Anda di halaman 1dari 13

Dinamika Interaksi Sosial Masyarakat Keturunan Madura di Dusun Pijetan,

Desa Blayu, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang Tahun 1950-2012



Oleh: Qaharrudin Widyarto
1


Abstrak: Masyarakat keturunan Madura merupakan salah satu
kelompok masyarakat yang hidup diantara Suku J awa yang
memiliki identitas etnik Madura di dalam kehidupannya, identitas
yang berbeda saat berinteraksi dengan Suku J awa. Dari interaksi
dengan identitas etnik J awa yang dominan tersebut menjadikan
masyarakat keturunan Madura mengalami perubahan-perubahan
yang mempengaruhi identitas etnik yang mereka akui. Perubahan
tersebut terjadi pada bidang mata pencaharian, pendidikan, agama,
tradisi, dan bahasa, yang dari perubahan ini mempengaruhi dan
dipengaruhi oleh interaksi yang dilakukan oleh masyarakat.
Penggalian data dilakukan dengan menggunakan metode penelitian
sejarah (historical method). Hasil penelitian adalah (1) masyarakat
kampung Madura terbentuk dan berkumpul dalam satu wilayah
karena adanya ikatan kekerabatan yang kuat, serta menempati
wilayah milik migran Madura pertama di wilayah ini; (2) interaksi
sosial yang terjadi dipengaruhi oleh tradisi, bahasa, agama,
pendidikan dan pekerjaan, yang kemudian menyebabkan
pemudaran identitas etnik Madura; (3) pembelajaran sejarah yang
mengedepankan pemahaman siswa terhadap lingkungan sekitarnya
adalah mutlak dibutuhkan.

Kata kunci: dinamika interaksi sosial, masyarakat keturunan Madura, Identitas
etnik

PENDAHULUAN
Desa Blayu merupakan salah satu daerah di kabupaten Malang yang
sebagian penduduknya memiliki hubungan etnisitas dengan Suku Madura. Leluhur
mereka adalah migran dari Bangkalan dan Sampang yang menempati wilayah ini
sekitar zaman perang kemerdekaan Indonesia. Keberadaan mereka di wilayah Desa
Blayu dan menjadikan sebagian wilayahnya sebagai daerah masyarakat beridentitas
etnik Madura, daerah ini disebut oleh penduduk dengan sebutan Kampung Madura.

1
Mahasiswa jurusan Sejarah, FIS UM Angkatan 2007
Kampung Madura yang telah ada selama hampir enam puluh tahun lebih ini
menjadi saksi dinamika masyarakat Madura selama beberapa generasi, dari
masyarakat migran yang hidup dalam kelompok sampai masyarakat yang membaur
dengan masyarakat lain yang berbeda etnik dan menjadi masyarakat keturunan
Madura.
Masyarakat keturunan Madura memiliki identitas dua etnik, yaitu etnik
J awa dan etnik Madura, yang masing-masing identitas diterapkan sesuai dengan
kondisi yang dihadapi. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa identitas etnik
sebagai Orang Madura kalah dominan dengan status sebagai bagian dari Etnik
J awa. Sebagian dari mereka dapat dikatakan sudah tidak memiliki identitas etnik
Madura, dan sebagian lagi masih memiliki identitas tersebut dalam bentuk tradisi
dan bahasa. Hal ini disebabkan oleh interaksi yang dilakukan dalam waktu yang
lama dengan etnik J awa, interaksi yang dilakukan perwujudan peran mereka
sebagai masyarakat Desa Blayu, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Perjalanan
interaksi antar kedua masyarakat dipengaruhi oleh kondisi sosial budaya
masyarakat, yang di dalamnya terdapat moment perubahan pada waktu-waktu
tertentu, perubahan yang menjadikan semakin dinamisnya interaksi yang harus
dilakukan masyarakat tersebut.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana sejarah datangnya
etnik Madura ke wilayah Desa Blayu, kemudian untuk mengetahui pengaruh
dinamika interaksi sejak kedatangan etnik Madura sampai dewasa ini terhadap
identitas etnik sebagai keturunan Madura, sehingga dari hal tersebut dapat
dirumuskan nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam pendidikan kemasyarakatan
maupun pendidikan dalam bentuk formal.
