Anda di halaman 1dari 43

KONSEP DASAR KONSEP DASAR KATARAK

A. DEFINISI
Katarak adalah penurunan progresif kejernihan lensa, lensa menjadi keruh, atau berwarna
putih abu-abu, dan ketajaman penglihatan berkurang akibat hidrasi (penambahan cairan) pada
lensa, denaturasi protein lensa atau akibat keduanya. Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata
dan benjolan progresif ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu lama. Katarak
umumnya merupakan penyakit pada usia lanjut akan tetapi dapat juga akibat kelainan kongenital.

B. PENYEBAB
Fisik (trauma tumpul & tajam)
Kimia
Penyakit predisposisi seperti DM
Genetik dan gangguan perkembangan
Infeksi virus di masa pertumbuhan janin
Usia

C. MANIFESTASI KLINIK
Penurunan ketajaman penglihatan yang progresif. Timbul kekaburan penglihatan, silau
dan hilangnya persepsi warna.

D. PATOFISIOLOGI
Secara normal lensa berwarna transparan. Hal ini terjadi karena adanya keseimbangan
antara protein yang dapat larut dengan protein yang tidak dapat larut dalam membran
semipermiabel. Bila terdapat peningkatan jumlah protein yang tidak dapat diserap, maka terjadi
penurunan sintesa jumlah protein. Maka jumlah protein dalam lensa berlebihan, sehingga pada
lensa terdapat massa yang transparan atau bintik kecil di sekitar lensa dan membentuk suatu
kapsul. Terjadinya penumpukan cairan, degenerasi dan disintegrasi pada serabut menyebabkan
jalannya cahaya tidak dapat difokuskan pada bintik kuning dengan baik sehingga penglihatan
terganggu.

E. KLASIFIKASI PENYAKIT
1) Katarak primer
a. Karatak kongenital
Terjadi sebelum dan segera setelah bayi lahir. Katarak kongenital dianggap sering ditemukan
pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang menderita penyakit:
- Rubella
- Galaktosemi
- DM
b. Katarak juvenil
Merupakan lanjutan di katarak kongenital, terbentuk pada usia 3 bulan sampai dengan 9 tahun.
c. Katarak senil
Katarak yang terdapat pada usia di atas 50 tahun.
Berdasarkan kekeruhan pada lensa, maka katarak senil dibedakan atas:
- Katarak Insipien
Kekeruhan berupa bercak-bercak seperti biji dengan dasar di perifer dan daerah jernih
diantaranya. Kekeruhan biasanya terletak di korteks anterior atau posterior.
- Katarak Immature
Kekeruhan yang belum mengenai seluruh lapisan lensa, sehingga masih ditemukan bagian-
bagian yang jernih. Kekeruhan terdapat pada bagian posterior dan belakang nukleus lensa
- Katarak Matur
Kekeruhan yang telah mengenai seluruh massa lensa. Sehingga semua sinar yang melalui pupil
dipantulkan kembali di permukaan anterior lensa.
- Katarak Hipermatur
Korteks lensa mencair sehingga nukleus lensa turun, terjadi kerusakan kapsul lensa sehingga isi
korteks yang mencair keluar dari lensa menjadi kempis.
2) Katarak sekunder
Katarak sekunder (komplikata) adalah katarak yang terjadi akibat penyakit lain atau setelah
trauma yang memecah lensa.
Penyebab katarak sekunder (komplikata) yaitu:
a. Penyakit mata (yang menyebabkan katarak monokuler)
- Uveitis
- Glaucoma
- Miopi maligna
- Ablasio retina yang lama
b. Penyakit sistemik
- Galaktosemia
- Diabetes Mellitus
- Tetani akibat insufisiensi gland; paratiroid pasca bedah struma
c. Trauma
1. Trauma fisik
Trauma tumpul, menyebabkan katarak:
- Vissious ring
- Berbentuk roset (bintang)
- Katarak zonular (malelar)
- Katarak kapsula lentis yang keriput.
Trauma tajam (tembus)

2. Trauma radiasi
3. Trauma toksik

F. PENATALAKSANAAN
1) Pada katarak kongenital dapat dilakukan tredektomi optis. Apabila lensa keruh sehingga tidak
tampak /dapat dilakukan tredektomi optis pada anak usia kurang dari satu tahun maka dapat
dilakukan insisi lensa, untuk anak yang lebih besar dapat dilakukan ekstraksi linier.
2) Operasi katarak kongenital dilakukan bila refleks tidak tampak dan bila katarak bersifat total.
Operasi dapat dilakukan pada usia 2 bulan atau lebih muda bila sudah dapat dilakukan
pembiusan.
3) Operasi/pembedahan pada jenis katarak lain:
a. ECCE (Ekstra Catarak Capsular Ekstrasi)
Tindakan pembedahan dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga massa
lensa dan korteks lensa dapat keluar melalui robekan tersebut.
b. ICCE(Intra Catarak Capsular Ekstraksi)
Pembedakan dengan mengeluarkan isi lensa bersama kapsul. EKIK tidak boleh dilakukan pada
usia kurang dari 40 tahun, karena masih mempunyai ligament hialoedia kapsuler.

G. KOMPLIKASI
Komplikasi yang mungkin muncul:
1) Glaucoma
2) Ablasio retina





H. PERAWATAN
Perawatan di rumah setelah operasi katarak:
1) Mencuci tangan sebelum menyentuh mata / saat memberi obat mata.
2) Usahakan agar tidak menyentuh / menggosok mata yang telah dioperasi.
3) Hindari mengangkat benda berat 5 kg selama 1 bulan.
4) Mata yang telah di operasi tidak boleh kena air selama 1 bulan.
5) Hindari mata yang telah di operasi dari debu, benturan, asap dan sinar matahari dengan
menggunakan kaca mata pengaman.
6) Hindari mengedan dengan kuat, membungkuk, sujud, batuk, dan bersin kuat.
7) Lebih banyak makan makanan bergizi.
8) Batasi membaca, nonton TV biasanya diperbolehkan.
9) Bila perlu gunakan penutup mata.
10) Satu minggu setelah keluar dari rumah sakit, kontrol di POLIKLINIK mata untuk mendapatkan
pengobatan lanjut.
11) Kontrol maya yang telah di operasi setiap bulan untuk pengobatan lanjut.
12) Tiga bulan setelah operasi, boleh pakai kaca mata ukuran.
13) Selama satu bulan tidak boleh berhubungan suami istri.
14) Lapor ke dokter / tenaga kesehatan lain bila ada tanda-tanda bengkak, keluar kotoran yang
banyak dan rasa nyeri pada mata.








KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN KATARAK

A. Pengkajian/Data Dasar Pengkajian
1) Aktivitas / istirahat
Gejala : perubahan aktivitas biasanya / hobby berhubungan dengan gangguan penglihatan.
2) Neurosensori
Gejala : gangguan penglihatan (kabur, tidak jelas) sinar terang mengakibatkan silau dengan kehilangan
bertatap mata perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/merasa di ruang gelap.
Tanda : tampak kecoklatan atau putih susu pada pupil. penglihatan.

