Anda di halaman 1dari 5

1

1. LAPISAN KORNEA
Kornea (latin cornum = seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput mata
yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan.
Kornea merupakan jaringan yang avaskular, bersifat transparan, berukuran 11-12 mm
horizontal dan 10-11 mm vertikal, serta memiliki indeks refraksi 1,37. Kornea
memberikan kontribusi 74 % atau setara dengan 43,25 dioptri (D) dari total 58,60
kekuatan dioptri mata manusia.
Kornea terdiri dari 5 lapisan dari luar ke dalam:
1. Lapisan epitel
Tebalnya 550 m , terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang
tindih; satu lapis sel basal, sel polygonal dan sel gepeng.
Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong kedepan menjadi
lapis sel sayap dan semakin maju kedepan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan
erat dengan sel basal disampingnya dan sel polygonal didepannya melalui desmosom
dan macula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa
yang merupakan barrier.
Sel basal menghasilkan membrane basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi
gangguan akan menghasilkan erosi rekuren.
Epitel berasal dari ectoderm permukaan.
2. Membran Bowman
Terletak dibawah membrana basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang
tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Lapis ini
tidak mempunyai daya regenerasi.
3. Jaringan Stroma
Menyusun 90% ketebalan kornea.
Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan yang
lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang dibagian perifer serat
kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama
yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang
merupakan fibroblast terletak diantara serat kolagen stroma. Diduga keratosit
membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah
trauma.
2

4. Membran Descement
Merupakan membrana aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea
dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basalnya.
Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40 m.
5. Endotel
Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20-40 m. Endotel
melekat pada membran descement melalui hemidosom dan zonula okluden.









Gambar Corneal Cross Section








2. PENATALAKSANAAN TRAUMA KIMIA PADA MATA
Stadium trauma kimia menurut Hughes (berdasarkan kerusakan stem sel limbus) :
3

Stadium 1 : Iskemia limbus yang minimal atau tidak ada
Stadium 2 : Iskemia kurang dari 2 kuadran limbus
Stadium 3 : Iskemia lebih dari 3 kuadran limbus, kornea keruh pupil masih tampak
Stadium 4 : Iskemia pada seluruh limbus, seluruh permukaan epitel konjungtiva dan
bilik mata depan, seluruh kornea keruh dan pupil tidak tampak/tidak
dievaluasi

Penatalaksanaan berdasarkan Standar Pelayanan Medis RSUP Sanglah :
Terapi medikamentosa:
- Irigasi dengan RL/NaCl/Aqua sampai lakmus normal
- Salep mata yang mengandung minyak (oily)
- Tetes mata anti edema (Cendo Siloksan, oftalgon)
- EDTA
- AB + steroid tetes mata, oral AB (doxyciclin)
- Analgetik oral
Operasi :
- Simbleparektomi jika ada simbleparon

Penatalaksanaan trauma kimia pada mata terdiri dari 6 langkah utama yaitu
membersihkan bahan kimia melalui irigasi, memfasilitasi proses reepiteliasi kornea,
mengendalikan proses peradangan, mencegah terjadinya infeksi, mengendalikan
tekanan intra okuler dan menurunkan rasa nyeri.

1. Membersihkan bahan kimia melalui irigasi
Pengobatan untuk semua trauma kimiawi harus dimulai sesegera mungkin. Ini adalah
satu-satunya cara untuk dapat mempertahankan kemampuan penglihatan, adalah untuk
4

