Anda di halaman 1dari 148
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM MANUAL KEGIATAN Program Pengembangan Kota Hijau P2KH 2014 BERSAMA MENATA RUANG UNTUK

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

MANUAL KEGIATAN

Program Pengembangan Kota Hijau

P2KH 2014

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM MANUAL KEGIATAN Program Pengembangan Kota Hijau P2KH 2014 BERSAMA MENATA RUANG UNTUK SEMUA

BERSAMA MENATA RUANG UNTUK SEMUA

KATA PENGANTAR

Sejak tahun 2011 yang lalu, Kementerian Pekerjaan Umum c.q. Direktorat Jenderal Penataan Ruang telah menginisiasi lahirnya Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) sebagai salah satu bentuk implementasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota/Kabupaten dengan melibatkan partisipasi aktif pemangku kepentingan pada aras lokal untuk meningkatkan kualitas ruang perkotaan.

Pada tahun 2011, P2KH diawali dengan penandatanganan Piagam Komitmen Kota Hijau dan penyusunan Rencana Aksi Kota Hijau (RAKH) oleh 60 Kota/Kabupaten peserta. Tahun 2012 dan 2013 dilanjutkan dengan implementasi RAKH, penyusunan peta komunitas hijau, pelaksanaan kegiatan Forum Komunitas Hijau (FKH), penyusunan masterplan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan masterplan RTH upscaling , serta implementasi taman kota hijau. Tahun 2014 merupakan kelanjutan dari pelaksanaan tahun 2011, 2012, 2013, dengan harapan kota/kabupaten dapat mengimplementasikan program secara berkesinambungan dalam perwujudan Kota Hijau.

Untuk mencapai tujuan pelaksanaan P2KH tahun 2014 tersebut, diperlukan manual yang bersifat operasional yang memuat antara lain: tata cara atau mekanisme pelaksanaan kegiatan, substansi teknis kegiatan, dan standar kualitas output, yang kesemuanya dituangkan dalam Manual Kegiatan P2KH 2014.

Manual Kegiatan P2KH ini pada dasarnya merupakan perbaikan dan pengayaan substantif dari Manual P2KH 2013 yang terdiri atas 7 (tujuh) kegiatan pokok, yaitu: (1) penyusunan Detail Engineering Design (DED) Taman Kota Hijau, (2) peningkatan kuantitas RTH perkotaan, (3) supervisi peningkatan kuantitas RTH perkotaan, (4) operasi dan pemeliharaan taman kota hijau, (5) kegiatan pengembangan atribut kota hijau, (6) kegiatan Forum Komunitas Hijau (FKH), (7) penyusunan proposal kota hijau.

Akhir kata, semoga Manual ini benar-benar dapat menjadi pemandu pelaksanaan kegiatan P2KH tahun 2014 bagi Kota/Kabupaten, komunitas hijau dan masyarakat luas, secara efektif, efisien, transparan dan akuntabel, sehingga hasil yang dicapai pada akhirnya dapat dinikmati dan dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.

Jakarta, Maret 2014

secara luas oleh masyarakat. Jakarta, Maret 2014 Dadang Rukmana Direktur Perkotaan Direktorat Jenderal

Dadang Rukmana Direktur Perkotaan Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

 

i

DAFTAR ISI

iii

I. PENYUSUNAN DETAIL ENGINEERING DESIGN (DED) TAMAN KOTA HIJAU

I-1

I.1.

SYARAT DAN KETENTUAN

 

I-2

I.1.1.

DED

Tipe

I (Luasan

min. 10.000 m2)

I-4

I.1.2.

DED Tipe II (Luasan min. 5.000 m 2 )

I-7

I.2.

TAHAPAN KEGIATAN

 

I-15

I.3.

KELUARAN

 

I-19

I.4.

KOMPONEN RENCANA ANGGARAN BIAYA

I-20

I.5.

JADWAL PEKERJAAN

 

I-22

I.6.

PELAKSANA KEGIATAN

I-23

I.7.

LAMPIRAN

 

I-24

I.7.1.

Ketentuan Gambar

 

I-24

I.7.2.

Ketentuan

Rencana

Anggaran Biaya (RAB)

I-38

I.7.3.

Ketentuan Rencana Kerja & Syarat (RKS)

I-49

II. PENINGKATAN KUANTITAS RTH PERKOTAAN

II-1

II.1.

LINGKUP KEGIATAN

 

II-2

II.2.

TAHAPAN KEGIATAN

II-2

II.3.

KELUARAN

 

II-17

II.4.

JADWAL PELAKSANAAN

II-18

II.4.1.

Implementasi Tipe I (luasan min. 10.000 m 2 )

II-18

II.4.2.

Implementasi Tipe II (luasan min. 5.000 m 2 )

II-18

II.5.

PELAKSANA KEGIATAN

II-19

II.5.1.

Kualifikasi Pelaksana Konstruksi dan Tenaga Ahli

II-

 

19

 

II.5.2.

Mekanisme Kerja

II-20

II.6.

LAMPIRAN : Foto Sebelum dan Setelah Pembangunan Taman

II-24

III. SUPERVISI PENINGKATAN KUANTITAS RTH PERKOTAAN

III-1

III.1.

LINGKUP KEGIATAN

III-2

III.2.

TAHAPAN KEGIATAN

III-5

III.3.

KELUARAN

III-7

III.4.

JADWAL PELAKSANAAN

III-8

III.4.1. Supervisi Tipe I (luasan min. 10.000 m 2 )

III-8

III.4.2. Supervisi Tipe I (luasan min. 5.000 m 2 )

III-9

III.5.

PELAKSANA KEGIATAN

III-10

III.5.1. Kualifikasi Tenaga Ahli

III-10

III.5.2. Mekanisme Kerja

III-11

IV. OPERASI DAN PEMELIHARAAN TAMAN KOTA HIJAU

IV-1

IV.1.

OPERASIONAL

IV-2

IV.2.

PEMELIHARAAN

IV-3

IV.2.1. Pemeliharaan Tanaman ( Softscape )

IV-3

IV.2.2. Pemeliharaan Perkerasan dan Elemen Taman

IV-4

V.

KEGIATAN PENGEMBANGAN ATRIBUT KOTA HIJAU

V-1

 

V.1.

WORKSHOP PENGEMBANGAN ATRIBUT KOTA HIJAU

V-2

 

V.1.1.

Ketentuan Penyelenggaraan

V-2

V.1.2.

Tahapan Penyelenggaraan

V-3

 

V.2.

DOKUMEN DESAIN PENGEMBANGAN ATRIBUT KOTA HIJAU (Konsep Desain Green Up-Scalling)

V-4

 

V.3.2.

Lingkup Kegiatan

V-4

V.3.3. Keluaran

V-5

V.3.4.

Jadwal

V-7

VI.

KEGIATAN FORUM KOMUNITAS HIJAU (FKH)

VI-1

VI.1.

FESTIVAL HIJAU (GREEN FESTIVAL) DI TAMAN KOTA

VI-5

 

VI.1.1. Tujuan Kegiatan

VI-5

VI.1.2. Ketentuan Kegiatan

VI-5

VI.1.3. Tahapan Kegiatan

VI-6

VI.1.4. Keluaran

VI-7

VI.1.5. Jadwal

VI-7

 

VI.2.

AKSI KOMUNITAS HIJAU (TERKAIT ATRIBUT KOTA HIJAU)

VI-8

VI.2.1. Tujuan Kegiatan

VI-8

VI.2.2. Ketentuan Kegiatan

VI-8

VI.2.3. Tahapan Kegiatan

VI-9

VI.2.4. Keluaran

VI-10

VI.2.5. Jadwal

VI-11

FORMAT PROPOSAL DAN LAPORAN KEGIATAN FKH Aksi Komunitas Hijau dan Festival Hijau

VI-12

A. Format Proposal Kegiatan FKH Festival Hijau dan Aksi

Komunitas

VI-13

B. Format Laporan Kegiatan FKH Festival Hijau dan Aksi

 

Komunitas

VI-14

VI.3.

FGD ASPIRASI DAN VISI KOTA HIJAU

VI-16

VI.3.1. Tujuan Kegiatan

VI-16

VI.3.2. Ketentuan Kegiatan

VI-16

VI.3.3. Tahapan Kegiatan

VI-17

VI.3.4. Keluaran

VI-18

VI.3.5. Jadwal

VI-18

VI.4.

KEGIATAN RUTIN FKH

VI-19

VII. PENYUSUNAN PROPOSAL KOTA HIJAU

VII-1

VII.1.

TUJUAN KEGIATAN

VII-2

VII.2.

KETENTUAN PENYELENGGARAAN

VII-2

VII.3.

TAHAPAN PENYELENGGARAAN

VII-4

VII.4.

FORMAT PROPOSAL

VII-5

LAMPIRAN PEDOMAN PENYELENGGARAAN KEGIATAN P2KH

vii

TIM PENYUSUN

xii

I. PENYUSUNAN DETAIL

ENGINEERING DESIGN (DED) TAMAN KOTA HIJAU

I-1 |

HIJAU

KOTA

TAMAN

DED

I.1. SYARAT DAN KETENTUAN

Sebelum pelaksanaan perancangan konstruksi, setiap Kota/Kabupaten harus menentukan lokasi strategis dan signifikan dalam rangka peningkatan kuantitas RTH di kawasan perkotaan. Kawasan Perkotaan yang termasuk dalam cakupan kegiatan P2KH adalah ibukota kota/kabupaten sehingga akan memberikan dampak optimal terhadap perwujudan Kota Hijau secara keseluruhan.

Syarat Penentuan Lokasi Penambahan RTH :

Status lahan milik PEMDA

Kemudahan aksesibilitas

Kedekatan dengan pusat kegiatan masyarakat kota, serta bisa digunakan untuk publik

Syarat Umum Perencanaan Taman Kota Hijau

Komposisi Ruang Hijau (Softcape) : Perkerasan (Hardscape) = Softcape min. 70% : Hardcape max. 30% berupa material ramah lingkungan (bisa dimungkinkan untuk menyerap air)

Ketentuan Umum Taman Kota Hijau

Penyusunan DED Taman Kota Hijau harus mencakup atribut berikut ini :

1. Green Open Space : Pemilihan Jenis Vegetasi dengan tinggi minimal 3 meter, diameter batang minimal 5 cm, berupa - Vegetasi Lokal (Endemik), Vegetasi Peneduh (Penyerap Polutan atau Pereduksi Emisi Karbon), Vegetasi Pembentuk Iklim Mikro, Vegetasi Produsen Oksigen, Vegetasi Penarik Satwa Liar

2.

Green Transportation - Sistem Kemudahan & Kenyamanan Aksesibiltas, dalam bentuk :

Trotoar Tepi Jalan

Jalur Pejalan Kaki dalam Taman

Jalur & Parkir Sepeda

3. Green Water - Sistem Pengolahan dan Penggunaan Ulang (Daur Ulang) Air, dalam bentuk :

pembuatan sumur resapan air dan atau kolam retensi

pengolahan atau penggunaan kembali air bekas, misalnya dari air dari toilet untuk penyiraman tanaman

4. Green Waste - Sistem Pengolahan dan Penggunaan Material Bekas (Sampah), dalam bentuk :

pemilahan sampah dengan penggunaan tempat sampah organik-anorganik

pengolahan sampah organik menjadi kompos dengan komposter. Kompos digunakan untuk pemeliharaan taman itu sendiri

5. Green Energy - Sistem Penyedia Sumber Listrik dari Matahari, dengan pemakaian :

Lampu Surya

Panel Surya (penyedia listrik dengan solar panel)

6. Green Building - Naungan sederhana, sebagai sarana pendukung utama taman, dari material ramah lingkungan dengan penghawaan alami :

Gazebo, Pergola, Toilet

Signage Taman, berisi informasi tentang siteplan taman, lokasi, luasan, serta logo institusi dan keterangan P2KH

HIJAU

KOTA

TAMAN

DED

I.1.1. DED Tipe I (Luasan min. 10.000 m2)

Syarat Khusus Perencanaan Taman Kota Hijau :

1 (satu) lokasi dengan luasan minimal 10.000m2 (1 Ha) atau bisa pada (maksimal) 2 (dua) lokasi yang dihubungkan dengan koridor penghubung 'hijau‘ berupa jalur pejalan kaki, jalur sepeda, jalur vegetasi, atau bentuk lain.