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini digunakan digunakan metode penelitian sejarah
(historical method) dengan alasan data yang digali adalah sejarah dan
perkembangan suatu masyarakat selama beberapa periode. Adapun langkah
penelitian sejarah yang digunakan peneliti sesuai dengan metode Kuntowijoyo
(2005:91) yaitu melakukan pemilihan topik, kemudian dilanjutkan dengan
heuristic, yaitu upaya penelitian untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah baik
berupa data lisan, dokumen tertulis maupun artifact. Setelah data terkumpul
dilakukan verifikasi untuk menilai dan meneliti data sejarah yang telah ditemukan,
terutama menyangkut otensitas dan kredibilitas data tersebut. Setelah data dianggap
sudah benar dilakukan penafsiran dan penyimpulan dari seluruh data yang didapat
untuk mendapatkan keterangan yang satu, keterangan tersebut kemudian ditulis
dalam bentuk karya tulis yang selaras dan kronologis.

HASIL PEMBAHASAN
Keberadaan masyarakat keturunan Madura di Dusun Pijetan, Desa Blayu,
Kecamatan Wajak tidak terlepas dari kedatangan Suku Madura yang pertama kali
dan tinggal di wilayah ini yaitu Haji Idris bersama keluarganya, yang diperkirakan
diperkirakan terjadi pada sekitar tahun 1940-an. Kedatangan mereka di daerah
Malang merupakan bagian dari migrasi yang dilakukan oleh sebagian Suku
Madura, khususnya daerah Turen. Berdasarkan Volkstelling 1930, daerah Turen
merupakan wilayah terbesar kedua yang menjadi wilayah migrasi masyarakat
Madura di wilayah Malang, dengan prosentase migrasi 56,2% dengan penduduk
J awa hanya 29,5%, dengan mayoritas masyarakat Madura pendatang berasal dari
Sampang dengan jumlah 6.832 orang, sedangkan dari Bangkalan berjumlah 6.420
orang.
Pada awal tiba di daerah yang sekarang menjadi wilayah Dusun Pijetan,
Desa Blayu, keadaan wialayah yang ada adalah penduduknya masih berjumlah
sedikit karena pemukiman penduduk lebih terkonsentrasi pada daerah yang dekat
jalan besar dan masih berbentuk bukit yang terdapat pepohonan yang lebat. Haji
Idris dan keluarganya kemudian membuka lahan di daerah itu (babat alas/bedah
kerawang) dan menempati wilayah tersebut dan menjadi cikal bakal terbentuknya
kampung Madura di wilayah ini.
Pada sekitar tahun 1950, migrasi Suku Madura ke wilayah ini semakin
bertambah jumlahnya, mereka menempati wilayah Dusun Pedukuhan yang
sebagian besar lahannya telah dimiliki oleh Haji Idris. Semakin banyaknya migrasi
Suku Madura tersebut disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya adanya kegiatan
toron yang dilakukan ke daerah Sampang dan Bangkalan. Salah satu dari Suku
Madura yang ikut bermigrasi adalah keluarga Haji Hasan yang kemudian menjadi
tokoh agama wilayah Desa Blayu. Kehadiran Suku Madura di wilayah ini menjadi
bagian dari masyarakat perintis dan pembangun Desa Blayu, hal inilah yang
menjadikan interaksi antara Suku J awa dan Suku Madura tidak mengalami konflik
yang didasarkan perbedaan etnik.
Setelah meninggalnya Haji Idris pada sekitar tahun 1955, masyarakat
kampung Madura masih tetap melakukan tradisi toron sebagai bentuk cara menjaga
hubungan keluarga dengan Suku Madura, hal ini menjadi bukti bahwa masyarakat
kampung Madura masih mengakui identitas etnik mereka sebagai bagian dari Suku
Madura, walaupun mereka berada di wilayah J awa dan tidak secara langsung
mengenal budaya Madura. Identitas etnik lain yang masih sering digunakan adalah
dalam penggunaan bahasa Madura dalam berinteraksi dengan sesama migran dari
Madura, mereka menjadikan bahasa Madura sebagai bahasa kelompok dan untuk
menunjukkan identitas mereka. Menurut diagram pergeseran bahasa milik Fishman
(1972) (dalam Chaer & Agustina. 2004:144) dapat dikatakan bahwa pada periode
ini merupakan periode bilingual bawahan atau masa bahasa ibu (daerah asal) masih
mendominasi dalam komunikasi sehari-hari masyarakat.
