Anda di halaman 1dari 16

1

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. BU
Usia : 27 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Status pernikahan : Belum menikah
Pendidikan : STM
Pekerjaan : Teknisi
Alamat : Pondok Gede, Jakarta

II. RIWAYAT PSIKIATRI
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 15 September 2014, pukul
11.30 di Poliklinik Psikiatri RSUP Persahabatan.

A. KELUHAN UTAMA
Pasien datang ke Poliklinik Psikiatri RSUP Persahabatan untuk kontrol.

B. RIWAYAT GANGGUAN SEKARANG
Pasien datang ke Poliklinik Psikiatri RSUP Persahabatan dengan diantar oleh
mobil kantor untuk kontrol pertama kalinya setelah pertama kali berobat 2
minggu yang lalu.
Dua minggu yang lalu, pasien datang ke Poliklinik Psikiatri RSUP Persahabatan
dengan mengeluh susah tidur. Pasien bisa tidak tidur selama 2 hari. Saat
menonton televisi, pasien merasa bahwa penyiar di semua stasiun televisi selalu
berkata-kata yang menyindir pasien. Pasien juga merasa bahwa orang-orang
disekitarnya membicarakan pasien dan menganggap dirinya aneh. Pada saat
bertemu dengan mobil polisi, pasien merasa bahwa ada polisi yang membuntuti
pasien. Pasien juga merasa apa yang sedang dipikirkannya tersiar ke luar dan
orang lain dapat mengetahuinya. Perasaan-perasaan tersebut timbul sejak 1
bulan yang lalu. Pasien tidak merasa pikiran dan perasaannya dikendalikan oleh
orang lain, maupun disisipi atau diserap oleh dunia luar. Pasien merasa dirinya
nyata adalah dirinya sendiri, dan pasien tidak merasa lingkungannya asing
(tidak nyata). Pasien tidak pernah mendengar suara-suara bisikan, melihat
2

penampakan-penampakan, merasakan perabaan atau sensasi merayap di
tubuhnya, mencium bau-bau yang tidak nyata, ataupun merasakan pengecapan-
pengecapan yang tidak nyata di lidahnya. Pasien masih mampu mengerjakan
aktivitasnya sehari-hari sendiri tanpa bantuan orang lain.
Riwayat pendidikan pasien baik mulai dari jenjang SD, SMP, hingga STM.
Pasien selalu naik kelas. Saat bersekolah dahulu, pasien bukan merupakan
orang yang pandai bersosialisasi. Pasien tidak memiliki banyak teman, hanya
memiliki beberapa teman dekat. Pasien juga kurang mampu bersosialisasi
dengan tetangga sekitar.
Pasien tinggal di rumah milik keluarganya sendiri di daerah Pondok Gede.
Keluarga pasien terdiri dari 5 anggota keluarga, yaitu ayah, ibu, dan 3 kakak
perempuan. Ketiga kakak perempuan pasien sudah menikah dan tinggal
bersama suaminya di rumahnya masing-masing. Kedua orangtua pasien sudah
bercerai 7 tahun yang lalu. Menurut pasien, kedua orangtuanya bercerai karena
ibu pasien memiliki ketertarikan dengan pria lain. Saat itu, pasien tidak terima
dan merasa kesal dengan perceraian tersebut. Pasien lebih membela ibu pasien.
Setelah perceraian tersebut, pasien memilih tinggal bersama ibunya di rumah
keluarganya. Ayah pasien tinggal dengan salah satu kakak perempuan pasien.
Ibu pasien lalu menikah kembali dengan pria lain. Pasien menjadi sering
bertengkar dengan ibu pasien. Ibu pasien dan suami barunya lalu memilih
tinggal di rumah lain. Saat itu, ayah pasien kembali tinggal bersama pasien.
Namun sejak ayahnya terkena stroke, ayah pasien kembali tinggal bersama
kakak perempuannya. Ibu pasien sekali-sekali mengunjungi pasien dan
menginap di rumah pasien.
Pasien saat ini bekerja sebagai teknisi generator di kantornya. Gaji pasien
dirasakan cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Pasien memiliki
beberapa teman dekat di kantornya. Sejak merasa dirinya aneh, pasien sudah
tidak masuk kerja selama 1 bulan, namun saat ini pasien sudah mulai bekerja
kembali. Pasien tidak memiliki riwayat menggunakan obat-obat terlarang
ataupun alkohol dalam 1 tahun terakhir ini. Pasien mengaku beragama Islam,
namun pasien masih belum rutin melaksanakan sholat 5 waktu dan sholat
Jumat. Saat mendengarkan khutbah Jumat, pasien tidak merasa khatib
menyindir pasien.
3

