Anda di halaman 1dari 4

BLOK BASIC MEDICAL SCIENCE-1

SELF LEARNING RAPORT


JSGD-5
KELAINAN SISTEM RESPIRASI








Tutor:



Disusun oleh:
Adinda Yoko Prihartami
G1G012003



KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
JURUSAN KEDOKTERAN GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
PURWOKERTO

2013
Tuberkulosis
A. Gambaran Umum
Menurut Price dan Wilson (2005), Tuberkulosis merupakan penyakit
infeksi yang disebabkan oleh masuknya kuman jenis Myobacterium
tuberculosis ke dalam tubuh. Myobacterium tuberculosis dapat masuk ke
tubuh melalui saluran pernapasan, saluran pencernaan, dan luka terbuka pada
kulit. Apabila bakteri tersebut memasuki sistem pernapasan secara inhalasi
akan menibulkan reaksi hipersensitivitas selular sistem imun, yaitu makrofag
dan sel T. Gejala yang sering ditimbulkan antara lain batuk berkepanjangan
(lebih dari 3 minggu), nyeri dada, dan hemoptosis (keluarnya darah akibat
perdarahan paru atau saluran bronkus).
B. Etiologi
Menurut Sudoyo,dkk. (2010) Myobacterium tubercolusis adalah
sejenis kuman berbentuk batang (basil) dan termasuk bakteri tahan asam
yang merupakan penyebab dari penyakit Tuberkulosis. Bakteri ini bersifat
dormant dan aerob. Sifat dormant membuat bakteri dapat mengaktivasi
kembali penyakit Tuberkulosis. Sedangkan sifat aerob pada Myobacterium
tubercolusis mengakibatkan kuman lebih menyenangi jaringan dengan
kandungan oksigen tinggi. Oleh karena itu bagian yang sering terserang
penyakit ini ialah apikal paru-paru, meskipun Myobacterium tubercolusis
dapat menyerang seluruh bagian tubuh. Bakteri lain yang tergolong dalam
Myobacterium tubercolusae complex adalah Myobacterium bovis dan varian
lain yang dibagi berdasarkan perbedaan secara epidemiologi.
C. Patofisiologi
Menurut DeLong dan Bukhart (2013), Droplet nuclei yang
mengandung Myobacterium tubercolusis (partikel infeksius) dapat masuk
melalui saluran pernapasan dan dibawa ke alveoli. Keberadaan bakteri dalam
tubuh memicu makrofag untuk melakukan fagositosis. Beberapa kuman yang
bertahan akan menetap kemudian berkembang biak dan akan terlepas ketika
makrofag rusak. Respon sistem imun terhadap proses tersebut ialah
menimbulkan reaksi inflamasi. Reaksi ini akan membentuk granuloma atau
tuberkel. Hal ini disebut sebagai Tuberkolusis Primer. Apabila individu
yang terpapar bakteri TB memiliki sistem imun yang baik, maka individu
tersebut dikatakan memiliki Infeksi Tuberkulosis Laten.
Menurut Sudoyo,dkk. (2010), individu dengan Infeksi Tuberkulosis
Laten memiliki bakteri TB yang dormant. Bakteri akan menimbulkan
penyakit Tuberkulosis apabila sistem kekebalan tubuh mengalami penurunan
karena terserang penyakit lain atau pun malnuitrisi. Proses ini disebut
Tuberkolusis Sekunder.
D. Manifestasi Klinis
Menurut Sudoyo,dkk. (2010), gejala-gejala klinis yang biasanya
terdapat pada pasien Tuberkulosis ialah demam, batuk darah, sesak napas,
dan nyeri dada. Pada pemeriksaan radiologis, akan terlihat bercak-bercak
seperti awan yang merupakan lesi, disebut dengan tuberkuloma. Pemeriksaan
sputum dan Tes Tuberkulin dapat dilakukan untuk memastikan apakah
individu tersebut positif terkena Tuberkulosis atau tidak.
E. Manifestasi Oral
Menurut DeLong dan Bukhart (2013), manifestasi klinis yang
biasanya terlihat pada pasien Tuberkolusis adalah lesi pada oral. Lesi ini
dapat diakibatkan oleh infeksi sputum pada oral yang terjadi saat batuk. Lesi
ini dapat muncul sebagai ulcer yang muncul pada lidah atau permukaan
mukosa.
F. Hubungan dengan Kedokteran Gigi
Menurut DeLong dan Bukhart (2013), dokter gigi perlu melakukan
kontrol terhadap penularan penyakit Tuberkolusis dalam lingkungan kerja.
Pasien dengan Tuberkolusis sebaiknya diberikan perawatan di tempat yang
memiliki sistem ventilasi efektif seperti filtrasi high-efficiency particular
(HEPA) dan ultraviolet germidical irradiation (UVGI). Perawatan yang perlu
dilakukan biasanya dengan pemberian obat rifampin dan isoniazid.



Referensi
1. DeLong, L., Bukhart, N.W., 2013, General Oral and Pathology for The
Dental Hygienist, Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia.
2. Price, S.A., Wilson, L.M., 2005, Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit, Edisi 6, EGC, Jakarta.
3. Sudoyo,A.W., Setyohadi,B., Alwi, I., Simadibrata, M., Setiati, S., 2010, Ilmu
Penyakit Dalam, Internal Publishing, Jakarta.