiapkan hara yang larut bagi pertumbuhan tanaman, menduga kebutuhan air selama
proses irigasi, mengetahui kemampuan suatu jenis tanah mengenai daya simpan lengas tanah.
Pada hasil praktikum dengan menentukan beberapa sampel dan tiga kali pengulangan,
diperoleh hasil sebagai berikut 5,56%, 3,33%, 4,76%, 5,56%, 1,72%, 0,9%, 12%,
6,6%.diperoleh rata-rata kelas sebesar 5,054. Kadar air tanah diperoleh dari hasil perhitungan
: Kadar air tanah (U= (berat air/berat tanah kering ) *100%). Terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi kadar air tanah diantaranya kadar bahan organik tanah, senyawa kimia,
kedalaman solum dan lapisan tanah, serta iklim dan jenis tumbuhan.


Kerapatan isi tanah adalah bobot kering suatu isi tanah dalam keadaan utuh yaitu
bagian padatan dan bagian ruang dari pori tanah. Isi tanah terdiri dari isi bahan padatan dan
isi ruangan diantaranya. Dari hasil praktikum dengan menentukan beberapa lokasi dan tiga
kali pengulangan diperoleh hasil kerapatan isi tanah sebesar 1,21%, 1,17%, 1,19%, 1,6%,
1,58%, 1,39%, 0,32%, 0,37%, 0,29%, 1,28%, 1,23%, 1,3%. Diperoleh rata-rata kelas sebesar
1,08 Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kerapatan isi tanah tekstur tanah, bahan
organik dan struktur tanah. Kerapatan isi berbanding terbalik dengan ruang pori total
sedangkan ruang pori total berbanding lurus dengan kerapatan jenis tanah.
Vegetasi dominan
Vegetasi di definisikan sebagai mosaik komunitas tumbuhan dalam lansekap dan
vegetasi alami diartikan sebagai vegetasi yang terdapat dalam lansekep yang belum
dipengaruhi oleh manusia. Komposisi vegetasi sering kali berubah seiring dengan
berjalannya waktu, perubahan iklim, dan aktivitas manusia. Perubahan vegetasi ini
mendorong perlu dilakukannya analisi vegetasi. Analisis vegetasi merupakan suatu cara
untuk menemukan komposisi jenis vegetasi dari yang paling dominan hingga tidak dominan
(Sriyani, dkk). Pada Keadaan vegetasi yang diamati berupa bentuk vegetasi seperti rumput,
semak rendah, tumbuhan menjalar, herba, maupun tumbuhan dalam hamparan yang
luas. Pada praktikum ini vegetasi yang diamati yaitu vegetasi berupa herba, semak dan
berkayu. Dari hasil pengamatan pada empat sampel dengan 3 tempat diperoleh hasil pada
sampel pertama kayu 80 %, herba 10%, dan semak 10%.. Pada sampel kedua vegetasi
berkayu 97% dan vegetasi semak 3%. Pada sampel ketiga vegetasi kayu 25%, herba 50%,
semak 25%. Sampel ke empat vegetasi kayu 70%, herba 25%, semak 5%. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa pada sampel pertama vegetasi dominannya yaitu berkayu, Vegetasi
dominan pada sampel kedua yaitu berkayu, vegetasi dominan sampel ketiga yaitu herba dan
vegetasi pada sampel ke empat yaitu kayu.







Dapus
Darmawijaya, M. L. 1997. Klasifikasi Tanah. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Sriyani, Nanik dkk. 2012. Panduan Praktikum Ilmu dan Teknik Pengendalian Gulma. Jurusan Budidaya
Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. Bandar Lampung.