Ruang Lingkup Perencanaan

1. Kegiatan Pekerjaan Perancangan :

a) Gambar Rancangan yang sekurangnya meliputi :

a. Rencana Tapak (Site Plan)

b. Rencana Perkerasan (Hardscape Plan)

c. Rencana Tata Tanaman (Planting Plan)

d. Rencana Utilitas

b) Spesifikasi teknis

2. Kegiatan Pekerjaan Pengembangan Rancangan :

Gambar-gambar kerja informatif sebagai panduan implementasi fisik meliputi :

a) Rencana Tapak yang tersegmen (khusus luasan min. 10.000 m 2 ) dengan skala maksimum 1 : 200, yang berisi :

Green Open Space : Rencana Tata Tanaman (Softscape) dan Daftar Pohon (yang disertai notasi, nama botani, foto, dan jumlah)

1)

2) Green Transportation : Rencana Jalur Pejalan Kaki, Plaza, Parkir Sepeda (Hardscape), Penempatan Bangku Taman, Signage Nama Taman, dan Papan Informasi

Digabung Green Energy : Rencana jaringan instalasi listrik untuk penerangan berikut Titik Lampu dan Penempatan Solar Panel

3)

Green Building : Rencana Penempatan Bangunan Taman, Pergola, Gazebo, dll.

Digabung dengan Green Water : Rencana Penempatan Sumur Resapan, Kolam Retensi, serta Rencana Jaringan Perpipaan untuk Penyiraman berikut titik-titik Kran Taman

Digabung dengan Green Waste : Rencana Penempatan Tempat Sampah, Komposter.

b) Gambar-gambar detail terinci yang meliputi :

Green Open Space : Detail Konstruksi Penanaman Pohon (yang menampakkan media tanam perakaran tanaman dan penunjang/pelindung pertumbuhan tanaman)

2) Green Transportation : Detail Jalur Pejalan Kaki, Parkir Sepeda, dan Plaza (yang disertai ketinggian permukaan, kemiringan, dan notasi arah pengaliran air hujan)

bawahnya

1)

*)

sub-base

(lapisan)

konstruksi

di

serta

kanstin

untuk

material

modular

(paving

blok)

3) Green Water : Detail Sumur Resapan (lihat contoh terlampir), Kolam Retensi (area jebakan air yang untuk melokalisir genangan yang kemudian diresapkan ke dalam tanah)

HIJAU

KOTA

TAMAN

DED

Green Waste : Detail Tempat Sampah (yang menunjukkan konstruksi berhubungan dengan mekanisme pengambilan sampah/pembersihan), Detail Komposter (yang menunjukkan konstruksi berhubungan dengan mekanisme pemutaran dan pengambilan hasil komposting)

5) Green Building : Detail Bangunan Toilet & Pos Jaga, Gazebo, Pergola, Bangku Taman (yang menunjukkan konstruksi, material, dan finishing)

4)

6) Detail Signage Nama Taman (yang menunjukkan konstruksi, material, dan finishing), Papan Informasi (diletakkan di atas tiang dengan ketinggian min. 1,5 m)

3. Kegiatan Pekerjaan Pembuatan Dokumen Lelang, meliputi:

a) Petunjuk Pelelangan

b) Persyaratan Teknis

c) Gambar rencana dan detail rancangan (DED)

d) Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS)

e) Rincian volume pekerjaan (BOQ)

f) Rencana Anggaran Biaya (RAB) pekerjaan konstruksi, termasuk analisa harga satuan

I.1.2. DED Tipe II (Luasan min. 5.000 m 2 )

Syarat Perencanaan RTH :

1 (satu) lokasi dengan luasan minimal 5.000m2

Ruang Lingkup Perencanaan

1. Kegiatan Pekerjaan Perancangan :

a) Gambar Rancangan yang sekurangnya meliputi :

1)

Rencana Tapak (Site Plan)

2)

Rencana Perkerasan (Hardscape Plan)

3)

Rencana Tata Tanaman (Planting Plan)

4)

Rencana Utilitas

b) Spesifikasi teknis

2. Kegiatan Pekerjaan Pengembangan Rancangan :

Gambar-gambar kerja informatif sebagai panduan implementasi fisik meliputi :

a) Rencana Tapak, yang berisi :

Green Open Space : Rencana Tata Tanaman (Softscape) dan Daftar Pohon (yang disertai notasi, nama botani, foto, dan jumlah)

2) Green Transportation : Rencana Jalur Pejalan Kaki, Plaza, Parkir Sepeda (Hardscape), Penempatan Bangku Taman, Signage Nama Taman, dan Papan Informasi

3) Green Water : Rencana Penempatan Sumur Resapan, Kolam Retensi, serta Rencana Jaringan

1)

HIJAU

KOTA

TAMAN

DED

 

Perpipaan

untuk

Penyiraman

berikut

titik-titik

Kran Taman

4)

Green

Waste

:

Rencana

Penempatan

Tempat

Sampah, Komposter

5) Green Energy : Rencana jaringan instalasi listrik untuk penerangan berikut Titik Lampu dan Penempatan Solar Panel

6)

Green Building : Rencana Penempatan Bangunan Taman, Pergola, Gazebo, dll.

b) Gambar-gambar detail terinci yang meliputi :

Green Open Space : Detail Konstruksi Penanaman Pohon (yang menampakkan media tanam perakaran tanaman dan penunjang/pelindung pertumbuhan tanaman)

2) Green Transportation : Detail Jalur Pejalan Kaki, Parkir Sepeda, dan Plaza (yang disertai ketinggian permukaan, kemiringan, dan notasi arah pengaliran air hujan)

bawahnya

1)

*)

sub-base

(lapisan)

konstruksi

di

serta

kanstin

untuk

material

modular

(paving

blok)

3) Green Water : Detail Sumur Resapan (lihat contoh terlampir), Kolam Retensi (area jebakan air yang untuk melokalisir genangan yang kemudian diresapkan ke dalam tanah)

Green Waste : Detail Tempat Sampah (yang menunjukkan konstruksi berhubungan dengan mekanisme pengambilan sampah/pembersihan), Detail Komposter (yang menunjukkan konstruksi berhubungan dengan mekanisme pemutaran dan pengambilan hasil komposting)

4)

5) Green Building : Detail Bangunan Toilet & Pos Jaga, Gazebo, Pergola, Bangku Taman (yang menunjukkan konstruksi, material, dan finishing)

6) Detail Signage Nama Taman (yang menunjukkan konstruksi, material, dan finishing), Papan Informasi (diletakkan di atas tiang dengan ketinggian min. 1,5 m)

3. Kegiatan Pekerjaan Pembuatan Dokumen Lelang, meliputi:

a. Petunjuk Pelelangan

b. Persyaratan Teknis

c. Gambar rencana dan detail rancangan (DED)

d. Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS)

e. Rincian volume pekerjaan (BOQ)

f. Rencana Anggaran Biaya (RAB) pekerjaan konstruksi, termasuk analisa harga satuan

HIJAU

KOTA

TAMAN

DED

KETENTUAN KHUSUS

No.

Atribut

Tipe II (5.000 m 2 )

Tipe I ( 10.000 m 2 )

Hijau

1.

Proporsi

Softscape min. 70%

Softscape min. 70%

Luasan

Softscape

terhadap

luasan

area

keseluruhan

2.

Green Open Space

 

a) Pengguna

Tersedia dan tumbuh baik di kawasan setempat

Tersedia dan tumbuh baik di kawasan setempat

an

Vegetasi

Lokal

Dalam hal tidak tersedia di tempat, material tanaman harus dipastikan dapat diadakan

Dalam hal tidak tersedia di tempat, material tanaman harus dipastikan dapat diadakan

b) Pengguna

Tinggi tajuk pohon min. 3 meter

Tinggi tajuk pohon min. 3 meter

an

Vegetasi

Pohon min. 5 jenis

Pohon min. 7 jenis

lainnya

Habitus tanaman tersedia meliputi :

Habitus tanaman tersedia meliputi :

Pohon, Semak, Penutup Tanah, Tanaman Rambat, dan Rumput

Pohon, Semak, Penutup Tanah, Tanaman Rambat, dan Rumput

c) Fungsi

Fungsi Tanaman sekurang-kurangnya meliputi : Peneduh, Pengarah, Buffer (Penghalang),

Fungsi Tanaman sekurang-kurangnya meliputi : Peneduh, Pengarah, Buffer (Penghalang),

Tanaman

No.

Atribut

 

Tipe II (5.000 m 2 )

Tipe I ( 10.000 m 2 )

Hijau

   

Disarankan penggunaan tanaman dengan fungsi ekologi tinggi (lihat lampiran) dan fungsi estetika

Disarankan penggunaan tanaman dengan fungsi ekologi tinggi (lihat lampiran) dan fungsi estetika

3.

Green Transportation

 

a) Jalur

 

Panjang (bersifat loop) seluruhnya min. 200 m

Panjang (bersifat loop) seluruhnya min. 500 m

Pejalan

Kaki

Lebar min. 1.50 meter

Lebar min. 1.50 meter

b) Parkir

 

Jumlah min. 10 unit

Jumlah min. 20 unit

Sepeda

 

c) Trotoar

 

Jumlah min. 1 unit di gerbang

min. 2 unit di gerbang

Tepi Jalan

(khusus

Panjang min. 10 m

Panjang masing-

sebagai

Lebar min. 2 m

masing min. 10 m

landasan

 

Lebar min. 2 m

masuk

gerbang

taman)

d) Plaza

Luasan maks. 500 m 2

Luasan maks. 1.000

 

m

2

HIJAU

KOTA

TAMAN

DED

No.

Atribut

Tipe II (5.000 m 2 )

Tipe I ( 10.000 m 2 )

Hijau

4.

Green Water

a) Sumur

Jumlah min. 5 buah

Jumlah min. 10 buah

Resapan

b) Kolam

(tidak wajib)

Harus ada

Retensi

5.

Green Waste

a) Tempat

3 Kotak (dengan penjelasan gambar) mengikuti standar PU : Organik , Anorganik Non-Plastik, Plastik

3 Kotak (dengan penjelasan gambar) mengikuti standar PU : Organik, Anorganik Non-

Plastik, Plastik

Sampah

Terbuat dari bahan yang tidak mudah hilang

Terbuat dari bahan yang tidak mudah

Jumlah min. 4 set

hilang

Jumlah min. 8 set

b) Kompost

Jumlah min. 1 buah

Jumlah min. 1 buah

er

Organik

6.

Green Energy

a) Lampu

Jumlah min. 4 buah

Jumlah min. 10 buah

Surya

b) Panel

Harus ada untuk penerangan Bangunan Toilet & Pos Jaga

Harus ada untuk penerangan Bangunan Toilet & Pos Jaga

Surya

No.

Atribut

Tipe II (5.000 m 2 )

Tipe I ( 10.000 m 2 )

Hijau

7.