Pada saat diberikan pertanyaan mengenai pengetahuan umum, yaitu siapa
presiden Indonesia terpilih?, pasien menjawab Jokowi. Pada saat diberikan
pertanyaan mengenai kecerdasan berhitung, yaitu berapa 100 7?, pasien
menjawab 93. Pada saat diberikan pertanyaan mengenai orientasi waktu
yaitu saat ini pagi, siang, atau malam hari?, pasien menjawab siang hari.
Pada saat diberikan pertanyaan mengenai orientasi tempat yaitu saat ini sedang
berada dimana?, pasien menjawab di RSUP Persahabatan. Pada saat
diberikan pertanyaan mengenai orientasi orang yaitu saya siapa?, pasien
menjawab dokter. Pada saat diberikan pertanyaan mengenai orientasi situasi
yaitu apa yang sedang kita lakukan?, pasien menjawab kita sedang
melakukan tanya jawab. Pada saat diberikan pertanyaan untuk menilai daya
ingat jangka panjang, yaitu dimana anda bersekolah dahulu?, pasien
menjawab saya bersekolah SD, SMP, dan STM di Klender. Pada saat
diberikan pertanyaan untuk menilai daya ingat jangka pendek, yaitu tadi
berangkat ke sini menggunakan apa?, pasien menjawab diantar dengan mobil
kantor. Pada saat diberikan pertanyaan untuk menilai daya ingat segera, yaitu
coba ulang kembali 5 nama kota berikut, Jakarta, Cirebon, Semarang,
Yogyakarta, dan Surabaya, pasien dapat mengulang menyebutkannya secara
berurutan. Pada saat diberikan pertanyaan untuk menilai pikiran abstrak, yaitu
apa makna peribahasa tong kosong nyaring bunyinya dan air susu dibalas air
tuba?, pasien menjawab omong doang dan kebaikan dibalas dengan
kejahatan. Pada saat diberikan pertanyaan untuk menilai uji daya nilai, yaitu
jika saat berangkat kerja dan anda akan menyeberang, lalu anda melihat
seorang anak kecil berusia 6 tahun ingin menyeberang juga, apa yang akan anda
lakukan?, pasien menjawab akan membantu menyeberang.
Pasien memiliki hobi mendengarkan musik, dan terkadang senang bermain
gitar. Keinginan pasien saat ini adalah bisa tetap bekerja. Pasien pernah
berpacaran beberapa tahun yang lalu, namun saat ini sudah putus karena alasan
ketidakcocokan. Saat ini pasien belum mau memiliki hubungan lagi dengan
lawan jenis.
Atasan pasien di perusahaan tempatnya bekerja sangat mendukung usaha
penyembuhan penyakit pasien, yaitu dengan salah satunya mengantar pasien
berobat pertama kali 2 minggu yang lalu. Pasien memiliki pemahaman bahwa
4

dirinya sakit, namun tidak mengetahui apa penyebabnya. Pasien ada keinginan
untuk sembuh dari penyakitnya dan tidak dianggap aneh lagi oleh orang
sekitarnya.
Obat yang diberikan oleh dokter saat berobat 2 minggu yang lalu dirasakan
pasien dapat mengurangi gejala-gejala yang dialaminya. Pasien saat ini sudah
tidak sulit tidur lagi. Selain itu, pasien sudah mulai bisa menepis anggapan-
anggapan perasaan dibicarakan oleh orang-orang sekitarnya, dengan cara tidak
terlalu memikirkannya. Pasien juga mengurangi intensitas menonton televisi
sebagai upaya agar tidak merasa disindir oleh penyiar televisi. Namun, hingga
saat ini pasien masih tetap belum bisa bersosialisasi dengan tetangga sekitar
rumahnya.

C. RIWAYAT GANGGUAN SEBELUMNYA
1. Riwayat gangguan psikiatri
Tidak ada gangguan psikiatri sebelumnya.

2. Riwayat gangguan medis
Tidak ada gangguan medis sebelumnya.

3. Riwayat gangguan zat psikoaktif/alkohol
Pasien tidak pernah mengonsumsi zat psikoaktif atau alkohol dalam 1 tahun
terakhir.

D. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI
1. Riwayat prenatal
Riwayat kehamilan dan persalinan pasien tidak diketahui.