Pada awalnya, pemukiman masyarakat Madura berkumpul di wilayah
Dusun Pedukuhan Lor, sedangkan Suku J awa berada di wilayah Dusun Krajan dan
ada sebagian di wilayah Dusun Pedukuhan Kidul. Pola pemukiman tersebut
akhirnya memperkuat dan mempengaruhi identitas etnik masing-masing suku,
sehingga masyarakat Madura masih melakukan tradisi seperti yang mereka lakukan
di Pulau Madura, misalnya penyembelihan sapi saat ada hajatan dan kesenian
samaan. Di sisi lain masyarakat Madura juga belajar menggunakan budaya J awa,
demikian pula dengan Suku J awa yang belajar tentang bahasa Madura, hal ini dapat
dilihat dari adanya tradisi samaan yang diadaptasi dengan menggunakan budaya
J awa.
Seiring berjalannya waktu, Interaksi masyarakat kampung Madura dengan
Suku J awa sebagai bagian dari masyarakat Desa Blayu terus dilakukan sampai
akhirnya kedua masyarakat tersebut membaur. Dari pembauran ini, terutama dalam
bentuk pernikahan memunculkan masyarakat keturunan Madura, yaitu suatu
masyarakat yang memiliki identitas etnik Madura dan hidup diantara Suku J awa.
Selain pernikahan, interaksi juga dilakukan di bidang pendidikan dan bidang mata
pencaharian. Dari interaksi ini terjadi penyesuian-penyesuaian yang dilakukan oleh
kedua Suku untuk mencapai integrasi sebagai satu masyarakat.
Peran masyarakat kampung Madura dalam sejarah Desa Blayu sangatlah
penting, selain sebagai perintis pembangunan desa, keberadaan Haji Hasan sebagai
salah satu dari masyarakat kampung Madura dan guru agama menjadikan Suku
J awa dan Suku Madura bersikap saling menghormati. Haji Hasan bisa dikatakan
menjadi leader kampung Madura menggantikan peran Haji Idris sebagai penguasa
lokal yang telah meninggal dunia, bahkan pada peristiwa 1965 beliau menjadi
pemberi kartu hijau atau pembebasan bagi mereka yang dianggap sebagai
golongan kiri. Dari hal ini dapat dikatakan integrasi kedua masyarakat terjaga oleh
sebab adanya tokoh berpengaruh dan disegani oleh masyarakat, baik Suku Madura
maupun Suku J awa.
Dalam perkembangan selajutnya, kehidupan masyarakat kampung Madura
mulai mengalami perubahan, salah satu perubahan tersebut adalah dibukanya SD
Inpres Blayu pada sebelum tahun 1975, yang semakin meningkatkan jumlah
penduduk yang bersekolah dan semakin mendekatkan masyarakat kampung
Madura pada kehidupan J awa karena mayoritas teman sekolahnya dan gurunya
adalah Suku J awa. Adapun kondisi pendidikan sebelumnya, pendidikan masyarakat
lebih diorientasikan pada pendidikan pondok pesantren, dan yang bisa menempuh
pendidikan ini adalah mereka yang berstatus golongan atas. Selain pendidikan
formal, pendidikan agama Islam masih tetap dilakukan di masjid Dusun yang
dibimbing oleh Haji Hasan dan keturunannya, pendidikan pondok pesantren juga
masih tetap dilakukan oleh masyarakat.
Perubahan lainnya adalah pada mata pencaharian masyarakat keturunan
Madura, yaitu perubahan komoditi pertanian dari padi dan ketela menjadi
mendong. Perbedaan pola pertanian mendong dengan padi menyebabkan
perubahan pada interaksi antara pemilik pertanian dengan buruh tani, yang menjadi
lebih sering bekerjasama karena siklus tanam panen mendong terjadi dalam waktu
tiga sampai empat bulan. Selain itu, mulai banyaknya masyarakat keturunan
Madura yang bekerja di sektor perdagangan dan penambang pasir. Meningkatnya
perdagangan semakin banyak diminati masyarakat ketika mulai ramainya pasar
Wajak pada sekitar tahun 1970. Meskipun demikian mayoritas penduduk tetap
bekerja di bidang pertanian.
