Anda di halaman 1dari 7

Laboratorium Geologi Citra Penginderaan Jauh

Nama: Erlangga Dwi P.


NIM: 111.120.016
Plug : 6 Page 1

PERBEDAAN INTERPRETASI CITRA RADAR DENGAN
CITRA FOTO UDARA

I. Citra Foto Udara

Kegiatan pengindraan jauh memberikan produk atau hasil berupa
keluaran atau citra. Citra adalah gambaran suatu objek yang tampak pada cermin
melalui lensa kamera atau hasil pengindraan yang telah dicetak
Citra dapat dibedakan menjadi dua, yaitu citra foto dan citra nonfoto.
Citra foto adalah gambaran suatu objek yang dibuat dari pesawat udara,
dengan menggunakan kamera udara sebagai alat pemotret. Hasilnya dikenal
dengan istilah foto udara. Citra foto dapat dibedakan menurut beberapa aspek,
antara lain sebagai berikut.
Berdasarkan wahana yang digunakan, citra foto dapat dibagi menjadi
foto udara dan foto satelit.
1. Foto udara, yaitu foto yang dibuat dari pesawat/balon udara.
2. Foto satelit atau foto orbital, yaitu foto yang dibuat dari satelit.
Berdasarkan spektrum elektromagnetik yang digunakan, citra foto dapat
dibedakan menjadi 3, yaitu:
1. Foto Ultraviolet
Foto Ultraviolet adalah foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum
ultraviolet dekat dengan panjang gelombang 0,29 mikrometer. Cirinya adalah
mudah untuk mengenali beberapa objek karena perbedaan warna yang sangat
kontras. Kelemahan dari citra foto ini adalah tidak banyak informasi yang dapat
disadap. Foto ini sangat baik untuk mendeteksi tumpahan minyak di laut,
membedakan atap logam yang tidak dicat, jaringan jalan aspal, batuan kapur,
juga untuk mengetahui, mendeteksi, dan memantau sumber daya air.
2. Foto Ortokromatik
Foto Ortokromatik adalah foto yang dibuat dengan menggunakan
spektrum tampak dari saluran biru hingga sebagian hijau (0,4 0,56 mikrometer).
Cirinya banyak objek yang bisa tampak jelas. Foto ini bermanfaat untuk studi
pantai karena filmnya peka terhadap objek di bawah permukaan air hingga
kedalaman kurang lebih 20 meter.

Laboratorium Geologi Citra Penginderaan Jauh

Nama: Erlangga Dwi P.
NIM: 111.120.016
Plug : 6 Page 2

3. Foto Pankromatrik
Foto pankromatrik adalah foto yang menggunakan seluruh spektrum
tampak mata mulai dari warna merah hingga ungu. Kepekaan film hampir sama
dengan kepekaan mata manusia. Pada umumnya digunakan film sebagai negatif
dan kertas sebagai positifnya. Wujudnya seperti pada foto, tetapi bersifat
tembus cahaya. Foto Pankromatrik digunakan dalam berbagai bidang, sebagai
berikut.
1. Di bidang pertanian, untuk pengenalan dan klasifikasi jenis tanaman,
evaluasi kondisi tanaman, dan perkiraan jumlah produksi tanaman,
2. Di bidang kehutanan, digunakan untuk identifikasi jenis pohon,
perkiraan volume kayu, dan perkembangan luas hutan,
3. Di bidang sumber daya air, digunakan untuk mendeteksi pencemaran
air, evaluasi kerusakan akibat banjir, agihan air tanah, dan air permukaan,
4. Di bidang perencanaan kota dan wilayah, digunakan untuk penafsiran
jumlah dan agihan penduduk, studi lalu lintas, studi kualitas perumahan,
penentuan jalur transportasi, dan pemilihan letak berbagai bangunan
penting,
5. Penelitian ekologi hewan liar, berguna untuk mendeteksi habitat dan
untuk pencacahan jumlah populasinya, dan
6. Evaluasi dampak lingkungan.

Berdasarkan arah sumbu kamera ke permukaan bumi, citra foto dapat
dibedakan menjadi 2, yaitu foto vertikal (tegak) dan foto condong (miring).
1. Foto vertikal atau foto tegak (orto photograph), yaitu foto yang dibuat
dengan sumbu kamera tegak lurus terhadap permukaan bumi.
2. Foto condong atau miring (oblique photograph), yaitu foto yang dibuat
dengan sumbu kamera menyudut terhadap garis tegak lurus ke permukaan
bumi. Sudut ini umumnya sebesar 10 derajat atau lebih besar, tetapi bila
sudut condongnya masih berkisar antara 1 4 derajat, foto yang dihasilkan
masih digolongkan sebagai foto vertikal.
Berdasarkan jenis kamera yang digunakan, citra foto dapat dibedakan
menjadi 2, yaitu foto tunggal dan foto jamak.
Laboratorium Geologi Citra Penginderaan Jauh

Nama: Erlangga Dwi P.
NIM: 111.120.016
Plug : 6 Page 3

1. Foto tunggal, yaitu foto yang dibuat dengan kamera tunggal. Tiap daerah
liputan foto hanya tergambar satu lembar foto.
2. Foto jamak, yaitu beberapa foto yang dibuat pada saat yang sama dan
menggambarkan daerah liputan yang sama.

