Anda di halaman 1dari 12

PEMBUATAN SIMPLISIA

A. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan
sampel atau simplisia yang baik.

B. Landasan Teori
Saat ini meskipun obat tradisional cukup banyak digunakan oleh masyarakat
dalam usaha pengobatan sendiri (self-medication), profesi kesehatan/dokter umumnya
masih enggan untuk meresepkan ataupun menggunakannya. Hal tersebut berbeda
dengan di beberapa negara tetangga seperti Cina, Korea, dan India yang
mengintegrasikan cara dan pengobatan tradisional di dalam sistem pelayanan kesehatan
formal. Alasan utama keengganan profesi kesehatan untuk meresepkan atau
menggunakan obat tradisional karena bukti ilmiah mengenai khasiat dan keamanan obat
tradisional pada manusia masih kurang. Obat tradisional Indonesia merupakan warisan
budaya bangsa sehingga perlu digali, diteliti dan dikembangkan agar dapat digunakan
lebih luas oleh masyarakat. Definisi obat tradisional ialah bahan atau ramuan bahan yang
berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari
bahan tersebut, yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan
berdasarkan pengalaman. Obat tradisional Indonesia atau obat asli Indonesia yang lebih
dikenal dengan nama jamu, umumnya campuran obat herbal, yaitu obat yang berasal
dari tanaman. Bagian tanaman yang digunakan dapat berupa akar, batang, daun, umbi
atau mungkin juga seluruh bagian tanaman. Fitofarmaka adalah obat dari bahan alam
terutama dari alam nabati, yang khasiatnya jelas dan terbuat dari bahan baku, baik
berupa simplisia atau sediaan galenik yang telah memenuhi persyaratan minimal,
sehingga terjamin keseragaman komponen aktif, keamanan dan kegunaannya (Dewoto,
2007).
Obat tradisional telah dikenal secara turun temurun dan digunakan secara luas
oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan akan kesehatan. Pemanfaatan obat
tradisional pada umumnya lebih diutamakan sebagai upaya untuk menjaga kesehatan
(preventif), meskipun ada juga yang menggunakannya untuk pengobatan (kuratif).
Akhir-akhir ini seiring dengan semakin maraknya semangat back to nature,
penggunaan obat tradisional semakin meningkat, yang terbukti dengan semakin
banyaknya industri jamu dan industri farmasi yang memproduksi obat tradisional. Bahan
baku yang digunakan adalah bagian-bagian tanaman yang berkhasiat obat, baik berupa
daun, rimpang, akar, kulit kayu, buah, bunga, dsb. Bahan-bahan tersebut digunakan
dalam bentuk segar atau dalam bentuk kering atau simplisia. Simplisia dapat
dimanfaatkan terutama untuk pembuatan jamu serbuk, jamu jamu gendong atau jamu
ramuan pribadi yang dikonsumsi dengan cara diseduh atau direbus (Rukmi, 2009).
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum
mengalami pengolahan apapun juga kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang
dikeringkan. Simplisia dibedakan menjadi simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia
pelikan (mineral). Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh, bagian
tumbuhan atau eksudat tumbuhan (Harborne, 1987).
Simplisia merupakan hasil proses sederhana dari herba tanaman obat yang
banyak digunakan sebagai bahan baku industri obat, sementara ekstrak merupakan hasil
proses semi moderen dengan kandungan bahan aktif lebih tinggi dari bahan mentah
asalnya. Pembuatan simplisia dengan cara pengeringan dimaksudkan untuk menurunkan
kandungan air dalam bahan. Jika kadar air dalam bahan masih tinggi dapat medorong
enzim melakukan aktifitasnya mengubah kandungan kimia yang ada dalam bahan
menjadi produk lain yang mungkin tidak lagi memiliki efek farmakologi seperti senyawa
aslinya. Hal ini tidak akan terjadi jika bahan yang telah dipanen segera dikeringkan
sehingga kadar airnya rendah. Beberapa enzim perusak kandungan kimia yang telah
lama dikenal antara lain hidrolase, oksidase dan polimerase. Proses pemanasan selama