Dengan adanya perubahan di bidang pendidikan dan ekonomi ini membuat
masyarakat keturunan Madura semakin rutin dan intens dalam berinteraksi dengan
Suku J awa sehingga semakin mempercepat pembauran budaya dan mempengaruhi
pemudaran identitas etnik masyarakat. Salah satu tanda terjadinya Pergeseran
identitas etnik adalah pemudaran bahasa Madura yang telah mencapai tahap
bilingual setara, yaitu bahasa Madura dan Bahasa J awa digunakan secara
bergantian sesuai dengan kondisi. Bahasa Madura masih cukup sering digunakan
oleh penduduk, namun mulai mengalami pergeseran seiring pernikahan antara
masyarakat keturunan Madura dengan masyarakat Madura yang banyak, terutama
bagi mereka yang bertempat tinggal di daerah yang dekat dengan Suku J awa
(Chaer & Agustina. 2004:144).
Tradisi masyarakat yang dapat dikatakan identitas etnik Madura juga mulai
mengalami perubahan, seperti mulai tidak diadakannya tradisi samaan, Adapun
tradisi-tradisi yang bernafaskan Islam masih dipertahankan oleh masyarakat
sehingga pada masa sekarang tradisi tersebut masih tetap ada. Tradisi toron terus
yang dilakukan, meskipun terjadi perubahan pada tata cara melakukan toron, yang
sebelumnya toron dilakukan dengan jalan kaki dan berperahu sambil membawa
bahan makanan berubah dilakukan dengan mengendari kendaraan tanpa membawa
bahan makanan yang banyak. Perubahan pada tradisi toron ini menunjukkan
perubahan identitas etnik, karena tradisi toron yang awalnya bentuk solidaritas atau
pengakuan diri sebagai bagian dari Suku Madura menjadi acara tahunan untuk
kegiatan nyelasih.
Pada tahun 1988 sampai tahun 1992, kembali terjadi perubahan dalam
kehidupan masyarakat keturunan Madura, konflik yang berakar pada masalah
perbedaan pendapat tentang dukungan terhadap partai politik, yaitu antar
pendukung PPP (Partai Persatuan Pembangunan) dengan pendukung partai Golkar
(Golongan Karya) pada era Orde Baru, Temuan penelitian berupa konflik yang
terjadi ini bila dianalisis dengan menggunakan teori konflik fungsional milik Lewis
Coser maka dapat dikatakan bahwa konflik tersebut dapat digolongkan kepada
konflik non-realistik, karena konflik ini didasari dari masalah kepercayaan
masyarakat (Susan. 2009:55).
Konflik ini merupakan pemicu dinamika masyarakat sekaligus penguat
identitas masyarakat sebagai pendukung partai Islam di Indonesia. Konflik antar
partai ini kemudian menjadi kekuatan integrasi masyarakat sebagai in-group
sehingga terbentuk suatu kesatuan pendukung partai yang berlatarkan agama
(Susan. 2009:54). Hal itu bisa dilihat dari perkembangannya, yang sebagian
masyarakat masih menjadi pendukung partai Islam, terutama yang dibawah
naungan NU. yaitu PKB (Partai Keadilan Bangsa).
Menurut beberapa penelitian seperti yang dilakukan Mien A. Rifai (2009),
Akhmad Khusyairi (1982), Hermawan N (2004), dukungan masyarakat Madura
terhadap partai Islam adalah wajar adanya karena kebudayaan Madura dan ajaran
Islam sudah membaur, bahkan dikatakan masyarakat Madura sendiri sampai tidak
bisa membedakan mana budaya Madura dan mana ajaran Islam. Salah satu faktor
pendorong bertahannya keadaan ini adalah peran pondok pesantren sebagai
pengarah santrinya untuk mendukung partai Islam, terutama partai yang di bawah
naungan NU karena sebagian besar pondok pesantren merupakan bagian dari NU.
Dari hasil penguatan identitas sebagai umat Islam dari konflik antar partai,
mendorong sebagian masyarakat (khususnya generasi muda) untuk makin giat
memperkuat identitas keislaman mereka dengan belajar lagi mengenai agamanya
tersebut. Dalam proses belajar agama tersebut, mereka mendapati hal yang berbeda
dari yang mereka laksanakan sebelumnya sehingga mereka merasa harus
menerapkan hal yang baru dan dianggapnya benar tersebut. Bagi masyarakat
generasi tua yang telah mengalami penguatan identitas dan merasa yang mereka
yakini adalah mutlak benar menjadikan mereka kurang bisa menerima perubahan
baru dalam hal yang mereka yakini tersebut, sehingga terjadilah konflik yang
didasari perbedaan pendapat tentang ajaran agama.
