Anda di halaman 1dari 35

FA-5041

FARMAKOTERAPI

MAKALAH FARMAKOTERAPI
POLYCYTHEMIA VERA

Oleh:

Lili Shafwatunnida (90709318)


Ramadhaniyanti (90709319)

PROGRAM PROFESI APOTEKER


SEKOLAH FARMASI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2010

1.

KEADAAN NORMAL PEMBENTUKAN SEL DARAH

Proses pembentukan sel darah yang disebut dengan Hematopoiesis


merupakan pembentukan komponen sel darah, dimana terjadi proliferasi, maturasi
dan diferensiasi sel yang terjadi secara serentak.
Proliferasi sel menyebabkan peningkatan atau pelipatgandaan jumlah sel,
dari satu sel hematopoietik pluripotent menghasilkan sejumlah sel darah. Maturasi
merupakan proses pematangan sel darah, sedangkan diferensiasi menyebabkan
beberapa sel darah yang terbentuk memiliki sifat khusus yang berbeda-beda.

Hematopoiesis pada manusia terdiri atas beberapa periode :


1. Mesoblastik, terjadi saat embrio umur 2 10 minggu. Terjadi di dalam yolk
sac. Yang dihasilkan adalah HbG1, HbG2, dan Hb Portland.

2. Hepatik, dimulai sejak embrio umur 6 minggu terjadi di hati, sedangkan pada
limpa terjadi pada umur 12 minggu dengan produksi yang lebih sedikit dari
hati. Disini menghasilkan Hb.
3. Mieloid, dimulai pada usia kehamilan 20 minggu terjadi di dalam sumsum
tulang, kelenjar limfonodi, dan timus. Di sumsum tulang, hematopoiesis
berlangsung seumur hidup terutama menghasilkan HbA, granulosit, dan
trombosit. Pada kelenjar limfonodi terutama sel-sel limfosit, sedangkan pada
timus yaitu limfosit, terutama limfosit T.
Beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembentukan sel darah di
antaranya adalah asam amino, vitamin, mineral, hormone, ketersediaan oksigen,
transfusi darah, dan faktor- faktor perangsang hematopoietik.

2.

ERITROSIT

Proses pembentukan eritrosit, yang disebut juga eritropoiesis, terjadi pada


sumsum tulang. Pendewasaan sel berlangsung sekitar 7 hari, dengan masa hidup
setelah pelepasan dari sumsum tulang lebih kurang 120 hari.

Jumlah eritrosit normal dalam tubuh berkisar antara 4-5 juta/L (pada
wanita) atau 5-6 juta/L (pada pria). Jumlah normal hemotrokrit atau SDM dalam
100 mL darah adalah 47 7 % (pria) atau 42 5 % (wanita).
Produksi eritrosit dapat distimulasi oleh hormon eritropoietin (Epo) yang
disintesa oleh ginjal. Saat sebelum dan sesudah meninggalkan sumsum tulang
belakang, sel yang berkembang dinamakan retikulosit dan jumlahnya sekitar 1%
dari seluruh darah yang beredar.
Komponen utama eritrosit atau SDM adalah hemoglobin protein (Hb), yang
mengangkut sebagian besar oksigen (O2) dan sebagian kecil fraksi karbon
dioksida (CO2). Molekul-molekul Hb terdiri atas 2 pasang rantai polipeptida
(globin) dan 4 kelompok heme, masing-masing mengandung sebuah atom besi
(Fe). Jumlah normal Hb dalam darah adalah 14 -18 g/dL pada pria dewasa, 12
16 g/dL pada wanita dan 11 13 g/dL pada anak-anak.

3.

NAMA PENYAKIT

Polisitemia vera memiliki nama lain diantaranya adalah sebagai berikut:


Primary polycythemia, Polycythemia rubra vera, Myeloproliferative disorder,
Erythremia, Splenomegalic polycythemia, Vaquez's disease, Osler's disease,
Polycythemia dengan cyanosis kronik, Myelopathic polycythemia, Erythrocytosis
megalosplenica, Cryptogenic polycythemia.

4.

DEFINISI
Kata polycythemia merupakan komposisi dari tiga kata yang diambil dari

bahasa Yunani, yaitu poly (banyak), cyt (sel), and hemia (darah). Kata
vera diambil dari bahasa latin yang artinyasejati. Berdasarkan kata tersebut
dapat diartikan bahwa Polisitemia vera adalah peningkatan sel darah, dan
penambahan kata sejati adalah untuk menandai bahwa penambahan sel darah
yang terjadi adalah pada sel darah sejati atau sel darah merah. PV termasuk ke
dalam penyakit myeloproliferative.

Jadi, istilah Polisitemia Vera atau biasa di singkat PV digunakan untuk


keadaan dimana terjadi penurunan proporsi plasma darah, karena peningkatan
volume total dan viskositas darah akibat berlebihannya jumlah sel darah,
sedangkan volume plasma biasanya normal.
Peningkatan jumlah sel darah merah (eritrosit) terjadi secara bermakna yaitu
mencapai 6 10 juta/ L di atas ambang batas nilai normal dalam sirkulasi darah,
pada beberapa kejadian juga disertai oleh peningkatan jumlah leukosit dan
trombosit.

5.

PREVLENSI / INSIDEN

Kejadian atau insidensi PV cukup jarang terjadi. Di Amerika Serikat,


insidensi PV dilaporkan 4,9 kasus per 100.000 populasi di Baltimore. Sebuah
tinjauan lebih baru di Connecticut melaporkan insidensi PV terjadi 22 kasus
dalam populasi 100.000.
Sedangkan insidensi Internasional, dilaporkan bahwa terdapat 6,7 kasus PV
dalam 1.000.000 populasi di Israel. Dalam review Swedia dan Italia baru-baru ini
mereka memperkirakan 30 kasus per 100.000 populasi masing-masing negara.
Pada umumnya insidensi kejadian bervariasi di seluruh dunia, ada juga yang
melaporkan terjadi pada 2,3 kasus per 100.000 populasi per tahun.
Lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan pada wanita dengan
perbandingan 1,2 2,2 : 1. Rata-rata usia dimana PV didiagnosis adalah 60 tahun,
dan sangat jarang ditemukan pda usia kurang dari 20 tahun, kejadian terbanyak
pada usia 60 80 tahun

6.

PATOFISIOLOGI

Polisitemia Vera termasuk ke dalam penyakit myeloproliferative dimana sel


induk pluripoten abnormal.
Pada umumnya polisitemia ada tiga jenis, yaitu polisitemia relatif,
polisitemia sekunder, dan polisitemia primer (vera). Polisitemia relatif adalah

terjadinya penurunan volume plasma namun jumlah sel darah merah tidak
mengalami perubahan. Polisitemia sekunder adalah dimana proliferasi eritrosit
disertai dengan peningkatan kadar eritropoietin. Peningkatan jumlah sel darah
merah semakin lama akan mencapai hemostasis dan kadar eritropoietin kembali
normal.
Pada polisitemia primer (PV) yang terjadi adalah ploriferasi berlebihan pada
sel induk hematopoietik (pluripoten) tanpa perlu rangsangan dari eritropoietin atau
hanya perlu rangsangan rendah dari eritropoietin (Epo), sedangkan pada keadaan
normal, diperlukan rangsangan yang kuat oleh eritropoietin. Ditemukan kelainan
terhadap respon progenitor pembentukkan eritrosit.
Pembentukan eritrosit secara normal di sumsum tulang dimulai dari
terikatnya Epo pada reseptornya (Epo-R) kemudian terjadi forforilasi pada protein
JAK2. JAK2 atau Janus Kinase 2 adalah molekul enzim cytoplasmatic dari
kelompok enzim tirosin kinase yang terlibat dalam transduksi sinyal atau Signal
Transducers and Activators of Transcription (STAT) dimana jalurnya akan
mempengaruhi proliferasi (penggandaan sel). Teraktivasi dan terfosforilasinya
JAK2 menyebabkan aktivasi proses transkripsi faktor petrumbuhan (growth
factor) hemopoietik (eritropeoietin). Dari sini dapat dimengerti bahwa JAK2
berperan sebagai saklar terjadi atau tidak terjadinya pembentukan eritrosit.
Pada PV terjadi mutasi pada JAK2 yaitu pada posisi 617 dimana terjadi
penggantian substitusi nukleotida valin menjadi fenilalanin (V617F) sehingga
reseptor (Epo-R) diaktifkan terus menerus (setiap waktu) karena kurangnya autoinhibisi enzim JAK2.

