Anda di halaman 1dari 29

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan gigi dan mulut merupakan masalah yang penting dan perlu
diperhatikan. Permasalahan kesehatan gigi dan mulut yang paling sering
terjadi adalah karies dan penyakit periodontal (Kurniawati, 2007). Karies gigi
banyak terdapat di seluruh dunia, tanpa memandang umur, bangsa ataupun
keadaan ekonomi. Menurut penelitian di negara Eropa, Amerika dan Asia
termasuk Indonesia, ternyata 80 95 % dari anak di bawah umur 18 tahun
terserang karies gigi (Tarigan, 1995).
Karies gigi berasal dari asam yang merupakan hasil fermentasi
karbohidrat dari sisa makanan oleh bakteri dalam mulut. Minuman ringan
merupakan minuman yang tidak mengandung alkohol (non-alkohol),
merupakan minuman yang berkarbonat. Minuman ringan mengandung bahan
pemanis, asam dan bahan perasa alami maupun buatan seperti susu fermentasi
atau biasa disebut dengan istilah Yogurt, apalagi pada anak-anak yang sering
meminum yogurt bisa mengakibatkan karies. Minuman ringan yang berbahaya
bagi enamel adalah minuman yang mengandung karbohidrat yang mudah
difermentasi, sangat asam dan mempunyai adesi termodinamik yang sangat
tinggi, sehingga minuman ini tidak mudah dihilangkan oleh saliva (Prasetyo,
2005)
Peneliti terdahulu mengidentifikasikan mikroorganisme spesifik
penyebab karies gigi adalah Streptococcus mutans dan Lactobacillus
acidophilus (Herdiyati, 2007). Bakteri tersebut mampu mengubah glukosa dan
karbohidrat pada makanan menjadi asam melalui proses fermentasi (Pratiwi,
2007). Asam yang terbentuk dapat melunakkan bagian terkeras gigi yaitu
email (Pratiwi, 2007). Bila lapisan email telah rusak maka bakteri dapat
masuk ke lapisan yang lebih dalam yaitu dentin. Jika tidak dirawat, proses ini
akan terus berjalan sehingga lubang semakin dalam (Pratiwi, 2007). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa Streptococcus mutans berperan dalam
permulaan (initial) terjadinya karies, sedangkan Lactobacillus sp berperan

dalam proses perkembangan dan kelanjutan karies (Soesilo et al, 2005). Ada
banyak spesies Lactobacillus sp yang teridentifikasi pada saliva dari subyek
yang karies, namun yang terbanyak yaitu Lactobacillus acidophilus (Badet
dan Thebaud, 2008). Lactobacillus

Acidophilus dapat tumbuh dalam

lingkungan anaerob maupun aerob, dan bakteri ini dapat hidup pada
lingkungan yang sangat asam sekalipun, seperti pada pH 4-5 atau dibawahnya
dan bakteri ini merupakan bakteri homofermentatif (Rosiana, 2008).
Adapun bahan aktif yang diduga berperan dalam menghambat maupun
membunuh bakteri adalah senyawa fenol. Dari sekian banyak contoh
kelompok bahan antimikrobial, senyawa fenol ini yang paling banyak
digunakan karena senyawa tersebut tidak hanya terdapat pada antibiotik
sintetik, namun pada senyawa alam dikenal sebagai polifenol. Tanaman yang
banyak mengandung polifenol telah terbukti dapat sebagai antibakteri (Xia et
al, 2010).
Akhir-akhir ini, buah anggur mulai banyak diteliti manfaat
farmakologisnya. Buah anggur mengandung berbagai macam elemen nutrisi
seperti vitamin, mineral, karbohidrat dan polifenol. Polifenol ini merupakan
fitokimia pada buah anggur yang paling penting yang ada dalam anggur
karena punya antimikroba. Kulit buah anggur merah (Vinis Vitifera L)banyak
memilki kandungan senyawa resvetarol (stilbene), tanin dan anthosianin. Dari
kandungan tanin dan anthosianin ini memiliki paling banyak antimikroba pada
bakteri khususnya Lactobacillus Acidophillus (Xia et al, 2010).
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti ingin menguji daya anti
bakteri dengan ekstrak kulit buah anggur merah (Vinis Vitifera L) terhadap
pertumbuhan bakteri Lactobacillus Acidophillus. Diharapkan penelitian ini
bisa dapat mengetahui kebenaran tentang menguji daya anti bakteri dengan
ekstrak kulit buah anggur merah (Vinis Vitifera L) terhadap pertumbuhan
bakteri Lactobacillus Acidophillus.

1.2 Rumusan Masalah


Apakah

ekstrak kulit buah anggur merah

sebagai daya antibakteri

terhadap pertumbuhan bakteri Lactobacilus acidophilus?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1

Tujuan Umum
Untuk mengetahui daya anti bakteri dengan ekstrak kulit buah
anggur merah (Vinis

Vitifera L) terhadap pertumbuhan bakteri

Lactobacillus Acidophillus.
1.3.2

Tujuan Khusus
Ingin mengetahui nilai Kadar Hambat Minimal (KHM) dan untuk
melihat nilai Kadar Bunuh Minimal (KBM) dari ekstrak kulit buah anggur
merah (Vinis Vitifera L) terhadap pertumbuhan bakteri Lactobacillus
Acidophillus.

1.4 Manfaat Penelitian


Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:
1. Memberikan informasi bagi masyarakat mengenai daya antibakteri terhadap
ekstrak kulit buah anggur merah (Vinis Vitifera L) terhadap pertumbuhan
bakteri Lactobacillus Acidophillus.
2. Memberikan alternatif bahan alami yang bersifat antimikroba terutama
terhadap bakteri patogen penyebab penyakit gigi dan mulut.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anggur Merah (Vinis Vitifera L)


Secara Taksonomi, anggur merah menurut (Greybeard, 2008) diklasifikan adalah
sebagai berikut
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Rhamnales
Family : Vitacea
Genus : Vitis
Spesies : Vitis vinifera L.
Anggur merupakan tanaman perdu yang merambat dari family vitaceae
yang memiliki akar tunggang dan batang bulat yang jelas berkayu (Wiryanta,
2007). Batang Vitis vinifera dapat tumbuh sampai 15 meter dan tumbuh ke arah
cahaya matahari, dimana pertumbuhannya membutuhkan alat penunjang yaitu
cabang pembelit (Setiadi, 2008). Daun Vitis vinifera termasuk daun tunggal.
Ujung daun runcing dengan pangkal daun tidak bertemu, terpisah oleh pangkal
ibu tulang daun dan berbentuk emarginatus. Tepi daunnya mempengaruhi bentuk
daun yaitu bertepi daun berlekuk menjari. Susunan tulang daun menjari. Daun
berwarna hijau dengan permukaan daun berambut (Wiryanta, 2007). Bunga Vitis
vinifera termasuk bunga majemuk tidak berbatas yang berbentuk malai, bersifat
polisimetris dengan tajuk bunga beraturan membentuk mangkuk. Bunga yang
semula berbentuk malai, setelah berbuah menjadi bentuk lonjong atau bulat
dengan ukuran 1-2,5 cm (Wiryanta, 2007). Buah Vitis vinifera ialah buah sejati
tunggal

yang

berdaging.

