Anda di halaman 1dari 11

1

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)


UROLITHIASIS

Pokok Bahasan : Sistem Perkemihan
Sub Pokok Bahasan : Urolithiasis
Sasaran : Masyarakat
Hari/ Tanggal : Minggu 2 November 2014
Waktu : Pukul 10.00 11.00
Tempat : -
Penyuluh : Mahasiswa Keperawatan Universitas Indonesia Timur

I. TUJUAN UMUM
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan selama 1 x 60 menit,, masyarakat
diharapkan mampu memahami tentang Urolithiasis

II. TUJUAN KHUSUS
Setelah dilakukan tindakan penyuluhan peserta dapat memahami tentang:
1. Pengertian Urolithiasis
2. Penyebab Urolithiasis
3. Tanda dan gejala Urolithiasis.
4. Penatalaksanaan Urolithiasis

III. METODE
Ceramah, Tanya jawab.

IV. MEDIA PENYULUHAN
Audio visual (LCD + Laptop) dan Leaflet



2

V. ISI MATERI
1. Pengertian Urolithiasis
2. Penyebab Urolithiasis
3. Tanda dan gejala Urolithiasis
4. Penatalaksanaan medis dan pengobatan Urolithiasis
5. Cara pencegahan Urolithiasis

VI. PROSES PELAKSANAAN
No Kegiatan Respon Waktu
1.
Pendahuluan
a. Memberi salam
b. Memperkenalkan diri
c. Menyampaikan tujuan
d. Menyampaikan pokok
bahasan dan waktu
e. Melakukan apersepsi

Menjawab salam


Menyimak

Aktif menyampaikan
pendapat
10 menit
2. Isi
Penyampaian materi
tentang:
a. Definisi Urolithiasis
b. Etiologi Urolithiasis
c. Patofisiologi Urolithiasis
d. Gejala klinis Urolithiasis
e. Pengobatan Urolithiasis

Menyimak

35 menit
3. Penutup
a. Tanya jawab
b. Kesimpulan
c. Evaluasi
d. Memberi salam penutup

Aktif bertanya
Menyimak
Aktif menjawab
Menjawab salam
15 menit

3


VII. EVALUASI
1. Evaluasi struktur
a. Tempat, materi dan media
b. Peran dan tugas masyarakat sesuai perencanaan
2. Evaluasi proses
a. Pelaksanaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan
b. Peserta penyuluhan hadir 70%
c. Audiens mengikuti penyuluhan dari awal sampai akhir
d. Audiens berperan aktif selama penyuluhan
3. Evaluasi hasil
a. Minimal 60% audiens dapat mengikuti penyuluhan dan dapat
menjelaskan definisi Urolithiasis
b. Minimal 60% audiens dapat mengikuti penyuluhan dan dapat
menyebutkan factor penyebab Urolithiasis
c. Minimal 60% audiens dapat mengikuti penyuluhan dan dapat
menjelaskan patofisiologi Urolithiasis
d. Minimal 60% audiens dapat mengikuti penyuluhan dan dapat
menjelaskan manifestasi klinis Urolithiasis
e. Minimal 60% audiens dapat mengikuti penyuluhan dan dapat
menyebutkan penatalaksanaan Urolithiasis










4


VIII. LAMPIRAN MATERI
A. Definisi
Batu saluran kemih atau Urolitiasis adalah adanya batu pada saluran kemih
yang bersifat idiopatik, dapat menimbulkan statis dan infeksi. Mengacu
pada adanya batu (kalkuli) pada traktus urinarius.