B. Pemeriksaan Diagnostik
1) Snallen chart / mesin telebinokular
2) Lapang penglihatan
3) Opthalmoscopy
4) Darah lengkap / LED
5) EKG, kolesterol serum dan pemeriksaan lipid
6) Test Toleransi Glukosa

C. Prioritas Keperawatan
1) Untuk mencegah penyimpangan penglihatan lebih lanjut.
2) Meningkatkan adaptasi terhadap perubahan / penurunan ketajaman penglihatan.
3) Mencegah komplikasi operasi.
4) Memberikan informasi tentang proses penyakit / prognosis dan kebutuhan pengobatan.
D. Tujuan Pemulangan
1) Penglihatan di pertahankan pada tingkat sebaik mungkin.
2) Pasien mengatasi situasi dengan tindakan positif.
3) Komplikasi dicegah / minimal.
4) Proses penyakit / prognosis dan program terapi dipahami.

E. Diagnosa yang Mungkin Muncul
PRE OPERASI
1) Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan sensori sekunder akibat katarak.
Kriteria evaluasi:
a. Meningkatkan ketajaman penglihatan.
b. Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan.
c. Mengidentifikasi / memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.
Intervensi:
a. Kaji ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau dua mata terlibat.
b. Orientasikan klien terhadap lingkungan, staf dan orang lain di sekitarnya.
c. Dekatkan barang-barang yang diperlukan (piring, gelas, dan lain-lain).
d. Anjurkan keluarga untuk membantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
2) Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang prosedur bedah invasif yang akan
dilaksanakan.
Kriteria evaluasi:
a. Tampil santai, dapat beristirahat / tidur cukup.
b. Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan.
c. Mengidentifikasi / memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.
Intervensi:
a. Kaji ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau dua mata terlibat.
b. Orientasikan klien terhadap lingkungan, staf dan orang lain di sekitarnya.
c. Dekatkan barang-barang yang diperlukan (piring, gelas, dan lain-lain).
d. Anjurkan keluarga untuk membantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

POST OPERASI
1) Perubahan kenyamanan berhubungan dengan trauma jaringan sekunder akibat operasi ekstraksi
katarak.
Kriteria evaluasi:
Mengatakan bahwa sakit telah terkontrol/dihilangkan.
Intervensi:
a. Kaji karakteristik nyeri.
b. Berikan tindakan kenyamanan dan aktivitas hiburan.
c. Berikan lingkungan yang tenang (kondusif) untuk istirahat.
d. Ajarkan teknik relaksasi.
e. Kolaborasi pemberian anastesi.
2) Gangguan sensori perseptual berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori / status organ
indera, lingkungan secara terapeutik dibatasi.
Kriteria evaluasi:
a. Meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu.
b. Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan.
c. Mengidentifikasi / memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.
Intervensi:
a. Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau dua mata terlibat.
b. Orientasikan klien terhadap lingkungan.
c. Observasi tanda-tanda, dan gejala-gejala disorientasi.
d. Dekatkan dari sisi yang tidak di operasi, bicara dan menyentuh.
e. Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur dan iritasi mata.
f. Ingatkan klien untuk memakai kaca mata katarak yang tujuannya memperbesar 25%.
g. Letakkan barang yang dibutuhkan dalam jangkauan pada sisi yang tidak di operasi.
3) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.
Kriteria evaluasi:
a. Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu, bebas drainage purulen, eritrema dan demam.
b. Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah /menurunkan resiko infeksi.
Intervensi:
a. Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh / mengobati mata.
b. Gunakan teknik yang tepat untuk membersihkan mata dari dalam keluar dengan tissue basah /
bola kapas setiap usapan.
c. Tekankan pentingnya tidak menyentuh / menggaruk mata yang di operasi.
d. Observasi / diskusikan tanda terjadinya infeksi.
e. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian antibiotik.

4) Resiko tinggi cedera berhubungan dengan peningkatan TIO, perdarahan intra okuler, kehilangan
vitreous.
Kriteria evaluasi:
a. Menyatakan pemahaman faktor yang terlibat dalam kemungkinan cedera.
b. Menunjukkan perubahan perilaku, pola hidup untuk menurunkan faktor resiko dan untuk
melindungi diri dari cedera.
Intervensi:
a. Diskusikan apa yang terjadi pada pasca operasi tentang nyeri, pembatasan aktivitas, penampilan
balutan mata.
b. Beri klien posisi bersandar, kepala tinggi, atau miring ke sisi yang tidak sakit sesuai keinginan.
c. Batasi aktivitas seperti menggerakkan kepala tiba-tiba, menggosok mata membungkuk.
d. Dorong napas dalam, batuk untuk bersihan paru.
e. Anjurkan penggunaan teknik manajemen stress.
f. Pertahankan perlindungan mata sesuai indikasi.
g. Minta klien untuk membedakan antara ketidaknyamanan dan nyeri mata tajam tiba-tiba.
h. Observasi pembengkakan luka, bilik anterior kempes, pupil berbentuk buah pir.
i. Kolaborasi pemberian Antipiretik, Analgesik.
5) Kurang pengetahuan tentang prosedur, kondisi, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan
dokumentasi mengenal sumber informasi, keterbatasan cognitive.
Kriteria evaluasi:
a. Menyatakan pemahaman kondisi / proses penyakit dan pengobatan. Tampil santai, dapat
beristirahat / tidur cukup.
b. Melakukan dengan prosedur benar dan menjelaskan alasan tindakan.

Intervensi:
a. Kaji informasi tentang kondisi individu, prognosis, tipe prosedur / lensa.
b. Tekankan pentingnya evaluasi perawatan rutin.
c. Informasikan klien untuk menghindari tetes mata yang dijual bebas.
d. Diskusikan kemungkinan efek / interaksi antara obat mata dan masalah medis klien.
e. Anjurkan klien menghindari membaca, berkedip, mengangkat berat, mengejan saat defekasi,
meniup hidung.
f. Dorong aktivitas pengalih seperti mendengar radio.
g. Anjurkan klien tidur terlentang, mengatur intensitas lampu dan menggunakan kaca mata gelap
bila keluar /dalam ruang terang.
h. Dorong pemasukan cairan adekuat / gejala memerlukan upaya evaluasi medis.
















Daftar Pustaka

Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Doengoes, Marilynn E. Et al. 1999, Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Purnawan, J. (et al). 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3 Jakarta: FKUI
Sidarta, Ilyas. (et al). 1981. Sari Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: FKUI


























ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. M
DENGAN POST OP KATARAK
DI RUANG BEDAH KELAS II
RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA

I. DATA DEMOGRAFI
A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. M
Umur : 60 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Suku bangsa : Jawa/Indonesia
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Swasta
Status perkawinan : Kawin
Alamat : Landasan Ulin, Banjarbaru.
Tanggal wawancara : 2 April 2004
Tanggal MRS : 2 April 2004
Nomor RMK : 040956
Diagnosa Medis : DS Katarak Matur
Penanggung Jawab : Tn. Anwar (Anak)

II. POLA FUNGSIONAL
A. PERSEPSI KESEHATAN DAN PENANGANAN KESEHATAN
1. Keluhan Utama:
Klien mengatakan pandangan mata kirinya kabur.