2. Riwayat masa kanak-kanak dan remaja
Riwayat masa kanak-kanak dan remaja pasien tidak diketahui.

3. Riwayat pendidikan
5

Pasien menempuh jenjang pendidikan SD, SMP, dan STM dengan baik.
Pasien selalu naik kelas. Pasien hanya memiliki sedikit teman saat
bersekolah karena kurang mampu bersosialisasi.

4. Riwayat pekerjaan
Pasien saat ini bekerja sebagai teknisi generator di kantornya. Gaji
dirasakan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

5. Riwayat pernikahan
Pasien belum menikah, dan belum memiliki keinginan untuk menikah saat
ini.

6. Riwayat agama
Pasien beragama Islam dan mengaku masih belum teratur mengerjakan
sholat 5 waktu dan sholat Jumat.

7. Aktivitas sosial
Pasien jarang bersosialisasi dengan tetangga sekitar karena pasien merasa
dibicarakan oleh tetangga. Pasien juga hanya memiliki sedikit teman karena
kurang pandai bergaul.

E. HUBUNGAN DENGAN KELUARGA
Hubungan pasien dengan keluarganya kurang harmonis. Pasien saat ini
terkadang tinggal bersama ibunya. Selain itu, pasien juga tidak terlalu dekat
dengan ayah dan saudara-saudaranya.

F. RIWAYAT KELUARGA
Tidak ada anggota keluarga yang memiliki gangguan psikiatri yang sama
dengan pasien.

G. RIWAYAT SITUASI SOSIAL SEKARANG
Pasien adalah seorang laki-laki, berusia 27 tahun, dan merupakan anak ke-4 dari
4 bersaudara. Pasien saat ini belum menikah. Pasien tinggal sendiri di rumah
milik keluarganya, namun sekali-kali ibunya berkunjung ke rumahnya.
6

Hubungan pasien dengan anggota keluarga lain kurang harmonis. Pasien juga
hanya memiliki sedikit teman di tempat kerjanya. Pasien kurang mampu
bersosialisasi dengan tetangga di lingkungan rumahnya. Pasien sudah bekerja
sebagai teknisi generator. Biaya hidup pasien sehari-hari berasal dari gajinya
sendiri.

H. PERSEPSI PASIEN TERHADAP DIRINYA
Pasien hanya memiliki satu keinginan, yaitu tetap dapat bekerja. Pasien belum
mau memiliki hubungan dengan lawan jenis saat ini.

III. STATUS MENTAL
A. DESKRIPSI UMUM
1. Penampilan
Pasien laki-laki berusia 27 tahun, penampilan tampak sesuai dengan
usianya, berpakaian cukup rapi, perawatan diri baik, ekspresi tenang,
proporsi tubuh normal, dan warna kulit sawo matang.

2. Kesadaran
Kesadaran umum : compos mentis
Kontak psikis : kurang mampu berkomunikasi dengan baik

3. Perilaku dan aktivitas psikomotor
Cara berjalan : baik
Aktivitas psikomotor : pasien kooperatif, kontak mata kurang baik, tidak
terdapat gerakan involunter, pasien kurang fokus,
dan kurang mampu menjawab pertanyaan dengan
baik.

4. Pembicaraan
Kuantitas : Kurang baik, pasien kurang mampu menjawab pertanyaan
pemeriksa dengan baik dan sulit mengungkapkan isi hatinya
dengan jelas.
Kualitas : Bicara tidak spontan, artikulasi jelas, volume bicara pelan,
pembicaraan kurang terarah namun dapat dimengerti.
7


5. Sikap terhadap pemeriksa
Pasien kooperatif, bisa diajak berkomunikasi.

B. KEADAAN AFEKTIF
Mood : takut
Afek : sempit
Keserasian : mood dan afek serasi
Empati : pemeriksan tidak dapat merasakan perasaan pasien saat ini

C. FUNGSI INTELEKTUAL/KOGNITIF
1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum, dan kecerdasan
a. Taraf pendidikan
Riwayat pendidikan pasien baik, mulai dari SD, SMP, dan STM. Pasien
selalu naik kelas.

b. Pengetahuan umum
Baik, pasien mampu menjawab dengan tepat saat ditanya mengenai
siapa presiden Indonesia yang terpilih.

c. Kecerdasan
Baik, pasien mampu menjawab dengan tepat saat ditanya mengenai soal
berhitung.

