Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS FARMASI

PERCOBAAN I
PENENTUAN KANDUNGAN ALKALOID KAFEIN DALAM
DAUN TEH SECARA EKSTRAKSI PELARUT








OLEH :
NAMA : MUH. ZULFIKAR TAHIR
NIM : F1F1 11 014
KELAS : FARMASI A
KELOMPOK : III (TIGA)
ASISTEN : ISMAYANI ARIFIN


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2013




PENENTUAN KANDUNGAN ALKALOID KAFEIN DALAM
DAUN TEH SECARA EKSTRAKSI PELARUT

A. TUJUAN
Untuk mengetahui penentuan kandungan alkaloid kafein dalam daun teh
secara ekstraksi pelarut.

B. LANDASAN TEORI
Ekstraksi merupakan salah satu teknik analisis yang bertujuan untuk
memisahkan berbagai senyawa dalam sampel berdasarkan kepolarannya
(Nurhayati dkk, 2004). Ekstraksi dilakukan karena beberapa faktor seperti jika
distilasi tidak dapat dilakukan atau terlalu mahal, jika diinginkan mengisolasi
bahan untuk karakterisasi, atau memurnikan senyawa untuk proses selanjutnya.
Secaragaris besar, proses pemisahan secara ekstraksi tersiri atas 3 langkah
dasar yaitu 1) penambahan sejumlah massa solven untuk dikontakkan dengan
sampel, 2) solute akan terpisah dari sampel dan larut oleh solven membentuk
fase ekstrak, 3) Pemisahan fase ekstrak dengan sampel (Majid dan Nurkholis,
2008).
Ekstraksi pelarut atau ekstraksi air merupakan metode pemisahan yang
paling baik dan populer. Alasan utamanya adalah bahwa pemisahan ini dapat
dilakukan baik dalam tingkat makro maupun mikro. Prinsip metode ini
didasarkan pada distribusi zat terlarut dengan perbandingan tertentu antara dua
pelarut yang tidak saling bercampur, seperti benzena, karbon titraklorida atau
kloroform. Batasannya adalah zat terlarut dapat ditransfer pada jumlah yang
berbeda dalam kedua fase pelarut. Teknik ini dapat dipergunakan untuk hal
preparative, pemurnian, memperkaya pemisahan serta analisis pada semua
skala kerja (Khopkar, 1990).
Ekstraksi dengan pelarut organik lebih efektif dan dapat dilakukan secara
perkolasi, soxhletasi dan maserasi (Cakrawati, 2005). Maserasi merupakan
metode ekstraksi dengan cara perendaman tanpa melibatkan panas. Maserasi
memiliki beberapa keuntungan, diantaranya yaitu cara kerja dan alat yang
digunakan cukup sederhana dan cocok untuk senyawa yang tidak tahan panas
(Purwantini dkk, 2007).
Metabolit sekunder adalah senyawa-senyawa hasil biosintetik turunan dari
metabolit primer yang umumnya diproduksi oleh organisme yang berguna
untuk pertahanan diri dari lingkungan maupun dari serangan organisme lain.
(Murniasih, 2003). Metabolit sekunder mempunyai hasil lebih kompleks
dibandingkan dengan metabolit primer. Metabolit sekunder juga sikenal
sebagai hasil alamiah metabolisme. Metabolisme sekunder biasanya tidak
untuk semua sel secar keseluruhan tetapi hanya untuk beberapa sel tertentu.
Menurut biosintesisnya metabolit sekunder dapat terbagi atas terpenoid
(triterpenoid, steroid, dan saponin), senyawa fenol (falvonoid dan tanin), dan
alkaloid (Simbala, 2009).
Alkaloid merupakan golongan terbesar senyawa metabolit sekunder pada
tumbuhan. Telah diketahui, sekitar 5.500 senyawa alkaloid yang tersebar di
berbagai famili. Alkaloid merupakan senyawa kimia bersifat basa yang
mrngandung satu atau lebih atom nitrogen, umumnya tidak berwarna, dan
berwarna jika mempunyai struktur kompleks dan bercincin aromatic. Alkaloid
seringkali beracun bagi manusia dan banyak mempunyai kegiatan fisiologis
yang menonjol sehingga banyak digunakan dalam pengobatan (Harbone,
1987).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terdahulu, senyawa yang
berperanan sebagai obat dalam tumbuhan adalah senyawa alkaloid. Dalam