2. Riwayat Penyakit Sekarang:
Sebelum masuk rumah sakit, klien merasakan mata kirinya kabur dan tidak dapat melihat dengan
jelas. Klien sebelumnya hanya berobat jalan selama 1 bulan, dan ternyata ditemukan katarak
jenis matur di sebelah mata kirinya.
Visus os: 3/60.

3. Penggunaan Obat Sekarang:
- Polidex tetes
- Asam Mefenamat 500 mg
- Robamox 500 mg
- Prednison
: 4 x 1 tetes / hari
: 3 x 1
: 3 x 1
: 3 x 2

4. Riwayat Penyakit Dahulu
6 bulan yang lalu, klien mengeluh penglihatannya kabur, mata sebelah kiri terasa seperti ada
selaput yang menutupinya. Sebelumnya klien mengira hanya gangguan biasa pada matanya,
yang dengan pengobatan biasa (pemberian tetes mata biasa) akan sembuh.

5. Riwayat alergi
Klien tidak mempunyai riwayat alergi, baik terhadap makanan, suhu, debu, dan bahan lainnya.

6. kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan
Klien masih merokok dan bisa menghabiskan 4 6 batang dalam setiap harinya. Klien tidak
pernah minum minuman keras / beralkohol. Klien biasa minum obat tetracycline apabila klien
merasakan badannya tidak sehat atau tidak nyaman, dan klien juga mengkonsumsi obat rhematik
apabila rematiknya kambuh.



7. Riwayat Penyakit Keluarga:
Klien mengatakan bahwa tidak ada keluarga klien yang mengalami penyakit seperti itu.

8. Riwayat Sosial
Riwayat sosial klien baik. Klien ditunggui oleh istrinya selama dirawat di rumah sakit. Di
lingkungan tempat tinggalnya klien sebagai orang yang dimintai pendapat .
Klien sangat ramah.

9. Pemeriksaan diagnostik
pemeriksaan visus dengan menggunakan Snallen Chart.

B. POLA NUTRISI-MATABOLIK
1. Masukan Nutrisi Sebelum Sakit:
Sebelum sakit kebiasaan klien makan 3 kali sehari, sarapan pagi, makan siang, dan makan sore
hari yang masing-masing porsinya sebanyak 1 porsi (1 piring), terdiri atas nasi putih, lauk-pauk
dan sayur. Minum air putih sebanyak 6 8 gelas belimbing sehari.
Tidak ada makanan pantangan.

2. Saat Sakit
Selama dirawat di rumah sakit tidak ada keluhan nafsu makan. Klien makan 3 kali dalam sehari
dan semua porsi makanan dihabiskan, terkecuali ikan. Klien mengatakan tidak berani makan
ikan, karena menurut beliau akan memperlambat penyembuhan mata yang di operasi. Diet klien
nasi biasa.
Berat badan klien 6 bulan terakhir tetap seperti sebelum sakit yaitu: 65 kg.
C. POLA ELIMINASI
Biasanya klien BAB sebanyak 2 x dalam sehari. Namun selama di rawat di rumah sakit klien
tidak BAB, tetapi tidak ada keluhan pada klien. Frekuensi BAB 2 3 x dalam sehari. Tidak ada
masalah dalam BAB.

D. POLA AKTIVITAS - LATIHAN
Rentang gerak klien tidak terbatas. Klien mampu melakukan aktivitasnya sendiri tanpa dibantu.
Keseimbangan dan cara berjalan klien tidak ada masalah.

E. POLA TIDUR-ISTIRAHAT
Selama dirawat di rumah sakit tidak ada masalah dengan pemenuhan kebutuhan tidur dan
istirahat. Klien tidur selama 6 8 jam, dan klien merasa segar ketika bangun tidur.

F. POLA KOGNITIF- KONSEPTUAL
- Pendengaran klien baik, tidak menggunakan alat bantu dengar.
- Sejak sebelum operasi klien menggunakan kaca mata plus minus.
- Klien mengatakan pandangan mata kirinya kabur, pupil isokor, refleks cahaya mata kiri dan
kanan bagus
Kesadaran compos mentis, GCS 4-5-6.

G. POLA PERSEPSI/KONSEP DIRI
Tidak ada permasalahan dalam perawatan, baik cara perawatan maupun dari segi finansial.



H. POLA PERAN/HUBUNGAN
Klien sangat diperhatikan oleh istrinya. Klien bekerja sebagai wiraswasta. Pekerjaan klien tidak
tetap.

I. POLA SEKSUALITAS
Tidak ada riwayat penyakit kelamin. Tidak ada keluhan disampaikan sehubungan dengan
gangguan sexualitas.

J. POLA KOPING-TOLERANSI STRESS
Kemampuan adaptasi baik. Cara pengambilan keputusan dibantu oleh istri.

K. POLA NILAI-KEPERCAYAAN
Klien seorang Muslim, selama di rawat klien bisa menjalankan sholat. Tidak perlu kunjungan
pemuka agama.

L. PEMERIKSAAN FISIK
a. Tanda Vital
Tinggi badan : 170 cm
Berat badan : -
Suhu : 36,6C
Tekanan Darah : 140/80 mmHg
Nadi : 72 x /menit
Respirasi : 180 x /menit
Warna kulit : sawo matang; turgor kulit baik (kembali 2 detik setelah dicubit).

b. Rambut dan Kulit Kepala
Keadaan rambut klien tipis, distribusi merata, warna rambut putih. Kulit kepala agak berminyak.

c. Mulut
Gigi atas partial, gigi bawah penuh, terdapat caries pada gigi atas, mulut terlihat agak kotor, tidak
ada lesi pada gusi, lidah agak kotor, mukosa mulut normal.

d. Mata
Terdapat luka operasi pada mata kiri dan tertutup verban. Klien mengatakan pandangan mata
kirinya kabur, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik. Mata kanan tidak ada masalah.
Visus OS 3/60.

e. Abdomen
Struktur abdomen simetris. Tidak ada distensi abdomen.

f. Muskuloskeletal
Rentang gerak klien tidak terbatas. Klien dapat melakukan aktivitasnya tanpa dibantu oleh
keluarga. Tidak ada kelainan muskuloskeletal. Keseimbangan dan cara berjalan klien tidak ada
masalah.







III. ANALISA DATA
NO DATA ETIOLOGI MASALAH
1. DS: - klien mengatakan pandangan
mata kiri kabur.
DO: - Visus OS 3/60
Terdapat luka operasi pada
mata kiri.
Mata kiri tertutup verban.
Luka bekas operasi
pada mata kiri.
Perubahan persepsi
sensori
2. DS: -
DO: - mata kiri tertutup verban.
Keterbatasan
penglihatan.
Resiko tinggi terjadi
cedera
3. DS: -
DO: -
Peningkatan
kerentanan sekunder
terhadap gangguan
pembedahan dari
permukaan mata.
Resiko tinggi terjadi
infeksi.
4. DS: - Klien mengatakan ikan akan
memperlambat penyembuhan.
DO: - Ikan yang diberikan tidak
dimakan.
Informasi yang
salah.
Kurang pengetahuan.


IV. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

NO.
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
RENCANA
TUJUAN INTERVENSI RASIONAL

1.

