Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Spondilitis tuberkulosa atau tuberkulosis spinal yang dikenal pula dengan
nama Potts disease of the spine atau tuberculous vertebral osteomyelitis
merupakan suatu penyakit yang banyak terjadi di seluruh dunia. Spondilitis Tb
merupakan salah satu bentuk Tb ekstrapulmoner, terutama mengenai vertebra
torakolumbal. Tuberkulosis ekstrapulmoner dapat terjadi pada 25-30% anak yang
terineksi Tb, sedangkan Tb tulang dan sendi terjadi pada 5-!0% anak yang
terineksi dan paling banyak terjadi dalam ! tahun tetapi dapat juga 2-3 tahun
kemudian
!
.
"enyakit ini pertama kali dideskripsikan oleh "er#ival "ott pada tahun
!$$% yang menemukan adanya hubungan antara kelemahan alat gerak ba&ah
dengan kurvatura tulang belakang, tetapi hal tersebut tidak dihubungkan dengan
basil tuberkulosa hingga ditemukannya basil tersebut oleh 'o#h tahun !((2,
sehingga etiologi untuk kejadian tersebut menjadi jelas
!
.
)nsidensi spondilitis tuberkulosa bervariasi di seluruh dunia dan biasanya
berhubungan dengan kualitas asilitas pelayanan kesehatan masyarakat yang
tersedia serta kondisi sosial di negara tersebut. Saat ini spondilitis tuberkulosa
merupakan sumber morbiditas dan mortalitas utama pada negara yang belum dan
sedang berkembang, terutama di *sia, dimana malnutrisi dan kepadatan penduduk
masih menjadi merupakan masalah utama. +i negara ,negara yang sudah maju
1
seperti *merika -tara, .ropa dan Saudi *rabia, insidensi penyakit ini terutama
mengenai de&asa dengan usia rata-rata /0-50 tahun. Sedangkan di negara yang
sedang berkembang seperti )ndonesia dan negara-negara di arika *rika sebagian
besar mengenai anak-anak 050% kasus terjadi antara usia !-20 tahun1
!
.
Setiap tulang atau sendi dapat terkena, akan tetapi tulang yang mempunyai
ungsi untuk menahan beban 0weight bearing1 dan mempunyai pergerakan yang
#ukup besar 0mobile1 lebih sering terkena dibandingkan dengan bagian yang lain.
Tulang belakang merupakan tempat yang paling sering terkena tuberkulosa tulang
diikuti kemudian oleh tulang panggul, lutut dan tulang-tulang lain di kaki,
sedangkan tulang di lengan dan tangan jarang terkena. *rea torako-lumbal
terutama torakal bagian ba&ah 0umumnya T !01 dan lumbal bagian atas
merupakan tempat yang paling sering terlibat karena pada area ini pergerakan dan
tekanan dari weight bearing men#apai maksimum, lalu dikuti dengan area servikal
dan sakral
!
.
Spondilitis Tb dilaporkan terutama pada anak usia muda dengan gejala
paling sering ditemukan nyeri punggung, kekakuan, keterbatasan gerakan dan
dengan berlanjutnya penyakit dapat terjadi abses paravertebral dan psoas. 2ibus
merupakan gejala atau tanda tersering yang ditemukan yang diperhatikan pada
pemeriksaan isis anak dan terutama mengenai vertebra torakolumbal. Terhitung
kurang lebih 3 juta kematian terjadi setiap tahunnya dikarenakan penyakit ini
!
.
+eisit neurologis mun#ul pada !0-/$% kasus pasien dengan spondilitis
tuberkulosa. +i negara yang sedang berkembang penyakit ini merupakan
penyebab paling sering untuk kondisi paraplegia non traumatik. Sejak hadirnya
2
antituberkulosis dan meningkatnya angka kesehatan masyarakat, tuberkulosis
spinal sudah jarang ditemukan pada negara maju, &alaupun masih merupakan
penyebab penyakit yang signiikan pada negara berkembang. Tuberkulosis yang
melibatkan spinal berpotensi menyebabkan morbiditas yang serius, termasuk
deisit neurologi yang permanen dan deormitas yang berat. Terapi medis atau
kombinasi medis dan pembedahan dapat mengontrol penyakit ini pada hampir
semua pasien
!
.
Spondilitis Tb melibatkan tulang belakang akan terjadi kiphosis dari
daerah yang terineksi, keadaan ini dapat menimbulkan nyeri yang hebat dan
komplikasi neurologis. -mumnya penderita spondilitis T3 datang dengan keluhan
nyeri spinal atau radikular %$%, kelainan dei#it neurologi 50%, penurunan berat
badan /(%, demam 4 3(56 3!% dan keringat malam !(%.
B. Tujuan Penulisan
"enulisan makalah tinjauan kepustakaan ini bertujuan untuk memberikan
inormasi mengenai deinisi, epidemiologi, etiologi, patoisiologi, maniestasi
klinis, pemeriksaan penunjang dan penatalaksanaan pada Spondilitis Tuberkulosa.
+engan demikian diharapkan makalah ini dapat menjadi pengetahuan tambahan
pada praktek klinis.
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Spondilitis tuberkulosa adalah suatu osteomielitis kronik tulang belakang
yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. +aerah yang paling sering
adalah daerah torakal terutama bagian ba&ah, daerah lumbal dan servikal !-/.
*kibat perkejuan akan terbentuk abses yang dapat meluas ke sekitarnya dan
men#ari jalan ke luar. "aling sering mengikuti asia otot psoas, berkumpul dalam
osa iliaka sampai terjadi istel kulit. +i &aktu yang lampau, spondilitis
tuberkulosa merupakan istilah yang dipergunakan untuk penyakit pada masa
anak-anak, yang terutama berusia 3 , 5 tahun
!
.