Akibat pembentukan eritrosit yang berlebihan dan juga terkadang diikuti


oleh sel darah lainnya (SDP dan platelet) maka terjadi peningkatan volume dan
viskositas darah.
Trombosis dan perdarahan sering terjadi pada orang dengan PV dan MPD
(Myeloproliferative disorders), terjadi dari gangguan mekanisme hemostatik
karena (1) meningkatkan level sel darah merah dan (2) tingginya jumlah
platelet. Ada temuan yang menunjukkan peran tambahan faktor jaringan dan
leukosit polymorphonuclear (PMLs) dalam pembekuan permukaan, platelet
sebagai kontributor untuk reaksi koagulasi phospholipid-dependent, dan entitas
mikropartikel. Faktor jaringan disintesis oleh leukosit darah, levelnya meningkat
pada orang dengan MPD, yang dapat memberikan kontribusi untuk trombosis.
Hal itu juga didukung oleh penelitian yang menyatakan bahwa tingkat
trombosis positif berhubungan dengan tingginya nilai mutasi. Bahkan, analisis
multivarian yang meliputi umur, leukositosis, hematokrit, jumlah platelet, dan
terapi menunjukkan bahwa mutasi JAK2/JAKV617F adalah merupakan faktor
resiko dari sebagian besar kejadian vaskular. Dan divalidasi oleh Silver et al

bahwa tingginya mutasi JAK2 berhubungan dengan tingginya hasil perhitungan


sel darah putih, splenomegaly, dan penyakit tromboembolik.

7.

ETIOLOGI
Penyebab PV tidak sepenuhnya dipahami. Hampir semua pasien dengan PV

memiliki mutasi dari JAK2 (Janus kinase 2) gen. Mutasi gen ini mungkin
berperan dalam timbulnya PV. Namun, peran yang tepat sebagai penyebab
penyakit ini masih dalam penelitian.
Sel induk pembentuk sel darah (pluripoten) menunjukkan respon tidak
normal terhadap faktor pertumbuhan, yaitu kecacatan dalam jalur sinyal.
Pengamatan in vitro menunjukkan bahwa eritroid terbentuk tanpa ikatan antara
Epo dengan reseptornya (Epo-R). Dipotongnya jalur pembentukan tersebut
menujukkan kecacatan dalam transmisi sinyal. Sensitifitas sel induk pada
beberapa kelompok sitokin menunjukkan bahwa kecacatan mungkin terletak pada
jalur hilir dari reseptor.
Penyebab sekunder dari peningkatan jumlah sel darah merah (eritrositosis)
adalah:
-

Phsycological appropriate: penyakit paru kronis atau penyakit jantung,


penurunan 2,3-diphosphoglycerate, afinitas oksigen hemoglobinopati tingi,
peningkatan carboxyhemoglobin (pada perokok) dan methemoglobin, dan
tinggal di daerah yang tinggi.

Phsicologically inappropriate: hipersekresi ardenal cortical, hydronephrosis,


tumor yang menghasilkan eritropoietin dan anabolik steroid.

Relatif: gangguan berhubungan dengan penurunan volume plasma, seperti


diare, emesis atau muntah dan penyakit ginjal.

8.

MANIFESTASI KLINIK DAN DIAGNOSIS

8.1

Tanda dan gejalanya


Pada pasien PV, sel darah merah, sel darah putih, dan platelet berfungsi

secara normal. Tanda-tanda, gejala, dan komplikasi pada PV terjadi karena terlalu
gbanyak sel darah merah dan terkadang platelet dalam darah. Beberapa Gejala

yang ditemukan kadang ditemukan pada saat dilakukan pemeriksaan darah rutin.
Salah satu gejala akibat terlalu banyak sel darah merah adalah rasa kebal karena
darah tidak mengalir secara baik.
Beberapa tanda dan gejala penyait PV adalah sebagai berikut:
-

Gejala terkait dengan hiperviskositas darah, aliran darah terganggu dan


trombosit yang menyebabkan kurangnya pengiriman oksigen diantaranya sakit
kepala, keringat berlebihan rasa berdengung di telinga, gangguan penglihatan
seperti kekaburan, pusing atau vertigo, angina pektoris.

Komplikasi

pendarahan (1%) termasuk epistaksis, pendarahan gusi,

ecchymoses, dan pendarahan saluran pencernaan. Akibat dari penurunan share


rate atau penurunan keceptan aliran darah sehingga menimbulkan gangguan
fungsi hemostatis primer yaitu agregsi trombosit pada endotel walaupun
jumlah trombosit mencukupi.
-

Komplikasi trombotik termasuk trombosis vena atau tromboemboli dan


peningkatan prevalensi trombosis arteri stroke dan lainnya. Pasien penderita
PV mungkin memiliki jumlah trombosit tinggi yang bisa berkontriusi pada
pembentukan gumpalan darah. Serangan penyakit vaskular umumnya
ditemukan pada orang tua dengan PV, dan dapat meningkatkan resiko
komplikasi pembekuan. Gumpalan darah dapat menyebabkan masalah serius
seperti serangan jantung, stroke, trombosis vena dalam atau pulmonary
embolism. Gumpalan darah terjadi pada sekitar 30% persen pasien sebelum
didiagnosis PV. Selama 10 tahun pertama setelah diagnosis, 40% 60%
penderita PV mungkin mengalami penggumpalan darah.

Nyeri perut (abdominal pain) akibat tukak peptik, ternjadi karena PV dikaitkan
dengan peningkatan histamin dan asam lambung, atau kemungkinan sindrom
Budd Chiari (trombosis vena hepatik) atau trombosi vena mesentrika.

Pembesaran limpa (splenomegali), tercatat terjadi pada sekitar 75% penderita


PV, hal ini dapat menyebabkan rasa cepat kenyang karena (1) pembesaran
limfa memberi efek pada lambung sehingga lambung terasa terisi, atau (2)
gejala infark limfa (jarang terjadi). Akibat dari rasa cepat kenyang adalah
turunnya berat badan dan menjadi gejala awal dari meningkatnya aktifitas

myeloproliferative. Splenomegali dapat diketahui dengan pemeriksaan fisik


atau dengan USG.
-

Pembesaran hati (hepatomegali) terjadi pada sekitar 30% penderitan PV.

Pruritus atau gatal kulit, terutama setelah mandi dengan air hangat atau
shower, terjadi pada sebagian penderita (40%). Akibat dari meningkatnya
histamin dari peningkatan basopil dan sel mast.