B. Etiologi
Batu terbentuk di traktus urinarius ketika konsertrasi substansi tertentu
seperti Ca oksalat,kalsium fosfat, dan asam urat meningkat. Batu juga
dapat terbentuk ketika terdapat defisiensi substansi tertentu, seperti sitrat
yang secara normal pencegah kristalisasi dalam urin. Kondisi lain yang
mempengaruhi laju pembentukan batu mencakup PH urine dan status
cairan pasien.
Faktor tertentu yang dapat mempengaruhi pembentukan batu, mencakup
infeksi, satus urine, periode imobilitas (drainage batu yang lambat dan
perubahan metabolisme kalsium).
Selain itu ada beberapa teori yang ,membahas tentang proses pembentukan
batu yaitu:
1. Teori inti (nucleus): kristal dan benda asing merupakan tempat
pengendapan kristal pada urine yang sudah mengalami supersaturasi.
2. Teori matriks: matriks organik yang berasal dari serum dan protein
urine memberikan kemungkinan pengendapan kristal.
3. Teori inhibitor kristalisasi: beberapa substansi dalam urine menghambat
terjadinya kristalisasi, konsentrasi yang rendah atau absennya substansi
ini memungkinkan terjadinya kristalisasi.
Pembentukan batu membutuhkan supersaturasi dimana supersaturasi ini
tergantung dari PH urine, kekuatan ion, konsentrasi cairan dan
pembentukan kompleks.
5

Batu kalsium dapat diakibatkan oleh:
1. Hiperkalsiuria abortif: gangguan metabolisme yang menyebabkan
terjadinya absorbsi khusus yang berlebihan juga pengaruh vitamin D
dan hiperparatiroid.
2. Hiperkal siuria renalis: kebocoran pada ginjal
Batu oksalat dapat disebabkan oleh:
1. Primer autosomal resesif
2. Ingesti-inhalasi: Vitamin C, ethylenglicol, methoxyflurane, anestesi.
3. Hiperoksaloria: inflamasi saluran cerna, reseksi usus halus, by pass
jejenoikal, sindrom malabsorbsi
Batu asam urat disebabkan oleh:
1. Makanan yang banyak mengandung purin
2. Pemberian sitostatik pada pengobatan neoplasma
3. Dehidrasi kronis
4. Obat: tiazid, lazik, salisilat
Batu sturvit biasanya mengacu pada riwayat infeksi, terbentuk pada urin
yang kaya ammonia alkali persisten akibat UTI kronik. Batu sistin terjadi
terutama pada beberapa pasien yang mengalami defek absorbsi sistin.
Namun demikian pada banyak paisen mungkin tidak ditemukan
penyebabnya. Batu di saluran kemih juga dapat terjadi pada penyakit
inflamasi usus dan pengobatan dengan antasida, diamox, laksatif, aspirin.

C. Patofisiologi
Terdapat tiga teori yang menyatakan tentang terbentuknya batu pada saluran
kemih, diantaranya yaitu :
1. Teori inti (nukleus) : kristal dan benda asing merupakan tempat
pengendapan kristal pada urin yang sudah mengalami supersaturasi.
2. Teori matrix : matrix organik yang berasal dari serum atau protein-protein
urin yang memberikan kemungkinan pengendapan kristal.
6

3. Teori inhibitor kristalisasi : beberapa substansi dalam urin menghambat
terjadi kristalisasi, konsentrasi yang rendah atau absennya substansi ini
memungkinkan terjadinya krislisasi.
Adapun faktor-faktor risiko yang mempengaruhi pembentukan batu pada
saluran kemih, diantaranya yaitu :
1. Hiperkalsiuria
Hiperkalsiuria idiopatik meliputi hiperkalsiuria yang terdiri dari 3 bentuk
yaitu :
2. Hiperkalsiuria absorptif; ditandai oleh adanya kenaikan absorpsi kalsium
dari lumen usus, kejadian ini paling banyak dijumpai.
3. Hiperkalsiuria puasa ; ditandai dengan adanya kelebihan kalsium, diduga
berasal dari tulang.
4. Hiperkalsiuria ; yang diakibatkan kelainan reabsorpsi kalsium di tubulus
ginjal.
5. Hiperoksaluria
Merupakan kenaikan ekstensi oksalat diatas normal (< 45mg/hari).
6. Hiperurikosuria
Merupakan suatu peningkatan asam urat air kemih yang dapat memacu
pembentukan batu kalsium.
7. Hipositraturia
Merupakan penurunan eksresi inhibitor pembentukan kristal dalam air
kemih, khususnya sitrat merupakan mekanisme lain timbulnya batu ginjal.
8. Penurunan jumlah air kemih
Keadaan ini biasanya disebabkan masukan cairan sedikit yang selanjutnya
dapat menimbulkan batu dengan peningkatan reaktan dan pengurangan
aliran air kemih.
9. Faktor diit
Faktor diit dapat berperan penting dalam mengawali pembentukan batu,
misalnya diit tinggi kalsium, diit tinggi purin, tinggi oksalat dapat
mempermudah pembentukan batu saluran kemih.
7