Perubahan persepsi
sensori berhubungan
dengan luka operasi
ditandai dengan:
Klien mengatakan
pandangan mata kiri
kabur.
Terdapat luka
operasi pada mata
kiri.
Mata kiri tertutup
verban.
Visus OS 3/60


Ketajaman
mata individu
meningkat
dalam batas
situasi.


Tentukan ketajaman
penglihatan dan catat
apakah satu/ kedua
mata terlibat.
Orientasikan klien
terhadap lingkungan
yang ada di sekitar.
Letakkan barang yang
sering dipergunakan
dalam jangkauan dan
pada sisi yang tidak
sakit.
Anjurkan klien
mengkonsumsi nutrisi
yang cukup dan buah-
buahan.
Berikan obat sesuai
terapi.

Untuk mengetahui tingkat
kehilangan penglihatan
yang terjadi.

Memberikan peningkatan
keamanan dan
mengurangi cemas.
Memungkinkan klien
melihat objek lebih jelas
dan memudahkan untuk
mengambilnya.
Untuk menunjang
penyembuhan luka
operasi.

Membantu mempercepat
penyembuhan

2.

Resiko tinggi
terhadap cedera
berhubungan dengan
keterbatasan
penglihatan

Tidak terjadi
cedera

Anjurkan klien untuk
menggunakan kaca
mata untuk melihat
dekat.




Selain lensa pengganti
juga diperlukan kaca
mata untuk melihat dekat
karena mata ini tidak
memiliki daya akomodasi
sehingga dapat mencegah
terjadinya cedera.
Pertahankan tempat
tidur pada ketinggian
yang paling rendah.
Diskusikan dengan
keluarga bagaimana
pemeliharaan di rumah
Membantu menurunkan
resiko/ melindungi dari
kemungkinan cedera.
Mempertinggi
pemahaman keluarga
tentang bagaimana cara
pemeliharaan di rumah
agar tidak terjadi cedera.


3. Resiko tinggi
terjadinya infeksi
berhubungan dengan
peningkatan
kerentanan sekunder
terhadap gangguan
pembedahan
permukaan mata.
Infeksi tidak
terjadi, tidak
ada kalor,
dolor, rubor,
tumor dan
fungsio laesa
serta tidak ada
cairan
abnormal
yang keluar
dari mata.
Jelaskan pentingnya
mencuci tangan
sebelum menyentuh /
mengobati mata.
Gunakan/tunjukkan
teknik yang tepat untuk
membersihkan mata.
Ganti balutan minimal
2x dalam sehari.
Tekankan untuk tidak
menyentuh mata yang
di operasi.
Observasi/diskusikan
tanda-tanda terjadinya
infeksi.

Berikan antibiotik
sesuai terapi.
Menurunkan jumlah
bakteri pada tangan,
mencegah kontaminasi
area operasi.

Teknik aseptik
menurunkan resiko
penyebaran dan
kontaminasi silang.
Mencegah kontaminasi.

Mencegah kontaminasi
dari tangan.

Dapat diketahui secara
dini apakah ada muncul
tanda-tanda infeksi.
Antibiotik adalah bahan
kimia yang dikeluarkan
jasad renik / hasil sintesis
di mana zat ini dapat
merintangi/
memusnahkan jasad renik
lainnya. Anti septik pada
tetes mata dapat
memusnahkan kuman-
kuman pada selaput mata.

4.

Kurangnya
pengetahuan
(kebutuhan belajar)
tentang kecukupan
nutrisi berhubungan
dengan informasi
yang salah, salah
interpretasi
informasi, tidak
mengenal sumber
informasi ditandai
dengan:
Tidak tepat
mengikuti instruksi.
Menyatakan salah
konsepsi.
Tidak makan ikan
yang diberikan.
Pernyataan meminta
informasi.

Klien
mengerti
tentang
pentingnya
asupan
kelengkapan
nutrisi untuk
proses
penyembuhan.

Tekankan pentingnya
kecukupan nutrisi
dalam menunjang
proses penyembuhan.
Informasikan kepada
klien mengenai nutrisi
yang diberikan

Anjurkan kepada klien
agar selalu
menghabiskan diet
yang telah diberikan.

Nutrisi yang cukup akan
membantu mempercepat
proses penyembuhan.

Informasi yang diberikan
akan meningatkan
pengetahuan klien
tentang kecukupan
nutrisi.
Diet yang diberikan akan
membantu proses
penyembuhan.



V. CATATAN PERAWATAN

NO DIAGNOSA IMPLEMENTASI EVALUASI

1.

I

- Mengorientasikan ruangan klien dan
mengorientasikan apa yang ada di dalam
ruangan klien.
- Menganjurkan klien untuk
mengkonsumsi makanan bergizi,
meminum susu, dan memakan buah-
buahan yang banyak mengandung
vitamin C seperti pisang.
- memberikan obat sesuai terapi (polidex
tetes 1 tetes, asam Mefenamat 1 tablet
500 gr, robamox tablet 500 gr, prednison
1 tablet)

- Klien mengena-li dan
dapat beradaptasi
dengan lingku-ngan di
dalam ruangan klien
dirawat.
- Klien mengata-kan akan
me-ngikuti anjuran
perawat.
2.
II
- Menganjurkan klien untuk menggunakan
kaca mata untuk melihat dekat
- Mempertahankan tempat tidur pada posisi
ketinggian yang paling minimal.
- Mengajak keluarga berdiskusi dan
memberikan sarang kepada keluarga
bagaimana cara pemeliharaan di rumah
agar tidak mencelakai klien.
- Klien dan keluarga
mengerti bagaimana
pemeliharaan di rumah
agar tidak menimbulkan
cedera bagi klien.

3.
III
- Menjelaskan kepada klien dan
keluarganya bahwa sangat penting
mencuci tangan terlebih dahulu sebelum
menyentuh/ mengobati mata agar tidak
terjadi infeksi.
- Mengganti balitan sebanyak 2 kali sehari.
- Tidak terdapat tanda-
tanda infeksi seperti
kemerahan, nyeri, panas.

- Kontaminasi tidak terjadi
- Kontaminasi tidak terjadi
- Memperingatkan klien agar tidak
menyentuh mata yang di operasi.
- Mengobservasi tanda-tanda terjadinya
infeksi, seperti adanya kemerahan di
sekitar mata yang di operasi.
- Memberikan polidex tetes sebanyak 1
kali sehari.
- Infeksi tidak ditemukan


- Tidak ada infeksi seperti
kemerahan, nyeri, panas.

4.
IV
- Menjelaskan kepada klien akan
pentingnya kecukupan nutrisi dalam
menunjang proses penyembuhan.
- Memberikan informasi kepada klien
tentang guna/manfaat nutrisi yang
diberikan.
- Menganjurkan kepada klien agar selalu
menghabiskan diet yang diberikan.
- Klien mengerti tentang
penjelasan pentingnya
nutrisi untuk proses
penyembuhan.
- Klien menunjukkan
pemahaman dari
informasi yang
diberikan, dapat
dibuktikan dengan klien
dapat menjelaskan
kembali tentang manfaat
kecukupan nutrisi.
- Diet yang diberikan
selalu dihabiskan.