Kemerahan pada kulit terutama di telapak tangan, telinga, hidung, dan pipi,
mungkin terjadi akibat tingginya konsentrasi sel darah merah dalam darah,
beberapa pasien mengalami rasa panas di kaki.

Gout (5-10%), radang sendi yang menyakitkan disebabkan oleh peningkatan


kadar asam urat terkait dengan PV, mungkin terjadi atau menjadi lebih buruk.
Terjadi sebagai konsekuensi logis hiperaktivitas hemopoesis dan splenomegali
adalah sekuestasi sel darah semakin banyak dan cepat sehingga produksi asam
urat dalam darah akan meningkat.

Defisiensi vitamin B12 dan asam folat. Laju silkus sel darah yang tinggi dapat
mengakibatkan defisinesi asam folat dan vitamin B12. Hal ini dijumpai pada
30% kasus PV karena penggunaan/ metabolisme untuk pembuatan sel darah,
sedangkan kapasitas pengikatan protein vitamin B12 tidak tersaturasi (UB12
protein binding capacity) dijumpai meningkat pada lebih dari 75% kasus.
Seperti diketahui defisiensi kedua vitamin ini memegang peranan dalam
timbulnya kelainan kulit dan mukosa, neuropati, atrofi N.optikus, serta
psikosis.
Penderita PV memiliki resiko sedikit lebih besar terkena leukimia

dibandingkan dengan bukan penderita PV, sebagai hasil dari penyakitnya dan/atau
dari obat yang digunakan.

Tanda dan gejala PV

8.2

DIAGNOSIS
Pemeriksaan atau diagnosis dapat dipertimbangkan baik pemeriksaan fisik

berkala atau pemeriksaan medis yang berkaitan dengan penggumpalan darah, saat
ditemukan terjadinya peningkatan sel darah merah. Dignosis ditegakkan dari
pemeriksaan fisik dikombinasi dengan uji laboratoium untuk melihat sel-sel
dalam dara dan dalam sumsum tulang.
Ciri khas signifikan dalam diagnosis PV secar umum adalah sebagai berikut:
1.

Dari pemeriksaan fisik:


a. Pembesaran limpa, dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik melalui
palpasi dengan tingkat sensitifitas 58%, dapat juga dilalkukan dengan
ultrasonografi (USG).
b. Ciri pada kulit (kemerahan atau keunguan pada kulit)

2.

Dari pemeriksaan darah

Jumlah sel darah ditentukan oleh jumlah sel darah lengkap (complete blood
cell count/CBC), sebuah tes standar yang mengukur konsentrasi sel darah
merah dan putih dan trombosit dalam darah.
a. Peningkatan hematokrit
Pada keadaan normal, rata-rata jumlah eritrosit adalah 5,2 juta/L pada
pria, dan 4,6 juta/L pada wanita. Hematokrit rata-rata adalah 42% pada
wanita dan 47% pada pria, dan rata-rata hemoglobin sekitar 14 g/dL pada
wanita dan 16 g/dL pada pria.
b. Peningkatan Leukosit, terutama neutrofil
Peningkatan sel darah putih pada PV terjadi tidak terlalu signifikan.
Peningkatan jumlah leukosit (>12.000/L) terjadi pada sekitar 60%
penderita. Terutama terdiri dari neutrofil dan beberapa sel yang belum
matang. Peningkatan basofil hanya sedikit terjadi pada 60% penderita.
c. Peningkatan jumlah platelet, yang terjadi pada sekitar 50% penderita.
Hasil tes dikatakan normal jika turnover fibrinogen tinggi. Hasil dapat
dikatakan menujukkan ketidak normalan pada pasien yang mengalami
kenaikan hematokrit jika adanya perubahan rasio plasma antikogulan
pada tes tabung, dan hasilnya tidak menunjukkan koagulopaty yang
sesuai.
-

waktu protrombin dan waktu pengaktifan tromboplastin parsial dapat


diperpanjang pada eritrositosis

jumlah plasma yang dikumpulkan dalam tabung rendah dengan


kaitannya dengan antikoagulan

d. Pemeriksaan darah lainnya


1) Peningkatan kadar serum vitamin B12
Kadar vitamin B12 meningkat lebih dari 900 pg/mL pada sekitar 30%
penderita, dan sekitar 75% penderita menunjukkan peningkatan
kapasitas pengikatan vitamin B12 lebih dari 2200 pg/mL.
Dikarenakan peningkatan transkobalamin-III, yaitu ikatan protein
yang ditemukan di sel darah putih, dan mencerminkan jumlah sel
darah putih perifer dan sumsum tulang.

2) Peningkatan kadar asam urat dalam darah


Hiperurisemia menunjukkan tingginya tingkat pergantian sel-sel
sumsum tulang melepaskan metabolit DNA.
3) Saturasi oksigen pada arteri
Pengukuran

tingkat

saturasi

oksigen

arteri

(SaO2)

dan

karbokxihemoglobin (COHb) penting untuk menyingkirksn hipoksia


sebagai pnyeab sekunder eritrositosis.
-

pulse oximetry adalah metode paling mudah untuk mengukur


SaO2, namun pada orang yang merokok, kadar COHb harus
ditentukan secara langsung dan dikurangi untuk mendapatkan
nilai SaO2 yang akurat. Nilai di bawah 92% mengindikasikan
hubungan yang kausal dengan eritrosotosis.

Desaturasi oksigen nokturnal ketika tidur terjai pada 20%


penderita.

4) Pengukuran eritropoietin (Epo) dalam darah


Tingkat Epo pada PV mungkin sangat rendah tapi pada polisitemia
sekunder bisa menjadi sangat tinggi. Mengukur pertumbuhan spontan
dari sel induk eritroid dalam kultur (burst-forming unit, erythroid
[BFU-E]) dengan tidak adanya Epo adalah tes yang sangat sensitif
untuk PV atau eritrositosis, tetapi tidak tersedia secara rutin.
Pengukuran kadar Epo tidak digunakan sebagai alat diagnosis tunggal
tetapi hanya mengarahkan kepada kemungkinan adanya PV.
3.

Pemeriksaan sumsum tulang


a. Pemeriksaan hispatologi
Secara keseluruhan, ekspansi semua baris sel dengan ploriferasi
megakariotik

dan

kehadiran

myelofibrosis

dapat

membantu

mendiagnosis PV dan MPD lainnya, tetapi pasien dengan PV mungkin


memiliki temuan sumsum tulang normal.
Pada diagnosis PV, sumsum berisi jumlah sel darah lebih dari normal
akibat overekspansi dari sel induk pembentuk darah dan kekurangan zat
besi karena digunakan untuk membuat sel-sel darah merah tambahan.

b. Analisis kromosom sel-sel sumsum tulang


Untuk mengetahui kelainan sifat sel tunas (stem cells) pada sumsum
tulang akibat mutasi dari gen JAK2.

Dalam penegakkan diagnosa PV,

pertama harus memastikan bahwa

penyebab sekunder dari peningkatan jumlah sel darah merah (eritrositosis) tidak
ada. Penyebab sekunder eritrositosis adalah sebagai berikut:
-

Phsycological appropriate: penyakit paru kronis atau penyakit jantung,


penurunan 2,3-diphosphoglycerate, afinitas oksigen hemoglobinopati tingi,
peningkatan carboxyhemoglobin (pada perokok) dan methemoglobin, dan
tinggal di daerah yang tinggi.

Phsicologically inappropriate: hipersekresi ardenal cortical, hydronephrosis,


tumor yang menghasilkan eritropoietin dan anabolik steroid.