praktek medis kebanyakan alkaloid mempunyai nilai tersendiri, disebabkan
oleh sifat farmakologi dan kegiatan fisiologinya yang menonjol sehingga
dipergunakan luas dalam bidang pengobatan. Manfaat alkaloid dalam bidang
kesehatan antara lain adalah untuk memacu sistem saraf, menaikkan atau
menurunkan tekanan darah dan melawan infeksi mikrobia. Metoda klasifikasi
alkaloid yang paling banyak digunakan adalah berdasarkan struktur nitrogen
yang dikandungnya, yaitu: 1) Alkaloid heterosiklis, merupakan alkaloid yang
atom nitrogennya berada dalam cincin heterosiklis. Alkaloid ini dibagi
menjadi: alkaloid pirolidin, alkaloid indol, alkaloid piperidin, alkaloid piridin,
alkaloid tropan, alkaloid histamin, imidazol dan guanidin, alkaloid isokuinolin,
alkaloid kuinolin, alkaloid akridin, alkaloid kuinazolin, alkaloid izidin. 2)
Alkaloid dengan nitrogen eksosiklis dan amina alifatis, seperti efedrina. 3)
Alkaloid putressin, spermin dan spermidin, misalnya pausina. 4) Alkaloid
peptida merupakan alkaloid yang mengandung ikatan peptida. 5) Alkaloid
terpena dan steroidal, contohnya funtumina (Widi dan Titin, 2007).
Tanaman merupakan salah satu sumber daya yang penting dalam upaya
pengobatan dan upaya mempertahankan kesehatan masyarakat. Bahkan sampai
saat ini pun menurut perkiraan badan kesehatan dunia (WHO), 80% penduduk
dunia masih menggantungkan dirinya pada pengobatan tradisional termasuk
penggunaan obat yang berasal dari tanaman. Salah satu bahan yang sedang
dikembangkan adalah teh. Teh sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia
sebagai bahan minuman sehari-hari (Santoso et al, 2013). Zat aktif yang
membuat kopi dan teh bernilai oleh manusia adalah kafein. Kafein adalah
alkaloid, satu khas dari senyawa yang terjadi di alam yang mengandung
nitrogen dan mempunyai sifat basa amina organik. Di dalam daun teh juga
terdapat kafein, dimana kandungan kafein dalam daun teh sekitar 2%-5%.
Kafein adalah salah satu jenis alkaloid yang banyak terdapat di daun teh
(Camelia sinensis), biji kopi, (Coffea arabica), dan biji coklat (Theobroma
cacao) (Dewi, 2008). Kafein bekerja dengan menstimulasi SSP (sistem saraf
pusat), dengan efek menghilangkan rasa letih, lapar dan mengantuk.
Kafein dapat meningkatkan daya konsentrasi dan kecepatan reaksi serta
prestasi otak dan suasana jiwa diperbaiki. Kafein juga dapat memperkuat daya
konstraksi dari jantung, vasodilatasi perifer dan diuretis (Tjay dan Rahardja,
2007).
Kafein (1,3,7-Trimethylxanthine) adalah kerabat mehylxantin yang secara
luas tersebar di banyak jenis tumbuhan. Kafein juga dimanfaatkan manusia
sebagai produk makanan dan minuman seperti teh, kopi dan coklat. Dalam
bidang farmasi, kafein biasanya digunakan untuk pengobatan jantung,
stimulant pernapasan dan juga sebagai peluruh kencing (Yu et al, 2009).
C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
Alat soklet / maserasi
Corong pisah
Labu takar
Gelas kimia
Erlenmeyer
Corong pisah
Buret
Pipet volum
Penangas air
Oven
Timbangan
2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah
Larutan baku NaOH 0,2 N
Larutan baku H2SO4
Amonium hidroksida conc.
Amonia 10%
Larutan baku H2SO4 0,5 N Etanol 95%
Dietil eter
Kloroform
Indikator metil red
Akuades
3. Uraian Bahan
Asam sulfat (FI Ed. III, hal 58)
Nama resmi : ACIDUM SULFURICUM
Nama lain : Asam sulfat
BM : 98,07
Rumus melokul : H
2
SO
4

Pemerian : Cairan kental seperti minyak, korosif, tidak berwarna,
jika ditambahkan kedalam air menimbulkan panas.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
K/P : Sebagai pemberi suasana basa pada pembuatan
iodoform dan dapat melembutkan kulit.