2. Daya konsentrasi
Baik, pasien dapat mengikuti wawancara dengan baik dari awal hingga
selesai. Selain itu, pasien juga menjawab dengan benar pertanyaan soal
berhitung.

3. Orientasi
a. Waktu
Baik, pasien mengetahui waktu berobat saat siang hari.

b. Tempat
8

Baik, pasien mengetahui bahwa dirinya sedang berada di RSUP
Persahabatan.

c. Orang
Baik, pasien mengetahui bahwa pemeriksa adalah dokter.

d. Situasi
Baik, pasien mengetahui bahwa pemeriksa sedang melakukan tanya
jawab mengenai penyakitnya kepada dirinya.

4. Daya ingat
a. Daya ingat jangka panjang
Baik, pasien dapat mengingat bahwa dahulu pasien bersekolah SD,
SMP, dan STM di daerah Klender.

b. Daya ingat jangka pendek
Baik, pasien dapat mengingat bahwa pasien diantar ke RSUP
Persahabatan menggunakan mobil kantor.

c. Daya ingat segera
Baik, pasien dapat menyebutkan kembali 5 nama kota yang disebutkan
oleh pemeriksa secara berurutan, yaitu Jakarta, Cirebon, Semarang,
Yogyakarta, dan Surabaya.

d. Akibat hendaya daya ingat
Tidak terdapat hendaya daya ingat pada pasien.

5. Pikiran abstrak
Baik, pasien mengerti makna peribahasa tong kosong nyaring bunyinya
dan air susu dibalas dengan air tuba.

6. Bakat kreatif
Pasien memiliki hobi mendengarkan musik dan bermain gitar.

9

7. Kemampuan menolong sendiri
Baik, pasien dapat mengerjakan segala sesuatunya sendiri dan mampu
mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain.

D. GANGGUAN PERSEPSI
1. Halusinasi dan ilusi
Halusinasi : tidak terdapat halusinasi
Ilusi : tidak terdapat ilusi

2. Depersonalisasi dan derealisasi
Depersonalisasi : tidak terdapat depersonalisasi
Derealisasi : tidak terdapat derealisasi

E. PROSES BERPIKIR
1. Arus pikir
Produktivitas : kurang baik, pasien tidak mampu menjawab spontan
saat diajukan pertanyaan oleh pemeriksa.
Kontinuitas : kurang baik, pembicaraan dengan pasien tidak
sampai ke tujuan, pasien tidak menjawab pertanyaan
dengan cukup jelas dan koheren.
Hendaya : tidak terdapat hendaya berbahasa pada pasien.

2. Isi pikiran
Preokupasi : tidak ada.
Gangguan pikiran : terdapat waham kejar (persekutorik), thought
broadcasting, dan waham rujuk (delusion of
reference) pada pasien.

F. PENGENDALIAN IMPULS
Baik, pasien mampu mengendalikan dirinya sendiri serta melakukan wawancara
dengan baik.

G. DAYA NILAI
1. Norma sosial
10

Norma sosial pada pasien kurang baik, pasien kurang mampu bersosialisasi
dengan baik terhadap lingkungan sekitarnya.

2. Uji daya nilai
Uji daya nilai pada pasien baik, ketika pasien diberikan pertanyaan
perumpamaan jika saat berangkat kerja dan anda akan menyeberang, lalu
anda melihat seorang anak kecil berusia 6 tahun ingin menyeberang juga,
apa yang akan anda lakukan?, lalu pasien menjawab akan membantu
menyeberang.

3. Penilaian realitas
Terdapat gangguan penilaian realitas pada pasien, yaitu adanya waham kejar
(persekutorik), thought broadcasting, dan waham rujuk (delusion of
reference).

H. PERSEPSI PEMERIKSA TERHADAP PASIEN
Pasien saat ini sadar bahwa dirinya sakit, namun pasien tidak mengetahui apa
penyebabnya.

I. TILIKAN/I NSI GHT
Tilikan derajat 4, dimana pasien menyadari dirinya sakit dan butuh bantuan,
namun tidak memahami penyebab sakitnya.

J. TARAF DAPAT DIPERCAYA
Pemeriksa memperoleh kesan secara menyeluruh bahwa jawaban pasien dapat
dipercaya, karena pasien konsisten dalam menjawab pertanyaan.