Bentuknya

hampir

bulat

dengan

permukaan

epikarpiumnya dilapisi tepung. Biji buah Vitis Vinifera berbentuk lonjong


berwarna coklat muda.
Anggur

berasal

dari

Armenia,

namun

budidaya

anggur

sudah

dikembangkan diTimur Tengah sejak 4000 SM. Anggur mulai menyebar ke


Mexico, Amerika Selatan, Afrika selatan, Asia termasuk Indonesia dan Australia

sejalan dengan perjalanan Columbus (Setiadi, 2008). Penyebaran ini juga


menjadikan anggur punya beberapa sebutan seperti grape di Eropa dan Amerika,
orang China menyebut pu tao dan di Indonesia disebut anggur (Nassiri dan
Hosseintadeh, 2009). Anggur yang bisa dimakan hanya dua jenis yaitu Vitis
vinifera dan Vitis labrusca.
Tanaman anggur jenis Vitis vinifera mempunyai ciri :
1. Kulit tipis, rasa manis, segar dan mampu tumbuh dari dataran rendah hingga
300 m dari permukaan laut beriklim kering.
2. Termasuk jenis ini adalah Gros Colman, Probolinggo Biru dan Putih, Situbondo
Kuning, Alphonso Lavalle dan Golden Champion.
Sedangkan tanaman anggur jenis Vitis labrusca mempunyai ciri :
1. Kulit tebal, rasa masam, kurang segar dan mampu tumbuh dari dataran rendah
hingga 900 m dari permukaan laut.
2. Termasuk jenis ini adalah Brilliant, Delaware, Carman, Beacon dan Isabella.
Jenis anggur yang banyak dikembangkan di Indonesia dan direkomendasi
oleh Departemen Pertanian sebagai jenis unggul adalah jenis Vitis vinifera dari
varietas Anggur Probolinggo Biru dan Alphonso Lavalle (Setiadi, 2008).
Pada saat ini daerah penanaman anggur semakin meluas baik di daerah
sentra produksi lama maupun daerah pengembangan baru, sehingga diharapkan
nilai produksi dapat meningkat. Pada awalnya daerah sentra anggur di dataran
rendah seperti Probolinggo menanam varietas anggur Probolinggo Biru dan
Probolinggo Putih, tetapi pada tahun 2002 anggur merah varietas Probolinggo
Super dan Prabu Bestari mulai menyebar dan berkembang di daerah ini, sebagai
tanaman pekarangan maupun ditanam pada skala luas (Setiadi, 2008). Anggur
merah ini mempunyai sejumlah keunggulan dibandingkan jenis lain yaitu rasanya
manis dengan tekstur yang keras, jumlah biji relatif sedikit, dan tidak mudah
busuk dalam penyimpanan.
Terdapat beberapa macam spesies anggur di dunia. Jenis anggur yang
sering dikonsumsi antara lain Vitis vinifera, Vitis labrusca, Vitis rotundifolia, dan
sebagainya. Tanaman anggur tumbuh secara merambat dengan menggunakan
sulur. Untuk membedakan jenis tanaman anggur satu dengan yang lain, dapat
dilihat dari variasi buah yang beraneka warna, ukuran dan bentuk. Struktur

tanaman anggur terdiri dari batang, bunga, buah dan akar. Batang merupakan
tempat tumbuhnya cabang, ranting dan bagian atas lainnya dari tanaman. Selain
sebagai tempat tumbuh, batang berfungsi sebagai jalan untuk meneruskan bahan
makanan dari akar ke daun dan meneruskan makanan dari daun ke seluruh bagian
tanaman. Cabang yang tua akan menjadi cabang utama. Dari sini akan tumbuh
cabang-cabang baru. Pada cabang ini, terdapat mata tunas yang menjadi tempat
tumbuhnya ranting dan bunga/buah. Pada ranting tersebut, daun-daun akan
bermunculan. Bunga tanaman anggur tumbuh pada mata tunas dan tumbuhnya
berlawanan dengan sulur. Bunga yang berupa bunga majemuk ini tumbuh 6
sampai dengan 10 minggu setelah tunas-tunas muda muncul. Bunga anggur
umumnya melakukan penyerbukan sendiri. Setelah 2-3 hari penyerbukan, bakal
buah akan tumbuh dan berkembang menjadi buah. Buah ini mempunyai bagianbagian yang terdiri dari kulit buah, daging buah dan biji buah. Isi kulit buah
sekitar 5-12% dari ukuran buah, daging buah sebagian besar 80-90%, sedangkan
biji buah 0-5% (jumlahnya 0-5 biji) dan sisanya berupa serat. Akar anggur bisa
menembus tanah sampai 1,5 meter, bahkan 3 meter dalamnya. Kedalaman ini
dipengaruhi tebal tipisnya lapisan tanah atas, kesuburan tanah, dan material yang
dikandung tanah (Setiadi, 2002).

2.1.1 Kandungan dan Manfaat Anggur Merah


Kandungan zat yang terdapat dalam anggur merah sudah diproduksi secara
massal di berbagai negara sebagai obat fitofarmaka dan dipakai untuk pengobatan
berbagai macam penyakit, antara lain sebagai antioksidan, anti bakteri, obat
kardiovascular, hematologi, anti inflamasi, dan anti neoplastik (Xia et al, 2007).
Penelitian di Jepang mengungkapkan bahwa anggur merah dapat digunakan untuk
menurunkan atherosclerosis (Yamakoshi et al, 1999). Penelitian Di China juga
mengungkapkan anggur merah digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol dan
digunakan pula melindungi sel dari sinyal proinflamasi melalui mekanisme
pengaturan distribusi kolesterol (Xia et al, 2007). Anggur merah dapat digunakan
untuk melancarkan aliran darah dan sebagai obat penderita liver, ginjal, dan
sistem pencernaan. Jus anggur bermanfaat bila diberikan pada penderita tukak
lambung, radang usus kecil, migrain, radang sendi, rematik, dan keracunan.

Anggur juga dapat mencegah kanker karena dapat menghentikan penyebaran dari
sel sel kanker (Astawan dan Andreas, 2008). Manfaat anggur lainnya yaitu
mampu membersihkan toksin - toksin didalam hati, membantu memperbaiki
fungsi ginjal, pembentukan sel darah, antivirus dan antikanker, serta mampu
mencegah

kerusakan gigi. Anggur bersifat basa sehingga dapat menetralkan

darah yang terlalu asam dan berefek merugikan tubuh (Wiryanta,2007).


Menurut Daglia et al, 2007, anggur dikenal sebagai buah-buahan yang
mempunyai nilai gizi luar biasa, terutama kandungan vitamin seperti vitamin C,
vitamin B1, vitamin B6, dan mineral seperti mangan dan kalium. Kandungan
mangan pada anggur termasuk kategori sangat baik karena mempunyai nilai
densitas nutrisi yang tinggi. Mangan diperlukan tubuh dalam sintesis energi.
Mangan juga diperlukan untuk metabolisme lemak serta pembentukan jaringan
ikat dan tulang. Kadar mangan pada anggur adalah 0,07 mg per 100 g buah.
Kandungan vitamin C pada anggur juga cukup baik, yaitu 10.8 mg per 100 g
buah. Kebutuhan vitamin C pada perempuan dan pria dewasa masingmasing
adalah 75 dan 90 mg per hari.
Vitamin C dikenal sebagai senyawa utama tubuh yang dibutuhkan dalam
berbagai proses penting, mulai dari pembuatan kolagen, pengangkutan lemak,
pengangkut elektron dari berbagai reaksi enzimatik, penunjang kesehatan gusi,
pengatur tingkat kolesterol, serta pemicu imunitas. Kandungan vitamin B6 pada
anggur (0,09 mg/100g) sangat penting untuk otak agar dapat berfungsi normal,
membantu membentuk protein, hormon, dan sel darah merah, sedangkan thiamin
(0,07 mg/100 g) berperan untuk berfungsinya sistem saraf. Thiamin juga
merupakan anti beriberi dan anti gangguan neuritik. Kalium pada anggur (191 mg/
100 g) diketahui bermanfaat untuk mengendalikan tekanan darah, terapi darah
tinggi, serta membersihkan karbondioksida di dalam darah. Kalium juga
bermanfaat untuk memicu kerja otot dan simpul saraf. Kalium yang tinggi akan
memperlancar pengiriman oksigen ke otak dan membantu memperlancar
keseimbangan cairan tubuh, sehingga konsumsi anggur membuat tubuh menjadi
segar. Selain itu, anggur juga mengandung senyawa fenol diantaranya resveratrol
dan tannin.

