Anda di halaman 1dari 5

PRESIPITASI

Presipitasi adalah curahan atau jatuhnya air hujan dari atmosfer ke


permukaan bumi dan laut dalam bentuk yang berbeda, yaitu curah hujan di
daerah tropis dan curah hujan serta salju di daerah beriklim sedang. Mengingat di
daerah tropis presipitasi hanya ditemui dalam bentuk curah hujan, maka
presipitasi dalam konteks daerah tropis adalah sama dengan curah hujan.
Presipitasi adalah factor utama yang mengendalikan proses daur hidrologi
di Suatu DAS. Terbentuknya ekologi, geografi dan tata guna lahan di suatu daerah
sebagian besar ditentukan atau tergantung pada fungsi daur hidrologi dan dengan
demikian, presipitasi merupakan kendala sekaligus kesempatan dalam usaha
pengelolaan sumber daya tanah dan air. Oleh karenanya para perencana
pengelola DAS diharapkan memahami bagaimana caranya melakukan analisis dan
menentukan karakteristik presipitasi, melakukan pengukuran dan perhitunganperhitungan besarnya presipitasi dan dalam bentuk apa data presipitasi disajikan.
Presipitasi mempunyai banyak karakteristik yang dapat mempengaruhi
produk akhir suatu hasil perencanaan pengelolaan DAS. Besar kecilnya presipitasi,
waktu berlangsungnya hujan, dan ukuran serta intensitas hujan yang terjadi akan
mempengaruhi kegiatan pembangunan (proyek) yang diusulkan (a.l. pembangkit
listrik tenaga air, proyek irigasi, konservasi tanah dan air). Bagi mereka yang
berminat pada pengelolaan sumberdaya air regional atau pengembangan
tanaman pangan, dapat mefokuskan perhatiannya kepada pola penyebaran air
hujan ,musiman dan tahunan serta tingkat reliabilitasnya.

Mekanisme Presipitasi
Proses terjadinya presipitasi diawali ketika sejumlah uap air di atmosfer
bergerak ke tempat yang lebih tinggi oleh adanya beda tekanan uap air. Uap air
bergerak dari tempat dengan tekanan uap air lebih besar ke tempat dengan
tekanan uap air yang lebih kecil. Uap air yang bergerak ke tempat yang lebih
tinggi (dengan suhu udara menjadi lebih rendah) tersebut pada ketinggian

tertentu akan mengalami penjenuhan dan apabila hal ini diikuti dengan terjadinya
kondensasi maka uap air tersebut akan berubah bentuk menjadi butiran-butiran
air hujan. Udara di atmosfer mengalami proses pendinginan melalui beberapa
cara antara lain, oleh adanya pertemuan antara dua massa udara dengan suhu
yang berbeda atau oleh sentuhan antara massa udara dengan obyek atau benda
dingin. Seperti telah disinggung di atas bahwa proses pendinginan yang paling
umum adalah terjadinya gerakan massa udara ke tempat yang lebih tinggi oleh
adanya beda tekanan uap air. Adanya pembentukan awan tidak dengan
sendirinya diikuti dengan terjadinya hujan. Namun demikian, keberadaan awan
dapat dijadikan indikasi awal untuk berlangsungnya presipitasi.
Hujan dapat terjadi oleh pertemuan antara dua massa air, basah dan panas.
Tipe-tipe hujan yang umum dijumpai di daerah tropis dapat disebutkan sebagai
berikut :
1. Hujan Konvektif (Convectional stroms)
Tipe hujan ini disebabkan oleh karena adanya beda panas yang diterima
permukaan tanah dengan panas yang diterima oleh lapisan udara di atas
permukaan tanah tersebut. Sumber utama panas di daerah tropis adalah
berasal dari matahari. Beda panas ini biasanya terjadi pada akhir musim kering
yang akan menyebabkan hujan dengan intensitas tinggi sebagai hasil proses
kondensasi massa air basah pada ketinggian di atas 15 km. Tipe hujan konvektif
biasanya dicirikan dengan intensitas yang tinggi, berlangsung relative cepat dan
mencakup wilayah yang tidak terlalu luas.
2. Hujan Frontal (frontal/cyclonic stroms)
Tipe hujan yang umumnya disebabkan oleh bergulungnya dua massa udara
yang berbeda suhu dan kelembaban. Pada tipe hujan ini, massa udara lembab
yang hangat dipaksa bergerak ke tempat yang lebih tinggi (suhu lebih rendah
dengan kerapatan udara dingin yang lebih besar). Tipe hujan yang dihasilkan
adalah hujan yang tidak terlalu lebat dan berlangsungnya dalam waktu yang
lebih lama (hujan intensitas rendah).
3. Hujan orografik (Orographic stroms)
Jenis hujan yang umumnya terjadi di daerah pegunungan, yaitu ketika massa
udara bergerak ke tempat yang lebih tinggi mengikuti bentang lahan

pegunungan sampai saatnya terjadi proses kondensi. Ketika massa udara


melewati daerah bergunung, pada lereng dimana angin berhembus (windward
side) terjadi hujan orografik. Tipe hujan orografik dianggap sebagai pemasok air
tanah, danau, bendungan dan sungai karena berlangsungnya di daerah hulu
DAS.