A. DEFINISI
Katarak adalah penurunan progresif kejernihan lensa, lensa menjadi keruh, atau berwarna
putih abu-abu, dan ketajaman penglihatan berkurang akibat hidrasi (penambahan cairan) pada
lensa, denaturasi protein lensa atau akibat keduanya. Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata
dan benjolan progresif ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu lama. Katarak
umumnya merupakan penyakit pada usia lanjut akan tetapi dapat juga akibat kelainan kongenital.

B. PENYEBAB
Fisik (trauma tumpul & tajam)
Kimia
Penyakit predisposisi seperti DM
Genetik dan gangguan perkembangan
Infeksi virus di masa pertumbuhan janin
Usia

C. MANIFESTASI KLINIK
Penurunan ketajaman penglihatan yang progresif. Timbul kekaburan penglihatan, silau
dan hilangnya persepsi warna.

D. PATOFISIOLOGI
Secara normal lensa berwarna transparan. Hal ini terjadi karena adanya keseimbangan
antara protein yang dapat larut dengan protein yang tidak dapat larut dalam membran
semipermiabel. Bila terdapat peningkatan jumlah protein yang tidak dapat diserap, maka terjadi
penurunan sintesa jumlah protein. Maka jumlah protein dalam lensa berlebihan, sehingga pada
lensa terdapat massa yang transparan atau bintik kecil di sekitar lensa dan membentuk suatu
kapsul. Terjadinya penumpukan cairan, degenerasi dan disintegrasi pada serabut menyebabkan
jalannya cahaya tidak dapat difokuskan pada bintik kuning dengan baik sehingga penglihatan
terganggu.

E. KLASIFIKASI PENYAKIT
1) Katarak primer
a. Karatak kongenital
Terjadi sebelum dan segera setelah bayi lahir. Katarak kongenital dianggap sering ditemukan
pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang menderita penyakit:
- Rubella
- Galaktosemi
- DM
b. Katarak juvenil
Merupakan lanjutan di katarak kongenital, terbentuk pada usia 3 bulan sampai dengan 9 tahun.
c. Katarak senil
Katarak yang terdapat pada usia di atas 50 tahun.
Berdasarkan kekeruhan pada lensa, maka katarak senil dibedakan atas:
- Katarak Insipien
Kekeruhan berupa bercak-bercak seperti biji dengan dasar di perifer dan daerah jernih
diantaranya. Kekeruhan biasanya terletak di korteks anterior atau posterior.
- Katarak Immature
Kekeruhan yang belum mengenai seluruh lapisan lensa, sehingga masih ditemukan bagian-
bagian yang jernih. Kekeruhan terdapat pada bagian posterior dan belakang nukleus lensa
- Katarak Matur
Kekeruhan yang telah mengenai seluruh massa lensa. Sehingga semua sinar yang melalui pupil
dipantulkan kembali di permukaan anterior lensa.
- Katarak Hipermatur
Korteks lensa mencair sehingga nukleus lensa turun, terjadi kerusakan kapsul lensa sehingga isi
korteks yang mencair keluar dari lensa menjadi kempis.
2) Katarak sekunder
Katarak sekunder (komplikata) adalah katarak yang terjadi akibat penyakit lain atau setelah
trauma yang memecah lensa.
Penyebab katarak sekunder (komplikata) yaitu:
a. Penyakit mata (yang menyebabkan katarak monokuler)
- Uveitis
- Glaucoma
- Miopi maligna
- Ablasio retina yang lama
b. Penyakit sistemik
- Galaktosemia
- Diabetes Mellitus
- Tetani akibat insufisiensi gland; paratiroid pasca bedah struma
c. Trauma
1. Trauma fisik
Trauma tumpul, menyebabkan katarak:
- Vissious ring
- Berbentuk roset (bintang)
- Katarak zonular (malelar)
- Katarak kapsula lentis yang keriput.
Trauma tajam (tembus)

2. Trauma radiasi
3. Trauma toksik

F. PENATALAKSANAAN
1) Pada katarak kongenital dapat dilakukan tredektomi optis. Apabila lensa keruh sehingga tidak
tampak /dapat dilakukan tredektomi optis pada anak usia kurang dari satu tahun maka dapat
dilakukan insisi lensa, untuk anak yang lebih besar dapat dilakukan ekstraksi linier.
2) Operasi katarak kongenital dilakukan bila refleks tidak tampak dan bila katarak bersifat total.
Operasi dapat dilakukan pada usia 2 bulan atau lebih muda bila sudah dapat dilakukan
pembiusan.
3) Operasi/pembedahan pada jenis katarak lain:
a. ECCE (Ekstra Catarak Capsular Ekstrasi)
Tindakan pembedahan dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga massa
lensa dan korteks lensa dapat keluar melalui robekan tersebut.
b. ICCE(Intra Catarak Capsular Ekstraksi)
Pembedakan dengan mengeluarkan isi lensa bersama kapsul. EKIK tidak boleh dilakukan pada
usia kurang dari 40 tahun, karena masih mempunyai ligament hialoedia kapsuler.

G. KOMPLIKASI
Komplikasi yang mungkin muncul:
1) Glaucoma
2) Ablasio retina





H. PERAWATAN
Perawatan di rumah setelah operasi katarak:
1) Mencuci tangan sebelum menyentuh mata / saat memberi obat mata.
2) Usahakan agar tidak menyentuh / menggosok mata yang telah dioperasi.
3) Hindari mengangkat benda berat 5 kg selama 1 bulan.
4) Mata yang telah di operasi tidak boleh kena air selama 1 bulan.
5) Hindari mata yang telah di operasi dari debu, benturan, asap dan sinar matahari dengan
menggunakan kaca mata pengaman.
6) Hindari mengedan dengan kuat, membungkuk, sujud, batuk, dan bersin kuat.
7) Lebih banyak makan makanan bergizi.
8) Batasi membaca, nonton TV biasanya diperbolehkan.
9) Bila perlu gunakan penutup mata.
10) Satu minggu setelah keluar dari rumah sakit, kontrol di POLIKLINIK mata untuk mendapatkan
pengobatan lanjut.
11) Kontrol maya yang telah di operasi setiap bulan untuk pengobatan lanjut.
12) Tiga bulan setelah operasi, boleh pakai kaca mata ukuran.
13) Selama satu bulan tidak boleh berhubungan suami istri.
14) Lapor ke dokter / tenaga kesehatan lain bila ada tanda-tanda bengkak, keluar kotoran yang
banyak dan rasa nyeri pada mata.








KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN KATARAK

A. Pengkajian/Data Dasar Pengkajian
1) Aktivitas / istirahat
Gejala : perubahan aktivitas biasanya / hobby berhubungan dengan gangguan penglihatan.
2) Neurosensori
Gejala : gangguan penglihatan (kabur, tidak jelas) sinar terang mengakibatkan silau dengan kehilangan
bertatap mata perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/merasa di ruang gelap.
Tanda : tampak kecoklatan atau putih susu pada pupil. penglihatan.