Green Building

a) Toilet &

Satu bangunan (1 ruang laki-laki, 1 ruang perempuan, 1 ruang pos jaga)

Torrent langsung di atas atap

Dua bangunan berbeda (@ 1 ruang laki-laki,1 ruang perempuan, 1

ruang pos jaga)

Pos Jaga

Torrent langsung di

Wastafel

atas atap

Toilet jongkok dengan flushing system

Wastafel

Toilet jongkok dengan flushing

Septictank Biofill

system

Septictank Biofill

b) Signage

Signage board (Nama Taman) tinggi huruf min. 40 cm

Signage board (Nama Taman) tinggi huruf min. 40 cm

Taman

Papan informasi berisi :

Papan informasi berisi :

Denah Taman

Denah Taman

Keterangan tentang Taman Kota Hijau (taman dibuat tahun….dalam program P2KH tahun….)

Keterangan tentang Taman Kota Hijau (taman dibuat tahun….dalam program P2KH tahun….)

Logo Kementerian Pekerjaan Umum

Logo Kementerian Pekerjaan Umum

Logo Pemerintah Daerah

Logo Pemerintah Daerah

Papan Petunjuk Arah (minimal 3 titik)

Tagging Nama Pohon

HIJAU

KOTA

TAMAN

DED

No.

 

Atribut

Tipe II (5.000 m 2 )

Tipe I ( 10.000 m 2 )

Hijau

     

(Nama Lokal/Nama Latin) spesifikasi diatur

c)

Pergola

(tidak wajib)

Sebagai rambatan

(Rambata

tanaman

n

Tanaman)

d)

Gazebo

Harus ada

Harus ada

e)

Bangku

Jumlah min. untuk 30

Jumlah min. untuk 50 orang

Taman

orang

I.2. TAHAPAN KEGIATAN

Pengumpulan Data

A. Data Primer

Data Visual Kegiatan ini berupa pendokumentasian/foto yang menunjukkan visualisasi lokasi perencanaan. Data visual ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran nyata kondisi eksisting di lapangan terutama mengenai potensi dan masalah yang ada pada tapak. Data Pengukuran dilakukan pada lokasi perencanaan untuk mendapatkan data ukur sebagai dasar penyusunan DED.

B. Data Sekunder

Pengumpulan data sekunder berupa:

a. Peraturan pemda setempat, yang meliputi:

1) Peraturan yang terkait dengan Penataan Ruang;

Peruntukan lahan

KDB (Koefisien dasar bangunan)

KDH (Koefisien dasar hijau)

KLB (Koefisien lantai bangunan)

KB (Ketinggian bangunan)

Tipe bangunan

GSB (garis sempadan bangunan).

HIJAU

KOTA

TAMAN

DED

2)

Peraturan

mengenai

persyaratan:

persyaratan

bangunan

berupa

Disain

Struktur

Instalasi mekanikal/elektrikal

Kebakaran

Aksesibilitas bagi penyandang cacat.

3) Peraturan dan standar perencanaan lainnya yang secara langsung ataupun tidak langsung terkait dengan kegiatan pembangunan.

a) Gambar peta eksisiting dan LRK (Lembar Rencana Kota)

b) Studi literatur

Analisis

Kegiatan analisis yang dilakukan dimaksudkan untuk menguraikan permasalahan dan potensi pada tapak dan mendapatkan bentuk-bentuk penanganan yang bisa dilakukan berdasarkan potensi dan masalah yang telah diidentifikasi sebelumnya seperti tanah, air, topografi, kemiringan tanah (slope), hidrologi, , vegetasi, klimatologi, dan lainnya.

Adapun kegiatan analisis perancangan lansekap meliputi:

1. Zonasi tapak

Pembagian zonasi tapak dari taman yang akan direncanakan sebagai RTH publik.

2. Aksesibilitas dan Sirkulasi

Aksesibilitas kedalam tapak perlu dipertimbangkan secara seksama agar memudahkan penggunaan taman/RTH dan tidak mengganggu lingkungan sekitar. Perencanaan pola sirkulasi meliputi sirkulasi kendaraan diluar tapak dan sirkulasi jalur pedestrian di dalam tapak.

3. Analisis vegetasi eksisting tapak dan lingkungan

Analisis vegetasi untuk mempertimbangkan dalam pemilihan jenis tanaman yang sesuai dengan ekologinya serta sesuai dengan fungsi dan zonasi tapak.

4. Site Furniture

Perencanaan berbagai site furniture yang dapat mendukung aktifitas warga (interaksi sosial) di RTH.

5. Area Parkir

Tata letak dan jumlah parkir yang dapat menampung kendaraan pengguna RTH.

6. Sosial Budaya

Identifikasi aspek sosial budaya yang berada di lingkungan sekitar tapak/RTH.

HIJAU

KOTA

TAMAN

DED

Perencanaan dan Perancangan

Setelah dilakukan analisis dan berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, selanjutnya disusun bentuk- bentuk penanganan dalam kegiatan perencanaan pembangunan atau penataan RTH.

Selanjutnya dilakukan pengembangan potensi dan pemecahan masalah dengan cara merumuskan konsep pembangunan atau penataan RTH yang dituangkan dalam bentuk perencanaan dan perancangan teknis.

Adapun keluaran atau produk penyusunan DED adalah:

1. Gambar Kerja ;

2. Rencana Kerja dan Syarat-syarat Teknis (Spesifikasi Teknis);

3. Rencana Anggaran Biaya (RAB).

Semua produk hasil perencanaan tersebut selanjutnya dijadikan acuan pihak yang berkepentingan dalam pelaksanaan pekerjaan fisik (Pemerintah Pusat / Ditjen Penataan Ruang, Pemerintah Kota dan Kabupaten, Kontraktor).

I.3. KELUARAN

1. Dokumen DED yang meliputi:

a.

Siteplan;

b.

Gambar

kerja

yang

memadai

untuk

panduan

pelaksanaan/implementasi fisik;

c.

Format

kertas

dalam

ukuran

kertas

A3,

landscape/mendatar dengan kop di sisi kanan kertas.

2. Dokumen Lelang :

a.

Rencana anggaran biaya (RAB);

b.

Rincian volume pekerjaan (Bill of Quantity); dan

c.

Rencana kerja dan syarat-syarat (RKS).

3. Dokumen Kontrak untuk Pekerjaan Konstruksi Pembangunan Taman Kota Hijau

HIJAU

KOTA

TAMAN

DED

I.4. KOMPONEN RENCANA ANGGARAN BIAYA

Dalam perhitungan biaya terdapat beberapa komponen biaya yang harus diperhatikan sebagai kebutuhan utama RTH, adapun komponen biaya tersebut antara lain:

A. Pekerjaan Persiapan

1.

Pembuatan Papan Nama Proyek

2.

Pengadaan Listrik dan Air Kerja

3.

Pengukuran & Pasang Bowplank

4.

Pekerjaan Direksi Keet

5.

Pekerjaan Striping/Pembersihan Lokasi

6.

Pekerjaan Pembersihan setelah Pembangunan

B. Green Open Space

1.

Pekerjaan Pembentukan Muka Tanah

2.

Pekerjaan Pengolahan Media Tanam (Tanah + Pupuk Organik)

3.

Pekerjaan Penanaman Rumput

4.

Pekerjaan Penanaman Groundcover

5.

Pekerjaan Penanaman Semak

6.

Pekerjaan Penanaman Pohon

C. Green Transportation

1.

Pekerjaan Pembangunan Jogging Track

2.

Pekerjaan Pembangunan Plaza

3.

Pekerjaan Pembuatan Parkir Sepeda

D. Green Water

1.

Pekerjaan Pembuatan Sumur Resapan dan atau Kolam Retensi

2.

Pemasangan Sprinkler untuk penyiraman Taman

3.

Pemipaan (Plumbing)

4.

Pompa Air

E. Green Waste

1.

Tempat Sampah Organik-Anorganik

2.

Komposter (Mesin Pengolah Sampah)

F. Green Energy

1.

Gardu Listrik dan Jaringan Kabel

2.

Pemasangan Lampu Solar Cell

G. Green Building

1. Pekerjaan Pembangunan Toilet & Pos Jaga

2. Pekerjaan Pembangunan Pergola

3. Pekerjaan Gazebo

4. Pekerjaan Signage Taman

5. Pekerjaan Bangku Taman

6. Pekerjaan Site Furniture lainnya

H. Pekerjaan Pemeliharaan

Pekerjaan Pemeliharaan meliputi: Penyiraman, Pendangiran, Pemupukan, Pemangkasan.

HIJAU

KOTA

I.5. JADWAL PEKERJAAN

Penyusunan DED Taman Kota Hijau dilaksanakan dalam kurun waktu 2 (dua) bulan. Dengan rincian kegiatan sebagai berikut:

NO URAIAN KEGIATAN BULAN I BULAN II 1. Pengumpulan data dan Survey Lapangan 2. Analisis
NO
URAIAN KEGIATAN
BULAN I
BULAN II
1.
Pengumpulan data
dan Survey Lapangan
2.
Analisis
dan
Penyusunan
Konsep
Rancangan Lansekap
3.
Pengembangan
Rancangan
Lansekap
dan
Penyusunan
Gambar
Rancangan
Teknis/Konstruksi
&
RAB
4.
Penyusunan
Dokumen Lelang (EE,
BQ, RKS)
DED
TAMAN

I.6. PELAKSANA KEGIATAN

TENAGA AHLI

Dalam pelaksanaan kegiatan ini diperlukan Tenaga Ahli sebanyak 2 (dua) orang sesuai dengan bidang keahliannya. Adapun kualifikasi tenaga ahli tersebut adalah sebagai berikut:

1. Ahli Arsitektur Lanskap/Ahli Arsitektur

Disyaratkan memiliki spesialisasi dan bersertifikat Tenaga Ahli Arsitektur Lansekap/Arsitektur, dengan pendidikan sekurang- kurangnya jenjang S1 bidang Arsitektur Lansekap/Arsitektur, yang dibuktikan dengan ijasah S1, memiliki SKA, dan memiliki pengalaman profesional di bidang Arsitektur Lansekap sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun.