B. Prevalensi
)nsidensi spondilitis tuberkulosa merupakan sumber morbiditas dan
mortalitas utama pada negara berkembang, terutama di *sia, dimana malnutrisi
dan kepadatan penduduk masih menjadi merupakan masalah utama.
)ndonesia adalah kontributor pasien tuberkulosa nomor 3 di dunia setelah
)ndia dan 6ina. +iperkirakan !/0.000 orang meninggal akibat tuberkulosa setiap
tahun atau setiap / menit ada satu penderita yang meninggal di negara-negara
tersebut dan setiap 2 detik terjadi penularan
.
7ampir !0% dari seluruh penderita
tuberkulosa memiliki keterlibatan dengan muskuloskeletal. Setengahnya
mempunyai lesi di tulang belakang. 'eterlibatan tulang belakang akan
memperberat morbiditas karena adanya potensi deisit neurologis dan deormitas
4
yang permanen. +eisit neurologis mun#ul pada !0-/$% kasus pasien dengan
spondilitis tuberkulosa
!
.
"ada kasus tersebut, tulang belakang merupakan tempat yang paling sering
terkena tuberkulosa tulang 0kurang lebih 50% kasus102orse et al. !%(31, diikuti
kemudian oleh tulang panggul, lutut dan tulang-tulang lain di kaki, sedangkan
tulang di lengan dan tangan jarang terkena. *rea torako-lumbal terutama torakal
bagian ba&ah 0umumnya T !01 dan lumbal bagian atas merupakan tempat yang
paling sering terlibat karena pada area ini pergerakan dan tekanan dari weight
bearing men#apai maksimum, lalu dikuti dengan area servikal dan sakral
!
.
C. Etilgi
"enyakit ini disebabkan oleh karena bakteri Mycobacterium tuberculosis.
+apat juga disebabkan oleh Mycobacterium africanum 0penyebab paling sering
tuberkulosa di *rika 3arat1, Bovine Tubercle baccilus, ataupun non-tuberculous
mycobacteria 0banyak ditemukan pada penderita 7)81
!

"erbedaan jenis spesies ini menjadi penting karena sangat mempengaruhi
pola resistensi obat. Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri berbentuk
batang, di&arnai dengan teknik 9iehl-:ielson. "roduksi niasin merupakan
karakteristik Mycobacterium tuberculosis dan dapat membantu untuk
membedakannnya dengan spesies lain
!
.
5
2ambar 2.!; 'uman <y#oba#terium tb# 03T*1 dengan pe&arnaan 9iehl-
:eelsen. Tampak batang ber&arna merah muda
2
.
D. Patgenesis
'omponen lipid, protein serta polisakarida sel basil tuberkulosa bersiat
merangsang pembentukan granuloma dan mengaktivasi makroag, antigen yang
dihasilkannya juga dapat juga bersiat immunosupresi. 8irulensi basil
tuberkulosa dan kemampuan mekanisme pertahanan host akan menentukan
perjalanan penyakit
!
. "ertahanan umunitas pasien tergantung dari
!
;
!. -sia dan jenis kelamin
Terdapat sedikit perbedaan antara anak laki-laki dan anak perempuan
hingga masa pubertas. 3ayi dan anak muda dari kedua jenis kelamin mempunyai
kekebalan yang lemah. 7ingga usia 2 tahun ineksi biasanya dapat terjadi dalam
bentuk yang berat seperti tuberkulosis milier dan meningitis tuberkulosa, yang
berasal dari penyebaran se#ara hematogen. Setelah usia ! tahun dan sebelum
pubertas, anak yang terineksi dapat terkena penyakit tuberkulosa milier atau
6
meningitis, ataupun juga bentuk kronis lain dari ineksi tuberkulosa seperti ineksi
ke nodus limatikus, tulang atau sendi.
2. :utrisi
'ondisi malnutrisi akan menurunkan resistensi terhadap penyakit.
3. =aktor toksik
"erokok tembakau dan peminum alkohol akan mengalami penurunan daya
tahan tubuh. +emikian pula dengan pengguna obat kortikosteroid atau
immunosupresan lain.
/. "enyakit
*danya penyakit seperti ineksi 7)8, diabetes, leprosi, silikosis, leukemia
meningkatkan resiko terkena penyakit tuberkulosa.
5. >ingkungan yang buruk 0kemiskinan1
'emiskinan mendorong timbulnya suatu lingkungan yang buruk dengan
pemukiman yang padat dan kondisi kerja yang buruk disamping juga adanya
malnutrisi, sehingga akan menurunkan daya tahan tubuh.
?. @as
+itemukan bukti bah&a populasi terisolasi #ontohnya orang .skimo atau
*merika asli, mempunyai daya tahan tubuh yang kurang terhadap penyakit ini.
7
2ambar 2.2 =aktor resiko kejadian T3
2
Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri berbentuk batang yang
bersiat asam dan tidak dapat di&arnai dengan teknik 9iehl-:ielson untuk
memvisualisasikannya. "roduksi niasin merupakan karakteristik Mycobacterium
tuberculosis dan dapat membantu untuk membedakannnya dengan spesies lain
!
.
Tuberkulosa pada tulang belakang dapat terjadi karena penyebaran
hematogen atau penyebaran langsung nodus limatikus para aorta atau melalui
jalur limatik ke tulang. "enyebaran hematogen ke tulang dapat segera
berkembang dan bermaniestasi tetapi dapat juga tenang dan setelah beberapa
bulan atau tahun menjadi akti. 'omplikasi tulang dan sendi paling banyak terjadi
di dalam &aktu ? bulan setelah ineksi. "ada penampakannya, okus ineksi
primer tuberkulosa dapat bersiat tenang. Sumber ineksi yang paling sering
adalah berasal dari system pulmoner dan genitourinarius
!
.
