Anda di halaman 1dari 30

PARTUS LAMA

A) Pendahuluan
Persalinan yang normal (eutocia ) ialah persalinan dengan persentasi
belakang kepala yang berlangsung spontan di dalam 24 jam,tanpa
menimbulkan kerusakan yang berlebihan pada ibu dan anak. Istilah distosia
adalah persalinan yang berlangsung lama atau abnormal.Keadaan ini di
akibat kan oleh 4 faktor yang dapat berdiri sendiri atau bersama-sama,
iaitu :

1 ) kontraksi uterus yang tidak baik atau inadekuat untuk pembukaan serviks

2 )Daya memgedan selama kala II tidak cukup kuat untuk mengatasi tahanan
normal yang di timbulkan tulang-tulang dan jalan lahir bagian lunak.

3) Kelainan letak janin dan pertmbuhan janin yang tidak normal sehingga
mengakibatkan janin tidak dapat dikeluarkan oleh dorongan kontraksi
uterus

4 )Kelainan jalan lahir yang menyebabkan rintangan penurunan janin
B ) Definisi
Partus lama ( prolonged labor ) atau ada yang
menyebut sebagai partus kasep. Partus lama
adalah persalinan yang berlangsung lebih dari
24 jam pada primipara dan lebih dari 18 jam
pada multipara.
Menurut Harjono pula suatu partus lama di
sebut partus kasep apabila suatu partus
berlangsuns lebih dari batas persalinan normal
dimana kemacet terjadi pada fase terakhir dari
suatu partus sehingga timbul gejala-gejala
seperti dehiddrasi,infeksi,kelelahan ibu serta
asfiksis dan kematian janin dalam kandungan.
C) Insidensi

Sejak tahun 1970, di USA kasus yang di diagnosa sebagai distosia
akan di lakukan Sectio cesarean. Oleh kerana ini insidensi distosia
menurut NIH Consessus Development Task of Forse on Cesarean
childbirth melaporkan pada tahun kejadian kasus distosia yang di
sectio secarean pada tahun1970 sebanyak 5.5% yang meningkat 3
kali ganda pada tahun 1978 menjadi 15.2 % dan pada tahun 1984
menjadi 21.1%.Peningkatan kasus Sc akibat distosia juga
dilaporkan di Canada dan Di Europe menjelang akhir abad ke
20.Dilaporkan dari pada seluruh kasus yang di SC sebanyak 31%
dari kasus adalah kerana distosia.Dari kasus ini sebanyak 12 %
adalah kerana kelainan posisi (breech presentation ) .

Menurut penelitian di Indonesia insidensipada tahun 1998 partus
lama yang di sebabkan oleh distosia adalah 2.4 - 4.9%.
Kebanyakan insidensi ini terjadi pada persalinan primitua.
D ) klasifikasi
Kelainan kelainan ini secara mekanisme disimpulkan
oleh American College of Obstetricians and Gynecologis
(1995) menjadi 3 kategori :
Abnormalitas kerana kekuatan yang mendorong anak
keluar kurang kuat (power)
misalnya kerana kelainan his : inertia uteri atau kelemahan his
atau pun karena kekuatan mengejan yang kurang kuat karena
cicatriks baru pada dinding perut,hernia,diastase musculus
rektus abdominalis atau karena sesak.
Abnormalitas kerana kelainan letak atau kelainan anak
( passenger )
misalnya karena letak lintang,letak dahi, anak yang besar atau
pada hidrocephalus
Abnormalitas kerana kelainan jalan lahir ( passage )
misalnya karena panggul sempit,ekstosis ,tumor yang
menhalangi atau mempersempit jalan lahir
Oleh itu Kelancaran persalinan tergantung
3faktor P utama Kekuatan ibu (power),
keadaan jalan lahir (passage) dan keadaan janin
(passanger), plus faktor-faktor "P" lainnya :
psychology, physician, position Dengan adanya
keseimbangan / kesesuaian antara faktor-faktor
"P" tersebut, persalinan normal diharapkan
dapat berlangsung.
Bila ada gangguan pada satu atau lebih faktor
P ini, dapat terjadi kelambatan atau gangguan
pada jalannya persalinan.
Kelambatan atau kesulitan persalinan ini
disebut DISTOSIA.


