Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS FARMASI

PERCOBAAN V
IDENTIFIKASI SEDIAAN OBAT YANG MENGANDUNG ASPIRIN,
KAFEIN DAN PARACETAMOL DENGAN METODE KROMATOGRAFI
LAPIS TIPIS (KLT)










NAMA : MUH. ZULFIKAR TAHIR
NIM : F1F1 11 014
KELAS : A
KELOMPOK : III (TIGA)
ASISTEN : AGUNG WIBAWA YODHA, S.Si



JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2013
IDENTIFIKASI SEDIAAN OBAT YANG MENGANDUNG
ASPIRIN, KAFEIN DAN PARACETAMOL DENGAN METODE
KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)

A. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengidentifikasi kandungan
aspirin, kafein dan paracetamol dalam sediaan obat.

B. Landasan Teori
Kimia analitik adalah cabang dari ilmu kimia yang mempelajari tentang
karakteristik suatu zat, meliputi analisis kuantitatif dan kualitataif. Analisis
kualitatif adalah analisis yang bertujuan untuk mengetahui senyawa-senyawa
yang terkandung dalam sampel, sedangkan analisis kuantitatif adalah analisis
yang bertujuan untuk mengetahui kadar suatu senyawa dalam sampel. Dalam
kimia analitik terdapat beberapa tahap pada proses analisis yaitu penentuan
masalah, penetapan metode, perolehan sampel, persiapan sampel untuk
analisis, pemisahan, pengukuran, perhitungan hasil, dan pelaporan. Tahapan
penetapan metode merupakan tahapan untuk menentukan banyaknya sampel,
preparasi sampel, dan metode analisis yang digunakan. Metode analisis dibagi
menjadi dua macam yaitu metode analisis konvensional dan modern. Metode
analisis modern lebih mengarah pada penggunaan instrumen. Prinsip dari
metode analisis modern dikelompokkan menjadi tiga yaitu metode
elektrokimia, metode spektrofotometri, dan metode kromatografi (Sabrina et
al, 2011).
Kromatografi merupakan teknik pemisahan tertentu, pada dasarnya
kromatografi menggunakan dua fase yaitu fase tetap (stationary) dan fase
bergerak (mobile), pemisahan tergantung pada gerakan relatif dari dua fase
ini. Dari beberapa jenis kromatografi, satu di antaranya adalah Kromatografi
Lapis Tipis (KLT), kromatografi jenis ini membutuhkan waktu yang lebih
cepat dan diperoleh pemisahan yang lebih baik (Susilo, 2005). Kromatografi
lapis tipis (KLT) dikembangkan oleh Izmailoff dan Schraiber pada tahun
1938. Pada kromatografi lapis tipis, fase diamnya berupa lapisan yang
seragam (uniform) pada permukaan bidang datar yang didukung oleh lempeng
kaca, pelat aluminium, atau pelat plastik. Meskipun demikian, kromatografi
ini dapat dikatakan sebagai bentuk terbuka dari kromatografi kolom (Mulya
dan Suherman, 1995).
KLT merupakan metode yang efisien karena senyawa bias langsung
dipisahkan bahkan dapat diketahui golongannya. Kelebihan KLT
dibandingkan metode lain adalah pemakaian pelarut dan cuplikan yang
relatif sedikit. Bila dibandingkan dengan kromatografi gas dan KCKT, KLT
menggunakan alat yang lebih sederhana dan murah (Kusumaningtyas, 2008).
KLT merupakan cara cepat dan mudah untuk melihat kemumian suatu
sampel maupun karakterisasi sampel dengan menggunakan standar. Cara
ini praktis untuk analisis skala kecil karena hanya memerlukan bahan yang
sangat sedikit dan waktu yang dibutuhkan singkat. Kemumian suatu