Efek antibakteri jus anggur berasal dari kandungan senyawa fenol


didalamnya. Tidak seperti wine, jus anggur segar relatif tidak memiliki kadar
alkohol yang signifikan. Just dan Daeschel (2003) membuktikan bahwa efek
antibakteri pada jus anggur efektif terhadap Escheria coli dan Salmonella
thyphurium. Demikian pula penelitian Rhodes (2004), berhasil membuktikan
keefektifan daya antibakteri jus anggur varietas Ribier terhadap Listeria
monocytogenes.

2.2 Senyawa Polifenol


Senyawa fenol meliputi aneka ragam senyawa yang berasal dari tumbuhan
yang mempunyai ciri sama yaitu cincin aromatik yang mengandung satu atau dua
gugus hidroksil. Senyawa fenol umumnya ditemukan di dalam vakuola sel dan
cenderung mudah larut dalam air. Senyawa fenol dapat berikatan dengan glukosa
sebagai glikosida. antiseptik. Penggunaannya dipercaya dapat membunuh
sejumlah bakteri (bakterisidal). Flavonoid merupakan golongan terbesar senyawa
fenol. Senyawa fenol dapat membentuk kompleks dengan protein melalui ikatan
hidrogen serta sangat peka terhadap oksidasi enzim sehingga mungkin hilang pada
proses isolasi/ekstraksi akibat kerja enzim fenolase pada tumbuhan (Harbone,
2000).
Aktivitas antimikroba senyawa fenol yaitu pada konsentrasi rendah, fenol
bekerja dengan merusak membran sitoplasma dan dapat menyebabkan kebocoran
isi sel, sedangkan pada konsentrasi tinggi zat tersebut berkoagulasi dengan protein
seluler. Aktivitas tersebut sangat efektif ketika bakteri dalam tahap pembelahan,
dimana lapisan fosfolipid di sekeliling sel sedang dalam kondisi yang sangat tipis
sehingga fenol dapat berpenetrasi dengan mudah dan merusak isi sel.17 Salah satu
tumbuhan yang memiliki kandungan senyawa fenol cukup tinggi adalah anggur.
Beberapa senyawa fenol yang terkandung dalam anggur yaitu tannin, antosianin,
dan resveratrol (Daglia et al, 2007).
2.2.1 Resvetrol
Resveratrol

(trans-3,5,4-trihydroxystilbene)

merupakan

komponen

terbesar yang terdapat pada kulit anggur (McElderry, 1999). Resveratrol ini hanya
didapatkan pada anggur merah dan tidak pada anggur putih. Zat ini mulai diteliti

dan digunakan sebagai obat alami setelah melihat French Paradox (Kopp, 1998).
Fenomena rendahnya insidens penyakit jantung pada orang Prancis yang makan
dengan menu yang mengandung lemak relatif tinggi. Setelah diamati ternyata
mereka dalam sehari pasti meminum wine (Minuman Anggur merah) (McElderry,
1999). Resveratrol terdapat pula pada tanaman merambat, akar, bibit, dan batang,
namun kandungan terbesar terdapat pada kulit (50-100 mg/ g) (Jang, 1997).
Beberapa

penelitian

menunjukkan

bahwa

resveratrol

merupakan

antioksidan yang efektif. Zat ini menghambat peroksidasi lipid dari LDL
(Belguendouz et al, 1998). Resveratrol juga melindungi sitotoksisitas dari LDL
yang teroksidasi dan melindungi sel dari lipid peroksidasi. Resveratrol digunakan
untuk atherosclerosis melalui mekanisme penghambatan agregasi platelet
(Rotondo, 1998). Efek tersebut dapat dijadikan untuk mencegah infark miokard
(Penumathsa et al, 2006). Resveratrol merupakan golongan fitoaleksin stilbena
yang terdapat pada beberapa tanaman. Fitoaleksin adalah antibiotika berbobot
molekul rendah yang diproduksi oleh tanaman sebagai mekanisme pertahanan
terhadap stres akibat infeksi mikroorganisme fitopatogenik (misalnya jamur) atau
radiasi ultraviolet. Ketahanan tumbuhan terhadap infeksi bergantung pada laju dan
derajat pembentukan fitoaleksin serta kepekaan mikroorganisme tersebut terhadap
fitoaleksin. Resveratrol antara lain terdapat pada kulit dan biji anggur, berri,
kacang, dan akar Huzhang (Polygonum cuspidatum).
Resveratrol memiliki konfigurasi cis- dan trans-. Resveratrol dapat
berikatan dengan glukosa membentuk resveratrol-3-O-betaglukosida yang disebut
piceid. Piceid lebih mudah diserap oleh tubuh manusia. Resveratrol yang terdapat
pada anggur umumnya adalah transresveratrol. Kadar resveratrol dalam buah
anggur varietas Probolinggo merah adalah 0.167 0.029 g/g.24 Resveratrol
memiliki efek positif terhadap penyakit kardiovaskular dan kanker. Resveratrol
dapat menginhibisi proses oksidasi dari lipoprotein densitas rendah (LDL) dan
menghambat agregasi platelet, sehingga dapat menurunkan resiko penyakit
kardiovaskular. Selain itu, resveratrol dapat menghambat pembentukan sel kanker
karena dapat menghambat pembentukan cyclo-oxygenase 2 (COX-2) dan
merangsang apoptosis sel kanker. COX-2 berperan dalam produksi prostaglandin

10

yang dapat menstimulasi pertumbuhan tumor dan menekan sistem imun


(Furiga,2008)
Aktivitas antimikrobial dari resveratrol efektif terhadap Neisseria
gonorrhoeae, Neisseria meningitidis, Staphylococcus aureus dan Pseudomonas
aeruginosa. Namun, resveratrol kurang baik untuk dikonsumsi oleh wanita hamil
dan wanita yang memakai alat kontrasepsi. Hal ini dikarenakan sifat kimiawi
resveratrol yang mirip dengan fitoestrogen sehingga dapat menganggu fungsi alat
kontrasepsi.
2.2.2 Tanin
Tannin merupakan salah satu senyawa sekunder yang dihasilkan oleh
tumbuhan. Senyawa sekunder adalah senyawa yang tidak terlibat langsung dalam
proses metabolisme tumbuhan tersebut. Menurut Swain & Bate-Smith (1962),
tannin adalah senyawa polifenol bersifat larut dalam air yang memiliki gugus
hidroksil dan karboksil dengan berat molekul beragam antara 500 hingga 3000.
Tannin dikenal luas sebagai zat penyamak yang dapat mengubah kulit
hewan mentah menjadi siap pakai. Hal ini memungkinkan karena tannin memiliki
kemampuan untuk mengikat protein dan membentuk kompleks tannin-protein.
Menurut penelitian Carlson (1991), untuk meminimalkan terjadinya ikatan antara
protein dengan tannin yang diasup oleh tubuh, kelenjar parotid dan submandibular
beberapa mamalia dapat mensintesa protein yang disebut salivary Proline-Rich
Protein (PRPs). Selain protein, tannin juga dapat mengikat alkaloid dan
polisakarida.
Berdasarkan perbedaan struktur molekul, tannin dibagi menjadi dua yaitu
tannin terhidrolisasi dan tannin terkondensasi. Tannin terhidrolisasi mudah
dihidrolisis oleh asam lemah atau basa lemah menghasilkan karbohidrat dan asam
fenolat. Terdapat dua macam tannin terhidrolisasi yaitu gallotannin (asam galat)
dan

ellagitannin

(asam

elagat).