"enyebaran basil dapat terjadi melalui arteri inter#ostal atau lumbar yang
memberikan suplai darah ke dua vertebrae yang berdekatan, yaitu setengah bagian
ba&ah vertebra diatasnya dan bagian atas vertebra di ba&ahnya atau melalui
pleksus Batsons yang mengelilingi #olumna vertebralis yang menyebabkan
banyak vertebra yang terkena. 7al inilah yang menyebabkan pada kurang lebih
8
$0% kasus, penyakit ini dia&ali dengan terkenanya dua vertebra yang berdekatan,
sementara pada 20% kasus melibatkan tiga atau lebih vertebra. 3erdasarkan lokasi
ineksi a&al pada korpus vertebra dikenal tiga bentuk spondilitis
!
;
"eridiskal A paradiskal
)neksi pada daerah yang bersebelahan dengan diskus 0di area metaise di
ba&ah ligamentum longitudinal anterior A area subkondral1. 3anyak ditemukan
pada orang de&asa. +apat menimbulkan kompresi, iskemia dan nekrosis diskus.
Terbanyak ditemukan di regio lumbal.
Sentral
)neksi terjadi pada bagian sentral korpus vertebra, terisolasi sehingga
disalah artikan sebagai tumor. Sering terjadi pada anak-anak. 'eadaan ini sering
menimbulkan kolaps vertebra lebih dini dibandingkan dengan tipe lain sehingga
menghasilkan deormitas spinal yang lebih hebat. +apat terjadi kompresi yang
bersiat spontan atau akibat trauma. Terbanyak di temukan di regio torakal.
*nterior
)neksi yang terjadi karena perjalanan perkontinuitatum dari vertebra di
atas dan diba&ahnya. 2ambaran radiologisnya men#akup adanya scalloped
karena erosi di bagian anterior dari sejumlah vertebra 0berbentuk baji1.
3entuk atipikal ;
+ikatakan atipikal karena terlalu tersebar luas dan okus primernya tidak
dapat diidentiikasikan. Termasuk didalamnya adalah tuberkulosa spinal dengan
keterlibatan lengkung syara saja dan granuloma yang terjadi di #analis spinalis.
9
Terjadinya nekrosis perkejuan yang meluas men#egah pembentukan tulang
baru dan pada saat yang bersamaan menyebabkan tulang menjadi avas#ular
sehingga menimbulkan tuberculous sequestra, terutama di regio torakal. +is#us
intervertebralis, yang avaskular, relative lebih resisten terhadap ineksi
tuberkulosa. "enyempitan rongga diskus terjadi karena perluasan ineksi
paradiskal ke dalam ruang diskus, hilangnya tulang sub#hondral disertai dengan
kolapsnya #orpus vertebra karena nekrosis dan lisis ataupun karena dehidrasi
diskus, sekunder karena perubahan kapasitas ungsional dari end plate. Suplai
darah juga akan semakin terganggu dengan timbulnya endarteritis yang
menyebabkan tulang menjadi nekrosis
!
.
+estruksi progresi tulang di bagian anterior dan kolapsnya bagian
tersebut akan menyebabkan hilangnya kekuatan mekanis tulang untuk menahan
berat badan sehingga kemudian akan terjadi kolaps vertebra dengan sendi
intervertebral dan lengkung syara posterior tetap intak, jadi akan timbul
deormitas berbentuk kiosis yang progresiitasnya 0angulasi posterior1 tergantung
dari derajat kerusakan, level lesi dan jumlah vertebra yang terlibat. 3ila sudah
timbul deormitas ini, maka hal tersebut merupakan tanda bah&a penyakit ini
sudah meluas
!
.
+engan adanya peningkatan sudut kiosis di regio torakal, tulang-tulang
iga akan menumpuk menimbulkan bentuk deormitas rongga dada berupa barrel
chest. "roses penyembuhan kemudian terjadi se#ara bertahap dengan timbulnya
ibrosis dan kalsiikasi jaringan granulomatosa tuberkulosa. Terkadang jaringan
10
ibrosa itu mengalami osiikasi, sehingga mengakibatkan ankilosis tulang vertebra
yang kolaps
!
.
"embentukan abses paravertebral terjadi hampir pada setiap kasus.
+engan kolapsnya korpus vertebra maka jaringan granulasi tuberkulosa, bahan
perkejuan, dan tulang nekrotik serta sumsum tulang akan menonjol keluar melalui
korteks dan berakumulasi di ba&ah ligamentum longitudinal anterior. old
abcesss ini kemudian berjalan sesuai dengan pengaruh gaya gravitasi sepanjang
bidang asial dan akan tampak se#ara eksternal pada jarak tertentu dari tempat lesi
aslinya
!
.
+i regio lumbal abses berjalan sepanjang otot psoas dan biasanya berjalan
menuju lipat paha diba&ah ligamen inguinal. +i regio torakal, ligamentum
longitudinal menghambat jalannya abses, tampak pada radiogram sebagai
gambaran bayangan berbentuk usiorm radioopak pada atau sedikit diba&ah level
vertebra yang terkena, jika terdapat tegangan yang besar dapat terjadi ruptur ke
dalam mediastinum, membentuk gambaran abses paravertebral yang menyerupa
Bsarang burungC. Terkadang, abses torakal dapat men#apai dinding dada anterior
di area parasternal, memasuki area retroaringeal atau berjalan sesuai gravitasi ke
lateral menuju bagian tepi leher
!
.
Sejumlah mekanisme yang menimbulkan deisit neurologis dapat timbul
pada pasien dengan spondilitis tuberkulosa. 'ompresi syara sendiri dapat terjadi
karena kelainan pada tulang 0kiosis1 atau dalam #analis spinalis 0karena perluasan
langsung dari ineksi granulomatosa1 tanpa keterlibatan dari tulang 0seperti
epidural granuloma, intradural granuloma, tuber#ulous ara#hnoiditis1. Salah satu
11
deisit neurologis yang paling sering terjadi adalah paraplegia yang dikenal
dengan nama Potts paraplegia. "araplegia ini dapat timbul se#ara akut ataupun
kronis 0setelah hilangnya penyakit1 tergantung dari ke#epatan peningkatan
tekanan mekanik kompresi medula spinalis. "ada penelitian yang dilakukan
7odgson di 6leveland, paraplegia ini biasanya terjadi pada pasien berusia kurang
dari !0 tahun 0kurang lebih 2A3 kasus1 dan tidak ada predileksi berdasarkan jenis
kelamin untuk kejadian ini
!
