Anda di halaman 1dari 10

Pentingnya pengukuran tanah

Pengukuran tanah adalah salah satu seni paling tua dan terpenting yang
dipraktekkan manusia sejak dahulu kala sudah dirasakan perlunya menandai batas-batas
dan pemetakan tanah. Pengukuran tanah sekarang telah sangat diperlukan dalam cara
hidup kita yang modern. Hasil-hasil pengukuran dewasa ini dipakai untuk (a) memetakan
bumi di atas dan di bawah permukaan laut; (b) menyiapkan peta-peta navigasi untuk
penggunaan di udara, darat, dan laut; (c) menetapkan batas-batas pemilikan tanah dan
sumber daya alam yang membantu dalam pengelolaan lingkungan hidup kita; (e)
menentukan akta-akta tentang ukuran, bentuk, gaya berat, dan medan magnet bumi, dan
() mempersiapkan peta-peta bulan dan planet-planet.
Pengukuran tanah terus memainkan peranan yang sangat penting dalam banyak
cabang rekayasa. !ebagai contoh, pengukuran diperlukan untuk merencanakan,
menbangun, dan memelihara jalan raya, jalan baja, system-sistem perhubungan cepat,
bangunan, jembatan, tempat peluncuran proyektil, tempat peluncuran roket, stasiun
pelacak, terowongan tambang, terusan, saluran irigasi, bendungan, saluran pembuangan
air, pengkaplingan tanah-tanah perkotaan, system persediaan dan pembuangan saluran
limbah, jalur pipa, dan terowongan tambang. Pengukuran tanah atau metode pengukuran,
biasa dipakai dalam perancangan jalur perakitan dan alat jepit antar (jig), pembuatan dan
penempatan alat besar, menyediakan titik control untuk pemotretan udara, dan dalam
banyak hal yang berkaitan dalam agronomi, arkeologi, astronomi, kehutanan, geograi,
geologi, dan sismologi, tetapi khususnya dalam rekayasa militer dan sipil. Pelurusan optis
adalah penerapan pengukuran tanah dalam pekerjaan pabrik (instalasi mesin-mesin,
pembuatan pesawat terbang dan sebaginya).
!emua insinyur harus tahu batas-batas ketelitian yang mingkin dalam konstruksi,
rancangan dan perencanan pabrik, dan proses-proses pengkhalakan (manuacturing),.
"alaupun pengukuran sebenarnya dapa dikerjakan orang lain. #hususnya juru ukur dan
insinyur sipil yang bertugas merancang dan merencanakan pengukuran harus mempunyai
pengertian menyeluruh tentang metode dan instrument yang dipakai, termasuk
kemampuan dan keterbatasannya. Pengetahuan ini paling baik didapat dengan melakukan
pengukuran dengan menggunakan peralatan yang digunakan dalam praktek untuk
memperoleh konsep yang tepat mengenai teori galat, dan selisih-selisih kecil tetapi yang
dapat ditemukan yang terjadi dalam kuantitas-kuantitas yang diamati.
$isamping menekankan perlunya batas-batas ketelitian yang wajar, pengukuran
tanah menitikberatkan nilai angka-angka terpakai. Para juru ukur dan insnyur harus tahu
kapan harus bekerja sampai perseratusan oot dan bukan persepuluhan atau perseribuan,
atau barang kali oot terdekat, serta sejauh mana kesaksamaan data lapangan yang perlu
untuk pembenaran pelaksanaan hitungan hingga sejumlah angka di belakang koma yang
dikehendaki. $engan pengalaman, mereka mempelajari bagaimana peralatan dan petugas
yang tersedia menentukan prosedur dan hasilnya.
!ketsa dan hitungan yang rapi adalah pertanda pikiran teratur, yang selanjutnya
merupakan petunjuk adanya latar belakang dan kecakapan rekayasa yang kuat. %embuat
catatan lapangan dalam segala jenis keadaan adalah persiapan amat baik untuk pencatatan
dan pembuatan sketsa macam apa yang diharapkan dari semua insinyur. &atihan
tambahan yang bernilai lanjut diperoleh dalam penyusunan hitungan yang benar.
