Anda di halaman 1dari 15

1

MAKALAH TEORI BELAJAR


KONSTRUKTIVISME


NAMA : SUSI MARSELY
NIM : 06121410016




PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PMIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2013




2

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali
yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala
berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah dengan judul Teori Belajar Konstruktivisme.
Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan,
namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun agar skripsi ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.


Palembang, Oktober 2013


Penyusun



















3

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ 2
DAFTAR ISI ....................................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................................... 4
B. Rumus Masalah .............................................................................................................. 5
C. Tujuan............................................................................................................................. 5
BAB II PEMBAHASAN
A. Perkembangan dan Definisi Konstruktivisme................................................................ 6
B. Prinsip dan Karakteristik Konstruktivisme .................................................................... 8
C. Ciri-ciri Pembelajaran Secara Konstruktivisme ............................................................. 12
D. Langkah-langkah Konstruktivisme ................................................................................ 12
E. Kelebihan dan Kekurangan Teori Konstruktivisme ....................................................... 13
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................................................... 15
B. Saran ............................................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 16
















4

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada abad ke XXI ini dunia terus mengalami perubahan terus menerus. Perubahan
terus menerus terjadi untuk membentuk dunia ke arah yang lebih baik. Perubahan sangat
dibutuhkan sekali. Semua yang ada didunia ini saling memiliki keterkaitan sehingga karena
perubahan kecil dapat memberikan pengaruh yang besar bagi hal lain. Tidak heran ada
pepetah mengatakan Sedikit perubahan dapat memberikan pengaruh yang besar. Pesatnya
perkembangan zaman sampai sekarang terjadi karena setiap hari, setiap jam, sertiap detik
terjadi berbagai perubahan. Perubahan yang terjadi dalam berbagai bidang menyebabkan
dunia ini sangat bervariasi dan terdapat hal-hal yang menarik untuk diketahui. Berbaggia
bidaai bidang yang mengalaimi perkembangan misalnya, bidang IPTEK, Bidang Penelitian,
Bidang Kepemerintahan, Bidang Pendidikan dan berbagai bidang-bidang lainya.
Pendidikan merupakan kebutuhan semua orang, manusia sejak lahir sudah di
wajibkan untuk menuntut ilmu bahkan sampai keliang lhad. Hal ini sudah di tegaskan oleh
Rasulullah SAW ratusan tahun yang lalu. Ini sebagai bukti bahwa pendidikan itu merupakan
satu cara bagaimana suapaya manusia dapat hidup dengan baik, baik di Dunia maupun kelak
di kemudian hari. Begitu pentingnya pendidikan ini sehingga semua Negara di Dunia ini
melakukan pendidikan sebagai wujud keperduliannya terhadap pentingnya pengembangan
pendidikan untuk peningkatan ilmu pengetahuan.
Adanya berbagai perubahan ini bermuara pada suatu hal yaitu pada bidang Pendidikan.
Bidang Pendidikn merupakan faktor mendasar dalam berbagai hal, tidak terkecuali pada
perubahan yang terjadi di dunia ini. Terlihat sepele memang tapi semua bidang tidak akan
menngalami perubahan jika pada bidang Pendidikan sebagai hal yang paling mendasar dan
paling pokok tidak mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi dalam Bidang Pendidikan
sangat beraneka ragam sekali. Misal, Perubahan peningkatan kualitas guru sebagai tenaga
pendidik, Perubahan Sistem Pengelolahan Administrasi Pendidikan, Perubahan pada bidang
Kurikulum. Kurikulum merupakan pokok terselenggaranya Pendidikan di Indonesia.
Perubahan Kurikulum terjadi seiring dengan Tuntutan perkembangan zaman. Dalam
Kurikulum sendiri terkandung berbagai hal yang terus mengalami inovasi yaitu Sistem
Pengajaran atau Metode Pembelajaran. Dalam Makalah ini akan dibahas secara lebih spesifik
mengenai Metode Pembelajaran dalam dunia Pendidikan.

5

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Perkembangan dan definisi Konstruktivisme?
2. Prinsip dan Karakteristik konstruktivisme?
3. Bagaimana proses dalam penerapan Konstruktivisme?

C. Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui Perkembangan dan definisi Konstruktivisme
2. Untuk mengetahui Prinsip dan karakteristik Konstruktivisme
3. Sebagai langkah menerapkan sistem konstruktivisme























6

BAB II
PEMBAHASAN

A. Perkembangan dan Definisi Konstruktivisme

Pendidikan berasal dari bahasa Yunani yaitu pedagogus (paedagogia), dan dalam
bahasa Latin paedogogus yang berasal dari kata paedos yaitu berarti anak dan agoge yang
berarti saya membimbing atau memimpin. Dari paedagogues, pedagoga, paedagogogus
kemudian muncul istilah pedagog yang berarti pendidikan. Pedagog yang berarti mendidik,
pedagogia yang berati yang berarti perbutan mendidik, dan paedagogiek yang berarti ilmu
pendidikan. Pendidikan dalam bahasa Inggris adalah pedagog yaitu the study of educational
goals and proceses (study tentang tujuan dan proses pendidikan). Mendidik dalam bahasa
Latin educare yang berasal dari kata e-ducare yang artinya menggiring keluar, yang
dimaksud disini adalah permuliaan manusia.
Dari asal kata yang terkait dengan pendidikan diatas dapat dikelompokan ke dalam
dua kategori yaitu: konsep pedagogic yang memiliki arti cara untuk mempengaruhi anak agar
mencapai tingkat kedewasaan yaitu melalui pendidikan informal dan yang kedua adalah
konsep education yang berarti cara memperoleh pengetahuan disekolah yaitu dengan
pendidikan formal seperti pengajaran. Pendidikan fungsionalis menurut Poerbakawatja dan
Harahap adalah suatu usaha untuk menentukan struktur dari pendidikan atas dasar fungsi-
fungsi hidup dimasa sekarang dan masa depan. Dalam UUSPN No.20 tahun 2003
menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa.
Pendidikan selama ini terus mengalami pembaharuan untuk menciptakan berbagai
metode yang berguna bagi perkembangan zaman untuk memenuhi tuntutan manusia yang
semakin hari semakin bermacam dengan berbagai tipe. Tingkat kebutuhan ini menjadikan
masyarakat melakukan perubahan kearah yang lebih baik. Pada bidang Pendidikan sendiri
mengandung berbagai bidang yang terus mengalami kemajuan, misalnya dalam bidang
Pendidikan mengandung Kurikulum yang terus berganti mengikuti tuntutan perkembangan
zaman sehingga sistem Pendidikan mengalami Kemajuan, bidang lain misalnya Kualitas
seorang Pengajar. Kurikulum yang berlaku sekarang ini merupakan bentuk terbaru dari
pengembangan kurikulum Berbasis Kompetensi yang menekankan pada guru untuk semakin
gencar berupaya menggairahkam kembali dunia Pendidikan khususnya yang berkaitan
7

dengan proses pembelajaran. Berbagai penelitian diadakan untuk memajukan dunia
Pendidikan. Dalam Penelitian itu digunakan berbagai metode pendekatan misalnya metode
Konstruktivisme.
Paradigama baru lebih menekankan pada peserta didik sebagai manusia yang
memiliki potensi untuk belajar dan berkembang. Siswa harus aktif dalam mencari dan
pengembangan pengetahuan. Kebenaran ilmu tidak terbatas pada apa yang disampaikan oleh
guru. Guru harus mengubah peranannya, tidak lagi sebagai pemegang otoritas tertinggi
keilmuan dan indoktriner, tetapi menjadi fasilitator yang membimbing siswa kearah
pembentukan pengetahuan oleh diri mereka sendiri.
Piaget (1973) dengan Teori Konstrktivismenya menyatakan bahwa setiap individu
menciptakan makna dan pengertian baru, berdasarkan interkasi antara apa yang telah
dimiliki, diketahui,dan dipercayai dengan fenomena, pendapat, atau informasi baru yang
dipelajari. Menurutnya, setiap peserta didik membawa pengertian dan pengetahuan awal yang
sudah dimiliki kedalam proses belajar yang harus ditambahkan, dimodifikasi, diperbarui,
direvisi, dan diubah oleh informasi baru yang dijumpai dalam proses belajar. Secara umum
konstrktivisme yaitu mendorong kolaborasi, kegiatan pendahuluan dan eksplorasi, dan
menekankan pemecahan masalah otentik.
Menurut Glasersfeld (1987) konstruktivisme sebagai teori pengetahuan dengan akar
dalam filosofi, psychology, dan cybernetics. Von Glasersfeld mendefinisikan
konstruktivisme radikal selalu membentuk konsepsi Pengetahuan. Ia melihat Pengetahuan
sebagai sesuatu hal yang dengan aktif menerima apapun melalui pemikiran sehat atau melalui
komunikasi. Hal ini secara aktif terutama membangun pengetahuan. Sedangkan menurut
Murpy(1997: 7) kontruktivisme terdiri dari suatu jaringan sesuatu hal dan berhubungan
bahwa kita hidup bersandar pada hidup kita, and yang lain pun sama terhadapnya, kita
percaya, orang lain juga bersandar juga. Dalam hal ini siswa menginterpretasikan dan
membangun suatu kenytaan berdasarkan pada interaksi dan pengalamannya dengan
lingkungannya.
Dari keterangan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa teori ini memberikan keaktifan
terhadap seseorang untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau
teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri.
Adapun tujuan dari teori ini adalah:
a. Adanya motivasi untuk seseorang bahwa belajar adalah tanggung jawab seseorang itu
sendiri.
8