2. Ahli Teknik Sipil

Disyaratkan dengan pendidikan sekurang-kurangnya jenjang S1 bidang Teknik Sipil yang dibuktikan dengan ijasah S1, memiliki SKA, dan memiliki pengalaman profesional di bidang Manajemen Konstruksi sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun

HIJAU

I.7. LAMPIRAN

I.7.1. Ketentuan Gambar

DED TAMAN KOTA
DED
TAMAN
KOTA

I. Site Plan

Kota Probolinggo

I. Site Plan Kota Probolinggo DED | I-25

HIJAU

Site Plan

Kab. Purworejo

DED TAMAN KOTA
DED
TAMAN
KOTA

II. Gambar 3D

Kab. Purworejo

II. Gambar 3D Kab. Purworejo DED | I-27

HIJAU

Gambar 3D

Kab. Tasikmalaya

DED TAMAN KOTA
DED
TAMAN
KOTA
HIJAU Gambar 3D Kab. Tasikmalaya DED TAMAN KOTA I-28 | DED

III. Gambar Detail Tata Tanaman dan Teknik Penanaman

III. Gambar Detail Tata Tanaman dan Teknik Penanaman DED | I-29
IV. Gambar Detail Perkerasan DED TAMAN KOTA HIJAU
IV. Gambar Detail Perkerasan
DED
TAMAN
KOTA
HIJAU
IV. Gambar Detail Perkerasan DED TAMAN KOTA HIJAU I-30 | DED

V. Gambar Detail Tempat Sampah dan Komposter

V. Gambar Detail Tempat Sampah dan Komposter VI. Gambar Sumur Resapan DED | I-31

VI. Gambar Sumur Resapan

V. Gambar Detail Tempat Sampah dan Komposter VI. Gambar Sumur Resapan DED | I-31
VI. Gambar Bangku Taman DED TAMAN KOTA HIJAU
VI. Gambar Bangku Taman
DED
TAMAN
KOTA
HIJAU

VII. Gambar Bangunan Toilet dan Pos Jaga dengan Tandon Air di Atap

VII. Gambar Bangunan Toilet dan Pos Jaga dengan Tandon Air di Atap DED | I-33
VII. Gambar Bangunan Toilet dan Pos Jaga dengan Tandon Air di Atap DED | I-33
VIII. Gambar Signage Board DED TAMAN KOTA HIJAU
VIII. Gambar Signage Board
DED
TAMAN
KOTA
HIJAU
VIII. Gambar Signage Board DED TAMAN KOTA HIJAU I-34 | DED

Gambar Signage Board

Gambar Signage Board DED | I-35
IX. Guideline Papan Informasi Taman Contoh Layout Lansekap DED TAMAN KOTA HIJAU
IX. Guideline Papan Informasi Taman
Contoh Layout Lansekap
DED
TAMAN
KOTA
HIJAU
DED | I-37
I.7.2. Ketentuan Rencana Anggaran Biaya (RAB) DED TAMAN KOTA HIJAU
I.7.2. Ketentuan Rencana Anggaran Biaya (RAB)
DED
TAMAN
KOTA
HIJAU
DED | I-39
DED TAMAN KOTA HIJAU
DED
TAMAN
KOTA
HIJAU
DED | I-41
DED TAMAN KOTA HIJAU
DED
TAMAN
KOTA
HIJAU
DED | I-43
DED TAMAN KOTA HIJAU
DED
TAMAN
KOTA
HIJAU
DED | I-45
DED TAMAN KOTA HIJAU
DED
TAMAN
KOTA
HIJAU
DED | I-47
DED TAMAN KOTA HIJAU
DED
TAMAN
KOTA
HIJAU

I.7.3. Ketentuan Rencana Kerja & Syarat (RKS)

Terlampir dalam softcopy

HIJAU

KOTA

TAMAN

DED

HIJAU KOTA TAMAN DED I-50 | DED
HIJAU KOTA TAMAN DED I-50 | DED
HIJAU KOTA TAMAN DED I-50 | DED

II-1 |

II.

PENINGKATAN KUANTITAS RTH PERKOTAAN

PERKOTAAN

RTH

KUANTITAS

PENINGKATAN

II.1.LINGKUP KEGIATAN

Adapun lingkup pelaksanaan kegiatan Fasilitasi Implementasi Pengembangan Ruang Terbuka Hijau Perkotaan berupa revitalisasi, pemeliharaan maupun pembangunan baru Ruang Terbuka Hijau (RTH) berdasarkan hasil desain yang telah disepakati yang secara umum meliputi:

1. Pekerjaan persiapan

2. Pekerjaan Konstruksi lansekap

3. Pemeliharaan Pekerjaan secara menyeluruh.

II.2.TAHAPAN KEGIATAN

Umum

A. Lingkup Pekerjaan

1. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini untuk mendapatkan hasil yang baik.

2. Pekerjaan lansekap yang dilaksanakan meliputi semua pekerjaan yang tertera dalam gambar lansekap dan sesuai petunjuk-petunjuk Pengawas atas saran perencana.

3. Pekerjaan tersebut meliputi antara lain :

a) Pekerjaan Persiapan

b) Pekerjaan Penanaman dan pekerjaan hard material

c) Pekerjaan Perawatan/pemeliharaan tanaman dan pekerjaan-pekerjaan lain yang terkait / erat kaitannya dengan pekerjaan ini

B. Sarana Kerja

1. Kontraktor wajib memasukkan identifikasi tempat kerja bagi semua pekerjaan yang dilakukan di luar lapangan sebelum pemasangan , peralatan kerja serta jadwal kerja. Hal ini harus dilaporkan / persetujuan dari Pengawas di lapangan

2. Semua sarana kerja yang digunakan harus benar-benar baik dan memenuhi persyaratan kerja sehingga memudahkan dan melancarkan kerja di lapangan

3. Penyediaan tempat penyimpanan bahan/material di lapangan harus aman dari segala kerusakan, hilang dan lain-lain serta hal-hal yang dapat mengganggu pekerjaan lain yang sedang berjalan

C. Perbedaan dan Perubahan Gambar

1. Bila terjadi perbedaan dan atau pertentangan dalam gambar-gambar yang ada maupun perbedaan yang terjadi dengan keadaan di lapangan, diwajibkan bagi Kontraktor untuk melaporkannya secara tertulis kepada Pengawas untuk kemudian Pengawas memberikan keputusan tentang itu untuk bisa dilaksanakan setelah berunding terlebih dahulu kepada Perencana

2. Untuk ukuran dalam gambar Lansekap pada dasarnya adalah ukuran jadi sampai dalam keadaan selesai. Semua ukuran harus benar-benar diperhatikan terutama peil- peil , ketinggian, lebar, ketebalan, luas penampang dan lain-lain sesuai dengan apa yang tertera dalam gambar. Bila ada keraguan mengenai ukuran atau bila belum dicantumkan dalam gambar, Kontraktor wajib melaporkan secara tertulis kepada Pengawas, kemudian Pengawas memberikan keputusan ukuran yang akan dipakai dan dijadikan pegangan setelah berunding dengan Perencana

PERKOTAAN

RTH

KUANTITAS

PENINGKATAN

3.

Untuk hal-hal pekerjaan yang belum tercakup secara lengkap dalam gambar, Kontraktor diwajibkan membuat Shop Drawing yang merupakan gambar detail pelaksanaan berdasarkan gambar perencanaan, gambar kerja yang telah disesuaikan dengan keadaaan di lapangan pada kertas standar yang berlaku pada Kontraktor. Di dalam Shop Drawing ini harus jelas dan mencantumkan semua data yang diperlukan termasuk keterangan produksi, cara pemasangan dan atau persyaratan khusus pabrik / produksi bahan yang dipakai. Shop Drawing ini harus diajukan kepada Pengawas untuk mendapatkan persetujuannya secara tertulis, setelah berunding dengan pihak Perencana.

D.

Persyaratan Pekerjaan Lansekap

1.

Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti petunjuk-petunjuk dan syarat-syarat pekerjaan lansekap dan sesuai petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Pengawas dengan saran Perencana

2.

Pekerjaan Lansekap yang dilaksanakan harus mengikuti semua petunjuk gambar-gambar lansekap terlampir dan apa yang ditentukan kemudian oleh Pengawas atas petunjuk Perencana

E. Bahan / Material

1. Bahan-bahan yang dipakai/dipasang harus sesuai dengan yang tercantum dalam gambar Lansekap, memenuhi standar spesifikasi bahan yang telah dipilih/ditunjuk/disetujui, mengikuti peraturan persyaratan tertulis dalam uraian dan syarat-syarat Pekerjaan Lansekap ini serta petunjuk-petunjuk Pengawas atas saran dan petunjuk perencana

2. Semua bahan sebelum dipasang harus disetujui oleh Pengawas. Contoh bahan yang akan dipasang harus diajukan dan diserahkan ke Pengawas untuk kemudian mendapatkan persetujuan dari Pengawas sesuai petunjuk Perencana. Pengajuan bahan yang setara dengan apa yang disyaratkan

3. Penyimpanan dan pemeliharaan bahan terhadap kerusakan di lapangan harus benar-benar diperhatikan sesuai persyaratan spesifikasi.

F. Dasar Penentuan Ukuran/Posisi Bagian-Bagian Pekerjaan

1.

Untuk mendapatkan posisi dan ketetapan di lapangan untuk setiap bagian pekerjaan harap diperhatikan segala petunjuk yang tertera dalam gambar Lansekap.

2.

Untuk memudahkan pekerjaan di lapangan patokan- patokan ukuran yang dipakai adalah terhadap as-as bangunan sekitar dengan menyesuaikan ukuran dalam gambar, atau menggunakan patokan-patokan yang ada di dalam site untuk bagian-bagian yang jauh dari bangunan.

3.

Kontraktor harus memasang patok-patok yang terpenting di dalam site serta membubuhkan nomor asnya dengan koordinat, terutama untuk patokan titik mula setiap bagian dari pekerjaan. Patok-patok tersebut harus diikatkan kepada benchmark tapak/bangunan/proyek.

G.

Pelaksanaan Pekerjaan Lansekap

1.

Semua ukuran dan posisi harus tepat sesuai gambar Lansekap, juga ketetapan pemasangan patok-patok di lapangan

2.

Pembentukan muka tanah ( Landform ) harus mengikuti bentuk/kemiringan kontur/peil yang tertera dalam gambar. Kemiringan kemiringan yang dibuat harus

PERKOTAAN

RTH

KUANTITAS

PENINGKATAN

cukup kuat untuk mengalirkan air hujan menuju selokan yang ada disekitarnya serta mengikuti persyaratan- persyaratan yang tertera dalam gambar. Tidak dibenarkan adanya genangan air di atas tanah.

3. Cara pelaksanaan setiap bagian pekerjaan ini mengikuti petunjuk gambar, uraian dan syarat pekerjaan Lansekap.

Pekerjaan Persiapan dan Pekerjaan Tanah

A.

Lingkup Pekerjaan

1.

Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga, bahan-bahan peralatan dan alat bantu yang dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini untuk mendapatkan hasil yang baik

2.

Pekerjaan yang dilaksanakan dalam hal ini meliputi :

 

a) Pekerjaan persiapan tanah

 

b) Pembentukan muka tanah ( Landform )

 

c) Pembersihan

tanah

dan

pekerjaan-pekerjaan

yang

terkait dengan pekerjaan ini.

B.

Persyaratan Pekerjaan Persiapan Tanah

1.

Peralatan yang dipakai cukup baik dan memenuhi syarat kerja

2.

Semua pekerjaan tanah dilaksanakan mengikuti petunjuk gambar, uraian dan syarat pekerjaan Lansekap dan petunjuk Pengawas

C.

Pekerjaan Persiapan Tanah

1. Pekerjaan persiapan tanah ini meliputi pembongkaran/pemindahan/ pembersihan di tempat kerja dari benda/puing-puing bekas bangunan yang tidak berguna lagi, yang dapat mengganggu terlaksananya kelancaran kerja di tempat tersebut.

2. Pohon/semak/rumput yang tidak diperlukan lagi ditempat kerja harus disingkirkan berikut pokok pohon/semak / rumput sampai akar-akarnya sedalam kurang lebih 30 cm

3.

Mengadakan pengukuran (stake out) dan pemasangan patok-patok titik awal/peil dasar yang diperlukan ditempat kerja.

D.

Pembentukan Muka Tanah ( Landform )

1.

Pekerjaan ini meliputi pekerjaan galian , urugan tanah, perataan tanah, tanah yang dipergunakan adalah tanah merah urug yang bebas dari kotoran/akar-akar pohon

2.

Pembentukan muka tanah ( Landform ) harus mengikuti bentuk / rencana grading , kemiringan / contour / peil yang tertera dalam gambar Lansekap

3.

Untuk pekerjaan penanaman diperlukan pekerjaan pengurugan tanah yang mengandung bahan organis.