Sedangkan

tannin

terkondensasi

atau

proantosianidinn merupakan polimer dari 2 hingga 50 unit flavonoid yang


dihubungkan oleh rantai karbon sehingga tidak mudah terhidrolisis. Terdapat dua
macam tannin terkondensasi yaitu prosianidin dan prodelphinidin. Prosianidin
terdiri dari epicatechin dan catechin. Prodelphinidin terdiri dari epigallocatechin
dan gallocatechin. Tannin pada anggur termasuk pada jenis tannin terkondensasi

11

golongan prosianidin. Tannin paling banyak terdapat pada biji anggur. Sumber
lain tannin adalah teh (Camellia sinensis), berri, dan wine (Swain, 1962).
Tannin memiliki manfaat sebagai antimikroba. Melalui beberapa
penelitian tannin terbukti efektif terhadap Clostridium difficile, Clostridium
perfringens, Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, Escheria coli, Citrobacter
freundii, dan Listeria monocytogenes. Tannin memiliki afinitas yang tinggi
terhadap golongan logam. Zat besi adalah salah satu golongan logam yang
dibutuhkan untuk metabolisme makhluk hidup, misalnya dalam pembentukan sel
darah merah. Oleh karena itu, tannin juga sering dipakai untuk obat antihemoragi.
Namun, konsumsi diet tinggi tannin dapat menyebabkan penyakit defisiensi
seperti anemia (Hagerman, 2008).
2.2.3 Anthosianin
Anthosianin merupakan golongan phytochemical dari buah anggur merah.
Zat ini tidak hanya memberi warna pada kulit anggur, tetapi juga memliki khasiat
tertentu. Beberapa penelitian menunjukkan efek proteksi dari anthosianin sebagai
antioksidan untuk melindungi dari kerusakan oksidatif (Xia et al, 2007). Terhadap
kolesterol darah, anthosianin memiliki efek yang tidak signifikan terhadap
kenaikan LDL kolesterol (Nielsen et al, 2005). Antosianin merupakan pigmen
yang tersebar luas dalam tumbuhan. Pigmen ini berfungsi sebagai atraktan
polinator yang berguna bagi proses penyerbukan tanaman, dan sebagai
antioksidan yang membantu melindungi tumbuhan dari radikal-radikal bebas yang
dihasilkan oleh sinar UV.
Pigmen yang berwarna kuat dan larut dalam air ini adalah penyebab
hampir semua warna merah, ungu, dan biru di dalam daun, bunga dan buah
tumbuhan biji. Terdapat lima macam antosianidin pada anggur yaitu delphinidin,
petunidin, malvidin, sianidin dan peonidin. Masingmasing antosianidin tersebut
memiliki keragaman. Keragaman tersebut dalam hal sifat gulanya (sering kali
glukosa tetapi mungkin juga arabinosa dan galaktosa), jumlah satuan gula
(mono,di- atau triglikosida) dan letak ikatan gula (biasanya pada hidroksi atau
pada 3- dan 5- hidroksi) (Wilson, 1984).
Efek antimikrobial dari antosianin terbukti efektif terhadap beberapa
mikroorganisme. Prat et al (1960) menemukan bahwa sianidin dan delphinidin

12

yang terdapat pada jus anggur mengurangi pertumbuhan Escheria coli dan
Lactobacillus acidophilus. Menurut Somaatmadja (1963), antosianin dapat
menginhibisi oksidasi glukosa dan mengikat zat besi yang dibutuhkan oleh
bakteri.

2.3 Lactobacillus
2.3.1 Pengertian Lactobacillus
Lactobacillus sp adalah mikroorganisme yang muncul selama tahun
pertama kehidupan anak dan hadir dengan jumlah yang tinggi dalam air liur, pada
dorsum lidah, selaput lendir, palatum durum, plak gigi dan dalam jumlah
yanglebih sedikit di permukaan gigi (Badet dan Thebaud, 2008). Pada keadaan
normal, bakteri tersebut tidak menimbulkan penyakit (Tarigan, 1992).
2.3.2 Ciri ciri Lactobacillus
Lactobacillus sp merupakan batang Gram positif. Kelompok ini secara
morfologi tidak homogen, ada yang berbentuk batang panjang, ada yang pendek
dan ada juga yang berbentuk kokus, tetapi dari segi fisiologi dapat dikarakterisasi
relatif baik. Bakteri ini tidak membentuk spora dan tidak bergerak (Schlegel dan
Schmidt, 1994).
2.3.3 Isolasi dan Identifikasi
Lactobacillus sp tumbuh dalam keadaan anaerob, tetapi aerotoleran. Ciri
khas lain dari Lactobacillus sp adalah kebutuhannya akan zat tambahan. Tidak
satu pun spesiesnya dapat hidup pada medium mineral murni dengan glukosa dan
amonium. Lactobacillus sp dibiakkan terutama pada media kompleks, yang
mengandung ekstrak ragi, sari tomat, bahkan darah dalam jumlah yang besar
(Schlegel dan Schmidt, 1994).
Teknik untuk mengidentifikasi spesies meliputi fermentasi karbohidrat,
hidrolisis arginin dan aktivitas enzim. Tetapi karena metode biokimia tersebut
tergantung pada lingkungan terkadang menyebabkan hasil ambigu atau bahkan
kesalahan identifikasi (Nigatu et al (2000); Song et al (1999) dalam Mndez et al,
2009). Metode genotip dianggap lebih dapat diandalkan untuk tujuan identifikasi
(Mndez et al, 2009). Menurut Badet dan Thebaud (2008) identifikasi yang tepat
pada Lactobacillus sp dalam saliva pasien dengan karies sulit ketika

13

menggunakan metode biokimia. Dengan munculnya alat molekuler, identifikasi


menjadi lebih mudah.
2.3.4 Klasifikasi
Menurut Schlegel dan Schmidt (1994), sifat khusus yang dimiliki
Lactobacillus sp yaitu meragikan glukosa menjadi laktat saja atau menjadi produk
peragian lain dan karbondioksida. Berdasarkan sifat tersebut Lactobacillus sp
dibagi menjadi homofermentatif dan heterofermentatif.
1. Peragian asam laktat homofermentatif
Bakteri asam laktat homofermentatif membentuk laktat murni atau
hampir (90%) murni. Bakteri ini menguraikan glukosa melalui alur fruktosa
difosfat termasuk aldolase, dan memindahkan hidrogen yang terjadi pada
dehidrogenasi gliserinaldehid-3-fosfat ke piruvat. Spesies dari homofermentatif
adalah Lactobacillus lactis, Lactobacillus bulgaricus,Lactobacillus helveticus,
Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus casei dan Lactobacillus plantarum.
2. Peragian asam laktat heterofermentatif
Bakteri asam laktat heterofermentatif tidak mempunyai enzim utama
dari alur fruktosadifosfat yaitu aldolase dan triosafosfat isomerase. Penguraian
glukosa dimulai melalui alur pentosa fosfat yaitu melalui glukosa-6-fosfat, 6fosfoglukonat dan ribulosa-5-fosfat. Spesies dari heterofermentatif adalah
Lactobacillus fermentum, Lactobacillus brevis, Lactobacillus buchneri dan
Lactobacillus viridescens.

