Anda di halaman 1dari 7

Tinea Versicolor

Stevanus Eliansyah Handrawan


04121001113 / PDU Reguler 2012
a. Bagaimana differential diagnosis dari keluhan ? bagaimana membedakan antar DD ?
Dry discoid eczema (iritasi, umumnya tersebar di batang tubuh atau ekstremitas)
Guttate psoriasis (plak merah bersisik, seperti lesi psoriasis)
Idiopathic guttate hypomelanosis (mempengaruhi tulang kering dan lengan bawah,
karena photoageing / terpapar sinar UV )
Pityriasis alba (patche besar pada muka dan lengan atas)
Pityriasis rosea (onset cepat)
Postinflammatory hypo- or hyper-pigmentation (distribusi tidak rata, efek setelah
inflamasi)
Seborrhoeic dermatitis (distribusi di scalp / kepala dan muka, sisiknya lembut dan
berminyak)
Tinea corporis (lama kelamaan menjadi plak annular)
Vitiligo (benar-benar menjadi putih atau trikoma makula asimetris)

b. WD
Tinea Versicolor biasanya didiagnosis berdasarkan penampakan klinisnya yang
khas
Pemeriksaan lampu Wood , lesi disinari lampu wood dengan sinar UV panjang
gelombang 365 nm. Lesi Tinea Versicolor akan memberikan gambaran
fluorosensi berwarna kuning keemasan

Pemeriksaan KOH, pemeriksaan dengan mengerok bagian berskuama. Hasil
kerokan kulit diletakan diatas kaca preparat dan ditetesi KOH 10%. Jamur akan
mudah dikenali dalam bentuk hifa pendek tebal dan pengumpulan spora dalam
jumlah banyak (spaghetti and meatballs).

c. Definisi
Tinea Versikolor yang disebabkan Malasezia furfur adalah penyakit jamur
superfisial yang kronik, biasanya tidak memberikan keluhan subyektif, berupa bercak
berskuama halus yang berwarna putih sampai coklat hitam, terutama meliputi badan
dan kadang-kadang menyerang ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher, muka dan
kulit kepala.
Sinonim penyakit ini adalah pitiriasis versikolor, kromofitosis,
dermatomikosis, liver spots, tinea flava, panau
d. Etiologi
Tinea versicolor disebabkan Malassezia furfur. Malassezia furfur memiliki karakteristik
:
Lipofilik sehingga membutuhkan lingkungan yang tinggi lemak dan minyak
Berbentuk seperti botol yang berleher
Pada fase ragi memiliki 2 macam morfologi yaitu oval dan spheris disebut
sebagai Pityrosporum ovale dan Pityrosporum orbiculare, yang merupakan flora
normal kulit
Pada fase hifa berubah menjadi patologis
Hidup pada sel epithel manusia dimana mengkonsumsi minyak dan lemak yang
kita ekskresikan
Paling mudah ditemukan di dada, bahu dan lengan

e. Epidemiologi
Tinea versicolor adalah penyakit universal tapi lebih banyak dijumpai di daerah
tropis karena tingginya temperatur dan kelembaban. Menyerang hampir semua umur
terutama remaja, terbanyak pada usia 16 40 tahun. Tidak ada perbedaan antara pria
dan wanita. Tidak ada perbedaan juga antar ras walaupun pada ras berkulit hitam gejala
pada kulit lebih terlihat.
f. Bagaimana cara penularan tinea versikolor ?
Tinea versikolor bukan penyakit menular, karena jamur tinea versikolor
merupakan flora normal kulit orang dewasa.
g. Faktor resiko
Umur : Remaja muda
Kulit : pada orang berkulit berminyak dan mudah berkeringat
Cuaca : cuaca panas dan lembab
Individu dengan penurunan imunitas
h. Manifestasi klinis
Gejala utama adalah patch persisten yang berbeda dari warna kulit (bisa hipo
atau hiperpigmentasi) dengan batas tegas dan skuama halus
Bentuk dan warna lesinya bervariasi sesuai nama (versicolor)
Meski skuama tidak nampak, ketika dibersihkan dengan kain basah atau digores
untuk pemeriksaan, maka akan menghasilkan sejumlah besar keratin coklat yang
kotor
Lesi yang kecil biasanya bulat ataupun oval
Lesi biasanya asimptomatik, namun terkadang dapat gatal terutama pada saat
cuaca panas sehingga pasien datang berobat
Hipopigmentasi residual tanpa skuama diatasnya, dapat menetap selama
beberapa bulan setelah pengobatan efektif. Area ini terlihat lebih jelas setelah
paparan sinar matahari, menyebabkan pasien salah menduga bahwa terjadi
infeksi ulang.

