Anda di halaman 1dari 9

Trauma dada adalah abnormalitas rangka dada yang disebabkan oleh benturan pada dinding dada

yang mengenai tulang rangka dada, pleura paru-paru, diafragma ataupun isi mediastinal baik oleh benda
tajam maupun tumpul yang dapat menyebabkan gangguan sistem pernafasan. Trauma dada adalah masalah
utama yang paling sering terjadi pada bagian emergensi. Cedera pada dada dapat mengenai tulang-tulang
rusuk dada, pleura dan paru-paru, diafragma atau organ-organ dalam mediastinum.
Cedera pada dada secara luas diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu, cedera penetrasi dan tumpul.
Cedera penetrasi (misal, pneumotoraks terbuka, hemotoraks, cedera trakeobronkial, kontusio pulmonal,
ruptur diafragma) menggangu intergritas dinding dada dan mengakibatkan perubahan dalam tekanan
intratoraks. Cedera tumpul (misal, pneumotoraks tertutup, pneumotoraks tensi, cedera trakeobronkial, flail
chest, ruptur diafragma, cedera mediastinal, fraktur rusuk) merusak struktur di dalam rongga dada tanpa
mengganggu integritas dinding dada.
Penyebab utama cedera pada dada adalah kecelakaan kendaraan bermotor misal, sepeda motor atau mobil.
Pukulan benda-benda tumpul pada dada atau akibat terjatuh juga dapat menyebabkan cedera dada
nonpenetrasi. Luka penetrasi umumnya diakibatkan oleh tusukan senjata tajam atau luka akibat tembakan.
Anatomi dan fisiologi
Trakea (batang tenggorok) adalah tabung berbentuk pita seperti huruf C yang di bentuk oleh tulang-tulang
rawan yang di sempurnakan oleh selaput. Trakea terletak di antara vertebrata servikalis ke-6 sampai ke tepi
bawah kartilago.Trakea mempunyai dinding fibroelastis yang panjang nya sekitar 13 cm, berdiameter 2,5 cm
dan dilapisi oleh otot polos. Diameter trakea tidak sama pada seluruh bagian, pada daerah servikal agak
sempit, bagian pertengahan agak sedikit melebar dan mengecil lagi dekat percabangan bronkus. Bagian
dalam trakea terdapat sel-sel bersilia untuk mengeluarkan benda asing yang masuk. Bagian dalam trakea
terdapat septum yang disebut karina yang terletak agak ke kiri dari bidang median.
Bronkus (cabang tenggorok) merupakan lanjutan trakea yang terdapat ketinggian vertebrata torakalis ke-4
dan ke-5. Bronkus memiliki struktur yang sama dengan trakea, yang dilapisi oleh sejenis sel yang sama
dengan trakea yang berjalan ke bawah menuju tampuk paru-paru.
Bronkus terbagi menjadi dua cabang :
a. Bronkus prinsipalis dekstra.
Panjangnya sekitar 2,5 cm masuk ke hilus pulmonalis paru-paru kanan dan mempercabangkan bronkus
lobularis superior. Pada masuk ke hilus, bronkus prinsipalis dekstra bercabang tiga menjadi bronkus
lobularis medius, bronkus lobularis inferior, bronkus lobularis superior.
b. Bronkus prinsipalis sinistra.
Lebih sempit dan lebih panjang serta lebih horizontal dibanding bronkus kanan, panjangnya sekitar 5 cm
berjalan ke bawah aorta dan di depan esofagus, masuk ke hilus pulmonalis kiri dan bercabang menjadi dua,
yaitu bronkus lobularis inferior, bronkus lobularis superior. Dari tiap-tiap bronkiolus masuk ke dalam lobus
dan bercabang lebih banyak dengan diameter kira-kira 0,5 mm. bronkus yang terakhir membangkitkan
pernapasan dan melepaskan udara ke permukaan pernapasan di paru-paru. Pernapasan bronkiolus membuka
dengan cara memperluas ruangan pembuluh alveoli yang merupakan tempat terjadinya pertukaran udara
antara oksigen dengan karbondioksida.
Paru-paru adalah salah satu organ system pernapasan yang berada di dalam kantong yang di bentuk oleh
pleura parietalis dan viseralis.
Kedua paru sangat lunak, elastis dan berada dalam rongga torak, sifatnya ringan dan terapung di air.