b. Mengembangkan kemampuan seseorang untuk mengejukan pertanyaan dan mencari
sendiri pertanyaannya.
c. Membantu seseorang untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep
secara lengkap.
d. Mengembangkan kemampuan seseorang untuk menjadi pemikir yang mandiri.
e. Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.

B. Prinsip dan Karakteristik Konstruktivisme
Belajar merupakan proses konstruksi pengetahuan melalui keterlibatan fisik dan
mental seseorang secara aktif, dan juga merupakan proses asimilasi dan menghubungkan
bahan yang dipelajari dengan pengalaman-pengalaman yang dimiliki seseorang sehingga
pengetahuannya mengenai objek tertentu menjadi lebih kokoh. Semua pelajar benar-benar
mengkonstruksikan pengetahuan untuk dirinya sendiri, dan bukan pengetahuan yang datang
dari guru diserap oleh murid. Ini berarti bahwa setiap murid akan mempelajari sesuatu yang
sedikit berbeda dengan pelajaran yang diberikan (Muijs dan Reynolds, 2008:97).
Selanjutnya Muijs dan Reynolds (2008:97) mengemukakan bahwa murid adalah konstruktor
pengetahuan aktif yang memiliki sejumlah konsekuensi yaitu :
1. Belajar selalu merupakan sebuah proses aktif.
Pelajar secara aktif mengkonstrusikan belajarnya daru berbagai macam input yang
diterimanya. Ini menyiratkan bahwa belajar harus bersikap aktif agar dapat belajar secara
efektif. belajar adalah tentang membantu murid untuk mengkonstruksikan makna mereka
sendiri, bukan tentang mendapatkan jawaban yang benar karena dengan cara seperti ini
murid dilatih untuk mendapatkan jawaban yang benar tanpa benar-benar memahami
konsepnya.
2. Anak-anak belajar paling baik dengan menyelesaikan berbagai konflik kognitif
(konflik dengan berbagai ide dan prakonsepsi lain) melalui pengalaman, refleksi dan
metakognisi (Beyer, 1985)
3. Bagi konstruktivis, belajar adalah pencarian makna. murid secara aktif berusaha
mengkonstruksikan makna. Dengan demikian, guru mestinya berusaha
mengkonstruksi berbagai kegiatan belajar di seputar ide-ide besar eksplorasi yang
memungkinkan murid untuk mengkonstruksi makna.
4. Konstruksi pengetahuan bukan sesuatu yang bersifat individual semata. Belajar juga
dikonstruksikan secara sosial, melalui interaksi dengan teman sebaya, guru, orang tua,
9

dan sebagainya. Dengan demikian yang terbaik adalah mengkonstruksikan siatuasi
belajar secara sosial, dengan mendorong kerja dan diskusi kelompok
5. Elemen lain yang berakar pada fakta bahwa murid secara individual dan kolektif
mengkonstruksikan pengetahuan. Agar efektif guru harus memiliki pengetahuan yang
baik tentang perkembangan anak dan teori belajar, sehinggga mereka dapat menilai
secara akurat belajar seperti apa yang dapat terjadi
6. Belajar selalu dikonseptualisasikan. Kita tidak mempelajari fakta-fakta secara abstrak,
tetapi sealalu dalam hubungannya dengan apa yang telah kita ketahui.