Para insinyur yang mrancang gedung, jembatan, peralatan dan sebagainya sudah
beruntung bila taksiran beban yang dapat didukung adalah benar dalam batas '(.
!elanjutnya diterapkan actor keamanan ) atau lebih. *amun kecuali untuk pekerjaan
topograik, hanya galat-galat yang teramat kecil dapat ditoleransi dalam pengukuran
tanah, dan tidak ada aktor keamanan. +leh karena itu sudah menjadi tradisi bahwa
pengukuran tanah menekankan baik kesaksamaan pekerjaan tangan maupun kesaksamaan
hitungan.
Azimuth dan koordinat
,-imuth adalah sudut yang diukur searah jarum jam dari sembarang meridian
acuan. $alam pengukuran tanah datar, a-imuth biasanya diukur dari arah utara, tetapi
para ahlli astronomi, militer dan national geodetic survey memakai selatan selatan
sebagai arah acuan.
!eperti ditunjukkan dalam .ambar /.0 a-imut berkisar dari 12 samapi 3012 dan
tak memrlukan huru-huru menunjukkan kuadran. 4adi, a-imut +, adalah 512. ,-imut
+6. 78'2, a-imut +9, )3'2. $an a-imuth +$, 3312. Perlu untuk dinyatakan dalam
catatan lapangan pada wakttu permulaan pekerjaan, apakah a-imuth diukur dari arah
utara atau selatan.
,-imuth dapat merupakan sebenarnya, magnetik, kisi, atau anggapan, tergantung
meridian yang dipakai. ,-imuth juga dapat bersiat kedeplan atau a-imuth belakang, dan
sebaliknya, dengan menambah atau mengurangi 7/12. !ebagai contoh, jika a-imuth +,
adalah 512, a-imuth ,+ adalah 512 : 7/12 ; )'12. 4ika a-imuth +9 adalah )3'2, a-imuth
9+ adalah )3'2-7/12 ;''2
,-imut dapat dibaca pada lingkaran berpembagian skala pada teodolit kompas
atau teodolit repetisi setelah instrument diatur dengan benar. <ni dapat dikerjakan
membidik sepanajang sebuah garis yan gdiketahui a-imutnya pada lingkaran dan
kemudian memuar kearah yang diinginkan. ,-imuth (arah-arah) dipakai dengan
menguntungkan pada pengukuran titik kontrol topograik dan beberapa pengukuran
lainnya maupun dalam hitungan-hitungan.

PERBANDINGAN SUDUT ARAH DAN AZIUT
#arena sudut arah dan a-imuth dijumpai dalam demikian banyak pekerjaan
pengukuran tanah. 6arangkali ada gunanya membuat sebuah perbandingan ringkas
tentang sia-siatnya seperti dalam tabel /-7. sudut arah dengan mudah dihitung dari
a-imuth dengan memperhatikan kuadran dimana a-imuth berada. #emudian mengadakan
konversi seperti ditunjukkan dalam tabel.
ENGHITUNG SUDUT ARAH
6anyak jenis pengukuran, terutama pengukuran untuk polygon, memerlukan
hitungan sudut arah (atau a-imut). !ebuah polygon asdaslah serangkaian jarak dan sudut,
atau jarak dan a-imuth menghubungkan titik-titik yang berurutan. .aris-garis baas
sebidang tanah milik membentuk polygon jenis =polygon tertutup>. !ebuah pengukuran
jalan raya dari satu kota ke kota lainnya biasanya merupakan polygon =terbuka>. ?etapi
bila mungkin harus ditutup dengan pengikatan pada titik-titik yang diketahui
koordinatnya dekat titik-titik yang diketahui koordinatnya dekat titik-titik awal dan akhir.
PERBANDINGAN SUDUT ARAH DAN AZIUT
!@$@? ,A,H ,B<%@?
