Anda di halaman 1dari 2

Jagongan Media Rakyat, Jogja National Museum, Yogyakarta, 23-26 Oktober 2014

Advokasi Pelayanan Kesehatan Bagi Difabel


Persoalan kemasyarakatan sering muncul dan tak bisa terselesaikan dengan kebijakan tertentu dari
para pengambil keputusan. Seringkali dikatakan bahwa fakta itu berbicara sendiri. Artinya, bahwa
para pengambil keputusan dan masyarakat menyadari dampak dari suatu kebijakan, namun tidak
mau mendasarkan tindakan perubahan pada data dan penelitian (fakta itu sendiri). Dalam contoh
kasus keberadaan kaum difabel (differenly abled people) dan atau disabel, terdapat kesenjangan
yang besar antara problematika yang menjadi beban panjang masyarakat dan negara terhadap
berbagai kebijakan yang tidak berpihak terhadap penyelesaian atau meminimalkan beban itu.
Kaum difabel masih dianggap sebagai produk cacat Sang Pencipta - yang sudah lama menegaskan
bahwa ciptaan-Nya adalah sempurna - sehingga berkonsekuensi sebagai komunitas terpinggirkan
dan tidak dapat berpartisipasi dalam lingkungan normal. Mereka masih dianggap sebagai warga
negara kelas kesekian walau banyak terdapat bukti mereka memiliki kemampuan lebih di sisi lain
(differenly abled). Pada kondisi kontras di negara lain, dimana para pemangku kebijakannnya telah
menyadari dan mengambil tindakan nyata untuk kesejahteraan kaum difabel, telah memetik buah
manis yang tidak hanya dirasakan oleh komunitas difabel namun juga oleh masyarakat normal.

Sebagian besar dari terbentuknya jurang kesenjangan di atas adalah karena masih belum begitu
lumrahnya proses-proses advokasi yang baik dalam sistem kemasyarakatan yang memang masih
terus belajar dalam alam demokrasi ini. Selain itu fakta-fakta tersebut tidak begitu saja dapat
dimengerti walau pun bisa disaksikan oleh segenap panca indera para stakeholder. Untuk itulah,
Komunitas Dunia Tak Lagi Sunyi (DTLS) - sebagai wadah nasional berkumpulnya masyarakat yang
terdiri dari orang tua yang memiliki anak dengan gangguan pendengaran, difabel penyandang
gangguan pendengaran, para terapis, dokter, guru, dan unsur masyarakat lainnya yang memiliki
kepentingan perasaan dan semangat yang sama dalam dunia ketunarunguan ikut mempunyai rasa
tanggung jawab besar untuk memperpendek jarak jurang pemisah tersebut melalui pembelajaran
dan kegiatan advokasi. Pembelajaran advokasi kali ini difokuskan pada advokasi bidang kesehatan
untuk kaum difabel. Tidak tertutup partisipasi dari komunitas difabel dan masyarakat lain, manakala
memiliki kepentingan yang sama untuk mendapatkan akses kesehatan yang lebih baik, pelayanan
tanpa diskriminasi, serta usaha-usaha untuk preventif kesehatan.
Struktur pembelajaran dalam lokakarya/workshop yang digawangi oleh Dunia Tak Lagi Sunyi
(berlokasi Ruang Radio, Jogja National Museum, Yogyakarta, tanggal 25 Oktober 2014, pukul 15.00-
17.00) antara lain sebagai berikut:
Pengertian Advokasi
Unsur Pokok Advokasi
Kerangka Konsep Advokasi
Etika Proses Advokasi
Workshop Proses Advokasi
Advokasi: Usaha/tindakan mengubah kebijakan
Unsur Pokok Advokasi, meliputi pengetahuan sosial, pemasaran sosial, analisis perilaku
1. Tujuan
2. Data
3. Sasaran
4. Pesan
5. Pelaksanaan
6. Evaluasi
7. Sumber daya
8. Koalisi
Kerangka Konsep Untuk Advokasi:
1. Identifikasi masalah
2. Menentukan solusi
3. Membangun kesadaran politik (political will)
4. Tindakan kebijakan (policy action)
5. Evaluasi
Etika Proses Advokasi:
1. Partisipatoris
2. Independen
3. Anti kekerasan
4. Transparan
5. Terpercaya
Pertimbangan Memilih Tujuan Advokasi:
1. Iklim politik
2. Kemungkinan keberhasilan
3. Data/penelitian terkait
4. Dana
5. Kemampuan organisasi
6. Kemampuan diri