senyawa bisa dilihat dari jumlah bercak yang terjadi pada plat KLT atau
jumlah puncak pada kromatogram KLT. Uji kualitatif dengan KLT dapat
dilakukan dengan membandingkan waktu retensi kromatogram sampel
dengan kromatogram senyawa standar (Sri Handayani et al, 2005).
Obat yang bersifat analgesik (penahan rasa sakit/nyeri) dan antipiretik
(penurun panas/demam) adalah obat yang paling banyak dikonsumsi
masyarakat, karena obat ini dapat berkhasiat menyembuhkan demam, sakit
kepala dan rasa nyeri. Umumnya obat yang bersifat analgesik dan antipiretik
ini mengandung zat aktif yang disebut asetaminofen atau yang lebih dikenal
dengan parasetamol (Rachdiati, 2008).
Acetaminophen atau Parasetamol adalah obat analgetik dan antipiretik
yang digunakan untuk melegakan sakit kepala, sengal-sengal atau sakit ringan
dan demam. Parasetamol merupakan derivate dari asetanilida yang efek
enalgetiknnya dapat diperkuat dengan koffein dengan kira-kira 50% dan
codein. Penggunaan parasetamol dalam dosis besar dan dalam jangka waktu
yang lama dapat menyebabkan kerusakan pada hati, untuk itu parasetamol
dikontraindikasikan untuk pasien dengan gangguan fungsi hati berat
(Rusmayanti, 2011). Parasetamol merupakan obat yang aman tetapi bukan
berarti tidak berbahaya. Sejumlah besar asetaminofen akan melebihi kapasitas
kerja hati, sehingga hati tidak dapat lagi menguraikannya menjadi bahan yang
tidak berbahaya (Nasution, 2009).
Aspirin merupakan obat anti-inflamasi non-steroid yang memiliki
kemampuan menghambat biosintesis prostaglandin yang merupakan salah satu
mediator inflamasi (Vane dan Botting, 1996). Mediator inflamasi tersebut
disintesis dari asam arakidonat dalam berbagai tahap dan dikatalisis oleh
berbagai enzim dalam setiap tahapnya, antara lain glutation S-transferase
(GST) yang terlibat dalam pembentukan prostaglandin D2, E2, F2 dari
prostaglandin H (Istyastono, 2002).
Kafein (1,3,7-trimetil xantin) merupakan salah satu derivat xantin yang
mempunyai daya kerja sebagai stimulan sistem saraf pusat, stimulan otot
jantung, relaksasi otot polos dan meningkatkan diuresis, dengan tingkatan
berbeda. Efek kafein dapat meningkat apabila berinteraksi dengan beberapa
jenis obat, antara lain : obat asma (epinefrin/teofilin), pil KB, antidepresan,
antipsikotika, simetidin. Akibatnya mungkin terjadi kofeinisme disertai gejala
gelisah dan mudah terangsang, sakit kepala, tremor, pernapasan cepat dan
insomnia (Hartono, 2011).
Sediaan farmasi yang beredar di pasaran kebanyakan berupa campuran
berbagai zat berkhasiat. Campuran ini bertujuan untuk meningkatkan efek
terapi dan kemudahan dalam pemakaian. Salah satu campuran zat aktif yang
sering digunakan adalah parasetamol dan kafein yang berkhasiat sebagai
analgetik dan antipiretik. Campuran parasetamol dan kafein banyak ditemukan
dalam produk antiinfluenza dengan berbagai merek dagang. Parasetamol
merupakan metabolit fenasetin dengan efek analgetik ringan sampai sedang,
dan antipiretik yang ditimbulkan oleh gugus aminobenzen, sedangkan kafein
adalah basa lemah yang merupakan turunan xantin, memiliki gugus metil dan
berefek stimulasi susunan saraf pusat serta dapat memperkuat efek analgetik
parasetamol (Naid et al, 2011).

C. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini, yaitu:
- Bejana KLT (Chamber)
- Penyemprot
- Pipa kapiler
- Oven
- Gelas kimia
- Pipet tetes
- Pipet ukur
- Filler
- Batang pengaduk

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini, yaitu:
- Silica gel
- Kloroform
- Methanol
- Asam asetat
- Dietil eter
- Benzen
- Sampel obat (mengandung parasetamol, aspirin, dan kafein)
- Zat pembanding (parasetamol, aspirin dan kafein murni)

3. Uraian bahan
a. Kloroform (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : CHLOROFORNUM
Nama lain : Kloroform, Tricholomethan
RM/BM : CHCI
3
/ 119,38 gr/mol

Struktur :


Pemerian : Cairan mudah menguap, tidak berwarna, manis, bau
khas, membakar
Kelarutan : Larut dalam kurang lebih 200 bagian air, mudah larut
dalam etanol mutlak
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik tersumbat kaca, terlindung
cahaya
Kegunaan : Membantu proses kristalisasi

b. Methanol (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : METIL ALKOHOL
Nama Lain : Metanol, Hidroksimetana, Metil alkohol, Metil
hidrat, Alkohol kayu, Karbinol.
Berat Molekul : 32.04 g/mol
Rumus Molekul : CH
3
OH
Struktur :


Pemerian : Pada keadaan atmosfer ia berbentuk cairan yang
ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah
terbakar, dan beracun dengan bau yang khas
(berbau lebih ringan daripada etanol).
Kegunaan : sebagai bahan pendingin anti beku, pelarut, bahan
bakar dan sebagai bahan aditif bagi etanol industri.

c. Asam asetat (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : ACIDUM ACETICUM
Nama lain : Cuka
Berat molekul : 60,05 g/mol
Rumus molekul : C
2
H
4
O
2

Struktur :


Pemerian : cairan jernih; tidak berwarna, bau menusuk, rasa
asam, tajam
Kelarutan : dapat campur dengan air, dengan etanol (95%), dan
dengan gliserol.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
Khasiat : zat tambahan.

d. Dietil eter (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : DIETIL ETER
Nama lain : Dieti, eter
Rumus molekul : C
2
H
5
O
RJ : 0,714 gram 0,78 gram
Struktur :
Jarak didih : Tersuling sempurna pada suhu antara 34
0
C dan
36
0
C.

e. Benzen (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : BENZENA
Nama lain : Cyclohextriena
Rumus molekul : C
6
H
6

Berat molekul : 78,0 g/mol
Struktur :





Kelarutan : Mudah larut dalam air
Pemerian : Cairan transparant, tidak berwarna dan mudah
menyala.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan : Sebagai inti (induk) senyawa nitrobenzene.

f. Paracetamol (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : ACETAMINOPHENUM
Nama sinonim : Asetaminofen, parasetamol
Rumus molekul : C
8
H
9
NO
2

Barat molekul : 151,16 gr/mol
Struktur :


Pemerian : Hablur atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa
pahit.
Kelarutan : Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol
(95%) P, dalam 13 bagian aseton p, dalam 40
bagian gliserol p dan dan dalam 9 bagian
propilenglikol p, larut dalam larutan alkali
hidroksida
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya
K/P : Analgetikum (obat yang digunakan untuk
menghilangkan rasa nyeri tanpa menghilangkan
kesadaran), Antipiretikum (obat yang digunakan
untuk menurunkan suhu tubuh / demam).

g. Kafein (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : Kofeina, 1,3,7-trimetilxantin, 1,2,3,6 tetrahidropurine
Nama lain : Coffeinum

Struktur :



Pemerian : Serbuk atau hablur bentuk jarum mengkilat,
biasanya, biasanya menggumpal, putih tidak berbau,
rasa pahit
Kelarutan : Agak sukar larut dalam air, dan dalam etanol (95%)
P, mudah larut dalam klorofom P, sukar larut dalam
eter P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : sebagai bahan hasil isolasi

h. Asetosal (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : ACIDUM ACETYLSALICYLICUM
Nama lain : Asetosal
RM/BM : C
9
H
8
O
4
/ 180,16 gr/mol
Struktur :



Pemerian : Hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih,
tidak berbau atau hampir tidak berbau, rasa asam
Kelarutan : Agak sukar larut dalam air, mudah larut dalam
etanol 95 % P, larut dalam kloroform P dan dalam
eter P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Analgetik dan antipiretik


D. Prosedur Kerja
1. Penyiapan lempeng









2. Penyiapan pengembang








3. Penotolan sampel dan zat pembanding










3 gram silica gel
- Dimasukkan ke dalam gelas kimia
- Ditambahkan 6 ml air
- Diaduk
- Dilapiskan pada plat kaca dengan
ketebalan 0,1-0,3 mm
- Dikeringkan
- Dimasukkan ke dalam oven pada suhu
100,5
o
C selama 1 jam
Lempeng KLT
Methanol, asam asetat,
dietil eter, dan bensen
- Dimasukkan kedalam chamber
dengan perbandingan 1:18:60:120
- Ditutupkan dan digoyangkan
- Dijenuhkan
Eluen
Poldanmig
- Digerus
- Dimasukkan kedalam gelas kimia
- Dilarutkan dengan kloroform
- Ditotolkan pada lempeng KLT sebanyak
3 kali
- Dikeringkan
- Diulangi pada zat pembanding
Lempeng yang telah ditotol
4. Elusi dengan pengembang dan lokasi noda