Corakan partus yang normal
Kala I : ( kala pembukaan )
In partus di tandai dengan adanya his yang teratur dan keluarnya lendir
bercampur darah (bloddy show ). Selaput ketuban biasanya pecah
sepontan pada akhir kala I Kala pembukaan ini serkiks akibat his ini di bagi
dalam 2 f ase
I ) fase laten :
- Pembukaan terjadi sanggat lambat dan mencapai ukuran sampai
mencapai 3 cm, Berlangsung sekitar 8jam.

II ) Fase aktif :
- pembukaan dari 3 cm sampai lengkap (+ 10 cm), berlangsung sekitar 6
jam. Fase aktif terbagi atas:

1. fase akselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 3 cm sampai 4 cm.
2. fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam), pembukaan 4 cm sampai 9 cm.
3. fase deselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 9 cm sampai lengkap
(+ 10 cm).


Kala II : ( kala pengeluaran janin )
1. Bagian terbawah janin (pada persalinan normal : kepala) turun
sampai dasar panggul.

2. Ibu timbul perasaan / refleks ingin mengejan yang makin berat.

3. Perineum meregang dan anus membuka (hemoroid fisiologik)

4. Kepala dilahirkan lebih dulu, dengan suboksiput di bawah simfisis
(simfisis pubis sebagai sumbu putar / hipomoklion), selanjutnya
dilahirkan badan dan anggota badan.

5. Kemungkinan diperlukan pemotongan jaringan perineum untuk
memperbesar jalan lahir (episiotomi).

Lama kala 2 pada primigravida + 1.5 - 2 jam, multipara + 0.5-1 jam.


Kala III : ( kala pengeluaran plasenta )
Setelah bayi lahir, kontraksi uterus berhenti
sebentar dan uterus teraba keras dengan
fundus uteri di atas pusat.Beberapa menit
setelah itu uterus berkontraksi dan
plasenta terlepas dari dindingnya..seluruh
proses ini berlangsung 5-30 menit setelah
bayi lahir.
Kala IV : ( Observasi pasca persalinan )
Sampai dengan 1 jam postpartum, dilakukan observasi.

7 pokok penting yang harus diperhatikan pada kala 4 :
1)kontraksi uterus harus baik,
2) tidak ada perdarahan pervaginam atau dari alat genital
lain,
3) plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap,
4) kandung kencing harus kosong,
5) luka-luka di perineum harus dirawat dan tidak ada
hematoma,
6) resume keadaan umum bayi, dan
7) resume keadaan umum ibu.
Hati- hati dengan perdarahan postpartum !!
Lamanya persalinan pada primi dan multi
adalah :
Primi Multi
Kala I 13 jam 7 jam
Kala II 1 jam jam
Kala III jam jam
Lama
Persalinan 14 jam 7 jam

Corakan partus yang abnormal
- partus lama

Friedman (1978 ), membagikan persalinan yang
abnormal atau partus lama dengan 3 corak partus
a ) prolonged latent phase
b ) 2 protraction disorder
- protracted active phase di latation and protracted
descent)
c ) 4 arrest disorder
- prolonged deceleration phase, second arrest of
dilatation, arrest of descent,
failure of descent.
A )Prolonged latent phase
Definisi :
Menurut Friedman suatu fase laten yang
memanjang adalah 20 jam pada nullipara dan 14
jam pada multipara. Diagnosa pada pemanjangan
pada fase laten ini dibuat secara retrospektif.
Jika his semakin teratur dan pembukaan makin
bertambah lebih dari 4 cm, pasien masuk ke fase
laten. Jika his berhenti, pasien di sebut belum in
partu atau persalinan palsu.
Rata-rata durasi fase latent pada nullipara adalah
6.4 jam dan pada multipara 4.8 jam.
Etiologi :
1)Kelebihan pemberian sedatif sebelum berakhirnya fase fase latent

2)Pengunaan epidural analgesia sepelum partus memasuki fase aktif

- Pemberian anelgesi atau sedatif sebelum memasuki fase aktif
menyebabkan perpanjangan fase I dan fase II persalinan senta
melampatkan penurunan fetus kedalam jalan lahir. ( sharma and leveno
2000 )

Effect of epidural analgesia on the progress of labor in 199 nuliparous
women di hospital Parkland (Alexander and ass 1998 )
Labor Epidural
analgesia
Cervical dilatation,mean 4.1 cm
Active phase,mean 7.9hr
Second stage,mean 60 min
Fetal descent 4.2 cm/hr

3)Persalinan yang bermula dengan serviks yang belum matang - low bishop
score
4)Kelainan kontraksi uterus atau disfungsi uterus

Kelainan kontraksi uterus dibagikan menjadi 2 dapat berupa inersia uteri
hipotonik atau inersia uteri hipertonik.