pengeringan perlu diperhatikan, karena suhu yang tidak terkontrol dapat menyebabkan
kerusakan pada bahan. Beberapa senyawa kimia yang mudah rusak karena panas
diantaranya terpenoid hidrokarbon, minyak atsiri, seskuiterpen lakton, senyawa-senyawa
yang memiliki ikatan rangkap dan lain-lain. (Mamun et al, 2006).
Simplisia sebagai produk hasil pertanian atau pengumpulan tumbuhan liar (wild
crop) tentu saja kandungan kimianya tidak dapat dijamin selalu konstan karena disadari
adanya variabel bibit, tempat tumbuh, iklim, kondisi umum dan cara panen, serta proses
pascapanen dan preparasi akhir. Dalam hal simplisia sebagai bahan baku (awal) dan
produk siap dikonsumsi langsung, dapat dipertimbangkan tiga konsep untuk menyusun
parameter standar mutu yaitu sebagai berikut : 1. Bahwa simplisia sebagai bahan
kefarmasian seharusnya mempunyai tiga parameter mutu umum suatu bahan (material),
yaitu kebenaran jenis (identifikasi), kemurnian (bebas dari kontaminasi kimia dan
biologis), serta aturan penstabilan (wadah, penyimpanan dan transportasi). 2. Bahwa
simplisia sebagai bahan dan produk konsumsi manusia sebagai obat tetapi diupayakan
memiliki tiga paradigma seperti produk kefarmasian lainnya, yaitu Quality-Safety-Efficacy
(mutu-aman-manfaat). 3. Bahwa simplisia sebagai bahan dengan kandungan kimia yang
bertanggung jawab terhadap respon biologis untuk mempunyai spesifikasi kimia, yaitu
informasi komposisi (jenis dan kadar) senyawa kandungan (Anonim, 2000).
Untuk mengetahui kebenaran dan mutu obat tradisional termasuk simplisia, maka
dilakukan analisis yang meliputi analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif
terdiri atas pengujian organoleptik, pengujian makroskopik, pengujian mikroskopik, dan
pengujian histokimia. Dasar pembuatan simplisia yaitu : a. Simplisia dibuat dengan cara
pengeringan. b. Simplisia dibuat dengan proses fermentasi. c. Simplisia dibuat dengan
proses khusus. d. Simplisia pada proses pembuatan memerlukan air (Anonim, 1985).
Penggunaan obat tradisional di Indonesia merupakan bagian penting dari warisan
kebudayaan nenek moyang, obat tradisional diharapkan dapat berperan dalam usaha
pencegahan dan pengobatan penyakit serta dapat meningkatkan taraf kesehatan
masyarakat. Tanaman yang secara empiris dipercaya oleh masyarakat mempunyai
khasiat sebagai obat tradisional adalah kayu secang (Caesalpinia sappan L.) Kayu secang
(Caesalpinia sappan L.) mempunyai banyak khasiat yang dipercaya oleh masyarakat
antara lain digunakan untuk penyakit diare, sebagai antialergi, antikoagulan, antitrombus
selain itu juga digunakan untuk batuk darah, penyakit mata dan disentri. Kandungan
secang (Caesalpinia sappan L.) yang banyak ini sangat berguna untuk pengobatan
penyakit secara tradisional, kandungannya antara lain senyawa terpenoid, fenilpropan,
alkaloid steroid, sapanin dan fenolik lain antara lain flavonoid. Batang dan daun
mengandung alkaloid, tanin, fitosterol dan zat warna brazilin serta minyak atsiri. Pada
rebusan kayu secang akan melarutkan senyawa yang terkandung dalam kayu secang
yaitu senyawa tanin dan brazilin (Kumala et al, 2009).
Kopi merupakan komoditi perekebunan andalan Indonesia, yang diusahakan oleh
perkebunan Negara, swasta maupun rakyat. Pengolahan kopi secara basah menghasilkan
limbah kulit buah, yang sering menyebabkan pencemaran lingkungan. Praktisi industry
pengolahan kopi hanya menjadikan kulit buah kopi sabagai kompos. Kulit buah kopi
banyak mengandung karbohidrat dan protein, namun adnya senyawa kafein, tannin dan
polifenol lainnya (asam kafeat dan klorogenat) memiliki efek gangguan bagi
pertumbuhan hewan bila ditambahkan dalam ransum pakan. Tannin pulp opi berkisar
1,80-8,56 persen berat kering. Kecukupan nutrisi kulit buah kopi berpotensi sebagai
media fermentasi pada produksi metabolit sekunder, seperti enzim (Giyarto, 2010).



C. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini, yaitu :
Gunting/pisau/cutter
Ayakan
Blender
Botol
Gelas Kimia
Timbangan Analitik
2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu :
Tanaman Kopi (Coffea Arabica L.)
Tanaman Secang (Caesalpinia sappan)
Tanaman Bayam merah (Amaranthus L.)
Tanaman Sup (Apium graveolen SL.)
Tanaman Jarak pagar (Jatropha curcas L)
Tanaman Kaca-kaca (Peperomia pellucida L)
Tanaman Kopi Gandu (Abelmoschus esculentus L.)
Tanaman Belimbing Hutan (Averrhoa carambola L.)
Tanaman Rosella (Hibiscus sabdatiffa L)
Tanaman Katuk (Sauropus androgunus (L) Merr.)
D. Prosedur Kerja



- Di potong menjadi bagian daun, batang dan akar
(bunga, buah dan biji jika ada)
- Di cuci bersih
- Di timbang bobot basah
- Di keringkan dengan cara diangin-anginkan dan
dijemur dibawah sinar matahari
- Di timbang bobot kering
- Dihaluskan menggunakan blender
- Diayak dengan pengayakan nomor 4/18
- Disimpan dalam wadah yang telah diberi etiket
- Diberi pelarut metanol
- Dikocok hingga pelarut menyatu dengan sampel
- Diulangi untuk tanaman kopi (Coffea Arabica L.)
Hasil pengamatan . . . . ?

Simplisia Secang
(Caesalpinia sappan)

E. Hasil Pengamatan
HASIL PENGAMATAN KELOMPOK I (SATU)
No Nama Sampel
Organoleptis Bobot
Basah
Bobot
Kering
Rendamen
Warna Bau Rasa
1. Bunga secang Merah
Bau khas
aromatik
pedas 144 gr 31,40 g 21,81%
2.
Kulit batang
secang
Putih
keabu-
abuan
Bau khas
aromatik
Pahit 647 gr 97,80 g 15,12%
3. Daun secang Hijau
Bau khas
aromatik
Pahit 603 gr 374,2 g 62,06%
4. Biji secang
Putih
keabu-
abuan
Bau khas
aromatik
Pedas 77 gr 19,03 g 24,71%
5. Akar kopi Coklat
Bau khas
aromatik
Pahit 91 gr 44,74 g 49,17%
6. Kulit batang kopi
Putih-
kecoklatan
Bau khas
aromatik
Pahit 59 gr 32,24 g 54,64%
7. Daun kopi Hijau
Bau khas
aromatik
Pahit 605 gr 150,25 g 24,84%

Foto Tanaman Foto Simplisia
LABORATORIUM FITOKIMIA
JURUSAN FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
Nama Tanaman : kulit batang secang
Nama Daerah : Laano secang
Nama Latin : Caesalpinia sappan
cortex

LABORATORIUMFITOKIMIA
JURUSAN FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO














Nama Tanaman : secang
Nama Daerah : Sepang
Nama Latin : Caesalpinia sappan L.


Foto Simplisia Foto simplisia





















LABORATORIUM FITOKIMIA
JURUSAN FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
LABORATORIUM FITOKIMIA
JURUSAN FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO















Nama Tanaman : Daun secang
Nama Daerah : Roono secang
Nama Latin : Caesalpinia sappan
folium
Nama Tanaman : biji secang
Nama Daerah : wuano secang
Nama Latin : Caesalpinia sappan
semen

LABORATORIUM FITOKIMIA
JURUSAN FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO









Nama Tanaman : bunga secang
Nama Daerah : kambano secang
Nama Latin : Caesalpinia sappan
flos
Foto Tanaman Foto Simplisia
LABORATORIUM FITOKIMIA
JURUSAN FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO



Nama Tanaman : Daun kopi
Nama Daerah : Roono kopi
Nama Latin : Coffea arabica folium

Foto Simplisia Foto Simplisia
LABORATORIUM FITOKIMIA
JURUSAN FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO


Nama Tanaman : Kulit batang kopi
Nama Daerah : Laano Kopi
Nama Latin : Coffea arabica cortex




LABORATORIUM FITOKIMIA
JURUSAN FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO


Nama Tanaman : Kopi
Nama Daerah : Kopi Hitam
Nama Latin : Coffea arabica L.
LABORATORIUM FITOKIMIA
JURUSAN FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO





Nama Tanaman : Akar Kopi
Nama Daerah : Parakano Kopi
Nama Latin : Coffea arabica cortex
F. Pembahasan
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat tradisional yang
belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain merupakan
bahan yang dikeringkan. Sampel yang hendak dibuat dalam bentuk simplisia pada
praktikum ini adalah tanaman kopi, secang, sup, bayam merah, katuk, belimbing hutan,
jarak pagar, kapi gandu, rosella dan kaca-kaca. Pembuatan simplisia pada praktikum ini
dibagi menjadi 5 kelompok dan masing-masing kelompok memperoleh dua tanaman.
Kelompok 1 membuat simplisia dari tanaman kopi dan tanaman secang.
Tanaman kopi (Coffea robusta) merupakan salah satu komoditi unggulan
Indonesia karena aroma dan rasanya banyak diminati oleh para pecinta kopi di berbagai
belahan dunia. Kopi mengandung kafein antara 1-1,5%, yaitu merupakan senyawa kimia
alkaloid dikenal sebagai trimetilsantin dengan rumus molekul C
8
H
10
N
4
O
2
. Manfaat kopi
bagi kesehatan tubuh manusia, diantaranya kopi mampu memacu otak untuk berpikir
positif, mencegah stroke, menghambat penurunan fungsi kognitif, menurunkan risiko
terkena penyakit kanker, diabetes, dan berbagai penyakit jantung (kardiovaskuler), serta
mengatasi perubahan suasana hati dan depresi. Sedangan tanaman
Secang atau sepang (Caesalpinia sappan L.) adalah pohon anggota suku polong-
polongan (Fabaceae) yang dimanfaatkan pepagan (kulit kayu) dan kayunya sebagai
komoditi perdagangan rempah-rempah. Kandungan kimia secang adalah Asam galat,
tanin, resin, resorsin, brasilin, brasilein, d-alfa-phellandrene, oscimene, dan minyak atsiri.
Beberapa manfaat tanaman ini yaitu dapat menghentikan perdarahan, pembersih darah,
pengelat, penawar racun dan antiseptik.
Pembuatan simplisia diawali dengan pengumpulan bagian-bagian sampel yakni
akar, batang, daun, dan jikalau ada biji, bunga dan buah. Kemudian bagian tanaman
tersebut dirajang menjadi bagian-bagian kecil untuk mempermudah proses pengeringan.
Pada saat sebelum dan setelah proses pengeringan, dilakukan penimbangan sampel
untuk memperoleh bobot basah serta bobot kering sampel yang berguna untuk
menentukan Rendamen atau kadar air yang berkurang setelah proses pengeringan.
Setelah dilakukan percobaan, maka diperoleh data rendamen yaitu bunga secang
21,81%, kulit batang secang 15,12%, daun secang 62,06%, biji secang 24,71%, akar
kopi 49,17%, batang kopi 54,64% dan daun kopi 24,84%. Data tersebut menunjukkan
bahwa kadar air yang berkurang dari dalam sampel setelah pengeringan rata-rata
melebihi setengah dari bobot kering sampel tersebut.