B. Pemeriksaan Diagnostik
1) Snallen chart / mesin telebinokular
2) Lapang penglihatan
3) Opthalmoscopy
4) Darah lengkap / LED
5) EKG, kolesterol serum dan pemeriksaan lipid
6) Test Toleransi Glukosa

C. Prioritas Keperawatan
1) Untuk mencegah penyimpangan penglihatan lebih lanjut.
2) Meningkatkan adaptasi terhadap perubahan / penurunan ketajaman penglihatan.
3) Mencegah komplikasi operasi.
4) Memberikan informasi tentang proses penyakit / prognosis dan kebutuhan pengobatan.
D. Tujuan Pemulangan
1) Penglihatan di pertahankan pada tingkat sebaik mungkin.
2) Pasien mengatasi situasi dengan tindakan positif.
3) Komplikasi dicegah / minimal.
4) Proses penyakit / prognosis dan program terapi dipahami.

E. Diagnosa yang Mungkin Muncul
PRE OPERASI
1) Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan sensori sekunder akibat katarak.
Kriteria evaluasi:
a. Meningkatkan ketajaman penglihatan.
b. Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan.
c. Mengidentifikasi / memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.
Intervensi:
a. Kaji ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau dua mata terlibat.
b. Orientasikan klien terhadap lingkungan, staf dan orang lain di sekitarnya.
c. Dekatkan barang-barang yang diperlukan (piring, gelas, dan lain-lain).
d. Anjurkan keluarga untuk membantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
2) Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang prosedur bedah invasif yang akan
dilaksanakan.
Kriteria evaluasi:
a. Tampil santai, dapat beristirahat / tidur cukup.
b. Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan.
c. Mengidentifikasi / memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.
Intervensi:
a. Kaji ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau dua mata terlibat.
b. Orientasikan klien terhadap lingkungan, staf dan orang lain di sekitarnya.
c. Dekatkan barang-barang yang diperlukan (piring, gelas, dan lain-lain).
d. Anjurkan keluarga untuk membantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

POST OPERASI
1) Perubahan kenyamanan berhubungan dengan trauma jaringan sekunder akibat operasi ekstraksi
katarak.
Kriteria evaluasi:
Mengatakan bahwa sakit telah terkontrol/dihilangkan.
Intervensi:
a. Kaji karakteristik nyeri.
b. Berikan tindakan kenyamanan dan aktivitas hiburan.
c. Berikan lingkungan yang tenang (kondusif) untuk istirahat.
d. Ajarkan teknik relaksasi.
e. Kolaborasi pemberian anastesi.
2) Gangguan sensori perseptual berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori / status organ
indera, lingkungan secara terapeutik dibatasi.
Kriteria evaluasi:
a. Meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu.
b. Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan.
c. Mengidentifikasi / memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.
Intervensi:
a. Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau dua mata terlibat.
b. Orientasikan klien terhadap lingkungan.
c. Observasi tanda-tanda, dan gejala-gejala disorientasi.
d. Dekatkan dari sisi yang tidak di operasi, bicara dan menyentuh.
e. Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur dan iritasi mata.
f. Ingatkan klien untuk memakai kaca mata katarak yang tujuannya memperbesar 25%.
g. Letakkan barang yang dibutuhkan dalam jangkauan pada sisi yang tidak di operasi.
3) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.
Kriteria evaluasi:
a. Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu, bebas drainage purulen, eritrema dan demam.
b. Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah /menurunkan resiko infeksi.
Intervensi:
a. Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh / mengobati mata.
b. Gunakan teknik yang tepat untuk membersihkan mata dari dalam keluar dengan tissue basah /
bola kapas setiap usapan.
c. Tekankan pentingnya tidak menyentuh / menggaruk mata yang di operasi.
d. Observasi / diskusikan tanda terjadinya infeksi.
e. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian antibiotik.

4) Resiko tinggi cedera berhubungan dengan peningkatan TIO, perdarahan intra okuler, kehilangan
vitreous.
Kriteria evaluasi:
a. Menyatakan pemahaman faktor yang terlibat dalam kemungkinan cedera.
b. Menunjukkan perubahan perilaku, pola hidup untuk menurunkan faktor resiko dan untuk
melindungi diri dari cedera.
Intervensi:
a. Diskusikan apa yang terjadi pada pasca operasi tentang nyeri, pembatasan aktivitas, penampilan
balutan mata.
b. Beri klien posisi bersandar, kepala tinggi, atau miring ke sisi yang tidak sakit sesuai keinginan.
c. Batasi aktivitas seperti menggerakkan kepala tiba-tiba, menggosok mata membungkuk.
d. Dorong napas dalam, batuk untuk bersihan paru.
e. Anjurkan penggunaan teknik manajemen stress.
f. Pertahankan perlindungan mata sesuai indikasi.
g. Minta klien untuk membedakan antara ketidaknyamanan dan nyeri mata tajam tiba-tiba.
h. Observasi pembengkakan luka, bilik anterior kempes, pupil berbentuk buah pir.
i. Kolaborasi pemberian Antipiretik, Analgesik.
5) Kurang pengetahuan tentang prosedur, kondisi, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan
dokumentasi mengenal sumber informasi, keterbatasan cognitive.
Kriteria evaluasi:
a. Menyatakan pemahaman kondisi / proses penyakit dan pengobatan. Tampil santai, dapat
beristirahat / tidur cukup.
b. Melakukan dengan prosedur benar dan menjelaskan alasan tindakan.

Intervensi:
a. Kaji informasi tentang kondisi individu, prognosis, tipe prosedur / lensa.
b. Tekankan pentingnya evaluasi perawatan rutin.
c. Informasikan klien untuk menghindari tetes mata yang dijual bebas.
d. Diskusikan kemungkinan efek / interaksi antara obat mata dan masalah medis klien.
e. Anjurkan klien menghindari membaca, berkedip, mengangkat berat, mengejan saat defekasi,
meniup hidung.
f. Dorong aktivitas pengalih seperti mendengar radio.
g. Anjurkan klien tidur terlentang, mengatur intensitas lampu dan menggunakan kaca mata gelap
bila keluar /dalam ruang terang.
h. Dorong pemasukan cairan adekuat / gejala memerlukan upaya evaluasi medis.
















Daftar Pustaka

Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Doengoes, Marilynn E. Et al. 1999, Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Purnawan, J. (et al). 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3 Jakarta: FKUI
Sidarta, Ilyas. (et al). 1981. Sari Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: FKUI


























ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. M
DENGAN POST OP KATARAK
DI RUANG BEDAH KELAS II
RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA

I. DATA DEMOGRAFI
A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. M
Umur : 60 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Suku bangsa : Jawa/Indonesia
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Swasta
Status perkawinan : Kawin
Alamat : Landasan Ulin, Banjarbaru.
Tanggal wawancara : 2 April 2004
Tanggal MRS : 2 April 2004
Nomor RMK : 040956
Diagnosa Medis : DS Katarak Matur
Penanggung Jawab : Tn. Anwar (Anak)

II. POLA FUNGSIONAL
A. PERSEPSI KESEHATAN DAN PENANGANAN KESEHATAN
1. Keluhan Utama:
Klien mengatakan pandangan mata kirinya kabur.