Konflik yang terjadi mulai mengalami peredaman masalah, seiring dengan
mulai masuknya penceramah-penceramah agama yang mulai masuk ke dalam
lingkungan masyarakat keturunan Madura ini, dan semakin sedikitnya lulusan
pondok pesantren NU yang bisa menjadi aliansi generasi tua untuk menghadapi
kelompok masyarakat yang mengalami perubahan.
Terlepas dari konflik yang terjadi, pada periode tahun 1988 sampai 1998,
pertanian mendong di Dusun Pijetan mengalami keberhasilan, bahkan beberapa
petani atau pemilik lahan sempat menjadi juragan mendong sehingga
meningkatkan interaksi masyarakat sebagai pemilik lahan dan penggarap sawah
maupun sebagai penyedia bahan untuk para perajin tikar mendong. Keadaan ini
menjadikan masyarakat keturunan Madura memiliki hubungan yang rutin dan
semakin membaur dengan Suku J awa, baik demi kepentingan ekonomi ataupun
kebutuhan sebagai bagian dari masyarakat. Mereka mengalami suka duka dalam
berusaha mengembangkan potensi daerahnya sehingga ikatan perasaan sebagai
rekan berjuang menjadikan masyarakat keturunan Madura lebih dekat dengan Suku
J awa.
Pada tahun 1997 dan tahun 1998 terjadi perubahan lagi yang disebabkan
oleh keadaan pemerintahan Negara pada masa itu, yaitu terjadinya krisis moneter
dan bergantinya pemerintahan dari orde baru menjadi revolusi. Perubahan ini
mempengaruhi kehidupan masyarakat keturunan Madura, salah satunya adalah
menurunnya perekonomian masyarakat Blayu seiring dengan semakin sulitnya
mengelola pertanian mendong, Perubahan tingkat nasional tersebut juga
mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap politik, yang terwujud dalam
bentuk penurunan tingkat konflik yang didasarkan oleh perbedaan partai.
Masyarakat lebih memilih memikirkan keadaan ekonominya daripada kepentingan
politik terhadap satu partai tertentu.
Pasca orde baru, masyarakat mulai mengalami perubahan-perubahan lagi
sebagai bentuk adaptasi terhadap keadaan yang dihadapinya. perubahan tersebut
dapat dilihat pada bidang mata pencaharian, yaitu semakin berkembangnya
pertanian mendong di Desa Blayu dan pengembangan usaha sentra kerajinan tikar
mendong. Selain itu, beberapa pemilik pertanian mendong memanfaatkan air
sawah yang sebelumnya hanya untuk pertanian menjadi berfungsi juga sebagai
tempat untuk melakukan budidaya ikan (program Mina mendong),
Mengenai perubahan pendidikan adalah banyak anak-anak yang sudah
diperkenalkan dengan pendidikan formal sampai tingkat SMA bahkan tingkat
perguruan tinggi. Di lain pihak, perkembangan tingkat pendidikan formal memiliki
pengaruh pada pendidikan pondok pesantren, yaitu menjadi kalah menarik dengan
pendidikan umum. Hal ini disebabkan adanya pendapat bahwa sistem pendidikan
pondok pesantren yang ketat menyebabkan anak-anak tidak suka dan merasa tidak
kuat untuk sekolah di pondok.
Dewasa ini, hanya sebagian masyarakat keturunan Madura yang masih bisa
menggunakan bahasa Madura, bahasa yang digunakan cenderung ke bahasa
Madura tingkat menengah (bhasa engghi-enten). Pemudaran bahasa Madura bisa
disebabkan oleh beberapa faktor, pertama tidak adanya pewarisan bahasa Madura
kepada generasi penerus. Kedua, tuntutan masyarakat keturunan Madura untuk
menggunakan bahasa J awa lebih besar. Pemudaran bahasa ini dapat dijadikan
indikator pemudaran identitas etnik/pengakuan diri sebagai bagian dari Suku
Madura, meskipun mereka tetap mengakui leluhur mereka berasal dari Madura.