IV. PEMERIKSAAN FISIK
A. STATUS GENERALIS
Keadaan umum : baik, compos mentis
Tanda vital
Tekanan darah : 120/75 mmHg
Frekuensi nadi : 72 kali/menit
Frekuensi nafas : 20 kali/menit
11

Suhu : afebris
Bentuk badan : kesan dalam batas normal
Sistem kardiovaskular : kesan dalam batas normal
Sistem respiratorius : kesan dalam batas normal
Sistem muskuloskeletal : kesan dalam batas normal
Sistem gastrointestinal : kesan dalam batas normal
Sistem urogenital : kesan dalam batas normal
Gangguan khusus : kesan dalam batas normal

B. STATUS NEUROLOGIS
Saraf kranial : kesan dalam batas normal
Saraf motorik : kesan dalam batas normal
Sensibilitas : kesan dalam batas normal
Susunan saraf vegetatif : kesan dalam batas normal
Fungsi luhur : kesan dalam batas normal
Gangguan khusus : kesan dalam batas normal

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
Pasien adalah seorang laki-laki berusia 27 tahun, datang ke Poliklinik Psikiatri
RSUP Persahabatan untuk kontrol pertama kalinya.
Dua minggu yang lalu, pasien datang mengeluh susah tidur. Keluhan timbul
sejak 1 bulan yang lalu.
Pasien merasa bahwa penyiar televisi seperti berbicara menyindir pasien.
Pasien juga merasa bahwa orang-orang disekitarnya membicarakan pasien dan
menganggap dirinya aneh. Pasien merasa bahwa ada polisi yang membuntuti
pasien. Pasien juga merasa apa yang sedang dipikirkannya tersiar ke luar dan
orang lain dapat mengetahuinya.
Saat anamnesis, kontak mata kurang baik dan afek sempit.
Status mentalis, terdapat waham kejar (persekutorik), thought broadcasting,
dan waham rujuk (delusion of reference). Tidak terdapat halusinasi dan ilusi.
Fungsi kognitif dan pengendalian impuls baik. Orientasi waktu, tempat, orang,
dan situasi baik. Daya ingat jangka panjang, jangka pendek, dan segera baik.
Di keluarga tidak ada yang mengalami keluhan yang sama dengan pasien.
Pasien tidak memiliki penyakit medis yang menyebabkan disfungsi otak.
12

Pasien tidak mengonsumsi zat psikoaktif atau alkohol dalam kurun waktu 1
tahun terakhir ini.
Pasien mengenyam jenjang pendidikan SD, SMP, dan STM dan selalu naik
kelas. Selama bersekolah tidak memiliki banyak teman.
Keadaan umum pasien baik, kesadaran compos mentis, dengan tekanan darah
120/75 mmHg, frekuensi nadi 72 kali/menit, frekuensi pernafasan 20
kali/menit, dan suhu afebris.
Pasien belum menikah dan saat ini belum mau menjalin hubungan dengan
lawan jenis.
Pasien sulit bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan hanya memiliki
sedikit teman.
Orang tua pasien sudah bercerai 7 tahun yang lalu dan pasien sempat tidak bisa
menerima perceraian tersebut. Hubungan pasien dengan keluarga kurang
harmonis.
Pasien saat ini tinggal sendiri di rumah milik keluarganya namun ibu pasien
sekali-kali datang menginap.
Pasien bekerja sebagai teknisi generator dan memiliki gaji yang cukup untuk
memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Pasien beragama Islam, dan masih belum rutin melaksanakan sholat 5 waktu
dan sholat Jumat.
Pasien berkeinginan agar tetap dapat bekerja.
Pada pasien ini didapatkan gejala sedang dengan disabilitas sedang.

VI. FORMULASI DIAGNOSIS
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan yang telah dilakukan pada pasien,
terdapat sekelompok gejala atau perilaku yang secara klinis ditemukan bermakna
sehingga menyebabkan penderitaan (distress) dan terganggunya fungsi
(disfungsi/hendaya). Oleh karena itu, pasien dikatakan menderita gangguan jiwa.

Diagnosis aksis I
Pada pasien ini, tidak terdapat penyakit atau gangguan fisik atau kondisi medis
yang dapat menyebabkan disfungsi otak. Hal ini dapat dinilai dari tingkat
kesadaran, fungsi kognitif, daya konsentrasi, dan orientasi pasien yang masih baik,
sehingga pasien bukan tergolong penderita gangguan mental organik (F.0).
13

Pada pasien ini, tidak didapatkan riwayat penggunaan zat psikoaktif ataupun
alkohol dalam kurun waktu 1 tahun terakhir, sehingga pasien bukan tergolong
penderita gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif
(F.1).
Pada pasien ini, ditemukan adanya gangguan dalam menilai realita sehingga pasien
tergolong penderita gangguan psikotik (F.2).
Pada pasien ini, ditemukan adanya gangguan dalam menilai realita yang sudah
berlangsung lebih dari 1 bulan, sehingga pasien tergolong penderita skizofrenia
(F.20).
Pada pasien ini, ditemukan adanya gangguan dalam menilai realita yang berupa
waham kejar (persekutorik), thought broadcasting, dan waham rujuk (delusion of
reference), sehingga pasien tergolong penderita skizofrenia paranoid (F.20.0).