Natrium Hidrokida (FI Ed. III, hal.412)
Nama resmi : NATRII HYDROXYDUM
Nama lain : Natrium hidroksida
Rumus molekul : NaOH
Pemerian : Bentuk batang, butiran, massa hablur, atau keping,
kering, keras rapuh, dan menunjukkan susunan hablur,
puti mudah meleleh basa, sangat alkalis dan korosif,
segera menyerap karbondioksida
Kelarutan : sangat mudah larut dalam air dan etanol (95%)P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
K/P : Zat tambahan

Amonia (Dirjen POM,1979)
Nama resmi : AMMONIA
Nama lain : Amonia
RM/BM : NH
3
/17,05 gr/mol
Pemerian : Cairan jernih ,tidak berwarna ,bau khas menusuk kuat
Kelarutan : Mudah larut dalam air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat di tempat sejuk
Kegunaan : Sebagai pereaksi tollens

Amonium hidroksida (Dirjen POM, 1979:86)
Nama resmi : AMMONIA HYDROXYDUM
Nama lain : Amonia hidroksida
Rumus Molekul : NH
4
OH
Berat Molekul : 35,05 gr/mol
Pemerian : cairan jernih, tidak berwarna, bau khas,menusuk kuat
Kelarutan : Mudah larut dalam air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, di tempat sejuk
K/P : zat tambahan

Etanol (Dirjen POM, 1979: 65)
Nama resmi : AETHANOLUM
Nama lain : Etanol, alcohol
Rumus Molekul : C
2
H
5
OH
Berat Molekul : 46,07
Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap, dan
mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah terbakar
dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform p, dan
dalam eter p
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, di
tempat sejuk, jauh nyala api
K/P : Zat tambahan

Eter (Dirjen POM, 1979 : 66)
Nama Resmi : AETHER ANASTHETICUS
Nama Lain : Eter anastesi, efoksierana
RM : C
4
H
10
O
BM : 74,12
Pemerian : Cairan transparan, tidak berwarna, bau khas, rasa manis
atau membakar, sangat mudah terbakar.
Kelarutan : Larut dalam 10 bagian air, dapat bercampur dengan
etanol (95%) P dengan kloroform P, minyak lemak, dan
minyak atsiri.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
K/P : Anastesi umum.

Kloroform (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : CHLOROFORM
Nama lain : Kloroform
RM / BM : CHCl3 / 119,38
Pemerian : Cairan tidak berwarna, mudah menguap, bau khas, rasa
manis dan membakar
Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 200 bagian air, mudah larut
dalam etanol mutlak P, dalam eter P, dalam sebagian
besar pelarut organik, dalam minyak atsiri dan dalam
minyak lemak.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Akuades (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : AQUA DESTILLATA
Nama lain : Air suling
BM : 18,02
Rumus molekul : H2O
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwrna, tidak berasa, dan tidak
berbau
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai pelarut


Klasifikasi Teh
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Sub Kelas : Dialypetalae
Ordo : Clusiales
Familia : Theaceae
Genus : Camellia
Spesies : Camellia sinensis




















D. PROSEDUR KERJA
















Daun Teh
Fase air
Maserat
Serbuk daun teh
- Dikeringkan
- Dihaluskan

- Ditimbang 10 gram
- Dimasukkan dalam gelas kimia
- Ditambahkan 40 ml amonium hidroklorida, 50 ml
etanol dan 100 ml eter
- Dicampur dengan baik
- Dimaserasi selama 24 jam

- Disaring
- Diambil ekstrak
- Dimasukkan dalam corong pisah
- Ditambahkan 20 ml H
2
SO
4
0,5 N
- Dikocok
- Dibiarkan hingga terbentuk dua lapisan
- Diambil lapisan bawah
- Diekstraksi kembali dengan 20 ml H
2
SO
4
0.5 N
- Diulangi 3 kali