Masing-masing paru memiliki apeks yang tumpul yang menjorok ke atas mencapai bagian atas iga pertama.
a. Paru-paru kiri :
Pada paru-paru kiri terdapat satu fisura yaitu fisura obliges. Fisura ini membagi paru-paru kiri atas menjadi
dua lobus, yaitu : lobus superior, bagian yang terletak di atas dan di depan fisura dan lobus inferior, bagian
paru-paru yang terletak di belakang dan di bawah fisura.
b. Paru-paru kanan :
Pada paru-paru kanan terdapat dua fisura, yaitu : fisura oblique (interlobularis primer) dan fisura transversal
(interlobularis sekunder). Kedua fisura ini membagi paru-paru kanan menjadi tiga lobus, lobius atas, lobus
tengah dan lobus bawah.
Pleura adalah suatu membaran serosa yang halus membentuk suatu kantong tempat paru-paru berada yang
jumlahnya ada dua buah dan masing-masing tidak berhubungan.
Pleura mempunyai dua lapisan, parietalis dan viseralis.
a) lapisan permukaan disebut permukaan parietalis, lapisan ini langsung berhubungan dengan paru-paru
serta memasuki fisura dan memisahkan lobus-lobus dari paru-paru.
b) lapisan dalam disebut pleura viseralis, lapisan ini berhubungan dengan fasia endotorakika dan merupakan
permukaan dalam, dari dinding toraks.
Sinus pleura :Tidak seluruh kantong yang dibentuk oleh lapisan pleura diisi secara sempurna oleh paru-paru,
baik kearah bawah maupun ke arah depan. Kavum pleura dibentuk oleh lapisan pleura parietalis saja, rongga
ini disebut sinus pleura. Pada waktu inspirasi, bagian paru-paru memasuki sinus dan pada waktu ekspirasi
ditarik kembali dari rongga tersebut.
Klasifikasi
Trauma Tembus
- Pneumothoraks terbuka
- Hemothoraks
- Trauma trakeobronkial
- Kontusio Paru
- Ruptur diafragma
- Trauma Mediastinal
Trauma Tumpul
- Tension pneumothoraks
- Trauma trakeobronkial
- Flail Chest
- Ruptur diafragma
- Trauma mediastinal
- Fraktur kosta
Manifestasi Klinis
- Nyeri pada tempat trauma, bertambah pada saat inspirasi.
- Pembengkakan lokal dan krepitasi saat palpasi.
- Pasien menahan dadanya dan bernafas pendek.
- Dyspnea, takipnea
- Takikardi
- Tekanan darah menurun.
- Gelisah dan agitasi
- Kemungkinan cyanosis.
- Batuk mengeluarkan sputum bercak darah.
- Hypertympani pada perkusi di atas daerah yang sakit.
- Ada jejas pada thoraks
- Peningkatan tekanan vena sentral yang ditunjukkan oleh distensi vena leher
- Bunyi muffle pada jantung
- Perfusi jaringan tidak adekuat
- Pulsus paradoksus (tekanan darah sistolik turun dan berfluktuasi dengan pernapasan) dapat terjadi
dini pada tamponade jantung.
Pemeriksaan Diagnostik
Anamnesis dan pemeriksaan fisik
Anamnesa yang terpenting adalah mengetahui mekanisme dan pola dari trauma, seperti jatuh dari
ketinggian, kecelakaan lalu lintas, kerusakan dari kendaraan yang ditumpangi, kerusakan stir mobil /air bag
dan lain lain.
Pemeriksaan foto toraks
Pemeriksaan ini masih tetap mempunyai nilai diagnostik pada pasien dengan trauma toraks. Pemeriksaan
klinis harus selalu dihubungkan dengan hasil pemeriksaan foto toraks. Lebih dari 90% kelainan serius
trauma toraks dapat terdeteksi hanya dari pemeriksaan foto toraks.
CT Scan
Sangat membantu dalam membuat diagnose pada trauma tumpul toraks, seperti fraktur kosta, sternum dan
sterno clavikular dislokasi. Adanya retro sternal hematoma serta cedera pada vertebra torakalis dapat
diketahui dari pemeriksaan ini. Adanya pelebaran mediastinum pada pemeriksaan toraks foto dapat
dipertegas dengan pemeriksaan ini sebelum dilakukan Aortografi
Ekokardiografi
Transtorasik dan transesofagus sangat membantu dalam menegakkan diagnosis adanya kelainan pada
jantung dan esophagus. Hemoperikardium, cedera pada esophagus dan aspirasi, adanya cedera pada dinding
jantung ataupun sekat serta katub jantung dapat diketahui segera. Pemeriksaan ini bila dilakukan oleh
seseorang yang ahli, kepekaannya meliputi 90% dan spesifitasnya hampir 96%.