Diagnosis aksis II
Pada pasien ini, tumbuh kembangnya normal. Sebelum sakit, pasien masih dapat
berinteraksi dengan orang lain sehingga pasien dikatakan tidak terdapat gangguan
kepribadian. Pasien menyelesaikan jenjang pendidikannya hingga STM dan selama
bersekolah selalu naik kelas. Selain itu, fungsi kognitif pasien juga baik, sehingga
dikatakan tidak terdapat retardasi mental. Oleh karena tidak terdapat gangguan
kepribadian maupun retardasi mental, tidak ada diagnosis aksis II pada pasien.

Diagnosis aksis III
Pada pasien ini tidak didapatkan gangguan medis, maka tidak ada diagnosis aksis
III pada pasien.

Diagnosis aksis IV
Pasien seorang laki-laki berusia 27 tahun. Pasien belum menikah dan saat ini
tinggal sendiri, namun terkadang ibu pasien menjenguk dan menginap di rumah
pasien. Ibu pasien sudah bercerai 7 tahun yang lalu dengan ayahnya, dan pasien
sempat tidak bisa menerima perceraian tersebut. Hubungan pasien dengan anggota
keluarga kurang harmonis. Pasien juga sulit bersosialisasi dengan lingkungan
sekitar dan hanya memiliki sedikit teman. Saat ini, pasien bekerja sebagai teknisi
generator dan penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
14

Oleh karena itu, disimpulkan bahwa pasien memiliki masalah keluarga dan
masalah kurang dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

Diagnosis aksis V
Pada pasien ini didapatkan gejala sedang dengan disabilitas sedang, sehingga
dinilai GAF scale60-51 pada pasien.

VII. EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis I : Skizofrenia paranoid
Aksis II : Tidak ada diagnosis
Aksis III : Tidak ada diagnosis
Aksis IV : Masalah keluarga (hubungan dengan keluarga kurang harmonis) dan
masalah sosial (sulit bersosialisasi dengan lingkungan sekitar)
Aksis V : GAF scale 60-51

VIII. DAFTAR PROBLEM
Organobiologis : Tidak ada
Psikologis : Pasien merasa disindir oleh penyiar televisi. Pasien juga merasa
dibicarakan oleh tetangga dan orang-orang disekitarnya. Selain
itu, pasien juga merasa diikuti oleh polisi.
Sosioekonomi : Tidak ada

IX. PROGNOSIS
Prognosis ke arah baik:
1. Pasien mempunyai keinginan untuk sembuh.
2. Pasien memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang cukup untuk
menghidupinya.

Prognosis ke arah buruk:
1. Pasien sulit mengungkapkan pikiran-pikirannya kepada orang lain.
2. Pasien tidak mempunyai keinginan untuk memiliki hubungan dengan lawan
jenis.

Berdasarkan data-data tersebut, dapat disimpulkan bahwa prognosis pasien:
15

Ad vitam : ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia

X. TERAPI
Psikofarmaka:
1. Risperidon 2 x 2 mg
2. Lorazepam 1 x 1 mg (malam hari)

Psikoterapi:
1. Menyarankan agar pasien lebih rileks.
2. Menyarankan agar pasien lebih banyak beribadah dan mendekatkan diri kepada
Tuhan Yang Maha Esa.
3. Menyarankan agar pasien bercerita dengan keluarga ataupun teman dekat
mengenai hal-hal yang mengganggu pikiran pasien.
4. Menyarankan agar pasien meminta ditemani keluarga ataupun teman dekat saat
merasa ketakutan

















16

DAFTAR PUSTAKA

1. Elvira, S.D. dan Hadisukanto G. (2013) Buku Ajar Psikiatri, ed. 2, Jakarta: Badan
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
2. Maslim, R. (2001) Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, ed. 1, Jakarta: PT Nuh Jaya
3. Maslim, R. (2007) Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik, ed. 3,
Jakarta: PT Nuh Jaya