Belajar secara betul-betul mendalam berarti mengkonstruksikan pengetahuan secara
menyeluruh, dengan mengeksplorasi dan menengok kembali materi yang kita pelajari dan
bukan dengan cepat pindah satu topik ke topik lain. Murid hanya dapat mengkonstruksikan
makna bila mereka dapat melihat keseluruhannya, bukan hanya bagian-bagiannya
Mengajar adalah tentang memberdayakan pelajar, dan memungkinkan pelajar untuk
menemukakan dan melakukan refleksi terhadap pengalaman-pengelaman realistis. Ini akan
menghasilkan pembelajaran yang otentik/asli dan pemahaman yang lebih dalam
dibandingkan dengan memorisasi permukaan yang sering menjadi ciri pendekatan-
pendekatan mengajar lainnya (Von Glaserfelt, 1989). Ini juga membuat kaum konstruktivis
percaya bahwa lebih baik menggunakan bahan-bahan hands-on daripada tekxbook.
Suparno (1997) mengidentifikasi 3 prinsip kontruktivisme dalam belajar yakni sebagai
berikut:
a. pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri baik secara personal maupun sosial,
b. pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari pengajar kepada pebelajar, kecuali dengan
keaktifan siswa itu sendiri untuk menalar,
c. pengajar sekedar membantu pebelajar dengan menyediakan sarana dan situasi agar
proses konstruksi pebelajar berlangsung secara efektif dan efisien.
Sedangkan Jacqueline Grennon Brooks dan Martin G. Brooks dalam The case for
constructivist classrooms. (1993) menawarkan lima prinsip kunci konstruktivist teori belajar.
Menurutnya terdapat lima panduan prinsip konstruktivisme:
Prinsip 1: Permasalahan yang muncul sebagai hal yang relevan dengan siswa.
Dalam banyak contoh, masalah style Anda mengajar mungkin akan menjadi relevan
dengan selera untuk para siswa, dan mereka akan mendekatinya, merasakan keterkaitannya
kepada kehidupan mereka.
Prinsip 2 : Struktur belajar di sekitar konsep-konsep utama.
10

Mendorong para siswa untuk membuat makna dari bagian-bagian yang
menyeluruh/utuh ke dalam bagian-bagian yang terpisah-pisah. Hindari mulai dengan bagian-
bagian dahulu untuk membangun kemudian sesuatu yang "menyeluruh/utuh."
Prinsip 3 : Carikan dan hargai poin-poin pandangan siswa sebagai jendela memberi alasan
mereka.
Tantangan gagasan dan pencarian elaborasi yang tepat ditangkap siswa, sering
mengancam banyak siswa. Maksudnya adalah bahwa sering para siswa di dalam kelas yang
secara tradisional mereka tidak bisa menduga serta menghubungkan apa yang guru
maksudkan untuk jawaban yang benar dan cepat, agar ia tidak berada di luar topik dari
diskusi kelas yang diadakan. Mereka harus betul-betul "masuk" dan sibuk ikut mengkaji
tugas-tugas dalam belajar sebagai konstruktivis lingkungan melalui petanyaan-peranyaan,
sanggahan, ataupun jawaban yang diajukan.
Prinsip 4 : Sesuaikan pembelajaran dengan perkiraan menuju pengembangan siswa.
Memperkenalkan topik kajian pengembangan dengan tepat atau sesuai, adalah suatu
awal yang baik untuk dapat dipahami pengembangan konsep berikutnya
Prinsip 5 : Nilai hasil belajar siswa dalam konteks pembelajaran.
Geser atau ubah peniaian itu harus benar-benar sedang menilai apa yang benar-benar
sedang terjadi saat penilaian itu. Berlangsung, dan jangan sekali-kai menilai itu dalam
kebiasaan skor yang diperoleh seseorang dari waktu ke waktu. Ekspresi Anda bisa bervariasi,
kadang-kadang optimis, periang, namun sesekali bisa pesimis, sedih, maupun marah. Namun
peru diingat marahnya seorang guru dalam kerangka sedang mendidik, dalam konteks
pembelajaran, bukan marah mengekspresikan kekesalan.
Ketiga prinsip di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara
aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan
melalui lingkungannya. Dalam hal ini, Funston (1996) lebih spesifik mengatakan bahwa
seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang
telah diketahui orang lain. Oleh karena itu, untuk mempelajari suatu materi yang baru,
pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi proses belajar tersebut.
Berdasarkan uraian diatas maka secara umum ada empat prinsip dasar
konstruktivisme dalam pembelajaran :
1. Pengetahuan terdiri atas konstruksi masa silam
2. Pengkonstruksian pengetahuan terjadi melalui proses asimilasi dan akomodasi.
3. Belajar merupakan suatu proses organic penemuan lebih dari proses mekanik yang
akumulatif.
11