.
12
!a"#ar $.%. Patfisilgi S&n'ilitis TB
13
Kuman
Tuberculosa
Infeksi pada bagian sentral
atau depan atau daerah
epifseal korpus
Hiperemi
Osteoporosis
dan Perlunakan
Eksudat
Menyebar di lig.
ongitudinal
anterior
Kerusakan pada korteks
epifsis diskus
inter!ertebralis dan !ertebra
Eksudat
Operasi
Immobilisasi
"esiko infeksi luka
nyeri Menembus
lig dan
berekspansi
ke lig yang
#bses umbal
$ebridement
"esiko
Penyebaran
Infeksi
M. psoas dan
muncul di ba%ah
lig inguinal
Pemb darah
femoralis pada
trigonum skapei
Krista
iliaka
Kuman
Tuberculosa
..
(anifestasi Klinis
3
- +eormitas tulang belakang 0gibbus1 pada torakal terutama bagian ba&ah,
leher dan lumbal.
- 'ekakuan tulang punggung disebabkan oleh spasme otot-otot dalam usaha
yang tidak disadari untuk men#egah pergerakan yang akan mungkin akan
menyebabkan rasa nyeri.
- Sikap tubuh penderita yang ditemukan terjadi akibat usahanya mengurangi
tekanan pada korpus vertebra yang sakit.
- Sendi-sendi yang menyangga berat berada dalam keadan leksi.
- 2angguan tidur disebabkan relaksasi otot ,otot pada &aktu tidur sehingga
dapat menyebabkan rasa nyeri.
- 2ejala neuurologis terjadi karena kompresi abses dingin ekstradural.
"aralisis umunya timbil kira-kira dalam &aktu 3 tahun, tetapi dapat juga
dalam beberapa bulan.
- 2ejala klinis pada permulaannnya tidak jelas, biasanya anak #engeng dan
tidurnya tidak tenang. Terdapat rasa nyeri terus menerus atau hilang timbul
yang yang bertambah kalau kepala ditekan dari atas. "unggung kaku
karena spasme otot.
- *bses daerah lumbal biasanya akan terdapat sepanjang otot psoas
14
2ambar 2./ deormitas tulang belakang 0 gibbus1 pada anak
2
<asa kaseosa yang terjadi ke#il sekali atau tidak terbentuk sama sekali,
terjadi erosi tulang, kanal 7aversi runtuh, sedangkan trabekule masih utuh
sehingga terjadi osteoporosis. Terjadi masa kaseosa, trabekule rusak, tulang
melunak, massa kaseosa menyebar ke jaringan lunak sekitarnya menimbulkan
abses dingin. 'ejadian ini lebih sering terjadi pada tulang belakang. 'erusakan
korpus vertebrae membentuk deormitas yang disebut gibus 0kiosis1. Dumlah
vertebra yang terserang biasanya lebih dari ! buah, terbanyak 2-5 buah
!
.
).
Pe"eriksaan Penunjang *
!. >aboratorium ;
Uji Mantoux atau Tuberkulin
*da 2 ma#am tuberkulin yaitu Eld tuberkulin dan "uriied "rotein +erivat
0""+1. 6aranya adalah dengan menyuntikkan 0,! ml tuberkulin ""+
intrakutan di volar lengan ba&ah. 7asilnya dapat dilihat /( , $2 jam setelah
penyuntikan. 3erniai positi jika indurasi lebih dari !0 mm pada anak dengan
giFi baik atau lebih dari 5 mm pada anak dengan giFi buruk
!,2
.
Reaksi cepat BCG
15
3ila dalam penyuntikan 362 terjadi reaksi #epat 0dalam 3-$ hari1 berupa
kemerahan lebih dari 5 mm, maka anak di#urigai terineksi <y#obaterium
tb#
!,2
.
Laju Endap Darah
"ada T3, terdapat kenaikan >aju .ndap +arah 0>.+1
!,2
.
Pemeriksaan mikrobiolois
"emeriksaan 3T* pada anak dilakukan dari bilasan lambung karena
sulitnya menggunakan hasil dahak. "emeriksaan 3T* #ara baru seperti!
P" #Polymerase hain "eaction$, Bactec, %&'(), P)P dan Mycodots
masih belum banyak dipakai dalam klinis praktis
!,2
.
2. @adiologis
@adiograi anterior-posterior dan lateral merupakan pemeriksaan
pen#itraan pertama yang diminta pada pasien nyeri punggung kronik, progresi.
"enyempitan ruang diskus intervertebralis, kekaburan dari ujung lempeng.
destruksi tulang, dan keruntuhan korpus vertebra yang berdekatan ke yang
lainnya, mengakibatkan deormitas tulang belakang yang menyudut. *danya
bayangan jaringan lunak paraspinal mungkin akibat edema dan pembengkakan
atau abses paravertebra. )ni adalah tanda khas penyakit pada toraks
!
.
3. 6T S#an
6T s#anning menunjukkan detail tulang yang sklerosis, kolaps diskus
intervertebralis dan gangguan lingkar tulang, eekti untuk menjelaskan bentuk
dan kalsiikasi dari abses jaringan lunak
!
.
/. <@)
16
<@) adalah kriteria standar untuk evaluasi ineksi disk-spa#e,
osteomyelitis, perluasan penyakit ke sot tissues dan penyebaran debris
tuberkulosis di anterior dan ligamen longitudinal posterior serta kompresi neural
!
.