E. Pembersihan Tanah

1. Tanah yang telah siap untuk pelaksanaan suatu pekerjaan ataupun yang telah selesai digarap harus dibersihkan dari bekas tanah galian dan bekas-bekas bahan bangunan

PERKOTAAN

RTH

KUANTITAS

PENINGKATAN

2. Tanah yang dipersiapkan untuk pekerjaan penanaman harus benar-benar dibersihkan dari batu , kerikil , adukan kapur dan segala bekas bahan bangunan/bongkaran, bahan plastik dan bahan-bahan organis.

F. Pekerjaan Tanah Subur

1. Lingkup Pekerjaan :

a) Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini untuk memperoleh hasil yang baik

b) Pekerjaan tanah subur ini dilakukan untuk semua area termasuk bak tanaman / pot tanaman

2. Persyaratan bahan :

a) Tanah yang digunakan harus terdiri dari tanah gembur, tidak berbatu atau tidak terdapat puing- puing bekas bangunan, tidak ada sampah dan rumput / tanaman liar

b) Tanah yang digunakan harus bebas dari bibit hama , kutu maupun rayap

c) Air siraman digunakan air tawar bersih dan tidak mengandung minyak, asam alkali dan bahan-bahan organis lainnya

d) Apabila dipandang perlu, Pengawas dapat meminta kepada Kontraktor supaya air yang dipakai untuk kegiatan ini diperiksa di Laboratorium Pemeriksaan Bahan yang resmi dan sah atas biaya Kontraktor

e) Pengendalian seluruh pekerjaan ini harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan diatas dan harus dengan persetujuan Pengawas

3.

Syarat-syarat Pelaksanaan :

a) Tanah dan pupuk kandang yang digunakan harus dengan persetujuan pihak Pengawas

b) Campuran tanah dan pupuk kandang harus merata, warna dan campurannya, demikian pula dengan campuran humus

c) Lapisan tanah subur harus sama ketebalannya sesuai yang disyaratkan dalam detail gambar, diratakan, disiram air sampai jenuh

d) Tebal lapisan tanah subur minimum 20 cm atau sesuai dengan gambar

e) Pekerjaan selanjutnya dapat dikerjakan bilamana sudah mendapat persetujuan dari pihak Pengawas.

Pekerjaan Lansekap

A. Lingkup Pekerjaan

1. Pekerjaan ini meliputi tenaga, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan untuk mendapatkan hasil yang baik

2. Pekerjaan lansekap ini meliputi semua pekerjaan hard material dan pekerjaan soft material sesuai petunjuk gambar, uraian dan syarat pekerjaan lansekap dengan memperhatikan pekerjaan :

a) Persiapan dan pembentukan tanah sesuai yang telah diuraikan dalam BAB II

b) Cara dan syarat yang telah ditentukan

PERKOTAAN

RTH

KUANTITAS

PENINGKATAN

B. Bahan dan Material

Soft Material, meliputi semua pekerjaan penanaman pohon, semak, perdu, penutup tanah dan rumput

C. Persyaratan Pekerjaan Lansekap

1. Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti semua petunjuk gambar uraian dan syarat pekerjaan Lansekap, atas petunjuk Pengawas

2. Setiap pekerjaan Lansekap dilaksanakan, diperlukan adanya Koordinasi kerja dengan pekerjaan lain agar tidak terjadi kerusakan pekerjaan yang sudah atau sedang terpasang di tempat tersebut

3. Dalam hal melaksanakan pekerjaan ini, persiapan tanah, pembentukan tanah, penggalian lubang tanaman harus sudah dilaksanakan dengan mengikuti semua petunjuk gambar sesuai uraian syarat yang tertulis

4. Lubang-lubang galian dibuat sesuai dengan posisi pohon/tanaman dengan mengikuti petunjuk gambar Lansekap

5. Pemasangan patok-patok berikut dengan keterangan koordinat posisi perlu dilaksanakan terutama untuk patokan penanaman awal setiap jenis tanaman

6. Patokan diambil berdasarkan pengukuran yang ditarik dari as-as bangunan yang terdekat / patokan-patokan yang ada dalam site

7. Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor diwajibkan untuk meneliti gambar-gambar yang ada dan menyesuaikan dengan kondisi di lapangan serta meneliti kebenaran ukuran di lapangan

8.

Perbedaan antara gambar dengan keadaaan di lapangan harus dilaporkan kepada Pengawas untuk diambil keputusan pemecahan perihal perbedaan setempat

9. Setelah pembentukan muka tanah ( Landform ) mengikuti bentuk kemiringan/kontur/peil sesuai gambar, serta pekerjaan penggalian lubang selesai dapat dilaksanakan penanaman

10. Segala perubahan letak pohon di lapangan yang menyimpang dari ketentuan gambar Lansekap disebabkan keadaan lapangan, harus atas sepengetahuan dan persetujuan Pengawas

11. Kontraktor diwajibkan mengajukan shop drawing dengan mengikuti ukuran bentuk dan peletakan sesuai permintaan Perencana.

D. Pelaksanaan Pekerjaan Lansekap

1. Semua jenis material yang dipakai harus disetujui oleh Pengawas sesuai dengan petunjuk gambar Lansekap dan mengikuti semua persyaratan tertulis, uraian dan syarat pekerjaan Lansekap.

2. Khususnya soft material harus disediakan Nursery pada areal yang sudah ditunjuk, disamping itu berguna untuk pengkondisian pohon terhadap lingkungan

3. Material

yang

dipilih

harus

sesuai

dengan

gambar

lansekap

atau

sesuai

petunjuk

Pengawas

atas

saran

Perencana

4. Pekerjaan Soft Material :

a) Penanaman Pohon, dengan tinggi minimal 3 meter dan diameter minimal 5 cm

b) Penanaman pohon dengan tinggi

c) Penanaman semak

d) Penanaman rumput

PERKOTAAN

RTH

KUANTITAS

PENINGKATAN

Pemeliharaan Pekerjaan

A.

Lingkup Pekerjaan

1.

Pekerjaan ini adalah semua pekerjaan yang dilaksanakan untuk memelihara dan merawat semua tanaman yang telah selesai ditanam maupun yang belum tertanam (masih di tempat penampungan sementara) dari segala macam kerusakan untuk mendapatkan tumbuh dan bentuk yang baik seperti yang dipersyaratkan sampai jangka waktu pemeliharaan yang telah berakhir

2.

Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini untuk mendapatkan hasil yang baik

3.

Pekerjaan pemeliharaan ini meliputi :

a) Penyiraman

b) Penyiangan

c) Penggantian pohon / tanaman yang mati

d) Pemangkasan

e) Pemupukan

f) Pemberantasan hama & penyakit

B.

Persyaratan Pekerjaan Pemeliharaan Tanaman

1.

Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti semua petunjuk gambar, uraian dan syarat pekerjaan serta petunjuk Pengawas

2.

Pemeliharaan tanaman sangat perlu perhatian Kontraktor setelah selesai penanaman. Ikatan kontrak masa pemeliharaan ini berlangsung selama 6 (enam) bulan dari masa selesainya penanaman

3.

Selama masa itu Kontraktor diwajibkan secara teratur memelihara tanaman yang rusak/mati. Semua penggantian tanaman yang rusak/mati dengan tanaman yang baru adalah menjadi tanggung jawab Kontraktor

4. Pemeliharaan

tanaman

disesuaikan

jenis tanaman yang ditanam.

C. Bahan / Material

dengan sifat dan

1.

Bahan dan peralatan yang dipergunakan dalam setiap jenis pekerjaan pemeliharaan ini harus benar-benar baik, memenuhi persyaratan kerja yang dibutuhkan dan tidak merusak tanaman.

2.

Pupuk maupun obat anti hama yang dipergunakan juga harus sesuai dengan uraian dan syarat yang tertulis dalam bab selanjutnya.

3.

Penggantian tanaman harus sesuai jenis/bentuk/warna daun dan bunga dengan apa yang telah ditentukan dan tertanam.

D.

Penyiraman

1.

Penyiraman dilakukan dengan air bersih, bebas dari segala bahan organis/zat kimia/bahan-bahan lain yang dapat mengganggu dan merusak pertumbuhan tanaman

2.

Penyiraman dilakukan dengan menggunakan selang

3.

Penyiraman dilakukan secara teratur, terutama di musim kemarau dan bagi tanaman-tanaman yang baru ditanam serta bagi tanaman-tanaman dalam tempatpenampungan, hal ini harus benar-benar diperhatikan

PERKOTAAN

RTH

KUANTITAS

PENINGKATAN

4. Penyiraman dilakukan :

a) Dua kali sehari secara teratur bagi semua jenis tanaman yang baru ditanam dan semua jenis tanaman dalam penyimpanan sementara sebelum ditanam, yaitu pada waktu pagi hari dan sore hari sesudah pk 15.30, sampai tanaman-tanaman tersebut tumbuh sehat dan kuat

b) Untuk semua tanaman hias yang sudah terlihat tumbuh baik dan kuat, disiram satu kali sehari pada sore hari setelah pukul 15.30

5. Banyaknya air penyiraman harus cukup sampai membasahinya, dibawah permukaan tanah. Bagi tanaman yang masih terlihat cukup basah tanahnya pada sore hari untuk penyiraman pada saat itu tak perlu dilakukan

6. Tidak diperkenankan tanah bekas siraman terlihat tergenang air, air harus dapat terserap baik oleh tanah di sekitar tanaman

E. Penyiangan

1. Penyiangan ini harus dilakukan secara teratur tiap satu bulan sekali bagi tanaman semak dan perdu yang tertanam.

2. Tanaman liar dan rumput disekitar perdu dicabut dan dibersihkan sampai akarnya dari sekeliling perdu

3. Untuk tanaman hias, penyiangan dilakukan secara teratur setiap 2 minggu sekali , dengan mencabut segala tanaman liar dan jenis rumput yang berada disekitar dan dibawahnya, serta tanahnya digemburkan.

F. Penggantian Tanaman

1.

Kontraktor wajib mengganti setiap kali ada tanaman yang rusak atau mati. Semua penggantian tanaman ini dengan tanaman yang baru adalah menjadi tanggung jawab Kontraktor sampai masa pemeliharaan yang ditentukan berakhir

2.

Penggantian tanaman harus sesuai jenis / bentuk / warna daun dan bunga serta ukuran yang sama dengan apa yang telah ditentukan berakhir

3.

Penggantian tanaman dilaksanakan dengan sebaik mungkin jangan sampai merusak tanaman lain disekitarnya pada saat mencabut dan menanam yang baru

4.

Penggantian tanaman dilakukan pada sore hari antara pukul 15.00 18.00 dan harus segera disiram

G.