Relatif: gangguan berhubungan dengan penurunan volume plasma, seperti


diare, emesis atau muntah dan penyakit ginjal.
Setelah dipastikan bahwa penyebab sekunder tidak ada, maka diagnosis

dapat ditegakkan dengan melihat kombinasi dari kriteria atau kategori mayor (A)
dan katergori minor (B) yang telah ditetapkan oleh Polycythemia Vera
StudyGroup (PVSG), metode ini menjadi standar pendiagnosaan PV.

Kombinasi kriteria mayor dan kriteria minor:


Kriteria Mayor (Kategori A)

Kriteria Minor (Kategori B)

1. Sel darah merah > dari 36 mL/Kg


pada pria, atau > 32 mL/Kg pada
wanita
2. Saturasi Oksigen (SaO2) > 92%
3. Splenomegali

1. Leukosit alkalin posfatase > 100U/L


2. Jumlah platelet > 400.000/mm3
3. Jumlah sel darah putih >
12.000/mm3
4. Kadar serum vit B12 > 900 pg/mL
atau kapasitas pengikatan vit B12
tak tersaturasi > 2.200 pg/mL

Diagnosis dinyatakan jika ditemui kombinasi (1) kategori A1 + A2 + A3


atau jika ditemui kombinasi (2) kategori A1 + A2 + 2 kriteria dari kategori B pada
pasien.
Penentuan massa sel darah merah dapat digunakan dua metode yaitu
menggunakan radioaktif chromium-51 (51 Cr) isotope ke dalam pembuluh darah
dan pengukuran O2 jenuh di pembuluh arteri (saturasi oksigen).
Pengukuran aktual total jumlah sel darah merah dengan 51 Cr dan iodine-131
(131I) plasma adalah untuk membedakan eritrositosis sebenarnya dengan
pseudoeritrositosis (penurunan volume plasma).
Adapun alogaritma diagnosis untuk pasien yang diduga eritrositosis saat
tidak ditemukannya leukositosis, trombositosis, atau splenomegali adalah sebagai
berikut:

Peningkatan kadar hemoglobin atau


hematokrit

Pengukuran massa eritrosit dan


volume plasma

Peningkatan massa sel darah


merah

Massa sel darah merah


normal, volume plasma
turun

Keduanya normal

Saturasi oksigen arteri

>92%

<92%
Hipoksia eritrositosis

Karena faktor lain:


- Merokok
- Androgen
- Diuretik
- Hipertensi
- peokromositoma

Pemeriksaan JAK2
V617F

Periksa kadar eritropoietin

Polisitemia Vera
Normal atau rendah
Polisitemia Vera
Mutasi JAK2 ekson 12
Mutasi reseoptor EPO
Penyakit ginjal (tumor,
stenosis arteri ginjal,systs)
Tumor
Afinitas hemoglobin tinggi

Meningkat
Penyakit ginjal
Tumor
Mutasi VHL
Afinitas hemoglobin tinggi

Skema 1. Alogaritma diagnosis jika diduga eritrositosis, Adapun alogaritma


diagnosis untuk pasien yang diduga eritrositosis saat tidak ditemukannya
leukositosis, trombositosis, atau splenomegali.

Tingkat Hb > 18 g/dL atau tingkat


hematokrit >52% pada pria, Hb >
16g/dL atau tingkat hematokrit
>47% pada wanita
Splenomegali dengan atau tanpa
trombositosis dan leukositosis
Trombosis vena portal
ya
Apakah ada faktor sekunder
penyebab PV?

tidak
Bukan polisitemia vera

ya
Atasi masalah yang terjadi

tidak
Apakah pasien memiliki 3 kriteria mayor atau kombinasi gabungan dari 2
kriteria mayor dan 2 kriteria minor, atau mengalami keempat kriteria minor
ya
Polycythemia Vera
Memerlukan
konsultasi
haematologi
Pilihan terapi utama:
Flebotomi
Hidroksiurea dengan atau
tanpa flebotomi
Interferon alfa-2b (intron A)

tidak
Bukan Polycythemia Vera
Memerlukan diagnosis alternatif
dan konsultasi haematologi.

Skema 2. Alogaritma untuk evaluasi dan menejemen Polycythemia Vera

9.

FAKTOR RESIKO
Faktor resiko terjadinya PV adalah sebagai berikut:

a.

Hypoxia dari penyakit paru yang berkepanjangan (kronis) dan merokok


adalah penyebab-penyebab yang umum dari polycythemia. Oleh karenanya,
merokok dapat menjadi faktor risiko yang signifikan untuk polycythemia.

b.

Paparan karbon dioksida (CO) yang kronis dapat juga menjadi faktor risiko
untuk polycythemia. Hemoglobin mempunyai daya tarik yang lebih tinggi
untuk CO daripada untuk oksigen; oleh karenanya, polycythemia mungkin

menyebabkan kadar oksigen

yang diangkut oleh hemoglobin menjadi

rendah.
c.

Paparan karbon dioksida yang kronis adalah faktor risiko untuk orang-orang
yang bekerja di terowongan-terowongan bawah tanah atau garasi-garasi
parkir, supir-supir taxi dalam kota-kota yang berpolusi tinggi dan macet,
atau pekerja-pekerja di pabrik-pabrik dengan paparan gas yang berasal dari
mesin.

d.

Orang-orang yang hidup di ketinggian-ketinggian tinggi mungkin juga


berisiko polycythemia yang disebabkan oleh oksigen pada lingkungan yang
rendah.

e.

Orang-orang

dengan

mutasi-mutasi

genetik

dan

kelainan-kelainan

hemoglobin tertentu juga membawa faktor-faktor risiko untuk kondisi ini.


f.

Jenis kelamin, pada pria lebih sering dibandingkan wanita.


Tabel 1. Kategori faktor resiko
Kategori Resiko
Resiko rendah

Faktor Resiko
Umur kurang dari 60 tahun
Tidak ada sejarah trombositosis
Jumlah platelet kurang dari 150.000 per mm3 (1.500
109 per L)
Resiko menengah
Umur kurang dari 60 tahun
Tidak ada sejarah trombositosis
Jumlah platelet lebih dari 150.000 per mm3
Adanya faktor resiko kardiovaskular
Resiko tinggi
Umur 60 tahun atau lebih
Terdapat sejarah trombositosis
Diambil dari Tefferi A. Polycythemia vera: a comprehensive review and clinical
recommendations. Mayo Clin Proc 2003;78:184.

Rekomendasi untuk menilai risiko komplikasi pada PV


1. Evidence level tingkat Ia :
Pasien dengan Hypoxic Pulmonary Disease (HPD) yang berkembang
menjadi erythrocytosis yang harus dikontrol oleh dokter pernafasan
dengan terapi oksigen jangka panjang atau terapi alternatif.

2. Evidence level tingkat Ib :


Usia > 60 65 tahun, mempunyai sejarah trombosis dan hematokrit > 0,50
merupakan faktor resiko untuk thrombosis.
3. Evidence level IIa;
Jumlah trombosit tinggi merupakan faktor risiko untuk myelofibrosis.
Hematokrit > 0,45 adalah factor resiko untuk trombosis.
4. Evidence level IIb;
Pasien dengan koagulopati dan kardiopulmonari
5. Evidence level III;
Jumlah trombosit > 1500x109/L merupakan faktor risiko untuk
perdarahan. Jumlah leukosit > 15x109/L merupakan faktor risiko untuk
trombosis vena dan transformasi leukemia. Skrining rutin trombofilia tidak
didukung oleh bukti-bukti saat ini dan semua pasien harus didorong untuk
berhenti merokok.
6. Evidence level IV :
Faktor risiko konvensional untuk aterosklerosis harus diperhatikan. Jumlah
trombosit > 1500x109 / l merupakan faktor risiko untuk thrombosis (hanya
ditampilkan dalam eritroritorsis).