+iagnosis T3 pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis baik
overdiagnosis maupun underdiagnosis. "ada anak-anak batuk bukan merupakan
gejala utama. "engambilan dahak pada anak biasanya sulit, maka diagnosis T3
anak perlu kriteria lain dengan menggunakan sistem skor
2
.
2ambar 2.? Sistem Skoring +iagnosis Tuberkulosis *nak
6atatan;
+iagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter
Dika dijumpai skrouloderma langsung didiagnosis T3
3erat badan dinilai saat datang
17
+emam dan batuk tidak ada respons terhadap terapi sesuai baku
=oto rontgen bukan alat diagnosis utama pada T3 anak
Semua anak dengan reaksi #epat 362 harus dievaluasi dengan system skoring
T3 anak
+idiagnosis T3 jika jumlah skor G? 0skor maksimal !/1
Setelah dokter melakukan anamnesis, pemeriksaan isik, dan pemeriksaan
penunjang, maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor. "asien dengan
jumlah skor yang lebih atau sama dengan ? 04?1, harus ditatalaksana sebagai
pasien T3 dan mendapat E*T 0obat anti tuberkulosis1. 3ila skor kurang dari ?
tetapi se#ara klinis ke#urigaan kearah T3 kuat maka perlu dilakukan pemeriksaan
diagnostik lainnya sesuai indikasi, seperti bilasan lambung, patologi anatomi,
pungsi lumbal, pungsi pleura, oto tulang dan sendi, unduskopi, 6T-S#an, dan
lain lainnya
2
.
!.
Diagnsis
Ana"nesa 'an ins&eksi
+
*
2ambaran adanya penyakit sistemik ; kehilangan berat badan, keringat malam,
demam yang berlangsung se#ara intermitten terutama sore dan malam hari
serta cache*ia. "ada pasien anak-anak, dapat juga terlihat berkurangnya
keinginan bermain di luar rumah. Sering tidak tampak jelas pada pasien yang
#ukup giFi sementara pada pasien dengan kondisi kurang giFi, maka demam
0terkadang demam tinggi1, hilangnya berat badan dan berkurangnya nasu
makan akan terlihat dengan jelas.
18
*danya ri&ayat batuk lama 0lebih dari 3 minggu1 berdahak atau berdarah
disertai nyeri dada. "ada beberapa kasus di *rika terjadi pembesaran dari
nodus limatikus, tuberkel di subkutan, dan pembesaran hati dan limpa.
:yeri terlokalisir pada satu regio tulang belakang atau berupa nyeri yang
menjalar. )neksi yang mengenai tulang servikal akan tampak sebagai nyeri di
daerah telingan atau nyeri yang menjalar ke tangan. >esi di torakal atas akan
menampakkan nyeri yang terasa di dada dan inter#ostal. "ada lesi di bagian
torakal ba&ah maka nyeri dapat berupa nyeri menjalar ke bagian perut. @asa
nyeri ini hanya menghilang dengan beristirahat. -ntuk mengurangi nyeri
pasien akan menahan punggungnya menjadi kaku.
"ola jalan mereleksikan rigiditas protekti dari tulang belakang. >angkah kaki
pendek, karena men#oba menghindari nyeri di punggung.
3ila ineksi melibatkan area servikal maka pasien tidak dapat menolehkan
kepalanya, mempertahankan kepala dalam posisi ekstensi dan duduk dalam
posisi dagu disangga oleh satu tangannya, sementara tangan lainnya di
oksipital. @igiditas pada leher dapat bersiat asimetris sehingga menyebabkan
timbulnya gejala klinis torti#ollis. "asien juga mungkin mengeluhkan rasa
nyeri di leher atau bahunya. Dika terdapat abses, maka tampak pembengkakan
di kedua sisi leher. *bses yang besar, terutama pada anak, akan mendorong
trakhea ke sternal notch sehingga akan menyebabkan kesulitan menelan dan
adanya stridor respiratoar, sementara kompresi medulla spinalis pada orang
de&asa akan menyebabkan tetraparesis. +islokasi atlantoaksial karena
tuberkulosa jarang terjadi dan merupakan salah satu penyebab kompresi
cervicomedullary di negara yang sedang berkembang. 7al ini perlu
19
diperhatikan karena gambaran klinisnya serupa dengan tuberkulosa di regio
servikal.
)neksi di regio torakal akan menyebabkan punggung tampak menjadi kaku.
3ila berbalik ia menggerakkan kakinya, bukan mengayunkan dari sendi
panggulnya. Saat mengambil sesuatu dari lantai ia menekuk lututnya sementara
tetap mempertahankan punggungnya tetap kaku. Dika terdapat abses, maka
abses dapat berjalan di bagian kiri atau kanan mengelilingi rongga dada dan
tampak sebagai pembengkakan lunak dinding dada. Dika menekan abses ini
berjalan ke bagian belakang maka dapat menekan korda spinalis dan
menyebabkan paralisis.
+i regio lumbar ; abses akan tampak sebagai suatu pembengkakan lunak yang
terjadi di atas atau di ba&ah lipat paha. Darang sekali pus dapat keluar melalui
istel dalam pelvis dan men#apai permukaan di belakang sendi panggul. "asien
tampak berjalan dengan lutut dan hip dalam posisi leksi dan menyokong
tulang belakangnya dengan meletakkan tangannya diatas paha. *danya
kontraktur otot psoas akan menimbulkan deormitas leksi sendi panggul.
Tampak adanya deormitas, dapat berupa ; kiosis 0gibbusAangulasi
tulangbelakang1, skoliosis, bayonet deformity, subluksasi, spondilolistesis,dan
dislokasi.
*danya gejala dan tanda dari kompresi medula spinalis 0deisit neurologis1.