i. Bagaimana predileksi dari tinea versikolor ?
Umumnya mengenai punggung, dada, perut, leher, dan lengan. Namun paling
sering mengenai punggung

j. Patofisiologi/patogenesis
Pada penderita Tinea Versicolor terdapat jamur dalam fase ragi (spora) dan juga
filament (hifa)
Tinea versicolor diakibatkan bakteri M. Furfur yang tumbuh tidak terkontrol
Faktor yang menyebabkan perubahan bentuk menjadi kondisi patologis adalah
faktor eksogen dan endogen
Faktor eksogen meliputi : cuaca panas dan lembab
Faktor endogen meliputi : genetic, kondisi immunosupresi , dan malnutrisi
Infeksi menyebabkan sedikit peningkatan epidermal turnover yang
menghasilkan skuama halus
Produksi asam dikarboksil seperti asam azelaic menghambat tirosin kinase yang
berujung pada hipopigmentasi kulit
M. Furfur mengsintesis pityriacitrin yang berfungsi untuk menyerap sinar UV
dan menyebabkan kerusakan melanosit yang menetap selama berbulan-bulan
Peradangan dapat menstimulasi melanosis sehingga terjadi lesi hiperpigmentasi

k. Tata laksana
Terapi Topikal
o Krim anti jamur adalah pilihan yang baik jika lesi mudah dijangkau dan
tidak terlalu luas.
Over-the-counter (OTC) krim seperti clotrimazole (Lotrimin)
atau miconazole (Monistat-Derm) efektif dan dua kali sehari
selama 10-14 hari.
Resep-kekuatan krim anti jamur mungkin dianjurkan jika Anda
tidak melihat sebuah perbaikan setelah 4 minggu atau jika gejala
yang lebih parah.
o Shampoo mengandung obat yang direkomendasikan untuk lesi yang
lebih luas. Busa, gel, dan lotion juga tersedia.
Pilihan OTC mencakup 1% selenium sulfida shampoo (Selsun
Blue) atau 1% ketokonazol shampoo (Nizoral). Bentuk yang
lebih kuat dari selenium sulfida (2,5%) dan ketoconazole (2%)
shampoo tersedia dengan resep.
Setelah menerapkan sampo ke kulit yang terkena, tambahkan air,
dan ratakan dengan handuk. Biarkan shampo pada selama 5-10
menit sebelum mencucinya. Ulangi proses ini untuk jumlah yang
ditentukan hari (biasanya 2 minggu).
Dalam kasus resisten, lotion dapat dibiarkan semalaman dan
dicuci di pagi hari.
o Keuntungan terapi topikal
Memberikan pengurangan infektifitas dengan cepat
Tidak ada efek samping sistemik
o Kekurangan terapi topikal
Waktu dan kesulitan untuk pengaplikasiannya terutama pada
daerah yang sulit dijangkau
Bau yang tidak enak
Efektifitas yang kurang dibanding terapi oral
Kebingungan tempat pengaplikasian setelah tanda inflamasi telah
hilang
Reaksi hipersensitivitas, iritasi, kulit kering, gatal-gatal
Sering menyebabkan rekukrensi karena kekurangan ini
Terapi Oral
o Terapi oral diberikan apabila lesi tersebar secara luas, terapi topikal yang
tidak memberi perbaikan, rekurensi dan pencegahan
o Ketokonazol 200 mg/hari selama 7 10 hari
o Fluconazole 400 mg dosis tunggal
o Itraconazole 200 400 mg/hari selama 2 7 hari

Edukasi
o Tinea versicolor akibat dari flora normal kulit dan tidak menular
o Hipopigmentasi tetap menetap setelah pengobatan selesai
o Menjaga kebersihan tubuh, terutama mandi setelah melakukan aktivitas
o Hindari memakai pakaian yang terlalu ketat
o Hindari produk berbasis minyak pada kulit
o Hindari paparan sinar matahari yang berlebihan

Pencegahan
o Tinea versicolor memiliki tingkat rekurensi yang tinggi
o Gunakan shampo pada seluruh tubuh selama 10 menit setiap
minggu/bulan
o Pemberian antifungal oral 1x / bulan

l. Prognosis
Prognosisnya baik dalam hal kesembuhan bila pengobataan dilakukan
menyeluruh, tekun dan konsisten. Pengobatan harus di teruskan 2 minggu setelah
fluoresensi negatif dengan pemeriksaan lampu Wood dan sediaan langsung negative.

m. Komplikasi
Infeksi bisa menyebabkan hipopigmentasi kulit yang menetap beberapa bulan
setelah pengobatan selesai

n. SKDI
4A

Beri Nilai