Pemangkasan

1. Pemangkasan dilakukan pada cabang ranting yang tumbuh tidak teratur/liar untuk mendapatkan/mempertahankan bentuk pertumbuhan cabang yang diinginkan

2. Membuang ranting dan cabang yang sakit dengan cara memotongnya

3. Semua pekerjaan pemangkasan dilakukan dengan gunting pangkas dengan cara memangkas cabang atau ranting arah miring dari bawah keatas dengan sudut 30 50 derajat

4. Untuk bekas pemotongan cabang/yang permukaannya terpotong lebar, penampang yang terpotong tersebut ditutup ter (aspal)

PERKOTAAN

RTH

KUANTITAS

PENINGKATAN

5. Pemangkasan ini dilakukan secara teratur tiap satu bulan sekali

6. Pemangkasan pada tanaman hias untuk pemeliharaan bentuk dilakukan bilamana ketinggian komposisi kelompok tanaman tidak lagi beraturan dan dipotong sesuai petunjuk ketinggian yang diminta dalam gambar

H. Pemupukan

1. Pupuk kompos

2. Pupuk kandang, dengan pemakaian antara 2 4 kg/m2

3. Pemupukan tanaman dijadwalkan setiap interval 1 bulan sekali dengan diselang penggunaannya yaitu pupuk kandang dan pupuk kompos

I. Pemberantasan Hama Penyakit

1. Ulat dan serangga dengan Basudin/Diazinon/Bayrusil, dosis 1 2 cc/L air segar disemprotkan dengan sprayer

2. Jamur, panu pada batang tanaman keras, dengan Dithan M 45, Fungisida dosis 2 3 gram/L air segar, disemprotkan dengan sprayer

3. Siput darat yang bersarang di bak-bak bunga/tanaman hias dengan Metadex yang disebarkan disekitar tanaman tersebut, dengan dosis 50 gram/m2 luas lahan

4. Kutu-kutu buah, kumbang, diberantas dengan Fosforeno , dengan dosis 1 2 cc/L air segar, disemprotkan dengan sprayer bertekanan

II.3.KELUARAN

Kegiatan ini diharapkan dapat terbangunnya area RTH publik yang terintegrasi dan aksesibel bagi lingkungan perkotaan sekitarnya serta dapat memberikan fungsi interaksi sosial secara aktif bagi kota secara umum.

PERKOTAAN

RTH

KUANTITAS

PENINGKATAN

II.4.JADWAL PELAKSANAAN

II.4.1. Implementasi Tipe I (luasan min. 10.000 m 2 )

Untuk melaksanakan kegiatan Peningkatan Kuantitas Ruang Terbuka Hijau Perkotaan tipe I (luasan min. 10.000 m
Untuk melaksanakan kegiatan Peningkatan Kuantitas Ruang
Terbuka Hijau Perkotaan tipe I (luasan min. 10.000 m 2 )
dibutuhkan waktu 4 (empat) bulan.
NO
TAHAPAN
BULAN I
BULAN II
BULAN III
BULAN IV
KEGIATAN
1.
Pekerjaan
Persiapan
2.
Pekerjaan
Lansekap
3.
Pemeliharaan
Pekerjaan

II.4.2. Implementasi Tipe II (luasan min. 5.000 m 2 )

Untuk melaksanakan kegiatan Peningkatan Kuantitas Ruang Terbuka Hijau Perkotaan tipe II (luasan min. 5.000 m 2 ) dibutuhkan waktu 3 (tiga) bulan.

NO TAHAPAN BULAN I BULAN II BULAN III KEGIATAN 1. Pekerjaan Persiapan 2. Pekerjaan Lansekap
NO
TAHAPAN
BULAN I
BULAN II
BULAN III
KEGIATAN
1.
Pekerjaan
Persiapan
2.
Pekerjaan
Lansekap
3.
Pemeliharaan
Pekerjaan

II.5.PELAKSANA KEGIATAN

II.5.1. Kualifikasi Pelaksana Konstruksi dan Tenaga Ahli

A. Pelaksana Konstruksi Taman Kota Hijau

Adapun kualifikasi Pelaksana Konstruksi RTH adalah sebagai berikut:

1. Memiliki kompetensi pembangunan RTH yang ditandai dengan portofolio proyek dan tenaga ahli yang terdapat di dalamnya.

2. Memiliki pengalaman dengan pekerjaan sejenis minimal 3 tahun

B. Tenaga Ahli

Sementara itu kualifikasi tenaga ahli yang harus terdapat dalam struktur organisasi Pelaksana Konstruksi adalah sebagai berikut:

1. Ketua Tim (Ahli Arsitektur Lansekap/Ahli Arsitektur):

Disyaratkan dengan pendidikan sekurang-kurangnya jenjang S1 bidang Arsitektur Lansekap/Arsitektur yang dibuktikan dengan ijasah S1, dan memiliki pengalaman profesional di bidang Arsitektur Lansekap sekurang- kurangnya 2 (dua) tahun, serta berpengalaman menangani proyek sejenis.

2. Ahli Teknik Sipil:

Disyaratkan dengan pendidikan sekurang-kurangnya jenjang S1 bidang Teknik Sipil yang dibuktikan dengan ijasah S1, dan memiliki pengalaman profesional di bidang Manajemen Konstruksi sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun.

PERKOTAAN

RTH

KUANTITAS

PENINGKATAN

II.5.2. Mekanisme Kerja

Tanggung Jawab

A. Tanggung Jawab Pelaksana Konstruksi

Pelaksana Konstruksi harus melaksanakan fungsi teknis konstruksi, manajemen, pengaturan, dan administrasi yang diperlukan untuk melaksanakan Pekerjan berdasarkan kebutuhan yang dijelaskan dalam Dokumen Pengadaan. Pelaksana Konstruksi paling sedikit harus melaksanakan tugas- tugas berikut:

a. Memberikan hasil kerja menyeluruh dan cukup terperinci dengan telah memperhatikan baik fase-fase konstruksi dan commisioning maupun operasi dan pemeliharaan pekerjaan

b. Menggabungkan informasi atau masukan yang diterima dari pemerintah kota, dan yang lainnya.

c. Menyerahkan hasil kerjanya ke pemerintah kota sesuai jadwal pekerjaan

d. Mengatur hubungan teknis antara pemerintah kota dan konsultan, sebagaimana diperlukan untuk mendapatkan masukan atas implementasi RTH.

e. Menyiapkan informasi teknis kepada pemerintah kota sehingga dapat berhubungan dengan kelompok pihak ketiga, seperti, tetapi tidak terbatas pada:

1)

Lembaga-lembaga Keuangan dan para penasehat teknis independen mereka

2)

Instansi Pemerintah sektoral

3)

dan sebagainya.

f. Mengatur hubungan komersil dengan semua Pihak Konsultan, Pelaksana Konstruksi, dan pemasok

B. Tanggung Jawab Pemerintah Daerah

Pemerintah Kota akan menyediakan Tim Teknis dan administrasi untuk memeriksa pekerjaan Pelaksana Konstruksi dan berpartisipasi dalam proses Pembangunan RTH, Tim Teknis tersebut akan melakukan tugas-tugas sebagai berikut:

Memberikan persetujuan untuk semua keputusan manajemen proyek dan teknis

Menyediakan staf teknis yang memiliki wewenang serta tenaga ahli untuk mengawasi dan menyetujui pekerjaan Pelaksanaan Konstruksi

Memberitahukan Pelaksana Konstruksi terhadap perubahan mengenai lingkup pekerjaan, persyaratan dan jadwal.

Mengatur hubungan antara Pelaksana Konstruksi dan Mitra Strategis, jika ada, sesuai dengan prosedur dan keperluan

Menyediakan data yang diperlukan oleh Pelaksana Konstruksi, seperti: hasil-hasil kajian dan informasi lain, yang merujuk pada Dokumen Pengadaan

PERKOTAAN

RTH

KUANTITAS

PENINGKATAN

Koordinasi Kegiatan

A. Rapat Kemajuan Pekerjaan

Pelaksana Konstruksi harus melaksanakan rapat kemajuan proyek setiap bulan disyaratkan dan disetujui oleh Tim Teknis Pemerintah Kota. Rapat tersebut merupakan waktu kerja dengan Tim Teknis untuk meninjau kemajuan dan jadwal, permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan pekerjaan dan peluang penyelesaiannya, mengindentifikasi tindakan yang diperlukan dan menindak lanjuti yang telah disetujui untuk dilaksanakan, serta mengatur pelaksanaan pekerjaan tersebut. Laporan kemajuan pekerjaan dan informasi tentang jadwal harus disiapkan untuk rapat tersebut.

Dari waktu ke waktu, Tim Teknis akan selalu meminta Pelaksana Konstruksi untuk melaksanakan pertemuan untuk melaporkan status Pekerjaan Implementasi RTH dan kemajuan pekerjaan kepada Tim Teknis Pemerintah Kota, perwakilan masyarakat dan yang lainnya.

B. Laporan Bulanan

Setiap bulan, Pelaksana Konstruksi harus menyajikan laporan singkat yang akurat dan tidak bias mengenai status pekerjaan yang dilaksanakan dan dikelola. Laporan tersebut harus tersedia dalam kurun waktu 5 (lima) hari kerja setelah tenggat waktu setiap bulannya. Tenggat waktu adalah tanggal 25 pada setiap bulan. Laporan tersebut akan digunakan Tim Teknis Pemerintah Kota sebagai dasar untuk melaporkan status proyek kepada masyarakat.

C. Laporan Mingguan

Setiap minggu, Pelaksana Konstruksi harus menyajikan laporan singkat yang akurat dan tidak bias mengenai status pekerjaan yang dilaksanakan dan dikelola. Laporan tersebut harus tersedia dalam kurun waktu 1 (satu) hari kerja setelah tenggat waktu setiap minggunya. Tenggat waktu adalah hari Senin setiap minggunya. Laporan tersebut akan digunakan Tim Teknis Pemerintah Kota sebagai dasar untuk melaporkan status proyek kepada masyarakat.

Pelaksana Konstruksi harus mendapatkan persetujuan Tim Teknis untuk format pelaporan awal dan revisi-revisi berikutnya sebelum persiapan pembuatan laporan. Laporan pada dasarnya akan termasuk informasi yang berikut ini:

1. Jadwal pencapaian

2. Ringkasan Jadwal Pekerjaan

3. Statistik Kemajuan dan Kinerja (Ringkasan secaraKeseluruhan /Elemen Pekerjaan/Bidang kerja)

4. Laporan Pencapaian Kualitas yang memperinci tentang QA audit serta temuan-temuan mengenai efektitas dan efisiensi Pekerjaan Pelaksana Konstruksi dan sistem manajemennya

5. Status Tagihan

6. Daftar Kendali Perubahan

Laporan pendukung yang terperinci akan dikeluarkan secara terpisah sesuai permintaan Tim Teknis Pemerintah Kota untuk melengkapi penerbitan Laporan Kemajuan Kerja Bulanan.

PERKOTAAN

II.6.LAMPIRAN : Foto Sebelum dan Setelah Pembangunan Taman

1. Kota Probolinggo

Sebelum Pembangunan

KUANTITAS RTH
KUANTITAS
RTH
Setelah Pembangunan PENINGKATAN
Setelah Pembangunan
PENINGKATAN
Pembangunan Taman 1. Kota Probolinggo Sebelum Pembangunan KUANTITAS RTH Setelah Pembangunan PENINGKATAN II-24 | FISIK

2. Kota Semarang

Sebelum Pembangunan

2. Kota Semarang Sebelum Pembangunan Setelah Pembangunan FISIK | II-25

Setelah Pembangunan

2. Kota Semarang Sebelum Pembangunan Setelah Pembangunan FISIK | II-25
2. Kota Semarang Sebelum Pembangunan Setelah Pembangunan FISIK | II-25
2. Kota Semarang Sebelum Pembangunan Setelah Pembangunan FISIK | II-25
3. Kab. Tasikmalaya Sebelum Pembangunan RTH PERKOTAAN
3. Kab. Tasikmalaya
Sebelum Pembangunan
RTH
PERKOTAAN
3. Kab. Tasikmalaya Sebelum Pembangunan RTH PERKOTAAN Setelah Pembangunan PENINGKATAN KUANTITAS II-26 | FISIK
Setelah Pembangunan PENINGKATAN KUANTITAS
Setelah Pembangunan
PENINGKATAN
KUANTITAS
3. Kab. Tasikmalaya Sebelum Pembangunan RTH PERKOTAAN Setelah Pembangunan PENINGKATAN KUANTITAS II-26 | FISIK

4. Kab. Kendal

Sebelum Pembangunan

4 . Kab. Kendal Sebelum Pembangunan Setelah Pembangunan FISIK | II-27

Setelah Pembangunan

4 . Kab. Kendal Sebelum Pembangunan Setelah Pembangunan FISIK | II-27
4 . Kab. Kendal Sebelum Pembangunan Setelah Pembangunan FISIK | II-27

PERKOTAAN

RTH

KUANTITAS

PENINGKATAN

PERKOTAAN RTH KUANTITAS PENINGKATAN II-28 | FISIK
PERKOTAAN RTH KUANTITAS PENINGKATAN II-28 | FISIK
PERKOTAAN RTH KUANTITAS PENINGKATAN II-28 | FISIK
PERKOTAAN RTH KUANTITAS PENINGKATAN II-28 | FISIK
PERKOTAAN RTH KUANTITAS PENINGKATAN II-28 | FISIK

III-1 |

III. SUPERVISI PENINGKATAN KUANTITAS RTH PERKOTAAN

PERKOTAAN

RTH

KUANTITAS

PENINGKATAN

SUPERVISI

III.1.