Terjadi pada kurang lebih !0-/$% kasus. )nsidensi paraplegia pada spondilitis
lebih banyak di temukan pada ineksi di area torakal dan servikal. Dika timbul
paraplegia akan tampak spastisitas dari alat gerak ba&ah dengan releks tendon
dalam yang hiperakti, pola jalan yang spastik dengan kelemahan motorik yang
bervariasi. +apat pula terjadi gangguan ungsi kandung kemih dan anorektal.
20
"embengkakan di sendi yang berjalan lambat tanpa disertai panas dan nyeri
akut seperti pada ineksi septik. Enset yang lambat dari pembengkakan tulang
ataupun sendi mendukung bah&a hal tersebut disebabkan karena tuberkulosa.
Pal&asi
+
*
3ila terdapat abses maka akan teraba massa yang berluktuasi dan kulit
diatasnya terasa sedikit hangat 0disebut cold abcess, yang membedakan dengan
abses piogenik yang teraba panas1. +apat dipalpasi di daerah lipat paha, ossa
iliaka, retropharynH, atau di sisi leher 0di belakang otot
sternokleidomastoideus1, tergantung dari level lesi. +apat juga teraba di sekitar
dinding dada. "erlu diingat bah&a tidak ada hubungan antara ukuran lesi
destrukti dan kuantitas pus dalam cold abscess.
Spasme otot protekti disertai keterbatasan pergerakan di segmen yang terkena
Perkusi
+
*
"ada perkusi se#ara halus atau pemberian tekanan diatas prosesus spinosus
vertebrae yang terkena, sering tampak tenderness.
7.
Penatalaksanaan
The Medical "esearch ouncil telah menyimpulkan bah&a terapi pilihan
untuk tuberkulosa spinal di negara yang sedang berkembang adalah kemoterapi
ambulatori dengan regimen isoniaFid dan riamipi#in selama ? , % bulan
2
.
Ebat anti tuberkulosa yang utama adalah isoniaFid 0):71, riamipi#in
0@<"1, pyraFinamide 0"9*1, streptomy#in 0S<1 dan ethambutol 0.<31. Ebat
21
antituberkulosa sekuder adalah para-aminosali#yli# a#id 0"*S1, ethionamide,
#y#loserine, kanamy#in dan #apreomy#in.

+ategori )na, #-"./01".$


-
!. Tahap intensif selama 2 bulan diberikan ):7 071, @iampi#in 0@1,
"iraFinamid 091 masing-masing tiap hari.
2. Tahap lan2utan selama / bulan diberikan ):7 071 dan @iampi#in 0@1
masing-masing tiap hari.

3enis dan 4osis 5bat TB pada )na,


-
Table! dosis 5)T +ombipa, pada ana,
Table! dosis 5)T +4T pada ana,.
Tera&i ,&eratif
-ntuk pasien yang mempunyai lesi kompresi se#ara radiologis dan
menyebabkan timbulnya kelainan neurologis. Setelah tindakan operasi pasien
biasanya beristirahat di tempat tidur selama 3-? minggu
!
.
"ilihan pendekatan operasi dilakukan berdasarkan lokasi lesi, bisa melalui
pendektan dari arah anterior atau posterior. Terapi operati juga biasanya selain
22
tetap disertai pemberian kemoterapi, dikombinasikan dengan ?-!2 bulan tirah
baring dan !(-2/ bulan selanjutnya menggunakan spinal bracing
6
.
7anya diindikasikan pada pasien dengan paraplegia karena penyakit di
laminar atau keterlibatan #orda spinalis atau bila paraplegia tetap ada setelah
dekompresi anterior dan usi, serta mielograi menunjukkan adanya sumbatan
!
.
J. Pen-ega.an
362 diberikan pada usia 0-3 bulan se#ara intrakutan. )munisasi 362
tidak bisa men#egah dari penyakit T3, akan tetapi bisa men#egah dari penyakit
T3 berat seperti T3 milier dan meningitis T3
2
.
K. Prgnsis
"rognosis Tb sistem skeletal sangat bergantung pada derajat kerusakan
sendi atau tulang. "ada kelainan yang minimal umumnya dapat kembali normal,
tetapi pada kelainan yang sudah lanjut dapat menimbulkan sekuel 0#a#at1 sehingga
mengganggu mobilitas pasien.
LAP,/AN STATUS PASIEN
I. IDENTITAS PASIEN
:ama ; <urhaban
-mur ; 5 Tahun
Denis 'elamin ; >aki - laki
"endidikan ; 3elum Sekolah
23
*gama ; )slam
Suku ; *#eh
*lamat ; +usun 6ang +uri 2empong Sunti
Tgl <asuk @S ; 0( September 20!/ "ukul ; 20.00 I)3
II. IDENTITAS KELUA/!A
:ama *yah ; *li *kbar
-mur ; /0 Tahun
"endidikan ; S+
"ekerjaan ; "etani
*gama ; )slam
Suku ; *#eh
:ama )bu ; Dohara
-mur ; 35 Tahun
"endidikan ; Tidak "ernah Sekolah
"ekerjaan ; )@T
*gama ; )slam
Suku ; *#eh
III. ANA(NESA
'eluhan -tama ; +emam
Telaah ; "asien datang bersama kedua orang tuanya ke )2+
@S-+ >angsa pada tanggal ( september 20!/ dan langsung dikirim ke bagian
@"* pada pukul 20.00 I)3, dengan keluhan demam sejak J 3 bulan yang lalu
dan memberat J 2 hari S<@S. +emam tidak tergantung &aktu, bersiat hilang
timbul dan demam tidak menggigil. )bu pasien juga mengatakan keluhan lainnya
yaitu batuk 0K1, dialami sejak J ! bulan dan memberat J 2 hari S<@S. 3atuk
24
berdahak 0K1, ber&arna kuning 0K1, tidak berbau dan tidak disertai sesak naas.