Inersia uteri hipotonik

Adalah kelainan his dengan kekuatan yang lemah / tidak adekuat untuk
melakukan pembukaan serviks atau mendorong anak keluar.

Di sini kekuatan his lemah dan frekuensinya jarang.
Sering dijumpai pada penderita dengan keadaan umum kurang baik seperti
anemia, uterus yang terlalu teregang misalnya akibat hidramnion atau
kehamilan kembar atau makrosomia, grandemultipara atau primipara, serta
pada penderita dengan keadaan emosi kurang baik.

Dapat terjadi pada kala pembukaan serviks, fase latin atau fase aktif,
maupun pada kala pengeluaran.

Inersia uteri primer : terjadi pada permulaan fase laten. Sejak awal telah
terjadi his yang tidak adekuat, sehingga sering sulit untuk memastikan
apakah penderita telah memasuki keadaan in partu atau belum.

Inersia uteri sekunder : terjadi pada fase aktif kala I atau kala II.
Permulaan his baik, kemudian pada keadaan selanjutnya terdapat
gangguan / kelainan.



Inersia uteri hipertonik

Adalah kelainan his dengan kekuatan cukup besar
(kadang sampai melebihi normal) namun tidak ada
koordinasi kontraksi dari bagian atas, tengah dan bawah
uterus, sehingga tidak efisien untuk membuka serviks
dan mendorong bayi keluar. Disebut juga sebagai
incoordinate uterine action. Contoh misalnya "tetania
uteri" karena obat uterotonika yang berlebihan.

Pasien merasa kesakitan karena his yang kuat dan
berlangsung hampir terus-menerus. Pada janin dapat
terjadi hipoksia janin karena gangguan sirkulasi
uteroplasenter.

Faktor yang dapat menyebabkan kelainan ini antara lain
adalah rangsangan pada uterus, misalnya pemberian
oksitosin yang berlebihan, ketuban pecah lama dengan
disertai infeksi, dan sebagainya.

5) Fetopelvic dispropotion
Dapat berupa :
1. Kelainan bentuk panggul yang tidak
normal gynecoid, misalnya panggul jenis
Naegele, Rachitis, Scoliosis, Kyphosis, Robert
dan lain-lain.

2. Kelainan ukuran panggul. Bentuk panggul
wanita yang paling ideal untuk persalinan
adalah bentuk gynecoid (klasifikasi Caldwell -
Moloy). Variasi bentuk lain yaitu bentuk
android, antropoid, platipeloid



Ukuran rata-rata panggul wanita normal
Pintu atas panggul (pelvic inlet) :
Diameter transversa (DT) + 13.5 cm. Conjugata vera (CV) +
12.0 cm. Jumlah rata-rata kedua diameter minimal 22.0 cm.

Pintu tengah panggul (mid pelvis) :
Distansia interspinarum (DI) + 10.5 cm. Diameter anterior
posterior (AP) + 11.0 cm. Jumlah rata-rata kedua diameter
minimal 20.0 cm.
Pintu bawah panggul (pelvic outlet) :
Diameter anterior posterior (AP) + 7.5 cm. Distansia
intertuberosum + 10.5 cm. Jumlah rata-rata kedua diameter
minimal 16.0 cm.

Bila jumlah rata-rata ukuran pintu-pintu panggul tersebut
kurang, maka panggul tersebut kurang sesuai untuk proses
persalinan pervaginam spontan.


Kemacetan persalinan paling sering
terjadi pada pintu atas panggul (H-I) atau
pintu tengah panggul (sampai H-III).


Kelainan bentuk atau ukuran panggul dapat
diketahui dari anamnesis dan pemeriksaan yang
baik.
Anamnesis perlu ditanyakan riwayat penyakit
dahulu, ada/tidak penyakit rachitis, patah tulang
panggul, coxitis dan sebagainya. Pelvimetri
klinik atau radiologik harus dapat menentukan
perkiraan bentuk dan ukuran panggul dengan
baik.

Pada keadaan panggul patologik, anak dengan
berat janin di atas 2500 gram akan sulit
dilahirkan. Untuk itu dipertimbangkan sectio
cesarea.