LINGKUP KEGIATAN

Pengawasan/supervisi dapat diartikan sebagai tindakan yang dilakukan untuk menjadikan segala kegiatan di pelaksanaan konstruksi berjalan dan berhasil sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

Supervisi pelaksanaan pekerjaan konstruksi mencakup kegiatan/tindakan mengawasi pelaksanaan pekerjaan sesuai standar konstruksi/rencana yang telah ditetapkan, kemudian mengadakan pengukuran/penilaian pelaksanaan sesuai standar pengukuran kegiatan tersebut dan membandingkan antara hasil pelaksanaan yang dicapai dengan standar/rencananya untuk mengetahui apakah ada penyimpangan (evaluasi).

Standar yang dipergunakan adalah mencakup standar konstruksi itu sendiri atau spesifikasi/persyaratan teknis pekerjaan, seperti kuantitas, dimensi/ukuran, kualitas, cara pengerjaan atau rencana kerja yang telah ditetapkan sebelumnya seperti biaya atau jadwal/waktu pelaksanaan kegiatan, dan lain-lain. Sedangkan penyimpangan dapat merupakan hasil yang lebih baik (hal ini merupakan suatu prestasi) dan penyimpangan yang negatif atau tidak sesuai/dibawah standar yang telah ditetapkan (merupakan suatu masalah yang harus diselesaikan).

Pengawasan pelaksanaan pembangunan prasarana pada prinsipnya dilakukan terhadap semua aspek kegiatan, namun demikian dalamproses pengawasan ini dapat difokuskan pada 5 (lima) aspek-aspek pengawasan pelaksanaan berikut :

Volume pekerjaan, termasuk dimensi atau ukuran konstruksi, yang perlu disupervisi antara lain :

1.

a) Jenis dan volume tiap pekerjaan;

b) Kondisi lokasi;

c) Fungsi dari setiap aspek pekerjaan;

d) Termasuk juga disini adalah apakah semua rencana pengamanan dampak lingkungan sudah dilaksanakan.

2.

Mutu/Kualitas pekerjaan, yang perlu disupervisi antara lain :

a) Sumber, kualitas, kuantitas bahan/Alat/tenaga kerja yang dipergunakan pada sestiap jenis pekerjaan sesuai rencana;

b) Kualitas hasil pekerjaan;

 

c) Kelengkapan RTH untuk kenyamanan pemakai;

d) Metode atau cara pelaksanaan tiap jenis pekerjaan benar;

e) Koordinasi

pelaksanaan

denganpihak/instansi/dinas

terkait setempat.

 

3.

Waktu pelaksanaan, yang perlu disupervisi antara lain :

a) Pelaksanaan tiap-tiap item pekerjaan tetap mengacu pada jadwal yang telah direncanakan.

b) Keterlambatan

dan/atau

percepatan

waktupelaksanaan pekerjaan maka harus diperhitungkan perubahan waktu kerja tersebut terhadap jadwal kerja;

c) Monitoring perpanjangan jangka waktu pelaksanaan

kontrak

atau

menghentikan

pekerjaan/pemutusankontrak (bila perlu).

4.

Biaya, yang perlu disupervisi antara lain :

 

PERKOTAAN

RTH

KUANTITAS

PENINGKATAN

SUPERVISI

a) Pembelanjaan atau penggunaan dana;

b) Penyelewengan dana;

c) Proses

transaksi selalu disertai dengan bukti-bukti

tertulis;

d) Pembukuan Keuangan dengan baik;

e) Aspek kontribusi swadaya masyarakat dipenuhi.

5. Administrasi pelaksanaan, yang perlu disupervis antara lain :

a) Penyusunan Dokumen manajemen administrasi yang diperlukan secara lengkap, benar dan sesuai kondisi lapangan/yang sebenarnya;

b) Administrasi diarsipkan dan dipelihara dengan baik

III.2. TAHAPAN KEGIATAN

A. Tahapan Pelelangan

1. Membantu PPK di Kota/Kabupaten dalam mempersiapkan dan menyusun program pelaksanaan pelelangan pekerjaan kontruksi fisik.

2. Memberikan masukan kepada Panitia Lelang dalam menyusun harga Perhitungan Sendiri (Owner’s Etimate) pekerjaan kontruksi fisik.

3. Membantu Panitia Lelang memeriksa kelengkapan dokumen teknis pelelangan (DED, RAB, RKS).

4. Membantu memberikan penjelasan pekerjaan pada waktu rapat penjelasan pekerjaan.

B. Tahap Pelaksanaan

1. Mengevaluasi program kegiatan pelaksanaan konstruksi fisik yang disusun oleh pemborong, yang meliputi program-program pencapaian sasaran konstruksi penyediaan dan penggunaan tenaga kerja, peralatan dan perlengkapan, bahan bangunan, informasi, dana, program Quality Assurance/Quality Control, dan program kesehatan dan keselamatan kerja (K3).

2. Mendampingi pelaksanaan konstruksi fisik sesuai yang direncanakan oleh tenaga ahli dan dilaksanakan di lapangan, yang meliputi program pengendalian sumber daya, pengendalian biaya, pengendalian waktu (kurva S), pengendalian sasaran fisik (kuantitas dan kualitas) hasil konstruksi, pengendalian perubahan pekerjaan baik

PERKOTAAN

RTH

KUANTITAS

PENINGKATAN

SUPERVISI

penambahan maupun pengurangan, pengendalian tertib administrasi, pengendalian kesehatan dan keselamatan kerja

3. Melakukan evaluasi program terhadap penyesuaian teknis dan manajerial yang timbul, usulan koreksi program dan tindakan turun tangan, serta melakukan koreksi teknis apabila diperlukan

4. Melakukan koordinasi antara pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kontruksi fisik

5. Melakukan kegiatan pengawasan terdiri atas:

Memeriksa dan mempelajari dokumen untuk pelaksanaan kontruksi yang akan dijadikan dasar dalam pengawasan pekerjaan di lapangan

Mengawasi pemakaian bahan, peralatan dan metode pelaksanaan, serta mengawasi ketepatan waktu, dan biaya pekerjaan kontruksi.

Mengawasi pelaksanaan pekerjaan konstruksi dari segi kualitas, kuantitas, dan laju pencapaian volume/ realisasi fisik dan mengumpulkan data dan informasi di lapangan untuk memecahkan persoalan yang terjadi selama pekerjaan kontruksi.

Menyelenggarakan rapat-rapat lapangan secara berkala, membuat laporan mingguan dan bulanan pekerjaan pengawasan, dengan masukan hasil rapat- rapat lapangan, laporan harian, mingguan dan bulanan pekerjaan konstruksi yang dibuat oleh pelaksana konstruksi.

Menyusun berita acara persetujuan kemajuan pekerjaan untuk pembayaran angsuran, pemeliharaan

pekerjaan,

pekerjaan konstruksi.

dan

serah

terima

pertama

dan

kedua

Meneliti gambar-gambar untuk pelaksanaan (Shop Drawings) yang diajukan oleh kontrakor dan meneliti gambar-gambar yang sesuai dengan pelaksanaan di lapangan (As Built Drawings) sebelum serah terima.

Menyusun daftar cacat/kerusakan sebelum serah terima, dan mengawasi perbaikannya pada masa pemeliharaan dan bersama dengan Konsultan Perencana menyusun petunjuk pemeliharaan dan penggunaan bangunan gedung.

6.

Menyusun

laporan akhir pekerjaan manajemen

konstruksi

C. Tahap Penyusunan Dokumen Pelelangan

Membantu

panitia

pelelangan

dalam

melakukan

proses

pelelangan

III.3. KELUARAN

Keluaran dari kegiatan ini adalah Dokumen Supervisi pelaksanaan konstruksi RTH yang diterbitkan berkala di hari Senin setiap minggunya.

PERKOTAAN

RTH

KUANTITAS

PENINGKATAN

SUPERVISI

III.4. JADWAL PELAKSANAAN

III.4.1. Supervisi Tipe I (luasan min. 10.000 m 2 )

Untuk melaksanakan kegiatan Supervisi Peningkatan Kuantitas Ruang Terbuka Hijau Perkotaan tipe I (luasan min. 10.000 m 2 ) dibutuhkan waktu 5 (lima) bulan.

NO TAHAPAN BULAN BULAN BULAN BULAN BULAN KEGIATAN I II III IV V 1. Pendampingan
NO
TAHAPAN
BULAN
BULAN
BULAN
BULAN
BULAN
KEGIATAN
I
II
III
IV
V
1.
Pendampingan
Pelelangan
Jasa
Konstruksi
2.
Supervisi
Pekerjaan
Persiapan
3.
Supervisi
Pekerjaan
Konstruksi
4.
Supervisi
Pekerjaan
Finishing

III.4.2. Supervisi Tipe I (luasan min. 5.000 m 2 )

Untuk melaksanakan kegiatan Supervisi Peningkatan Kuantitas Ruang Terbuka Hijau Perkotaan tipe II (luasan min. 5.000 m 2 ) dibutuhkan waktu 4 (empat) bulan.

NO TAHAPAN BULAN BULAN BULAN BULAN KEGIATAN I II III IV 1. Pendampingan Pelelangan Jasa
NO
TAHAPAN
BULAN
BULAN
BULAN
BULAN
KEGIATAN
I
II
III
IV
1.
Pendampingan
Pelelangan
Jasa
Konstruksi
2.
Supervisi
Pekerjaan
Persiapan
3.
Supervisi
Pekerjaan
Konstruksi
4.
Supervisi
Pekerjaan
Finishing

PERKOTAAN

RTH

KUANTITAS

PENINGKATAN

SUPERVISI

III.5. PELAKSANA KEGIATAN

III.5.1. Kualifikasi Tenaga Ahli

Dalam pelaksanaan kegiatan ini diperlukan Tenaga Ahli sebanyak 3 (tiga) sesuai dengan bidang keahliannya.

Adapun kualifikasi tenaga ahli tersebut adalah sebagai berikut:

1. Ketua Tim (Ahli Arsitektur Lanskap/Arsitektur)

Disyaratkan memiliki spesialisasi dan bersertifikat Tenaga Ahli Arsitektur Lanskap/Arsitektur, dengan pendidikan sekurang- kurangnya jenjang S1 bidang Arsitektur Lansekap/Arsitek , yang dibuktikan dengan ijasah S1, dan memiliki pengalaman profesional di bidang Arsitektur Lansekap sekurang-kurangnya 2 (tiga) tahun.

2. Ahli Teknik Sipil

Disyaratkan dengan pendidikan sekurang-kurangnya jenjang S1 bidang Teknik Sipil yang dibuktikan dengan ijasah S1, dan memiliki pengalaman profesional di bidang Manajemen Konstruksi sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun.