2.3.5 Lactobacillus acidophilus


Ada banyak spesies Lactobacillus sp yang teridentifikasi pada saliva dari
subyek yang karies, namun yang terbanyak yaitu Lactobacillus acidophilus
(Munoz-Jeldrez et al dalam Badet dan Thebaud, 2008).
Lactobacillus acidophilus dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Bacteria
Divisi : Firmicutes
Kelas : Bacilli
Ordo : Lactobacillales
Famili : Lactobacillaceae

14

Genus : Lactobacillus
Spesies : Lactobacillus acidophilus (Ahumada et al, 2003).
Lactobacillus acidophilus dapat melekat pada permukaan email baik
secara langsung atau pun dengan saliva (Ahumada et al, 2003). Salah satu faktor
yang dapat mempengaruhi laju Lactobacillus acidophilus pada saliva adalah
asupan karbohidrat (Badet dan Thebaud, 2008). Beberapa penelitian menyatakan
bahwa Lactobacillus acidophilus mampu bersaing dengan bakteri lain sehingga
dapat tumbuh baik meskipun terdapat bakteri lainnya, hal ini disebabkan karena
bakteri ini menghasilkan bakteriosin yang dapat membunuh bakteri lainnya
(Percival (1997) dalam Mndez et al, 2009).
Lactobacillus acidophilus adalah salah satu dari delapan general umum
dari bakteri asam laktat. Tiap genus dan spesiesnya mempunyai karakteristik yang
berbeda. Namun, secara umum mereka merupakan bakteri Gram positif dengan
sel berbentuk batang panjang tetapi terkadang hampir bulat dan membentuk rantai
yang pendek, berukuran 0,5-1,2 x 1,0-10,0 m bersifat non motil, dan non spora
yang memproduksi asam laktat sebagai produk utama dari metabolisme
fermentasi dan menggunakan laktosa sebagai sumber karbon utama dalam
memproduksi energi (Buttris, 1997:21). Kultur Lactobacillus acidophilus dapat
dilakukan pada media yang mengandung prebiotik (Purwandhaniet al, 2003).
Ciri-ciri koloni Lactobacillus acidophilus antara lain warna koloni putih
susu atau agak krem, bentuk koloni bulat dengan tepian seperti wol (Buttris,
1997). Identifikasi isolat Lactobacillus acidophilus didasarkan pada bentuk sel
batang, pengecatan gram positif, non motil, katalase negatif, tidak membentuk
dekstran, kemampuan pembentukan asam dari beberapa sumber karbon,
kemampuan tumbuh dalam berbagai pH maupun suhu, model fermentasi
glukosa(homofermentatif), tipe peptidoglikan pada dinding sel (Hardiningsih et al,
2006).
Lactobacillus acidophilus memfermentasi karbohidrat dan menghasilkan
asam organik sehingga mengubah pH rongga mulut menjadi asam. Asam yang
terbentuk dapat melunakkan bagian terkeras gigi yaitu email gigi. Bila lapisan
email telah rusak maka bakteri dapat masuk ke lapisan yang lebih dalam yaitu

15

dentin. Proses ini akan terus berjalan sehingga lubang semakin dalam bila tidak
dilakukan perawatan (Pratiwi, 2007).

2.4 Antibakteri
Anti Bakteri adalah sifat dari suatu zat yang dapat membasmi bakteri,
terutama bakteri patogen. Zat antibakteri harus bersifat toksisitas selektif yaitu
berbahaya bagi parasit tetapi tidak membahayakan inang. Berdasarkan sifat
toksisitas selektif ini maka sifat zat antibakteri terbagi menjadi dua, yaitu
bakteriostatik (menghambat pertumbuhan bakteri) dan bakterisidal (membunuh
bakteri). Konsentrasi minimal yang diperlukan untuk menghambat pertumbuhan
bakteri dikenal sebagai Kadar Hambat Minimal (KHM), sedangkan konsentrasi
minimal yang diperlukan untuk membunuh bakteri disebut dengan Kadar Bunuh
Minimal (KBM) (Jawets et al, 2000)
2.4.1 Mekanisme Kerja Agen Antibakteri
Mekanisme kerja agen antibakteri dapat dilakukan dengan empat cara
yaitu gangguan sintesis dinding sel, penghambatan sintesis protein, pengubahan
fungsi membran plasma dan penghambatan metabolisme mikroba. Dinding sel
bakteri terdiri dari polipeptidoglikan, yaitu suatu kompleks polimer yang
berfungsi sebagai struktur pemberi bentuk sel dan melindunginya dari lisis
osmotik. Mekanisme antibakteri bekerja dengan cara menghalangi sintesis normal
dinding sel bakteri. Sintesis yang tidak normal menyebabkan tekanan osmotik
dalam sel bakteri lebih tinggi daripada di luar sel, maka terjadi kerusakan dinding
sel bakteri yang akan menyebabkan terjadinya lisis.
Mekanisme penghambatan sintesis protein dilakukan melalui aktifitas
penghambatan transkripsi dan translasi bahan genetik, diantaranya menghambat
perlekatan mRNA dan tRNA ke ribosom, menghambat penambahan asam amino
ke rantai polipeptida, serta menyebabkan produksi protein dengan susunan atau
panjang abnormal. Mekanisme pengubahan fungsi membran sel dilakukan oleh
agen antibakteri dengan mengubah tegangan permukaan sehingga dapat merusak
permeabilitas selektif dari membran sel bakteri. Kerusakan membran sel bakteri
akan menyebabkan keluarnya pelbagai komponen penting dari dalam sel yaitu
glukosa, protein, asam nukleat, nukleotida dan lain sebagainya. Penghambatan

16

metabolisme mikroba dilakukan melalui penghambatan metabolisme folat,


penghambatan dalam produksi enzim dan pengikatan substrat yang diperlukan
untuk metabolisme. Pengukuran aktivitas antibakteri secara in vitro ditujukan
untuk menentukan potensi zat antibakteri dalam larutan, konsentrasinya dalam
cairan tubuh dan jaringan, dan kepekaan bakteri terhadap agen antibakteri dalam
konsentrasi tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas antibakteri
diantaranya pH lingkungan, komponen perbenihan, stabilitas zat aktif, besarnya
inokulum, masa pengeraman, dan aktivitas metabolik bakteri (Jawets et al, 2000)
2.4.2 Bahan Kimia sebagai Antibakteri
Beberapa bahan kimia yang digunakan sebagai zat antibakteri, diantaranya
asam, alkohol, fenol, aldehid, dan alkali. Berdasarkan penelitian Winslow dan
Lochridge (1906) bahan kimia asam terbagi dua yaitu asam anorganik dan asam
organik, dengan aktivitas antibakteri yang sedikit berbeda. Aktivitas antibakteri
asam organik bergantung pada komponen alaminya. Sedangkan pada beberapa
asam anorganik aktivitas antibakteri memiliki aksi tambahan pada efek oksidasi
yang dapat dihasilkannya. Aktivitas antibakteri alkohol dilakukan melalui proses
denaturasi protein sel bakteri.
Aktivitas antibakteri pada senyawa fenol pada konsentrasi rendah dapat
merusak membran plasma dan menyebabkan lisis sel. Sedangkan pada konsentrasi
tinggi, zat tersebut berkoagulasi dengan protein seluler. Aktivitas tersebut sangat
efektif ketika bakteri dalam tahap pembelahan, dimana lapisan fosfolipid di
sekeliling sel sedang dalam kondisi yang sangat tipis sehingga fenol dapat
berpenetrasi dengan mudah dan merusak isi sel. Pada penelitian Rubbo, Gardner
dan Webb (1967) formaldehid dan glutaraldehid merupakan contoh golongan
aldehid yang memiliki aktivitas antibakteri paling baik Aktivitas antibakteri
meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi, pH dan durasi kontak. Kronig
dan Paul (1897) menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri alkali bergantung pada
tingkat disosiasi dan ion OH. Diantara KOH, NaOH, LiOH dan NH4OH, zat
kimia KOH menunjukkan tingkat disosiasi paling tinggi sehingga memberikan
aktivitas antibakteri paling aktif diantara yang lainnya (Wilson. 1984).