Dari hal ini dapat dikatakan telah terjadi pemudaran identitas etnik Madura dalam
masyarakat, pernyataan ini diperkuat dengan data kependudukan yang menyatakan
bahwa tidak ada penduduk di Desa Blayu yang beretnik Madura.
Meskipun terjadi pemudaran identitas etnik, tetapi tetap ada beberapa tradisi
yang bertahan yaitu tradisi yang berkonsepkan agama, seperti tradisi cegukan dan
tradisi ter ater. Pada beberapa keluarga kegiatan toron berubah bentuk menjadi
pertemuan keluarga tahunan. Disamping itu ada penjodohan antar kedua
masyarakat yang mempunyai pola, yaitu pihak laki-laki dari Madura sedangkan
pihak perempuan dari daerah Blayu. Hal ini mengidentifikasikan pengakuan
masyarakat terhadap hubungan keluarga antar masyarakat keturunan Madura di
Dusun Pijetan dengan Suku Madura di daerah Sampang dan Bangkalan.
Adapun mengenai relevansi pendidikan dari penelitian ini adalah
pentingnya kemampuan yang didapatkan melalui pengalaman berinteraksi dengan
masyarakat, kompetensi individu yang mampu merubah masyarakat menjadi lebih
baik, dan kekuatan historis pada masyarakat bisa menjadi pengikat yang kuat dan
penjaga keutuhan masyarakat. Adapun penerapannya dalam pembelajaran sejarah
berupa saran bahwa seharusnya tidak hanya menyajikan materi tentang sejarah
nasional maupun sejarah dunia, tetapi juga tentang fakta-fakta masa lalu dari
keadaan sekitar peserta didik, terutama pada keadaan sosial budaya yang
melingkupi kehidupan masyarakat, selain itu perlu ditambah adanya pemformatan
kembali bentuk materi sejarah yang disampaikan dalam pendidikan sejarah di
sekolah.

KESIMPULAN
Hasil penelitian dapat dijabarkan sebagai berikut: (1) keberadaan
masyarakat keturunan Madura di Desa Blayu diawali kedatangan keluarga Haji
Idris pada masa sebelum kemerdekaan. Keberhasilannya dalam membuka lahan di
daerah ini menarik suku Madura dari Sampang dan Bangkalan untuk ikut
bermigrasi ke wilayah Desa Blayu dan membentuk kampung Madura di wilayah
ini. (2) dinamika interaksi dalam kehidupan masyarakat keturunan Madura
disebabkan oleh adanya interaksi dengan masyarakat J awa melalui sarana-sarana
pembauran berupa lahan pertanian sebagai tempat bekerja dan tempat mereka
memperoleh pendidikan, hal ini kemudian berpengaruh pada pemudaran identitas
etnik Madura. Pemudaran juga disebabkan oleh melemahnya interaksi antara Suku
Madura dengan masyarakat keturunan Madura yang dapat dilihat dari dinamika
tradisi toron. Pengaruh pemudaran identitas etnik ini dapat dilihat dari pergeseran
bahasa dan masuknya aliran agama Islam yang berbeda dengan yang telah umum
dianut masyarakat Madura. Meskipun demikian, masih ada tradisi kultural yang
terjaga karena masih sesuai dengan kehidupan masyarakat sebagai keturunan
Madura. (3) nilai pendidikan yang diperoleh adalah kompetensi individu mampu
merubah masyarakat, dan kekuatan historis dalam masyarakat bisa berperan
sebagai pengikat yang kuat dan penjaga keutuhan masyarakat.

Daftar Rujukan
Departement van Economische Zaken. Volkstelling 1930 deel III: Inheemsche
Bevolking van Oost-Java. Batavia: Landsdrukkerij, 1934
Chaer, A & Agustina, L. 1995. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. J akarta: PT
Rineka Cipta
J onge, H.D. 1989. Agama, Kebudayaan dan Ekonomi: Studi-studi interdisipliner
tentang Masyarakat Madura. J akarta: CV. Rajawali
Kuntowijoyo. 2005. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta : PT Bentang Pustaka.
Susan, N. 2009. Sosiologi Konflik dan Isu-Isu Konflik Kontemporer. J akarta:
Kencana Prenada Media Group