3. Asisten Ahli Teknik Mekanikal/Elektrikal

Disyaratkan dengan pendidikan sekurang-kurangnya jenjang D3 bidang Teknik Mesin/Elektro/Fisika Teknik yang dibuktikan dengan ijasah D3.

Selain Tenaga Ahli dan Asisten Tenaga Ahli tersebut, dibutuhkan pula Tenaga Pendukung, yaitu:

1.Pengawas Sipil sejumlah 1 orang

2. Quantity Surveyor sejumlah 1 orang

3. Juru Gambar sejumlah 1 orang

III.5.2. Mekanisme Kerja

Tanggung Jawab

A. Tanggung Jawab Pengawas

Pengawas harus melaksanakan fungsi pengawasan teknis pelaksanaan konstruksi, manajemen proyek,dan administrasi yang diperlukan untuk melaksanakan Pekerjan berdasarkan kebutuhan yang dijelaskan dalam Dokumen Pengadaan. Pengawas paling sedikit harus melaksanakan tugas-tugas berikut:

1. Memberikan monitoring dan evaluasi terperinci pada fase-fase pelelangan, pelaksanaan konstruksi dan commisioning maupun operasi dan pemeliharaan pekerjaan.

2. Memantau informasi atau masukan yang diterima dari Pemerintah kota, masyarakat, dan yang lainnya.

3. Menyerahkan laporan monitoring dan evaluasi pekerjaan ke Pemerintah Kota sesuai Jadwal Pekerjaan.

4. Mengatur hubungan teknis antara Pemerintah Kota, Masyarakat, pelaksana konstruksi dan konsultan, sebagaimana diperlukan untuk mendapatkan masukan atas Perancangan DED RTH.

5. Memberikan informasi teknis tambahan kepada Pemerintah Kota dan Masyarakat terkait dengan fase pelelangan, pelaksanaan konstruksi dan pemeliharaan.

PERKOTAAN

RTH

KUANTITAS

PENINGKATAN

SUPERVISI

B. Tanggung Jawab Pemerintah Kota/Kabupaten

Pemerintah Kota/Kabupaten melalui Penanggung Jawab Tim Swakelola akan menyediakan Tim Teknis untuk memeriksa pekerjaan Konsultan Supervisi dan pengawasan Pembangunan RTH. Tim Teknis akan melakukan tugas-tugas sebagai berikut :

1. Memberikan persetujuan untuk semua keputusan manajemen proyek dan teknis

2. Menyediakan data yang diperlukan konsultan untuk kelancaran pekerjaan merujuk pada Dokumen Pengadaan

PERKOTAAN

RTH

KUANTITAS

PENINGKATAN

SUPERVISI

PERKOTAAN RTH KUANTITAS PENINGKATAN SUPERVISI III-14 | SUPERVISI
PERKOTAAN RTH KUANTITAS PENINGKATAN SUPERVISI III-14 | SUPERVISI
PERKOTAAN RTH KUANTITAS PENINGKATAN SUPERVISI III-14 | SUPERVISI

IV. OPERASI DAN

PEMELIHARAAN TAMAN KOTA HIJAU

IV-1 |

PEMELIHARAAN

DAN

OPERASI

IV.1. OPERASIONAL

Setelah pembangunan RTH taman kota hijau selesai maka taman tersebut dapat digunakan atau dimanfaatkan oleh masyarakat. Sebagai RTH publik maka taman tersebut dalam penggunaannya perlu rambu-rambu atau aturan yang perlu diperhatikan oleh instansi terkait atau para pengelola taman.

1. Penggunaan atau pemanfaatan taman harus sesuai fungsi, antara lain dapat digunakan untuk interaksi sosial warga, rekreasi, olahraga, edukasi dan tempat santai warga.

2. Taman dapat digunakan oleh semua warga, anak-anak; remaja; dewasa dan orang tua. Taman juga dapat digunakan oleh para pelajar dan mahasiswa terutama komunitas hijau.

3. Pada waktu tertentu taman boleh digunakan untuk kegiatan seperti peringatan hari lingkungan hidup, hari kemerdekaan dan kegiatan lainnya dengan ketentuan ada ijin dari pengelola taman atau instansi terkait.

4. Taman kota hijau dapat digunakan oleh warga pada pagi, siang dan sore hari. Penggunaan taman pada malam hari dapat dilakukan apabila penerangan taman atau tata pencahayaan memenuhi standart. Keamanan dan pengawasan lingkungan dapat dilaksanakan oleh instansi terkait.

5. Taman kota hijau disamping dikelola oleh instansi terkait juga dapat dikelola bersama dengan komunitas hijau.

6. Pemeliharan taman dapat dilakukan oleh instansi terkait maupun warga dan komunitas hijau.

IV.2. PEMELIHARAAN

Untuk menjamin kelangsungan fungsi taman kota hijau, maka diperlukan pemeliharaan. Kegiatan pemeliharaan taman meliputi Pemeliharaan Tanaman (Softscape) dan Pemeliharaan Perkerasan dan Elemen Taman lainnya (Hardscape dan Site Furniture).

IV.2.1. Pemeliharaan Tanaman (Softscape )

Pemeliharaan

Pendangiran dan Penyiangan, Pengendalian Hama Penyakit

Tanaman dan Penggantian Tanaman yang mati/rusak atau Penyulaman.

Pemupukan,

tanaman

meliputi:

Penyiraman,

1. Penyiraman

Penyiraman tanaman dilakukan setiap hari pagi dan sore dengan jumlah air penyiraman yang cukup. Untuk pohon diperlukan penyiraman kurang lebih 10 liter/pohon. Untuk semak diperlukan air penyiraman kurang lebih 5 liter/tanaman. sedangkan untuk penutup tanah dan rumput diperlukan air penyiraman kurang lebih 10 liter/m2. Pada hari hujan penyiraman tidak perlu dilakukan.

2. Pemupukan

Pemupukan dapat dilakukan 1 bulan sekali untuk tanaman pohon, semak, penutup tanah dan rumput. Pemupukan dapat dilakukan dengan pupuk organik maupun anorganik. Pupuk organik atau pupuk kandang diberikan kepada tanaman yang baru ditanam. Sedangkan pupuk anorganik dengan kandungan unsur NPK dapat diberikan pada tanaman yang sudah tumbuh dengan baik. Untuk pertumbuhan vegetatif (daun) dapat dipilih pupuk dengan kandungan unsur N yang tinggi. Sedangkan untuk pertumbuhan generatif (bunga/buah) dapat diberikan pupuk dengan kandungan P yang tinggi.

PEMELIHARAAN

DAN

OPERASI

3. Pendangiran dan Penyiangan

Pendangiran adalah kegiatan pemeliharaan tanaman dengan mengaduk-aduk tanah disekitar tanaman agar tanah menjadi gembur. Penyiangan adalah membersihkan tanaman liar yang ada di area taman, baik yang ada disekitar tanaman maupun yang ada di area perkerasan.

4. Pengendalian hama dan penyakit tanaman

Pengendalian hama dan penyakit tanaman diperlukan apabila tanaman terserang hama maupun penyakit. Pengendalian hama dapat dilakukan dengan insektisida, pestisida maupun herbisida. Pengendalian hama tanaman juga dapat dilakukan dengan predator hama pengganggu (biologi). Untuk menanggulangi penyakit tanaman perlu diagnose yang tepat agar jenis obat yang digunakan dapat efektif untuk menyehatkan tanaman.

5. Penyulaman

Kegiatan penyulaman adalah penggantian tanaman yang rusak atau mati. Penggantian tanaman harus dengan jenis dan spesifikasi yang sama dengan tanaman semula.

IV.2.2. Pemeliharaan Perkerasan dan Elemen Taman

Elemen perkerasan pada taman seperti plaza, jalan setapak, jalur jogging dan perkerasan lainnya perlu dipelihara agar tetap dapat berfungsi dengan baik.

Elemen Taman lain seperti lampu taman, bangku taman, pergola, sistem penyiraman/irigasi, dan elemen lainnya perlu pemeliharaan agar tetap berfungsi dengan baik.

PEMELIHARAAN

DAN

OPERASI

V.

KEGIATAN

PENGEMBANGAN ATRIBUT KOTA HIJAU

V-1 |

HIJAU

KOTA

ATRIBUT

PENGEMBANGAN

V.1.

WORKSHOP PENGEMBANGAN ATRIBUT KOTA HIJAU

V.1.1. Ketentuan Penyelenggaraan

Kegiatan Workshop Pengembangan Atribut Kota Hijau merupakan tahapan dalam penyusunan Dokumen Desain Pengembangan Atribut Kota Hijau.

1. Peserta workshop, sekurang-kurangnya mengundang :

a) perwakilan tim swakelola

b) PPK kota/kabupaten

c) Tenaga Ahli

d) perwakilan Forum Komunitas Hijau

e) SKPD kota/kabupaten terkait;

2. Rapat koordinasi dapat mengundang narasumber, antara lain

:

a)

PMU,

b)

Tim Pendamping P2KH

 

c)

SNVT P2RKH

d)

SKPD Provinsi, dan/

e)

Praktisi/akademisi

setempat)

sesuai

dengan

agenda

terkait

3. Tempat workshop dapat diselenggarakan di ruang kantor pemerintahan, luar kantor, ataupun di taman kota.

4. Workshop dipersiapkan dan difasilitasi oleh Tim Swakelola.

V.1.2. Tahapan Penyelenggaraan

Dalam proses penyusunan Dokumen Desain Pengembangan Atribut Kota Hijau, Tim Swakelola akan melakukan minimal 3 (tiga) kali pertemuan bersama dalam format Forum Group Discussion (FGD)/workshop dengan ketentuan agenda pertemuan sebagai berikut :

1. Pertemuan 1 membahas program usulan up scalling green yang akan dipilih, disesuaikan dengan kebutuhan, potensi, dan kemampuan daerah.

Ada 3 (tiga) up scalling green yang dapat dipilih yakni green water, green waste, dan green transportation.

Tim swakelola mengundang FKH untuk membahas rencana implementasi konsep desain up scalling green tersebut.

2. Pertemuan 2 membahas pengembangan desain up scalling green yang sudah dipilih.

3. Pertemuan 3 finalisasi konsep desain up scalling green.

HIJAU

KOTA

ATRIBUT

PENGEMBANGAN

V.2.

DOKUMEN DESAIN PENGEMBANGAN ATRIBUT KOTA HIJAU (Konsep Desain Green Up-Scalling)

V.3.2. Lingkup Kegiatan

Dokumen Desain Pengembangan Atribut Kota Hijau merupakan penjabaran dari RDTR/RTRW. Dokumen desain ini disusun dengan tujuan sebagai bahan pertimbangan untuk pengajuan pembangunan fisik untuk up scalling green lainnya yang dipilih (green waste, water, atau transportation) yang akan dibantu dan dipertemukan dengan pihak yang berkaitan maupun program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

1. Lingkup Wilayah Perencanaan

Kegiatan ini dilaksanakan pada

kawasan/kecamatan pada wilayah administratif kota (city wide) atau kawasan fungsional perkotaan di kabupaten.

lingkup satu

2. Lingkup Periode Perencanaan

Dokumen Desain disusun dalam lingkup periode perancanaan 20 tahun sesuai RTRW Kota/Kabupaten

3. Lingkup Pelaksana

Dokumen Desain disusun oleh Tenaga Ahli bersama dengan Tim Swakelola dan SKPD terkait.

V.3.3. Keluaran

Materi Dokumen Desain Pengembangan Atribut Kota Hijau, mencakup :

1. Usulan