10.

TERAPI NON FARMAKOLOGI


Tujuan terapi non farmakologi adalah untuk mencegah bertambah parahnya

penyakit dan meningkatkan kualitas hidup pasien.


a.

Banyak berolahraga, latihan ringan seperti jalan santai dan jogging dapat
memperlancar

aliran

darah

sehingga

dapat

mengurangi

resiko

penggumpalan darah. Selain itu juga dianjurkan untuk melakukan


peregangan kaki dan lutut untuk meningkatkan sirkulasi darah.
b.

Menghindari rokok. Merokok dapat menyebabkan penyempitan pembuluh


darah yang akan meningkatkan resiko serangan jantung dan stroke akibat
penggumpalan darah.

c.

Merawat kulit dengan baik, untuk mencegah rasa gatal, mandi dengan air
dingin dan segera keringkan kulit. Hindari mandi menggunakan air panas.
Jangan biasakan menggaruk karena dapat menimbulkan luka dan infeksi.

d.

Menghindari temperatur yang ekstrim. Aliran darah yang buruk


meningkatkan resiko cedera dari suhu panas dan dingin. Dalam cuaca
dingin, gunakan pakaian hangat, terutama pada tangan dan kaki. Dalam
cuaca panas, lindungi diri dari matahari dan perbanyaklah minum air.

e.

Waspada terhadap luka. Aliran darah yang buruk menyebabkan luka sulit
sembuh, terutama di bagian tangan dan kaki. Periksa bagian tersebut secara
berkala dan hubungi dokter apabila menderita luka atau cedera.

f.

Flebotomi
Flebotomi merupakan

proses pemindahan darah seperti pada transfusi

darah. Flebotomi adalah pengobatan awal untuk sebagian besar pasien..


Terjadi peningkatan risiko trombosis pada proses flebotomi dibandingkan
dengan terapi menggunakan P32 dan chlorambucil, terutama ketika diamati
selama tiga tahun pertama. Semua pasien dengan defisiensi zat besi pada
saat pengobatan rutin dengan plebotomi dan selama penggunaan plebotomi
jangka panjang, menyebabkan sering terjadinya perbedaan antara Hb rendah
dan Hct normal karena hemoglobisasi suboptimal dari sel-sel darah merah.
Tidak ada studi yang menunjukkan adanya gejala depelesi besi pada pasien
yang menunjukan bahwa terapi dengan besi tidak memberikan efek.
Tujuan flebotomi: menjaga kadar hematokrit pada kadar 45% pada lakilaki, 42% pada wanita dan 36% pada wanita hamil.
Proses: Volume darah diambil secara berkala untuk menurunkan jumlah sel
darah merah yang berlebih agar jumlah sel merah normal, yang dihitung
dalam jangka waktu beberapa minggu atau bulan.
Keutungan: Berefek langsung, plebotomi dapat mengurangi nilai hematokrit
secara langsung,. Pengendalian penyakit dapat dicapai dengan penarikan
volume darah setiap beberapa bulan.
Kerugian: Konsekuensi dari flebotomi adalah proses mengeluarkan darah
yang menyebabkan kekurangan zat besi dan dapat menghasilkan

peningkatan gejala tertentu, seperti sakit kepala. flebotomi mungkin satusatunya bentuk pengobatan yang diperlukan bagi banyak pasien selama
bertahun-tahun.
Indikasi flebotomi:

polisitemia vera fase polisitemia-polisitemia sekunder fisiologis hanya


dilakukan jika Ht > 55 % (target Ht < 55%)

polisitemia sekunder nonfisiologis bergtantung pada derajat beratnya


gejala yang ditimbulkan akibat hiperviskositas dan penurunan nilai,
sebagai penatalaksanaan terbatasnya

gawat darurat pada sindrom

paraneoplastik.

terutama pada semua pasien pada permulaan penyakit, dan pada pasien
yang masih dalam usia subur.

Saran: Hct harus dipertahankan kurang dari 0,45 dengan plebotomi. Saat
ini tidak ada bukti yang mendukung adanya perbedaan nilai Hct pada lakilaki dan perempuan.
g.

Pembedahan
Pembedahan Darurat
Sedapat-dapatnya ditunda atau dihindari. Dalam keadaan darurat, dilakukan
flebotomi agresif dengan mengganti plasma yang terbuang dengan
plasmafusin 4% atau cairan plasma ekspander lainnya, bukan cairan
isotonis/ garam fisiologis, suatu prosedur yang merupakan tindakan
penyelamatan hidup (life-saving). Splenektomi sangat berbahaya untuk
dilakukan pada semua fase polisitemia, dan harus dihindari karena dalam
perjalanan penyakitnya jika terjadi fibrosis sumsum tulang organ inilah yang
diharapkan

sebagai

pengganti

hemopoesisnya.

Pertimbangkanan

splenektomi pada pasien dengan splenomegali akut atau penyakit


thrombosis bawaan menyebabkan infark limpa.
Pembedahan Berencana
Pembedahan berencana dapat dilakukan setelah pasien terkendali dengan
baik. Lebih dari 75% pasien dengan polisitemia vera tidak terkendali atau
belum diobati akan mengalami perdarahan atau komplikasi trombosis pada

pembedahan. Kira- kira sepertiga dari jumlah pasien tersebut akan


meninggal. Angka komplikasi akan menurun jauh jika eristrositosis sudah
dikendalikan dengan adekuat sebelum pembedahan. Makin lama telah
terkendali,

makin

kecil

kemungkinan

terjadinya

komplikasi

pada

pembedahan. Darah yang didapat dari flebotomi dapat disimpan untuk


transfusi autologus pada saat pembedahan.
11.

TERAPI FARMAKOLOGI
Terapi-terapi yang sudah ada saat ini belum dapat menyembuhkan pasien.

Yang dapat dilakukan hanya mengurangi gejala dan memperpanjang harapan


hidup pasien. Tujuan terapi farmakologi pada PV adalah sebagai berikut:
-

Menurunkan jumlah sel darah merah menjadi normal atau mendekati


normal.

Menurunkan platelet counts apabila tinggi atau menjadi lebih tinggi.

Menekan kemampuan sumsum tulang untuk menghasilkan sel darah.

Merangsang sistem kekebalan tubuh untuk melawan kelebihan produksi sel


darah merah.

Mengurangi rasa gatal dan eritromelalgia ekstremitas distal.

11.1 Kemoterapi Sitostatika


Tujuan : Pengobatan kemoterapi sitostatik adalah sitoreduksi. Obat ini
digunakan untuk pemakain jangka pendek.

Hidroksiurea
Dosis awal 20-30 mg / kg sehari.
Hidroksiurea (Hydrea ) adalah terapi yang paling sering digunakan sebagai
obat myelosuppressive untuk polycythemia vera, hidroksiurea diberikan
dalam bentuk pil.
Keuntungan : Obat ini memiliki sedikit efek samping, dan membantu untuk
mengurangi sel darah merah

serta

jumlah trombosit. Hidroksiurea

diperkirakan lebih sedikit berpotensi mendatangkan leukemia dari

obat

myelosuppressive lainnya. Hidroksiurea mengurangi risiko trombosis


dibandingkan dengan plebotomi dan aspirin.
Kerugian

: Obat ini akan menyebabkan leukemia pada penggunaan jangka

panjang.
Saran : Hidroksiurea direkomendasikan sebagai first line terapi sitoreduktif
di PV. Tidak dapat digunakan pada wanita hamil.