Sari kloroform
Fase air
- Dimasukkan dalam corong pisah
- Ditambahkan ammonia 10 % hingga alkalis
- Ditambahkan 20 ml kloroform
- Dikocok
- Diulangi sebanyak 3 kali
- Dimasukkan dalam gelas kimia
- Dipanaskan dalam waterbath pada suhu
70
o
C hingga kering
- Diambil residu
- Ditmbahkan beberapa mililiter kloroform
- Ditambahkan 15 ml larutan H
2
SO
4

- Ditambahkan indikator Metilen Red
- Dititrasi dengan larutan baku NaOH 0.2 N
- Diamati perubahan warna yang terjadi
- Dihitung kadar kafein dalam daun teh

Vol. NaOH = 1,2 ml
E. HASIL PENGAMATAN
No. Perlakuan Hasil
1. Serbuk kasar daun teh 10 gram + 40 ml
amonium hidroklorida, 50 ml etanol dan
100 ml eter, dimaserasi 24 jam, disaring.
Ekstrak daun teh
2. Ekstrak daun teh dalam corong pisah + 20
ml H
2
SO
4
0.5 N, dikocok, diambil lapisan
bawah, diulangi 3X.
Fasa air
3. Fasa air dalam corong pisah + ammonia
10% + 20 ml kloroform, dikocok.
Sari kloroform
4. Sari kloroform dalam gelas kimia,
dipanaskan hingga kering, diambil residu
+ kloroform + 15 ml larutan H
2
SO
4
+
indikator metilen red + dititrasi dengan
NaOH 0,2 N, dihitung kadar kafein.
4,8 %

Data pengamatan:
V
NaOH
: 1,2 ml
N
NaOH
: 0,2 N
BE kafein : 2
Berat sampel daun teh:




=


= 4,8 %
F. PEMBAHASAN
Tumbuhan menghasilkan dua jenis metabolit yaitu metabolitg primer
dan metabolit sekunder. Metabolit Primer merupakan suatu senyawa essensial
yang terdapat dalam organisme dan tumbuhan, yang berperan dalam proses
semua kehidupan atau merupakan kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup
bagi organisme / tumbuhan tersebut. Sedangkan metabolit sekunder adalah
senyawa metabolit yang tidak esensial bagi pertumbuhan organisme dan
ditemukan dalam bentuk yang unik atau berbeda-beda antara spesies yang satu
dan lainnya. Setiap organisme biasanya menghasilkan senyawa metabolit
sekunder yang berbeda-beda, bahkan senyawa ini juga tidak selalu dihasilkan,
tetapi hanya pada saat dibutuhkan saja atau pada fase-fase tertentu. Metabolit
sekunder mempunyai hasil lebih kompleks dibandingkan dengan metabolit
primer. Metabolit sekunder juga sikenal sebagai hasil alamiah metabolisme.
Fungsi metabolit sekunder adalah untuk mempertahankan diri dari kondisi
lingkungan yang kurang menguntungkan.
Salah satu senyawa metabolit sekunder adalah senyawa alkaloid.
Alkaloid merupakan senyawa kimia bersifat basa yang mrngandung satu atau
lebih atom nitrogen, umumnya tidak berwarna, dan berwarna jika mempunyai
struktur kompleks dan bercincin aromatic. Alkaloid seringkali beracun bagi
manusia dan banyak mempunyai kegiatan fisiologis yang menonjol sehingga
banyak digunakan dalam pengobatan. Reaksi yang khas yang terlibat dalam
biosintesis berbagai kelas alkaloid yaitu sintesis basa Schiff dan reaksi
Mannich.
Sintesis basa Schiff dilakukan dengan mereaksikan amina dengan
keton atau aldehida.





Reaksi Mannich. Komponen integral dari reaksi Mannich, selain amina
dan karbonil senyawa, adalah carbanion, yang memainkan peran Nukleofil
dalam penambahan nukleofilik pada ion yang terbentuk oleh reaksi amina dan
karbonil.





