Anda di halaman 1dari 7

TUGAS

HUBUNGAN DISOSIASI ANTARA OKSIGEN dan HEMOGLOBIN,


EFEK ROOT dan EFEK BOHR
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Fisiologi Hewan Air




Disusun oleh:

Adhardiansyah 230110130135











UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
2013



PEMBAHASAN

1. Pengertian Hemoglobin



Struktur 3-dimensi hemoglobin
Hemoglobin adalah pigmen merah yang memberikan warna merah yang l pada sel-sel
darah merah dan pada darah. Secara fungsi, hemoglobin adalah senyawa kimia kunci yang
bergabung dengan oksigen dari paru-paru dan mengangkut oksigen dari paru-paru ke sel-sel
seluruh tubuh.
Hemoglobin adalah metaloprotein (protein yang mengandung zat besi) di dalam sel
darah merah yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh,
pada mamalia dan hewan lainnya. Hemoglobin juga pengusung karbondioksida kembali
menuju paru-paru untuk dihembuskan keluar tubuh. Molekul hemoglobin terdiri dari globin,
apoprotein, dan empat gugus heme, suatu molekul organik dengan satu atom besi. Mutasi
pada gen protein hemoglobin mengakibatkan suatu golongan penyakit menurun yang disebut
hemoglobinopati, di antaranya yang paling sering ditemui adalah anemia sel sabit dan
talasemia.

2. Struktur Hemoglobin
Pada pusat molekul terdapat cincin heterosiklik yang dikenal dengan porfirin yang
menahan satu atom besi; atom besi ini merupakan situs/loka ikatan oksigen. Porfirin yang
mengandung besi disebut heme. Nama hemoglobin merupakan gabungan dari heme dan
globin; globin sebagai istilah generik untuk protein globular. Ada beberapa protein
mengandung heme, dan hemoglobin adalah yang paling dikenal dan paling banyak dipelajari.


Gugus heme
Pada manusia dewasa, hemoglobin berupa tetramer (mengandung 4 subunit protein),
yang terdiri dari masing-masing dua subunit alfa dan beta yang terikat secara nonkovalen.
Subunit-subunitnya mirip secara struktural dan berukuran hampir sama. Tiap subunit
memiliki berat molekul kurang lebih 16,000 Dalton, sehingga berat molekul total tetramernya
menjadi sekitar 64,000 Dalton. Tiap subunit hemoglobin mengandung satu heme, sehingga
secara keseluruhan hemoglobin memiliki kapasitas empat molekul oksigen:
Reaksi bertahap:
Hb + O
2
<-> HbO
2

HbO
2
+ O
2
<-> Hb(O
2
)
2

Hb(O
2
)
2
+ O
2
<-> Hb(O
2
)
3

Hb(O
2
)
3
+ O
2
<-> Hb(O
2
)
4

Reaksi keseluruhan:
Hb + 4O
2
-> Hb(O
2
)
4


3. Kurva Disosiasi
Kurva disosiasi yang oksihemoglobin merupakan perangkat yang penting untuk
memahami bagaimana darah membawa dan melepaskan oksigen. Secara khusus, berkaitan
oksihemoglobin kurva disosiasi oksigen saturasi (SO
2
) dan tekanan parsial oksigen dalam
darah (PO
2
)
,
dan ditentukan oleh apa yang disebut s afinitas hemoglobin terhadap oksigen,
itu adalah, bagaimana hemoglobin mudah memperoleh dan melepaskan molekul oksigen dari
jaringan sekitarnya.
Oksihemoglobin kurva disosiasi yang menggambarkan kecenderungan non-linear untuk
oksigen untuk mengikat hemoglobin, di bawah SO
2
dari 90%, perbedaan-perbedaan kecil
dalam saturasi hemoglobin mencerminkan perubahan besar dalam PO
2.


Kurva disosiasi yang oksihemoglobin menyamakan secara matematis persentase
saturasi hemoglobin dengan tekanan parsial oksigen dalam darah. Sigmoid yang aneh bentuk
kurva berkaitan dengan sifat-sifat khas dari molekul hemoglobin itu sendiri.