Interferon (pegylated interferon-alfa-2a [Pegasyss])


Dosis awal adalah 90 mg interferon secara subkutan mingguan selama 2
minggu. Dosis kemudian meningkat setiap 2 minggu (dan tidak adanya
toksisitas) untuk 135 mg subkutan mingguan dan kemudian 180 mg subkutan
mingguan jika ada hematologi respon terjadi pada tingkat yang lebih rendah.
Interferon-a (IFN) menekan proliferasi haematopoietic yang disebabkan dari
keturunan . IFN pertama kali terbukti efektif dalam memperbaiki
thrombocythemia di ET dan PV, oleh sebab itu digunakan untuk
mengendalikan kelebihan sel darah merah di PV.
Keuntungan : Kebanyakan pasien mentolerir pegylated interferon dengan
baik. Toleransi khasiat, diterima dan risiko leukemia sangat rendah dapat
membuat interferon menjadi terapi pilihan pertama di masa depan.
Kerugian : Keamanan dan kemanjuran tidak jelas pada pasien lebih muda
dari18 tahun.
Saran : IFN- secara efektif untuk mengobati PV dalam mengendalikan
proliferasi sel dan tidak menyebabkna risiko leukemogenesis. Hal ini paling
mungkin ditoleransi pada pasien di bawah 60 tahun. Karena rata-rata waktu
untuk respons klinis terhadap interferon panjang, pasien dengan nilai
trombosit > 1500 atau dengan komplikasi vaskular harus menerima
hidroksiurea sebagai terapi awal, dan kemudian dilanjutkan ke interferon.

Anagrelide
Dosis induksi anagrelide pada anak dari 0,5 mg dua kali sehari, diikuti
dengan dosis pemeliharaan 0,5-1,0 mg dua kali perhari atau disesuaikan
untuk menjaga jumlah trombosit dalam kisaran normal. Dosis disesuaikan
dengan dosis efektif terendah yang diperlukan untuk mengurangi dan

mempertahankan jumlah platelet dibawah 600.000/mm3 dan idealnya untuk


mempertahankannya dalam batas normal.
Keuntungan : Anagrelide dapat digunakan untuk mengontrol trombositosis
pada pasien PV yang tidak bisa mentolerir IFN atau Hidroksiurea.
Kerugian : Efek samping yang paling umum adalah palpitasi, sakit kepala
dan diare. Karena efek positif inotropiknya, anagrelide tidak dianjurkan pada
pasien dengan kondisi hati yang tidak baik atau penyakit jantung koroner.
Obat ini hanya efektif dalam mengendalikan jumlah trombosit, dan tidak
mengontrol perkembangan PV, misalnya peningkatan splenomegali.
Saran : Hidroksiurea dianggap sebagai alternatif yang kurang cocok karena
beresiko meningkatkan leukemia.

Busulfan
Busulfan adalah agen alkilasi itu harus disediakan untuk pasien75
tahun atau lebih, atau untuk pasien tidak toleransi HU, IFN atau anagrelide.
Keuntungan: Angka kematian lebih rendah dibandingkan dengan fosfat.
Saran:

Dosis

Rendah

busulfan

Intermittent

lebih

mujarab

dalam

mengendalikan PV dari fosfor.

Chlorambucil
Saran : chlorambucil tidak dapat direkomendasikan dalam pengobatan PV
karena resiko tinggi terhadap leukemia akut

Terapi Aspirin
Dosis : 50, 75, 100 mg Aspirin dosis rendah kadang-kadang diresepkan untuk
membantu mengurangi risiko pembekuan darah. Aspirin mengurangi risiko
infark miokard , stroke non-fatal, atau kematian akibat kardiovaskuler.
Mekanisme : Obat bekerja pada trombosit untuk mengurangi kecenderungan
sel darah merah untuk membentuk gumpalan.
Keuntungan : Aspirin secara signifikan lebih efektif. Kejadian perdarahan
utama tidak meningkat secara signifikan. Dalam kasus kontraindikasi
terhadap aspirin, clopidogrel biasa dijadikan sebagai alternatif, tetapi saat ini
belum ada bukti untuk kemanjuran obat ini pada PV.

Kerugian : Menyebabkan trombosis pada kasus jumlah platelet > 1,5


million/ L.
Saran : Aspirin harus diberikan kepada semua pasien PV kecuali
kontraindikasi.
P 32
Fosfor adalah radioisotop terapi pertama yang digunakan pada leukemia
sekitar 70 tahun yang lalu. Sebagai obat baru bagi proliferations
hematologikal yang berhasil diperkenalkan . Penelitian membuktikan bahwa
pengobatan yang optimal pada pasien usia lanjut dengan PV dan
thrombocythaemia dapat dilakukan dengan fosfor .
Proses : Radiofarmaka ini diberikan dengan cara injeksi intravena injeksi
atau secara langsung. Alternatif, pendekatan-peningkatan dosis adalah untuk
mengelolah dosis rendah tetap sebesar 111 MBq (3 mCi). Karena indikasi
pengobatan tidak tercapai

(PV yaitu: hematokrit <47%; pengurangan

trombosit dan leukosit> 25%; ET: trombosit <450 109 / l), pengobatan
kedua harus diberikan setelah 3 bulan, kali ini dengan peningkatan 25% dosis.
Prosedur ini dapat diulang setiap 3 bulan sampai respon yang memadai
diperoleh. Aktivitas batas maksimum untuk administrasi tunggal adalah 260
MBq (7 mCi).
Keuntungan : Fosfor secara sempurna ditoleransi dengan baik dan efisien
pada pasien lansia (> 65 tahun), dan menginduksi kelangsungan hidup
panjang dengan kualitas hidup yang sangat baik.
Kerugian : Tidak didapat digunakan untuk wanita hamil, menyusui dan
wanita pada usia subur.
Saran : Setelah pengobatan, pasien harus menghindari kehamilan setidaknya
selama 4 bulan. Pemantauan hematologis setelah

terapi , penting untuk

menghindari myelosupresi dan merencanakan pengobatan selanjutnya,


dengan memeriksa jumlah darah biasanya, setiap 4-6 minggu. Efek samping
awal adalah leukopenia dan trombositopenia umumnya diamati pada 4-6
minggu dan menghilang secara spontan dalam 4 bulan

Table 2. Agen Myelosupresif untuk pengobatan Polycytemia Vera

Tabel 3. alogaritma pengobatan pasien dengan polycytemia vera


Risk Category

Age < 60 Years

Low

Phlebotomy

Indeterminate

Phlebotomy

Age 60 Years

Women of
Childbearing
Age

Not applicable

Phlebotomy

Not applicable

Phlebotomy

Phlebotomy +
hydroxyurea or
interferon-

High

Phlebotomy +
hydroxyurea

Phlebotomy +
interferon-

Use of low-dose aspirin is optional and not evidence based. Use of aspirin is discouraged
if the platelet count is > 1.5 million/ L, in which case anagrelide may be used to control
symptomatic thrombocytosis. There is some preliminary evidence to support the use of
low-dose aspirin in addition to cytoreductive therapy. Its use is based on anecdotal
evidence of safety.