memulai irigasi sesegera mungkin dan mempertahankannya sedikitnya sekitar 30 menit.
Tujuan dari pengobatan pada luka kimiawi adalah untuk mengurangi peradangan, nyeri,
dan resiko infeksi.
Jika pasien datang ke tempat praktek atau ke unit gawat darurat, larutan garam fisiologis
adalah yang terpilih, akan tetapi, jika tidak tersedia, air ledeng biasa dapat digunakan.
Mata dapat diberikan anestetik bilamana perlu untuk memfasilitasi irigasi yang baik.
periksa pH dari air mata dengan kertas lakmus jika tersedia setiap 5 menit dan lanjutkan
sampai pH menjadi netral (warna kertas akan berubah menjadi biru jika terkena basa
dan menjadi merah jika terkena asam).
Lamanya dan banyaknya cairan pembilas ditentukan oleh pH mata. Irigasi diteruskan
sampai pH menjadi normal dalam 30 menit. Pengunaan lensa Morgan atau sistem irigasi
mata lainnya dapat meminimalisir akibat blepharospasme. Jika hal-hal ini tidak tersedia,
kelopak dapat ditarik secara manual dengan suatu Desmarres retractor, speculum
kelopak, atau paperclip yang dibengkokkan. Bagian ujung dari selang intravena dapat
mengarahkan aliran cairan steril kedalam mata. Sebagai tambahan, gunakan cutton bud
untuk mengangkat setiap benda yang mungkin tertahan. Cutton bud dapat dicelup
kedalam larutan ethylenediaminetetraacetic acid (EDTA).

2. Memfasilitasi proses reepiteliasi kornea
Setelah bahan kimia dibersihkan dari permukaan bola mata, proses reepiteliasi mulai
terjadi. Proses ini dapat difasilitasi dengan pemberian air mata artifisial, karena pada
mata yang terkena trauma kimia, produksi air mata cenderung tidak stabil.
Sebagai tambahan, penggunaan vitamin C oral karena telah terbukti meningkatkan
produksi kolagen.

3. Mengendalikan proses peradangan
Pemberian steroid topikal penting untuk mencegah infiltrasi sel-sel netrofil sehingga
akan mencegah pengumpulan kolagenase dan menurunkan pembentukan fibroblasts
pada kornea, namun penggunaan steroid tidak boleh digunakan untuk lebih dari satu
minggu karena adanya resiko melelehnya corneoscleral. Tetapi, beberapa referensi lain
mempermasalahkan resiko potensi infeksi dan ulserasi yang melebihi keuntungan yang
didapatkan.
Pemberian sitrat selain mempercepat proses penyembuhan kornea, juga dapat
menghambat agregasi sel PMN via penghambatan ion kalsium. Sedangkan pemberian
asetilsistein (10% atau 20%) dapat memfasilitasi proses kolagenasi sehingga
menghambat ulserasi kornea, walaupun penggunaan secara klinis masih dalam
perdebatan.
5

4. Mencegah terjadinya infeksi
Pasien dengan trauma pada kornea, konjungtiva, dan sklera dapat dilakukan pemberian
antibiotik tetes mata atau salep mata topikal profilaksis. Pilihan antibiotik adalah yang
berspektrum luas, seperti tobramisin, gentamisin, siprofloxacin, norfloxacin, bacitrasin.
Neomycin dan golongan sulfa lebih jarang digunakan karena banyaknya kasus alergi.
Pada trauma kimia ringan hingga sedang, Pemberian salep antibiotik dapat diberikan
tiap 1 sampai 2 jam.

5. Mengendalikan tekanan intra okuler
Peninggian tekanan intraokular harus diterapi dengan Diamox jika perlu, namun
pemberian beta-blocker topikal dapat digunakan sendirian maupun sebagai tambahan.

6. Menurunkan rasa nyeri
Pemberian sikloplegik dapat membantu dalam pencegahan spasme siliar. Ditambah lagi,
bahan ini dipercaya menstabilisasi permeabilitas pembuluh darah karena mengurangi
peradangan dan menurunkan rasa nyeri. Homatropine 5% sering direkomendasikan
karena memiliki masa kerja rata-rata 12-24 jam, waktu dimana pasien harus menemui
dokter mata untuk pemeriksaan lanjutan. Sikloplegik jangka panjang, seperti
scopolamine dan atropine, juga bisa diberikan.
Sebagai tambahan, beberapa dokter mata menganjurkan pengunaan diklofenak tetes
mata. Terapi ini memungkinkan pasien tetap dapat menggunakan kedua mata selama
pengobatan.