BAB 3
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Konseptual
Bakteri yang berasal dari
fermentasi susu (Yogurt)

Lactobacillus Acidophillus
- --------

Ekstrak Kulit Anggur Merah

Polifenol
(mempunyai aktivitas antimikroba)

Tanin

Resvetarol

Dapat

Mengikat protein

Menghambat

menghambat

intraseluler

Lipoxygenase

oksidasi glukosa

membran sel

yang

dan mengikat zat

sebagai

membentuk

besi yang

antimikroba

oxylipins dan

dibutuhkan oleh

punya afinitas

metabolisme

bakteri

yang tinggi

sekunder

Antisionin

terhambat
Pertumbuhan bakteri
Lactobacillus Acidophilus
terhambat dan mati

3.2 Hipotesis Penelitian


Ekstrak kulit buah anggur merah mempunyai daya antibakteri terhadap
pertumbuhan Lactobacillus Acidophillus.

17

BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris. Keuntungan dari
eksperimental laboratoris adalah pengaruh perlakuan lebih terkendali, terukur
dan lebih dapat dipercaya. Adapun rancangan penelitian yang digunakan the
post test only control group design.

4.2 Sampel Penelitian


Sampel penelitian menggunakan bakteri Lactobacillus Acidophillus
ini yang disimpan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Gigi
Unair. Bakteri yang diambil dari rongga mulut setelah penderita meminum
fermentasi susu (Yogurt).

4.3 Tempat dan Waktu Penelitian


Waktu penelitian dilaksanakan mulai bulan Juli Agustus 2015
1. Pembuatan ekstrak kulit buah anggur merah di laboratorium Fakultas
Farmasi atau Sains dan Teknologi Universitas Airlangga.
2. Uji identifikasi Lactobacillus Acidophillus di Laboratorium Mikrobiologi
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga.
3. Penelitian dilakuakan di laboratorium mikrobiologi Fakultas Kedokteran
Gigi Universitas Airlangga.

4.4 Variabel yang diteliti


1. Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah ekstrak kulit buah anggur
rmerah (Vinis Vitifera L) yang dibuat dengan pelarut ethanol 96%.
2. Variabel Terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pertumbuhan Lactobacillus
Acidophilus yang terlihat pada media Mannitol Rogosa and Sharpe.
3. Variabel Terkendali

18

19

Variabel terkendali dalam penelitian ini adalah suspensi Lactobacillus


acidophilus, media pertumbuhan Lactobacillus acidophilus (Mannitol Rogosa and
Sharpe/MRS), serta suhu inkubasi (37 0C) dan lama inkubasi (24 jam).

4.5 Definisi Operasional


1. Buah anggur yang digunakan adalah anggur merah (Vitis Vinifera L).
2. Ekstrak kulit buah anggur adalah ekstrak kulit anggur yang diperoleh dari 150
gram kuli anggur erah kering yang dilarutkan dengan ethanol 96% kemudian
diuapkan dan didapatkan ekstrak kulit anggur yang kental.
3. Kultur Lactobacillus Acidophillus adalah bakteri yang ada dalam yogurt yang
telah diisolasi dan disimpan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran
Gigi Universitas Airlangga.

4.6 Bahan dan Alat Penelitian


4.6.1 Bahan
1. Kulit buah anggur merah (Vitis Vinifera L)
2. Pelarut ethanol 96%
3. MRSA/Mannitol Rogosa and Sharpe-Agar atau MRS-B/Mannitol Rogosa and
Sharpe-Broth
4. Aquades steril
5. Bakteri Lactobacillus acidophilus

4.6.2 Alat
1. Spidol
2. Tabung Erlenmeyer
3. Tabung reaksi (Pyrex, Japan),
4. Neraca (Cent-O Cram, Ohaus, USA)
5. Jarum ose
6. incubator
7. gelas ukur
8. Brander Spiritus
9. Colony counter

20

10. Rotaty Evaporator


11. Mikropipet
12. Spreader
13. Blender

4.7 Cara Kerja


4.7.1 Pembuatan Ekstrak Kulit Anggur Merah
Pertama-tama dilakukan pengupasan kulit dan mengumpulkan kulit buah
anggur, kemudian dilakukan tahapan sebagai berikut :
1. Kulit-kulit buah anggur dikeringkan di udara terbuka pada suhu kamar (Tidak
boleh kena sinar matahari secara langsung). Kemudian setelah kering
dihaluskan dengan blender dan diayak sehingga didapatkan serbuk 150 gram.
2. Setelah itu serbuk dihidrolisis dan diekstraksi dengan 150 ml ethanol 96%.
Campuran itu direflux pada suhu 850C selama 2 jam.
3. Hasil rendama disaring dengan kertas saring, kemudian ampas dimaserasiulang
dengan pelarut ethanol 96% sampai tidak berwarna. Lalu hasil saringan
disuling dengan evaporator pada tekanan 50 mmHg dan suhu 50OC sampai
pelarutnya menguap dan ekstraknya tertinggal. Kemidian dilakuakn sterilisasi
dengan autoklaf 121 OC selama 5 menit.

4.7.2 Identifikasi bakteri


Bakteri Lactobacillus acidophilus diambil dari galur murni koleksi
Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga.
Bakteri tersebut diidentifikasi secara mikroskopis menggunakan preparat ulas
yang diberi pewarnaan Gram.
1. Menyiapkan media cair MRS-B (Mannitol Rogosa Sharpe Broth)
2. Menimbang 5,22 gram MRS-B / MRS A menggunakan neraca dan mengukur
aquades steril sebanyak 100 ml menggunakan gelas ukur. Kedua bahan
dimasukkan dalam tabung Erlenmeyer, diaduk dengan spatula dan dipanaskan
dengan kompor sampai mendidih. Kemudian media disterilkan dengan
autoclave pada suhu 121 C selama 15 menit.
3. Menyiapkan media MRS-A (Mannitol Rogosa Sharpe Agar)

21

4. Menimbang 6,82 gram bubuk MRS-A menggunakan neraca dan mengukur


aquades steril sebanyak 100 ml menggunakan gelas ukur. Kedua bahan
dimasukkan dalam tabung Erlenmeyer, diaduk dengan spatula dan dipanaskan
dengan kompor sampai mendidih. Setelah itu tabung Erlenmeyer ditutup
dengan kapas dan disterilkan dengan autoclave pada suhu 121 C selama 15
menit.
5. Membuat suspensi Lactobacillus acidophilus
Pembuatan suspensi bakteri dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1. Satu ose bakteri Lactobacillus acidophilus dari galur murni dimasukkan ke
dalam tabung reaksi yang berisi media cair MRS-B sebanyak 2 ml,
kemudian tabung reaksi tersebut ditutup kapas dan dimasukkan dalam
desicator untuk mendapatkan suasana fakultatif anaerob. Bakteri tersebut
diidentifikasi secara mikroskopis menggunakan preparat ulas yang diberi
pewarnaan Gram.
2. Setelah 2 x 24 jam suspensi Lactobacillus acidophilus dalam tabung reaksi
tersebut

dikocok

menggunakan

thermolyne

dan

diukur

tingkat

kekeruhannya menggunakan spektrofotometer dengan larutan standar Mc.


Farland 1.
3. Skala absorban dari suspensi Lactobacillus acidophilus tersebut harus
sesuai skala absorban dengan larutan standar Mc. Farland 1.