)bu "asien juga mengeluhkan perutnya kembung sejak J 2 hari, mual 0-1, muntah
0-1, men#ret 0-1. Selama sakit nasu makan menurun 0K1, dan mengeluarkan
keringat dingin pada malam hari J 3 bulan. "asien juga mengeluhkan nyeri dan
ada benjolan di lipatan paha sebelah kanan.
)bu pasien juga mengeluhkan ada benjolan pada bagian punggung.
3enjolan tersebut terjadi sejak / tahun yang lalu, yang diakibatkan oleh jatuhnya
pasien dari tempat tidur yang tingginya J ! meter pada usia ! tahun. Setelah !
bulan terjadi benjolan pada punggung mulai kelihatan, dan orang tuanya
memba&anya ke tukang pijat, tapi benjolan tidak berkurang. Sampai saat ini
benjolan masih tetap ada. "ada kaki sebelah kanan tidak bisa diluruskan dan nyeri
saat digerakkan.
@"+ ; 0-1
@"' ; <ak #iknya mempunyai ri&ayat batuk-batuk J 3
bulan dan selalu kontak dengan pasien
@"E ; )bu pasien obat penurun panas ketika demam 0 ibu
pasien lupa nama obatnya 1
@i&ayat alergi ; +ebu 0-1, <akanan 0-1.
@i&ayat 'ebiasaan ; 0-1
@i&ayat 'ehamilan )bu ; 23 "2 *0
@i&ayat 'elahiran ; Es lahir se#ara spontan melalui pervaginam
kelahiran #ukup bulan dengan bidan kampung.
@i&ayat imunisasi ;
362 ; 0-1
"olio ; 5H
7epatitis ; 0-1
+"T ; 0-1
6ampak ; 0-1
@i&ayat tumbuh kembang ; <enurut #erita )bu pasien, ri&ayat tumbuhn
kembang pasien kurang.
25
@i&ayat 2iFi ; 'urang
I0. PE(E/IKSAAN )ISIK
A. STATUS !ENE/ALIS
- 'eadaan -mum ; Tampak sakit ringan
- 'esadaran ; 6ompos mentis
- 8ital Sign ;
:adi ; (( HA menit
"ernaasan ; 2? HA menit
Temperatur ; 3$,(
0
6
- 33 ; !!,! kg
- T3 ; !00 #m
- Status 2iFi ; H !00 L?5%
0!i1i #uruk2
B. STATUS L,KALIS
- 'epala ; >ingkar 'epala L 3/ #m dengan usia 5 tahun
:ormo#ephali
- Iajah ;
3entuk simetris
"embengkakan &ajah 0-1
"u#at 0K1
=a#e <ongoloid 0-1
- <ata ;
3entuk simetris
'onjungtiva palpebra inerior *nemis 0KAK1,
Sklera ikterik 0-A-1
- 7idung ;
:67 0-1
Sekret 0-1
- <ulut ;
3ibir kering 0-1
3ibir pu#at 0K1
3ibir sianosis 0-1
- >idah ;
Tremor 0-1
3eslag 0-1
- Tonsil ;
T!AT!
26
11,1 Kg
17 Kg
- =aring ;
7iperemis 0-1
- Telinga ;
:ormotia
Se#ret 0-1
:yeri tekan 0-1
- >eher ;
3entuk normal
+eviasi trakea 0-1
"embesaran '23 0-1
"embesaran thyroid 0-1
:yeri tekan 0-1
- Thoraks
)nspeksi ; *simetris, retraksi dada 0K1
"alpasi ; Stem remitus kanan 4 kiri, nyeri tekan 0-1
"erkusi ; Sonor
*uskultasi ; 8esikuler 0KAK1, @onkhi 3asah 0KAK1,
IheeFing 0-A-1
- *bdomen
)nspeksi ;+istensi 0K1
"alpasi ;:T 0K1, Soepel 0K1
"erkusi ; 7ipertimpani
*uskultasi ; "eristaltik 0K1, meningkat
- 2enitalia ; >aki - >aki 0+3:1, *nus 0K1
- .kstremitas *tas ; "u#at -jung2 Tangan, sianosis 0-1, oedema 0-1
- .kstremitas 3a&ah; "u#at -jung2 'aki, sianosis 0-1, oedema 0-1
27
0. PE(E/IKSAAN PENUNJAN!
+. Pe"eriksaan Dara. /utin *
TEST HASIL
3 Se&te"#er $4+5
HASIL
+4 Se&te"#er $4+5
HASIL
He"gl#in 67% g8'L 975 g8'L ++7: g8'L
He"atkrit 23,% % 2$,( % 35,? %
Leuksit !5.200 !3.!00 !/.000
BS/ ; 54 ""8. ;
Tr"#sit 5(5.000 5!!.000 52!.000
$. <i'al Test
<IDAL , H
Sal"nella t=&.i !A!?0 !A(0
Sal"nella Parat=&.i A !A(0 !A(0
Sal"nella Parat=&.i B !A!?0 !A(0
Sal"nella Parat=&.i C !A(0 !A(0
%. (antu> Test
a. Tanggal !0 september 20!/
+ilakukan test mantouH pada lengan kiri
b. Tanggal !2 september 20!/
+ilakukan penilaian dan pengukuran ketinggian, didapatkan
hasil J 2#m A J 20 mm.
5. )t T.ra> AP
28
:. )t T.ra- Lu"#al AP8L
'et ;
Suspe#t 'ompresi =raktur !!-!2
Skoliosis Thora#alis >umbalis
0I. DIA!N,SA BANDIN!