Pengobatan pendukung
a. Hiperurisemia diobati dengan allopurinol 100-600 mg/hari melalui oral
pada pasien dengan penyakit yang aktif dengan memperhatikan fungsi
ginjal.
b. Pruritus dan urtikaria dapat diberikan anti histamin, yang paling efektif.
Cholestyramine 4 g (oral), siproheptadin 4 mg (oral), simetidin 300 mg
(oral), atau paroxetine 20 sampai 40 mg (oral) sekali / hari mungkin bisa
berhasil. Setelah mandi, kulit harus dikeringkan dengan lembut. jika
diperlukan dapat diberikan Psoralen dengan penyinaran Ultraviolet range
A (PUVA).
c. Gastritis/ulkus peptikum dapat diberikan penghambat reseptor H2.
d. Anagrelid digunakan sebagai substitusi atau tambahan ketika hidroksiurea
tidak memberikan toleransi yang baik atau dalam kasus trombositosis
sekunder (jumlah platelet tinggi). Anagrelid

mengurangi

tingkat

pembentukan trombosit di sumsum. Efek samping yang dapat terjadi


adalah retensi cairan, jantung dan masalah tekanan darah, sakit kepala,
pusing, mual dan diare. Pasien yang lebih tua dan pasien dengan penyakit
jantung umumnya tidak diobati dengan anagrelid
e. Aspirin mengurangi gejala erythromelalgia; dosis tinggi mungkin
diperlukan tetapi jelas meningkatkan risiko perdarahan.

11.2 Terapi pengobatan lain yang tidak anjurkan


1) Imatinib
Dosis 800 mg mungkin lebih efektif dari 400 mg.

Karena efek yang terbatas dan biaya yang tinggi, imatinib tidak dapat
direkomendasikan untuk PV saat ini.
2) Pipobroman
Karena pipobroman tidak tersedia di negara-negara Nordik .

11.3 Rekomendasi untuk pengobatan PV


Proses plebotomi untuk mempertahankan Hct untuk < 0,45 Aspirin 75 100
mg / hari kecuali kontraindikasi

Sitoreduksi harus diberikan untuk :


-

Semua pasien > 60 tahun dengan tingkat elevasi trombosit dalam


rangka mencegah trombosis.

Semua pasien dengan penyakit trombotik bawaan dengan tingkat


elevasi trombosit, untuk mencegah trombosis

Semua pasien dengan trombosit> 1500 x 109 / L untuk mencegah


perdarahan dan thrombosis

Cytoreduction juga dapat dipertimbangkan pada pasien:


-

Dengan jumlah leukosit> 15 x109 / L untuk mencegah trombosis *

<60 tahun dengan trombosit> 600 x 109 / L untuk mendapatkan


pengurangan molekul *

Dengan toleransi yang rendah dengan flebotomi

Dengan gejala splenomegali atau lanjutan

Dengan bukti lain pengembangan penyakit misalnya berat badan,


berkeringat pada malam hari.
* Tidak berlaku untuk anagrelide

11.4 Pilihan Terapi Sitoreduktif


-

<60 tahun: line 1 Interferon, HU line 2, line 3 * anagrelide

60-75 tahun: line 1 HU, interferon ine 2, line 3* anagrelide

> 70 tahun: line 1 HU, line 2 mempertimbangkan terapi kombinasi (HU


dan * ana, HU dan IFN) busulfan line 3 intermiten, P32 line 4

* Anagrelide hanya diindikasikan untuk terapi trombositosis

11.5 Terapi kombinasi


Dalam praktek klinis di mana kadang-kadang sulit untuk mencapai tujuan
pengobatan yang diinginkan karena penggunaan tunggal, terapi kombinasi dengan
HU dan anagrelide, IFN dan anagrelide, atau HU dan IFN mungkin memiliki
keuntungan karena efek samping dapat dikurangi atau adanya peningkatan
kemanjuran.

11.6 Interaksi obat dan masalah dalam pengobatan


1) Kemoterapi Sitostatika
Hidroksiurea
Penggunaan bersama hidroksiurea dan agen myelosuppressive lain atau
terapi radiasi dapat meningkatkan kemungkinan depresi sumsum tulang
atau peristiwa-peristiwa buruk lainnya. Karena hidroksiurea dapat
menaikkan tingkat asam urat serum, dosis penyesuaian pengobatan
urikosurik mungkin diperlukan.
Anagrelide
Dalam dua studi interaksi klinis pada orang sehat, ko-administrasi
anagrelide dosis tunggal 1 mg dan aspirin 900 mg atau dosis berulang
anagrelide 1 mg sekali sehari dan aspirin 75 mg sekali sehari ex vivo
menunjukkan lebih besar agregasi platelet anti-efek dari pemberian aspirin
saja. Co-administrasi anagrelide 1 mg dan aspirin 900 mg dosis tunggal itu
tidak berpengaruh pada waktu pendarahan, waktu prothrombin (PT) atau
aktifasi waktu parsial tromboplastin (aPTT). Potensi resiko dan
keuntungan dari penggunaan anagrelide seiring dengan aspirin harus
dikaji, terutama pada pasien dengan profil risiko tinggi untuk perdarahan,
sebelum perawatan dimulai.
Interferon, Busulfan, dan Chlorambucil
Penyakit leucopenia dan trombositopenia meningkatkan efek interferon
pada pemakaian yang berturut-turut.atau terapi berulang, apabila
pengobatan menyebabkan efek yang sama, dosis mengalami penyesuain.

Dengan

terapi radiasi dan agen myelosuppressive lain menyebabkan

penurunan dosis pada penggunaan yang berlansung lama atau berturuturut.


Interferon : Dengan alkohol dan depressant CNS pada penggunaan
berturut-turut menyebabkan peningkatan efek depressant CNS dari
salah satu pengobatan atau interferon alpa.
Busulfan : pada terapi sitotoksik menyebabkan toksisistas pada
pulmonary yang dapat menambahkan efek yang dihasilkan dari obat
sitotoksik lainnya.
Chlorambusil : Dengan imunosupresant akan meningkatkan resiko
infeksi dan terganggunya perkembangan pada bayi.
2) Terapi Aspirin
Aspirin dan obat trombolitik
Obat trombolitik:
Alteplase
Anistreplas
Streptokinase
Urokinase
Menyebabkan hipoprotombenia, peningkatan antikoagulan dan resiko
pendarahan.
3) P 32
Penelitian membuktikan fosfor dan flebotomi ditambah dosis tinggi agen
anti-platelet, aspirin (300 mg) dan dipyridamole (75mg), tingkat
pendarahan dan kematian secara signifikan menjadi meningkat pada
kelompok kombinasi plebotomi dan antiplatelet.

12.

STUDI KASUS
Seorang wanita 54 tahun, didiagnosis PV saat ia mengeluh sakit kepala,

migrain, pruritus,tidak ada sejarah trombositosis


Data

Konsentrasi

Normal

Hemoglobin

17,5 g/dL

12 16 g/dL

Hematokrit

53%

425 %

Sel darah putih

16.000/mm3

4.000 10.000/mm3

Platelet

5,34 juta/L

1,5 juta 4 juta/L

Eritrosit

5,2 juta/L

4-5 juta/L

Eritropoietin

Berkurang

Leukosit

(neutrofil)

Menigkat

<100 U/L

alkali pospat

Pembahasan:

Manifestasi klinik dan hasil uji lab menunjukkan bahwa pasien menderita
PV

Terapi yg dianjurkan:
Flebotomi : menstabilkan hematokrit
sitoreduktif,
usia < 60 tahun

1st line: interferon


2nd line: HU
3rd line: anagrelid

Untuk membantu terapi diberikan juga aspirin untuk mencegah thrombosis.