6erkisar dari 1 samplai C12
%emerlukan dua huru dan sebuah harga
numeris
$apat merupakan sebenarnya magnetic,
kisi, anggapan, kemuka, atau belakang.
$aiukur searah jarum jam dan berlawanan
arah jarum jam.
$iukura dari utara dan selatan.
6erkisar dari 1 sampai 3012
Hanya memerlukan sebuah harga numeris
!ama
Hanya diukur searah jarum jam
$iukur hanya dari utara dalam sebuah
pengukuran, atau hanya dari selatan.

9ontoh arah-arah untuk gasris dalam emplat kuadran (a-imuth dari utara)D
!udut arah ,-imut
@'82 ? '82
!'02 ? 77)2 (7/12-0/2)
!'72 6 )372 (7/12:'72)
@7'2 6 38'2 (3012-7'2)
Hitungan sudut arah sebuah garis disederhanakan dengan gambar sketsa seperti .ambar
/.5 dan /./ menunjukkan semua daa. $alam .ambar /.5, anggaplah sudut arah garis ,6
dalam .ambar /.)(a) adalah @8723'E?, dan sudut di 6 berputar searah jarum jam
(kekanan) dari garis 6, yang diketahui, adalah 7)C277E. #emudian sudut arah garis 69
adalah 7/12 - (8723'E : 7)C277E) ; C278E, dan dari sketsa, sudut arah 69 adalah @C278E6.
ENGHITUNG AZIUT
6anyak juru ukur lebih menyukai a-imuth daripada sudut arah untuk menyatakan
arah garis karena lebih mudah mengerjaskannya, terutama kalau menghitung polygon
dengan computer elektronik. !in dan 9os sudut a-imuth memberikan tanda-tanda aljabar
untuk komponen-komponen ordinat dan absis seperti dibicarakan dalam 6ab 73.
Hitungan a-imuth, seperti hitungan untuk a-imuth 69 dalam .ambar /-)(a). a-imuth 6,
didapat dengan menambahkan 7/12 pada a-imuth ,6D 7/12 : 8723'E ; ))723'E.
#emudian sudut 6 searah jarum jam, 7)C2 77E ditambahkan pada a-imuth BA untuk
memperoleh a-imuth 69 ; ))72 3'E : 7)C2 77E ; 3'12 80E. Hitungan-hitungan dengan
mudah ditangani dalam bentuk tabel.
Azimuth
,-imuth diukur dari sebuah arah acuan yang harus ditetntukan dari (a)
pengukuran sebelumnya, (b) jarum magnetik, (c) pengamatan matahari atau bintang, atau
(d) anggapan.
Pengaturan !aterpa""
Pemeriksaan penyetelan alat harus dilakukan sebelum alat tersebut dibawa ke
lapangan. Penyetelan harus diperiksa setiap hari sebelum pekerjaan dimulai, setiap kali
alat terbentur atau terbanting, dan pada akhir dari tiap hari kerja. ,lat tersebut harus
dipasang dalam posisi yang kira-kira mendatar diatas kedua pasang sekrupnya. #arena
pemeriksaan ini juga mencakup pemeriksaan susunan optiknya, salib sumbu bidik dan
lensa objekti harus diokuskan dengan tajam, dengan menggunakan objek tertentu sejauh
kira-kira '1 meter (701 t) kemudian paralaks dikeluarkan, pemeriksaan dan penyetelan
dilakukan dalam tiga tahap seperti diuraikan dalam sub paragraph berikut. ?ahap-tahap
pemeriksaan tersebut harus dilakukan sesuai dengan urutan yang diberikan.