Rf
parasetamol
= 0,12
Rf
kafein
= 0,07
Rf
asetosal
= 0,5
- Dimasukkan kedalam chamber
- Ditutup
- Dielusi
- Dikeluarkan
- Diamati noda yang terbentuk
dibawah sinar UV
- Disemprot dengan penampak noda
- Dioven
- Diamati noda yang terbentuk
- Dihitung nilai Rf

Lempeng yang telah ditotol
E. Hasil Pengamatan
1. Gambar hasil pengamatan

2. Perhitungan
Diketahui: Jarak eluen = 4 cm
Jarak Parasetamol = 0,5 cm
Jarak kafein = 0,3 cm
Jarak asetosal = 2 cm
Ditanya: Nilai Rf..?
Jawab:
Rf =



Nilai Rf
parasetamol
=


=


= 0,12
Nilai Rf
kafein
=


=


= 0,07
Nilai Rf
asetosal
=


=


= 0,5

F. Pembahasan
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan bentuk kromatografi
planar, selain kromatografi kertas dan elektroferesis. Berbeda dengan
kromatografi kolom yang mana fase diamnya diisikan atau dikemas di
dalamnya, pada kromatografi lapis tipis, fase diamnya berupa lapisan yang
seragam (uniform) pada permukaan bidang datar yang didukung oleh
lempeng kaca, pelat aluminium atau pelat plastik. Meskipun demikian,
kromatografi planar ini dapat dikatakan sebagai bentuk terbuka dari
kromatografi kolom.
Percobaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya kandungan
senyawa paracetamol, aspirin dan kafein dalam suatu sediaan obat
analgetik antipiretik. Langkah awal dari praktikum ini adalah membuat
lempeng KLT, dengan menggunakan silica gel dan air lalu dipanaskan di
oven selama 1 jam yang kemudian dilapisi pada plat kaca dengan
ketebalan 0,1-0,3 mm. Lempeng KLT ini merupakan silica yang berfungsi
sebagai fase diam yang merupakan lapisan yang memisahkan, yang terdiri
atas bahan berbutir-butir ditempatkan pada penyangga berupa pelat gelas,
logam, atau lapisan yang cocok.
Selanjutnya adalah dibuat larutan pengembang yang nantinya
berfungsi sebagai eluen. Eluen disini berfungsi sebagai fase gerak yang
merupakan medium angkut dan terdiri atas satu atau beberapa pelarut.
Campuran eluen yang digunakan pada praktikum ini terdiri dari methanol,
asam asetat, dietil eter, dan benzen dengan perbandingan 1 : 18 : 60 : 120,
dimana methanol sebanyak 0,1 ml, asam asetat 0,9 ml, dietil eter 3 ml dan
benzen 6 ml, yang kemudian ditutup dan digoyangkan, lalu dilakukan
proses penjenuhan. Eluen yang dihasilkan ini bersifat non polar.
Selanjutnya dilakukan penotolan sampel dengan zat pembanding.
Sebelumnya, sampel terlebih dahulu digerus dan dicampurkan dengan
methanol dan kloroform lalu dikocok, agar dapat terlarut sempurna.
Sedangkan zat pembanding yang digunakan adalah parasetamol, asetosal
dan kafein murni dengan perlakuan yang sama dengan sampel. Penotolan
dilakukan pada plat KLT, dengan terlebih dahulu memberikan tanda pada
plat tersebut. Penotolan harus dilakukan seteliti mungkin, agar dapat
dicapai hasil yang diinginkan.
Lempeng yang telah ditotol kemudian dimasukkan dalam chamber
dan dielusi. Setelah eluen telah mencapai puncak pada plat, plat kemudian
dimasukkan dalam oven beberapa saat, lalu dikeluarkan dan disemprotkan
penampak noda dan dilihat hasilnya di bawah sinar UV.
Setelah diamati dibawah sinar UV 254 nm, terlihat 5 noda yang
terbentuk yakni 3 noda yang menandakan senyawa pembanding
(parasetamol, asetosal dan kafein) dan 2 noda yang menandakan sampel.
Noda-noda yang menandakan sampel tersebut berada sejajar dengan noda
senyawa pembanding. Hal ini menunjukkan bahwa sampel yang
digunakan mengandung parasetamol, asetosal dan kafein. Noda kafein dan
paracetamol berada pada jarak yang dekat dengan titik penotolan pada plat
KLT. Hal ini menandakan bahwa kedua senyawa tersebut bergerak lambat,
sehingga dapat disimpulkan bahwa kafein dan paracetamol bersifat non
polar sama seperti eluen yang juga bersifat non polar. Sedangkan noda
asetosal berada jauh dari titik pentolan dan menandakan bahwa asetosal
bergerak naik pada plat KLT. Sehingga diperoleh bahwa asetosal bersifat
polar sama seperti jenis plat KLT yangh digunakan yakni silica gel. Dapat
ditarik kesimpulan bahwa metode KLT juga menggunakan prinsip like
dissolve like, dimana polar akan larut pada pelarut polar dan zat non polar
akan larut pada pelarut non polar.
Langkah terakhir adalah penentuan nilai R
f
. Nilai R
f
didapatkan
dengan mengukur perbandingan ketinggian noda yang ditinggalkan pada
plat yang disebut jarak sampel dengan jarak eluen tersebut. Nilai R
f
untuk
paracetamol adalah 0,12, nilai R
f
untuk asetosal adalah 0,5, sedangkan
nilai R
f
untuk kafein adalah 0,07.

F. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah sediaan obat
yang dipraktekkan positif mengandung paracetamol, asetosal dan kafein.
Dengan nilai R
f
paracetamol adalah 0,12, nilai R
f
asetosal adalah 0,5, dan nilai
R
f
kafein adalah 0,07.

DAFTAR PUSTAKA

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Depkes RI. Jakarta.

Handayani, S., Sunarto, dan Susila, K. 2005. Kromatografi Lapis Tipis Untuk
Penentuan Kadar Hesperidin Dalam Kulit Buah Jeruk. Jurnal Penelitian
Saintek. 10(1).

Hartono, E. 2011. Penetapan Kadar Kafein Dalam Biji Kopi Secara Kromatografi
Cair Kinerja Tinggi. Fakultas Farmasi, Universitas Setia Budi.

Istyastono, EP., Martono, S., dan Supardjan, AM. 2002. Pengaruh Aspirin Pada
Aktivitas Glutation S-Transferase Kelas Hati Tikus. Majalah Farmasi
Indonesia. 13(2).

Kusumaningtyas, E., Esti, E., dan Darmono. 2008. Sensitivitas Metode
Bioautografi Kontak dan Agar Overlay dalam Penentuan Senyawa
Antikapang. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia. 6(2).

Mulya, M., dan Suherman. 1995. Analisis Instrumen. Airlangga University Press.
Surabaya.

Naid, T., Syaharuddin, K., dan Mieke, P. 2011. Penetapan Kadar Parasetamol
Dalam Tablet Kombinasi Parasetamol Dengan Kofein Secara
Spektrofotometri Ultraviolet-Sinar Tampak. Majalah Farmasi dan
Farmakologi. 15(2).

Nasution, YA. 2009. Penetapan Kadar Kafein Dalam Biji Kopi Secara
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi.

Rachdiati, H., Ricson, PH., dan Erna, R. 2008. Penentuan Waktu Kelarutan
Parasetamol Pada Uji Disolusi. Nusa Kimia Jurnal. 8(1).

Rusmayanti. 2011 . Analisis Berbagai Merk tablet parasetamol 500mg Digunakan
di Maiduguri, Menggunakan Violet Ultra Spektrofotometri dan Kinerja
Tinggi Liquid kromatografi (HPLC). Internasional Penelitian Jurnal
Farmasi. ISSN 2230 8407

Sabrina, A., Surjani, W., dan Neena Z. 2011. Perbandingan Metode
Spektrofotometri UV-Vis dan KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi)
pada Analisis Kadar Asam Benzoat dan Kafein dalam Teh Kemasan.
Universitas Negeri Malang.

Susilo, J. 2005. Penetapan Kadar Co-Trimoksazol Yang Dilakukan Dengan
Menggunakan Spektrofotometer Ultraviolet Secara Simultan KLT. Jurnal
Litbang. Universitas Muhammadiyah Semarang.