4. Efek Bohr
Efek Bohr ialah pengaruh Karbon dioksida terhadap kurva oksigen terlarut dari darah.
Pergeseran kurva ke sebelah kanan berarti suatu pengurangan dalam afinitas dari hemoglobin
untuk oksigen.
Efek Bohr ialah sifat dari hemoglobin yang pertama kali digambarkan oleh psikologis
Denmark Christian Bohr pada 1904, yang menyatakan bahwa dalam persentasi karbon
dioksida, keafinitasan oksigen untuk pigmen respirasi disosiasi, yaitu hemoglobin; karena
efek bohr, peningkatan level karbon dioksida dalam darah atau penunrunan pH menyebabkan
hemoglobin bergabung dengan oksigen dengan afinitas lemah. Efek fasilitas transport oksigen
seperti hemoglobin membungkus oksigen di dalam paru-paru, tetapi kemudian melepaskan ke
jaringan-jaringan yang paling membutuhkan oksigen. Ketika jaringan tersebut metabolismnya
meningkatan. Produksi karbondioksidanyapun meningkat. Karbon dioksida dengan cepat
dijadikan molekul bikarbonat dan proton asam oleh enzim karbonik anhydrase
CO
2
+ H
2
O Gagal bereaksi
H
+
+ HCO
3


Hal ini menyebabkan pH jaringan menurun dan juga meningkatkan oksigen terlarut
dari hemoglobin, memperbolehkan jaringan tersebut memperoleh oksigen yang cukup sesuai
kebutuhannya. Kurva disosiasi bergeser ke kanan ketika karbon dioksida atau konsentrasi ion
hydrogen meningkat. Membuat masuk akal karena peningkatan konsentrasi karondioksida
dan pembuatan asam laktat terjadi ketika otot memperlukan lebih banyak oksigen. Merubah
keafinitasan oksigen hemoglobin ialah tubuh yang cepat beradaptasi dengan masalah ini.

5. Efek Root
Efek Root didefinisikan sebagai penurunan kadar oksigen dalam darah, pada level O2
atmosfer, pada saat pH darah menurun. Root efek hanya ditemukan di ikan teleost [dengan
pengecualian Amia calva] dan level Hb, efek root dipikirkan secara berlebih sebagai efek
Bohr. Dasar lengkap tentang efek Root yang tersisa masih belum terpecahkan. Secara
pisiologi, Efek root implikasi yang sangat berbeda untuk transportasi gas dibandingkan efek
Bohr. Efek Root dikarenakan angka kecepatan O2 dari Hb ke mata dan sirip. Dengan
demikian, karakteristik Hb dan bentuk sistem laju dalam ikan teleost membentuk perkalian

O2 yang tidak ada bandingnya di kerajaan bintang dan mampu membagkitkan tekanan darah
hampir 20 kali yang ditemukan dalam arteri darah.
Ini adalah penelitian dari 56 generasi ikan amazon, yang pertama diindinkasikan
bahwa efek root ialah korelasi yang terbaik dengan presentase dari koroid dibandingkan
dengan sirip. Efek Root efek terbesar diobservasi dengan spesies ini dengan kedua retia.
Tidak nyata hubungan antara presentase Root efek dan jumlah Hb, level aktifitas, toleransi
hypoxia, level presentase habitat tropikal, Pada umumnya, efek Root tidak ada atau sangat
kecil pada Gymotodea dan Siliroidea, sama pada ikan penghirup udara. Efek Root telah
didemostrasikan sekurang-kurang pada 2 ikan penghirup udara. A Gigas dan H. Unitaenatus.
Karena Ikan penghirup udara ini tipikalnya mempunyai lebih tinggi darah PCO2 dan pH
rendah dibandingkan Penghirup air, ini telah diusulkan pada wal tahun 1931 bahwa ikan
penghirup udara akan memiliki Hb relatif tidak sensitif dibandingkan pHnya.
Dengan demikian tidak diharapkan untuk memiliki efek Root. Unruk kebanyak
bagian, pada kasus ini. Untuk Gigas dan H. Unitaenaitus, presentase efek Root telah
dikomfirmasi dalam hemolizates pada pH = 5,5. Pada penelitian lainnya. Nyata bahwa efek
Root pada hemolyzates dari Gigas tidak diteliti sebelum pH menurun dibawah 6,2 tidak
seperti terjadi pada Vivo dimana sel darah merah beristirahat pada pH 7,22 0,02. Dengan
demikian tidak heran bahwa ikan penghirup udara memiliki efek Root. Disajikan tidak
diperbaikan O2 pada insang atau ABO pada di vivo. Seharusnya ditandai bahwa presentase
efek Root pada ikan penghirup udara ini yang telah dikonfirmasi pada tidak adanya organik
pospat yang merawat pontensial terhadap efek Root dan pengningkatan pH.