Ta#ung ni$o
Penyetelan tabung nivo membuat sumbu nivo tegak lurus terhadap sumbu
perputaran (sumbu vertikal). Pasang alat tersebut di atas sekrup-sekrup mendatar dengan
diametrikal berlawanan dan ketengahkan gelembung nivo dengan hati-hati. Putar
teropong 7/12 dan catatt gerakan gelembung yang menjauhi tengah-tengah bila alat
belum baik. .eser gelembung tadi separuh jarak balik ke tengah tabung nivo dengan
memutar sekrup pengangkat pada ujung nivo. $atarkan lagi dengan sekrup-sekrup
pendatar, dan putar alat tersebut 7/12. @langi tahapan sebelumnya kalau gelembung
belum tetap di tengah-tengah tabung nivo. Periksa penyetelan akhir dengan
memperhatikan bahwa gelembung tetap berada di tengah-tengah tabung nivo selama
pemutaran penuh terhadap sumbu vertikal.
Benang horizonta%
!alib sumbu bidik hori-ontal disetel agar benang horisontalnya terletak pada
sebuah bidang yang tegak lurus sumbu vertikal. $atarkan alat dengan hati-hati. 6idikkan
satu ujung dari benang hori-ontal ke sebuah titik yang telah diketahui kira-kira '1 meter
(011 t) jauhnya. Putar teropong perlahan-lahan terhadap sumbu vertikalnya dengan
menggunakan sekrup gerak lambat. ,pabila salib sumbu tersebut sudah tersetel baik,
benang tersebut akan tetap di atas titik tadi pada seluruh panjangnya. #alau tidak,
longgarkan kedua sekrup pengatur diaragma dan putar diaragma dengan memutar
sedikit demi sedikit kedua sekrup tersebut secara berlawanan. 6idikkan lagi pada titik
tadi dan kalau benang hori-ontal tidak mengikuti titik tersebut pada seluruh panjangnya,
putar lagi lingkarannya. @langi prosedur ini sebanyak yang diperlukan, sampai benang
salib sumbu berada di atas titik tersebut pada seluruh panjangnya. #emudian kencangkan
sekruo-sekrup penyetelnya.
Gari" Bidik
Penyetelan garis bidik membuat garis bidik tersebut sejajar dengan sumbu nivo.
9ara ini dikenal sebagai uji dua-patok (two-peg test). !iapkan alat, tancapkan patok ,
kira-kira '1 meter (701 t) jauhnya, tancapkan pula patok lain, yaitu 6, pada jarak yang
sama tetapi berlawanan arah dengan ,. catat pembacaan a pada mistar ukur di atas patok
, dan b pada mistar di atas paok 6. $engan alat berada tepat di tengah-tengah antara
kedua patok, b-a adalah selisih sebenarnya dari elevasi kedua patok. .eser posisi alat
mendekati patok , sehingga ujung lup (eyepiece) berada sekitar 71 mm dari mistar ukur
di atas patok ,. ,mbil pembacaan c pada mistar ukur di atas patok , melalui lensa
objeki dan pembacaan d pada mistar ukur di atas patok 6 dengan cara yang biasa. 6ila
alat sudah tersetel dengan baik, d-c akan sama denagn b-a. 6ila alat belum ersetel dengan
baik, hitung besar koreksi pembacaan e yang harus dilakukan ( e = b+ c a). geser
benang hori-ontal ke pembacaan yang sudah dikoreksi di atas patok 6 dengan
melonggarkan sekrup pengangka vertikal koreksi dan mengencangkan sekrup yang
sebaliknya. Periksa penyetelan benang hori-ontal. %ungkin lingkaran telah terputar
selama penyetelan garis bidik.
HITUNG &''RDINAT PADA PENGU&URAN BATAS
Hitungan sudut arah dari titik yang diketahui pada sebuah garis adalah masalah
umum dalam pengukuran batas. 4ika panjang dan arah garis dari titik polygon ke sudut-
sudut bidang tanah diketahui, koordinat titik-titik sudut dapat ditentukan, serta panjang
dan sudut arah semua sisi dihitung.
'RIENTASI P'(IG'N DENGAN &''RDINAT
4ika diketahui koordinat sebuah stasiun polygon, seperti A dalam gambaar 73 F ),
dan sebuah tiik x yang kelihatan, arah garis AX dapat dihitung dan dipakai untuk
mengorintasikan transit atau teodolit di A. dalam cara ini, a-imuth dan sudu-sudut garis-
garis polygon diperoleh tanpa perlu mengadakan pengamatan astronomis. Prosedur ini
dipakai diberbagai yang mempunyai tugu-tugu titik control dan sistem koordinat.