Kafein adalah senyawa golongan alkaloid yang mengandung nitrogen
dan mempunyai sifat basa amina organik. Kafein (1,3,7-Trimethylxanthine)
dan mehylxantin secara luas tersebar di banyak jenis tumbuhan. Kafein
merupakan senyawa alkaloida turunan xantine (basa purin) yang berwujud
kristal berwarna putih. Kafein dapat disintesis dari dimetilurea dan asam
malonat. Kafein dalam tanaman disintesis dari xanthosin melalui 3 tahap N-
metilasi, dimana tahap metilasi ini dibantu oleh aktivitas enzim yaitu enzim
metal transferase. Biosintesis kafein sebagai berikut :













Kafein pada tanaman diproduksi sebagai pestisida alami untuk pertahanan
diri terhadap serangga yang memakan tanaman tersebut. Tanaman yang
mengandung kadar kafein tinggi antara lain kopi (Coffea arabica), teh
(Camellia sinensis), coklat (Theobroma cacao) dan kola (Cola acuminata).
Efek farmakologi kafein adalah stimulan dari sistem saraf pusat dan
metabolisme. Kafein bersifat psikoaktif, bekerja dengan menstimulasi SSP
(sistem saraf pusat), dengan efek menghilangkan rasa letih, lapar dan
mengantuk. Kafein dapat meningkatkan daya konsentrasi dan kecepatan reaksi
serta prestasi otak dan memperbaiki suasana jiwa. Kafein juga dapat
memperkuat daya konstraksi dari jantung, vasodilatasi perifer dan diuretis.
Beberapa manfaat kafein yang telah diaplikasikan yaitu sebagai produk
makanan dan minuman seperti teh, kopi dan coklat. Dalam bidang farmasi,
kafein biasanya digunakan untuk pengobatan jantung, stimulant pernapasan
dan juga sebagai peluruh kencing.
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan kadungan kafein di dalam
sampel berupa daun teh. Di dalam daun teh terdapat kandungan kafein sebesar
2%-5%. Sebelum dilakukan ekstraksi pelarut pada daun teh, terlebih dahulu
daun teh dikeringkan. Fungsi pengeringan daun teh yaitu untuk mengurangi
kadar air yang dikandung didalamnya dan mengurangi reaksi enzimatis agar
tidak ditumbuhi mikroba seperti bakteri dan jamur serta mengecilkan ukuran
partikel agar luas permukaannya semakin besar.
Selanjutnya dilakukan maserasi pada sampel. Maserasi dilakukan selama
24 jam untuk memaksimalkan perendamannya agar senyawa-senyawa yang
ditarik lebih maksimal. Maserasi dilakukan dengan multikomponen pelarut,
yaitu ammonium hidroklorida + etanol- eter. Pada dasarnya maserasi berfungsi
menarik senyawa-senyawa yang terkandung dalam sampel dan dalam tanaman
ada yang bersifat polar, semipolar hingga nonpolar, sehingga digunakan 3
macam pelarut dengan tingkat kepolaran berbeda untuk menarik senyawa-
senyawa tersebut. Pada maserasi digunakan dua kali volume pelarut agar
komponen-komponen senyawa yang ditarik menjadi lebih besar.
Setelah didapatkan maseratnya, maserat ini diektraksi lagi dengan eter
selama 3 jam. Eter berfungsi untuk menarik senyawa-senyawa alkaloid, karena
kafein senyawa yang tidak larut air tetapi dalam air mendidih sehingga akan
larut dalam eter. Setelah ekstraksi, kemudian akan terpisah menjadi fase atas
dan fase bawah. Fase bawah adalah eter yang diambil kembali lalu diekstraksi
lagi dengan H
2
SO
4.
H
2
SO
4
berfungsi untuk mengikat alkaloid dan merubahnya
menjadi garam alkaloid. Lalu terpisah lagi menjadi fase H
2
SO
4
+ eter dengan
fase air. Terjadinya fase air disini karena pada saat pengenceran H
2
SO
4
menggunakan air, sehingga senyawa H
2
SO
4
dan eter akan bergabung dan fase
air terpisah. Di dalam fase air terdapat alkaloid, sehingga fase yang diambil
adalah fase air. Pengenceran lalu dilakukan sebanyak 3 kali untuk
memaksimalkan senyawa alkaloid. Fase air lalu dimasukkan ke dalam corong
pisah dan ditambahkan amoniak 10 % sampai bereaksi alkali. Fungsi amoniak
disini untuk mengendapkan kafein. Kemudian ditambahkan senyawa kloroform
untuk dapat melarutkan kafein. Amoniak (NH
3
) bereaksi dengan H
+
dan
menariknya lalu bersatu dan larut dalam kafein. Amonia lalu terpisah dengan
fase lainnya. Diambil fase kloroform yang didalamnya terdapat alkaloid, lalu
diuapkan dengan pelarut kloroform untuk menghilangkan pelarutnya sehingga
terpisah senyawa dengan pelarutnya. Residu lalu dilarutkan dengan beberapa
tetes kloroform dengan larutan baku H
2
SO
4
untuk melarutkan alkaloidnya.
Kemudian dipanaskan lagi untuk memisahkan kloroform dengan alkaloid, lalu
dititrasi dengan indicator metil red, dititrasi dengan kelebihan asam lalu
dititrasi dengan NaOH lalu didapatkan volumenya sebesar 1.2. Kadar kafein
lalu dapat ditetapkan.
Kadar kafein dalam daun teh yang diperoleh yaitu sebesar 4,8 %. Pada
sebuah jurnal, diketahui kandungan kafein yang seharusnya ada dalam daun teh
adalah berkisar antara 2%-5%. Hal ini menunjukkan bahwa daun teh yang
digunakan mengandung senyawa kafein.






G. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kadar
kafein dalam daun teh adalah sebesar 4,8 %.
DAFTAR PUSTAKA

Cakrawati, D. 2005. Pengaruh Pra Fermentasi dan Suhu Maserasi Terhadap
Beberapa Sifat Fisikokimia Minyak Kasar Kluwak. Universitas Padjajaran.
Surabaya.

Dewi, Mainora Rahayu. 2008. Penentuan Kandungan Kafein Pada Daun The
(Camellia sinensis). Tesis. Universitas Andalas

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan RI.
Jakarta.

Majid, NT. dan Nurkholis. 2008. Pembuatan The Rendah Kafein Melalui Proses
Ekstraksi Dengan Pelarut Etil Asetat. Makalah Penelitian. Universitas
Diponegoro.

Murniasih, tutik.. 2003. Metabolit Sekunder Dari Spons Sebagai Bahan Obat-
Obatan. Oseana,Vol. 28 (3).

Nurhayati, Y., Gebi D., Iqbal M. 2004. Pemisahan dan Pemurnian Senyawa
Metabolit Sekunder Turunan Flavonoid dari Kulit Batang Ficus virens Ait.
(Moraceae). Seminar Nasional dan Penelitian dan Pendidikan Kimia.
Bandung.

Purwantini, I., Rima M., Naniek D. 2007. Kombinasi Daun Teh dan Mangkokan
Sebagai Penumbuh Rambut. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Santoso, S., Miftakhul, C. dan Satria, AP. 2013. Efektivitas Ekstrak Daun Teh
Hijau (Camellia Sinensis) Dalam Menghambat Pertumbuhan Candida
Albicans Secara In Vitro. Jurnal Penelitian.

Simbala, Herny E. I. 2009. Analisis Senyawa Alkaloid Beberapa Jenis
Tumbuhan Obat Sebagai Bahan Aktif Fitofarmaka. Journal. Vol. 1(14).

Tjay, T. H. dan Rahardja, K. 2007. Obat-Obat Penting Edisi VI. Elex Media
Komputindo. Jakarta.

Widi, RK. dan Titin, I. 2007. Penjaringan dan Identifikasi Senyawa Alkaloid
dalam Batang Kayu Kuning (Arcangelisia Flava Merr). Jurnal Ilmu Dasar.
Vol. 8(1).

Yu Chi Li, Tai Man Louie, Ryan Summers, Yogesh Kale, Sridhar Gopishetty, and
Mani Subramanian. 2009. Two Distinct Pathways for Metabolism of
Theophylline and Caffeine Are Coexpressed in Pseudomonas putida
CBB5, Journal Of Bacteriology, Vol. 191 (14).