4.8 Tes sensitivitas


Berdasarkan Schaube et al (1959) tes sensitivitas bakteri bisa dilakukan
dengan 2 metode yaitu metode dilusi (dilution method) dan metode difusi (disk
with drug in solid media method).
4.8.1 Tes Sensitivitas dengan metode dilusi
Penentuan efek bakterisid (KBM) dari bahan aktif antibakteri tersebut
yaitu dengan melakukan pembiakan ulang dalam Mannitol Rogosa Agar. KBM
dapat ditentukan dengan melihat konsentrasi terendah yang tidak menunjukkan
adanya koloni mikroorganise pada biakan ulang tersebut.
Setelah diinkubasi, lihat kekeruhan pada tabung. Bila terlihat kekeruhan
maka menunjukan adanya mikroba resisten terhadap zat antibakteri tersebut. Bila

22

tidak tampak kekeruhan, berarti mikroba sensitif terhadap zat antibakteri tersebut.
Selanjutnya hasil kekeruhan yang terlihat dicatat dengan menilai adanya
pertumbuhan bakteri (+) atau tidak ada pertumbuhan bakteri (-). Setelah itu,
dilakukan pengenceran hasil dilusi. Setelah diinkubasi, lihat colony forming
unit yang terbentuk. Dari hasil tersebut, tentukan nilai Kadar Hambat Minimal
(KHM). Untuk melihat nilai Kadar Bunuh Minimal (KBM), lihat pada pelat
tersebut ada tidaknya bakteri pada setiap tingkat konsentrasi. Kemudian hasil
tersebut dicatat dengan menilai adanya bakteri (+) atau tidak ada bakteri (-).
Pengujian Sampel Metode Dilusi sebagai berikut :
1. Disiapkan 10 tabung reaksi
2. Pada tabung 1 diisi 10 ml ekstrak kulit anggur 100%, sedangkan pada tabung 2
sampai tabung 5 ml diisi media MRS-B cair steril.
3. Kemudian dilakukan pengenceran serial 5 ml dari tabung 1 ke tabung 2, 5 ml
dari tabung 2 ke tabung 3 dan demikian seterusnya hingga tabung ke 8 yang
diperlukan, untuk volume 8 dibuang sebanyak 5 ml agar volumenya sama yang
digunakan pada tabung 1 sampai tabung ke 8.
4. Dari pengenceran tersebut didapatkan konsentrasi ekstrak biji anggur pada
tabung 1,2,3,4,5,6,7 dan 8 adalah 100%, 50 %, 25%, 12,5% , 6,25%, 3,125%,
1,5625&, dan 0,78%.
5. Setelah itu pada tabung 1 hingga 8 ditambahkan 0,1 ml inokulus berupa kultur
cair dengan standart Mc Farland 0,5.
6. Pada tabung 9 dan tabung 10 digunakan kontrol positif dan negatif.
7. Sebagai kontrol positif tabung 9 diisi media dan 0,1 ml inokulum sedangkan
sebagai kontrol negatif tabung 10 diisi media saja tanpa inokulum.
8. Setelah itu, diinkubasi selama 48 jam pada suhu 37oC.
9. Kemudian untuk mengetahui jumlah hidup Lactobacillus Acidophillus dari tiaptiap hasil biakan dilakukan penanaman pada tiap kultur dari tabung 1 sampai
10 pada media Mannitol Rogosa Agar , apabila ada pertumbuhan bakteri
Lactobacillus Acidophillus maka akan ada bentukan koloni.
10. Penghitungan koloni dilakukan dengan menggunakan alat penghitung colony
counter.

23

11. Dilakukan replikasi percobaan sebanyak 3 kali, sehingga didapatkan 10


sampel untuk masing-masing biakan.

4.8. 2 Tes Sensitivitas dengan Metode disk with drug in solid media (metode
difusi)
Cara yang mudah untuk menetapkan kerentanan organisme terhadap suatu
zat antibakteri adalah dengan menginokulasi pelat agar dengan biakan dan
membiarkannya berdifusi ke media MRS-agar. Cakram kertas saring yang
mengandung zat antibakteri diletakkan dipermukaan pelat agar yang mengandung
organisme yang diuji.
Konsentrasi menurun sebanding dengan luas bidang difusi. Pada jarak
tertentu dari masing-masing cakram kertas saring, zat antibakteri berdifusi sampai
titik zat antibakteri tersebut tidak lagi menghambat pertumbuhan mikroba.
Efektifitas zat antibakteri ini ditunjukkan oleh zona hambatan.
Zona hambatan tampak sebagai area jernih/bersih yang mengelilingi
cakram dimana zat dengan aktivitas antimikroba terdifusi. Diameter zona bisa
dihitung dengan penggaris. Ukuran dari zona hambatan dapat dipengaruhi oleh
kepadatan atau vikositas dari media biakan, kecepatan difusi zat antibakteri,
konsentrasi zat antibakteri, sensitivitas mikroorganisme terhadap zat antibakteri,
dan interaksi zat antibakteri dengan media.
Prosedur yang dilakukan yaitu
1. Siapkan MRS- agar untuk masing-masingkonsentrasi yang tersedia. Tandai
setiap bagian pelat sesuai dengan konsentrasi zat antibakteri yang akan
digunakan.
2. Kemudian bakteri Lactobacillus Acidophillus yang telah disetarakan dituang
secara perlahan ke perbenihan MRS-agar di dalam pelat, ratakan lalu
didiamkan dalam kondisi miring untuk dibuang sisanya. Perbenihan agar
kemudian dieram pada suhu 37 C selama 15 menit.
3. Disc sensitivity test dengan diameter 6mm yang telah disterilkan atau blank
disc dicelupkan pada ekstrak kulit anggur dengan konsentrasi yang tersedia,
lalu diletakkan pada perbenihan MRS-agar. Setelah itu, dimasukkan ke dalam
anaerobic jar selama 3 x 24 jam pada suhu 37 C. Setelah 3 x 24 jam, daya

24

hambat dari ekstrak kulit anggur terhadap Lactobacillus Acidophillus dapat


dihitung dengan mengukur jari-jari zona hambat yang terdapat dalam
perbenihan. Cara pengukuran zona hambatan adalah sebagai berikut

Pengukuran I = (AB-ab) : 2
Pengukuran II = (CD-cd) : 2
Daerah Hambatan = Pengukuran I + II

25

ALUR PENELITIAN
1. Metode Dilusi
Kulit buah anggur merah dikeringkan

Dihaluskan dengan blender dan diayak sehingga didapatkan serbuk

Setelah itu serbuk dihidrolisis dan diekstraksi dengan 150 ml ethanol


96%

Campuran itu direflux pada suhu 85OC selama 2 jam

Hasil rendaman disaring dengan kertas saring dan ampas dimaserasi ulang
dengan pelarut ethanol 96% sampai tidak berwarna

Disuling dengan evaporator hingga didapatkan ekstrak kental

Siapkan 10 tabung reaksi


Pada tabung 1 diisi 10 ml ekstrak kulit anggur 100%, sedangkan pada tabung
2 sampai tabung 5 ml diisi media MRS-B cair steril.
Pengenceran serial 5 ml dari tabung 1 ke tabung 2, 5 ml dari tabung 2 ke
tabung 3 dan demikian seterusnya hingga tabung ke 8 yang diperlukan, untuk
volume 8 dibuang sebanyak 5 ml agar volumenya sama yang digunakan pada
tabung 1 sampai tabung ke 8.
Dari pengenceran tersebut didapatkan konsentrasi ekstrak biji anggur pada
tabung 1,2,3,4,5,6,7 dan 8 adalah 100%, 50 %, 25%, 12,5% , 6,25%, 3,125%,
1,5625 &, dan 0,78%.
Pada tabung 1 hingga 8 ditambahkan 0,1 ml inokulus berupa kultur cair
dengan standart Mc Farland 0,5.
Pada tabung 9 dan tabung 10 digunakan kontrol positif (diisi media +
inokulum) dan negatif (diisi media saja).
Setelah itu, diinkubasi selama 48 jam pada suhu 37oC
.