Elektrokardiografi
Sangat membantu dalam menentukan adanya komplikasi yang terjadi akibat trauma tumpul toraks, seperti
kontusio jantung pada trauma . Adanya abnormalitas gelombang EKG yang persisten, gangguan konduksi,
tachiaritmia semuanya dapat menunjukkan kemungkinan adanya kontusi jantung. Hati hati, keadaan tertentu
seperti hipoksia, gangguan elektrolit, hipotensi gangguan EKG menyerupai keadaan seperti kontusi jantung.
Angiografi
Gold Standard untuk pemeriksaan aorta torakalis dengan dugaan adanya cedera aorta pada trauma tumpul
toraks.
Penatalaksanaan
1. Konservatif
a) Pemberian analgetik
b) Pemasangan plak/plester
c) Jika perlu antibiotika
Antibiotika yang digunakan disesuaikan dengan tes kepekaan dan kultur. Apabila belum jelas kuman
penyebabnya, sedangkan keadaan penyakit gawat, maka penderita dapat diberi broad spectrum
antibiotic, misalnya Ampisillin dengan dosis 250 mg 4 x sehari.
d) Fisioterapi
2. Operatif/invasif
a. Pamasangan Water Seal Drainage (WSD).
WSD merupakan tindakan invasif yang dilakukan untuk mengeluarkan udara, cairan (darah, pus) dari
rongga pleura, rongga thorax; dan mediastinum dengan menggunakan pipa penghubung.
Indikasi
- Pneumothoraks
- Hemothoraks
- Thorakotomy
- Efusi pleura
- Emfiema
Tujuan
- Mengeluarkan cairan atau darah, udara dari rongga pleura dan rongga thorak
- Mengembalikan tekanan negatif pada rongga pleura
- Mengembangkan kembali paru yang kolaps
- Mencegah refluks drainase kembali ke dalam rongga dada
Tempat Pemasangan WSD
a. Bagian apex paru (apikal)
anterolateral interkosta ke 1-2
fungsi : untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura
b. Bagian basal
postero lateral interkosta ke 8-9
fungsi : untuk mengeluarkan cairan (darah, pus) dari rongga pleura
Jenis-jenis WSD
a. WSD dengan sistem satu botol
Sistem yang paling sederhana dan sering digunakan pada pasien simple pneumothoraks
Terdiri dari botol dengan penutup segel yang mempunyai 2 lubang selan g yaitu 1 untuk ventilasi dan 1
lagi masuk ke dalam botol
Air steril dimasukan ke dalam botol sampai ujung selang terendam 2cm untuk mencegah masuknya udara ke
dalam tabung yang menyebabkan kolaps paru
Selang untuk ventilasi dalam botol dibiarkan terbuka untuk memfasilitasi udara dari rongga pleura keluar
Drainage tergantung dari mekanisme pernafasan dan gravitasi
Undulasi pada selang cairan mengikuti irama pernafasan :
Inspirasi akan meningkat
Ekpirasi menurun
b. WSD dengan sistem 2 botol
Digunakan 2 botol ; 1 botol mengumpulkan cairan drainage dan botol ke-2 botol water seal
Botol 1 dihubungkan dengan selang drainage yang awalnya kosong dan hampa udara, selang pendek pada
botol 1 dihubungkan dengan selang di botol 2 yang berisi water seal
Cairan drainase dari rongga pleura masuk ke botol 1 dan udara dari rongga pleura masuk ke water seal botol
2
Prinsip kerjasama dengan sistem 1 botol yaitu udara dan cairan mengalir dari rongga pleura ke botol WSD
dan udara dipompakan keluar melalui selang masuk ke WSD
Biasanya digunakan untuk mengatasi hemothoraks, hemopneumothoraks, efusi peural
c. WSD dengan sistem 3 botol
Sama dengan sistem 2 botol, ditambah 1 botol untuk mengontrol jumlah hisapan yang digunakan
Paling aman untuk mengatur jumlah hisapan
Yang terpenting adalah kedalaman selang di bawah air pada botol ke-3. Jumlah hisapan tergantung pada
kedalaman ujung selang yang tertanam dalam air botol WSD
Drainage tergantung gravitasi dan jumlah hisapan yang ditambahkan