6. Perbandingan Efek Bohr Dan Efek Root
Gas yang mengisi kandung kemih oksigen, dibawa oleh hemoglobin dalam darah ikan.
Pada setiap hewan sebagian besar oksigen dalam darah terikat pada protein hemoglobin, yang
berada di dalam sel-sel darah merah. Hemoglobin pada ikan memungkinkan ikan untuk
mengisi atau mengosongkan kandung kemih yang sedang berenang. Ketika darah yang
mengelilingi kandung kemih menjadi sedikit asam hemoglobin melepaskan oksigen ke dalam
kandung kemih. Jika darah menjadi kurang asam oksigen berbentuk seperti bola oleh
hemoglobin. Respons hemoglobin untuk keasaman dapat diringkas oleh kurva mengikat
oksigen. Sebuah kurva mengikat menunjukkan bagaimana jumlah oksigen yang terikat pada
hemoglobin meningkat dengan peningkatan konsentrasi oksigen bebas. Kurva yang
menggambarkan hubungan antara oksigen dengan hemoglobin adalah kurva disosiasi. Kurva
disosiasai oksigen adalah kurva yang menggambarkan hubungan antara saturasi oksigen atau

kejenuhan hemoglobin terhadap oksigen dengan tekanan parsial oksigen pada ekuilibrium
yaitu pada keadaan suhu 37
o
C, pH 7.40 dan Pco2 40 mmHg.
Kurva oksihemoglobin tergeser kekanan apbila pH darah menurun atau PC02 meningkat.
Dalam keadaan ini pada P02 tertantu afinitas hemoglobin terhadap oksigen berkurang
sehingga oksigen dapat ditranspor oleh darah berkurang. Pergaseran kurva sedikit
kekanan akan membantu pelepasan oksigen kejaringan-jaringan. Pergeseran ini dikenal
dengan nama Efek bohr.
Sebaliknya, penigkatan pH darah (alkalosis) atau penurunan PCO2, suhu, dan 2,3- DPG
akan menyebabkan pergeseran kurva disosiasi oksihomoglobin kekiri. Pergeseran kekiri
menyebabkan peningkatan afinitas hemoglobin terhadap oksigen. Akibatnya uptake
oksigen dalam paru-paru meningkat apabila terjadi pergaseran kekiri, tetapi pelepasan
oksigen ke jaringan-jaringan terganggu.
Kurva hitam di sebelah kanan menunjukkan mengikat oksigen ke hemoglobin dalam
kondisi normal. Hemoglobin ikan dengan kandung kemih sangat peka terhadap kondisi asam,
melepaskan sekitar setengah dari oksigen terikat bahkan pada konsentrasi oksigen tinggi.
Seperti yang terlihat oleh kurva biru ke kanan, kira-kira setengah dari oksigen dilepaskan,
bahkan jika konsentrasi oksigen bebas sangat tinggi yang disebut efek root. Hemoglobin
kebanyakan hewan, termasuk manusia, peka terhadap kondisi asam, tapi untuk tingkat yang
jauh berkurang. Kurva merah mewakili efek ini, yang disebut efek Bohr.






Kurva Disosiasi Oksigen yang berbentuk sigmoid ini secara fisiologis menguntungkan
karena bagian puncak kurva yang mendatar memungkinkan jumlah oksigen arteri tetap tinggi
dan stabil walaupun terjadi perubahan tekanan parsial oksigen. Sebaliknya bagian tengah dari
kurva yang terlihat curam memungkinkan penglepasan oksigen dengan mudah pada
perubahan tekanan parsial oksigen yang kecil.



Daftar Pustaka
http://godeliviacinitya.wordpress.com/
http://id.wikipedia.org/wiki/Hemoglobin
http://www.mhhe.com/biosci/ap/foxhumphys/student/olc/chap16summary.html
http://blogs.unpad.ac.id/ronasandro/2012/10/31/efek-bohr-efek-root-dan-kurva-disosiasi/