13.

TERMINOLOGI MEDIK

Eritrosit1

Sel darah merah yang matang.

Eritropoiesis

Proses pembentukan sel darah merak

Eritropoietin

Salah satu faktor perangsang pembentukan sel darah


merah

Eritrositosis

Kelebihan jumlah sel darah merah

Erythromelalgia

Sebuah kondisi di mana pada jari tangan atau kaki,


atau bahkan lebih besar bagian dari anggota badan,
menjadi ungu dan bengkak dan sangat menyakitkan.
Pada orang yang menderita kondisi --yang tidak
umum satu - serangan datang dan pergi, menjadi
lebih buruk di musim panas (tidak seperti bengkak
karena kedinginan), dan lebih buruk saat aktivitas.
Kondisi mungkin muncul tanpa jelas penyebabnya,
namun sering dikaitkan dengan vaskular penyakit,
seperti HIPERTENSI dan Polisitemia VERA.

Gastritis

Peradangan pada lambung

Haemopoiesis

Pembentukan sel-sel darah dan trombosit secara


terus-menerus seumur hidup di sumsum tulang
belakang untuk menggantikan sel yang sudah tua
atau rusak.

Haematocrit

Packed cell volume : fraksi dari total volume darah


yang menunjukkan jumlah sel darah merah, biasanya
dalam satuan % dalam 100 mL darah

Hidronefrosis

pembengkakan panggul dari ginjal disebabkan oleh


akumulasi air akibat infeksi atau ginjal memblokir
batu ureter

Hipoksia

Kekurangan oxygen dalam jaringan tubuh. Ini dapat


disebabkan oleh rendahnya konsentrasi oksigen,
pola pernapasan yang tidak normal, penyakit paruparu atau penyakit jantung. Jika parah dan
berkepanjangan itu akan menyebabkan kerusakan
organ dan kematian.

JAK2V617F

Mutasi yang disebabkan karena aktivasi konstitutif


dari kinase, dengan deregulasi isyarat intraseluler
yang

meniru

stimulasi

hematopoietic

mempengaruhi faktor pertumbuhan.

yang

Koagulopati

Komplikasi yang sering timbul pada penderita


cedera kepala berat karena pelepasan tromboplastin
jaringan dari otak ke sirkulasi darah.

Leucocyte

Sel darah yang berinti tetapi tidak mengandung


hemoglobin; sel darah putih.

Leukopenia

Kondisi dimana jumlah leukosit kurang dari


3500/mm3.

Leukositosis

Peningkatan sel darah putih

Masa tromboplastin parsial (PTT) : uji pemindahan yang digunakan untuk


mendeteksi apakah terdapat defisiensi pada seluruh
faktor pembekuan darah.
Myelofibrosis

kelainan perkembangan hati yang ditandai oleh


pembentukan pita-pita jaringan fibrosa pada sumsum
tulang belakang, yang terjadi bersamaan dengan
anemia.

Myeloproliferative disease : penyakit pada sel induk myeloid


Myelosupresi

Obat yang bekerja dengan m enekan produksi sel


darah merah.

Pleobotomy

Proses mengeluarkan darah dengan membuka vena.

Pluripotent

Sel induk pembentuk sel darah

Protrombin

Sejenis glikoprotein yang dibentuk oleh dan


disimpan dalam hati. Berperan dalam proses
pembekuan darah yang merukan prekusor dari
thrombin.

Pruritus

Iritasi kulit yang menyebabkan kegatalan.

Sindroma Paraneoplastik : sekumpulan gejala yang bukan disebabkan oleh


tumornya sendiri, tetapi oleh zat-zat yang dihasilkan
oleh kanker.
Sroke

Gangguan terhadap beberapa fungsi otak yang


disebabkan oleh terhambatnya jaringan-jarinagn
yang membentuk sambungan pada suatu organ.

Splenomegaly

Transfusi autologus :

Pembesaran limpa ukuran di luar normal.


Transfusi yang menggunakan darah penderita sendiri
untuk transfusi.

Trombosis

Penyumbatan arteri atau vena oleh darah yang


menggumpal

Trombosit = platelet :

Sel darah yang melepaskan tromboplastin dan yang


berlipat ganda cepat setelah cedera, mendorong
pembekuan darah. Juga disebut trombosit.

Trombofilia

Keadaan hiperkoagulasi yang berhubungan dengan


predeposisi terhadap trombolitik.

Trombositopenia

berkurangnya

jumlah

sel-sel

keping

darah

(trombosit) di dalam tubuh (darah) karena suatu hal.


biasanya disebabkan oleh kanker
Trombositosis

Peningkatan jumalah trombosi dalam sirkulasi.

Ulkus peptikum

Keadaan di mana kontinuitas mukosa lambung


terputus dan meluas sampai di bawah epitel.
Kerusakan mukosa yang tidak meluas sampai ke
bawah epitel disebut erosi, walaupun seringkali
dianggap juga sebagai tukak.(misalnya tukak karena
stress).

Urikosurik

Obat yang menghambat produksi asam urat.

Urtikaria

Suatu reaksi alergi yang ditandai oleh bilur-bilur


berwarna

merah

dengan

berbagai

ukuran

di

permukaan kulit.
DAFTAR PUSTAKA

Beutler E, Lichtman, MA, Coller B, Kipps TJ. Polycythemia Vera. In Williams


Hematology, New York City: McGraw-Hill Book Co.,1995.
Clinic, M., 2008. SPOTLIGHT REVIEW Classification and diagnosis of
myeloproliferative neoplasms: The 2008 World Health Organization

criteria and point-of-care diagnostic algorithms. Leukemia, (August 2007),


14-22.
Harrison CN, Campbell PJ, Buck G, Wheatley K, East CL, Bareford D, Wilkins
BS, van der Walt JD, Reilly JT, Grigg AP, Revell P, Woodcock BE, Green
AR, United Kingdom Medical Research Council Primary
Thrombocythemia 1 Study. Hydroxyurea compared with anagrelide in
high-risk essential thrombocythemia. N Engl J Med 2005; 353: 33-45.
Prince, Sylvia dan Wilson, Lorraine. 2005. Patofisiologi, Konsep Klinis dan
Proses-proses Penyakit Edisi 6 Volume 1. Penerbit Buku Kedokteran.
ECG. Jakarta.
Spivak, Jerry, L dan Silver, Richard, T., 2008. The revised World Health
Organization diagnostic criteria for Polycythemia Vera Essential
Thrombocytosis, and Primary Myelofibrosis: an Alternative Poposal, The
American Society of Hematology, Blood 122 (2): 231-239
Stuart, rian, J. dan Viera, Anthony, J., 2004. Polycythemia Vera (Pharmaceutical
Therapeutics), American Family Physician 69 (9): 2139-2144
The Leukemia and Lymphoma Society, 2007, Polycythemia Vera. No. 13 in a
series providing the latest information on blood cancers. White Plains, NY ,
www.LLS.org.

The Leukemia and Lymphoma Society, 2004, Polycythemia Vera. A Disease of A


Bone Marrow Cell,White Plains, NY , www.LLS.org.
Weinberg, Ido. Dr., 2010. Janus Kinase 2 (JAK2). Vascular Medicine at
http://www.angiologist.com

Anda mungkin juga menyukai