Botol ke-3 mempunyai 3 selang :
Tube pendek diatas batas air dihubungkan dengan tube pada botol ke dua
Tube pendek lain dihubungkan dengan suction
Tube di tengah yang panjang sampai di batas permukaan air dan terbuka ke atmosfer
Komplikasi Pemasangan WSD
Komplikasi primer : perdarahan, edema paru, tension pneumothoraks, atrial aritmia
Komplikasi sekunder : infeksi, emfiema
Prosedur pemasangan WSD
a. Pengkajian
Memeriksa kembali instruksi dokter
Mengecek inform consent
Mengkaji status pasien; TTV, status pernafasan
b. Persiapan pasien
Siapkan pasien
Memberi penjelasan kepada pasien mencakup :
Tujuan tindakan
Posisi tubuh saat tindakan dan selama terpasang WSD. Posisi klien dapat duduk atau berbaring
Upaya-upaya untuk mengurangi rangsangan nyeri seperti nafas dalam, distraksi
Latihan rentang sendi (ROM) pada sendi bahu sisi yang terkena
c. Persiapan alat
Sistem drainage tertutup
Motor suction
Slang penghubung steril
Botol berwarna putih/bening dengan kapasitas 2 liter, gas, pisau jaringan/silet, trokart, cairan antiseptic,
benang catgut dan jarumnya, duk bolong, sarung tangan , spuit 10cc dan 50cc, kassa, NACl 0,9%, konektor,
set balutan, obat anestesi (lidokain, xylokain), masker
d. Pelaksanaan
Prosedur ini dilakukan oleh dokter. Perawat membantu agar prosedur dapat dilaksanakan dengan baik, dan
perawat member dukungan moril pada pasien.
e. Tindakan setelah prosedur
Perhatikan undulasi pada sleng WSD
Bila undulasi tidak ada, berbagai kondisi dapat terjadi antara lain :
Motor suction tidak berjalan
Selang tersumbat
Selang terlipat
Paru-paru telah mengembang
Oleh karena itu, yakinkan apa yang menjadi penyebab, segera periksa kondisi sistem drainage, amati tanda-
tanda kesulitan bernafas
Cek ruang control suction untuk mengetahui jumlah cairan yang keluar.
Cek batas cairan dari botol WSD, pertahankan dan tentukan batas yang telah ditetapkan serta pastikan ujung
pipa berada 2cm di bawah air.
Catat jumlah cairan yg keluar dari botol WSD tiap jam untuk mengetahui jumlah cairan yg keluar.
Observasi pernafasan, nadi setiap 15 menit pada 1 jam pertama.
Perhatikan balutan pada insisi, apakah ada perdarahan.
Anjurkan pasien memilih posisi yg nyaman dengan memperhatikan jangan sampai slang terlipat.
Anjurkan pasien untuk memegang slang apabila akan merubah posisi.
Beri tanda pada batas cairan setiap hari, catat tanggal dan waktu.
Ganti botol WSD setiap 3 hari dan bila sudah penuh. Catat jumlah cairan yang dibuang.
Lakukan pemijatan pada slang untuk melancarkan aliran.
Observasi dengan ketat tanda-tanda kesulitan bernafas, sianosis, emphysema subkutan.
Anjurkan pasien untuk menarik nafas dalam dan bimbing cara batuk efektif .
Botol WSD harus selalu lebih rendah dari tubuh.
Yakinkan bahwa selang tidak kaku dan menggantung di atas WSD.
Latih dan anjurkan klien untuk secara rutin 2-3 kali sehari melakukan latihan gerak pada persendian bahu
daerah pemasangan WSD
Perawatan pada klien yang menggunakan WSD
a. Kaji adanya distress pernafasan & nyeri dada, bunyi nafas di daerah paru yg terkena & TTV stabil
b. Observasi adanya distress pernafasan
c. Observasi :
Pembalut selang dada.
Observasi selang untuk melihat adanya lekukan, lekukan yang menggantung, bekuan darah.
Sistem drainase dada.
Segel air untuk melihat fluktuasi inspirasi dan ekspirasi klien .
Gelembung udara di botol air bersegel atau ruang.
Tipe & jumlah drainase cairan. Catat warna & jumlah drainase, TTV & warna kulit.