Penanganan umum
Nilai dengan segera keadaan ibu hamil dan
janin (tanda vital dan tingkat dihiddrasi )
Nilai frekensi dan lamanya his dari partograf
Perbaiki keadaan umum ibu dengan - dukungan
emosi, perubahan posisi.
Berikan analgesia : tramadol atau petidine 25mg
IM (max 1mg/kgBB) atau morfin 10 mg IM jika
pasien merasakan nyeri yang sangat.

Penanganan khusus
Jika fase laten lebih dari 8 jam dan tidak ada tanda-tanda kemajuan,lakukan
penilaian ulang terhadap serviks :
Jika tidak ada perubahan pada pendataran atau pembukaan serviks dan tidak
ada gawat janin, mungkin pasien belum in partu.
Jika ada kemajuan dalam pendataran dan pembukaan serviks, lakukan
amniotomi dan induksi persalinan dengan oksitoksin atau prostaglandin
Penilaian serviks tergantung pada skor pelviks untuk induksi persalinan
(skor bishop )
Jika skor >6, biasanya induksi cukup dengan oksitosis 2,5 unit dalam 500cc
dekstrose atau Nacl di mulai dengan 10 tetes permenit dan di naikan 10 tetes
setiap 30 menit sehingga his adekuat. Jika < 5, matangkan serviks dengan
prastaglandin( PGE2) bentuk persarium 3mg atau gel 2-3mg di tempelkan pada
fornix posterior vagina,diulang setelah 6 jam jika his tidak timbul.
- lakukan penilaian ulang setiap 4 jam
- Jika pasien tidak masuk fase aktif setelah dilakukan pemberian oksitoksin
selama 8 jam, lakuakn seksio sesarea .
Jika terdapat tanda-tanda infeksi (demam,cairan vagina berbau )
Lakukan akselerasi persalinan dengan oksitosis
Berikan antibiotik kombinasi sampai persalinan : 2g ampisilin IV setiap 6 jam
gentamaisin 5mg/kgBB IV setiap 24 jam
Jika di lakukan SC lanjutkan AB di tambah metronindazol 500mgIV setiap 8 jam
sampai ibu bebas demam selama 48 jam.
B )protraction disorder
Perlamaan dilatasi serviks pada fase aktif dan keterlambatan
dalam penurunan fetus ke jalan lahir dinamakan sebagai
protraction disorder.Kelambatan pada fase aktif menunjukan
krateristik dilatasi serviks yang abnormal..dimana pada nulliparas
kurang dari 1.2 cm/hr dan pada multipara kurang dari 2 cm/jam.

Etiologi :

Multifaktorial:
A ) Fetopelvic disproportion- terjadi pada 1/3 pasien yang mengalami
distosia
B ) Malposisi occiput
C ) Pemberian epiduran anestesi sebelum fase aktif atau pemberian
sedasi yangBerlebih
D ) pelvik tumor yang menhalangi jalan partus myoma uteri,
Penanganan :
Jika tidak ada tanda-tanda disproporsi
sefalopelvik atau ostruksi dan ketuban masih
utuh,pecakan ketuban
Nilai his :
- Jika his tidak adekuat : kurang dari 3 his dalam
10 menit dan lamanya kurang dari 40 detik
pertimbangkan adanya inersia uteri.
- Jika his adekuat,pertimbangkan adanya
disproporsi,obstruksi malposisi atau
Panduan terapi untuk penanganan sefalopelvik,obtruksi, his yang tidak adekuat dan
pada kala II yang memanjang.( panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan
Neonatal - jakarta 2002)
c ) arrest disorder
Arrest disorder di tandai dengan 3 kareteria
berikut
I ) prlonged deceleration fase iaitu lebih dari 3
jam pada nuliparas dan lebih dari 1 jam pada
multiparas
II ) Terjadi arrest dari dilatasi iaitu tidak ada
progrestivitas pada dilatasi cerviks pada fase
aktif persalinan lebih dari 2 jam
III ) Tidak ada kemajuan dalam penurunan
kepala pada fase kedua atau pada fase
deceleration.

IV ) arrest of descent lebih atau selama
1jam
Etiologi :
Lebih kurang sebanyak 50 % dari arrest disorder yang
menyebab kan partus lama adalah akibat disorder pada
fetopelvic disproportion.

Penanganan

Adalah terbaik dengan Seksio sesare

Prognosis :
Buruk jika tidak dilakukan intervensi yang cepat dan
tepat terutamanya pada partus lama kerana akan
menyebabkan kematian bayi terutama pada pada
presentasi letak kepala dengan distosia.






TERIMA KASIH