Anda di halaman 1dari 7

Berikut adalah gambar rangkaian hubung star (Y) serta diagram phasor tegangannya :

(a) Hubung Star pada rangkaian listrik (b) Diagram Phasor tegangan
Pada gambar di atas, tegangan E
AB
, E
BC
dan E
CA
merupakan tegangan line dimana :
E
AB
= E
AN
+ E
NB
= E
AN
- E
BN

E
BC
= E
BN
+ E
NC
= E
BN
E
CN

E
CA
= E
CN
+ E
NA
= E
CN
E
AN

Gambar b memperlihatkan diagram phasor di mana dapat dilihat bahwa tegangan phase E
AN
,
E
BN
danE
CN
memiliki magnitude yang sama namun terpisah satu sama lain
sebesar 120. Tegangan lineE
AB
merupakan penjumlahan dari vector E
AN
dan E
BN
begitupun
dengan tegangan line E
BC
dan E
CA
dan juga terpisah 120 satu dengan yang lainnya.
E
AB
= E
BC
= E
CA
= 2 E
AN
cos 30









Sedangkan arus yang mengalir dapat dihitung dengan persamaan :
I
A
= I
B
= I
C
= I
ph
(I
a
, I
b
, I
c
) (magnitude)


Dari persamaan di atas, dapat dilihat bahwa arus yang mengalir pada belitan motor (I
a
) sama
dengan arus yang masuk (I
A
). dan diagram phasornya dapat dilihat pada gambar berikut :


Mari kita bandingkan dengan hubungan arus dan tegangan pada rangkaian listrik hubung delta
seperti gambar berikut :

(a) Hubung Delta pada rangkaian listrik (b) Phasor arus dan tegangan
Tegangan phase a (belitan a) = tegangan line = V
CA

Sementara arus dalam rangkaian dapat dihitung dengan persamaan :


dan arus line (I
A,
I
B,
I
C
) bisa diperoleh dengan menerapkan hukum Kirchhoff's
I
A
= I
ab
I
ca

I
B
= I
bc
- I
ab

I
C
= I
ca
- I
bc












Dari persamaan di atas, dapat dilihat bahwa magnitude arus yang mengalir pada line
(I
A) adalah
3kali magnitude arus phasa I
ph
.
berikut perbandingan arus line yang mengalir pada kedua metode hubung di atas :



Dalam transformasi dari rangkaian star ke delta (atau sebaliknya) maka nilai Z adalah :

Z
delta
sama dengan 3 kali Z
star
, dan Z
star
sama dengan Z
delta
dibagi 3

Jadi, kesimpulan dari pembahasan di atas adalah bahwa metode starter star-delta dapat
mengurangi konsumsi arus yang dibutuhkan oleh motor untuk starting.

Hubungan wye
Dianggap hubungan lilitan generator 3 fase terdapat pada gambar 1.a), ketiga fase dinamai
a-b-c. Hubungan tersebut disebut dengan hubungan wye. Output tegangan digambarkan
dalam fasor seperti gambar 1.b). yaitu E
an
(fase a ke netral), E
bn
, dan E
cn
.

Gb.1a) dan b)
Berdasarkan hukum kirchoff tegangan, dapat ditulis persamaan:
Ketiga persamaan diatas merupakan representasi dari
gambar 2.a). kemudian kita ambil satu persamaan Eab. Pada gambar 2.b) terlihat
berbentuk seperti segitiga sama kaki. Dari rumusan dasar segitiga, kita dapat menentukan
besarnya E
ab
(fasa a ke fasa b):


Gb.2a) dan b)
Dalam keadaan seimbang dan ideal, ketiga fasa berbeda
120
o
, magnitudeE
ab
=E
bc
=E
ca
sama, magnitude E
an
=E
bn
=E
cn
sama. Sehingga E
ab
dapat
mencerminkan E
L
(line to line) dan E
an
mencerminkan E
ln
(line to neutral) sistem. Persamaan
sebelumnya (untuk E
ab
) dapat ditulis kembali:

Hubungan delta
Dianggap hubungan lilitan beban 3 fase berupa terdapat pada gambar 3.a), ketiga fase
dinamai a-b-c. Arus I
a
, I
b
, dan I
c
mengalir masuk ke beban, dan di beban mengalir arus
I
1
,I
2
, dan I
3
.

Gb.3a) dan b)
Diasumsikan tegangan antar saluran seimbang, arus saluran sama dan ketiga beban
identik. Gambar 3.b) menggambarkan fasor arus serta tegangan untuk gambar 3. a).
Berdasarkan hukum kirchoff arus, dapat ditulis persamaan:

Mirip dengan hubungan wye sebelumnya. Kemudian kita ambil satu persamaan, misalnya
untuk Ia. Dari rumusan dasar segitiga, kita dapat menentukan besarnya I
a
:
Dalam tegangan saluran seimbang, kondisi
beban identik, maka ketiga fasa berbeda
120
o
, magnitude I
a
=I
b
=I
c
sama, magnitude I
1
=I
2
=I
3
sama. Sehingga Ia dapat
mencerminkan I
L
(arus saluran) dan Ia mencerminkan I
z
(arus pada beban). Persamaan
sebelumnya dapat ditulis kembali:

Tabel 1 adalah kesimpulan hubungan arus dan tegangan pada rangkaian 3 fasa untuk wye
dan delta:

Anda mungkin juga menyukai