Gelembung udara dalam ruang pengontrol penghisapan ketika penghisap digunakan
d. Posisikan klien :
Semi fowler sampai fowler tinggi untuk mengeluarkan udara (pneumothorak)
Posisi fowler untuk mengeluarkan cairan (hemothorak)
e. Pertahankan hubungan selang antara dada dan selang drainase utuh dan menyatu
f. Gulung selang yang berlebih pada matras di sebelah klien. Rekatkan dengan plester
g. Sesuaikan selang supaya menggantung pada garis lurus dari puncak matras sampai ruang drainase. Jika
selang dada mengeluarkan cairan, tetapkan waktu bahwa drainase dimulai pada plester perekat botol
drainase pada saat persiaan botol atau permukaan tertulis sistem komersial yang sekali pakai
h. Urut selang jika ada obstruksi
i. Cuci tangan
j. Catat kepatenan selang, drainase, fluktuasi, TTV klien, kenyamanan klien
Cara mengganti botol WSD
a. Siapkan set yang baru
Botol berisi cairan aquadest ditambah desinfektan
b. Selang WSD di klem dulu
c. Ganti botol WSD dan lepas kembali klem
d. Amati undulasi dalam slang WSD
Pencabutan selang WSD
Indikasi pengangkatan WSD adalah bila :
a. Paru-paru sudah reekspansi yang ditandai dengan :
Tidak ada undulasi
Cairan yang keluar tidak ada
Tidak ada gelembung udara yang keluar
Kesulitan bernafas tidak ada
Dari rontgen foto tidak ada cairan atau udara
Dari pemeriksaan tidak ada cairan atau udara
a) Selang WSD tersumbat dan tidak dapat diatasi dengan spooling atau pengurutan pada slang
b) Pemasangan alat bantu nafas.
c) Pemasangan drain.
d) Aspirasi (thoracosintesis).
e) Operasi (bedah thoraxis)
f) Tindakan untuk menstabilkan dada:
- Miringkan pasien pada daerah yang terkena.
- Gunakan bantal pasien pada dada yang terkena
g) Gunakan ventilasi mekanis dengan tekanan ekspirai akhir positif, didasarkan pada kriteria sebagai
berikut:
1. Gejala kontusio paru
2. Syok atau cedera kepala berat.
3. Fraktur delapan atau lebih tulang iga.
4. Umur diatas 65 tahun.
5. Riwayat penyakit paru-paru kronis.
h) Pasang selang dada dihubungkan dengan WSD, bila tension pneumothorak mengancam.
i) Oksigen tambahan.
Komplikasi
a. Surgical Emfisema Subcutis
Kerusakan pada paru dan pleura oleh ujung patahan iga yang tajam memungkinkan keluarnya udara ke
dalam cavitas pleura dari jaringan dinding dada, paru. Tanda-tanda khas: penmbengkakan kaki, krepitasi.
b. Cedera Vaskuler
Di antaranya adalah cedera pada perikardium dapat membuat kantong tertutup sehingga menyulitkan
jantung untuk mengembang dan menampung darah vena yang kembali. Pembulu vena leher akan
mengembung dan denyut nadi cepat serta lemah yang akhirnya membawa kematian akibat penekanan pada
jantung.
c. Pneumothorak
Adanya udara dalam kavum pleura. Begitu udara masuk ke dalam tapi keluar lagi sehingga volume
pneumothorak meningkat dan mendorong mediastinim menekan paru sisi lain
d. Pleura Effusion
Adanya udara, cairan, darah dalam kavum pleura, sama dengan efusi pleura yaitu sesak nafas pada waktu
bergerak atau istirahat tetapi nyeri dada lebih mencolok. Bila kejadian mendadak maka pasien akan syok.
Akibat adanya cairan udara dan darah yang berlebihan dalam rongga pleura maka terjadi tanda tanda :
1) Dypsnea sewaktu bergerak/ kalau efusinya luas pada waktu istirahatpun bisa terjadi dypsnea.
2) Sedikit nyeri pada dada ketika bernafas.
3) Gerakan pada sisi yang sakit sedikit berkurang.
4) Dapat terjadi pireksia (peningkatan suhu badan di atas normal).
e. Flail Chest
Pada trauma yang hebat dapat terjadi multiple fraktur iga dan bagian tersebut. Pada saat insprirasi bagian
tersebut masuk sedangkan saat ekspirasi keluar, ini menunjukan adanya paroxicqalmution (gerakan
pernafasan yang berlawanan)
f. Hemopneumothorak
Hemopneumothotak yaitu penimbunan udara dan darah pada kavum pleura.
g. Hipoksemia
Akibat gangguan jalan napas, cedera pada parenkim paru, sangkar iga, dan otot pernapasan, kolaps paru, dan
pneumotoraks.
h. Hipovolemia
akibat kehilangan cairan massif dari pembuluh besar, ruptur jantung, atau hemotoraks.
i. Gagal jantung akibat tamponade jantung, kontusio jantung, atau tekanan intratoraks yang meningkat.