4. Mengacu pada mekanisme yang memungkinkan terjadinya perkembangan struktur
kognitif. Belajar bermakna, akan terjadi melalui proses refleksi dan resolusi konflik.
Implikasi prinsip-prinsip belajar tersebut dalam proses pembelajaran diantaranya bahwa
mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari pembelajar kepada pebelajar,
melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan pembelajar membangun sendiri
pengetahuannya sendiri, mengajar berarti berpartisipasi dengan pelajar dalam membentuk
pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan
justifikasi. Dasar pemikiran seperti ini menjadikan teori konstruktivistik sebagai landasan
teori-teori belajar yang pernah ada, seperti teoru perubahan konsep, teori belajar bermakna
dan teori skema. Dari penjelasan ini tergambar bahwa konstruktivisme merupakan teori yang
berlandaskan pada pembelajaran siswa dalam membentuk pengetahuannya sendiri dan guru
sebagai mediator dan fasilitator yang relevan.
Oleh karena itu, paradigma konstruktivistik memandang siswa sebagai pribadi yang
sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu. Kemampuam awal tersebut
akan menjadi dasar dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Untuk itu, guru dituntut
untuk memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam belajar. guru tidak dapat
mengklaim bahwa satu-satunya cara yang tepat adalah yang sama dan sesuai dengan
kemampuannya Karakteristik belajar dengan pendekatan konstruktivisme menurut Slavin
(1997) ada 4 yaitu:
1. Proses Top-Down, yang berarti bahwa siswa mulai dengan masalah-masalah yang
kompleks untuk dipecahkan dan selanjutnya memecahkan atau menemukan (dengan
bantuan guru) ketrampilan-ketrampilan dasar yang diperlukan. Sebagai contoh siswa
dapat diminta untuk menuliskan suatu susunan kalimat, dan baru kemudian belajar
tentang mengeja, tata bahasa, dan tanda baca.
2. Pembelajaran kooperatif yaitu siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami
konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan
temanya.
3. Generative learning (pembelajaran generatif) yaitu belajar itu ditemukan meskipun
apabila kita menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka harus melakukan operasi
mental dengan informasi itu untuk membuat informasi masuk kedalam pemahaman
mereka.
4. Pembelajaran dengan penemuan yaitu, siswa didorong untuk belajar sebagian besar
melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip,
12

dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan
yang mmungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.

C. CIRI-CIRI PEMBELAJARAN SECARA KONSTUKTIVISME
Adapun ciri ciri pembelajaran secara kontruktivisme adalah :
1. Memberi peluang kepada murid untuk mendapatkan pengetahuan baru melalui proses
terlibat secara langsung.
2. Menggunakan idea yang dimiliki setiap siswa untuk bisa mengembangkan dirinya
sendiri.
3. Pembelajaran dilakukan sesuai dengan minat siswa.
4. Idea siwa merupakan proses belajar siswa untuk mencapai tujuan.
5. Mengembangkan potensi dan kreatifitas siswa.
6. Dalam proses pembelajaran siwa berinteraksi aktif dengan guru.
7. Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang penting sehingga sesuai dengan
hasil pembelajaran.
8. Menggalakkan proses inkuiri murid melalui kajian dan eksperimen.