Adanya berbagai faktor tersebut diatas akan menyebabkan pengendapan
partikel-partikel jenuh (kristal dan matriks) dalam nukleus (inti batu) yang
selanjutnya akan mengakibatkan kelainan kristaluria dan pertumbuhan kristal
dan dapat mengakibatkan terbentuknya batu pada saluran kemih. Batu saluran
kemih dapat menimbulkan penyulit berupa obstruksi dan infeksi saluran kemih.
Manifestasi obstruksi pada saluran kemih adalah retensi urine, nyeri saat
kencing, perasaan tidak enak saat kencing, kencing tiba-tiba berhenti dan nyeri
pinggang. Manifestasi infeksi beruap panas saat kencing, kencing bercampur
darah. Obstruksi saluran kemih yang tidak mendapatkan penanganan dapat
menyebabkan terjadi komplikasi yaitu hidronefrosis, sednagkan infeksi akan
menyebabkan terjadinya komplikasi yaitu pielonefritis, urosepsis, dan pada
akhirnya menyebabkan terjadinya kerusakan fungsi ginjal yang permanen
(gagal ginjal).

D. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis adanya batu dalam saluran kemih bergantung pada
adanya obstruksi, infeksi dan edema. Ketika batu menghambat aliran urin,
terjadi obstruksi, menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi
piala ginjal serta ureter proksimal. Infeksi (peilonefritis & cystitis yang
disertai menggigil, demam dan disuria) dapat terjadi dari iritasi batu yang
terus menerus. Beberapa batu, jika ada, menyebabkan sedikit gejala namun
secara fungsional perlahan-lahan merusak unit fungsional ginjal dan nyeri luar
biasa dan tak nyaman.
Batu di piala ginjal mungkin berkaitan dengan sakit yang dalam dan
terus menerus di CVA (costa vertebral angle). Hematuria dan piuria jarang.
Nyeri yang berasal dari area renal menyebar secara anterior dan pada wanita
kebawah mendekati kandung kemih, sedang pada pria mendekati testis. Bila
nyeri mendadak menjadi akut, disertai nyeri tekan di seluruh area
kostovertebral dan muncul mual dan muntah, maka pasien sedang mengalami
kolik renal. Diare dan ketidaknyamanan abdominal dapat terjadi.
8