II. Citra Radar
Citra radar dan citra gelombang mikro, yaitu citra yang dibuat dengan
spektrum gelombang mikro. Citra radar merupakan hasil penginderaan dengan
sistem aktif yaitu dengan sumber tenaga buatan, sedang citra gelombang mikro
dihasilkan dengan sistem pasif yaitu dengan menggunakan sumber tenaga
alamiah. Citra radar dibedakan lebih jauh atas dasar saluran yang digunakan.
Berikut adalah jenis citra radar berdasarkan salurannnya.
Jenis citra radar
Panjang gelombang yang digunakan
(m)
Saluran Ka 7,5-11
Saluran K 11-16,7
Saluran Ku 16,7-24
Saluran X 37,5-75
Saluran S 75-150
Saluran L 150-300
Saluran p 300-1000

Citra radar termasuk ke dalam citra nonfoto. Meskipun citra nonfoto juga
ada yang menggunakan spektrum tampak. Citranya tidak disebut citra tampak. Ia
Laboratorium Geologi Citra Penginderaan Jauh

Nama: Erlangga Dwi P.
NIM: 111.120.016
Plug : 6 Page 4

lebih sering disebut berdasarkan sensornya atau wahananya. Seperti misalnya citra
RBV, citra MSS, dan citra lainnya.
Berdasarkan wahananya citra nonofoto dibedakan atas:
1. Citra dirgantara (airborne image), yaitu citra yang dibuat dengan wahana yang
beroperasi diudara atau dirgantara. Sebagai contoh misalnya citra inframerah
termal, citra radar, dan citra MSS yang dibuat dari udara. Istilah citra
dirgantara jarang sekali digunakan.
2. Citra satelit (satellite/spaceborne image), yaitu citra yang dibuat dari antariksa
atau luar angkasa. Citra satelitdibedakan lebih jauh atas penggunaan
utamanya, yaitu:
a. Citra satelit untuk penginderaan planit, misalnya citra satelit Ranger
(AS), citra satelit Viking (AS), citra satelit Luna (Rusia), dan citra satelit
Venera (Rusia)
b. Citra satelit untuk pengidraan cuaca, misalnya citra NOAA (AS), dan
citra Meteor (Rusia).
c. Citra satelit untuk penginderaan sumberdaya bumi, misalnya citra
landsat (AS), citra Soyus (Rusia). Dan citra SPOT yang diorbitkan oleh
Perancis pada tahun 1986.
d. Citra satelit untuk penginderaan laut, misalnya citra Seasat (AS) dan
citra MOS (Jepang) yang diorbitkan pada tahun 1986.

Sensor radar pencitra ditempatkan pada wahana (platform) pesawat
terbang atau satelit atau pesawat ulang-alik untuk mengamati ke samping dan ke
Laboratorium Geologi Citra Penginderaan Jauh

Nama: Erlangga Dwi P.
NIM: 111.120.016
Plug : 6 Page 5

bawah. Bila wahana bergerak, pulsa-pulsa energi ditransmisikan dan gema yang
kembali dikumpulkan (direkam).
Penggunaannya dilakukan dengan gerakan ke depan dari wahana pada saat
memproses gema-gema yang dikumpulkan, menggabungkannya dengan suatu
cara yang khusus dimana ukuran antena efektif yang digunakan sangat besar.
Resolusi radar tergantung pada ukuran antena ini.
Pengenalan obyek pada citra radar didasarkan tidak hanya pada rona tetapi
juga ukuran, bentuk, tekstur, bayangan, dan keterkaitan obyek dengan
kenampakan sekelilingnya. Obyek terekam pada citra radar merupakan hasil pulsa
balik radar. Intensitas atau kekuatan pulsa balik menentukan kecerahan obyek
yang terekam pada citra. Pilsa balik radar yang terlalu kuat menghasilkan
karakteristik (signature) lebih cerah pada citra dibandingkan dengan pulsa balik
yang lemah. Intensitas atau kekuatan pulsa balik radar baik dari system satelit
maupun pesawat udara ditentukan oleh sifat-sifat sebagai berikut :
1. Sifat-sifat obyek yang diindera, yang meliputi: lereng (skala makro), sifat
dielektrik, kekasaran permukaan dan orientasi kenampakan (feature
orientation)
2. Sifat-sifat sistem radar, yang meliputi: panjang gelombang, sudut depresi,
polarisasi dan arah pengamatan antena.

Topografi menyebabkan pengaruh pada citra radar, yaitu: pantulan sudut,
bayangan radar, efek rebah ke dalam (layover), dan pemendekan depan
(foreshortening).
1. Pantulan sudut
Pantulan sudut terjadi pada topografi yang lerengnya terjal. Pancaran pulsa
radar yang mengenai permukaan datar sebagai pantulan cermin, dipantulkan
dengan kuat menjauhi antena. Pantulan ini mengenai lereng terjal yang
memantulkannya dengan kuat ke antena radar. Sebagai akibatnya maka obyek itu
tampak dengan rona sangat cerah pada citra radar.