Pengukuran Presipitasi
Besarnya presipitasi diukur dengan menggunakan alat penakar curah hujan
yang umumnya terdiri atas dua jenis yaitu alat penakar hujan tidak otomatis dan
alat penakar hujan otomatis. Alat penakar hujan tidak otomatis pada dasarnya
hanya berupa container atau ember yang diketahui diameternya. Untuk
mendapatkan data presipitasi yang memadai dengan menggunakan alat penakar
hujan tidak otomatis, alat penampung air hujan biasanya dibuat dalam bentuk
bulat memanjang kea rah vertical untuk memperkecil terjadinya percikan hujan.
Diameter dan ketinggian bidang penangkap air hujan bervariasi dari satu negara
ke negara lainnya. Di Amerika Serikat, alat penakar hujan tidak otomatis (standar)
yang digunakan mempunyai dimensi diameter 20 cm dan ketinggian 79 cm. Untuk
memudahkan prosedur pengukuran curah hujan dengan memanfaatkan alat
penakar hujan tidak otomatis, dimensi diameter dan ketinggian alat yang
disarankan berkisar antara 15 - 30 cm dan antara 50 - 75 cm.
Alat penakar curah hujan otomatis adalah alat penakar hujan yang
mekanisme pencatatan besarnya curah hujan bersifat otomatis. Dengan cara ini,
data hujan yang diperoleh selain besarnya curah hujan selama periode waktu
tertentu, juga dapat dicatat lama waktu hujan dan dengan demikian intensitas
hujan dapat ditentukan. Dua jenis alat penakar hujan otomatis yang sering
digunakan adalah
1. weighing bucket raingauge
Jenis alat ini terdiri atas corong penangkap air hujan yang ditempatkan di atas
ember penampung air yang terletak di atas timbangan yang dilengkapi dengan
alat pencatat otomatis. Alat pencatat (pen) pada timbangan tersebut
dihubungkan ke permukaan kertas grafik yang tergulung pada sebuah kaleng
selinder. Dengan demikian setiap terjadinya hujan, air hujan tertampung oleh

corong akan dialirkan ke dalam ember yang terletak di atas timbangan. Setiap
ada penambahan air hujan ke dalam ember, timbangan akan bergerak turun.
Gerakan timbangan ini akan menggerakkan alat pencatat (pen) yang
berhubung dengan kertas grafik sedemikian rupa sehingga perubahan volume
air hujan yang masuk ke dalam ember dapat tercatat pada kertas grafik.
Setiap periode waktu tertentu gulungan kertas grafik dilepaskan untuk
dilakukan analisis dan apabila sudah waktunya, kertas grafik dan tinta perlu
diganti dengan yang baru.
2. tipping bucket raingauge
Jenis alat penakar ini dianggap lebih canggih, alat ini beroperasi secara
otomatis dan tidak memerlukan tinta dan kertas dalam mencatat data hujan
sehingga tidak perlu mengganti tinta atau kertas setiap beberapa hari sekali.
Mekanisme kerjanya sesuai dengan namanya, adalah dengan cara tipping atau
seperti cara kerja timbangan (duduk) dimana salah satu bucket atau
kantong/ember penampung air bergerak (jatuh) ke bawah setiap kali
menerima beban (air hujan) dengan volume tertentu. Dengan cara ini,
curahan air hujan dihitung/dicatat oleh pencatat otomatik (logger) yang
diletakkan terpisah dari alat ukur tipping bucket. Pada alat ukur hujan
otomatis yang kedua ini pengambilan data hujan di lapangan dilakukan
dengan bantuan computer karena data hujan dan waktu terjadinya hujan
tersimpan dalam data logger.

Perhitungan Presipitasi
Para pakar hidrologi dalam melaksanakan pekerjaannya seringkali
memerlukan informasi besarnya volume presipitasi rata-rata untuk suatu daerah
tangkapan air atau daerah aliran sungai. Untuk mendapatkan data curah hujan
yang dapat mewakili daerah tangkapan air tersebut diperlukan alat penakar
hujan dalam jumlah yang cukup. Dengan semakin banyaknya alat-alat penakar
hujan yang dipasang di lapangan diharapkan dapat diketahui besarnya variasi
curah hujan di tempat tersebut dan juga besarnya presipitasi rata-rata yang akan
menunjukkan besarnya presipitasi yang terjadi di daerah tersebut.

Untuk menghitung curah hujan harian, bulanan, dan tahunan di suatu subDAS/DAS, umumnya digunakan dua cara perhitungan, yaitu :
1. Rata-rata aritmatik
Cara ini adalah perhitungan adalah rata-rata secara aljabar, dari beberapa
stasiun hujan yang member pengaruh dalam suatu DAS.
2. Teknik polygon (Thiessen polygon)
Dilakukan dengan cara menghubungkan satu alat penakar hujan dengan lainnya
dengan menggunakan garis lurus. Pada peta daerah tangkapan air untuk
masing-masing alat penakar hujan, daerah tersebut dibagi menjadi beberapa
polygon (jarak garis pembagi dua penakar hujan yang berdekatan lebih kurang
sama).
Hasil pengukuran pada setiap alat penakar hujan terlebih dahulu diberi bobot
(weighing) dengan menggunakan bagian-bagian wilayah dari total daerah
tangkapan air yang diwakili oleh alat penakar hujan masing-masing lokasi
dijumlahkan. Daerah polygon untuk masing-masing alat penakar hujan dihitung
dengan menggunakan planimeter atau autocad.