Langkah selanjutnya adalah memotong sampel tersebut menjadi serbuk atau
partikel kecil sehingga dapat di uji organoleptis dan di ekstraksi secara maserasi. Uji
organoleptis yang diamati yaitu warna, rasa dan bau. Warna bunga secang adalah
merah, daun secang berwarna hijau, sedangkan batang dan bijinya berwarna putih
keabu-abuan. Untuk kopi, daunnya berwarna hijau, batang berwarna putih kecoklatan,
dan akarnya berwarna coklat. Pada uji rasa, bunga dan biji secang berasa pedas,
sedangkan bagian yang lain terasa pahit. Begitu pun dengan kopi, semua bagiaannya
terasa pahit. Terakhir yaitu uji bau, semua bagian tanaman secang dan tanaman kopi
mengeluarkan bau khas aromatik.
Setelah diperoleh serbuk masing-masing simplisia, maka dilakukan ekstrakasi
maserasi. Maserasi merupakan sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi
bahan nabati yaitu direndam menggunakan pelarut bukan air (pelarut nonpolar) atau
setengah air, misalnya etanol encer, selama periode waktu tertentu sesuai dengan
aturan dalam buku resmi kefarmasian. Dalam percobaan ini digunakan pelarut methanol.
Langkah kerjanya adalah merendam simplisia dalam suatu wadah menggunakan pelarut
penyari tertentuk selama beberapa hari sambil sesekali diaduk, lalu disaring dan diambil
beningannya. Selama ini dikenal ada beberapa cara untuk mengekstraksi zat aktif dari
suatu tanaman ataupun hewan menggunakan pelarut yang cocok. Pelarut-pelarut
tersebut ada yang bersifat bisa campur air (contohnya air sendiri, disebut pelarut polar)
ada juga pelarut yang bersifat tidak campur air (contohnya aseton, etil asetat, disebut
pelarut non polar atau pelarut organik). Metode Maserasi umumnya menggunakan
pelarut non air atau pelarut non-polar. Teorinya, ketika simplisia yang akan di maserasi
direndam dalam pelarut yang dipilih, maka ketika direndam, cairan penyari akan
menembus dinding sel dan masuk ke dalam sel yang penuh dengan zat aktif dan karena
ada pertemuan antara zat aktif dan penyari itu terjadi proses pelarutan (zat aktifnya larut
dalam penyari) sehingga penyari yang masuk ke dalam sel tersebut akhirnya akan
mengandung zat aktif, katakan 100%, sementara penyari yang berada di luar sel belum
terisi zat aktif (nol%) akibat adanya perbedaan konsentrasi zat aktif di dalam dan di luar
sel ini akan muncul gaya difusi, larutan yang terpekat akan didesak menuju keluar
berusaha mencapai keseimbangan konsentrasi antara zat aktif di dalam dan di luar sel.
Proses keseimbangan ini akan berhenti, setelah terjadi keseimbangan konsentrasi atau
disebut dengan jenuh.
G. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah cara pembuatan
simplisia yang baik adalah pengumpulan bahan baku, sortasi basah, pencucian,
perajangan, pengeringan, sortasi kering, pengepakan dan penyimpanan, dan
pemeriksaan mutu.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1985. Cara Pembuatan Simplisia. Depkes RI. Jakarta.

Anonim. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Depkes RI. Jakarta.

Dewoto, Hedi R. 2007. Pengembangan Obat tradisional Indonesia Menhadi Fitofarmaka.
Majalah Kedokteran Indonesia. Vol. 57 (7).

Giyarto. 2010. Produksi Tannase Menggunakan Aspergillus niger Dalam Media Limbah Buah
Kopi. Agrotek. Vol 4 (1).

Harborne. J.B. 1987. Metode Fitokimia. ITB Press. Bandung.

Kumala, S., Yuliani, Didik, T. 2009. Pengaruh Pemberian Rebusan Kayu Secang (Caesalpinia
sappan L.) Terhadap Mencit Yang Diinfeksi Bakteri Escherichia coli. Jurnal Farmasi
Indonesia. Vol. 4 (4).

Mamun, S.S., F. Manoi, B.S Sembiring, Triatianingsih, M. Sukmasari, A. Gani, Titjah F., D.
Kustiwa. 2006. Teknik Pembuatan Simplisia Dan Ekstrak Purwoceng. Laporan
Pelaksanaan Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik Tahun 2006.

Rukmi, Isworo. 2009. Keanekaragaman Aspergillus Pada Berbagai Simplisia Jamu
Tradisional. Jurnal Sain & Matematika. Vol. 17 (2).