26

Pencatatan kekeruhan secara visual ada/tidaknya pertumbuhan bakteri


Lactobacillus Acidophillus

Dilakukan penanaman pada tiap kultur dari tabung 1 sampai 10 pada media
Mannitol Rogosa Agar , apabila ada pertumbuhan bakteri Lactobacillus
Acidophillus maka akan ada bentukan koloni.
Dilakukan inkubasi selama 24 jam dengan suhu 37OC

Penghitungan koloni dilakukan dengan menggunakan alat penghitung colony


counter.
2. Metode Difusi
Siapkan Mannitol Rogosa Agar dan tandai setiap bagian pelat untuk masingmasing konsentrasi ekstrak kulit buah anggur merah yang tersedia.

Bakteri Lactobacillus Acidophillus yang telah disetarakan dituang secara perlahan


ke perbenihan Mannitol Rogosa Agar di dalam pelat, ratakan lalu didiamkan
dalam kondisi miring untuk dibuang sisanya. Perbenihan agar kemudian
diinkunasi pada suhu 37 C selama 15 menit.

Disc sensitivity test dengan diameter 6mm yang telah disterilkan dicelupkan pada
ekstrak kulit anggur merah, lalu diletakkan pada perbenihan MRS-agar.

Dimasukkan ke dalam anaerobic jar selama 3 x 24 jam pada suhu 37 C

Dihitung dengan mengukur jari-jari zona hambatan dengan cara :

Pengukuran I = (AB-ab) : 2
Pengukuran II = (CD-cd) : 2
Daerah Hambatan = Pengukuran I + II

DAFTAR PUSTAKA

Astawan M., Andreas L. 2008. Khasiat Makanan Mentah. Jakarta: Gramedia


Pustaka Utama, pp: 57-58.
Ahumada, M., Bru, E., Colloca, M., Lopez, M. dan Macias, M.. 2003. Evaluation
and Comparison of Lactobacilli Characteristics in the Mouths of Patients
With or Without Cavities. Journal of Oral Science. Vol. 45. Pg. 1-9.
Baskoro.Common of Microbiology. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Badet, C. & Thebaud, N. B. 2008. Ecology of Lactobacilli in the Oral Cavity: A
Review of Literature. The Open Microbiology Jurnal. Vol. 2: 38-48.
Belguendouz L., Fremont L., Gozzelino MT. 1998. Interaction of Transresveratrol
with Plasma Lipoproteins. Biochemical Pharmacology, Vol.55, Pg. 811-816.
Buttris, J. 1997. Nutritional Properties of Fermented Milk Products. International
Journal of Dairy Technology. Vol. 50. Pg. 21-27.
Daglia. 2007. Antibacterial Activity of Red and White Wine against Oral
Streptococci. Journal Food Chem. Vol. 55. Pg. 5038-5042.
Furiga, Funel, Dorignac. 2008. In vitro antibacterial and anti-adherence effect
of natural polyphenolic compuns on oral bacteria. Journal of Applied
Microbiology. ISSN 1364-5072. Pg. 1470-1476.
Greybeard M. 2008. Grapevine DNA :The Genetic of Wine. Journal of Food
Chem. Vol 5. Pg. 1996-1998
Hagerman, A.E. Tannin Chemistry. 2008.
Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia. Bandung : Penerbit ITB.
Hardiningsih, Napitulu, Yulinery. 2006. Isolasi dan Uji Resistensi Beberapa Isolat
Lactobacillus pada pH rendah. Journal of Biodiverditas Vol 7. No 1. Hal. 1517.
Herdiyati, Y. 2007. Keberadaan Bakteri-Bakteri Pembawa Gen Gtf B/C yang
Mengekspresikan Enzim Glukosil Transferase pada Anak Rampan Karies.
Bandung: Universitas Padjajaran.
Jang M. 1997. Cancer Chemopreventive Activity of Resveratrol, a Natural
Product Derived From Grapes. Science, Vol.275, Pg. 218-20.

27

28

Jawettz E, Melnick JL, Adelberg EA. 1995. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 6th.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
Kopp P. 1998. Resveratrol, a phytoestrogen found in red wine. A possible
explanation for the conundrum of the 'French paradox'? European Journal of
Endocrinology, Vol. 138. Pg. 619-20.
Kurniawati A. 2007. Efektifitas Infusum Daun Wungu sebagai Obat Kumur
Antiseptik terhadap Jumlah Koloni Bakteri dalam Saliva. Spirulina Jurnal
Penelitian Kesehatan dan Farmasi. Edisi Khusus April.
McElderry.

1999.

Grape

Expetation

The

Resveratrol

Story.

www.resveratrol600mg.com/information_about_resveratrol/ (7 maret 2014)


Mndez, C. R., Badet, C., Yanez, A., Dominguez, M. L., Giono, S., Richard, B.,
Nancy, J., dan Dorignac, G. 2009. Identification of Oral Strains of
Lactobacillus species Isolated from Mexican and French Children. Journal of
Dentistry and Oral Hygiene. Vol. 1, Pg. 9-16.
Nassiri., Hosseintadeh. 2009. Review of the Pharmacological Effects of Vitis
vinifera (Grape) and Its Bioactive Compounds. Iran : Pubmed. ISSN :
19140172.
Penumathsa, Mahesh T., Srikanth K., Bela J., Lijun Z., Rima P., Venugopal P.,
Menon, Hajime O., Nilanjana M. 2006. Statin And Resveratrol in
Combination Induces Cardioprotection Against Myocardial Infarction in
Hypercholesterlemic Rat. Journal of Molecular and Cellular Cardiology.
Vol. 42, Pg. 508-516.
Pratiwi, D. 2007. Merawat Gigi Sehari hari. Jakarta: Penerbit Buku Kompas
Purwandani, S.N. & Rahayu, E.S. 2003. Isolasi dan Identifikasi Lactobacillus
yang Berpotensi sebagai Agensia Probiotik. Journal Agritech. Vol. 23. Pg.6764.
Rosiana, A.D, Noor Erma. 2008 Pengaruh asam-asam organik terhadap
pertumbuhan (Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus bulgaricus dan
Lactobacillus casei (bakteri asam laktat). Farmasi J. Vol 6 No.2. Hal. 53-56
Rhodes, P.L. 2004. Antimicrobial Factor from Grapes. University of Auckland.
Schlegel, H. G & Schmidt, K. 1994. Mikrobiologi Umum. Alih Bahasa: Tedjo
Setiadi. 2008. Bertanam Anggur. 25th ed. Jakarta : Penebar Swadaya. Pg: 1-15

29

Setiadi. 2002. Bertanam Anggur. Cetakan ke XVII . Jakarta: Swadaya.


Prasetyo, EJ. 2005. Keasaman minuman ringan menurunkan kekerasan
permukaan gigi. Dent J Vol 38 No 2. Hal. 60-63.
Tarigan, R. 1992. Kesehatan Gigi dan Mulut. Jakarta: EGC.
Wilson SG, Dick HM. 1984. Topley and Wilsons Principles of Bacteriology,
Virology and Immunity. London : Edward Arnold Ltd.
Wiryanta B.T.W. 2007. Membuahkan Anggur di Dalam Pot dan Pekarangan. 5th
ed. Jakarta: Agromedia Pustaka. Pg: 1-20.
Xia M., Wenhua L., Huilian Z., Qing W., Jing M., Mengjun H., Zhihong T., Lan
L., Qinyuan Y. 2007. Anthocyanin Prevent CD40-Activated Proinflammatory
Signaling in Endothelial Cells by Regulating Cholesterol Distribution.
American Heart Association. Vol.27, Pg. 519.
Yamakoshi.J., Kataoka S., Ariga. 1999. Proanthocyanidin-rich Extract from
Grape Seeds Attenuates the Development of Aortic Atherosclerosis in
Cholesterol-fed Rabbits. Japan Science and Technology Agency. Vol.43, Pg.
81-89