D. Langkah-langkah Konstruktivisme
Pada bagian ini akan dibahas proses belajar dari pandangan kontruktifistik dan dari
aspek-aspek siswa, peranan guru, sarana belajar, dan evaluasi belajar.
1. Proses belajar kontruktivistik secara konseptual proses belajar jika dipandang dari
pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah
dari luar kedalam diri siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan
akomodasi yang bermuara pada pemuktahiran struktur kognitifnya. Kegiatan belajar
lebih dipandang dari segi rosesnya dari pada segi perolehan pengetahuan dari pada
fakta-fakta yang terlepas-lepas.
2. Peranan siswa. Menurut pandangan ini belajar merupakan suatu proses pembentukan
pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh si belajar. Ia harus aktif
melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep, dan memberi makna tentang
hal-hal yang sedang dipelajari. Guru memang dapat dan harus mengambil prakarsa
untuk menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar.
Namun yang akhirnya paling menentukan adalah terwujudnya gejala belajar adalah
niat belajar siswa itu sendiri.
13

3. Peranan guru. Dalam pendekatan ini guru atau pendidik berperan membantu agar
proses pengkontruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak
mentransferkan pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan membantu siswa
untuk membentuk pengetahuannya sebdiri.
4. Sarana belajar. Pendekatan ini menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan
belajar adalah aktifitas siswa dalam mengkontruksi pengetahuannya sendiri. Segala
sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas lainnya disediakan
untuk membantu pembentukan tersebut.
5. Evaluasi. Pandangan ini mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung
munculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas, kontruksi
pengetahuan, serta aktifitas-aktifitas lain yang didasarkan pada pengalaman.

E. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN TEORI KONSTRUTIVISME
1. Kelebihan
a. Menjadikan siswa berfikir tentang pengetahuan baru, bias menyeesaikan masalah, dan
bias berfikir dan membuat keputusan
b. Menjadikan siswa paham dengan materi yang disampaikan
c. Siswa mempunyai nilai tambah yang lebih yaitu bisa mengingat materi yang
disampaikan karena siswa sendiri yang aktif
d. Meletih untuk berinteraksi social seperti dengan teman kelompok, dan guru
e. Karena siswa terlibat secara terus, mereka akan paham, ingat, yakin dan berinteraksi
dengan lingkungannya, maka mereka akan berasa meningkatkan belajar untuk
membina pengetahuan baru.
2. Kelemahan
Kekurangan atau kelemahan dalam suatu penerapan metode pembelajaran tergantung
pada guru sebagai pelaksana metode. Pada metode kontruktivisme guru berperan hanya
sebagai pendukung bukan sebagai hal utama. Fokus konstruktivisme hanya ketika proses
pembelajaran itu terjadi.






14

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Memberikan keaktifan terhadap seseorang untuk belajar menemukan sendiri
kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan
dirinya sendiri.
Ada empat prinsip dasar konstruktivisme dalam pembelajaran :
a. Pengetahuan terdiri atas konstruksi masa silam
b. Pengkonstruksian pengetahuan terjadi melalui proses asimilasi dan akomodasi.
c. Belajar merupakan suatu proses organic penemuan lebih dari proses mekanik yang
akumulatif.
d. Mengacu pada mekanisme yang memungkinkan terjadinya perkembangan struktur
kognitif. Belajar bermakna, akan terjadi melalui proses refleksi dan resolusi konflik.
Dalam menerapkan metode konstruktivisme ada 7 langkah
B. Saran
Dalam dunia pendidikan proses lebih diutamakan dari pada hasil walaupun nantinya
kita akan menuju puncak dari suatu hasil. Seharusnya model pembelajaran konstruktivisme
diterapkan dalam dunia pendidikan di Indonesia supaya dapat meningkatkan mutu pendidikan
agar lebih baik.















15

DAFTAR PUSTAKA

Amalia, Anisa. 2013. Model Belajar Konstruktivisme. http://3bkelompok1konstruktivisme.b
logspot.com/2013/01/makalah-konstruktivisme.html. Diakses tanggal 27 Oktober
2013.
Anonim. 2012. Makalah Konstruktivisme. http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/12/m
akalah-konstruktivisme-teori-belajar.html. Diakses tanggal 27 Oktober 2013.
Junaidi, Insan. 2013. Konsep Belajar Menurut Teori Konstruktivisme. http://contohmakalah.
info/konsep-belajar-menurut-teori-konstruktivisme/. Diakses tanggal 27 Oktober
2013.
Rahman, Fathur. 2010. Makalah Konstruktivisme. http://fathurrahmansag.blogspot.com
/2010/10/makalah-konstruktivisme.html. Diakses tanggal 27 Oktober 2013.

Anda mungkin juga menyukai