2. Riwayat Penyakit Sekarang:
Sebelum masuk rumah sakit, klien merasakan mata kirinya kabur dan tidak dapat melihat dengan
jelas. Klien sebelumnya hanya berobat jalan selama 1 bulan, dan ternyata ditemukan katarak
jenis matur di sebelah mata kirinya.
Visus os: 3/60.

3. Penggunaan Obat Sekarang:
- Polidex tetes
- Asam Mefenamat 500 mg
- Robamox 500 mg
- Prednison
: 4 x 1 tetes / hari
: 3 x 1
: 3 x 1
: 3 x 2

4. Riwayat Penyakit Dahulu
6 bulan yang lalu, klien mengeluh penglihatannya kabur, mata sebelah kiri terasa seperti ada
selaput yang menutupinya. Sebelumnya klien mengira hanya gangguan biasa pada matanya,
yang dengan pengobatan biasa (pemberian tetes mata biasa) akan sembuh.

5. Riwayat alergi
Klien tidak mempunyai riwayat alergi, baik terhadap makanan, suhu, debu, dan bahan lainnya.

6. kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan
Klien masih merokok dan bisa menghabiskan 4 6 batang dalam setiap harinya. Klien tidak
pernah minum minuman keras / beralkohol. Klien biasa minum obat tetracycline apabila klien
merasakan badannya tidak sehat atau tidak nyaman, dan klien juga mengkonsumsi obat rhematik
apabila rematiknya kambuh.



7. Riwayat Penyakit Keluarga:
Klien mengatakan bahwa tidak ada keluarga klien yang mengalami penyakit seperti itu.

8. Riwayat Sosial
Riwayat sosial klien baik. Klien ditunggui oleh istrinya selama dirawat di rumah sakit. Di
lingkungan tempat tinggalnya klien sebagai orang yang dimintai pendapat .
Klien sangat ramah.

9. Pemeriksaan diagnostik
pemeriksaan visus dengan menggunakan Snallen Chart.

B. POLA NUTRISI-MATABOLIK
1. Masukan Nutrisi Sebelum Sakit:
Sebelum sakit kebiasaan klien makan 3 kali sehari, sarapan pagi, makan siang, dan makan sore
hari yang masing-masing porsinya sebanyak 1 porsi (1 piring), terdiri atas nasi putih, lauk-pauk
dan sayur. Minum air putih sebanyak 6 8 gelas belimbing sehari.
Tidak ada makanan pantangan.

2. Saat Sakit
Selama dirawat di rumah sakit tidak ada keluhan nafsu makan. Klien makan 3 kali dalam sehari
dan semua porsi makanan dihabiskan, terkecuali ikan. Klien mengatakan tidak berani makan
ikan, karena menurut beliau akan memperlambat penyembuhan mata yang di operasi. Diet klien
nasi biasa.
Berat badan klien 6 bulan terakhir tetap seperti sebelum sakit yaitu: 65 kg.
C. POLA ELIMINASI
Biasanya klien BAB sebanyak 2 x dalam sehari. Namun selama di rawat di rumah sakit klien
tidak BAB, tetapi tidak ada keluhan pada klien. Frekuensi BAB 2 3 x dalam sehari. Tidak ada
masalah dalam BAB.

D. POLA AKTIVITAS - LATIHAN
Rentang gerak klien tidak terbatas. Klien mampu melakukan aktivitasnya sendiri tanpa dibantu.
Keseimbangan dan cara berjalan klien tidak ada masalah.

E. POLA TIDUR-ISTIRAHAT
Selama dirawat di rumah sakit tidak ada masalah dengan pemenuhan kebutuhan tidur dan
istirahat. Klien tidur selama 6 8 jam, dan klien merasa segar ketika bangun tidur.

F. POLA KOGNITIF- KONSEPTUAL
- Pendengaran klien baik, tidak menggunakan alat bantu dengar.
- Sejak sebelum operasi klien menggunakan kaca mata plus minus.
- Klien mengatakan pandangan mata kirinya kabur, pupil isokor, refleks cahaya mata kiri dan
kanan bagus
Kesadaran compos mentis, GCS 4-5-6.

G. POLA PERSEPSI/KONSEP DIRI
Tidak ada permasalahan dalam perawatan, baik cara perawatan maupun dari segi finansial.



H. POLA PERAN/HUBUNGAN
Klien sangat diperhatikan oleh istrinya. Klien bekerja sebagai wiraswasta. Pekerjaan klien tidak
tetap.

I. POLA SEKSUALITAS
Tidak ada riwayat penyakit kelamin. Tidak ada keluhan disampaikan sehubungan dengan
gangguan sexualitas.

J. POLA KOPING-TOLERANSI STRESS
Kemampuan adaptasi baik. Cara pengambilan keputusan dibantu oleh istri.

K. POLA NILAI-KEPERCAYAAN
Klien seorang Muslim, selama di rawat klien bisa menjalankan sholat. Tidak perlu kunjungan
pemuka agama.

L. PEMERIKSAAN FISIK
a. Tanda Vital
Tinggi badan : 170 cm
Berat badan : -
Suhu : 36,6C
Tekanan Darah : 140/80 mmHg
Nadi : 72 x /menit
Respirasi : 180 x /menit
Warna kulit : sawo matang; turgor kulit baik (kembali 2 detik setelah dicubit).

b. Rambut dan Kulit Kepala
Keadaan rambut klien tipis, distribusi merata, warna rambut putih. Kulit kepala agak berminyak.

c. Mulut
Gigi atas partial, gigi bawah penuh, terdapat caries pada gigi atas, mulut terlihat agak kotor, tidak
ada lesi pada gusi, lidah agak kotor, mukosa mulut normal.

d. Mata
Terdapat luka operasi pada mata kiri dan tertutup verban. Klien mengatakan pandangan mata
kirinya kabur, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik. Mata kanan tidak ada masalah.
Visus OS 3/60.

e. Abdomen
Struktur abdomen simetris. Tidak ada distensi abdomen.

f. Muskuloskeletal
Rentang gerak klien tidak terbatas. Klien dapat melakukan aktivitasnya tanpa dibantu oleh
keluarga. Tidak ada kelainan muskuloskeletal. Keseimbangan dan cara berjalan klien tidak ada
masalah.







III. ANALISA DATA
NO DATA ETIOLOGI MASALAH
1. DS: - klien mengatakan pandangan
mata kiri kabur.
DO: - Visus OS 3/60
Terdapat luka operasi pada
mata kiri.
Mata kiri tertutup verban.
Luka bekas operasi
pada mata kiri.
Perubahan persepsi
sensori
2. DS: -
DO: - mata kiri tertutup verban.
Keterbatasan
penglihatan.
Resiko tinggi terjadi
cedera
3. DS: - Peningkatan Resiko tinggi terjadi
DO: - kerentanan sekunder
terhadap gangguan
pembedahan dari
permukaan mata.
infeksi.
4. DS: - Klien mengatakan ikan akan
memperlambat penyembuhan.
DO: - Ikan yang diberikan tidak
dimakan.
Informasi yang
salah.
Kurang pengetahuan.


IV. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

NO.
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
RENCANA
TUJUAN INTERVENSI RASIONAL

1.