- Spondilitis Tuberkulosis
- Trauma medulla spinalis
- TumorAkeganasan medulla spinalis
29
3er#ak )niltrat para 7ilar paru
kanan
7ilus tidak melebar
*ir 3ronkogram 0K1
0II. DIA!N,SA
Spondilitis Tuberkulosis K *nemia +eisiensi 3esi K 2iFi 3uruk
0III. PENATALAKSANAAN
- )8=+ @inger >aktat 20 gttAi mikro
- )njeksi @anitidin !5 mgA( jam
- )njeksi :orages !20 mgA( jam
- Transusi "@6
I?. ),LL,< UP
TAN!!AL S , P
% sAd !0 33 ; !2 'g
7@ ; (( HAi
@@ ; 2/ HAi
T ; 3$,?
o
6

- +emam 0K1
- "erut 'embung 0K1
- :yeri punggung belakang 0K1
- :asu makan ber 0-1
- )8=+ @> 30 gttAi
- "ara#etamol syr 3 H )#th
- 6ur#uma syr ! H #th
- )njeksi :orages !20 mgA( jam
- )njeksi @anitidin !5 mgA( jam
- )njeksi 6eotaHime 300 gA!2 Dam
!! sAd !2 33 ; !!,5 'g
7@ ; (0 HAi
@@ ; 2?HAi
T ; 3$
o
6
>.+ ; /0
- +emam 0-1
- "erut kembung 0K1
- <en#ret 3H &arna hitam
- 3atuk kering 0K1
- :yeri perut 0K1
- ):7 ! H !20 mg
- @iampi#in ! H !20 mg
- "yraFinamid 2 H !20 mg
- )njeksi Streptomy#in 250 mgA)<
!3 sAd !5 33 ; !!,! 'g
7@ ; (/ HAi
@@ ; 2/ HAi
T ; 3?,%
o
6

- +emam 0-1
- "erut kembung 0K1 menurun
- <en#ret 3er 0-1 !H kuning
- :yeri pada lipatan paha 0K1
- 'eringat berlebih 0K1
- ):7 ! H !20 mg
- @iampi#in ! H !20 mg
- "yraFinamid 2 H !20 mg
- )njeksi Streptomy#in 250 mgA)<
- .thambutol 2 H !20 mg
BAB I0
PENUTUP
A. KESI(PULAN

Spondilitis Tuberkulosa adalah peradangan granulomatosa yang bersiat
kronis destrukti disebabkan oleh <y#oba#terium Tuber#ulosis. I7E
melaporkan % juta penderita T3 paru baru dari 25% kasus kematian dan kesakitan
setiap tahun.!% - 5% penderita T3 mengalami T3 osteoartikular, separuhnya
30
adalah Spondilitis T3. "erbandingan hampir sama antara &anita dan pria.
<y#oba#terium Tuber#ulosis. 3erbentuk batang, ukuran panjang !-/Aum, tebal
0,3-0,?Aum. 3ersiat khusus yaitu tahan terhadap asam. +indingnya terdiri dari
lipid, 3ersiat aerob, dormant didalam tubuh. 'erusakan medulla spinalis akibat
kombinasi / aktor yaitu "enekanan dan "enyempitan kanalis spinalis, )skemia,
.ndarteritis tuberkulosa. gejala klinis dari spondilitis T3 sendiri adalah :yeri
spinal atau radikular %$%, 3engkak pada daerah paravertebral, 6old abses, 2ibus,
'iosis , +eisit neurologis !2-50%. untuk menegakkan spondilitis T3 harus
melakukan ; "emeriksaan isik, "emeriksaan neurologis, "emeriksaan
laboratorium, 'ulturApe&arnaan ;ditemukan <.Tuber#ulosis , Tuber#ulin Skin
Test 0<antouH Test1 0K1, "emeriksaan patologi anatomi 0"*1, =oto thoraH, =oto
polos vertebra 0*"A>1, "en#itraan 6T s#an dan <@). The <edi#al @esear#h
6oun#il mengatakan terapi pilihan utk tuberkulosa spinal di negara berkembang
adalah ):7 dan riamipi#in selama ? , % bulan. 'ategori *nak 02@79A /@71;
Tahap intensi selama 2 bulan diberikan ):7 071, @iampi#in 0@1, "iraFinamid
091 M tiap hari. Tahap lanjutan selama / bulan diberikan ):7 071 dan @iampi#in
0@1 M tiap hari. -ntuk tindakan operasi dapat dilakukan dengan +rainase abses,
+ebridemen radikal, "enyisipan tandur tulang, *rtrodesis, Esteotomi dan >umbar
lamine#tomy. "en#egahan terhadap spondilitis T3 dengan 8aksinasi 362 ; daya
proteksi 0-(0% dan 'emoproilaksi.koplikasi spondilitis T3 berupa .mpyema
tuber#ulosa dan #edera #orda Spinalis. "rognosa ditentukan oleh -sia, +eormitas
kiotik, >etak lesi, +eisit neurologis, +iagnosis dini, Tingkat edukasi dan
sosioekonomi.
31
B. SA/AN
- Sebaiknya orang tua senantiasa memperhatikan kesehatan anaknya
- Sebaiknya orang tua senantiasa memperhatikan kesehatan lingkungan
sekitar
- "erlu dilakukannya upaya promoti dan preventi terhadap Spondilitis T3
kepada masyarakat luas yang dilakukan oleh pelayan kesehatan.
DA)TA/ PUSTAKA
!. Dose * 7idalgo, <+, 2eorge *langaden, <+. "ott +isease 0Tuber#ulous
Spondylitis1 in; http;AA&&&.emedi#ine.meds#ape.#om.
2. @ahajoe :, 3asir +, <akmun <S, 'artasasmita 6. "edoman :asional
Tuberkulosis *nak .disi ke 2. -'' @espirologi "" )katan +okter *nak
)ndonesia. 200$.
3. Sulaii <=. "enyakit T3 pada anak in http;AAsulaii.&ordpress.#om.
/. Sta "engajar )lmu 'esehatan *nak. 3uku 'uliah )lmu 'esehatan *nak Dilid 2.
=' -), Dakarta.
5. Sta "engajar 3aguan )lmu 3edah =akultas kedokteran -niversitas )ndonesia.
'umpulan kuliah ilmu bedah. "T 3inarupa *ksara, Dakarta
32