Laboratorium Geologi Citra Penginderaan Jauh

Nama: Erlangga Dwi P.
NIM: 111.120.016
Plug : 6 Page 6

2. Bayangan radar
Sistem radar dengan penyinaran condong menghasilkan pulsa balik yang
kuat, jika mengenai bangunan dan tepi puncak perbukitan. Lereng yang
menghadap antena akan memantulkan sebagian besar pulsa, sehingga citra berona
cerah. Sedangkan lereng yang menjauhi antena memantulkan sebagian kecil dari
pulsa, sehingga citra berona gelap. jadi topografi terpengaruh terhadap bayangan.
Dalam foto udara sudut pengamatan matahari konstan pada seluruh pengamatan
(scene). Pada sistem radar sudut depresi lebih kecil dalam arah far range, sehingga
bayangan semakin panjang. Penggunaan sudut depresi kecil cocok untuk
perolehan citra radar dengan medan relief rendah sehingga topografi lebih
menonjol.
3. Pemendekan lereng depan (foreshortening)
Terjadi bila lereng depan lebih landai dari garis tegak lurus terhadap arah
pengamatan. Radar foreshortening merupakan peristiwa pemendekan atau
penyusutan semua bidang obyek di permukaan bumi pada citra kasar, kecuali jika
bidang tersebut mempunyai sudut datang (incident angle) 90
0
.

III. Perbedaan Interpretasi Citra Radar Dengan Citra Foto Udara
Penggunaan citra radar untuk memetakan lahan dan penutup lahan telah
menarik perhatian besar akhir-akhir ini karena citra radar merupakan sistem
segala cuaca yang melengkapi fotografi udara. Citra radar secara visual juga
tampak mirip dengan foto udara dan karakteristik citra umumnya seperti rona,
tekstur, pola, bentuk, dan asosiasi dapat diterapkan pada interpretasi citra radar.
Salah satu keunggulan citra radar adalah adanya relief permukaan bumi yang
diperjelas, artinya relief tergambar lebih jelas dari relief sebenarnya maupun dari
gambaran pada jenis citra lainnya. Beberapa bentuk struktural misalnya adanya
kelurusan dan patahan dapat dengan mudah dikenali, demikian pula untuk pola
pengaliran (drainage pattern). Berdasarkan beberapa pola yang dapat dikenali tersebut,
citra radar dapat digunakan untuk interpretasi bentuklahan. Interpretasi bentuklahan
dari citra didasarkan atas keseragaman (homogenitas) tiga kriteria, yaitu :
1. Bentuk atau relief yang terlihat berdasarkan kekerasan permukaan atau
bayangan.
Laboratorium Geologi Citra Penginderaan Jauh

Nama: Erlangga Dwi P.
NIM: 111.120.016
Plug : 6 Page 7

2. Density atau rona obyek, yaitu tingkat kegelapan obyek yang tampak pada citra.
3. Lokasi, terutama letak bentuklahan yang bersangkutan dalam hubungannya
dengan bentuklahan secara keseluruhan.
Karena resolusi citra radar lebih kasar daripada foto udara dengan ketinggian
terbang rendah dan sedang, maka interpretasi citra radar jarang dilaksanakan dengan
skala 1 : 125.000 atau lebih kecil dari itu. Jadi radar harus dipandang sebagai alat untuk
pemetaan tinjau daripada untuk pemetaan rinci. Karena corak pandang sampingnya
maka citra radar agak mirip foto udara yang diambil dalam kondisi sudut matahari
rendah. Meskipun demikian dalam interpretasi citra radar perlu diingat tentang efek
panjang gelombang lawan kekerasan obyek, efek kandungan air dan kandungan
logam, dan efek pemantulan sudut.
Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam interpretasi citra
radar. Meskipun SLAR tampak seperti foto udara yang dibuat pada pagi hari, cara
perekamannya serta aspek geometriknya sangat berlainan. Foto udara direkam dengan
sumbu kamera direkam tegak lurus terhadap permukaan bumi, sedang citra SLAR
direkam dengan arah perekaman ke samping wahana. Pantulan obyek pada spektrum
tampak dan perluasannya lebih bergantung pada jenis obyeknya, pantulan pulsa radar
lebih bergantung pada relief (makro) dan kekasaran (mikro) nya.
Salah satu keunggulan citra SLAR dalah relief permukaan bumi gambarnya
diperjelas, artinya relief tergambar lebih jelas dari relief sebenarnya maupun dari
gambaran pada jenis citra lainnya. Keunggulan lainnya yaitu wujud kelurusan
(lineament) yang diperjelas pula gambarnya. Kelurusan pada citra SLAR itu mungkin
berupa sebuah lipatan yang wujudnya berupa bukit monoklinal.