Batu yang terjebak di ureter, menyebabkan gelombang nyeri yang luar
biasa. Pasien sering merasa ingin berkemih, namun hanya sedikit yang keluar
dan biasanya mengandung darah akibat aksi abrasif batu. Umumnya batu
diameter < 0,5-1 cm keluar spontan.
Batu ureter dapat pula tetap tinggal di ureter hanya ditemukan nyeri
tekan. Nyeri letak atau tak ditemukan nyeri sama sekali dan tetep tinggal di
ureter sambil menyumbat dan menyebabkan hidroureter yang asimtomatik
(obstruksi kronik). Tidak jarang terjadi kematian yang didahului oleh kolik.
Bila obstruksi berlanjut, maka kelanjutan dari kelainan ini adalah
hidronefrosis dengan atau tanpa piolonefritis sehingga menimbulkan
gambaran infeksi umum.
Batu yang terjebak di vesika biasanya menyebabkan gejal iritasi dan
berhubungan dengan infeksi traktus urinariun dan hematuria. Jika batu
menyebabkan onstruksi pada leher kandung kemih, akan terjadi retensi urin.
Jika infeksi berhubungan dengan adanya batu maka dapat terjadi sepsis.
Batu uretra biasanya berasal dari batu vesika yang terbawa saluran
kemih saat miksi, tetapi tersangkut di tempat yang agak lebar. Gejala yang
umum: sewaktu miksi tiba-tiba terhenti, menetes, nyeri. Penyulitnya adalah
vesikal, abses, fistel proksimal dan uremia, karena obstruksi urine.
E. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan batu saluran kemih harus tuntas, sehingga bukan hanya
mengeluarkan batu saja, tetapi harus disertai dengan penyembuhan penyakit
batu atau paling sedikit disertai dengan terapi pencegahan.
Indikasi pengeluaran batu saluran kemih:
1. Obstruksi jalan kemih
2. Infeksi
3. Nyeri menetap/berulang
4. Batu yang kemungkinan menyebabkan infeksi dan obstruksi
5. Batu metabolok yang tumbuh cepat.
9

Penanganannya berupa terapi medik dan simptomatik atau dengan bahan
pelarut. Dapat pula dengan pembedahan atau pembedahan yang kurang
invatif (misal: nefrostomi perkutan) atau tanpa pembedahan (misal:
eswl/litotripsi gelombang kejut ekstrakorporeal menghancurkan batu di
kaliks ginjal)
Terapi medik/simptimatik:
1. diberikan obat untuk melarutkan batu
2. obat anti nyeri
3. pemberian diuretik untuk mendorong keluarnya batu
Pelarutan: batu yang dapat dilarutkan adalah batu asam urat, dilarutkan dengan
pelarut solutin G
1. Litotripsi
2. Pembedahan:
Pengangkatan batu ginjal secara bedah merupakan mode utama. Namun
demikian saat ini bedah dilakukan hanya pada 1-2% pasien. Intervensi
bedah diindikasikan jika batu tersebut tidak berespon terhadap bentuk
penanganan lain. Ini juga dilakukan untuk mengoreksi setiap abnormalitas
anatomik dalam ginjal untuk memperbaiki drainase urin.
Jenis pembedahan yang dilakukan antara lain:
1. Pielolititomi: jika batu berada di piala ginjal
2. Nefrotomi: bila batu terletak di dalam ginjal atau nefrektomi
3. Ureterolitotomi: bila batu berada dalam ureter
4. Sistolitotomi: jika batu berada di kandung kemih

F. PENCEGAHAN
Setelah batu dikelurkan, tindak lanjut yang tidak kalah pentingnya
adalahupaya mencegah timbulnya kekambuhan. Angka kekambuhan batu
saluran kemih rata-rata 7%/tahun atau kambuh lebih dari 50% dalam 10
tahun. Prinsip pencegahan didasarkan pada kandungan unsur penyusun batu
yang telah diangkat. Secara umum, tindakan pencegahan yang perlu
dilakukan adalah:
10

1. Menghindari dehidrasi dengan minum cukup, upayakan produksi urine 2-
3 liter per hari
2. Diet rendah zat/komponen pembentuk batu
3. Aktivitas harian yang cukup
4. Medikamentosa
Beberapa diet yang dianjurkan untuk untuk mengurangi kekambuhan
adalah:
1. Rendah protein, karena protein akan memacu ekskresi kalsium urine dan
menyebabkan suasana urine menjadi lebih asam.
2. Rendah oksalat
3. Rendah garam karena natiuresis akan memacu timbulnya hiperkalsiuria
4. Rendah purin
5. Rendah kalsium tidak dianjurkan kecuali pada hiperkalsiuria absorbtif type
II
11

DAFTAR PUSTAKA
Haryono, R., 2012, Keperawatan Medikal Bedah: Sistem Perkemihan,
Rapha Publishing, Yogyakarta.