<nstansi-instansi ederal, *egara bagian, dan lokal akhirnya akan menyediakan tugu-tugu
permanent salaing berjarak dekat yang koordinatnya berdasarkan pengukuran titik control
seksama. ?anda-tanda semacam itu akan dapat dipakai untuk penetuan lokasi titik-titik
sudut sembarang bidang tanah milik dengan teliti, baik dengan koordinat atau panjang
dan sudut arah sebenarnya.
BEDA TINGGI
a. !iat datar beda tinggi
$alam siat datar langsung, suatu garis bidik hori-ontal ditetapkan
dengn menggunakan dengan sebuah gelembung nivo yang sensiti didalam
sebuah tabung nivo. ,lat tersebut didatarkan dan garis bidik disejajarkan
dengan sumbu nivo. Pada saat mendatar, garis biidik alat tersebut
menggambarkan sebuah bindang hori-ontal, apabila alat itu tadi diputar
terhadap sumbu vertikalnya.
b. 4arak bidik
6iasanya, untuk siat datar derajat tiga dan lebih tinggi, jarak bidik
diusahakan tetap dibawah 5'm ( )8't ), kecuali bila terpaksa melewati
halangan. @ntuk lintasan dengan derajat ketepatan lebih rendah, jarak
bidik tergantung pada kualitas optis dari alat dan kondisi atmostir, dengan
maksimum kira-kira 011m ( 7C0/t ) pada kondisi yang tebal.
!ebelum siat datar dimulai, pemeriksaaan medan (terrain ) harus
dilakukan titik lokasi yang mungkin untuk titik-titik stasiun dan titik-titik
alat dapat dicatat. #emiringan medan merupakan pertimbangan uama
dalam siat datar. ?inggi alat normal pada setiap penyetelan alat adalah
kira-kira 7.'m ( 8.Ct ). Pada kemiringan yang curam tanah dima alat
disetel tidak bleh dari 7-7.'m (3.3- 8.C) dibawah ttitik stasiun untuk bidik
belakang.
&ERANG&A H'RIZ'NTA(
,pabila dipehatikan rumus dasr ilmu ukur tanah, dapat disimpulkan bahwa
koordinat titik selanjutnya hanyalah didapattkan apabila koordinat titik sebelumnya telah
diketahui. $engan demikian apabila maslahnya terus ditarik mundur, maka yang menjadi
pangkal masalah adalah koordinat titik dan sudut jurusan yang paling awal artinya kedua
besaran ini adalah tetap diketahui sebelumnya. Pengertian diketahui disini dapat diartikan
sebagai diber<kan (given) yang maksudnya adalah telah diukur dalam pengukuran yang
lalu, dan ukuran tersebut tidak terkait dengan ukuran yang diselenggrakan sekarang. ,tau
pernyataan diketahui tersebut dapat pula diartikan sebagai dinyatakan sembarang.
,pabila diketahui koordinat dua titik, maka untuk menentukan koordinat titik-titik
lainnya dibutuhkan sudut dan jarak yang dibentuk antara titik yang bersangkuatan. !etiap
pengukuran poligon perlu selalu disediakan titik-titik kontrol yang umumnya berada pada
akhir dari jalur pengukuran tersebut.
.ambar. Poligon tertutup
Pada pengukuran polygon tertutup sudut banyak terebut membentuk suatu segi
banyak. Hal yang sama dilakukan juga, yaiut pengukuran sudut dan jarak diantara titik-
titiknya. $alam bentuk kerangka sebagai polygon tertutup ini, pengukuran kontrolnya,
dapat dilakuakn dititik awal saja, karena titik tersebut juga merupaka titik akhir dari
pengukuran kerangka tersebut.
&ERANG&A )ERTI&A(