Perubahan persepsi
sensori berhubungan
dengan luka operasi
ditandai dengan:
Klien mengatakan
pandangan mata kiri
kabur.
Terdapat luka
operasi pada mata
kiri.
Mata kiri tertutup
verban.
Visus OS 3/60


Ketajaman
mata individu
meningkat
dalam batas
situasi.


Tentukan ketajaman
penglihatan dan catat
apakah satu/ kedua
mata terlibat.
Orientasikan klien
terhadap lingkungan
yang ada di sekitar.
Letakkan barang yang
sering dipergunakan
dalam jangkauan dan
pada sisi yang tidak
sakit.
Anjurkan klien
mengkonsumsi nutrisi
yang cukup dan buah-
buahan.
Berikan obat sesuai
terapi.

Untuk mengetahui tingkat
kehilangan penglihatan
yang terjadi.

Memberikan peningkatan
keamanan dan
mengurangi cemas.
Memungkinkan klien
melihat objek lebih jelas
dan memudahkan untuk
mengambilnya.
Untuk menunjang
penyembuhan luka
operasi.

Membantu mempercepat
penyembuhan

2.

Resiko tinggi
terhadap cedera
berhubungan dengan
keterbatasan
penglihatan

Tidak terjadi
cedera

Anjurkan klien untuk
menggunakan kaca
mata untuk melihat
dekat.




Selain lensa pengganti
juga diperlukan kaca
mata untuk melihat dekat
karena mata ini tidak
memiliki daya akomodasi
sehingga dapat mencegah
terjadinya cedera.
Pertahankan tempat
tidur pada ketinggian
yang paling rendah.
Diskusikan dengan
keluarga bagaimana
pemeliharaan di rumah
Membantu menurunkan
resiko/ melindungi dari
kemungkinan cedera.
Mempertinggi
pemahaman keluarga
tentang bagaimana cara
pemeliharaan di rumah
agar tidak terjadi cedera.


3. Resiko tinggi
terjadinya infeksi
berhubungan dengan
peningkatan
kerentanan sekunder
terhadap gangguan
pembedahan
permukaan mata.
Infeksi tidak
terjadi, tidak
ada kalor,
dolor, rubor,
tumor dan
fungsio laesa
serta tidak ada
cairan
abnormal
yang keluar
dari mata.
Jelaskan pentingnya
mencuci tangan
sebelum menyentuh /
mengobati mata.
Gunakan/tunjukkan
teknik yang tepat untuk
membersihkan mata.
Ganti balutan minimal
2x dalam sehari.
Tekankan untuk tidak
menyentuh mata yang
di operasi.
Observasi/diskusikan
tanda-tanda terjadinya
infeksi.

Berikan antibiotik
sesuai terapi.
Menurunkan jumlah
bakteri pada tangan,
mencegah kontaminasi
area operasi.

Teknik aseptik
menurunkan resiko
penyebaran dan
kontaminasi silang.
Mencegah kontaminasi.

Mencegah kontaminasi
dari tangan.

Dapat diketahui secara
dini apakah ada muncul
tanda-tanda infeksi.
Antibiotik adalah bahan
kimia yang dikeluarkan
jasad renik / hasil sintesis
di mana zat ini dapat
merintangi/
memusnahkan jasad renik
lainnya. Anti septik pada
tetes mata dapat
memusnahkan kuman-
kuman pada selaput mata.

4.

Kurangnya
pengetahuan
(kebutuhan belajar)
tentang kecukupan
nutrisi berhubungan
dengan informasi
yang salah, salah
interpretasi
informasi, tidak
mengenal sumber
informasi ditandai
dengan:
Tidak tepat
mengikuti instruksi.
Menyatakan salah
konsepsi.
Tidak makan ikan
yang diberikan.
Pernyataan meminta
informasi.

Klien
mengerti
tentang
pentingnya
asupan
kelengkapan
nutrisi untuk
proses
penyembuhan.

Tekankan pentingnya
kecukupan nutrisi
dalam menunjang
proses penyembuhan.
Informasikan kepada
klien mengenai nutrisi
yang diberikan

Anjurkan kepada klien
agar selalu
menghabiskan diet
yang telah diberikan.

Nutrisi yang cukup akan
membantu mempercepat
proses penyembuhan.

Informasi yang diberikan
akan meningatkan
pengetahuan klien
tentang kecukupan
nutrisi.
Diet yang diberikan akan
membantu proses
penyembuhan.



V. CATATAN PERAWATAN

N
O
DIAGNOS
A
IMPLEMENTAS
I
EVALUAS
I

1.

I

- Mengorientasikan ruangan klien dan
mengorientasikan apa yang ada di
dalam ruangan klien.
- Menganjurkan klien untuk
mengkonsumsi makanan bergizi,
meminum susu, dan memakan buah-
buahan yang banyak mengandung
vitamin C seperti pisang.
- memberikan obat sesuai terapi (polidex
tetes 1 tetes, asam Mefenamat 1 tablet
500 gr, robamox tablet 500 gr,
prednison 1 tablet)

- Klien mengena-li dan
dapat beradaptasi
dengan lingku-ngan di
dalam ruangan klien
dirawat.
- Klien mengata-kan akan
me-ngikuti anjuran
perawat.
2.
II
- Menganjurkan klien untuk
menggunakan kaca mata untuk
melihat dekat
- Mempertahankan tempat tidur pada
posisi ketinggian yang paling
minimal.
- Mengajak keluarga berdiskusi dan
memberikan sarang kepada keluarga
bagaimana cara pemeliharaan di
rumah agar tidak mencelakai klien.
- Klien dan keluarga
mengerti bagaimana
pemeliharaan di rumah
agar tidak menimbulkan
cedera bagi klien.

3.
III
- Menjelaskan kepada klien dan
keluarganya bahwa sangat penting
mencuci tangan terlebih dahulu
sebelum menyentuh/ mengobati mata
- Tidak terdapat tanda-
tanda infeksi seperti
kemerahan, nyeri,
panas.
agar tidak terjadi infeksi.
- Mengganti balitan sebanyak 2 kali
sehari.
- Memperingatkan klien agar tidak
menyentuh mata yang di operasi.
- Mengobservasi tanda-tanda terjadinya
infeksi, seperti adanya kemerahan di
sekitar mata yang di operasi.
- Memberikan polidex tetes sebanyak 1
kali sehari.

- Kontaminasi tidak terjadi
- Kontaminasi tidak terjadi
- Infeksi tidak ditemukan


- Tidak ada infeksi seperti
kemerahan, nyeri,
panas.

4.
IV
- Menjelaskan kepada klien akan
pentingnya kecukupan nutrisi dalam
menunjang proses penyembuhan.
- Memberikan informasi kepada klien
tentang guna/manfaat nutrisi yang
diberikan.
- Menganjurkan kepada klien agar selalu
menghabiskan diet yang diberikan.
- Klien mengerti tentang
penjelasan pentingnya
nutrisi untuk proses
penyembuhan.
- Klien menunjukkan
pemahaman dari
informasi yang
diberikan, dapat
dibuktikan dengan klien
dapat menjelaskan
kembali tentang manfaat
kecukupan nutrisi.
- Diet yang diberikan
selalu dihabiskan.